Jan 272015
 
Gripen - Rafale (foto: Gempurwira)

Gripen – Rafale (foto: Gempurwira)

Ketiga tipe Eurocanards adalah multirole fighter Generasi terakhir yang sudah operasional. Dibuat untuk menandingi kemampuan F-15 / F-16 / F-18 dari US, dan Su-27/MiG-29 dari Russia, ketiganya mempunyai keunggulan untuk di-desain 10 tahun kemudian, jadi secara tehnis adalah pesawat-pesawat yang jauh lebih baru.

Ketiga Eurocanards menjadi pilihan baik bagi banyak negara yang menginginkan tehnologi modern pesawat tempur Barat, reliability yang terjamin, dan support yang bagus, tapi ingin mengingkari faktor resiko untuk berurusan dengan program FMS pemerintah US, dan “source code” control mereka yang terkenal pelit.

Berikut adalah perbandingan antara ketiga tipe ini.

Radar

Gripen-E/F (Selex Raven ES-05) dan Dassault Rafale (RBE2) sudah memakai AESA radar; sedangkan Typhoon masih memakai radar CAPTOR-M, tipe pulse-doppler 2-channel. CAPTOR-M dianggap sebagai doppler radar dianggap lebih modern dari semua model mechanical doppler yang lain spt APG-68v9 (F-16 Block50+) atau APG-70 (F-15E), tapi tetap tidak bisa menandingi jarak jangkau, dan kemampuan deteksi tipe AESA yang lebih modern.

AESA radar tidak hanya jauh lebih unggul, tapi juga lebih murah (dan lebih mudah) dalam hal perawatan, dibandingkan PESA atau pulse-doppler. Setiap module / element dalam AESA radar beroperasi independent satu sama lain, jadi kalau ada beberapa element yang rusak, tidak akan mempengaruhi performa radar. Hal ini memudahkan maintenance. Radar Pulse-doppler mempunyai MTBF (Mean-Time Between-Failure) / butuh perbaikan setiap 100 jam operasional, jadi secara maintenance lebih mahal dan sulit.

Eurofighter Consortium baru saja menandatangani kontrak upgrade radar ke CAPTOR-E AESA, senilai $1 milyar, menghilangkan kelemahan terakhir Typhoon dibanding kedua pilihan lain. Pembuat CAPTOR-E adalah Selex ES – memberikan base technology radar yang sama dengan Gripen-NG.

Radar CAPTOR-E AESA di Typhoon memiliki keunggulan ukuran yang besar (1500-module), sebanding dengan radar pesawat tempur berat di kelas F-15 atau Su-27 – memberikan jarak jangkau dan kemampuan deteksi akan lebih kuat dibandingkan Raven ES-05 Gripen dan RBE2 Rafale yang hanya 1000 module, atau di kelas pesawat tempur menengah, yang seimbang dengan APG-80 di F-16 Block-60 atau APG-79 di F-18E/F Super Hornet.

CAPTOR-E dan Raven ES-05 (keduanya buatan Selex ES) dapat diputar di pivot-nya, memberikan kemampuan coverage yang lebih besar (120 derajat dari moncong pesawat). Ini akan memberikan keunggulan tambahan dalam BVR combat (lihat di bawah). Radar RBE2 di Rafale fixed-mounted, sama seperti semua radar AESA di pesawat tempur buatan US, memberikan sudut coverage yang lebih terbatas.

Dari segi IRST, ketiganya boleh dibilang sebanding, karena dari base tehnologi yang sama.

Performance

Typhoon dan Gripen-E mempunyai kecepatan maksimum yang lebih tinggi (Mach-2+) dibandingkan Rafale (Mach 1,8). Daya dorong mesin Rafale yang lebih rendah memberikan Thrust-to-weight ratio yang lebih rendah (0.97), dibandingkan Gripen-E (1,06), dan Typhoon (1,07). Semua angka dihitung fully loaded, dengan full internal fuel dan 2 AAM. Dari segi rate climb, Typhoon paling unggul, diikuti Gripen-E, dan terakhir Rafale, tapi sekali lagi, perbedaan antara ketiganya tidak terlalu jauh.

Ketiga tipe Eurocanards tentu saja juga dapat supercruise – terbang mendatar, melebihi kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner, seperti semua tipe lain.

Range dan Combat Radius 

Ketiganya hampir seimbang untuk ferry range (+/- 4,000 km) dan combat radius (+/- 1,000 km).

Payload (Data Angkut)

Rafale bisa mengangkut lebih banyak payload (10,5 ton), dibandingkan Typhoon (8.25 ton) dan Gripen-E/F (5 ton). Kemampuan payload ini hanya akan lebih berpengaruh ke kemampuan Air-to-Ground daripada Air-to-Air.

Catatan di sini:

Ausairpower menunjuk bahwa keunggulan payload Su-35 memberikan kemampuan untuk membawa 14 missile. Penulis blog ini, Carlo Kopp dan Peter Goon, sepertinya lupa, kalau tidak akan pernah ada Angkatan udara di dunia ini yang mau memasang 14 missile ke satu pesawat. 

Penjelasannya sederhana. Pertama, faktor resiko yang besar. Setiap missile harganya jutaan dollar. Kalau pesawat tempur membawa sedemikian banyak missile dan tertembak jatuh (atau mengalami kecelakaan), sebelum berhasil menembak, maka ini adalah investasi $100 juta yang mubazir.

Kedua, setiap Angkatan Udara hanya mempunyai stock jumlah missile yang terbatas. Akan jauh lebih optimal untuk membagi jumlah missile itu ke lebih banyak pesawat, dibanding memasang sebanyak mungkin missile ke beberapa pesawat saja. Mereka juga harus menghemat, untuk memastikan tidak akan kehabisan missile sebelum konflik selesai.

Inilah sebabnya dalam Air-to-Air mode, semua pesawat tempur di dunia, secara optimal biasanya dipersenjatai 4 x BVR missile, dan 2 x WVR missile. Su-27 Russia yang di-intercept Typhoon UK di atas Baltic ini saja (Foto: The Aviationist), hanya membawa 4 x R-27 BVR missile (2 di perut, 2 di sayap sebelah dalam), dan 2 x R-73 di sayap sebelah luar.

Beberapa pesawat lain dapat membawa 8 missile. Sebagai contoh: Lihat gambar F-15C ini, yang membawa 4 x AIM-9 jarak dekat, dengan 2 fuel drop tank besar di sayap; 4 AIM-120 BVR missile juga terlihat dibawah perut.

Cockpit Interface dan Networking

Ketiganya kira berimbang dalam hal cockpit layout. Semua tipe menekankan user-interface yang terbaik. Dari segi networking, ketiga tipe ini juga dapat menembakkan BVRAAM secara pasif — tidak perlu menyalakan radar — cukup 1 pesawat yang menyalakan radar dan meng-guide semua BVR missile yang ditembakkan pesawat lain.

Rafale dan Typhoon mengandalkan Link-16 untuk data-link network untuk koordinasi antar pesawat. Gripen juga mempunyai kemampuan berkomsunikasi lewat Link-16, tetapi untuk koordinasi antar pesawat dengan Gripen yang lain, memakai sistem TIDLS Swedia tersendiri. Sistem TIDLS yang lebih mengoptimalkan information-sharing, dan kerja-sama yang lebih dekat dalam setiap formasi pesawat, dinilai lebih unggul untuk memberikan situational awareness yang lebih tinggi dibanding Link-16 yang sifatnya seperti broadcast.

BVR (Beyond Visual Range) Combat

Pilihan default untuk ketiganya tentu saja adalah MBDA Meteor, BVR-missile terbaik di dunia saat ini, yang development-nya sudah selesai, dan sebentar lagi akan memasuki tahap operasional. Gripen-C akan menjadi Eurocanard pertama yang membawa Meteor. Untuk Rafale, ada penjelasan terpisah di bawah.

