Jul 192017
 

Mobil Listrik (LA2)

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan telah mempertimbangkan konsep penyediaan energi untuk mobil listrik melalui baterai yang bisa dibeli di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Setelah mendapat instruksi dari Presiden Joko Widodo, Kementerian ESDM sedang menyusun rancangan kebijakan dalam bentuk peraturan presiden mengenai pengembangan mobil listrik untuk mengurangi emisi karbon.

“Teknologi baterai itu penting. Semua 6.000 SPBU di Indonesia nantinya bisa menyediakan baterai. Setiap mobil listrik masuk SPBU tidak untuk mengisi bahan bakar, tetapi mengganti baterai. Jadi baterai daya kosong bisa dilepas, lalu menukarnya dengan baterai yang terisi. Konsumen harus membayar baterai tersebut,” ujar Menteri Jonan usai menghadiri Seminar Powering Indonesia di Jakarta, Rabu, 19/7/2017.

Jonan menjelaskan sistem jual beli baterai untuk mobil listrik akan serupa dengan gas tabung di mana pembeli hanya perlu membawa gas kosong lalu menukarnya dengan gas terisi di SPBU mana pun khususnya milik dan bekerja sama dengan Pertamina.

Menurut Jonan, penjualan baterai di SPBU akan lebih efektif dan efisien karena pemilik mobil listrik tidak perlu mengisi ulang daya terlalu lama di SPBU. Jika dibandingkan dengan mobil listrik di Tiongkok yang harus mengisi daya ulang di rumah, kapasitas listrik rumah di Indonesia tidak sama, yakni banyak yang masih menggunakan listrik subsidi 450 VA dan 900 VA.

“Kalau di China mobil listrik dikembangkan ngecash nya di rumah, tapi paling canggih ganti baterai. Kalau ngecas 6 jam tapi tidak semua rumah bisa. Kalau cuma 450 VA atau 900 VA gimana. Seperti sistem tabung Elpiji saja,” kata Jonan.

Jonan menilai pengembangan mobil listrik menjadi potensi yang besar bagi Indonesia, khususnya PLN. PLN tidak hanya melayani konsumen rumah tangga, pabrik dan bisnis tetapi juga melayani sektor transportasi.

Selain untuk menambah bauran energi baru dan terbarukan (EBT) hingga 23 persen pada 2025, melalui kebijakan pengembangan mobil listrik ini, impor gas dan bahan bakar minyak akan dapat ditekan.

“Mungkin bukan kabar baik bagi industri minyak dan gas bumi atau hulu karena di Indonesia, kami akan lebih menggunakan gas alam cair untuk menggerakan transportasi,” kata dia.

Pemerintah telah membentuk tim berunsurkan Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian dan Kementerian ESDM yang kini sedang menyusun rancangan regulasi tentang Indonesia mendukung pengembangan mobil listrik untuk mengurangi emisi karbon dan mewujudkan bauran energi terbarukan 23 persen pada 2025, dilansir ANTARA, 19/7/2017.

Bagikan:

  6 Responses to “Penjualan Baterai di SPBU untuk Mobil Listrik”

  1.  

    Mobil di indonesia mash banyak menggunakan bahan bakar minyak jadi akan sulit penerapan kebijakkan tersebut

    pembangkit listrik tenaga surya

    •  

      Numpang komen ya…
      Kok baru kepikiran sekarang… Kan waktu zaman SBY lagi gencar2nya buat mobil listrik nasional. Prototipe sudah jadi, eh ganti pemerintahan, ganti menteri, ganti kebijakan juga. Trus dibilang tdk lolos uji emisi. HALO orang yg mengaku pintar! Mobil listrik knalpot saja tdk punya bagaimana bisa menghasilkan emisi?

  2.  

    Mobil di indonesia mash banyak menggunakan bahan bakar minyak jadi akan sulit penerapan kebijakkan tersebut

    pembangkit tenaga listrik surya

  3.  

    Gak cuma “onta”, pengekspor minyak terbesar di dunia seperti Rusia (no. 1), Amrik (no. 3), dan China (no. 5) juga gak bakal tinggal diam.

    •  

      Oh iya catatan lagi yg kepanasan biasanya perusahaan minyaknya. Karena perusahaan minyak itu kaya, makanya mereka bisa melobi pemerintah masing2 negara utk tetap pakai BBM. Beda dgn negara yg produksi minyaknya sedikit sperti Jerman. Jerman dijadwalkan tahun 2040 sudah mobil listrik semua.

  4.  

    Program bagus, cuma Pemerintah bs konskwen gak? Gmn dgn lobi2 tukang minyak jg, wong kemaren aja ada yg sudah jd protype malah penggagasnya aja masuk hotel Prodeo karena kasus korupsi. Jgn didului produsen mobil yg sudah mapan dimari produknya!

 Leave a Reply