Jan 272015
 
Gripen - Rafale (foto: Gempurwira)

Gripen – Rafale (foto: Gempurwira)

Ketiga tipe Eurocanards adalah multirole fighter Generasi terakhir yang sudah operasional. Dibuat untuk menandingi kemampuan F-15 / F-16 / F-18 dari US, dan Su-27/MiG-29 dari Russia, ketiganya mempunyai keunggulan untuk di-desain 10 tahun kemudian, jadi secara tehnis adalah pesawat-pesawat yang jauh lebih baru.

Ketiga Eurocanards menjadi pilihan baik bagi banyak negara yang menginginkan tehnologi modern pesawat tempur Barat, reliability yang terjamin, dan support yang bagus, tapi ingin mengingkari faktor resiko untuk berurusan dengan program FMS pemerintah US, dan “source code” control mereka yang terkenal pelit.

Berikut adalah perbandingan antara ketiga tipe ini.

Radar

Gripen-E/F (Selex Raven ES-05) dan Dassault Rafale (RBE2) sudah memakai AESA radar; sedangkan Typhoon masih memakai radar CAPTOR-M, tipe pulse-doppler 2-channel. CAPTOR-M dianggap sebagai doppler radar dianggap lebih modern dari semua model mechanical doppler yang lain spt APG-68v9 (F-16 Block50+) atau APG-70 (F-15E), tapi tetap tidak bisa menandingi jarak jangkau, dan kemampuan deteksi tipe AESA yang lebih modern.

AESA radar tidak hanya jauh lebih unggul, tapi juga lebih murah (dan lebih mudah) dalam hal perawatan, dibandingkan PESA atau pulse-doppler. Setiap module / element dalam AESA radar beroperasi independent satu sama lain, jadi kalau ada beberapa element yang rusak, tidak akan mempengaruhi performa radar. Hal ini memudahkan maintenance. Radar Pulse-doppler mempunyai MTBF (Mean-Time Between-Failure) / butuh perbaikan setiap 100 jam operasional, jadi secara maintenance lebih mahal dan sulit.

Eurofighter Consortium baru saja menandatangani kontrak upgrade radar ke CAPTOR-E AESA, senilai $1 milyar, menghilangkan kelemahan terakhir Typhoon dibanding kedua pilihan lain. Pembuat CAPTOR-E adalah Selex ES – memberikan base technology radar yang sama dengan Gripen-NG.

Radar CAPTOR-E AESA di Typhoon memiliki keunggulan ukuran yang besar (1500-module), sebanding dengan radar pesawat tempur berat di kelas F-15 atau Su-27 – memberikan jarak jangkau dan kemampuan deteksi akan lebih kuat dibandingkan Raven ES-05 Gripen dan RBE2 Rafale yang hanya 1000 module, atau di kelas pesawat tempur menengah, yang seimbang dengan APG-80 di F-16 Block-60 atau APG-79 di F-18E/F Super Hornet.

CAPTOR-E dan Raven ES-05 (keduanya buatan Selex ES) dapat diputar di pivot-nya, memberikan kemampuan coverage yang lebih besar (120 derajat dari moncong pesawat). Ini akan memberikan keunggulan tambahan dalam BVR combat (lihat di bawah). Radar RBE2 di Rafale fixed-mounted, sama seperti semua radar AESA di pesawat tempur buatan US, memberikan sudut coverage yang lebih terbatas.

Dari segi IRST, ketiganya boleh dibilang sebanding, karena dari base tehnologi yang sama.

Performance

Typhoon dan Gripen-E mempunyai kecepatan maksimum yang lebih tinggi (Mach-2+) dibandingkan Rafale (Mach 1,8). Daya dorong mesin Rafale yang lebih rendah memberikan Thrust-to-weight ratio yang lebih rendah (0.97), dibandingkan Gripen-E (1,06), dan Typhoon (1,07). Semua angka dihitung fully loaded, dengan full internal fuel dan 2 AAM. Dari segi rate climb, Typhoon paling unggul, diikuti Gripen-E, dan terakhir Rafale, tapi sekali lagi, perbedaan antara ketiganya tidak terlalu jauh.

Ketiga tipe Eurocanards tentu saja juga dapat supercruise – terbang mendatar, melebihi kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner, seperti semua tipe lain.

Range dan Combat Radius 

Ketiganya hampir seimbang untuk ferry range (+/- 4,000 km) dan combat radius (+/- 1,000 km).

Payload (Data Angkut)

Rafale bisa mengangkut lebih banyak payload (10,5 ton), dibandingkan Typhoon (8.25 ton) dan Gripen-E/F (5 ton). Kemampuan payload ini hanya akan lebih berpengaruh ke kemampuan Air-to-Ground daripada Air-to-Air.

Catatan di sini:

Ausairpower menunjuk bahwa keunggulan payload Su-35 memberikan kemampuan untuk membawa 14 missile. Penulis blog ini, Carlo Kopp dan Peter Goon, sepertinya lupa, kalau tidak akan pernah ada Angkatan udara di dunia ini yang mau memasang 14 missile ke satu pesawat. 

Penjelasannya sederhana. Pertama, faktor resiko yang besar. Setiap missile harganya jutaan dollar. Kalau pesawat tempur membawa sedemikian banyak missile dan tertembak jatuh (atau mengalami kecelakaan), sebelum berhasil menembak, maka ini adalah investasi $100 juta yang mubazir.

Kedua, setiap Angkatan Udara hanya mempunyai stock jumlah missile yang terbatas. Akan jauh lebih optimal untuk membagi jumlah missile itu ke lebih banyak pesawat, dibanding memasang sebanyak mungkin missile ke beberapa pesawat saja. Mereka juga harus menghemat, untuk memastikan tidak akan kehabisan missile sebelum konflik selesai.

Inilah sebabnya dalam Air-to-Air mode, semua pesawat tempur di dunia, secara optimal biasanya dipersenjatai 4 x BVR missile, dan 2 x WVR missile. Su-27 Russia yang di-intercept Typhoon UK di atas Baltic ini saja (Foto: The Aviationist), hanya membawa 4 x R-27 BVR missile (2 di perut, 2 di sayap sebelah dalam), dan 2 x R-73 di sayap sebelah luar.

Beberapa pesawat lain dapat membawa 8 missile. Sebagai contoh: Lihat gambar F-15C ini, yang membawa 4 x AIM-9 jarak dekat, dengan 2 fuel drop tank besar di sayap; 4 AIM-120 BVR missile juga terlihat dibawah perut.