Dengan mesin ramjet, Meteor dapat menyesuaikan kecepatan yang se-efesien mungkin dari tahap launch. Untuk mencapai jarak jangkau yang lebih jauh, Meteor dapat terbang lebih lambat untuk menghemat bahan bakar. Di saat akhir, Meteor dapat menambah kecepatan untuk meng-optimalkan pK (probability-Kill). Bandingkan dengan AMRAAM yang hanya memakai solid rocket – kecepatannya tidak bisa di kontrol dari awal sampai akhir. AMRAAM dapat kehabisan bahan bakar, atau melaju terlalu cepat, sehingga manuever akhir untuk membunuh lawan justru sebenarnya sangat sulit.

Jarak jangkau Meteor tidak di-publish resmi, tapi menurut rumor, melebihi AIM-54 Phoenix tempo dulu (190 km +), atau bahkan AMRAAM-D yang development-nya masih tertunda terus (US menghabiskan terlalu banyak uang di F-35!). Typhoon dan Gripen memiliki keunggulan dalam memakai Meteor karena keduanya dapat melakukan 2-way datalink untuk meng-update posisi terakhir target (sama dengan sistem 2-way-link di AMRAAM), sedangkan Rafale hanya mempunyai 1-way datalink.

Radar AESA di Typhoon, dan Gripen yang dapat diputar untuk mengikuti lawan, memberikan kemampuan keduanya untuk membelok keluar dari jangkauan BVR missile lawan, sementara terus memberikan data-link update ke BVR missile, seperti Meteor untuk menghantam target (lihat gambar di bawah). Ini memberikan kedua tipe ini keunggulan taktis dibanding Rafale, F-15, F-16, dan F-18 yang memakai fixed-mounted AESA-radar.

AESA radar, yang dapat diputar mengikuti lawan. Gambar: Selex Galileo

AESA radar, yang dapat diputar mengikuti lawan. Gambar: Selex Galileo

Typhoon dengan CAPTOR-E AESA (ukurannya paling besar disini), akan dapat melihat lawan dari jarak yang lebih jauh, dan tentu saja mempunyai kesempatan menembak Meteor dari jarak yang lebih aman dibanding yang lain – memanfaatkan jarak jangkau Meteor.

WVR (Within Visual Range) Combat

Typhoon dan Gripen mempunyai kemampuan lebih optimal dibandingkan Rafale dalam hal ini, karena keduanya sudah diperlengkapi Helmet-Mounted-Display (HMD), yang memungkinkan keduanya untuk menembakkan off-boresight WVR missile. Dengan HMD, WVR missile dapat ditembakkan, mengikuti pandangan pilot, sampai sudut yang melebihi 90 derajat dari arah moncong pesawat.

Pilihan senjata antara Typhoon Jerman, Spanyol, dan Italy memakai IRIS-T dan Sidewinder sebagai pilihan utama. Typhoon UK memakai AIM-132 ASRAAM – tipe ini juga dipakai F-18A/B Australia.

Gripen lebih unggul dalam soal pilihan senjata, karena tergantung pilihan negara pemakai, dapat mengintegrasikan AIM-9x, A-Darter, Phyton-4, dan IRIS-T.

Rafale adalah satu-satunya yang memakai missile buatan Perancis – MICA-IR (infra-red seeker) dan MICA-EM (active radar). Kedua jenis MICA missile juga cukup unik karena dapat digunakan untuk jarak dekat (WVR) dan menengah (BVR), tapi tidak seperti yang lain, tidak mempunyai kemampuan off-boresight. Pilihan seeker antara IR dan EM memberikan keunggulan dalam BVR yang sebanding dengan R-77 atau R-27 buatan Russia.

Close-combat manuever / Dogfight

Ketiganya memiliki rating +9G /-3G untuk manuever – standar untuk semua pesawat tempur modern sejak tahun 1970-an.

Dengan wing-loading yang rendah; 283 kg/m2 untuk Gripen-C sampai 306 kg/m2 untuk Typhoon, ketiga Eurocanards dalam manuever-jarak-dekat kira-kira hampir sebanding dengan, atau lebih baik dibandingkan F-16A (sub-variant yang justru paling manueverable dalam keluarga F-16).

Ketiga Eurocanards ini juga cukup unik karena, berkat canard control, juga dapat menyamai kemampuan F-18 Hornet, yang dalam “point and shoot” high-AoA manuever (mengarahkan moncong pesawat ke arah lawan) lebih cepat dibandingkan F-16.

Sebagai pembanding, menurut laporan Department of Operational Test & Evaluation-2012 untuk Pentagon, si bebek tak berdaya, F-35, adalah pengecualian dengan maksimum +5.0g, lebih jelek bahkan dibandingkan dengan MiG-21, F-4E Phantom-II, dan Mirage-III yang bertehnologi tahun 1960-an.

Untuk pertempuran jarak dekat, ketiga Eurocanards memakai tipe revolver cannon dibandingkan M61A2 gatling gun yang biasa dipakai di F-15 dan F-16. Gripen dan Typhoon membawa BK-27 Mauser (kaliber 27 mm), sedangkan Rafale membawa GIAT30 (kaliber 30 mm). Jika diperbandingkan, kedua jenis revolver cannon ini hanya membawa lebih sedikit jumlah peluru dibandingkan M61A2, tapi setiap peluru BK-27 dan GIAT30 mempunyai daya pukul yang jauh lebih kuat.

Air-to-Ground

Rafale paling unggul disini dengan payload yang lebih besar dibanding kedua tipe lain. Tipe ini ekslusif yang memakai Exocet anti-ship missile yang sudah terbukti di Falkland, dan perang Iran-Iraq. Rafale juga dapat membawa MBDA Storm Shadow / SCALP-EP stealth cruise missile jarak jauh.

Typhoon kemampuan air-to-ground-nya dinilai lebih terbatas dibanding Rafale (ini salah satu alasan kenapa Typhoon kalah dalam kontes di Singapore), dikarenakan update-nya agak terlambat (prioritas pembuatan Typhoon adalah pesawat tempur air-to-air). Versi Inggris, yang juga sama bisa membawa MBDA Storm Shadow, dan Brimstone (sebanding dengan, tapi lebih baik dari AGM-65 Maverick). Untuk anti-ship missile, tidak seperti yang lain, Typhoon masih mengandalkan AGM-84 Harpoon buatan US.

Payload Gripen lebih kecil dibanding kedua tipe lain, tapi tipe ini memiliki keunggulan flexibilitas untuk integrasi senjata, yang menjadikannya tipe favorit banyak pembuat senjata dalam development senjata baru. Saat ini, Gripen sudah mengintegrasi KEPD 500 Taurus stealth cruise missile, dan RBS.15 – anti-ship / air-to-surface missile buatan Swedia; dibuat untuk menandingi kemampuan Harpoon missile (US) dan Exocet (Perancis). Missile jenis lain, seperti Brimstone atau Storm Shadow, tentu saja dapat di tambahkan ke Gripen, tergantung kebutuhan negara pembeli.

Harga per unit dan Biaya Operasional

Eurofighter Typhoon adalah yang paling mahal dalam kedua aspek ini. Harga per unit, termasuk development cost, mencapai €125 juta, dgn biaya operasional US$18,000 / jam. Dalam semua kompetisi pesawat tempur, Typhoon selalu dianggap sebagai pilihan termahal.

Rafale tidak berbeda jauh. Harga per unit juga diatas $100 juta, dan biaya operasional $16,000.

Gripen-E harga per unit belum di-publikasikan, tapi mungkin di antara rentangan harga $50 juta – $60 juta. Biaya operasional untuk Gripen-C/D adalah $4,700 – tapi SAAB meng-klaim kalau Gripen-E/F biaya operasionalnya akan lebih murah lagi.

Klaim SAAB mungkin bisa dijelaskan dari perbedaan radar, dan mesin. Tipe PS-05/A Pulse-doppler di Gripen-C/D lebih maintenance heavy dibanding Selex Raven ES-05 AESA di versi-E/F. Mesin F414G juga sengaja dipilih untuk menurunkan biaya perawatan, dibandingkan RM12 di versi C/D.

