JakartaGreater.com - Forum Militer
Mar 032018
 

Model pesawat tempur KFX Korea Selatan diresmikan pada ADEX 2017 di Seoul. © Alvis Cyrille Jiyong Jang (Alvis Jean) via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Jet Tempur Generasi Kelima bersama dengan “Kendaraan Udara Nirawak” adalah kata kunci saat ini dalam industri pertahanan dirgantara.  Jet tempur generasi kelima adalah keajaiban teknologi, yang dimaksudkan untuk bisa melampaui kemampuan pesawat modern generasi ke 4 dan 4,5.

Semua dicapai melalui fasilitas pelacakan dan keterlibatan yang kuat, avionik canggih, instalasi mesin kelas atas, kinerja tangkas, struktur komposit termasuk mewarisi fitur siluman atau stealth untuk membantu mendominasi di medan perang.

Sampai saat ini, hanya ada satu desain jet tempur generasi kelima di langit yaitu F-22, meskipun beberapa perkembangan utama muncul dari Rusia dan juga China. AS tidak diragukan lagi memimpin jalan dengan F-22 Raptor dan F-35 Lightning II yang akan datang dalam pengujian senjata (2012).

Sementara Chengdu J-20 China telah diluncurkan secara strategis melalui propaganda dan Sukhoi Su-57 Rusia telah terlihat terlebih dahulu dalam penerbangan. Dilain pihak, India sedang dalam pengembangan bersama Rusia untuk versi PAK FA yang diproduksi secara lokal dan sebuah usaha serupa dari Turki juga telah diumumkan.

Desain jet tempur generasi kelima Jepang, Mitsubishi ATD-X semakin maju. Sebaliknya, program KFX Korea Selatan sedang menghadapi masalah sulit baik pada bidang politik maupun ekonomi.

Program jet tempur KFX Korea Selatan berusaha untuk merancang, mengembangkan serta menghasilkan jet tempur multirole generasi kelima untuk menciptakan ketidak-seimbangan medan bermain melawan Korea Utara.

Korea Utara memiliki koleksi pesawat buatan Soviet/Rusia yang mana sebagian besar armadanya berasal dari era Perang Dingin. Inisiatif pribumi tampaknya akan memberi Korea Selatan otonomi penuh untuk pertahanan udara dimasa depan dan membiarkan opsi untuk mengekspor sistem itu ke pihak-pihak sekutu yang berminat.

Namun, program jet tempur generasi kelima pribumi sangatlah mahal, serta banyak menghabiskan penelitian dan pengembangan karena mereka harus menerapkannya secara penuh.

Terlepas dari manfaat yang melekat dari program semacam itu, ada kekurangan yang jelas akan mengancam masa depan KFX. Sampai kini, sejumlah konfigurasi juga telah dipelajari tanpa arahan yang jelas dan ditetapkan karena masa depan program tetap diragukan.

Angkatan Udara Korea Selatan sendiri mungkin akan dipaksa untuk menetap pada jet tempur yang ada dan tipe jet tempur generasi ke 4,5 adalah yang paling mungkin ada dalam waktu dekat.

Desain program KFX yang berjalan saat ini pun sama seperti desain jet tempur generasi kelima yang muncul secara global dan meniru garis desain yang sudah ditetapkan oleh F-22 Raptor yang memanfaatkan fitur rendah pengamatan dan manfaat siluman yang melekat.

Korea Selatan hanya mampu meyakinkan Indonesia untuk berkomitmen sebesar 20% terhadap usaha dimana Korea Selatan mengendalikan setidaknya 60% saham didalam program tersebut, memberikan hak yang ia inginkan untuk keuntungan ekspor masa depan.

Turki pernah mempertimbangkan untuk turut serta berpartisipasi dalam program KFX namun mengundurkan diri karena ada perselisihan saat pembagian saham yang sama besar tidak diberikan dan kemudian membuat program jet tempur generasi kelimanya sendiri.

