Feb 152019
 

Jet tempur Su-35 (@Russian Mod)

JakartaGreater.com – Kedatangan pesawat tempur Sukhoi Su-35 yang akan dibeli dari Rusia terancam terlambat karena komoditas imbal beli yang diajukan Indonesia belum disetujui oleh Rusia.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, saat ini Kemendag sudah menyampaikan daftar komoditas imbal beli yang akan ditukar dengan Sukhoi Su-35 kepada Rusia.

Oke Nurwan menyatakan, ada 16 komoditas yang diajukan sebagai komoditas ‘barter’ dengan Rusia, di antaranya berupa minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, karet, biskuit, dan kopi.

“Kami sudah ajukan daftar komoditas dan draf tata kerja kelompok kepada pihak Rusia. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian dari Rusia apakah mereka menerima komoditas yang kita ajukan apa tidak?” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (13/02/2019).

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Pertahanan Totok Sugiharto mengatakan, kontrak pembelian seharusnya sudah efektif pada Agustus 2018 lalu, sehingga dua dari 11 pesawat Su-35 yang dipesan Indonesia seharusnya sudah datang pada tahun 2019.

Namun, dengan masih terjadinya proses pembahasan komoditas yang dijadikan imbal dagang antara Indonesia dengan Rusia, realisasi kedatangan Su-35 terancam molor.

“Urusan mengenai spesifikasi pesawat sudah selesai di kami. Kalau di Kementerian Perdagangan (Kemendag) sampai saat ini masih tertahan dalam hal kesepakatan komoditas yang dijadikan imbal beli, maka besar kemungkinan Sukhoi yang kami pesan terlambat datang,” jelasnya, Rabu (13/2/2019), sebagaimana ditulis oleh Bisnis.com.

Apabila berjalan lancar, pesawat tempur Su-35 konon akan datang dengan spesifikasi persenjataan lengkap (full combat) dan akan dikirimkan secara bertahap, yakni tahap pertama dua pesawat, lalu tahap kedua empat pesawat dan tahap terakhir lima pesawat.

Keterlambatan kedatangan Su-35 dikhawatirkan akan menghambat proses peremajaan peralatan tempur udara Indonesia. Padahal, Sukhoi Su-35 nantinya akan menggantikan pesawat tempur ringan F-5 Tiger II yang sudah dipensiunkan.

Indonesia sebenarnya sangat membutuhkan pesawat tempur canggih untuk menggantikan kekosongan armada udara setelah kehilangan armada fighter buru sergap F-5 Tiger II.

Apalagi dengan perkembangan di kawasan Asia Pasifik, seperti pembelian pesawat tempur siluman F-35 oleh Singapura dan Australia, dan mulai diperkuatnya Angkatan Udara China dengan pesawat tempur siluman J-20 dan Su-35.

Su-35 in Action:

 Posted by on Februari 15, 2019