Cockpit Interface dan Networking

Ketiganya kira berimbang dalam hal cockpit layout. Semua tipe menekankan user-interface yang terbaik. Dari segi networking, ketiga tipe ini juga dapat menembakkan BVRAAM secara pasif — tidak perlu menyalakan radar — cukup 1 pesawat yang menyalakan radar dan meng-guide semua BVR missile yang ditembakkan pesawat lain.

Rafale dan Typhoon mengandalkan Link-16 untuk data-link network untuk koordinasi antar pesawat. Gripen juga mempunyai kemampuan berkomsunikasi lewat Link-16, tetapi untuk koordinasi antar pesawat dengan Gripen yang lain, memakai sistem TIDLS Swedia tersendiri. Sistem TIDLS yang lebih mengoptimalkan information-sharing, dan kerja-sama yang lebih dekat dalam setiap formasi pesawat, dinilai lebih unggul untuk memberikan situational awareness yang lebih tinggi dibanding Link-16 yang sifatnya seperti broadcast.

BVR (Beyond Visual Range) Combat

Pilihan default untuk ketiganya tentu saja adalah MBDA Meteor, BVR-missile terbaik di dunia saat ini, yang development-nya sudah selesai, dan sebentar lagi akan memasuki tahap operasional. Gripen-C akan menjadi Eurocanard pertama yang membawa Meteor. Untuk Rafale, ada penjelasan terpisah di bawah.

Dengan mesin ramjet, Meteor dapat menyesuaikan kecepatan yang se-efesien mungkin dari tahap launch. Untuk mencapai jarak jangkau yang lebih jauh, Meteor dapat terbang lebih lambat untuk menghemat bahan bakar. Di saat akhir, Meteor dapat menambah kecepatan untuk meng-optimalkan pK (probability-Kill). Bandingkan dengan AMRAAM yang hanya memakai solid rocket – kecepatannya tidak bisa di kontrol dari awal sampai akhir. AMRAAM dapat kehabisan bahan bakar, atau melaju terlalu cepat, sehingga manuever akhir untuk membunuh lawan justru sebenarnya sangat sulit.

Jarak jangkau Meteor tidak di-publish resmi, tapi menurut rumor, melebihi AIM-54 Phoenix tempo dulu (190 km +), atau bahkan AMRAAM-D yang development-nya masih tertunda terus (US menghabiskan terlalu banyak uang di F-35!). Typhoon dan Gripen memiliki keunggulan dalam memakai Meteor karena keduanya dapat melakukan 2-way datalink untuk meng-update posisi terakhir target (sama dengan sistem 2-way-link di AMRAAM), sedangkan Rafale hanya mempunyai 1-way datalink.

Radar AESA di Typhoon, dan Gripen yang dapat diputar untuk mengikuti lawan, memberikan kemampuan keduanya untuk membelok keluar dari jangkauan BVR missile lawan, sementara terus memberikan data-link update ke BVR missile, seperti Meteor untuk menghantam target (lihat gambar di bawah). Ini memberikan kedua tipe ini keunggulan taktis dibanding Rafale, F-15, F-16, dan F-18 yang memakai fixed-mounted AESA-radar.

AESA radar, yang dapat diputar mengikuti lawan. Gambar: Selex Galileo

AESA radar, yang dapat diputar mengikuti lawan. Gambar: Selex Galileo

Typhoon dengan CAPTOR-E AESA (ukurannya paling besar disini), akan dapat melihat lawan dari jarak yang lebih jauh, dan tentu saja mempunyai kesempatan menembak Meteor dari jarak yang lebih aman dibanding yang lain – memanfaatkan jarak jangkau Meteor.

WVR (Within Visual Range) Combat

Typhoon dan Gripen mempunyai kemampuan lebih optimal dibandingkan Rafale dalam hal ini, karena keduanya sudah diperlengkapi Helmet-Mounted-Display (HMD), yang memungkinkan keduanya untuk menembakkan off-boresight WVR missile. Dengan HMD, WVR missile dapat ditembakkan, mengikuti pandangan pilot, sampai sudut yang melebihi 90 derajat dari arah moncong pesawat.

Pilihan senjata antara Typhoon Jerman, Spanyol, dan Italy memakai IRIS-T dan Sidewinder sebagai pilihan utama. Typhoon UK memakai AIM-132 ASRAAM – tipe ini juga dipakai F-18A/B Australia.

Gripen lebih unggul dalam soal pilihan senjata, karena tergantung pilihan negara pemakai, dapat mengintegrasikan AIM-9x, A-Darter, Phyton-4, dan IRIS-T.

Rafale adalah satu-satunya yang memakai missile buatan Perancis – MICA-IR (infra-red seeker) dan MICA-EM (active radar). Kedua jenis MICA missile juga cukup unik karena dapat digunakan untuk jarak dekat (WVR) dan menengah (BVR), tapi tidak seperti yang lain, tidak mempunyai kemampuan off-boresight. Pilihan seeker antara IR dan EM memberikan keunggulan dalam BVR yang sebanding dengan R-77 atau R-27 buatan Russia.

Close-combat manuever / Dogfight

Ketiganya memiliki rating +9G /-3G untuk manuever – standar untuk semua pesawat tempur modern sejak tahun 1970-an.

Dengan wing-loading yang rendah; 283 kg/m2 untuk Gripen-C sampai 306 kg/m2 untuk Typhoon, ketiga Eurocanards dalam manuever-jarak-dekat kira-kira hampir sebanding dengan, atau lebih baik dibandingkan F-16A (sub-variant yang justru paling manueverable dalam keluarga F-16).

Ketiga Eurocanards ini juga cukup unik karena, berkat canard control, juga dapat menyamai kemampuan F-18 Hornet, yang dalam “point and shoot” high-AoA manuever (mengarahkan moncong pesawat ke arah lawan) lebih cepat dibandingkan F-16.

Sebagai pembanding, menurut laporan Department of Operational Test & Evaluation-2012 untuk Pentagon, si bebek tak berdaya, F-35, adalah pengecualian dengan maksimum +5.0g, lebih jelek bahkan dibandingkan dengan MiG-21, F-4E Phantom-II, dan Mirage-III yang bertehnologi tahun 1960-an.

Untuk pertempuran jarak dekat, ketiga Eurocanards memakai tipe revolver cannon dibandingkan M61A2 gatling gun yang biasa dipakai di F-15 dan F-16. Gripen dan Typhoon membawa BK-27 Mauser (kaliber 27 mm), sedangkan Rafale membawa GIAT30 (kaliber 30 mm). Jika diperbandingkan, kedua jenis revolver cannon ini hanya membawa lebih sedikit jumlah peluru dibandingkan M61A2, tapi setiap peluru BK-27 dan GIAT30 mempunyai daya pukul yang jauh lebih kuat.

