Penjualan Su-35 ke Indonesia Masih Mengambang

Jakartagreater – Kesepakatan pembelian 11 jet tempur Sukhoi Su-35 ke Indonesia belum batal meski tidak bisa ditentukan kepastiannya.

Menurut duta besar Rusia untuk Indonesia pada hari Rabu, Kesepakatan penjualan Su-35 ke Indonesia masih berada di jalurnya, dan menegaskan sanksi AS tidak mencegah negara-negara untuk membeli peralatan militer buatan Rusia, lansir Benarnews.

Undang-undang Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump pada Agustus 2017, berpotensi dapat menghambat pembelian pesawat tempur Indonesia dari Rusia Рsebuah kesepakatan dengan taksiran sebesar US$ 1,14 miliar.

“Rencana itu belum dibatalkan sejauh yang kami tahu, dan tentu saja, kami tahu bahwa kontrak telah ditandatangani dan mudah-mudahan akan dilaksanakan,” kata Duta Besar.

Menurut utusan Rusia Lyudmila Vorobieva saat konferensi pers online dengan wartawan menyatakan, rencana pembelian itu belum dibatalkan meski kontrak telah ditandatangani, dan pihaknya berharap untuk bisa dilaksanakan.

Dia mengatakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto membahas kesepakatan dengan Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexander Fomin selama kunjungannya ke Moskow bulan lalu, ketika menghadiri perayaan Victory Day Rusia. Perjalanan Menteri Prabowo ke ibukota Rusia adalah yang kedua dalam lima bulan dalam peran barunya sebagai Menteri pertahanan Indonesia.

Vorobieva mengecilkan kemungkinan sanksi AS mempersulit kesepakatan militer, dengan mengatakan “tidak ada yang baru dalam hal itu.”

Hukum CAATSA menargetkan Rusia, Iran dan Korea Utara, dan menetapkan bahwa Amerika Serikat dapat menjatuhkan sanksi kepada pemerintah atau badan yang membeli senjata atau perangkat keras militer dan bagian-bagiannya dari Rusia.

“Kita tahu bahwa AS mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap setiap negara yang membeli peralatan pertahanan Rusia, tetapi sebenarnya itu tidak mencegah mitra dan teman kita membeli peralatan dari Rusia, yang sangat hemat biaya dan berkualitas baik,” kata Lyudmila Vorobieva.

Vorobieva berharap bukan hanya kontrak pembelian Su-35, tapi juga rencana lain yang bisa dilalui kedua negara.

12 pemikiran pada “Penjualan Su-35 ke Indonesia Masih Mengambang”

  1. Yg nak beli osprey siapa???? Malon itu dr dulu emang goblok2, yg nawarin itu us tp dr awal maunya indonesia itu chinook, lha biaya 11 unit su35 kecil buat indonesia’ jangankan 11 unit su35, biaya 48 unit f16v udah siap kok,,,,kwkwkwkwkkk malon miskin sekali saat ni, 2039 baru boleh shoping2 alatan militer, kacian malon jatuh miskin

  2. Kalo aku malah mau AS nambah sanksi lagi ke Rusia, minyaknya kalo bisa biar bangkrut sekalian, karena:
    1) Kasus gangguan dari Rusia di Pemilu 2016 AS.
    2) Nyebar sentimen anti-AS lewat Conspiracy Theory (Active Measure), yang mana jadi ancaman perpecahan bahkan dialiansi barat sendiri.

  3. Su-35 tidak mengambang karena bukan pesawat yg bisa lepas landas vertical seperti Harrier tinggal tunggu waktu saja saat kedua belah pihak bosan dengan intervensi lik Sam, semoga Rusia tetap persiapkan produksi manakala saat itu tiba skuwadron ini bisa lsg dikirim ke tanah air lengkap dan full armory…semoga

  4. [email protected] fans boy itu ngomong gk pernah ngaca ya??? Penyebar teori konspirasi paling masif dan berbahaya ya asu dan antek2nya, negara pembantai no.1 di dunia dalam kurun waktu 50 tahun ini adalah asu dan antek2nya, plaku rasis no 1 di dunia ya asu dan antek2nya, perampok sumber daya alam negara2 lain ya asu dan antek2nya,,,,ini realita bukan hoax ala asu, kalau asu dan fans boy nya emang hoby nyebar hoax, asu dan fans boy nya dr dulu tu emang hoby maling teriak maling.

  5. Kita aja yg terlalu paranoid, biarkan aja asu sanksi indonesia dengan caatsa yg penting strategi pertahanan TNI berjalan sesuai rencana, indonesia cuman beli 11 unit su35 dan bukannya beli rudal nuklir’ kita jg kan bukan cuman beli prodak rusia aja’ prodak asu kan jg masuk daftar belanja indonesia yaitu 32 unit f16v’ jd salahnya indonesia dimana???? Indonesia itu dr dulu non blok jd gk usah dipaksa paksa harus pro asu dengan segala cara modus asu, indonesia jg punya hubungan dagang ekspirt import dengan rusia jd gk nyambung sanksi caatsa itu hukum perdagangan global, kalau asu beri indonesia sanksi caatsa gk bakal jd pengaruh besar denga indonesia sebab 20 tahun belakangan ini justru kerjasama ekonomi RI – CHINA yg bikin ekonomi indonesia mampu bertahan dr badai2 perekonomian yg mrnghantam indonesia, intinya kita terlalu mau capek untuk mikirin perasaan negara lain padahal asu dan antek2nya dr dulu selalu membuat militer indonesia lemah.

Tinggalkan komentar