Jan 202015
 
PT Freeport Indonesia (sumber: Antara/Puspa Perwitasari)

PT Freeport Indonesia (sumber: Antara/Puspa Perwitasari)

JAKARTA, KOMPAS.com — Hingga pertengahan Januari 2015, PT Freeport Indonesia belum menunjukkan perkembangan pembangunan fasilitas pemurnian bijih mineral (smelter). Padahal, perkembangan pembangunan smelter merupakan salah satu poin yang dinilai penting oleh pemerintah untuk melanjutkan pembahasan amandemen kontrak.

Dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, selama enam bulan Freeport harus menunjukkan perkembangan smelter. Namun, hampir tenggat masa berakhir MoU, yakni pada 24 Januari 2015, lokasi smelter pun belum juga ditentukan oleh Freeport.

Review terakhir dari Dirjen Minerba (R Sukhyar), progres smelter Freeport masih jauh, bahkan saya tidak gembira. Saya kecewa karena tidak menunjukkan kesungguhan,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, Selasa (20/1/2015).

Sudirman lebih lanjut mengatakan, hingga malam tadi, Sukhyar melaporkan, Freeport belum memutuskan lokasi smelter. “Dalam kesepakatan jadwal, kalau sampai 24 Januari 2015 mereka tidak menunjukkan progres signifikan, maka izin ekspornya bisa dibekukan,” tekan Sudirman.

Dia mengatakan, pemerintah melalui Kementerian ESDM terus meminta Freeport untuk mencari jalan keluar. Pemerintah ingin Freeport terus beroperasi. “Kami dalam posisi sama-sama menghendaki Freeport terus beroperasi lancar karena penting bagi perekonomian kita juga, bagi perdagangan kita juga,” pungkas dia. (KOMPAS.com)

Kegiatan Ekspor Freeport Terancam Dihentikan pada 25 Januari

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan kegiatan ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia terancam dihentikan pada 25 Januari mendatang.

Hal ini menyusul belum adanya kemajuan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter).

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan izin ekspor konsentrat hanya berlaku berlaku selama enam bulan terhitung sejak akhir Juli kemarin. Dia bilang pemberian izin ekspor tersebut mengacu pada kemajuan pembangunan smelter.

“Kalau sampai 25 Januari belum ada progress smelter maka izin ekspor konsentrat bisa dibekukan. Saya minta kepada Freeport untuk mencari jalan keluar. Kami tetap ingin Freeport beroperasi,” kata Sudirman di Jakarta, Selasa (20/01).

Sudirman meminta Direktur Jenderal Mineral dan Batubara R. Sukhyar untuk melakukan pembicaraan langsung dengan pemilik saham Freeport sehingga keputusan bisa segera diambil.

Pasalnya selama ini pembicaraan dengan Freeport selalu terkendala dengan sikap pemegang saham. “Ini komunikasi high level antara pemerintah dengan pemegang saham. Saya sudah menugaskan Pak Dirjen,” ujarnya.

Freeport mendapat kuota ekspor mencapai 756.300 ton konsentrat tembaga dengan nilai US$ 1,56 miliar. Izin ekspor tersebut berlaku dari akhir Juli hingga 25 Januari nanti. (beritasatu.com)

 Posted by on January 20, 2015

  99 Responses to “Pemerintah Kecewa kepada Freeport, Izin Ekspor Terancam Dibekukan”

  1.  

    Hmmm……?..

  2.  

    Jujur, kami sdh sgt enek atas sikap freeport yg slm ini ingin menang sendiri.
    Bg kami sebaiknya kontrak freeport tdk dperpanjang lg atau dibatalkan sj.
    Klu dipikir2 kita dapat apa sih drnya, selain kjengkelan dan ketidak nyamanan.
    Duit? jg tdk, kcl org trtentu.
    Kestabilan moneter? jg tdk, buktinya, tabungan rakyat dari hari kehari nilainya makin berkurang sj, dulu 9jt=$1000, skrg 12 jt.
    Keamanan? jg tdk, tiap kali kita minta saham lbh drnya, gerakan teroris papua berulah.
    Bubarkan freeport!

  3.  

    Kasihan negeri ini cuma di kasih sampah sama freeport…
    ga sebanding dengan pendapatan si mamarika…

    Bekuken sajaganti aja operatornya , si Antam jg bisa ko….
    jangan mau jadi budak di negeri sendiri

    INDONESIA JAYA

  4.  

    Menurut wangsit, beliau pak jokowi akan mengedepankan cara2 diplomasi untuk masalah freport. Tidak akan mencabut ijin freport dan akan makin erat kerjasama dengan usa, yakinlah tindakan beliau dibimbing tuhan dan itulah yg terbaik untuk kemaslahatan bangsa

 Leave a Reply