Perang Arab Israel 1973

Sudah cukup lama ke belakang, saya membaca buku War in The Gulf, yang mengulas perang Mesir – Suriah melawan Israel tahun 1973.

Perang itu menggambarkan betapa cerdiknya Mesir yang dipimpin Anwar Sadat, dalam mengelabui Israel di awal perang. Anwar Sadat juga berhasil membangun militer Mesir yang kuat dengan sokongan Uni Soviet. Strategi para insinyur Mesir sangat lihai untuk menyeberangkan Lima Divisi Infanteri dan lapis baja, melalui Terusan Suez untuk masuk ke Sinai.

SinaiOctoberWar1973

Tapi cerita perang itu anti klimaks. Setelah berhasil menguasai Sinai dengan mudah, Mesir seakan kehilangan akal. Para Jenderal berdebat, apakah meneruskan serangan ke jantung Israel. Polemik itu ditutup Anwar Sadat dengan memerintahkan, Mesir hanya hendak merebut Sinai dan tidak hendak melumat Israel.

2nd Army Division dari Tentara Mesir ditempatkan di utara, sementara 3rd Army Division ditempatkan di Selatan Sinai.

Di sinilah kebingungan saya muncul. Bagaimana bisa, Mesir yang sudah merontokkan mayoritas lapis baja dan pesawat Israel, akhirnya berhasil dipukul mundur.

Bahkan saat itu, Anwar Sadat dan Jenderal nya Sulaiman, pawai berkeliling Kairo memproklamirkan kemenangan tentara Mesir. Padahal di hari yang sama, pasukan Israel berhasil menyeberangi terusan Suez, lewat Chinese Farm, wilayah tengah (gap) yang tidak dijaga oleh 2nd Army Division dan 3rd Army Division.

1973_sinai_war_maps1

Bagaimana mungkin mereka menembusnya ?. Lewat tanyangan Aljazerra di atas, baru saya mendapatkan jawabannya. Saat Mesir mabuk kemenangan, AS mensuplai Israel secara besar besaran amunisi dan alutsista. Moshe Dayan melaporkan ke PM Israel, Golda Meir, bahwa pertahanan terakhir mereka hampir ditembus. Dan itu artinya Israel harus menyiapkan nuklir, untuk mencegah kepunahan mereka.

Informasi itu yang diolah Israel, agar AS mengirim amunisi dan alutsista sebesar-besarnya. AS termakan dengan ancaman itu, padahal tentara Mesir tidak menyerang ke dalam Israel.

Dengan suplai besar besaran ini, Israel kembali membangun kekuatan dan menembus celah antara 2nd Army Div dan 3rd Army Div yang nyaris tidak dijaga. (Aneh juga mengapa dibiatkan ada celah).

Israel berhasil berbergerak flanking ke garis belakang Mesir. Dan tugas pertama pasukan ini, menghancurkan sistem pertahanan udara Mesir. Setelah baterai SAM lumpuh, pesawat pesawat Israel yang baru disuplai AS, ikut melakukan bombardir. Di situlah awal titik kehancuran Mesir.

Para Jenderal Mesir, sempat berdebat, mengapa pasukan sebagian besar ditempatkan di front timur dan tidak ditarik untuk menutup gap/ mengisolasi Tentara Israel yang masuk menyeberangi Terusan Suez.

Di sinilah muncul spekulasi, Anwar Sadat bermain mata dengan Amerka Serikat, dengan iming iming akan diberikan bantuan ekonomi dan militer yang besar, asal berdamai dengan Israel.

Uni Soviet sendiri marah atas tindakan Israel yang menghancurkan pasukan Mesir dan Suriah. Maklum semua persenjataan mereka dari Uni Soviet. Breshnev, marah dan menganggap pasukan Mesir tidak bisa berperang.

Uni Soviet pun mengancam akan melakukan aksi Unilateral, jika Israel tidak menghentikan serangannya. Jenderal Mesir Saad el Shazly saat itu bertanya, mengapa Anwar Sadat menumpuk 90 persen pasukannya di Front Timur, lalu siapa yang berperang di front Barat ?.

Pada tahun 1980, Anwar Sadat tewas ditembak anggota militer, pada saat berada di podium, menyaksikan parade militer Mesir.

Perang memang rumit ditebak ujungnya. Namun dari uraian Al jazeera itu, saya mendapatkan gambaran, tentara Israel kala itu tidaklah superior. Mereka mendapatkan bantuan militer yang sangat banyak dari AS. Namun jujur, para jenderal mereka sedikit lebih cerdas dan kompak dibanding Mesir. (JKGR).

Tinggalkan komentar

Most Popular

Komentar