Air-to-Ground

Rafale paling unggul disini dengan payload yang lebih besar dibanding kedua tipe lain. Tipe ini ekslusif yang memakai Exocet anti-ship missile yang sudah terbukti di Falkland, dan perang Iran-Iraq. Rafale juga dapat membawa MBDA Storm Shadow / SCALP-EP stealth cruise missile jarak jauh.

Typhoon kemampuan air-to-ground-nya dinilai lebih terbatas dibanding Rafale (ini salah satu alasan kenapa Typhoon kalah dalam kontes di Singapore), dikarenakan update-nya agak terlambat (prioritas pembuatan Typhoon adalah pesawat tempur air-to-air). Versi Inggris, yang juga sama bisa membawa MBDA Storm Shadow, dan Brimstone (sebanding dengan, tapi lebih baik dari AGM-65 Maverick). Untuk anti-ship missile, tidak seperti yang lain, Typhoon masih mengandalkan AGM-84 Harpoon buatan US.

Payload Gripen lebih kecil dibanding kedua tipe lain, tapi tipe ini memiliki keunggulan flexibilitas untuk integrasi senjata, yang menjadikannya tipe favorit banyak pembuat senjata dalam development senjata baru. Saat ini, Gripen sudah mengintegrasi KEPD 500 Taurus stealth cruise missile, dan RBS.15 – anti-ship / air-to-surface missile buatan Swedia; dibuat untuk menandingi kemampuan Harpoon missile (US) dan Exocet (Perancis). Missile jenis lain, seperti Brimstone atau Storm Shadow, tentu saja dapat di tambahkan ke Gripen, tergantung kebutuhan negara pembeli.

Harga per unit dan Biaya Operasional

Eurofighter Typhoon adalah yang paling mahal dalam kedua aspek ini. Harga per unit, termasuk development cost, mencapai €125 juta, dgn biaya operasional US$18,000 / jam. Dalam semua kompetisi pesawat tempur, Typhoon selalu dianggap sebagai pilihan termahal.

Rafale tidak berbeda jauh. Harga per unit juga diatas $100 juta, dan biaya operasional $16,000.

Gripen-E harga per unit belum di-publikasikan, tapi mungkin di antara rentangan harga $50 juta – $60 juta. Biaya operasional untuk Gripen-C/D adalah $4,700 – tapi SAAB meng-klaim kalau Gripen-E/F biaya operasionalnya akan lebih murah lagi.

Klaim SAAB mungkin bisa dijelaskan dari perbedaan radar, dan mesin. Tipe PS-05/A Pulse-doppler di Gripen-C/D lebih maintenance heavy dibanding Selex Raven ES-05 AESA di versi-E/F. Mesin F414G juga sengaja dipilih untuk menurunkan biaya perawatan, dibandingkan RM12 di versi C/D.

Catatan:

Harga per unit: Harga di atas hanyalah estimasi patokan kasar. Tergantung perjanjian transaksi (pembelian dalam jumlah yang lebih banyak biasanya lebih murah), pembeli bisa mendapat harga yang lebih mahal, atau lebih murah dibandingkan harga di atas. Nilai kontrak yang sudah ditandatangani juga tidak bisa dijadikan representasi untuk harga per unit masing-masing pesawat, karena setiap kontrak biasanya juga mencakup perlengkapan infrastruktur yang harus dibeli, spare part, training, support equipment, dan tentu saja biaya initial training.

Biaya operasional: Biaya operasional disini adalah angka indicative Basic CPFH (Cost per Flight Hour) yang dihitung IHS Jane’s. Apa yang dihitung adalah: BBM, consumables (oil, service parts), biaya lapangan untuk operation & maintenance, dan perkiraan jumlah jam kerja maintenance yang dibutuhkan.

Sebagai perbandingan, beberapa negara biasanya memakai angka “comprehensive CPFH” yang menambahkan perhitungan untuk biaya “sistem improvements” (upgrade), capital charge, angka depresiasi (pengurangan nilai) dari harga beli baru pesawat, dan amortization cost.

Ini menjelaskan kenapa F-16C dalam angka IHS Jane’s mempunyai biaya operasional $7,700 / jam; sedangkan dalam majalah Time, USAF melaporkan biaya operasional yang $22,514.

Kedua angka di atas sama-sama benar. Perhitungan IHS Jane’s tentu saja lebih mengacu ke real cost operational, dibandingkan perhitungan ala USAF.

Hasil latihan Air-to-Air / Combat Record Eurocanards

Perang Iran – Iraq adalah konflik besar terakhir dimana kemampuan udara kedua belah pihak hampir berimbang. Dengan berakhirnya konflik ini di tahun 1988, semua pesawat tempur dewasa ini relatif tidak mempunyai combat record yang berarti dalam pertempuran Air-to-Air. Inilah kenapa, latihan-latihan udara Internasional biasanya menjadi patokan, bukan hanya untuk mencoba kemampuan pesawat, tapi juga strategi, dan latihan pilot.

Semua hasil pengalaman yang dikumpulkan Eurocanards disini adalah dari batch sebelumnya untuk ketiga model. Typhoon, yang dipakai dalam training dibawah adalah dari Tranche-2 (bukan versi terakhir Tranche-3B); Dassault Rafale dari versi F2 standard (versi terakhir: F3R Standard); dan untuk Gripen adalah versi –C (versi terakhir: E/F (NG)). Jadi dari segi kemampuan, ketiga Eurocanards versi sekarang sudah maju beberapa langkah dibandingkan pengalaman di bawah.

Typhoon dinilai lebih unggul dibanding kedua tipe Eurocanards yang lain, terutama karena reputasi mereka dalam bermacam latihan NATO. Blog resmi Eurofighter meng-klaim kalau dua Typhoon berhasil menembak jatuh delapan (8) F-15 dalam latihanTyphoon juga salah satu yang cukup sukses dalam pertandingan tempur di Red Flag melawan F-22 (lihat gambar).

