Pentagon: Su-57 Rusia Bukan Ancaman Bagi AS

23
57
Purwarupa jet tempur generasi kelima Sukhoi T-50 PAK FA alias Su-57 dalam MAKS Air Show 2013. © Pawel Maryanov via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Penyebaran pesawat tempur siluman Su-57 Rusia di Suriah tidak menimbulkan ancaman terhadap operasi pasukan koalisi dan Amerika Serikat (AS) akan terus melaksanakan operasi “deconflict” dengan Rusia seperti biasa, tutur juru bicara Departemen Pertahanan AS, Eric Pahon seperti dilansir dari laman Sputnik News.

“Kami tidak menganggap jet-jet [Su-57] ini sebagai ancaman bagi operasi kami di Suriah, dan akan terus melakukan operasi dekonflikasi seperlunya”, kata Pahon pada hari Kamis.

Pahon mengatakan bahwa pengerahan pesawat generasi kelima Su-57 Rusia ke Suriah tampaknya tidak akan sesuai dengan penarikan pasukan yang diumumkan oleh Rusia.

Pada hari Rabu, laporan media yang mengutip sumber anonim dan posting yang tidak terverifikasi di media sosial bahwa dua jet tempur generasi kelima Su-57 Rusia terlihat di pangkalan udara Hmeymim, Suriah.

Sementara itu, anggota parlemen Rusia Vladimir Gutenev mengatakan kepada Sputnik pada hari Kamis bahwa penggelaran pesawat siluman Su-57 Rusia bisa menjadi faktor penghambat bagi pesawat negara-negara tetangga yang secara berkala melanggar wilayah udara Suriah.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menanggapi berita tersebut dengan mengalihkan pertanyaan tersebut ke Kementerian Pertahanan dan mengatakan bahwa masalahnya “lebih bertanggung jawab atas Kementerian Pertahanan.”

23 COMMENTS

  1. Seperti yang kita ketahui, Suriah menjadi tempat percobaan senjata baru khususnya Rusia dan Amerika.
    Mereka menjadikan Suriah negara / tempat yang dirasa cocok untuk mengetahui hasil dari perkembangan dunia militer mereka, karena di tempat tersebut (Suriah) ada banyak negara yang ikut andil dalam konflik negara Suriah.

    Sungguh miris…

      • oohhh… saya ga nyangka ternyata ada yang baca komen saya disana…

        Sederhananya begini bung, White Helmet itu penuh misteri, mereka hanya ada diwilayah yang dikuasai teroris, dan setelah wilayah Suriah sudah dikuasai pemerintah makin terpecah dan makin kelihatan dimana itu Helm Putih berada, mereka selalu mengikuti posisi AL-Nusra, tidak ada Helm Putih di posisi FSA/SDF/ISIS… hanya ada ketika posisi yang diserang itu adalah wilayah yang dikuasai Al-Nusra… dan lebih konyolnya lagi, ketika wilayah itu berhasil dibebaskan dan dikuasai pemerintah Suriah maka mereka hilang seperti di telan bumi, bahkan tidak ada mereka bekerja sama dengan badan2 kemanusiaan seperti PBB sekalipun…
        Ghouta, peristiwa pembebasan Ghouta mirip seperti saat pembebasan Allepo, penuh tekanan, pemberitaan yang selalu menunjukan seolah2 pasukan pemerintah Suriah dan pendukungnya melakukan pembunuhan masal penduduk sipil, dan tidak ada satupun dari anggota koalisi barat membantu justru hanya merusuhi saja…
        Padahal ketika Allepo sudah dibebaskan, semua berita seperti ini hilang dengan sendirinya, tidak ada lagi tekanan yang menunjukan kalau ada korban sipil sampai beratus2 orang seperti yang di gembar gemborkan media barat… padahal tidak ada wartawan mereka disana, hanya memperoleh informasi dari pihak yang tidak terkonfirmasi dan justru malah kebanyakan foto2 itu diberikan oleh milisi seperti Al-Nusra..