Catatan:

Harga per unit: Harga di atas hanyalah estimasi patokan kasar. Tergantung perjanjian transaksi (pembelian dalam jumlah yang lebih banyak biasanya lebih murah), pembeli bisa mendapat harga yang lebih mahal, atau lebih murah dibandingkan harga di atas. Nilai kontrak yang sudah ditandatangani juga tidak bisa dijadikan representasi untuk harga per unit masing-masing pesawat, karena setiap kontrak biasanya juga mencakup perlengkapan infrastruktur yang harus dibeli, spare part, training, support equipment, dan tentu saja biaya initial training.

Biaya operasional: Biaya operasional disini adalah angka indicative Basic CPFH (Cost per Flight Hour) yang dihitung IHS Jane’s. Apa yang dihitung adalah: BBM, consumables (oil, service parts), biaya lapangan untuk operation & maintenance, dan perkiraan jumlah jam kerja maintenance yang dibutuhkan.

Sebagai perbandingan, beberapa negara biasanya memakai angka “comprehensive CPFH” yang menambahkan perhitungan untuk biaya “sistem improvements” (upgrade), capital charge, angka depresiasi (pengurangan nilai) dari harga beli baru pesawat, dan amortization cost.

Ini menjelaskan kenapa F-16C dalam angka IHS Jane’s mempunyai biaya operasional $7,700 / jam; sedangkan dalam majalah Time, USAF melaporkan biaya operasional yang $22,514.

Kedua angka di atas sama-sama benar. Perhitungan IHS Jane’s tentu saja lebih mengacu ke real cost operational, dibandingkan perhitungan ala USAF.

Hasil latihan Air-to-Air / Combat Record Eurocanards

Perang Iran – Iraq adalah konflik besar terakhir dimana kemampuan udara kedua belah pihak hampir berimbang. Dengan berakhirnya konflik ini di tahun 1988, semua pesawat tempur dewasa ini relatif tidak mempunyai combat record yang berarti dalam pertempuran Air-to-Air. Inilah kenapa, latihan-latihan udara Internasional biasanya menjadi patokan, bukan hanya untuk mencoba kemampuan pesawat, tapi juga strategi, dan latihan pilot.

Semua hasil pengalaman yang dikumpulkan Eurocanards disini adalah dari batch sebelumnya untuk ketiga model. Typhoon, yang dipakai dalam training dibawah adalah dari Tranche-2 (bukan versi terakhir Tranche-3B); Dassault Rafale dari versi F2 standard (versi terakhir: F3R Standard); dan untuk Gripen adalah versi –C (versi terakhir: E/F (NG)). Jadi dari segi kemampuan, ketiga Eurocanards versi sekarang sudah maju beberapa langkah dibandingkan pengalaman di bawah.

Typhoon dinilai lebih unggul dibanding kedua tipe Eurocanards yang lain, terutama karena reputasi mereka dalam bermacam latihan NATO. Blog resmi Eurofighter meng-klaim kalau dua Typhoon berhasil menembak jatuh delapan (8) F-15 dalam latihanTyphoon juga salah satu yang cukup sukses dalam pertandingan tempur di Red Flag melawan F-22 (lihat gambar).

 Luftwaffe Typhoon dengan 3 “kill marking” F-22 di bawah cockpit. Gambar dari: The Aviationist. Credits by:Dietmar Fenners

Luftwaffe Typhoon dengan 3 “kill marking” F-22 di bawah cockpit. Gambar dari: The Aviationist. Credits by:Dietmar Fenners

Dari segi kemampuan close combat, walaupun Rafale tidak mempunyai offbore-sight WVR missile seperti yang lain, tipe ini juga menikmati cukup kesuksesan, untuk melawan F-22 – pesawat tempur yang dianggap paling tangguh di dunia. Rafale berhasil menancapkan “simulasi MICA-IR” ke F-22, seperti di lihat dalam video ini.

Combat record Rafale untuk Air-to-surface di atas Libya dan Afganistan juga cukup menarik, mungkin mengungguli Typhoon. Berbeda dengan US, yang selalu mendahului serangan dengan “radar-jammer” seperti EA-18G, atau puluhan BGM-109 Tomahawk cruise missile, Rafale dapat langsung terbang di atas Libya, dengan mengandalkan perlindungan dari Thales SPECTRA EW defense suite. Perancis juga melaporkan kalau 2 Rafale saja, dapat melakukan tugas yang biasanya harus diemban 2 Mirage-2000-5, dan 6 Mirage-2000D. Availability rate untuk Rafale di Libya juga dilaporkan “mendekati 100%”.

AU Hungaria melaporkan performa Gripen-C dalam latihan NATO melebihi ekspetasi. Gripen dapat melihat semua pesawat NATO lain (di radar), dilain pihak lebih sukar untuk di-deteksi, atau dilihat dalam pertempuran jarak dekat. Gripen-C Hungaria juga mengejutkan negara-negara NATO lain, karena tidak dapat di-”jamming”, seperti pesawat lain.

Dalam latihan NATO ini, Gripen Hungaria berada dalam pihak ”Red Force”; pihak yang seharusnya kalah. Mereka tidak mendapat dukungan pesawat AWACS atau radar lain, tidak memakai data-link, dan tidak dapat melakukan simulasi AMRAAM. Meski begitu, dalam satu latihan, Gripen-C tetap berhasil “menembak jatuh” 8 – 10 pesawat NATO, termasuk 1 Typhoon. Dalam pertempuran jarak dekat melawan F-16 MLU, Gripen-C juga dengan terlalu mudah “menghabisi” F-16.

Kesimpulan

Ketiga Eurocanard saat ini boleh dibilang harus menjadi tolok ukur semua pesawat tempur G4,5 modern dewasa ini. Ketiganya sudah terbukti “mengigit” dalam mengadu manuever, karena mengkombinasikan aspect yang terbaik dari F-16, dan F-18.

Untuk negara yang mengutamakan Air Superiority, dan dapat membayar harganya, Typhoon adalah pilihan terbaik. Dengan perpaduan CAPTOR-E AESA radar, dan Meteor BVRAAM – Keduanya yang akan segera memasuki status operasional, Typhoon justru akan lebih menakutkan lagi dalam latihan Red Flag. Boleh dibilang, saat ini, Typhoon adalah pesawat yang paling mengancam “mahkota” F-22A sebagai pesawat tempur terbaik di dunia.

Kelemahan utama Typhoon adalah belum tersedianya AESA radar; sampai upgrade ke CAPTOR-E selesai. Proses upgrade ini akan berjalan cukup lama, dan belum tentu semua Typhoon akan mendapat AESA karena masalah biaya. Untuk Air-to-Ground, Typhoon juga belum diperlengkapi Anti-shipping missile buatan Eropa.

Rafale adalah tipe yang paling unggul di dalam Air-to-Ground. Kemampuan Thales SPECTRA EW suite-nya juga sudah terbukti. Permasalahan utama Rafale adalah senjata-senjata yang eksklusif kebanyakan buatan Perancis, walaupun bebas dari pengaruh US, integrasi senjata lain diluar yang sudah disetujui Perancis sangat sulit. Tidak adanya HMD juga memberi kelemahan dalam pertempuran WVR jarak dekat. Dan dalam penggunaan Meteor BVRAAM, Rafale juga performa-nya dinilai lebih rendah dibanding yang lain karena hanya mempunyai 1-way datalink.

Dassault Rafale tentu saja juga satu-satunya tipe Eurocanards yang dapat beroperasi dari kapal induk. Tapi kemampuan ini kurang relevan dalam konteks Indonesia.

Gripen-E adalah satu-satunya Eurocanard bermesin tunggal, performa air-to-ground (dan daya angkut) juga masih dibawah kedua tipe yang lain. Sama seperti Rafale, Gripen sudah memiliki portfolio senjata Eropa – non-Amerika, termasuk RBS-15 anti-ship missile, yang lebih penting untuk negara maritim seperti Indonesia. Keunggulannya, tidak seperti Rafale, Gripen memberikan lebih banyak kebebasan untuk mengintegrasikan senjata manapun (terserah pembeli), tanpa perlu persetujuan atau campur tangan SAAB.