 Luftwaffe Typhoon dengan 3 “kill marking” F-22 di bawah cockpit. Gambar dari: The Aviationist. Credits by:Dietmar Fenners

Luftwaffe Typhoon dengan 3 “kill marking” F-22 di bawah cockpit. Gambar dari: The Aviationist. Credits by:Dietmar Fenners

Dari segi kemampuan close combat, walaupun Rafale tidak mempunyai offbore-sight WVR missile seperti yang lain, tipe ini juga menikmati cukup kesuksesan, untuk melawan F-22 – pesawat tempur yang dianggap paling tangguh di dunia. Rafale berhasil menancapkan “simulasi MICA-IR” ke F-22, seperti di lihat dalam video ini.

Combat record Rafale untuk Air-to-surface di atas Libya dan Afganistan juga cukup menarik, mungkin mengungguli Typhoon. Berbeda dengan US, yang selalu mendahului serangan dengan “radar-jammer” seperti EA-18G, atau puluhan BGM-109 Tomahawk cruise missile, Rafale dapat langsung terbang di atas Libya, dengan mengandalkan perlindungan dari Thales SPECTRA EW defense suite. Perancis juga melaporkan kalau 2 Rafale saja, dapat melakukan tugas yang biasanya harus diemban 2 Mirage-2000-5, dan 6 Mirage-2000D. Availability rate untuk Rafale di Libya juga dilaporkan “mendekati 100%”.

AU Hungaria melaporkan performa Gripen-C dalam latihan NATO melebihi ekspetasi. Gripen dapat melihat semua pesawat NATO lain (di radar), dilain pihak lebih sukar untuk di-deteksi, atau dilihat dalam pertempuran jarak dekat. Gripen-C Hungaria juga mengejutkan negara-negara NATO lain, karena tidak dapat di-”jamming”, seperti pesawat lain.

Dalam latihan NATO ini, Gripen Hungaria berada dalam pihak ”Red Force”; pihak yang seharusnya kalah. Mereka tidak mendapat dukungan pesawat AWACS atau radar lain, tidak memakai data-link, dan tidak dapat melakukan simulasi AMRAAM. Meski begitu, dalam satu latihan, Gripen-C tetap berhasil “menembak jatuh” 8 – 10 pesawat NATO, termasuk 1 Typhoon. Dalam pertempuran jarak dekat melawan F-16 MLU, Gripen-C juga dengan terlalu mudah “menghabisi” F-16.

Kesimpulan

Ketiga Eurocanard saat ini boleh dibilang harus menjadi tolok ukur semua pesawat tempur G4,5 modern dewasa ini. Ketiganya sudah terbukti “mengigit” dalam mengadu manuever, karena mengkombinasikan aspect yang terbaik dari F-16, dan F-18.

Untuk negara yang mengutamakan Air Superiority, dan dapat membayar harganya, Typhoon adalah pilihan terbaik. Dengan perpaduan CAPTOR-E AESA radar, dan Meteor BVRAAM – Keduanya yang akan segera memasuki status operasional, Typhoon justru akan lebih menakutkan lagi dalam latihan Red Flag. Boleh dibilang, saat ini, Typhoon adalah pesawat yang paling mengancam “mahkota” F-22A sebagai pesawat tempur terbaik di dunia.

Kelemahan utama Typhoon adalah belum tersedianya AESA radar; sampai upgrade ke CAPTOR-E selesai. Proses upgrade ini akan berjalan cukup lama, dan belum tentu semua Typhoon akan mendapat AESA karena masalah biaya. Untuk Air-to-Ground, Typhoon juga belum diperlengkapi Anti-shipping missile buatan Eropa.

Rafale adalah tipe yang paling unggul di dalam Air-to-Ground. Kemampuan Thales SPECTRA EW suite-nya juga sudah terbukti. Permasalahan utama Rafale adalah senjata-senjata yang eksklusif kebanyakan buatan Perancis, walaupun bebas dari pengaruh US, integrasi senjata lain diluar yang sudah disetujui Perancis sangat sulit. Tidak adanya HMD juga memberi kelemahan dalam pertempuran WVR jarak dekat. Dan dalam penggunaan Meteor BVRAAM, Rafale juga performa-nya dinilai lebih rendah dibanding yang lain karena hanya mempunyai 1-way datalink.

Dassault Rafale tentu saja juga satu-satunya tipe Eurocanards yang dapat beroperasi dari kapal induk. Tapi kemampuan ini kurang relevan dalam konteks Indonesia.

Gripen-E adalah satu-satunya Eurocanard bermesin tunggal, performa air-to-ground (dan daya angkut) juga masih dibawah kedua tipe yang lain. Sama seperti Rafale, Gripen sudah memiliki portfolio senjata Eropa – non-Amerika, termasuk RBS-15 anti-ship missile, yang lebih penting untuk negara maritim seperti Indonesia. Keunggulannya, tidak seperti Rafale, Gripen memberikan lebih banyak kebebasan untuk mengintegrasikan senjata manapun (terserah pembeli), tanpa perlu persetujuan atau campur tangan SAAB.

Tidak seperti Rafale, dan Typhoon yang hanya dapat memakai Link-16 (ini masih dalam pengaruh FMS US) untuk aerial network, Gripen juga memilih sistem TIDLS untuk koordinasi antar pesawat dalam Gripen-formation. Gripen juga sudah didesain untuk information sharing melalui sistem Link-16 NATO, atau pilihan network sendiri seperti STRiC Swedia, dan sistem SIVAM di Brazil.

Gripen-E akan menjadi satu-satunya yang sudah diperlengkapi HMD dan AESA; sedangkan kedua Eurocanard yang lain, saat ini hanya punya satu, tapi belum diperlengkapi dengan yang lain. Tentu saja biaya per unit dan biaya operasional per jam juga paling murah, karena pesawat ini lebih ringan, dan bermesin tunggal.

Gripen (versi C) belum mengumpulkan banyak combat training record seperti Eurocanard yang lain. Kelemahan utamanya, tentu saja belum pernah “menjajal” F-22 seperti kedua Eurocanards yang lain. Tapi ini bukan berarti, dalam training air-to-air NATO, tipe ini bisa diremehkan.

Larger size doesn’t mean it’s better. Pengalaman Hungaria menunjukkan ukuran Gripen-C yang kecil, justru menjadi keunggulan dalam latihan NATO; sukar dilihat di radar, ataupun dari pandangan mata.

Oleh: Gripen-Indonesia

Daftar Link artikel di atas:

Selex Raven ES-05, RBE2, senilai $1 milyar, CAPTOR-E AESA , Ausairpower, Foto: The Aviationist (Su-27 di atas Baltic), Lihat gambar F-15C ini, MBDA Meteor, Department of Operational Test & Evaluation-2012 (laporan F-35),  revolver cannon, gatling gun,  Biaya operasional , capital charge, amortization cost, majalah Time, dua Typhoon berhasil menembak jatuh delapan (8) F-15 dalam latihan, video ini (Rafale mengalahkan F-22),   Thales SPECTRA, AU Hungaria (performa Gripen di latihan NATO).

