Pembom Tempur Siluman J / H-XX China Bisa Sangat Berbahaya

Jakartagreater.com – Setiap tahun, International Institute for Strategic Studies (IISS) menerbitkan penilaian menyeluruh tentang kemampuan dan ekonomi pertahanan militer di seluruh dunia. Neraca militer edisi 2020 mencakup 171 negara dan memberikan kegelisahan mendalam terhadap teknologi militer Cina, lansir NationalInterset.

IISS menyoroti pesawat pembom tempur siluman J / H-XX yang memiliki kemampuan serangan jarak jauh. Jadi, apa arti pengembangan pesawat canggih ini untuk risiko operasi Australia di tahun 2020-an?

IISS mencatat siluman J / H-XX adalah pembom tempur, istilah lama untuk pesawat tempur multirole, tetapi yang membuatnya menonjol adalah kemampuan membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh, seperti rudal udara-ke-udara luar-jangkauan-visual (BVRAAM) PL-15 dan berpotensi menjadi rudal hipersonik PL-21 bertenaga ramjet yang jangkauannya lebih jauh. Sumber menunjukkan bahwa PL-15 beroperasi dengan jangkauan 200 kilometer, sementara PL-21 yang masih dalam pengembangan, mungkin memiliki jangkauan hingga 400 kilometer.

Fungsi senjata-senjata ini, yang diluncurkan dari J / H-XX atau J-20 yang sudah beroperasi, adalah untuk menyerang pesawat udara vital seperti pesawat peringatan dini dan kontrol udara dan pesawat tanker. Misalnya, di dalam armada grup kapal induk sebagai bagian dari operasi nti-access/area-denial, misi utama dari pesawat siluman China adalah menghancurkan pesawat peringatan dini E-2C Hawkeye, yang akan memaksa gugus tugas kapal induk untuk mengaktifkan radar di kapal perang, yang memungkinkan rudal anti-kapal jarak jauh china menargetkannya dengan lebih mudah.

Australia tidak memiliki kemampuan serangan jarak jauh dan tergantung pada pesawat tanker dan pesawat yang berpangkalan di dekat wilayah sengketa. Tidak satupun dari opsi-opsi itu dijamin dapat dilakukan dalam konflik di masa depan dengan musuh seperti Cina. Jika pesawat siluman China menembak jatuh pesawat Wedgetail E-7A dan KC-30 Angkatan Udara Australia (RAAF) pada awal konflik, kemampuan serangan dan pertempuran udara Australia akan dianggap tidak efektif.

Pembom tempur siluman J / H-XX harus menjadi perhatian para perencana RAAF. Laporan tahun 2018 oleh The Diplomat membahas H-20, pembom strategis baru dalam pengembangan untuk Angkatan Udara PLA, dan ‘pembom tempur regional’ J / H-XX. The Diplomat mencatat bahwa informasi pertama tentang J / H-XX muncul pada 2013 dalam bentuk model pesawat tempur baru. Itu dianggap memiliki kinerja supersonik dengan radius tempur hingga 2.000 kilometer dan dapat membawa BVRAAM di dalam kantung senjata samping. Tampaknya dirancang untuk kemampuan siluman, dengan desain yang mengingatkan pada pesawat tempur Black Widow YF-23 AS. Artikel itu menyarankan bahwa:

Pesawat semacam itu akan memanfaatkan kombinasi kemampuan stealth, speed dan onboard elektronik, untuk menembus wilayah udara yang dipantau dengan baik dan menyerang target bernilai tinggi … Target potensial dapat mencakup apa saja dari kelompok kapal induk … atau pangkalan udara yang dilindungi oleh situs radar yang kuat. … Kapasitas muatan senjata internal pesawat yang besar dan bay weapon BVRAAM samping juga dapat mengisyaratkan perannya sebagai pesawat intersep jarak jauh yang kuat.

Artikel ini berspekulasi bahwa peran ganda J / H-XX sebagai pesawat intersep jarak jauh karena dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15 atau bahkan PL-21. Disimpulkan bahwa J / H-XX kemungkinan belum pada tahap pengembangan lanjutan.