  2. Amerika Serikat Ancam Akan Embargo Persenjataan Indonesia Jika Beli Pesawat Tempur Sukhoi SU-35 Rusia

    TNI AU Indonesia sekarang telah memiliki, sedang menunggu dan memesan 16 keluarga pesawat jet tempur Sukhoi “Flankers” yaitu dua SU-27, tiga SU-27SK, tiga SU-27SKM, dua SU-30MK, dan sembilan buah jet tempur SU-30MK2 untuk memperkuat armada penjaga garda depan di angkasanya.

    Untuk berikutnya, Sukhoi SU-35 akan ikut memperkuat jajaran jet tempur canggih muilti peran juga sebagai pengintai angkasa di langit Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Pada masa lalu, perlu dicatat bahwa Indonesia pernah menjadi satu-satunya negara dengan militer paling kuat di planet Bumi bagian selatan.

    Memorandum of Understanding (MOU) telah dibuat antara BUMN Rusia, Rostec, dengan BUMN Indonesia, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, terkait rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi SU-35 untuk menggantikan armada F-5 yang usang.

    Dengan adanya pembelian jet-jet tempur canggih spektakuler dan multi peran ini, apakah kembali, Indonesia dianggap sebuah ancaman bagi negara-negara disekitarnya?

    Ancaman embargo persenjataan oleh Amerika Serikat

    Awalnya, isyu embargo AS terhadap Indonesia terkait pembelian Sukhoi dari Rusia mencuat saat Menteri Pertahanan Amerika, James Norman Mattis berkunjung ke Indonesia, Selasa (23/1/2018) silam.

    Dalam kunjungan tersebut, saat bertemu Ryamizard disebutkan, Mattis menawarkan Indonesia untuk membeli alutsista dari negaranya, Amerika Serikat. Namun Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna menegaskan bahwa proses pembelian pesawat tempur Sukhoi-35 generasi 4,5 dari Pemerintah Rusia masih terus berjalan.

    Namun dalam kunjungan ke Pakistan pada Sabtu 27/1/2018 silam, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat memasuki kokpit jet tempur produksi kerjasama Pakistan-China, JF-17 Thunder dan pihak Pakistan berharap Indonesia mau membelinya. Kunjungan presiden ke Pakistan ini adalah kunjungan Presiden Indonesia kali kedua setelah presiden Sukarno sekitar 60 tahun lalu.

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat memasuki kokpit jet tempur produksi kerjasama Pakistan-China, JF-17 Thunder. (Biro Pers Setpres/Sekneg).

    Pakistan yang saat Presiden Joko Widodo datang, sengaja memamerkan jet tempur JF-17 Thunder generasi keempat, jelas berharap Presiden Jokowi mau membeli sejumlah jet tempur JF-17 untuk memperkuat alutsista TNI AU.

    Pakistan memamerkan JF-17 Thunder kepada Presiden Jokowi ketika berkunjung di kala itu memang tidak salah, mengingat upaya Indonesia untuk membeli 11 buah Sukhoi Su-35S dari Rusia sejak Agustus 2017, terancam batal terkait masalah teknis pembayaran. Namun hal itu bisa fleksibel dan dapat dicari alternatif lainnya dan akan tetap berjalan.
    https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5d/Pakistan_JF-17_%28modified%29.jpg/320px-Pakistan_JF-17_%28modified%29.jpg

    The PAC JF-17 Thunder, aka CAC FC-1 Xiaolong. (wikipedia)

    Banyak alternatif yang bisa disepakati seperti pertukaran sejumlah produk ekspor Indonesia mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit dan produk-produk industri strategis pertahanan.

    Kesepakatan imbal dagang kali ini dapat disusul oleh kesepakatan serupa menyangkut produk atau sektor lain.

    Kesempatan itu kini sangat terbuka karena Rusia menghadapi embargo perdagangan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, serta sekutu-sekutunya terkait isu keamanan dan teritorial. Sementara Rusia membalas dengan mengenakan sanksi pembatasan impor dari negara-negara tersebut.

    Akibat embargo dan kontra embargo ini, Rusia memerlukan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk buah-buahan tropis, serta produk esensial lainnya, dan inilah kesempatan Indonesia.

    Tapi ada “ganjalan” kedua, kemungkinan batalnya pembelian jet tempurt canggih itu. Buyarnya Indonesia untuk membeli Sukhoi Su-35 juga terkait ancaman embargo persenjataan dari AS. Ancaman embargo senjata dari AS itu memang bisa berakibat fatal. Apalagi Indonesia baru saja menerima sebanyak 24 jet tempur F-16 C/D yang merupakan hibah dari AS.