  268 Responses to “Perbandingan Ketiga Eurocanards – Typhoon, Rafale, dan Gripen-NG”

  1. Bung gripen lagi nihh..nyimak aja..

  2. Su35 manaa??

    • SU 35 bukan tandingannya bung.

    • Su-35 ngaciiir

      Lagi ganti mesin dulu, langsung ganti 2
      Lagi ganti engsel radar Irbis-E nya, keberatan soalnya, krieeek…krieeeek, 3.5dB (BARS hanya 3dB)

      sama seperti pameran kemarin, ngak nongol, nego nya pakai cara lama ? suap ?
      takut diolok olok hanya macan kertas ?

      • Om “Asisten” Sales Gripen, ! ( @SS )
        Bagi2 Dunk persenan Sales an dari bung Gripen ind…

      • Sukhoi sudah terbang di langit indonesia sejak 11 tahun lalu bung.
        dan sampai saat ini masih terbang. semoga Gripen segera terbang setelah SU-35

        • yang baru sih masih terbang tapi yang batch pertama udah gk bisa terbang kalah sama f-16 blok 15 yang lebih tuwir tapi masih bisa terbang

          • Oh yaa..baru tau saya..infonya gmn?

          • yah…payah nih orang….tetangga sebelah selatan F18 dan bentar lg pakai F35 lalu sebelah barat F15 SE dan F18 jg, lalu kita beli F16 lagi? nggak salah tuh, bakalan nggak aman nih udara nusantara….bagaimana F16 mau ngejar F18 dan F15 SE….larinya saja jauh ketinggalan….mau beli yg block 60? memang punya duiot melimpah seperti UAE?…, spt kata Panglima TNI prioritas adalah SU35 atau bisa juga Mig 35 yg larinya lbh kencang, lalu Grippen, untuk F16 saya kira lupakan saja deh…kalo kita ingin bisa melawan jika selatan atrau barat atau utara macem macem dan iseng iseng pengen ngetes kecanggihan para pilot pilot kita….

        • Apa yang dituliskan @bangjo ada benarnya.

          Saya sudah menanyakan berulang-kali di formil2, tapi tidak ada jawaban yang pasti.

          Dimanakan TS-2701, -2702, -3001, dan -3002?

          Keempat Sukhoi dari batch pertama.

          Foto terakhir mereka (yg saya dapat) hanya dari tahun 2008, setelah itu, mereka tidak pernah muncul dimana2.

          Lihat saja foto2 dari parade Sukhoi untuk hari kemerdekaan bbrp tahun terakhir! Mereka tidak pernah hadir!

          Saya harap ada yang dapat memberikan informasi yang lebih jelas.

          • ada masalah di airframe dan mesinnya….
            mai ke hanggar di Maros, lagi terpakir sekarat gitu barangnya…

          • dulu pernah ada issu katanya bekas, apa benar memang bekas ya?

          • Analoginya gini bung, PT DI minta Typhoon karena kita akan diberikan kepercayaan untuk merakit dan dikasih pelajaran tentang teknologi nih pesawat. Termasuk menjadi sales untuk wilayah Asia Pasifik karena kepercayaan Airbus. Kalau beli second, apa yg mau dirakit dan diajarin. 😀

            Setahu saya penawaran itu baru dengan nilai kontrak $1,5 milliar yg dimana kita diajarin dan PT DI mendapat referensi untuk pengembangan Airframe dan Avionics include Multi mode Mission Radar. Itu paket yg ditawarkan Airbus Group. Silahkan dibagi aja dengan $1,5 dibagi 12 unit. Itu tawaran yg menggiurk karena tidak perlu membeli banyak seperti kompetitor yg lain. Ini berkat kerjasama panjang PT DI dan pihak Airbus Group.

          • bung Jalo, minta pendapat pribadinya…lbh bagus mana antara ToT Gripen dan kerjasama Aribus-PT. DI untuk Indonesia? termasuk peluang embargo dan kepentingan politik didalamnya…

          • Daripada benerin 4 sukhoi awal mending beli yg baru. Toh harganya ga jauh beda. Kita itu termasuk pengguna sukhoi yg “maruk” dibandimg negara lain. Punya dikit digeber mulu. Hampir tiap minggu sonic boom dipake. Latihannya di daerah Bone. Kalau ada rekan-rekan yang tinggal di Bone pasti tau. Teknisi Rusia yg dulu sempet ngecek sampe geleng-geleng kepala liat keadaan sukhoi yg mangkrak.

          • Itulah, sistem Russia

            “sekali pakai buang”.

          • dihibahkan ke libya dengan paket ‘ghoib’

        • hanya asumsi dan tebakan, tehnologi rusia memang dahsyat dan gahar, tapi dari sisi maintenance dan kerumitan pasti luar biasa…….apapun tehnologinya. beda dgn Eropa Barat apalagi Jepang/Korea/China, simple dan muda secara maintenance namun memang kalah gahar….maaf hanya asumsi tukang bangunan

      • Ngemeng opo iku

  3. Nunggu tanggapan pecinta SU35

    • SU 35 memang canggih di desain untk bisa memuat 14 rudal dlm 1 pespur.

      Oleh karna nya SU 35 memakai radar yg jangkauwan nya jauh irbis .

      Kekurangan nya ya biaya oprasionalnya yang mahal untk 1 jam saja perlu brapa ratus juta kalo dirupiahkan.

      Blm lg klo keadaan nya negara pengguna tdk punya sinulator SU 35 . Nambah mahal kalo dlm latihan.

      Setelah sy cermati memang dlm segi pespur mempunyai karakteristik masing2 . Yang menjadi acuan bagi sy kemampuan pilot dlm dog figth. Percuma kalo pespur canggih tapi pilotnya kurang mumpuni.

      Semoga dlm penggatian f5 tiger tni AU . Pemerintah bisa memilih pespur yg sesuai kebutuhan TNI AU. Apapun itu Mau SU 35 atau JAS gripen dan typhoon. Asal jangan F 16 karena indonesia sudah mempunyai F16 banyak di program bima sena.

