Pentagon Akan Rakit Roket Nuklir di Orbit Pada 2020 – Laporan

Artist’s rendering of Bimodal Nuclear Thermal Transfer Vehicle Copernicus in LEO © NASA Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Menurut sebuah laporan, badan penelitian pertahanan berbasis di Amerika Serikat, Defence Advanced Research Projects Agency (DARPA) telah meminta anggaran sekitar $ 10 juta untuk program Reactor On A Rocket (ROAR), seperti dilansir dari laman Aviation Week.

Badan Proyek Penelitian Pertahanan Tingkat Lanjut (DARPA) bermaksud untuk merakit sistem tenaga nuklir termal (NTP) di orbit menurut laporan Aviation Week yang mengutip anggaran Pentagon tahun fiskal 2020 (FY20).

DARPA butuh $ 10 juta pada tahun 2020 guna memulai program Reactor On A Rocket (ROAR), untuk mengembangkan sistem propulsi high-assay low-enriched uranium atau  (HALEU). “Program ini pada awalnya akan mengembangkan penggunaan pendekatan manufaktur aditif untuk mencetak elemen bahan bakar NTP”, sebut dokumen anggaran DARPA.

“Selain itu, program juga akan menyelidiki teknik perakitan on-orbit (AM) untuk secara aman mengumpulkan sub-perakitan elemen inti individu menjadi konfigurasi pada sistem demonstrasi penuh dan akan melakukan demonstrasi teknologi”, tulis dokumen itu.

© NASA

Dalam roket termal nuklir, propelan seperti hidrogen cair dipanaskan hingga suhu tinggi dalam reaktor nuklir kemudian diperluas melalui nosel roket untuk menghasilkan daya dorong. Efisiensi pendorong, atau dorongan spesifik, bisa dua kali lipat dari roket kimia.

Menurut Aviation Week, sistem propulsi uranium pengayaan rendah (HALEU), sedang dikembangkan sebagai sumber bahan bakar untuk reaktor nuklir generasi berikutnya, dan menggunakan isotop uranium-235 (U-235) yang dapat dipecah dengan konsentrasi antara 5 – 20 persen.

Pengujian U-235 ini jauh lebih rendah dari 90 persen dari yang digunakan dalam reaktor angkatan laut AS, tapi juga lebih tinggi dari rata-rata 3-5 persen U-235 yang digunakan dalam reaktor komersial, sehingga memungkinkan reaktor yang lebih kecil.

Tinggalkan komentar