    F-16 Fighting Falcon

    Embargo persenjataan dan suku cadang terhadap F-16 milik Indonesia jelas akan memperpendek usia pakai ke 24 buah pesawat tempur F-16 itu.

    Sedangkan embargo dari sisi persenjataan, akan membuat jet-jet tempur F-16 generasi keempat ini menjadi ‘’macan ompong’’ karena tidak bersenjata.

    AS takut kekuatan udara Indonesia sulit ditandingi Australia

    Pemerintah AS telah menyatakan ketidaksukaannya terhadap Indonesia yang ingin sekali membeli Sukhoi Su-35 dari Rusia. Hal itu terjadi karena militer AS khawatir jika Sukhoi Su-35 sampai dimiliki Indonesia, maka kekuatan udara Indonesia akan sulit ditandingi oleh Australia.

    Hal ini telah terbukti dengan persiapan Australia di masa kini, yang juga telah memperkuat jajaran militernya, baik udara maupun laut dengan dibuatnya The Future Submarine Program (SEA 1000) atau Collins-class submarine replacement project.

    Coba bayangkan, pada tahun 2017 saja, Angkatan Udara Rusia saat ini baru mengoperasikan 12 pesawat tempur Su-35 sejak tahun 2008. Itu artinya, pesawat ini masih baru dikembangkan. Jadi cukup beralasan jika AS dan sekutunya Australia, Singapura dan Malaysia takut jika Indonesia memiliki pesawat tempur canggih ini.

    Indonesia Air Force TNI-AU Sukhoi KNAAPO / Su-27.

    Oleh karananya, kini menjadi masuk akal jika Pakistan sangat berharap Indonesia mau membeli sejumlah JF-17 Thunder ketika Presiden Jokowi ke sana. Apalagi Pakistan telah berhasil mengekspor sejumlah JF-17 ini ke Myanmar.

    Sebagai pesawat yang bisa dioperasikan untuk pesawat tempur sekaligus pesawat latih JF-17 Thunder tergolong jet tempur multi fungsi. Dalam misi tempur, JF-17 bisa melaksanakan misi pengintaian, misi penyergapan, dan serang darat, serta dilengkapi perangkat kokpit serba digital.

    Sejumlah persenjataan yang bisa dipasang secara terintegrasi pada pesawat tempur JF-17B Thunder merupakan rudal-rudal produksi China. Rudal itu antara lain rudal udara-ke-udara PL-5 dan SD-10 serta rudal jarak jauh antikapal perang C-802AK. Sedangkan untuk senjata lainnya seperti bom, roket, dan kanon merupakan hasil produk industri militer Pakistan.

    Lebih dekat dengan pesawat tempur JF-17 dan Sukhoi Su-35

    JF-17 Thunder (Pakistan & RRC)

    https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/Pakistan_Air_Force_Chengdu_JF-17_Gu.jpg/320px-Pakistan_Air_Force_Chengdu_JF-17_Gu.jpg

    Pakistan Air Force Chengdu JF-17

    JF-17 Thunder adalah pesawat jet tempur ringan multi-peran yang bisa dioperasikan pada berbagai kondisi cuaca.

    Pengembangannya merupakan hasil kerjasama Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC) dari China, Angkatan Udara Pakistan, dan Pakistan Aeronautical Complex (PAC) yang dimulai pada tahun 1995.

    Prototype pertamanya menjalani uji penerbangan pada 25 Augustus 2003 dan mulai dioperasikan 12 Maret 2007. JF singkatan dari “Joint Fighter”, penamaan JF-17 Thunder adalah versi Pakistan, sedangkan versi China pesawat ini disebut FC-1 Xiaolong yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai Fighter China-1 Fierce Dragon.

    Sebagai pesawat tempur ringan, JF-17 mampu melesat hingga kecepatan Mach 1,6. Bisa menyerang target pada semua kecepatan dan ketinggian penerbangan. Untuk menjalani misi serangan permukaan, pesawat ini bisa melakukannya pada jarak jauh. Sistem control penerbangan canggih telah diinstal pada JF-17 yang merupakan perpaduan kontrol konvensional dan fly-by-wire sehingga memberikan kemampuan yang sangat lincah dalam melakukan manuver.