Selain itu, kemampuan teknologi Korea Selatan yang saat ini memerlukan bantuan dan tawaran luar negeri telah dilakukan untuk memperoleh bantuan Lockheed, Saab, EADS dan Boeing.

KFX akan diterjunkan bersamaan ataupun menggantikan KF-16 atau F-16 versi Korea Selatan. Korea Selatan menginginkan KFX untuk dapat mengisi kekosongan teknologi serta kinerja antara turunan F-16 dan F-35 Lightning II yang lebih maju dalam wujud jet tempur multirole ringan.

Pada tanggal 2 Agustus 2011, sebuah fasilitas penelitian yang terkait dengan program KFX membuka pintunya di Daejeon. “Definisi konsep” terus berlanjut sejak 2012 dan KAI (Korea Aerospace Industries) menjadi kontraktor utama program ini.

Samsung Techwin telah dipilih untuk mengembangkan mesin yang dibutuhkan meski ini masih didasarkan pada desain mesin asing yang telah ada dan terbukti sehingga mempercepat pengembangan. Elektronika akan dikelola oleh perusahaan LIG Next.

Terdapat dua desain, KFX-101 dan KFX-102 yang saling bersaing untuk mendapatkan hak penuh atas program KFX. KFX-101 adalah desain konvensional dan menggunakan mesin tunggal sementara KFX-102 adalah konfigurasi mesin ganda bersayap delta dan dengan canard depan.

KFX-101 akan lebih murah dan lebih sedikit teknologi untuk dikembangkan dan juga diproduksi, sedangkan KFX-102 akan memberikan kinerja mumpuni yang dibutuhkan untuk intersepsi dan superioritas udara yang diperlukan.

Pemasangan dan pembuatan juga lebih rumit serta mahal untuk bisa diproduksi dalam jumlah yang dibutuhkan. Diperkirakan sekitar 130 pesawat terbang akan diproduksi di batch awal untuk Korea Selatan dan Indonesia, dimana Indonesia akan diberikan jatah 50 unit atas keterlibatan pendanaan awal mereka.

Sampai saat ini, masih banyak rintangan dalam membawa KFX ke tempat terang. Ada keraguan serius mengenai kelayakan Korea Selatan (bahkan secara internal) untuk bisa menyelesaikan program intensif berskala besar tersebut karena teknologi, produksi dan biaya tingkat tinggi yang terkait dengan tidak ada jaminan yang dirasakan dari produk akhir.

Bahaya kegagalan inisiatif tersebut, dapat membuat industri pertahanan Korea Selatan mundur beberapa tahun dari tujuannya untuk mencoba melampaui Korea Utara (dan juga China, yang telah mengembangkan dua jet tempur canggih).

Ini mungkin berhasil bahwa Angkatan Udara Korea Selatan mengendap pada desain jet tempur luar negeri lainnya untuk membeli termasuk tambahan F-16, F-35, Jas Gripen, Eurofighter Typhoon atau Dassault Rafale.

Oktober 2014 – Program KFX telah secara resmi mendapat persetujuan bersyarat dari menteri pertahanan untuk pembangunan. Desain KFX-200 bermesin ganda pun telah dipilih mengalahkan proposal KFX-100 bermesin tunggal.

Januari 2016 – Pengembangan untuk jet tempur KFX berskala penuh telah diumumkan. Indonesia tetap menjadi mitra aktif dan batch pertama dari 40 pesawat pun diharapkan pada selesai 2026. Sebanyak 120 jet tempur KFX mungkin tersedia pada awal 2030-an.

Mei 2016 – Mesin turbofan buatan General Electric F414-400 telah dipilih menjelang penawaran EuroJet EJ200 untuk program jet tempur KFX. Penerbangan pertama telah dijadwalkan pada tahun 2020. Mesin ini akan dibangun secara lokal (dengan lisensi) di bawah label merek Hanwha Techwin. Pemilihan mesin tersebut dapat mempengaruhi nilai ekspor sistem KFX.