Tidak seperti Rafale, dan Typhoon yang hanya dapat memakai Link-16 (ini masih dalam pengaruh FMS US) untuk aerial network, Gripen juga memilih sistem TIDLS untuk koordinasi antar pesawat dalam Gripen-formation. Gripen juga sudah didesain untuk information sharing melalui sistem Link-16 NATO, atau pilihan network sendiri seperti STRiC Swedia, dan sistem SIVAM di Brazil.

Gripen-E akan menjadi satu-satunya yang sudah diperlengkapi HMD dan AESA; sedangkan kedua Eurocanard yang lain, saat ini hanya punya satu, tapi belum diperlengkapi dengan yang lain. Tentu saja biaya per unit dan biaya operasional per jam juga paling murah, karena pesawat ini lebih ringan, dan bermesin tunggal.

Gripen (versi C) belum mengumpulkan banyak combat training record seperti Eurocanard yang lain. Kelemahan utamanya, tentu saja belum pernah “menjajal” F-22 seperti kedua Eurocanards yang lain. Tapi ini bukan berarti, dalam training air-to-air NATO, tipe ini bisa diremehkan.

Larger size doesn’t mean it’s better. Pengalaman Hungaria menunjukkan ukuran Gripen-C yang kecil, justru menjadi keunggulan dalam latihan NATO; sukar dilihat di radar, ataupun dari pandangan mata.

Oleh: Gripen-Indonesia

Daftar Link artikel di atas:

Selex Raven ES-05, RBE2, senilai $1 milyar, CAPTOR-E AESA , Ausairpower, Foto: The Aviationist (Su-27 di atas Baltic), Lihat gambar F-15C ini, MBDA Meteor, Department of Operational Test & Evaluation-2012 (laporan F-35),  revolver cannon, gatling gun,  Biaya operasional , capital charge, amortization cost, majalah Time, dua Typhoon berhasil menembak jatuh delapan (8) F-15 dalam latihan, video ini (Rafale mengalahkan F-22),   Thales SPECTRA, AU Hungaria (performa Gripen di latihan NATO).

  265 Responses to “Perbandingan Ketiga Eurocanards – Typhoon, Rafale, dan Gripen-NG”

  1.  

    bung gripen 30 thn itu lama bisa aja diperjalanan nanti SU 35 berevolusi…gak ada yg gak mungkin..

  2.  

    ketahuilah saudara, negara yang memiliki militer lemah mudah ditekan oleh negara yang memiliki militer besar dan modern, korupsi adalah soal lain silahkan diselesaikan secara hukum, militer adalah soal tersendiri yang juga memerlukan perhatian tersendiri,namun secara prinsip para pemerhati militer setuju bahwa korupsi menyebabkan pelemahan anggaran negara termasuk anggaran untuk militer oleh karena itu harus segera diberantas.

  3.  

    gripen cocoknya buat latihan tembak Rhan

  4.  

    …Tidak seperti Rafale, dan Typhoon yang hanya dapat memakai Link-16 (ini masih dalam pengaruh FMS US) untuk aerial network…

    hehe

    Tidak seperti Rafale,

    koma dibelakang rafale penting, artinya “hanya dapat memakai Link-16” berlaku untuk typhoon, tidak untuk rafale.

    rafale masih dapat menggunakan tactical data link buatan thales,

    Thales has developed a complete range of Tactical Data Link (TDL) solutions. On board the Rafale, these solutions offer a secure source of tactical data, including situation awareness, command & control, electronic warfare, orders and reports, flight pass and fighter-to-fighter information.
    (brosur thales)

    •  

      idealnya memang rafale bung, hanya saja seperti rusia harus beli banyak seperti india jika ingin tot super luas.

    •  

      + HMD untuk rafale adalah topsight dari thales,

      TopSight is a helmet-mounted sight/display system developed by Thales Group for the French Air Force Rafale next generation multi-role aircraft. It was designed to provide Rafale’s pilots with situational awareness and flight information as well as automatic target designation, tracking and acquisition. The TopSight helmet-mounted display system is coupled to the IR sensor mounted at the frontal section of Rafale’s fuselage.

      http://defenceforumindia.com/forum/indian-air-force/26441-laymans-analysis-our-last-two-mmrca-contenders.html

    •  

      Dan tiba-tiba yang dipilih akhirnya adalah F-16 Block 60 karena tawaran dari Amerika kemaren lewat David B. Shear yang barusan berkunjung. Tekanan politik tidak bisa diabaikan. Mungkin Amerika mau kasih offset 30% komponen dikerjakan di Indonesia. Dan semua diam, gak ada lagi diskusi-diskusi embargo, justru bangga karena kita dikasih F-16 lebih bagus dari Singapore.
      Heuheuheuheu…. Liat tuh Apache, mana ada yg bilang embargo. Malah bangga, padahal buat apa ya beli helikopter mahal-mahal.

  5.  

    Klo soal psawat tempur yg pling bagus untuk Indonesia tentunya SU35.,mau beli 1 skuadron atau cuma separuh ga pa” yg pnting lengkap dg prsenjataannya.,tp klo mengejar TOT dan kmandirian Gripen pilihan yg sesuai., jg sbg antisipasi klo kfx/ifx tak brjlan spt rencna.,Slam NKRI.,

  6.  

    @Bung Jalo, bisa dijelaskan mengenai sukhoi kita yang sekarat di Maros?

    terimakasih

    •  

      Hehehehehe, sudah saya tulis diatas…
      Nih pesawat bagus dan kereen, tahun 2010 sudah minta pensiun dini, terbukti hawk yg mini itu masih battle proven.
      Saya kurang tahu detail kerusakannya, tapi yah katanya bermasalah seperti yg saya tulis di atas.

      •  

        Maksudmya SU2701, 2702, 3001, 3002 ya bung? 2010 sudah pensiun??

        kalau gitu saya vote Gripen saja. masa baru 6 thn sudah pensiun. berarti sampah dong.

      •  

        Kemungkinan besar memang karena masalah spare part, keempat Sukhoi pertama itu sudah dikanibalisasi utk menghidupi Sukhoi2 yang lebih baru.

        Masalahnya, kalau minta kirim spare part dari Russia, bukan hari ini telepon, besok udah dianter.

        Spare part mereka sering nggak ada stock.

        India sudah bukan main jengkelnya karena urusan spare part ini.

        http://aviationweek.com/awin/india-upset-russian-military-parts-supply

        When it comes to Russian aerospace products, conventional wisdom is: The equipment is good, the after-market is awful.

        Ask the Indian air force (IAF) and its officials would emphatically agree. Sourcing of spares and consumables for its Russian-built aircraft and weapon systems has sunk to a new low for the? IAF, with the government permitting it to issue multiple global tenders for spares across a range of systems. The move marks a striking break from the Indian defense ministry’s traditional practice of contracting spares from original equipment manufacturers via Rosoboronexport.

        Now the IAF is turning to vendors in Europe, Israel and the U.S. to respond to an urgent spares call for Russian-built equipment it has in inventory.

        There are more than 25 tenders on the street, with more floated each day. The service needs everything from terminals and transformers for its MiG-29 fighters to main wheels for its Su-30 fleet. It also needs multiple spares for its Il-76/-78 transport fleet, Mi-26 and Mi-17 helicopters and virtually all Russian-built ground radars, including its P-19 Danubes.

        Kalau masih takut embargo Amerika, masa tidak takut embargo spare part dari Russia? ?
        😀

        •  

          Setuju , kalau pesen spare part kaga datang datang apa bedanya dengan embargo?

          •  

            Jelas beda bung, kalo yang embargo, waktu ditanya sparepart si penjual pasang muka angkuh (tranlate: sapa luh),

            tapi kalo sparepart gak dateng karena stok, si penjual pasang muka nyengir kuda ato ngenes (translate: sorry bro) :mrgreen:

        •  

          SBY saja terpaksa minta bantuan (ngemis) China dan India, untuk spare part (KW) alternatif selain Rusia.