    JF-17 menggunakan mesin dengan kontur udara canggih yang memiliki daya dorong besar namun rendah dalam mengkonsumsi bahan-bakar. Sehingga JF-17 disebut sebagai pesawat tempur yang memiliki teknologi canggih namun berharga sepertiga sebuah F-16 Fighting Falcon. Pada saat ini Pakistan masih menjadi negara utama pengguna jet tempur JF-17 Thunder.

    Sukhoi Su-35 (Russia)

    https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9d/MAKS_Airshow_2015_%2820615630784%29.jpg/320px-MAKS_Airshow_2015_%2820615630784%29.jpg

    Su-35S of the Russian Air Force

    Pesawat Sukhoi Su-35 yang dijuluki oleh NATO sebagai “Flanker-E” ini dirancang oleh Mikhail Simonov, adalah pesawat tempur multiperan, kelas berat, berjelajah panjang, dan bertempat duduk tunggal.

    Pesawat ini dikembangkan dari Sukhoi Su-27, dan awalnya diberi nama Su-27M. Ketika masih bernama Su-27M/35, ia terbang perdana pada Mei 1988, sedangkan setelah bernama Su-35S ia terbang perdana pada 19 Februari 2008.

    Sukhoi Su-35 dikembangkan untuk menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon. Karena kesamaan fitur dan komponen yang dikandungnya, Su-35 dianggap sebagai sepupu dekat Sukhoi Su-30MKI, sebuah varian Su-30 yang diproduksi untuk India.

    Pesawat ini sendiri merupakan seri flanker terakhir dan merupakan pengisi kekosongan generasi antara generasi 4 dan generasi 5, bisa dimasukkan dalam generasi 4++.

    180 derajat. Sukhoi Su-35S bermanuver flip-back / berbalik 180 derajat.

    Burung tempur mutakhir ini satu set harganya ditaksir sebesar US$45 juta dollar AS hingga sampai $65 juta dollar AS.

    Ketika Indonesia memesan pesawat ini, jumlah pesawat Su-27M/35 baru sebanyak 15 buah, dan jumlah Su-35?BM” (sejak 2005) baru hanya berjumlah 3 buah saja. Selain Indonesia yang memesan 11 buah Sukhoi Su-35S, Angkatan Udara Cina juga berencana membeli sebanyak 24 buah. Angkatan Udara Venezuela juga memesan pesawat tempur ini.

    Mengapa Indonesia ingin membeli Sukhoi SU-35?

    Pertanyaan itu tak perlu ditanyakan kepada rumput yang bergoyang. Hal itu karena TNI-AU ingin mengganti 16 buah pesawat tempur F-5 Freedom Fighter buatan Northrop Amerika era 1980-an yang telah ketinggalan zaman dengan pesawat tempur Su-35 Super Flanker Rusia yang baru.

    Namun kepemimpinan politik tidak dapat bertindak lebih leluasa karena AS juga terlibat dalam penjualan F-16 Fighting Falcon bekas, yang beberapa sudah datang dan dipakai oleh TNI-AU. Selain itu Indonesia juga sudah membeli helikopter tempur penyerang (attack helicopter) Boeing AH-64/Apache sebanyak 8 buah, beberapa juga sudah tiba di Indonesia dan telah dipakai.

    F-18 Super Hornet US Air Force Amerika Serikat (kiri) terbang bersama F-16 Fighting Falcon Indonesia TNI-AU (kanan) yang pernah mengalami masalah pemeliharaan parah setelah suku cadang dan persenjataannya embargo AS, sedang melintas diatas kepulauan Indonesia saat latihan bersama.

    Indonesia mengoperasikan F-16 Amerika, dan juga Flanker buatan Rusia yaitu, lima Su-27 dan sebelas Su-30. Indonesia memerlukan jet tempur Rusia itu karena kebutuhan, karena dari 12 buah F-16A / Bs yang tersisa dan 16 buah F-5E / F yang tersisa, setelah suku cadang dan persenjataannya pernah di embargo oleh AS dan mengalami masalah pemeliharaan parah di masa lalu.

    360 derajat. Sukhoi Su-35S bermanuver flip-backl 360 derajat.