Oktober 2017 – Desain KFX yang direvisi mencerminkan pesawat yang berukuran lebih besar dan lebih berat. Para insinyur juga mengkonfirmasi varian berkursi ganda sedang dikerjakan. Dukungan persenjataannya termasuk dari seri rudal MBDA Meteor Eropa. Sepertinya, program KFX akan melangsungkan penerbangan perdana di tahun 2022 dengan perkembangan akan terus berlanjut hingga pertengahan 2020-an. Pengiriman ditetapkan akan berlangsung pada tahun 2026.

Artikel ini pertama kali diangkat oleh Military Factory.

Bagikan:

  46 Responses to “Pengembangan Jet Tempur KFX Terus Berevolusi”

  1.  

    Nenen

    •  

      “Korea Selatan hanya mampu meyakinkan Indonesia untuk berkomitmen sebesar 20% terhadap usaha dimana Korea Selatan mengendalikan setidaknya 60% saham didalam program tersebut, memberikan hak yang ia inginkan untuk keuntungan ekspor masa depan”..

      membaca paragraf diatas menimbulkan tanda tanya, bagaimana bila dimasa depan kita membuat sendiri, apakah harus memberikan royalti kepada Korea Selatan? karena saham kita cuma 20 persen.

      Karena pada paragraf berikutnya dijelaskan Turki mundur dikarenakan pembagian saham yang tidak sama antara Turki dan Korsel.

      “Turki pernah mempertimbangkan untuk turut serta berpartisipasi dalam program KFX namun mengundurkan diri karena ada perselisihan saat pembagian saham yang sama besar tidak diberikan dan kemudian membuat program jet tempur generasi kelimanya sendiri”…

  2.  

    Jumlah Varian Prototype Tersedia Spt Tandem atau Tunggal, CFT, IWB atau Non IWB, Kalo menurut Sy IFX versi Indonesia Cocokx Tunggal, IWB & CFT mengingat Luasx Negara Indonesia Seluas Eropa

    •  

      IWB baru dikembangkan setelah blok 2 Bung, blok 1 belum IWB tapi rangkanya memungkinkan untuk dibuat IWB. Artinya kalo mau buat IWB ya ntar Indonesia yg ngembangin sendiri. Yang harus dilakukan kalo blok 1 dah kelar adalah memperbanyak konten lokal pada komponen IFX kita agar nantinya bisa sedikit menghindari embargo. Itu tujuan utama kita. Avionik kita bisa buat, tinggal mesin aja kita harus punya plan B nya.

      •  

        Jgn khawtir Bung Agato Kata Ayam Jago Punya Plan B yaitu Kemenhan membeli Blueprint FA-50 termasuk mesinx

      •  

        Tapi 4 teknologi kunci tetap import karena RI masih belum mampu, entah klu kita bs beli lisencinya?

        •  

          Bung Andre 4 teknologi utama terdiri dr perangkat keras & lunak code source listing program pespur yg di sebut dg Avionik, kalo sistem avionik sdh ada yaitu perusahaan info global yg memasok sistem avionik & PT LEN dg kompinenx utk IFX Block 2, Kalo lisensi avionik tdk di ijin kan US, mk utk block 1 di kembangkan bersama dg korsel

          •  

            Bagaimana dgn radarnya AESAnya bung, kan LIGNext kolaborasi dgn Israel apa LEN dan InfoGlobal boleh jg membuatnya dlm negri aka lisenci itu yg membuat saya penasaran! Entah klu hasil kerjasama Lapan dan Prof.Josafat bs membuatnya.