          Memalukan, Gara-gara Sukhoi harga diri bangsa di injak injak

          Jauh beda dengan Gripen atau Typhoon, mereka yang mengemis ke kita, malah ditawarin ToT lagi

          •  

            gara2 f-16 kena embargo kita ompong tidak ada deteren dan akhirnya terpaksa ikut ke mahkamah internasional dan kalah. kalau kita sekuat rusia/china tinggal gun boat diplomacy saja. seperti kasus lcs di mana china tetap ngotot bila perlu akan disamperin liaoning dan flying shark.

          •  

            Sekarang khan tidak bung

            Semua F-16 sekarang semua sudah terbang mulus

            malah sekarang Sukhoi yang Grounded (Su-27SK/Su-30MK) yang lainnya menyusul, karena umur dan sulitnya suku-cadang.

            ngak perlu Embargo Sukhoi sudah Rontok

        •  

          \Bukan [email protected] Kalo masalah ada pada airframe, itu artinyapesawat digeber melebihi batas gravitinya. Saya tidak tau apa tipe sukho pertama ada Thrust vectoring nya. Secara teoritis, engine punya limiting factor pada berapa G, dia bisa bermanuver. Kalau manuver melebihi nilai batas G nya, airframe akan berkurang. Artinya usia pakai akan tereduksi lebih cepat. Selain itu, engine nya apakah secara konstan memberikan daya dorong untuk menahan beban pesawat nya sendiri (Weight). Jika engine performa menurun, maka airframe juga bakal turun. Jika airframe udah berkurang, sebenarnya bisa dikatakan pesawat tempur itu berbahaya untuk dipakai, bisa tiba-tiba hancur berantakan.

          •  

            kalau saya melihatnya ke MUTU Metal dan disain, mungkin untuk mengurangi harga jual, biar murah

          •  

            nih yang suka melakukan black campaign. mesin rusia untuk pertahanan banyak diexpor ke amerika dan eropa karena kualitas superior dan harga murah. coba bayangkan pesawat sebagus su-35 dikisaran harga usd 80~90m. jika dianalogikan setara ninja 250 kok dibandingkan dengan pesawat seharga usd 150m yang dianalogikan setara bebek. over price lah…

          •  

            @Phoenix15,

            Setahu sy, pesawat buatan Barat sudah menjadi patokan dalam hal tahan lama.

            Tentu saja penggunaan pesawat untuk manuever berat (9G) akan mengurangi usia pesawat, tapi untuk pesawat Barat, ini bukan tidak dapat ditanggulangi.

            USAF masih berencana bahkan untuk memakai F-15 sampai tahun 2040.

            http://www.warisboring.com/2011/04/28/combat-aircraft-revamped-f-15s-to-counter-chinese-stealth-fighters/

            Artikel di atas diambil dari majalah Combat Aircraft, sekitar tahun 2010? Sy pernah membaca copy-nya.

          •  

            sepertinya sebelum airframe mengalami kerusakan akibat manuver dengan g-force sangat tinggi, pilot udah black out duluan…

          •  

            @SS:
            Makanya kita pengen tau sebenarnya kualitas export sama yang dipakai sendiri seperti apa ? Jika material titanium, dan komposit nya juga berbeda bisa dipastikan airframe life time juga beda. Bukan rahasia, jika Russia suka mengurangi kualitas ekspor tidak lebih baik, tapi seberapa persen penurunannya ?
            @Alugoro
            Anda tidak perlu berprasangka buruk jika kita sedang membicarakan kelemahan Sukhoi. Untuk versi SU-27 dan 30, engine nya hanya mampu memberikan service life 1500 Flight hour, atau 10 tahun. Perawatan engine juga sangat komplek, makanya performa nya bagaimana setelah 5 tahun, 7 tahun, itu. Kita sedang mencari tau kenapa bisa Air-frame yang bermasalah ?
            @GI
            Tidak diragukan untuk deltacanard punya kemampuan G-force yang tinggi. Patokannya ada pada T/W, dengan minimum nilai nya 1 untuk pesawat modern. Semakin tinggi tentu semakin baik. Dengan tingkat manuver yang ditawarkan oleh Sukhoi, harus nya udah dihitung pada level berapa G airframe tidak terpengaruh. Saya cukup terkejut masalah Sukhoi kita pada air-frame. Mungkin berkaitan dengan performa engine ?
            @Danu
            Supermanouverability memang ada ongkos yang dibayarkan. Apalagi jika pada kecepatan rendah, kemampuan pilot, dan ketahanan fisik sangat menentukan.

          •  

            saya tidak berprasangka buruk kok bung Phoenix. rusia adalah exportir rocket kelas wahid. mengapa demikian karena bisa membuat rocket dengan biaya lebih murah dan memenuhi standar nato. sekarang nato cs menghentikan import mereka untuk menekan rusia. tetapi akibatnya ongkos produksi mereka meningkat drastis. mungkin ini ada berita buat pertimbangan.

            Russian firm seals $1 billion deal to supply US rocket engines
            JANUARY 16, 2015 / ENGINEERINGRUSSIA

            A Russian manufacturer on Friday announced a $1 billion deal to supply engines for the US Antares rockets making deliveries to the International Space Station.

            Russian producer Energia said in a statement that it had signed the bumper deal to build 60 engines with private US firm Orbital Science, which has a $1.9 billion contract with NASA to supply the space station.

            Deliveries of the new RD-181 engines would start in June, the statement said.

            The agreement comes after an Orbital Science rocket suffered a catastrophic engine failure in October, forcing an end to its supply missions until further notice.

        •  

          menurut saya logic-nya udah sangat jelas, pinjam prinsip investasi, jangan taruh seluruh telur dalam 1 keranjang (atau 2, klo jatuh ruginya masih 50%), minimal 3 (down 1, sisa 67%).

          1. sukhoi karena takut embargo Amerika
          2 f-16 karena masalah spare part dari Rusia
          3. rafale – bebas dari 2 problem di atas

          catatan: gripen dan typhoon gak mungkin mengisi slot 3 karena ancaman embargo UK sementara 3 tetangga kita sekutu UK dalam FPDA.

          piece of cake…

          •  

            sip2 setuju.

          •  

            Numpang like bang danu
            Udah lama gak liat komen yang bermutu
            sepertinya forum udah mulai dingin dari kabar hoax dan forum lagi di goyang dari SU 35 ke typhoon terus ke rafale .f16 dan akhirnya grippen. klo nama2 tetua udah keluar asik bacanya

            salam dari SR

          •  

            Jangan lupa Bung Danu…Perancis pernah menahan Mirage 5 dan MTB pesanan Israel walau sdh di bayar lunas karen takut hub rusak dengan wan abud….tdk ada yg bebas embargo selama bukan buatan sendiri…

            Pilihan ke 4 jd antek AS seperti Spork…dijamin aman dah…

          •  

            salam bung C.A.K

            bung wehrmacht,

            di sisi lain sejarah yang lebih baru mencatat, perancis cuek bebek ketika tetangganya yang godmother FPDA dihantam argentina dengan exocet dan super etendard dalam perang malvinas.

            berdasarkan pengalaman DOM aceh dan malvinas, tetap
            perancis pertaruhan terbaik / best bet di luar rusia…

            tentu saja buatan sendiri terbaik, tapi itu maraton sangat panjang, ifx hanya langkah pertama, semoga generasi2 pimpinan nasional berikut kompak dalam komitmen untuk mempertinggi kandungan lokalnya.

            sekarang aja udah digoyang kok, keluar dari kfx dsb…

          •  

            Bung danu…sejarah terbaru itu jg mencatat Argentina baru menerima 5 pesawat Maritim Super Ettendard dan 5 Exocet dari satu skadron dan 36 Exocet yg dipesan…sisanya ditahan perancis karena solidaritas dgn Inggris…itulah kenapa Argentina cm menyerang Carrier Inggris Invicible cm dengan satu Exocet diluar standar yg harusnya 2 karena cm tersisa satu setelah 4 Exocet sudah dipake buat nenggelemin Destroyer Sheffield dan Transport Atlantic Conveyor (masing masing nerima 2 tembakan Exocet sesuai standar)….itulah kenapa Invicible gak tenggelam gara gara ulah perancis yg mengembargo Argentina…soal AMX jelas perancis gak keberatan…udah jadul…out of date menurut standar barat…beda dgn stormer/scorpion yg lebih baru dan masih masuk arsenal aktif AD Inggris…