      Salam warjagers

    • Indonesia butuh SU 35 buat nandingin F 35 ausi dan sing serta F 22 amrik di ausi, coconos, DG, guam, dan jepang. Minimal 2 skuadron. Tapi dengan luas yg sangat besar wilayah Indonesia diperlukan 4 skuadron Gripen E/F untuk patroli dan Intersep pesawat pelanggar

  4. Siapun presidennya…., su 35 wajib buat AURI.

  5. Kalau gitu Typhoon saja. Soalnya Captor E nya hebat

    • yang ada juga stok ex-jerman ma ex-inggris, makanya presiden langsung coret…..

      • Ngawuuurr…
        Pembelinnya baru kok, ?

        • lah artikel sebelumnya katanya dicoret karena stok itu bung Jalo, atau itu akalnya sales yang nulis 🙂

          • Memang di TNI AU gak ada, tapi di UU dan peraturan pemerintah Lead Integrator pengembangan untuk teknologi pesawat dipegang PT DI. Jadi masih bisa masuk melalui KKIP, dan pemerintah yg akan memutuskan pembelian. Jadi masih ad harapan untuk mengakusisi Typhoon.

        • Maksudnya typhoon dengan Radar AESA kan Bung Jalo?

          tanggung amat 12 unit sekalian saja 16.

          • Itu estimasi anggaran yg diajuin pemerintah sebelumnya. Kalau ada penambahan anggaran di pemerintahan baru, mungkin unit-nya bisa bertambah.

      • gak papa kan kita beli baru bonusnya barang 2nd. anggap saja seperti skema beli leo bonus marder

        • Yup, skemanya mirip seperti bung katakan. mengenai dari negara mana blm jelas. tp kalau dilihat Typhoon tier2 yg punyanya UK dan Jerman lbh canggih punya UK sedikit. krn Typhoon UK sdh dilengkapi Laser warning receiver sdg punya Jerman blm dan kedepan jg akan dilengkapi dgn alat yg sama. utk hal teknis yg lain keduanya hampir setara kec, hal yg sebut diatas. kenapa ikut dipaketkan Typhoon yg sdh ada alias bekas dan bukan baru, krn kalau menunggu batch produk baru berarti kita hrs menunggu produk tsb diproduksi dan tentu hal ini akan butuh waktu lg utk melengkapi keseluruhan pengganti F5EF, sdg kebutuhan pengganti F5EF sdh mutlak hrs ada “barangnya” bkn hanya skdr perjanjian diatas kertas. jd utk melengkapi kebutuhan akan “barang” tsb kemungkinan bsr yg sdh ada dulu, utk belajar teknologinya bisa di tier kedua. tp semua terpulang kepada anda utk percaya apa kagak. intinya pemerintah pasti sdh mengatisipasi akan kekosongan F5EF dan memikirkan pengganti F5EF secepatnya sekaligus menjalankan UU yg mewajibkan transfer teknologi setiap pembelian alutsista yg msh bisa dilakukan dgn skema ToT.

          Salam..

          • Salam bung PB, udah lama SR, baru nongol bung?

          • kan masih memungkinkan untuk versi jerman dan ditambah upgrade seperti punya uk yang pengerjaannya dilakukan di ptdi. seperti itupun termasuk tot kan . apalagi jika pemasangan caesar di pesawat 2nd tersebut dilakukan juga di ptdi otomatis ptdi tambah ilmu lagi.

  6. Ya dibandingkan f 16, rafale. Gripen memang perpormanya paling memuaskan. Kalo rafale menurut saya lebih fokus ke desain. Tau sendirilah prancis tu pecinta seni.

  7. Jitenbi ajalah …sekaligus bersekutu dengan paman panda

  8. Bung Antonov ditunggu …
    Nyimak aja …
    Yang begini neh … Yang ane suka … Artikel ‘dibales’ artikel …
    Lanjut …

  9. Ne sales sudah pada babarin dagangan..tinggal user yang milih…mari sikapimdengan cerdas

    • semua sales ngomongnya kayak gitu semua , yang manis buatannya yang lain mah ke laut aja. karena pemakai gripen blm banyak jadi blm keliatan jeleknya beda dgn f 16 , sukro banyak negara yg pake ni pesawat

  10. gripen lagi nih..ayo di kipas” biar tambah HOT…
    om ruski tetap stronggg lah pokoke….
    gripen ama super tukino bagusan mana om???

    • ngaco sama ja ngebandingin BEMO vs CAMRY…

      • Mungkin anda yang ngaco kali bung, beda kegunaan dan fungsinya masing2 kali. Apa anda ingin melihat TNI memberantas separatis hanya beberapa orang saja menggunakan jet tempur ” seperti malaysia”. kalau malaysia punya peawat tukino mungkin lebih memilih menggunakan tukino untuk menyerang suku sulu.

  11. Pilihan cerdas (subs F5).

  12. bung gripen indonesia lg nih.
    bakal ad debat seru lg.
    ijin nyimak aj y bung gripen..

  13. Nyimak pencerahaan pesawat tempur buatan eropa.

  14. Memperjelas pilihan antara mmajukan industri pertahanan nasional dengan menerima tawaran gripen dengan TOT nya .. Atau memperkuat skuadron tempur dengan membeli su35 menghadapi potensial ancaman dari negara tetangga .. Ke 2 nya semua masuk scara logika dan fakta .
    Tinggal pemerintah punya dana tidak untuk salah satu pilihan ataupun diambil ke 2 nya sebenernya itu yg kita tunggu .. Kalau dana udah turun mudah sekali merealisasikan pilihan2 tersebut .. Amien

    • pod senjata dari america dan euro egak jadi masalah pada rafale ,rafale bisa di masuk senjata buatan rusia cuma indonesia terpaksa belanja lebih untuk upgade senjata nya kerana india beri cuba melakukan sama perkara telah di persetujui jika india beli rafale, jika lihat ketiga-tiga pesawat beban rafele bisa menbawa lebihan ton senjata daripada gripen dan typhoon

  15. PESA punya su-35 dan CAESAR aesa radar untuk typhoon bisa mendeteksi rcs 0,01sq m dikisaran 70~90km. aesa gripen adalah aesa versi ekonomis jika dibandingkan caesar typhoon. demikian juga performa rbe rafale yang terletak ditengah dari aesa ex gripen-rafale-typhoon. walaupun menggunakan teknologi pesa ternyata kemampuan irbis e su-35 bisa bersaing dengan kemampuan caesar ex typhoon.