          •  

            Prof. Josaphat itu hanya ahli di bidang UAV, bukan radar apalagi radar untuk AESA. LEN dan Infoglobal belum memiliki keahlian dalam rancang bangun radar AESA, masih dalam taraf radar Doppler. Apa yg sedang dikembangkan oleh LIGNext saya belum tau pasti apakah akan ditransferkan kepada kita atau tidak walopun saya pernah dengar kabar kalo semua yg dikembangkan oleh Korea Selatan juga akan di share kan Kepada pihak Indonesia tanpa penjelasan apakah seluruh yg dikembangkan oleh kontraktor Korsel untuk KFX atau hanya sebatas apa yg diteliti bersama antara peneliti Indonesia dan Korsel.

          •  

            Prof Yos, selain ahli UAV juga ahli radar untuk pencitraan jarak jauh…

      •  

        Pespur fx gotong ajja kelaut

        Hahhaahaaaa

  3.  

    Yakin kalo KFX/IFX akan berhasil.

  4.  

    korsel mengajak RI karena RI memiliki pengalaman keterlibatan dlm pesawat akan menguntungkan karena :
    – RI merupakan negara yang memiliki wilayah besar ( begara maritim ) sehingga membutuhkan pesawat tempur yang banyak yag juga bsa menguntungkan korsel sbg pemilik saham terbesar.
    – dengan pembuatan pepur ini sebagian besar komponen dari barat. jga membantu perekonomian negara2 barat ( rawan embargo )

  5.  

    mantap ya bro pakai sistem pendingin, semoga sesuai dgn iklim kita…….

    syukuri aja apa yg ada,,,sudah dpt ToT bukan dpt PhP……..

  6.  

    Kfx memang berjalan beriringan dgn Ifx..

    Tapi ngomongin indahnya kfx tdk bs otomatis membayangkan indahnya ifx

    •  

      Yah, namanya juga yg 1 punya tumpangan yg 1nya lagi nebeng dan keduanya punya tujuan yg sama. Tapi walopun nebeng, kita juga ngongkosin bensinnya juga loh. Coba kalo gak ada uang bensin, mana mau ngasih Tebengan eh maksudnya mana bisa tuh kendaraan bisa jalan. Hhhhhhhhhh

  7.  

    klo sudh ngomongin ifx tdk ad kata blok barat atw timur, yg penting pesawate iso mabur, mbuh piye carane pokoke bsa mabur sek…

    •  

      Hehehe.. Banyak yg omongin untuk tehnologi pemindahan aktif atau s code belum didapat..
      Tehnologi itu sebenarnya sederhana .. Semua perangkat elektronik untuk menandai objek baik gerak atu diam terbaca di sustim eloktro pada angka bilangan binaer. .hwhehe tau kan.. 10¹010 dstrnya..

      Jadi mana mungkin seremeh itu ahli lapan len pindat mbten ngerti.. .. Hohoho..
      Sekarang yg jadi penelitan adalah nosel untuk aplokasi pemindahan code ke gerak roket biar bisa ngepot ngepotttt.. Dan satelit militer pendukung biar gak dijaming

    •  

      Yang penting itu… sing paling penting pesawate iso digawe… iso dipasang mesin terus iso mabur… dalam pengembangan F-35 saja dinyatakan membuat pesawat bisa terbang itu mudah, yang sulit itu menjadikan pesawat benar2 memiliki kemampuan tempur baik menarget dan menembakan rudal secara presisi dan lain sebagainya…

  8.  

    rada sulit kalo kita seratus persen mandiri(untuk IFX)karna perinndustrian kita tidak selengkap dan semaju korea…harapan satu satunya kebagian lini produksi suku cadang tidak sekedar merakit semata…seperti yang selama ini kita lakukan…!!!

    •  

      Menurut saya sih, IFX tidak akan bisa lepas dari bayang2 pespur Barat, karena sebagai mitra pengembangan adalah LM, dan teknologi inti yang tidak didapatkan pun juga menggunakan teknologi barat juga… Mungkin untuk digunakan sendiri akan sangat tidak bermasalah, tetapi ketika ada keinginan untuk melakukan eksport… bisa jadi akan ada masalah lain yang timbul seperti kejadian rudal SCLAP…

  9.  

