Nov 092016
 

kapal-pkr-2

Kapal perang Perusak Kawal Rudal (PKR)-2 KRI I GUSTI NGURAH RAI-332 di Galangan Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (8/11/2016). Dalam Indo Defence 2016, MBDA mendekati kesepakatan untuk memasok sistem pertahanan rudal VL Mica untuk Program dua kapal frigate SIGMA 10514 Perusak Kawal Rudal (PKR) Angkatan Laut Indonesia.

VL Mica menggunakan rudal udara-ke-udara dengan aktif radar atau imaging infrared seekers, yang menyediakan kemampuan 360 derajat untuk menghadapi beberapa target secara simultan untuk jarak perlindungan maksimum 20 km.

kapal-pkr-2-1

Kapal PKR-2 ini merupakan kapal canggih kelas frigate yang dikerjakan bersama antara PT PAL dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda sebgai pesanan Kementerian Pertahanan dan ditargetkan selesai pada Oktober 2017. TNI AL berencana terus menambah pemesanan jenis PKR Sigma ini secara bertahap, untuk menggantikan Kapal perang Van Speijk yang akan dipensiunkan secara bertahap.

Foto : Antara / Irfan Anshori

  94 Responses to “Penampilan Terkini KRI I Gusti Ngurah Rai-332”

  1.  

    Kelemahan kita itu kita masih jarang latihan armada dg total lebih dari 40-60 kapal pemukul (fregat, korvet, light fregat). Baru waktu lat armada jaya aja kita bisa keluarin 50 lebih kapal berbagai tipe. Kalo 100 PKR bergerak bersamaan dalam suatu pola pertemppuran laut itu butuh latihan yg kuat dan sering. Latihannya bisa menyamai RIMPAC. Nyatanya cadangan bbm buat kaprang kita kalo bergerak semua cuma cukup sehari. Gimana mau gerakin 100 PKR yg kalo perang dilaut aja bisa lebih dari 1-2 minggu. Liat aja operasi di perang teluk atau malvinas yg antar kapal atw teater pasifik dan atlantik waktu PD 2. Milih 3 Kirov/Ticonderoga/Zumwalt class banding 100 PKR itu hanya sebatas pandangan teori. Sah saja dipilih, tapi kalo untuk hankam RI apalagi sebagai Poros Maritim Dunia, 100 PKR tetap gak efektif. Apalagi kalo yg nyerang pake nuklir taktis yg dipasang di kalibr/tomahawk. Masak mau ngandalin Mica aja ?? Rudal musuh mungkin kena tapi efek ledakannya juga masih bisa nyampai di PKR. PKR dipasang rudal yg lebih maju macam ESSM atw RIM/S300 series juga gak akan muat banyak atw bisa mengurangi kelincahan PKR. Yg utama ya kekuatan kita dibagi atas Destroyer, Fregat/light destroyer, korvet/light fregat dan KCR. Jepang aja cukup ngandelin Destroyer dan Fregat, gak ada light fregat, korvet hingga KCR. Tapi liat aja jumlahnya. Kita juga butuh sistem komunikasi terintegrasi yg aman via satelit (pny sendiri), AWACS/AEW&E, kasel, pespur, heli anti aks/kaprang, rudal AAW yg mantap segala jarak, anti kapal/kasel, anti udara, dll. Kita juga bisa kok minta ToT Kirov class sama Ukraina (dulu buatnya disana soalnya) tapi dengan syarat belinya jgn ngeteng.

  2.  

    @Cintia ble’e, 3 ekor gajah bisa mati lawan 1 semut, apalagi lawan 100 semut. Anggap saja 1 kapal lawan 33 kapal, setiap kapal melepaskan 2 missile secara bersamaan, dijamin tu kapal bakal kelabakan menahan 66 missile yang datang bersamaan meskipun ada 2 CIWS dan klo pun bisa dibantu dengan payung udara tp masih ada lagi 66 missile yang siap ditembakan lagi (itu kalau launcher system 2×2) itulah alasannya kenapa pemerintah mau buat banyak KCR & PKR karena harga kehilangan missile lebih murah dari pada harga kehilangan battle cruiser..

  3.  

    @ Bung Wangsa Kencana. Saya setuju dengan pemikiran anda dan dari awal memang saya tidak membicarakan beli destroyer aja. Yang saya tekankan adalah pembagian kekuatan TNI AL kita khususnya pada kekuatan pemukul yaitu destroyer, fregat dan korvet. Tentunya kita harus bertahap dulu dlm cara pembuatannya untuk kemandirian bangsa.