          •  

            bung wehrmacht,

            menurut BBC, memang hanya 5 unit exocet yang dijual perancis,

            How France helped both sides in the Falklands War.
            Before the war, France sold Argentina’s military junta five Exocet missiles…
            (Mike Thomson, BBC Radio 4, 5 March 2012)

            tapi yang lebih penting,

            BBC finds evidence that French helped Argentines sink our ships.
            French technicians helped prepare Exocet missiles.
            SACRE BLEU! According to a documentary broadcast on BBC Radio 4 last night, the French cheated on us during the Falklands War by helping the Argies while they were pretending to help us.
            http://www.theweek.co.uk/world-news/falkland-islands/45704/bbc-finds-evidence-french-helped-argentines-sink-our-ships

            ralat: memang ada embargo ‘formalitas’ oleh mitterand selama 4 bulan, sementara teknisi perancis tetap berada di argentina, membantu penyiapan exocet.

            larangan penggunaan tidak peduli apakah alutsista ybs out of date menurut standar barat, f-16 block 15 ex 1980an akhir, kapal2 ex jertim semuanya out of date pada 2003,, sementara scorpion dan hawk adalah senjata kacangan (menurut ukuran mereka)…

          •  

            hehe, belum 2 bulan udah terbukti analisa di atas,

            1. sukhoi karena takut embargo Amerika
            2. f-16 karena masalah spare part dari Rusia
            3. rafale – bebas dari 2 problem di atas

            catatan: gripen dan typhoon gak mungkin mengisi slot 3 karena ancaman embargo UK…

            ternyata alasan embargo gak hanya kepentingan UK dan sekutunya, tapi juga masalah HAM, artinya lebih ribet lagi…
            http://jakartagreater.com/gara-gara-ham-swedia-hentikan-kerjasama-pertahanan/

            walau rafale lebih mahal, resiko embargonya paling kecil, masih wajar jika harganya premium, daripada lebih murah terus lumpuh karena embargo ?

  7.  

    Waduh ….sbg gripen odong2 sy gk bs jawab ini pak.
    tapikan ….tapi …..tapiiii ….tapiiiiiiiiiiiiii tanpa battle proven pun gripen bagus pak.

    •  

      kalau mau battle proven ya harus beli pesawat yang sudah jadi dan dipakai buat nyerang negara lain. contohnya produk amerika f-16, f-18 dan f-15. jika produk baru ya belum ada yang battle proven contohnya f-35. mungkin supaya dapat cap battle proven amerika akan menggunakannya lawan negara lemah dulu. karena tidak mungkin menyerang rusia atau china secara langsung.

  8.  

    Kalo indo beli gripen fungsinya untuk apa???
    Untuk melindungi wilayah indo???
    Lawan su-27-30 aja udah kalah
    Apalagi lawan F-35 milik singa/ausie

    •  

      Gimana Lwn ausie dan si singa kalau Sukhoi hanya bisa pakai 6 thn??

      Itu 2701, 2702, 3001 , 3002 thn 2010 sudah pensiun bung. alias belum battle sudah rontok.

      Terus terang Tadinya saya 50:50 tapi kalau seandainya benar baru 6 thn sudah pensiun . Jelas berubah 90:10 saya pilih gripen atau typhoon.

      •  

        perhitungan pesawat berdasarkan jam terbangnya bukan berdasarkan kalender. jika tiap hari digunakan otomatis akan cepat menyentuh usia maksimum pemakaian. apakah itu f-16 ataupun su-30. karena perbedaan filosofi desain berbeda maka berbeda juga maintenancenya. contoh sekarang barang elektronika menggunakan metode sukhoi. rusak salah satu bloknya langsung diganti baru blok tersebut dan jarang yang mau otak-atik per komponennya. contoh komputer, mesin cuci dsb.

        •  

          Gripen bisa dipakai berhari-hari, AWET

          Su-27SKM dan Su-30MK2
          Airframe maksimum 25 Tahun, Rata rata Hanya 15 Tahun
          Mesin AL-31F rontok hanya 1500 jam, rata-rata hanya 1.000 jam

          malaysia malah pensiunkan MIG yang masih berumur 15 tahun

          F-16 Block 52+ TNI dan (Gripen Juga)
          Bekas tahun 1985-87, masih bisa dipakai sampai 2040, 50 tahun lebih.
          Mesin GE dan PW rata-rata 7.000 jam, masih bisa diupgrade lebih panjang lagi

          Bumi langit bedanya

      •  

        dan saya yakin seyakin yakinnya jika gripen/f-16 digunakan buat patroli keliling indonesia dengan jam terbang yang tinggi juga apalagi ditambah tidak ada dana yang dialokasikan untuk maintenance pasti akan menemui fakta yang sama dengan sukhoi. ataukah mungkin bisa lebih buruk ? hanya tuhan yang tahu.

        •  

          Hanya tuhan yang tahu, amiiiiin, priest ?

        •  

          Ini jelas tidak bisa diperbandingkan.
          Sudah menjadi rahasia umum, pesawat tempur buatan Barat, lebih tahan lama dibandingkan buatan Russia.

          Gripen sendiri masih cukup baru — jadi belum banyak unit yang mengumpulkan jam terbang gila2an.

          Tapi service life untuk Gripen dan F-16 sudah direncanakan dari semula untuk mencapai 8,000 jam terbang. Dan ini tidak akan berakhir disana.

          Banyak F-16 yang sudah terbang sejak tahun 1980-an (terutama milik NATO dan USAF), justru memberikan contoh yang baik:

          http://www.dodbuzz.com/2014/08/20/f-16-grounding-highlights-need-for-upgrades/

          ““As aircraft accumulate flight hours, cracks develop due to fatigue from sustained operations,” Lt. Col. Steve Grotjohn, deputy chief of the program office’s Weapon System Division, said in a statement. “Fortunately, we have a robust maintenance, inspection and structural integrity program to discover and repair deficiencies as they occur.”

          The F-16 has been undergoing durability testing at Naval Air Station Fort Worth, Texas, where many of the planes are based, to determine what modifications are needed to increase the aircraft’s service life from 8,000 flying hours to as many as 12,000 flying hours.

          Jadi US masih terus bekerja dengan airframe2 F-16 yang sudah tua, dan terus mencoba memperpanjang usianya, dan melebihi desain awal maksimum yang hanya 8,000 jam terbang.

          Inilah sebabnya pasar F-16 bekas masih cukup laku.
          Kalau mereka terus di-upgrade, masih bisa tahan terbang 20 tahun lagi.

          Yordania dan Chile akhir2 ini masih memborong F-16 MLU ex-negara2 NATO.

          F-16 Block-52ID sebenarnya adalah produksi Block-25 tahun 1985 — tapi karena baru saja menjalani SLEP (Structural Life Extension Program), masih akan bisa terbang terus sampai tahun 2034 – 2035.

          Sebaliknya, kita justru harus mempertanyakan:
          Su-35 di-desain hanya untuk 6,000 jam terbang (lebih sedikit dibanding F-16 & Gripen — 8,000 jam), dan 30 tahun (F-16 dari tahun 1980-an, sudah 30-tahunan masih bisa terbang sekarang).

          Apakah benar Su-35 dapat tahan 6,000 jam, atau jangan-jangan 4,000 jam saja sudah bakal rontok semua?