Namun laporan China military power tahun 2019 oleh Defense Intelligence Agency (DIA) AS menyarankan bahwa J / H-XX sedang dalam tahap pengembangan, dan sekarang laporan IISS 2020 mendukung ini. Laporan DIA mencatat bahwa:

PLAAF sedang mengembangkan pembom siluman menengah dan jarak jauh baru untuk menyerang target regional dan global … yang mungkin akan mencapai kemampuan operasional awal tidak lebih dari tahun 2025. Pembom baru ini akan memiliki kemampuan tambahan, dengan peningkatan spektrum penuh dibandingkan dengan pembom yang sudah operasional saat ini, dan akan menggunakan banyak teknologi tempur generasi kelima dalam desainnya.

Laporan tersebut mencatat dalam sebuah tabel bahwa ‘pembom taktis’, yang diklasifikasikan sebagai ‘pembom tempur’, akan membawa radar advanced electronic scanned array yang canggih, rudal udara-ke-udara jarak jauh dan amunisi dengan panduan jarak jauh.

Ini menunjukkan bahwa Tiongkok mengakui nilai kekuatan udara jarak jauh tidak hanya untuk serangan tetapi juga untuk operasi serangan udara. Ini kembali ke konsep pesawat intersep yang menghilang pada 1980-an, ketika Tornado F-3 ADV Inggris berfungsi sebagai pesawat pencegat sejati terakhir di angkatan udara Barat. Soviet bertahan dengan pesawat intersep MiG-25 Foxbat dan Rusia mempertahankan armada MiG-31 Foxhound-nya bahkan sekarang. Jadi sangat menarik bahwa China sedang mengembangkan pesawat tempur yang bisa menjadi platform multirole yang akan mengembalikan pertahanan udara jangka panjang pesawat intersep dengan nama lain — untuk aplikasi ofensif dan defensif.

Jika pembom tempur siluman J / H-XX mulai beroperasi akhir dekade ini, itu akan memberi PLAAF kemampuan untuk melakukan operasi serangan udara ofensif langsung terhadap pangkalan udara Australia di utara Darwin. Beroperasi dari pangkalan militer Cina di wilayah yang disengketakan di Laut Cina Selatan, J / H-XX China yang dilengkapi dengan rudal BVRAAM PL-21 membuat pesawat Australia (RAAF) berisiko di atas laut Maluku dan Banda. Pesawat tanker RAAF yang beroperasi di Tindal akan menghadapi risiko langsung, seperti halnya Wedgetails. Mempertahankan patroli udara tempur dengan menjaga pesawat vital seperti peswat tanker dan AWACS akan menjadi mimpi buruk logistik, jadi pilihan yang lebih aman adalah tidak menerbangkannya. Itu akan membuat pesawat tempur F-35, F / A-18F Super Hornet, dan EA-18G Growlers terkendala secara operasional.

Untuk mengalahkan calon ancaman yang ditimbulkan oleh kekuatan udara strategis Angkatan Udara China (PLAAF), termasuk tantangan potensial yang ditimbulkan oleh siluman J / H-XX yang beroperasi dalam peran pencegat ofensif jarak jauh, Australia butuh pesawat intersep jarak jauh. Sayangnya, itulah yang hilang di angkatan udara Barat — kemampuan jarak menengah antara pesawat tempur taktis dan pembom strategis. Tetapi itu tidak terjadi pada Angkatan Udara China.

21 pemikiran pada “Pembom Tempur Siluman J / H-XX China Bisa Sangat Berbahaya”

  1. Yah, itu tidak masalah buat US untuk membangun pesawat pengebom tempur dg peran intersepsi seperti J/H XX. USA dah punya B-1B Lancer yg udah ada weapon bay ukuran besar dan bisa muat banyak senjata. Dg jangkauan lebih jauh hingga radius 5500 km bukan jadi masalah untuk menyerang balik pasukan China bahkan dari Hawai atau dari Cocos dan Diego Garcia. Kalopun butuh yg lebih kecil bisa pake F-111 Advaark yg udah dihidupkan dan diupgrade lagi.