    Embargo tersebut diberlakukan setelah Australia mulai ikut campur dan berpihak kepada pemberontak dalam perang saudara di Timor Timur, dan AS justru menuduh Indonesia melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

    Untuk mengatasi masalah yang tercipta dari embargo AS itu, pada tahun 2003 Indonesia menandatangani kontrak senilai US$ 192 juta dollar AS dengan Rusia untuk memasok jet tempur multi peran Sukhoi melalui Rosoboronexport.

    Induksi jet tempur Rusia kepada Indonesia memberikan keyakinan pula kepada negara-negara Asia Tenggara lainnya dan mulai ikut sebagai bagian dari kekuatan dengan tetangganya yang lebih kuat, termasuk China dan Australia.

    Empat tahun kemudian, di pameran udara MAKS 2007 di Moskow, Indonesia dan Rusia menandatangani kesepakatan tindak lanjut US$ 300 juta dollar AS untuk memasok lebih banyak Sukhoi Flankers.

    F-5E-F Freedom Fighter milik Indonesian Air Force / TNI-AU buatan Northrop Amerika era 1980-an.

    Apa yang membuat pembelian hardware militer Rusia di Indonesia luar biasa adalah bahwa hal itu justru terjadi di latarbelakangi kerjasama keamanan yang erat antara Washington dan Jakarta.

    Varian Su-27 SK dan Su-30 yang dimiliki Indonesia saat ini “berbagi kombinasi keluarga Sukhoi Flanker jarak jauh, muatan persenjataan besar, dan kinerja udara ke udara yang bisa menandingi semua jet tempur Amerika, kecuali F-22A Raptor yang harus dilawan oleh SU-35 ini.

    Beberapa alasan mengapa Indonesia lebih memilih keluarga Sukhoi sang “Flankers” yang ditakuti banyak negara diantaranya adalah:

    Lompatan teknologi ke depan

    Su-35 Super Flanker, yang diminati TNI-AU Indonesia, tentu lebih maju. Sukhoi mengklasifikasikannya sebagai pesawat generasi 4++ (4th plus-plus generation), yang menempatkannya tepat dibawah pesawat siluman generasi kelima jika dibandingkan dengan F-16 dan F-18, yang berbasis pada teknologi tahun 1970-an.

    Kenyataan dimasa depan

    Sukhoi SU-35 Flanker specification.

    Dengan Australia yang berencana mengakuisisi 72 pesawat tempur siluman F-35 pada akhir dekade ini, Indonesia perlu melihat tindakan balasan.

    T-50 Rusia sepertinya kandidat yang paling ideal, Su-35 lebih baik dan juga lebih unggul untuk menghadapi ancaman F-35.

    Dave Majumdar dari National Interest mengatakan seorang pejabat Angkatan Udara AS yang berpengalaman dalam F-35 percaya bahwa Su-35 dapat menjadi tantangan serius bagi jet Amerika yang baru, F-35, yang tidak memiliki kemampuan kecepatan atau ketinggian seperti Su-35 atau F-22. Kemampuan Sukhoi untuk melesat tinggi dan cepat adalah perhatian besar.

    Pelatihan dengan ahlinya

    Pada bulan Oktober 2013 silam, India setuju untuk melatih dan mendukung TNI-AU dalam mengoperasikan armada Sukhoi. Menurut kesepakatan tersebut, yang tiba pada saat kunjungan menteri pertahanan India ke Jakarta, India dan Indonesia akan bekerja sama dalam bidang pelatihan, bantuan teknis dan dukungan suku cadang Sukhoi.

    Sukhoi Su-35S bermanuver rolling flip-back / berputar dan berbalik 360 derajat.

    Mengapa kerjasama pelatihan tempur dengan India? Di masa lalu Jakarta mengadakan pakta dengan China untuk melatih pilotnya dan memberikan dukungan teknis untuk armada Flanker-nya.

    Tapi Jakarta sekarang berpaling ke pandangan bahwa Angkatan Udara India (IAF) adalah mentor yang ideal.

    Sebab, IAF telah mendapatkan reputasi dunia sebagai “tuan perang kejar di udara” (dogfight duke) juga di malam hari, setelah mengalahkan Angkatan Udara AS yang kuat pada serangkaian latihan udara bersama India-AS dalam Cope India.