          •  

            untuk konsep modularity memang nato lebih bagus kok. karena ini barang mahal. dan pada saat desain usia komponen juga beraneka ragam. nah karena beraneka ragam usianya maka dibuatlah desain untuk perggantian komponen secara parsial. jika suatu desain dibuat dengan usia pakai yang sama pada saat sudah mencapai umurnya otomatis beli baru dan ganti saja. karena kalau diganti secara parsial jatuhnya mahal karena jika secara hitungan selisih umurnya kecil. vendor besar seperti samsung dan untuk produk consumer electronics mereka tidak menerapkan servise center yang rumit. jika trouble shooting yang kena ic micon otomatis costumer diganti baru.

          •  

            klo soal tua sih, mig-21 india hasil akuisisi sejak 1964 akan digeber hingga 2019…

          •  

            Kanibal, itu kuncinya

            India punya Ratusan, dan Industri dirgantaranya sangat maju, mereka bisa merakit sendiri Su-30MKI

            Kita hanya punya 16 Sukhoi, yang dikanibal apanya ?
            Belinya di CICIL lagi

          •  

            hehe, berarti tahan lama juga, asal ada sucadnya (=dukungan industri dirgantara)…

          •  

            akhirnya balik lagi TPM (total preventif maintenance) nya jalan tidak dan selanjutnya anggaran ada tidak untuk maintenance sesuai tpm.

          •  

            Betul, semuanya bisa berjalan kalau kita mandiri dengan jalan ToT biar cepet.

            Sekarang yang mau ToT 100% hanya Gripen dengan pembelian sedikit

            Kalau Sukhoi saya kira tidak mau (paling hanya service mandiri doang), karena mereka sangat amat pelit

      •  

        Terlalu ngaco klo ada yg blg su pembelian pertama pensiun.jgn menyebarkan berita yg ga jelas. Klo bs d tampilin fotonya masih utuh & terawat berani LAMBURg??????.

  9.  

    wah.. berarti klaim dari komen Mbah Bowo ada benarnya juga dong bung pedro baretta..?? memang sampai saat ini ilustrasi nine dash line masih tetap di tampilkan oleh pihak china di wilayah LCS dan belum dicabut walaupun sudah banyak mendapatkan kecaman dan tekanan dari sebagian negara anggota Asean. dan garis garis itu juga memotong wilayah ZEE laut kita di Kep. Natuna. kalo tidak diantisipasi secepatnya kita bisa kecolongan lagi seperti sipandan dan ligitan..
    dan kalo melihat pengadaan heli serang Apache dari US ( dan pengadaan apache sudah ditampilkan di artikel hari ini ) untuk ditempatkan di natuna mungkin juga sebagai bentuk antisipasi merembesnya konflik LCS dengan strategi alutsista dari blok T diahadpi dengan Alutsista blok B.. bahkan Pak Menhan juga mengajukan tambahan anggaran untuk alutsista., kira kira clue ini arahnya untuk sektor pertahanan mana yaa??
    monggo dibahas bersama sama..

    •  

      Mengapa digambarkan sebagai garis putus-putus? Karena mudah dimodifikasi. Garis yang “putus” bisa (dan pasti akan) ditambahi garis lain yang menjulur keluar. Tiongkok (dengan tentaranya yang barbar) tidak akan “mencuri” secara diam-diam seperti yang dilakukan AS dkk.

  10.  

    monnggo2

    Mau Gripen
    Mau Sukhoi
    Mau Rafale
    Mau Toyphon
    Mau F16
    Mau F 35
    Mau F22 Raptor
    Mau J-15
    Dst…..

    Sek Penteng Gek Ndang dituku
    Nek Meng wacana tok, rasah Dibahas

    Urep Kudu Jelas, Nimpi yo Ngimpi tor gek ndang Tangi, Ados terus Diwujudke

    Kang Jokowi gek dang seng dipil seng endi gek dituku.

  11.  

    Diantara trio Eurodeltas ini dari dulu sampai sekarang saya pilih Rafale saja..

  12.  

    hati hati dengan Gripen ,masalahnya mesinya dari Asu & Masalah Hasan Tiro lagi,,,,kita harus tetap beli SU 35 BM dalam MEF II 2015 – 2019,untuk mengimbangi kawasan Regional & Asia Pasifk,apalgi Ausie ,Sonotan , Upil mau mengakusisi F 35 – F 22,,,,Jangan sampai kita tergiur TOT 100 % ama Gripen,,,,didunia ini tidak ada makan gratis,,,ingat kasus Timor – Timur ,Ligitan – Sigitan.dalam kurun waktu 20 – 30 tahun, masalah dunia terletak dikawasan Asia Pasifik,,,,,ingat Konflik dalam negeri ( Air Asia , KPK – POLRI ,Eksekusi Bandar Narkoba,Freeport ,

  13.  

    nyimakk

  14.  

    Saya pribadi sangat khawatir dan prihatin dengan kabar bahwa Sukhoi kita yang sekarat (kalau berita benar), sungguh kerugian yang luar biasa mengingat umurnya yang masih anak-anak. Apa yang salah?

  15.  

    Bahasa sales wkwkwk piss :V

  16.  

    Mas mas f16 blok 40 di gurun/boneyard masih banyak lho,,,,
    Lumayan kan budget pengganti f5 dpt 2-3ska f16 blok52++.
    Soal battle proven sudah pasti lah,,,emangnya si battle dreamer grape n su.

  17.  

    NGGA ADA YG SALAH JIKA PILIH GRIPEN SAAB UTK MENGGANTI F-5 YG SDH TUA, TOH SELAMA INI TUGAS F-5 JUGA NGGA BERAT2 AMAT, PATROLI AJA…..

    TETAPI UTK EFEK GETAR & MEMBERI PERIMBANGAN KEKUATAN MILITER DI WILAYAH, APALAGI OKTOBER 2014 YG LALU AUSTRALIA SDH MENERIMA 1 UNIT F-35 DARI LOCKHEED MARTIN, MAKA NGGA ADA PILIHAN LAIN UTK MELENGKAPI KELUARGA FLANKER DGN Su-35, APALAGI PABRIK PEMBUATNYA ROSOBORONEXPORT MELALUI DUBES RUSIA DI JAKARTA DENIS MANTUROV SDH SETUJU MEMBAGI ILMUNYA KPD INDONESIA.

    JADI APALAGI, NGGA ADA YG PERLU DIPERDEBATKAN ?….GITU AJA KOK REPOR…

    •  

      Belum ada bukti kalau Su-35 adalah lawan berat F-35, semua masih teori

      Yang sudah praktek, hanya Typhoon dengan melawan F-22, dan dimenangkan (tipis) Typhoon.

      Sedang Gripen C/D berhasil mencundangi Typhoon.

      sedang F-35 adalah versi Downgrade dari F-22.

      Baca Artikel di atas bung

      •  

        NGGA PERLU SAYA BACA ARTIKEL YG BOMBASTIS, SAYA MENGAMATI FLANKER FAMILY SEJAK BU MEGA PERGI KE RUSIA MENEMUI PUTIN THN 2004, SAYA SEPENDAPAT DGN LANGKAH BU MEGA, MEMBELI ALUTSISTA DARI AS & SEKUTUNYA “RAWAN DIEMBARGO”….PERISTIWA PALING MENYAKITKAN ADALAH “INSIDEN DI ATAS LAUT BAWEAN 3 JULI 2003″…

        BUAT KITA BANGSA INDONESIA SDH CUKUP DGN KEPONGAHAN AS & SEKUTUNYA….INGAT !…..KITA MEREBUT PAPUA THN 1962 DARI BELANDA DGN MAYORITAS ALUTSISTA DARI UNI SOVYET (RUSIA SAAT INI), SPT KOMAR CLASS (KRI MATJAN TUTUL), FREGAT-DESTROYER-PENJELAJAH SVERDLOV CLASS (KRI IRIAN) YG PUNYA JULUKAN “MONSTER LAUT” DLL

        SAAT INIPUN KITA MENEGAKAN KEWIBAWAAN WILAYAH UDARA DGN SUKHOI Su-27 & 30 YG MEMPENCUNDANGI F/A-18 SUPER HORNET RAAF, SILAHKAN ANDA BERKOMENTAR TAPI KENYATAAN MENUJUKAN LAIN !…

    •  

      Satu lagi mitos disini…..

