Pengalaman Indonesia Bebaskan WNI Dari Kelompok Abu Sayyaf

Tanpa banyak diketahui, ternyata Indonesia memiliki pengalaman membebaskan Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di wilayah Filipina selatan.

Dalam peristiwa yang terjadi pada tahun 2005 itu, Benny Mamoto ditunjuk oleh Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar untuk membantu operasi yang bersifat “rahasia”. Ia ditugaskan untuk membebaskan tiga orang anak buah kapal (ABK) Kapal Bonggaya 91 yang diculik oleh kelompok Abu Sayyaf.

Operasi militer Filipina yang digelar pada 12 Juni berhasil membebaskan dua sandera. Adapun satu orang sandera lainnya, yaitu Ahmad Resmiadi, dibawa kabur oleh kelompok Abu Sayyaf ke dalam hutan.

Selanjutnya, diadakanlah operasi pembebasan secara “tertutup” dan rahasia, dengan melibatkan TNI, Badan Intelijen Negara (BIN), BAIS dan Polri. Operasi itu berhasil membebaskan Ahmad Resmiadi, pada bulan September 2005.

Anggota kelompok milisi pendukung pemerintah Filipina (depan) ikut berpatroli dengan aparat kepolisian Filipina pada 2009 lalu di wilayah selatan negara itu. (AFP)
Benny Mamoto menjelaskan, proses pembebasan sandera membutuhkan waktu panjang, kesabaran, ketelitian, fokus dan koordinasi antar instansi terkait.

“Harus ada kendali, tidak boleh jalan-jalan sendiri, sehingga dengan mudah progress dan arahnya bisa dikontrol. Dari penyanderaan sampai dengan operasi militer itu tiga bulan,” kata Benny.

Walaupun tidak bersedia menjelaskan detail teknik operasi pembebasan, Benny menegaskan bahwa proses negosiasi harus dilakukan satu pintu, baik satu orang ataupun satu tim. Dengan demikian, kelompok penculik tidak dapat meneror kepada pihak manapun karena sudah disepakati untuk kontak kepada satu pihak saja.

“Dengan satu pintu, kita bisa mengarahkan dia (penculik), bisa mengendalikan dia, bisa mempengaruhi dia, sehingga kemauan kita yang dituruti dan bukan kemauannya,” kata Benny.

Sementara itu, terkait kondisi 10 WNI yang masih ditawan oleh kelompok Abu Sayyaf, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memastikan bahwa hingga Senin (11/04/2016) pukul 12.00 WIB, pihaknya mendapatkan informasi bahwa 10 WNI tersebut dalam kondisi baik.

BBC Indonesia

Tinggalkan komentar