    Ditambah lagi, dalam tiga kali peperangan melawan Pakistan pada tahun 1965, 1971 dan 1999. India berhasil mengalahkan Angkatan Udara Pakistan, tempat dimana JF-17 Thunder yang dinaiki Jokowi dibuat.

    Tidak ada sensor atau embargo

    Argumen paling mendesak untuk diajukannya membeli senjata dan jet tempur ke Rusia yang paling populer adalah bahwa tidak seperti kekuatan besar lainnya, Moskow tidak pernah memberlakukan embargo di tengah konflik suatu negara konsumennya.

    Sukhoi Su-35S bermanuver cobra dengan kecepatan rendah.

    Lagipula, Rusia berpendapat, jika menjual senjata ke sebuah negara dan kemudian menerapkan putus hubungan peralatan tempur dan/atau embargo pada pasokan negara konsumen yang bersangkutan, selama itu dibutuhkan, ibarat seperti tusukan dari belakang. Dan hal ini PASTI terjadi jika membeli peralatan tempur termasuk pesawat dari blok barat.

    Rekam jejak atau track record tak pernah bohong, bahwa blok-barat akan mengembargo suku cadangnya. Dan hal itu terjadi di semua negara, embargo akan dilakukan, kecuali di negara sekutunya dan di negara-negara pengikut alias anak bawang.

    Embargo yang pernah terjadi terhadap suku cadang dan persenjataan pesawat tempur A4/Skyhawk oleh AS pada masa GAM, dan juga embargo suku cadang dan persenjataan F-16 oleh AS selama krisis Timor Timur jelas ditujukan untuk memberi Australia keuntungan.

    Pesawat tempur era 80-an, Douglas A4 Skyhawk TNI-AU yang sudah pensiun, dibeli dari Israel dalam sebuah operasi rahasia bernama “Operation Alpha”.

    Indonesia pernah memiliki pesawat tempur Douglas A-4 Skyhawk buatan McDonnell Douglas AS yang di produksi era 19501n-70-an.

    Namun Indonesia justru membeli bekas di era 1980-an, dan membelinya secara diam-diam dari Israel, untuk menggantikan pesawat bomber Ilyushin Il-28 (NATO code name: Beagles) dan pesawat strategic heavy bomber Tupelov Tu-16 (NATO code name: Badgers) yang keduanya buatan Rusia. (baca: TOP SECRET: “Operasi Alpha” Sangat Rahasia Era Rezim Orde Baru, Terkuak!)

    Maka, jika kembali terjadi krisis di masa depan yang melibatkan Indonesia dan Australia, hasilnya tidak akan berbeda. Kepemimpinan politik Indonesia mungkin mempertimbangkan saat mereka melakukan keputusan terakhir untuk membeli pesawat tempur dari blok barat tersebut.

    Jadi dari semua keuntungan dan semua nilai positif tersebut, adalah keputusan masuk akal, bahkan bagi orang bodoh sekalipun, bahwa pembelian Sukhoi SU-35 adalah jauh lebih menguntungkan dalam beberapa aspek, bahkan hingga untuk di masa depan militer Indonesia.

    Sukhoi mengklasifikasikan Su-35 sebagai pesawat generasi 4 ++, yang menempatkannya di bawah pesawat siluman generasi kelima. (Sumber: Sukhoi)

    Dibawah ancaman AS, apakah Indonesia tetap mambeli SU-35?

    Pada pernyataan lain yang ditegaskan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Indonesia tak takut dengan ancaman berupa sanksi dari negara manapun terkait keinginan pemerintah membeli pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia.

    Wiranto mengatakan, “Masalah ancaman-ancaman, sanksi saya kira Indonesia tidak terlalu memikirkan masalah itu”. Pernyataan Wiranto tersebut menanggpi kemungkinan embargo dari Amerika Serikat jika Indonesia membeli Sukhoi dari Rusia. Wiranto menegaskan Indonesia merupakan negara yang menganut politik bebas aktif dalam berinteraksi dengan negara lain. Prinsip itu, kata Wiranto, harus dihormati oleh negara lain.