      Karena kita sudah punya Su-27/30, ini bukan berarti langkah logis selanjutnya adalah membeli Su-35 untuk “melengkapi keluarga Flanker”.

      Masalah utamanya begini, sekarang ini Sukhoi mempunyai tiga versi Flanker yang berbeda (tidak mempunyai kesamaan kecuali kemiripan bentuk), dan setiap versi tidak dapat di-upgrade ke versi yang lain.

      Ketiga versi Sukhoi:
      ## Su-27SK/SKM dan Su-30MK / MK2 — ini versi yang paling basic, produksi KNAAPO —- hanyalah modernisasi sedikit dari Su-27 bertehnologi tahun 1980-an..

      ## Su-30MKI / MKM / SM — ini adalah keluarga Su-30 dengan front-canard, berbasiskan tehnology-demonstrator Su-35 / Su-37 di pertengahan tahun 1990-an. Diproduksi Irkutsk berbasiskan permintaan India, dan sejak itu sudah dijual ke Malaysia, Algeria, dan akhirnya dibeli Russia sendiri.

      ## Su-35S — tidak ada persamaannya dengan tehnology-demonstrator di tahun 1990-an, tapi model yg sama sekali baru. Produksi KNAAPO. Airframe baru, mesin baru, komputer baru, dan semua sistem baru.

      Ini artinya, kalau Indonesia membeli Su-35S, ini adalah pesawat yang sama sekali baru. Hampir tidak ada persamaan dengan Su-27/30 yang sudah kita miliki.
      Hal ini tentu saja akan memusingkan masalah training, dan maintenance

      Indonesia harus membuat daftar spare-part baru khusus untuk Su-35, dan sudah dibahas disini, masalah spare part dari Russia itu nightmare….

      Biaya operasional untuk Su-35S, tentu saja akan dengan mudah menembus Rp 500 juta / jam karena kesulitan2 ini….
      dan belum tentu pesawat akan selalu siap terbang setelah bbrp bulan (krn belum tentu Russia mau kasih spare-partnya)…

      Masalah lain: Apakah semua sistem di Su-35S yang sama sekali baru akan terjamin bekerja 100%??

      Russia, Sukhoi, dan KNAAPO tidak akan dapat memberikan jaminan.
      Karena tipe ini belum teruji cukup lama di lapangan, dan mengumpulkan cukup banyak jam terbang dibandingkan kedua versi Flanker yang lain.

      Kalau memang Indonesia mau membeli Flanker lagi (dan sebaiknya jangan!), Su-30 SM / MKI akan menjadi pilihan yang lebih terjamin.
      India sudah memproduksi 200 pesawat, Algeria dan Malaysia sekitar 50 pesawat lagi, sedangkan Russia sendiri sudah memesan 75 pesawat.

      (walaupun tipe ini-pun sudah mempunyai segudang masalah.)

  18.  

    Mengungat luas wialyah NKRI & musuh potensialnya maka sebaiknya RI tetap akuisisi min 16 unit SU 35BM sbg efek daya tangkal & penggentar,,mempertimbangkan harga beli, tawaran TOT & utk pengembangan pespur dlm negeri sebaiknya tetap akuisii 32-48 unit JAS Grippen 39 NG dgn devoplemnt maxiumum veri IND mempertimbangkan luas wilayah yg didominasi laut. Lupakan Typhuuaan, F16, hrg mahal, spce di downgrade & rawan embargo

  19.  

    Saya 1 dari sedikit pemirsa disini yang beraliran Rafale. Seperti kata bung Danu diatas, Rafale bebas embargo dan problem sucad. Yang paling penting omnirole-nya itu, untuk misi apapun bisa. Ground attack ayo, air superiority bisa dan maritime strike juga oke sekaligus bisa melindungi armada AL kita. Diadu sama F-15 SE, F-35, F-16 block 52, F-18 E/F SH, atau si Growler yang sudah atau akan dimiliki para tetangga kita juga masih sanggup. Efek deteren juga dapat dibanding beli F-16 block 25 hibah ( walaupun bisa dipakai ngeronda sih ). Yang terakhir harga juga 11-12 sama para pesaingnya karena saya nggak yakin Grippen NG kalaupun dibeli kosongan hanya USD 50-60 juta aja..

  20.  

    ok yang bisa saya simpulkan kira” begini :
    – jika dilihat dari potensi ancamannya adalah pesawat 5th gennya tetangga maka pilihan untuk mengcounternya adalah : SU35 dan upgraded thypoon karena versi ekspornya pakfa masih lama keluar
    – jika dilihat dari cost flight per hour dan maintenance yang sesuai dengan budget kita untuk patroli maka pilihannya adalah : grippen dan f16
    – jika dilihat dari sisi kemandirian industri alutsista + ToT dan ancaman embargo maka pilihannya adalah : thypoon dan grippen ( dengan catatan ToT dengan pembelian dalam jumlah yang sedikit )
    – jika dilihat dari visi maritime strike role maka pilihannya : SU34 dan rafale ( maritime ya bukan ground )

  21.  

    opo iki

  22.  

    kayaknya harga gripen kemurahan tuh, koq antara $50-60 juta, mungkin antara $150-160 juta x, ,

  23.  

    mengapa harus membuat kalo bisa beli? ini watak kita sudah di hafal sama negara2 luar.

  24.  

    Melihat kemampuan gripen sbgai medium fighter,bgus untk jd pespur patroli dn pncegat,untk heavy figter tentunx su 35 tdk dpt d banding2kan dgn gripen,mskipun bru d ats krtas,tetp sja ni adlh pesawt yg plg menakutkan untk AS dn sekutunx.

  25.  

    Ini komentar yang berbobot dan mencerahkan, sepertinya bualan mbah bowo tempo hari bisa jadi warning buat Indonesia lebih wasapada, terimakasih bung.:)

  26.  

    :Mrgreen:

  27.  

    2. Menjadi negara kita baik memang tidak serta merta membuat negara lain jadi baik terhadap negara kita.

    Setidaknya mengurangi perlawanan / ketidaksukaan negara lain terhadap negara kita.

    Menjadi baik saja, negara lain belum tentu baik thdp negara kita, apalagi kalo negara kita jahat / tidak baik kepada negara lain?

    SBY dgn “zero enemy thousand friends” itu saya anggap masih positif. Lebih tepatnya : musuh tak dicari, tapi pantang mundur jika berhadapan.

    3. Saudi Arabia diembargo Jerman karena apa? Soal keamanan, ya?

    Soal ekonomi, tidak bisa juga berdiri sendiri, butuh keamanan.

    Kalau saya menangkap, kondisi2 yang disebut bung phoenix15 itu tidak berdiri sendiri, tetapi tetap bergantung satu sama lain.

    Logikanya, sulit untuk bisa menjual senjata dgn ikhlas kepada potensi menjadi musuh, walau musuh punya duit banyak.

    •  

      2/ sebaik apapun hubungan kita dengan suatu negara, jika negara tsb mempunyai keterikatan khusus untuk membela tetangga2 kita dalam situasi perang (entah melalui akad FPDA, anzus dsb) otomatis mereka akan “lebih baik” kepada para tetangga tsb…

      3/ …sulit untuk bisa menjual senjata dgn ikhlas kepada potensi menjadi musuh, walau musuh punya duit banyak…

      musuh sekutu saya adalah musuh saya, otomatis gak mungkin saya menjual sucad (=embargo) pada negara yang berkonflik dengan sekutu saya, wong saya diwajibkan perjanjian untuk membantu sekutu2 saya tsb…

  28.  

    Tanda mau perang aja belum, Indonesia baru aman2 aja nih, daripada buat prsiapan perang (yg memang Su 35, pilihan terbaik) masih diangan, mending fokus ke Development, disini tawaran barat jadi menggiurkan. PT DI berkembang, pesanan sucad melimpah, berkembang industri sucad dalam negeri. SDM Majuu

    Go Kemandirian !!