    Australia jadi bisa pake kedua pesawat tersebut.

      • Halah bung Agato… bukanya untuk menjadi pespur siluman tidak sekedar main di cat saja??? mesti juga diimbangi dengan bentuk aerodinamis pesawat supaya semakin mengurangi deteksi radar sehingga ketika di tambahkan lapisan penyerap emisi radar makin sempurna???
        Mengapa bentuk pespur siluman generasi pertama seperti F-117 dan pembon B-2 fenomenal karena memang dari awal ingin mengurangi tangkapan radar dengan bentuknya sebelum di lapisi dengan lapisan khusus… sampai kemudian disempurnakan dengan kemunculan F-22 yang lebih aerodinamis dan kemudian menjadi dasar bagi pengembangan F-35… satu hal yang menarik yang saya tangkap adalah mengurangi sisi vertikal pada sayap ekor… ini semua ditunjukan di semua pespur gen-5 baik itu F-22/F-35/Su-57/J-20…
        Sepertinya untuk mengurangi deteksi radar memang mengurangi sisi vertikal pada sayap ekor, ini juga di tunjukan pada konsep pembom tempur siluman J/H XX

        • Gini Bung Yuli, Bentuk Diamond shape memang akan sangat membantu dalam mengurangi RCS. Namun dari pengalaman Boeing menjadikan F-15 menjadi pesawat semi Stealth lewat F-15 Silent Eagle sudah cukup untuk membuat game changer dalam superioritas udara sekaligus kemampuan menyerang ke dalam wilayah yg dijaga ketat oleh hanud terintegrasi seperti milik China. Penggunaannya juga strategis, bila J/H XX digunakan untuk menghancurkan aset strategis udara musuh maka B-1B dan F-111 bisa digunakan untuk menghancurkan aset strategis musuh seperti hanggar, landasan, depot penyimpanan senjata, pabrik hingga kapal permukaan dan kapal induk China dalam jumlah banyak berbarengan dengan serangan skala masif dari rudal jelajah jarak jauh seperti Tomahawk dan pembom seperti B-21 dan B-2. Kalo SR-72 dan rudal hipersonik sudah masuk layanan maka itu akan menjadi serangan masif yg lebih menakutkan sebelum armada kapal induk USAF mendekat ke sasaran.

          • China sendiri mempunyai pesawat bomber strategis yg mampu menghancurkan pangkalan militer yang ada di daratan dan jg bs menghancurkan armada kapal perang yaitu bomber Xian H 6 k yg dikabarkan mampu mengangkut rudal balistik DF 21 dan jg rudal jelajah dng kecepatan hyper sonic .selain Xian H 6 k China jg rencananya jg akan memiliki pesawat pembom subsonic siluman Xian H 20 yg memiliki daya jelajah 12000 km dgn kapasitas 20 ton.

          • H-6K dg DF-21D dan derivatifnya DF-26 sangat impresif sebagai senjata anti kapal induk padahal pesawat pembom sejenis di seluruh dunia termasuk Indonesia sudah masuk museum.
            Dengan jumlah H-6K yg dimiliki hanya sekitar 16-18 buah sedangkan tiap pesawat hanya mampu membawa satu rudal balistik DF-21D, US Navy sepertinya masih cukup percaya diri dg kemampuan SM-3 dan SM-6 untuk menjagal rudal balistik jarak menengah tersebut.

          • Silent Eagle, kalau hanya semi apalah keunggulanya??? jika dalam posisi dogfight mungkin bisa membantu karena memang keterbatasan kemampuan radar pespur, tapi kalau berhadapan dengan sistem rudal independent jelas berbeda kisahnya… Silent Eagle membawa rudal di cantolan luar sehingga membuatnya mustahil menjadi siluman…
            Dan pespur siluman sekalipun tidak lantas menjadi siluman seutuhnya, praktis hanya di sudut 15 derajat benar2 paling efektif selebihnya akan semakin besar posibilitas terdeteksi….