    Saya sih lebih menyoroti keberadaan LM sebagai mitra untuk mendukung project KFX/IFX… disatu sisi memang LM yang sudah memproduksi pespur gen 5 baik F-22 maupun F-35, tetapi justru karena itu suatu saat mungkin itu akan bisa menjadi sandungan bagi perkembangan KFX/IFX…
    Karena KFX/IFX merupakan platform mesin ganda, jelas memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding F-35 yang menggunakan mesin tunggal, sedangkan F-22 sendiri dari rencana 700san pesawat hanya 187 yang diproduksi… keberadaan KFX/IFX mungkin akan menjadi saingan berat bagi F-35 dikemudian hari terutama ketika di jual kembali ke negara lain… pada posisi ini sangat mungkin LM dan USA akan benar2 sangat ketat untuk menjaga supaya progra, KFX/IFX justru menjadi pesaing badi penjualan F-35 terutama…
    Dengan kejadian pada rudal SCALP, mungkin bisa terjadi juga pada KFX/IFX…

  10.  

    saya setuju bila melihat tahap awal kita hanya ikut korea bisa dibilang numpang enak.walau kebagian kecil tapi memang semua perjuangan korea…tapi memang wajar semua akan dipegang korea…pembagian omset tidak bisa mencerminkan kita kebagian lini produksi…!!!
    jadi harapannya pemerintah kita bisa mulai memperkuat industri dalam negri sehingga kita mampu mendukung keberadaan pesawat dengan suku cadang yang diproduksi didalam negri…jangan terlalu bergantung kepada korsel…apa lagi untuk investasi sukad dan komponen pesawat…!!!

    •  

      Pespur siluman china sudah lebih dulu terbang, indonesia korsel masih berharap pd teknologi lm, yaa bagus gotong ajja kebantar gebang.
      Tapi masih mending china, walau kata orang orang barang china masih diragukan? Tapi mereka sendiri sebagai penggunanya tidak mmpermasalahkan itu, jadi menurut loe aming lee, mana yg loe percayai, orang2 yg berkata meragukan apa orangnya sendiri sebagai pengguna?

      Hahhaahaaaa

      •  

        Laa eloe nyamain sama cina yaa kagak masuk akal haa…cina tuu udah bukan kelas menengah kebawah lagi…laa eloe pikir era 80an apa…?!?!?
        Baik segi ekonomi maupun tehnologi udah susah dikejar…cuma jepang yang mampu jadi saingan…korsel masih selangkah dibelakang…kalo kita berlangkah langkah…!!!
        Kalo mau ngejar harus pokus investasi tehnologi bukan sekedar beli barang jadi…nah lebih baik benahi duulu sektor industri…baik hilir maupun hulu…dan permudah ijin investasi tehnologi tinggi dan padat modal dan tenaga kerja….
        Laa ini biji mana orang mau invest kalo semua dipersulit…!!!

        •  

          huha memang begitu….dia tebak tebak buah manggis…..
          asal nebak sing penting senyum manis………..xixixi

        •  

          Gue pikir eloe mulai mempertimbangkan untuk migrasi kerusia sama kayak agato ke usa…. !!!
          engak perlu eloe turut pusing mikir mau beli pesawat siluman rudal kapal selam…semua sudah ada…lagian kalo fans boy kayak kita diberi rusia hak istimewa…loe suka wanita cantik disana bejibun tingal pilih…!!!

  11.  

    ini yg katanya proyek kerjasama Korsel-Indonesia KFX/IFX…tp knp dibeberapa model yang ditampilkan kok cuma bertuliskan KFX dan bendera Korsel aja…

    ada yg bisa bantu knp??

 Leave a Reply