  16. Ya sudah jangan beli F 16 yg mudah dikalahkan gripen c…eh tapi sudah beli tuh! Malah mau beli lagi…

    • Jadi kepengen belajar ma salesnya F16 neh, tender belum ada, eh barang udah nongol bin delivered 🙂

      • Itu barang dikasih dulu, duit belakangan, harga nego, kalo belum ada duit boleh ngutang, kredit dapat diatur pake skema bantuan macem2. Asal lu kaga pake buat maenan gaduh, nembakin orang kaga jelas, ngelunjak sama tetangga, pokoknya ambil…
        Enak kan? Yang penting punya mainan.

  17. Ditunggu artikel jawabannya…

  18. aliansi sales eropa….

  19. Jgn beli F-16 itu barang SAMPAH mau blok 100 juga tetap SAMPAH

    • Israel tetap menggunakan F16nya .. Bahkan terus diupgrade , italia menggunakan F16 sama kek kita untuk mengisi stopgap antara datangnya pesawat typhoon dengan sistem leasing selama 10ahun .. Program peace caesar italia dengan pengadaan 30 unit pesawatdipandang sebagai salah satu program pengadaan pertahanan trbaik diitalia ( KSAU italia jend giuseppe bernadis ) diambil dari arizona seperti hibah F16 kita .. F16 sukses dalam misi utamanya sebagai satuan penyergap dalam sistem hanud italia dan batle proven saat terjun dalam operation unified protector libya th2011 .

    • kalau level gripen c/d mah cukup f-16-block 25id. kalau gripen ng baru sekelas f-16 block 52+racr/sabre.

  20. Artikel yang objektif. Saya kira memilih salah satu diantara ketiga euro-canard di atas merupakan keputusan yang cerdas. Namun demikian, jika kita meneruskan Sukhoi dalam line-up pesawat tempur kita, maka Typhoon bisa dieliminasi dengan mudah karena fungsi nya hampir mirip.

    Antara Rafale dan Gripen NG. Rafale adalah salah satu pesawat tempur idalam saya. Fungsi nya cukup lengkap boleh dibilang true omni role ya Rafale ini. Keterbatasan cuman 1, proprietary persenjataan hanya made in Prancis menjadi kendala cukup besar. Untuk Gripen, sebenarnya Gripen C/D udah platform yang sangat bagus, tinggal update AESA, Data Link sama IRST saja sudah keren, setidak nya tidak perlu khawatir sama F-16 atau F-18 punya tetangga. Apalagi dengan NG, F-35 bukan lawan yang susah.

    Saya yakin, keputusan untuk mencari penggati F-5 akan lebih berat pada nilai ekonomis sama politis. Harga yang dicantumkan diatas saya pikir referensi lama. Berkaca pada Brazil, Gripen NG 150 Juta USD/ unit. Tentu banyak kesepakatan yang tidak diungkap di publik. Dan Rafale saat ini harganya udh hampir 200 Juta USD/unit. Lihat berita ini: http://defense-update.com/20150116_cairo_paris_arms_deal.html#.VMe262iUdeA
    Mesir tertarik untuk membeli 2 FREMM, dan 20 Rafale. Kontrak untuk Rafale total bernilai 4.15 Billion USD. Fantastis.

    • @phoenix15,

      Kontrak di Brazil memang bernilai $5,4 milyar untuk 36 pesawat. Tapi dari detail yang diberikan, ini termasuk training, “initial provision” — termasuk spare part, support infrastruktur; dan kontrak kerja sama 10 tahun untuk Transfer of Technology.

      Brazil juga mendapatkan hak istimewa untuk dapat menjual Gripen ke negara2 Amerika Selatan yang lain. Inilah kenapa Argentina bisa mendekati Brazil untuk membeli Gripen dari mereka (kemungkinan besar batal — krn urusan Falkland).

      Kemungkinan kontrak Mesir – Perancis $4,1 milyar untuk 20 Rafale juga demikian.
      Untuk setiap pesawat tempur baru, negara pembeli perlu initial investment di infrastruktur, fasilitas support, training, dan spare part standar untuk mendukung operasi selama bbrp ribu jam.

      (Mesir bukan negara yg punya banyak uang, kemungkinan kontrak ini akan dicukongin Qatar atau UAE).

      Jadi nilai kontrak kebanyakan negara bisa 125% – 180% (estimasi) lebih mahal dibanding nilai beli real per unit. Untuk harga real-nya berapa, kita hanya bisa membuat estimasi kasar.
      Inilah sebabnya, nilai kontrak2 seperti ini, justru tidak bisa dijadikan patokan untuk harga per unit.

      Berbeda dengan Indonesia yang selama ini terlalu sering beli “kosong”.

      Tentu saja, akhirnya pesawat yang dibeli “kosong” itu membutuhkan perawatan, infrastruktur, dan training. Jadi buntut2nya, bisa jadi kontrak Indonesia kelihatan murah di muka, tapi jangka panjang justru akan lebih mahal..

      • erusahaan Boeing, Mesa, Arizona mendapat kontak senilai US$ 295.866.116 untuk pengadaan 8 unit helikopter Apache AH64E, Helikopter serang terbaru produksi Amerika untuk Indonesia. Produksi helikopter serang ini diperkirakan akan rampung tanggal 28 Februari, 2018.

        Salah satu penawaran diminta menurut dana pengadaan Fiskal 2010 dengan kontrak pengadaan senjata (W58RGZ-15-C-0025).

        Menteri Pertahanan AS, Chuck Hagel mengumumkan penjualan delapan helikopter serang Apache ke Indonesia pada bulan Agustus 2013. Pengumuman tersebut setelah satu tahun pemberitahuan kepada Kongres sebelumnya dari FMS penjualan yang diusulkan.

        Pada saat itu, total kesepakatan senilai US$ 1,4 milyar dan termasuk penjualan empat radar kontrol penembakan rudal APG-78 Longbow, Termasuk pengadaan sebuah paket persenjataan berupa 120 unit Lockheed martin AGM-114 Hellfire rudal udara-ke-darat [AAM], ditambah paket pelatihan awak dan pendukungnya.
        1,4MUS$ ???

      • Masalah procurement di Negara kita rada unik. Pembelian biasanya hanya berlaku untuk harga unit nya. Sementara harga pelayanan perawatan, termasuk logistik spare-part biasanya tidak boleh di lakukan di awal. Ini yang harus di rubah, semua nilai kontrak pembelian harus menyertakan semuanya di awal.

        • Betul.
          Kontrak pembelian senjata seharusnya adalah paket yang lengkap.

          Indonesia seharusnya dapat memberikan kontrak yang lebih transparan, memiliki “breakdown” yang jelas, berapa % masuk ke harga beli unit, berapa % perlengkapan, dan berapa % senjata.