          • Gini Bung Yuli, ane kasih sedikit gambaran gimana pertempuran udara modern dibuat. Pertempuran superioritas udara tidak akan menjadi hal yg signifikan dalam perang modern, dibandingkan dg masa-masa sebelumnya. Jika senjata BVR habis maka mereka akan kembali ke pangkalan dan mengisi lagi dg senjata baru.

            Karena kunci peperangan masa depan itu ditentukan dg cara perang kilat secepatnya melumpuhkan lawan maka serangan akan dilakukan dalam skala masif dg rudal jelajah hipersonik dan subsonik saling terjang. Posisi pespur hanya sebagai pengawal dan bahkan untuk garis depan, UCAV yg akan menjadi tumbalnya.

            Penggunaan Laser mungkin udah masif dalam 10-20 tahun kedepan, itu berfungsi untuk melumpuhkan rudal yg datang mau ICBM, MRBM, DF-21D, rudal hipersonik, rudal jelajah subsonik atau bahkan rudal AAW yg lebih kecil entah BVR atau rudal jarak pendek lainnya. Tapi itu bukan berarti dogfight akan terjadi pake laser. Dogfight hanya akan menghabiskan waktu dan akan lebih bermanfaat kalo kekuatan udara digunakan untuk melumpuhkan Bendungan atau pembangkit musuh dari jarak jauh misalnya. Atau menghancurkan kilang dan Tanki penyimpanan avturnya.

          • Perkiraan kerugian 40-50% dari kekuatan udara penyerbu adalah skenario terburuk yg bisa diterima kalo bisa mengalahkan dan melumpuhkan musuh dalam sekali serangan 4 gelombang termasuk kemampuan musuh untuk menyerang balik dengan senjata nuklir lewat darat/udara.

            Kalopun musuh masih bisa menyerang dg nuklir lewat kapal selam, bisa kita sudah siap dg senjata di luar angkasa dan laser atau senjata energi lainnya maka itu akan lebih dari cukup untuk menangkal serangan balik musuh.

  2. F 117 aadvark sdh dipensiunkan ditambah lagi itu bkn pesawat siluman lagi pula yg menakutkan pespur siluman j/hxx adlh kemampuannya menembakkan rudal PL15 yg diklaim mampu menembak pesawat peringatan dini dan bkn hanya cina yg memiliki rudal pembunuh AEW&C Rusia jg memiliki rudal R37 dan India dgn kerjasama dng Rusia jg memiliki rudal dgn kemampuan yg sama yaitu rudal KS 172 Novator yg dipasang pd pespur sukhoi mungkin Indonesia jg mempertimbangkan utk membeli rudal penghancur pesawat peringatan dini.

    • Ralat Bung Whiteflag, itu F-111 Aardvark. Kalo F-117 itu bomber fighter siluman Nighthawk.

      PL-15 dan PL-21 memang memiliki jangkauan yg menakjubkan sebagai senjata BVR dan dipihak Barat belum ada rudal BVR dg jangkauan sejauh itu. Hanya saja kalo mau bicara bagaimana rudal itu digunakan dan bagaimana cara menangkisnya itu bakal jadi diskusi panjang.

      PL-15 dan PL-21 karena dirancang untuk serangan jarak jauh maka dimensi bentuk/bodinya jelas akan lebih besar dari rudal BVR lainnya apalagi dg kecepatannya yg sangat tinggi. Rudalnya pun dibuat dg radar dan sensor mandiri dg kemampuan fire and forget. Itu penting karena bila masih mengandalkan pemandu dalam sepanjang perjalanannya, pesawat yg memandu akan mungkin diserang musuh mengingat pesawat seperti AWACS dan tanker yg jadi target pasti akan dilindungi oleh beberapa pesawat tempur. Lain halnya kalo nantinya J-20 atau di pihak Rusia, Su-57 yg memiliki RCS sangat kecil bisa dijadikan sebagai pesawat pemandu rudal kedua, mungkin itu akan membantu walopun risiko terdeteksi musuh juga akan menjadi sangat besar juga.