    Sukhoi TNI-AU KNAAPO/Su-30MK (atas) dan KNAAPO/Su-27 (bawah)

    Selain itu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sebelumnya telah memastikan Indonesia tak akan terkena embargo Amerika Serikat meski membeli pesawat dari Rusia.

    Awalnya, isyu embargo AS terhadap Indonesia terkait pembelian Sukhoi dari Rusia mencuat saat Menteri Pertahanan Amerika, James Norman Mattis berkunjung ke Indonesia, Selasa (23/1/2018) silam.

    Dalam kunjungan tersebut, Mattis saat bertemu Ryamizard disebutkan menawarkan Indonesia untuk membeli alutsista dari negaranya. Di sisi lain, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna menegaskan proses pembelian pesawat tempur Sukhoi-35 generasi 4,5 dari Pemerintah Rusia masih terus berjalan.

    “Sukhoi-35 masih jalan. Tidak ada pengaruh apa-apa, sesuai dengan apa yang disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto,” kata Yuyu usai Rapat Pimpinan (Rapim) TNI Angkatan Udara 2018 di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur.

    Jika Indonesia miliki Sukhoi SU-35, Australia cemas dan siapkan penangkalnya

    Kehadiran SU-35 Indonesia jelas akan menjadi ancaman serius bagi Australia mengingat dalam peperangan SU-35 dikenal lebih tangguh dibandingkan jet-jet tempur F-18 Hornet Australia. Pilot Australia, yang menganggap diri mereka sebagai senjata terbang F-18 Hornets, kini harus berhadapan dengan SU-27, SU-30 dan SU-35 Flankers yang lebih unggul dari hampir semua aspek.

    F/A-18 Hornet RAAF Australia.

    Menurut Air Power Australia, “Akuisisi pesawat tempur Sukhoi Su-27SK dan Su-30MK buatan Rusia yang dirancang oleh sebagian besar negara regional, sekarang menghadirkan lingkungan di mana F/A-18A/B/F Hornets kalah dalam semua parameter kinerja utama secara luas sebagai jet tempur yang tersedia.”

    Dan ternyata inilah salah satu bukti, bahwa Australia sudah lama menganggap Indonesia sebagai ancaman. Apalagi Indonesia terus meningkatkan kekuatan militernya antara lain dengan pengadaan satu skuadron jet tempur Su-35 dan puluhan tank Leopard II.

    Namun, pada 2015 Menteri Pertahanan Ryamizard Racudu pernah menekankan bahwa, “Australia bukan ancaman bagi Indonesia, tapi Australia-lah yang menganggap Indonesia sebagai ancaman. Itu tidak masalah. Kecuali kalau kedaulatan kita terrganggu,” kata Ryamizard.

    Skuadron jet temput Sukhoi TNI-AU.

    Australia siapkan tiga kapal perusak “Air Warfare Destroyer”

    Untuk menghadapi ancaman dari Indonesia itu, Australia makin meningkatkan kekuatan militer, khususnya Angkatan Laut, yang telah berambisi membangun sendiri tiga kapal perusak khusus untuk peperangan udara, dan 12 kapal selam konvensional besar.

    Namun pembangunan ketiga Air Warfare Destroyer (AWD) mengalami keterlambatan, sehingga paling cepat baru rampung tahun 2019. Kesulitan ini terutama karena galangan kapal Australia kekurangan tenaga trampil dalam pembuatan blok kapal, sejak proyek kapal fregat Anzac rampung tahun 2006.
    https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bb/HMAS_Hobart_December_2017.jpg/320px-HMAS_Hobart_December_2017.jpg

    Kapal perusak HMAS Hobart (DDG 39) / (wikipedia).

    Pembangunan ketiga AWD yang merupakan program pengadaan alat pertahanan terbesar Australia, menelan biaya sekitar Rp 50 triliun dan memerlukan 2.500 tenaga kerja.

    Ketiga kapal perusak itu dari kelas Hobart (Hobart-class) mereka adalah His Majesty’s Australian Ship (HMAS) Hobart (DDG 39), sudah beroprasi sejak Maret 2016 lalu, HMAS Brisbane (DDG-41) pada September 2017, dan HMAS Sydney (DDGH-42) beroperasi pada Maret 2019-2020.

