Jun 212016
 

Hubungan Indonesia dan China kembali memanas. Optimisme yang dibawa Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan sekembalinya dari melawat ke China April lalu, bahwa Indonesia-China sepakat menurunkan tensi di perairan Natuna, sirna seiring insiden terbaru antara kedua negara.

Ketegangan hubungan kedua negara itu meningkat pasca China melayangkan protes kepada pemerintah Indonesia atas aksi penembakan terhadap kapal nelayan mereka di perairan Natuna, Senin (20/6). Insiden bermula ketika Kapal Perang TNI Angkatan Laut (KRI) Imam Bonjol-383 yang sedang berpatroli pada Jumat pekan lalu, 17 Juni, menerima laporan intai udara maritim bahwa ada 12 kapal ikan asing sedang mencuri ikan di Natuna.

Hubungan Indonesia-China kembali memanas pasca insiden penambakan kapal nelayan China oleh Kapal Perang TNI AL pekan lalu.

Hubungan Indonesia-China kembali memanas pasca insiden penambakan kapal nelayan China oleh Kapal Perang TNI AL pekan lalu.

KRI Imam Bonjol di bawah Komando Armada RI Kawasan Barat lantas bergerak mendekati kedua belas kapal tersebut. Namun saat didekati, kapal-kapal itu kabur. KRI Imam Bonjol pun memburu kapal-kapal tersebut dan melepas tembakan peringatan. Dari sejumlah tembakan, satu mengenai kapal berbendera China dengan nomor lambung 19038.

Tembakan itu, menurut China, melukai satu nelayan mereka. Pemerintah China pun mendesak Indonesia untuk tak mengambil tindakan yang dapat memperumit Indonesia.

Perairan Natuna di barat daya Kalimantan selama ini memang kerap menjadi ‘medan perang’ Indonesia dan China. Wilayah yang berhadapan dengan Laut China Selatan itu menyimpan catatan deretan insiden antara kapal kedua negara.

Perang urat syaraf mengikuti tiap insiden yang terjadi. Saat pemerintah China melempar protes, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti justru membalas dengan memuji sikap tegas TNI AL menembak kapal China, melalui akun twitternya.

“Jalesveva Jayamahe,” kata Susi menyerukan slogan TNI AL yang berarti, Di lautan kita jaya. “TNI AL sudah betul menjaga kedaulatan laut kita (Indonesia) beserta isinya. Penembakan itu pasti sudah sesuai prosedur,” ujar Susi.

SIkap Kapal Perang TNI AL mendapat pujian dari Menteri Susi melalui twitternya.

SIkap Kapal Perang TNI AL mendapat pujian dari Menteri Susi melalui twitternya.

Mei lalu, Menteri Susi menegaskan sumber daya yang terkandung di Laut Natuna ialah milik Indonesia. Oleh sebab itu pihak asing yang melanggar kedaulatan wilayah itu bakal ditindak tegas. “Laut Natuna bukan milik kapal-kapal Thailand, Tiongkok, Vietnam, tapi milik kapal-kapal Indonesia,” kata Susi.

Kemarahan Indonesia atas China soal perairan Natuna bukan hal baru. Ketegangan kedua negara di wilayah itu meningkat sejak 2014. Kala itu China memasukkan sebagian perairan Natuna di Laut China Selatan ke dalam peta teritorialnya yang dikenal dengan sebutan ‘sembilan garis putus-putus’ atau nine-dashed line.

China, tiap bersitegang dengan Indonesia di Natuna, selalu berkata insiden terjadi di zona perikanan tradisional mereka. Zona versi China itu tak diakui pemerintah Indonesia. “Traditional fishing zone itu tak diakui dalam hukum internasional. Itu klaim sepihak China,” kata Susi, Maret.

Menteri Susi tegas terhadap setiap kapal asing yang kedapatan mencuri ikan diperairan Indonesia.

Menteri Susi tegas terhadap setiap kapal asing yang kedapatan mencuri ikan diperairan Indonesia.

Indonesia hanya mengakui hak perikanan tradisional (traditional fishing rights) yang diatur dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea). “Satu-satunya traditional fishing rights di Indonesia hanya dengan Malaysia, sedangkan zona ekonomi eksklusif di perairan Natuna mutlak wilayah Indonesia, ” ujar Susi.

Indonesia dan China sesungguhnya sudah sempat “berjabat tangan” pascainsiden pada 19 Maret di Natuna. Kala itu kapal penjaga perbatasan China menabrak KM Kway Fey yang hendak ditangkap Kapal Patroli Hiu 11 Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Kway Fey diduga mencuri ikan di Natuna.

Insiden itu bahkan sempat menyulut emosi Menteri Susi, pemerintah China pun akhirnya menyambangi Indonesia, disusul oleh kunjungan balasan Menko PolHuKam Luhut Binsar Pandjaitan ke China.

Sepulangnya dari China, Luhut menyatakan kedua negara sepakat menuntaskan masalah perikanan di Laut China Selatan dengan menjalin kerja sama penangkapan dan pembuatan pabrik ikan.

Jabatan Tangan Penasihat Negara China, Yang Jiechi (kanan) berjabat tangan dengan Menko Polhukam Luhut Panjaitan, di Beijing, 26 April 2016, kembali merenggang.

Jabatan Tangan Penasihat Negara China, Yang Jiechi (kanan) berjabat tangan dengan Menko Polhukam Luhut Panjaitan, di Beijing, 26 April 2016, kembali merenggang.

Kedua negara juga setuju untuk lebih menahan diri dalam menyikapi insiden. “Indonesia dan China mendukung penyelesaian masalah dilakukan dengan jalan damai agar tidak menimbulkan ketegangan kawasan,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Namun ucapan Luhut dan Pramono dua bulan lalu itu kini seakan ditelan angin. Indonesia dan China kini kembali terlibat kemelut terbuka di Natuna. (marksman/ sumber : cnnindonesia.com dan tribunnews.com)

Bagikan: