Pendekatan Iran ke UEA akan Berubah karena Abu Dhabi Akui Israel

F-16E from the United Arab Emirates From Wikimedia Commons, the free media repository.

Jakartagreater  –  Pada 13 Agustus 2020, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) telah setuju untuk mengakui dan menjalin hubungan normal dengan Negara Israel, dengan upacara penandatanganan resmi yang diperkirakan akan berlangsung di Gedung Putih dalam beberapa minggu mendatang.

UEA akan menjadi negara Arab ketiga, setelah Mesir dan Yordania, yang melakukannya, dirilis Sputniknews.com pada Minggu 16-8-2020.

Militer Iran menganggap kesepakatan UEA-Israel untuk membangun hubungan diplomatik “tidak menguntungkan”, dan perhitungan militer Iran terkait Abu Dhabi akan bergeser, terkait keadaan baru tersebut, ujar Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran.

“Tentu saja, pendekatan Iran ke UEA akan berubah secara fundamental dan Angkatan Bersenjata akan melihat negara ini dengan perhitungan yang berbeda. Dan jika sesuatu terjadi di kawasan Teluk Persia dan keamanan nasional kami rusak, betapapun kecilnya, kami akan meminta pertanggungjawaban UEA dan tidak akan mentolerirnya, “Bagheri mengingatkan, sambutannya dikutip oleh Tasnimnews.

Bagheri menekankan bahwa “belum terlambat bagi UEA untuk mempertimbangkan kembali keputusannya dan untuk menghindari menempuh jalur yang merugikan keamanan kawasan dan dirinya sendiri.”

Militer UEA terdiri dari sekitar 100.000 personel, dan negara tersebut secara teratur mengambil bagian dalam perang regional, termasuk Perang Teluk pada 1990-1991, Perang di Afghanistan (dimulai pada 2007), dan intervensi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman, dimulai pada 2015.

UEA secara resmi mengumumkan penarikan sebagian pasukannya dari konflik terakhir pada tahun 2019, dan pergeseran fokus dari memerangi milisi Syiah Houthi menjadi teroris Daesh (ISIS) yang beroperasi di Yaman.

Tahun lalu, di tengah ketegangan yang meningkat di Teluk Persia setelah serangkaian serangan sabotase kapal tanker, penyitaan kapal dan penghancuran Drone mata-mata AS oleh pertahanan udara Iran, Iran mengusulkan pembentukan koalisi negara-negara Teluk, termasuk UEA, untuk membantu memastikan keamanan Teluk Persia.

Pada Juli 2019, komandan penjaga pantai dari kedua negara bertemu di Teheran untuk meningkatkan kerja sama di Selat Hormuz. Para pejabat Iran tidak merahasiakan antipati mereka terhadap kesepakatan diplomatik UEA-Israel tentang normalisasi hubungan yang dikenal sebagai ‘Abraham Accord’ yang diumumkan pekan lalu oleh Presiden AS Donald Trump.

Pada hari Sabtu 15-8-2020, Presiden Iran Hassan Rouhani menyebutkan perjanjian itu sebagai “kesalahan besar” dan pengkhianatan terhadap Dunia Arab dan Palestina. Juga pada hari Sabtu, Korps Pengawal Revolusi Islam memperingatkan bahwa kesepakatan itu akan memiliki konsekuensi “berbahaya” bagi kedua pihak jika dilaksanakan.

Upacara penandatanganan resmi untuk perjanjian tersebut diharapkan berlangsung dalam beberapa minggu mendatang, dan akan diadakan di Washington.

UEA akan menjadi negara Arab pertama di kawasan Teluk Persia yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, dan negara Arab ketiga secara keseluruhan yang melakukannya setelah Mesir dan Yordania, yang masing-masing menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv pada 1979 dan 1994.

Sebagian besar hubungan negara Arab dengan Tel Aviv tetap buruk, dan keadaan ini telah terlaksana sejak berdirinya Israel pada tahun 1948.

Satu pemikiran pada “Pendekatan Iran ke UEA akan Berubah karena Abu Dhabi Akui Israel”

  1. Ada negara yang mau berdamai untuk hindari atau mengurangi konflik koq diprotes, bukankah lebih baik perbedaan2 dan perselisihan dilakukan dalam pembicaraan dalam suasana damai, siapa tahu ada win2 solution yang bisa diperoleh dan bermanfaat dan bisa diterima semua pihak bagi perdamaian di jazirah arab

Tinggalkan komentar

Most Popular

Komentar