    Rancangan AWD itu didasarkan pada fregat F100 yang dibuat oleh Navantia Spanyol, dan dikerjakan di galangan pemerintah di Techport, Australia Selatan. Kapal perusak ini akan meningkatkan kemampuan AL Australia dalam sistem pertahanan udaranya, dengan kemampuannya melacak serta menangkis banyak sasaran sekaligus.

    Dengan kemampuan merontokkan sejumlah pesawat tempur itu maka serangan udara dari musuh, dalam hal ini misalnya dari Indonesia, sudah bisa dihadang di tengah lautan sebelum jet-jet tempur tersebut mencapai ruang udara di atas daratan Australia.

    Destroyer pertahanan udara Australia 2018.

    Setiap AWD memerlukan 30 blok baja dan sebuah blok sonar, yang dibuat oleh galangan ASC di Adelaide, BAE Systems di Melbourne, Forgacs di Newcastle, dan Navantia di Ferrol, Spanyol.

    Menurut AL Ausralia, keterlambatan ketiga kapal AWD tidak menimbulkan kesenjangan kapabilitas, karena AL baru menyelesaikan peningkatan kemampuan keempat fregat kelas Adelaide-nya, baik dalam radar maupun sistem tempurnya.

    Australia siapkan kapal selam “Future Submarine” dan amphibi

    https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b9/HMAS_Rankin_2007.jpg/275px-HMAS_Rankin_2007.jpg

    The Collins-class submarine HMAS Rankin. The SEA 1000 project will replace the six Collins-class boats.

    AL Australia juga mulai memusatkan perhatiannya untuk proyek pembangunan kapal selamnya, yang disebut The Future Submarine Program (SEA 1000) atau Collins-class submarine replacement project. Proyek ini dianggap sebagai proyek AL Australia terbesar dan paling kompleks sifatnya.

    Program kapal selam ini akan dikerjakan begitu proyek AWD rampung, untuk mencegah terjadinya lagi kemerosotan jumlah tenaga terlatih dalam pembangunan kapal perang di wilayah Australia.

    Program baru lainnya adalah pengadaan dua kapal peperangan amfibi yang besar, masing-masing 27.000 ton. Keduanya sudah mulai operasional tahun 2016 dan 2017, serta mengubah secara signifikan doktrin kemiliteran Australia.

    Misalnya Angkatan Darat Australia yang selama ini orientasinya hanya sebagai kekuatan berpangkalan di daratan, nantinya akan mampu melakukan peperangan amfibi juga. Rancangan kapal tersebut didasarkan pada strategic projection vessel AL Spanyol kelas Juan Carlos I yang dibangun oleh Navantia di Ferrol, Spanyol.

    The Collins-class submarine.

    Semua ini membuktikan bahwa Indonesia yang memiliki sikap politik netral dan bebas aktif kepada semua negara, tetap di takuti oleh blok barat seperti dulu, ketika blok timur manjual peralatan perangnya tanpa syarat.

    Sedangkan membeli peralatan dengan blok barat harus menandatangani dengan banyak syarat dan tunduk patuh, karena jika tidak, suatu saat dapat di embargo.

    Hal ini pernah terjadi bebeapakali, termasuk ketika Indonesia ingin menumpas GAM di Aceh, dimana kala itu Indonesia di embargo.

    Sejarah telah membuktikan bahwa blok barat selalu ingin sebuah negara terpecah-belah, agar dapat lemah dan akhirnya mudah dikuasai. Bertekuk lutut.

    Apalagi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dan terbanyak di dunia. Sebuah catatan sejarah yang terus berulang hingga ke depannya. Kecuali: bersekutu dengannya untuk ikut agenda memecah-belah bangsa-bangsa lainnya di planet ini, menjadi kecil-kecil tak berdaya. (IndoCropCircles.com)

    Pustaka:

    wikipedia, Sukhoi SU-35, JF-17 Thunder, The Future Submarine Program (SEA 1000),
    rbth.com, Why the Indonesian air force wants the Su-35
    intisari.id, Pembelian Jet tempur SU-35 dari Rusia Akan Diganti Dengan JF-17 Thunder Buatan Pakistan?
    tribunnews.com, Indonesia Miliki Pesawat Canggih SU-35, Australia Siapkan Kapal Untuk Menangkalnya

LEAVE A REPLY