Jan 162019
 


USS Fitzgerald (foto:Wikipedia)

JakartaGreater.Com – Penyelidikan Angkatan Laut yang menginvestigasi penyebab tabrakan destroyer berpeluru kendali Fitzgerald pada tahun 2017 lalu menghasilkan simpulan yang sangat mengagetkan.

Investigasi yang diawasi oleh Laksamana Muda Brian Fort ini awalnya dirahasiakan karena masih berjalannya proses hukum.

Laporan investigasi mendokumentasikan pelanggaran rutin – dan dijadikan kebiasaan- seperti nahkoda ataupun perwira jaga di anjungan yang sering kali tidak ada ditempat, bahkan meski saat melakukan pelayaran berbahaya di malam hari melalui jalur laut yang sibuk.

Penyelidikan juga mengungkapkan kegagalan komunikasi perwira dek, Letnan Sarah Coppock dengan – pusat informasi pertempuran atau CIC – sementara Fitzgerald saat itu melintas jalur sibuk yang penuh dengan kapal dagang.

Ketika penyelidik Fort berjalan ke ruang CIC – tercium bau urine yang tajam, lantai yang kotor dan botol berisi air kencing. Beberapa peralatan radar tidak berfungsi dan kru yang tidak tahu cara mengoperasikannya.

Fort menemukan Sistem Manajemen Voyage (NMS) yang bermasalah dibandingkan peralatan navigasi elektronik lainnya. Didesain untuk membantu para personel menavigasi tanpa grafik kertas, stasiun VMS di markas kapten rusak sehingga para personel harus melakukan kanibal agar sistem VMS dapat bekerja.

Sejak 2015, destroyer tersebut tidak memiliki kepala perwira kecil quartermaster, pemimpin penting yang membantu menavigasi kapal perang dan melatih para personel – kekurangan sebenarnya sudah diketahui oleh skuadron perusak dan pejabat Angkatan Laut di Amerika Serikat, tulis Fort.

Fort juga melaporkan- kru Fitzgerald diganggu dengan semangat kerja yang rendah, diawasi oleh komandan yang tidak berfungsi dan dirundung oleh tugas yang sibuk di Armada ke-7 yang berbasis di Jepang yang membuat personel kelelahan dan tidak punya banyak waktu untuk berlatih.

Saat terjadinya insiden tabrakan, seorang perwira muda yang tidak disebutkan namanya menjadi bingung dengan kapal-kapal yang mengelilingi kapal perusak dan memanggil perwira komandan kapal perang saat itu, Laksamana Robert Shu ke anjungan.

Shu mengarahkan perusak Fitzgerald melewati kapal dagang dan kemudian meninggalkan anjungan kapal.

Tetapi saat perwira yang bertanggung jawab telah membersihkan jalur di depan ia “segera menyadari ada kapal lain di sisi yang berlawanan” dari kapal yang baru saja dihindari, tulis Fort.

“(Petugas) membunyikan lima ledakan pendek (suara sinyal bahaya) dan memerintahkan semua kembali ke posisi darurat penuh untuk menghindari tabrakan” .

Bagi Fort, insiden sebelumnya seharusnya merupakan panggilan untuk membangunkan Komandan Shu dan Komandan Benson, juga calon komandan kedua, Sean Babbitt.

Laporan juga menuliskan, Komandan Benson dan Shu menghabiskan sedikit waktu di anjungan pada malam hari dan Benson tertidur di kamarnya pada malam terjadinya tabrakan dengan kapal dagang ACX Crystal.

Komandan Benson juga tidak berada di anjungan saat transit melewati jalur laut yang sibuk sebelumnya, atau hanya melakukannya pada siang hari, dan “para personel di anjungan kelelahan tanpa istirahat yang cukup,” Fort menemukan.

Perjalanan kapal biasanya diatur oleh ” rules of the road” seperangkat pedoman kapal mengenai kecepatan, pengintaian dan praktik terbaik lainnya untuk menghindari tabrakan, tetapi laporan Fort meragukan apakah para pengamat di anjungan kapal perusak Fitzgerald dan kapal perang lain di Armada ke-7 sudah memiliki pengetahuan yang cukup untuk menavigasi dan berlayar dengan aman di laut.

Navytimes

 Posted by on Januari 16, 2019

  7 Responses to “Peralatan dan Komando yang Buruk, Penyebab Tabrakan Destroyer USS Fitzgerald”

  1.  

    pasukan amerika secara kemampuan individu sangat membutuhkan peralatan canggih untuk menunjang kemampuan tempurnya … TNI dengan peralatan usang pun tetap tangguh .. amerika payah