Penganiayaan Anggota TNI Diselesaikan Secara Hukum

Danrem 132/Tadulako Kolonel Infanteri Muh. Saleh Mustafa (photo : Korem132tadulako.blogspot.co.id)

Palu – Danrem 132/Tadulako Kolonel Infanteri Muh. Saleh Mustafa mengatakan penganiayaan terhadap anggota TNI yang berbuntut pada penganiayaan oleh anggota TNI terhadap terduga pelaku akan diselesaikan secara hukum.

“Terduga pelaku penganiayaan anggota Korem 132/Tadulako sudah diserahkan kepada pihak kepolisian (Polsek Palu Barat) dan anggota TNI yang terduga menganiaya  pelaku tersebut akan diproses hukum oleh Polisi militer,” ujar Danrem Tadulako kepada wartawan pada hari Senin petang 26 Juni 2017 di kediamannya, Palu.

Penjelasan itu dikemukakan oleh Danrem 132 untuk meluruskan informasi negatif yang beredar di tengah masyarakat bahwa TNI mencari dan menangkap warga sipil yang diduga menganiaya anggota TNI bernama Kopral Dua Nurul Huda Sabtu   malam, 24/6/2017   di sekitar pusat perbelanjaan Palu Plaza.

Danrem 132 mengatakan, bahewa setelah penganiayaan itu, beberapa anggota TNI mencari orang-orang yang diduga melakukan penganiayaan tersebut untuk memperlihatkan kepada korban, Kopda Nurul Huda, siapa sebenarnya pelakunya.

“Ini bukan penangkapan tetapi upaya pencarian siapa sebenarnya yang melakukan pemukulan tersebut agar bisa diproses hukum sesuai dengan ketentuan berlaku,” kata Danrem 132 Tadulako, Kolonel Infanteri Muh. Saleh Mustafa.

Danrem juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memerintahkan anggotanya untuk melakukan penangkapan karena menangkap orang itu ada dasar hukumnya.

Kolonel Infanteri Muh.Saleh Mustafa yang sudah lebih setahun menjadi Danrem 132/Tadulako itu mengaku mendapat informasi bahwa penganiayaan terhadap anggota TNI seperti ini sudah menjadi semacam tradisi di kelompok masyarakat tertentu yang suka bertindak ala preman.

“Tahun lalu, sopir Kasrem 132/Tadulako Palu, juga pernah mengalami penganiayaan seperti ini, bahkan saya sendiri juga pernah dipalak di salah satu lampu merah. Jadi, perilaku seperti ini tidak boleh dibiarkan, pelakunya harus diproses hukum untuk melindungi masyarakat,” ujar Danrem.

Danrem 132/Tadulako membenarkan bahwa dalam pencarian pelaku pemukulan terhadap Kopda Nurul Huda itu ada anggota TNI yang sempat memukul anggota masyarakat, dan yang bersangkutan akan pihaknya proses secara hukum juga.

“Oleh karena itu, saya meminta maaf kepada masyarakat atas tindakan anggota TNI itu,” ujarnya.

Terkait dengan keterlibatan Komnas HAM mendampingi korban penganiayaan oleh anggota TNI, Danrem mempersilakan Komnas HAM untuk melakukanya selama proses hukum berjalan.

Danrem mengaku sudah mengkonsultasikan masalah itu dengan Gubernur Sulteng, Kapolda Sulteng, dan Wali Kota Palu. Semua sepakat tradisi ala premanisme seperti itu tidak bisa dibiarkan.

“Biar ini menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa tidak ada seorang pun warga negara Indonesia yang bisa melakukan tindakan semaunya sendiri,” kata Danrem 132/Tadulako, Kolonel Muh. Saleh Mustafa.

Antara

Tinggalkan komentar