      Nah, AWACS dan tanker juga pastinya punya kemampuan ECM khususnya AWACS. Gelombang elektromagnetik yg difokuskan akan mampu melumpuhkan sensor radar rudal PL-15 dan PL-21 mengingat baterai dan daya radar yg dimilikinya terbatas. Itu juga belum menghitung pk dan kemampuan deteksi AWACS ketika J/H XX mendekat untuk meluncurkan rudalnya.

      J/H XX memiliki jangkauan radius perkiraan antara 2000 hingga 2250 km untuk mencari dan menghancurkan sasaran. Dari desain dan perkiraan coating yg diberikan, kemungkinan pesawat ini akan memiliki RCS 0,01 hingga 0,005 seperti milik F-35.

      PL-15 sendiri memiliki kecepatan sekitar Mach 4 dan PL-21 memiliki kecepatan Mach 5. Bila keduanya memiliki jangkauan hingga 300 km maka waktu yg dibutuhkan dari awal diluncurkan hingga mencapai target hanya membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 3 menit. Waktu yg sangat singkat bagi sebuah pertempuran udara. Itu artinya, ketika AWACS dan tanker baru saja diterbangkan dari Jepang atau Guam, mereka harus bersikap menghadapi ancaman rudal musuh. Bila musuh mengerahkan banyak rudal jelas itu akan jadi ancaman nyata. Hanya saja bila melihat potensi Pk dari rudal tersebut (sekitar 50-60% mengacu pada penggunaan rudal AMRAAM) serta kesempatan untuk membuat No Escape Zine maka J/H XX harus mendekat antara 250-200 km dari target sehingga serangan menjadi lebih efektif dan efisien. Hal ini jelas membutuhkan deteksi kolektif yg banyak tidak hanya mengandalkan AWACS saja tapi juga pespur pelindungnya sesaat sebelum kumpulan J/H XX meluncurkan rudalnya dan disinilah peran F-35 menjadi sangat berperan bagi barat sebagai pespur pelindung AWACS mengingat F-35 memiliki kemampuan datalink antar platform yg sangat cepat dan aman, membuatnya memiliki kemampuan layaknya AWACS sendiri. Itu akan menjadi permainan tikus dan kucing dan semuanya akan berakhir dalam hitungan menit.

      Kedepan pesawat tanker mungkin akan difungsikan juga seperti AWACS jadi pesawat akan memiliki peran ganda sekaligus untuk menghindari kehilangan lebih berat secara strategis bila kehilangan salah satu diantaranya.

      • Thx bung agato saya memang kesulitan ataupun bingung mengingat nomer ataupun angka yg dipakai utk menamai senjata dan terkadang hal seperti inilah yg membuat NATO memberikan nama kode utk senjata buatan Rusia ataupun cina.

      • Kemungkinan utk menggabungkan fungsi pesawat tanker dgn pesawat peringatan dini utk saat ini terbilang mustahil entah itu dr segi dana ataupun kapasitas operator dan daya tampung pesawat yg terbatas mungkin lain ceritanya jk as mampu membangun pesawat yg lbh besar dr Antonov AN 225 mriya.

          • Utk saat ini drpd menggabungkan pesawat peringatan dini & tanker Amerika masih menggunakan Boeing E 3 sentry dan E 2 Hawkeye sbg pesawat peringatan dini dan pesawat KC 45 Pegasus sbg pesawat tangker terbaru selain itu Amerika jg mengembangkan MQ 25 stingray sbg pesawat tangker tanpa awak.

  3. Ralat yg benar KC 46 Pegasus adlh pesawat tanker terbaru yg akan dioperasikan Amerika tapi ide menggabungkan fungsi pesawat tanker dan pesawat peringatan dini jd teringat pd kapal battlecarrier yg mengkombinasikan kemampuan kapal induk dan kapal tempur

Tinggalkan komentar