          Contoh kasar:
          Tanggal xx/xx/20xx, Indonesia menyatakan pembelian 16 pesawat xxx, dengan rincian sebagai berikut:

          $1 milyar utk pembelian 16 unit pesawat.
          $500 juta tambahan utk infrastruktur, perlengkapan, training, dsb.
          $200 juta utk senjata.

          • lebih enak daripada debat argumen bung gripen indonesia suruh tarung aja gripen ng dgn su 27/30 tni au , mana yg lebih unggul biar puas semua , nanti keliatan mana yang petarung asli

  21. setelah f 16 yunani jatuh di spanyol,giliran mig 27 jatuh di india, jangan” bentar lagi giliran mirage f1 (secara satu generasi…..)
    hindari second hand party.vote yes untuk yang gress.

  22. yesss … ” article combat ” ……. dimulai !!!
    team sukhoi, rafa, typhoon …
    team elang botak jg kudu tampil neh !

  23. Kl saya sih pilih su 35 tetep hot d banding yg lain.kl biaya oprasional tinggi kan ada simulatornya.ingat beberapa tahun k dpn musuh kita tdk bs d anggap enteng sdh ada f35 yg siap memutari kita.kl terbentur masalah tot kita beli aja su35 secukupnya trs kita ambl gripen byar dpt tot.saran saya si gt

    • Biaya berbanding Deterentability (vicky mode: on) 🙂

      Mainan 400juta sejam itu, ketika sedang keluyuran, maka maenan sebelah yang 200jt ataupun 300jt sejam langsung ngacir….

      coba yang lagi patwal itu mainan yang 150-200juta sejam, maenan tetangga masih berusaha ngumpet-ngumpet nyolong space….

  24. secanggih apapun , maupun biaya operasional murah kalo kena embargo ya sama saja bung, klo di bilang saat ini tidak mungkin embargo indonesia , itu pernyataan, setahu saya si ASU mukanya ganda (nulis sambil emosi)didepan senyum diblakang nyiapin piso + granat nanas.
    garis besarnya seh rawan embargo , apalagi klo tiba2 papua memanas, dengan alasan ham , pasti kena embargo lagi.timor-timur jilid 2 bakal terulang (pikiran terburuk ane)

    setahu saya, blok timur belum pernah embargo. EMBARGO lhoooo bukan alasan lain/faktor politik. kalo ada link nya blok timur khususnya papa bear pernah embargo indonesia saya minta linknya.

    menurut saya pribadi,Indonesia butuh Gripen tp SU 35 tetep beli,banyakin SU35 nya kalo masalah kedaulatan negara memang mahal harganya.

    cukup sekian uneg2 dari saya rekan warjagers, maaf apabila ada salah kata

    • ulasan yang bagus dari bung Gripen.
      namun SU-35 tetap pilihan utama karena, The long range missiles – Novator K-100 (formerly R-172/KS-172-S1) and the Vympel’ R-37 [Ed: AA-13 Arrow] have a range circa 300 to 400 kilometres. Flying above 40,000 feet, the Sukhois can easily detect the AEW&C or MMRT at this range with their BARS radar – the new Tikhomirov NIIP Irbis-E will just improve matters for a Sukhoi driver. So they can launch and destroy these big aircraft at very long ranges.

      Baru selanjutnya Gripen NG/F-16 block 70/Thypoon untuk pengganti F-5 dan Hawk

  25. Jangan jangan pemerintah telat bulat memastikan akuisisi SU35, makanya sales gripeng jor joran ngasi promo 100%, utk membatalkan SU35 yang tlah dipastikan….. hahahahahahaha santai kopi luwak

  26. ya mudah2an indonesia milih gripen untuk gantiin f5 tiger, karena udah terlalu banyak buatan asu diindonesia. and untuk skadron baru mudahan memilih heave fighter bukan buatan asu…

    maju trus NKRI. thak’s buat warjager

  27. demi cita” bisa bikin pesawat tempur sendiri apa aja boleh, asal ada imbalan teknologi untuk kita, jgn saling ngotot nanti pada pusing dan strok kalo pilihannya ngaa kepilih

  28. gripen pngganti f5, su35 untuk skuadron baru lebih siiiip

  29. Nyimak saja abis bingung ke-3 pesawat eurocanard punya kelemahan dan kelebihan masing2 apalagi kalo ditambah dng SU-35 wuih tambah panjang, tapi terima kasih buat artikelnya
    Sebagai fanboys dri TNI hanya bisa berharap saja Matra Udara TNI mendapatkan alutsista yg mumpunin jangan hanya alat gebuknya tapi mata telinga udara juga ditambah jumlahnya syukur2 sistem pertahanan jarak menegah-jauh juga ditambahkan entah apapun itu yg diakuisisi oleh pemerintah…Maju terus TNI

  30. udah jelas” rafale sama eurofighter bukan kelasnya gripen..gripen kelasnya f16 satu mesin..
    ancaman kedepan itu gimana caranya menandingi pespur tetangga masa iya gripen vs f35 atau f15
    lawan pespur tetanga yang paling tepat yaitu su 35..

  31. Pendapat saya, tdk ada salahnya utk mengadakan dua2nya baik Su 35 dan gripen NG, kalau bisa ditambah Su 34 sbg pesawat pengebom utk menghajar lawan sampai ke kandangnya guna memberi pelajaran dan mengingatkan mrk spy mrk hati2 dng indonesi.

  32. Kemampuan Eurocanard bukan hanya diatas kertas, ini sudah terbukti di latihan (walaupun bukan batch terakhir)…. Saya akan memilih mana yang paling berani memberi ToT… Jadi kita tidak perlu khawatir Embargo, karena kita bisa melakukan R&M atau membuat sucad sendiri

  33. Su-35 tidak tercantum, kalau sukhoi di ikut sertakan dlm perbandingan dengan 3 pesawat diatas, keliatan jelasnya ketiga pesawat diatas tsb kalah telak oleh kehebatan SU-35

    • Tiga syarat utama kalau di atas kertas, Sukhoi Su-35 bisa menang telak diatas Eurocanards:

      1. Semua sistem di Su-35 dapat bekerja 100% sesuai iklan Sukhoi / Ausairpower — MERAGUKAN

      2. Sukhoi Su-35 harus mempunyai availability rate yang sebanding — diatas 90% — TIDAK MUNGKIN

      3. Sukhoi Su-35 akan terus di-upgrade setiap tahun seperti Eurocanards, F-15, F-16, dan F-18 — INI JUGA TIDAK MUNGKIN.

      Sukhoi sudah berkata kalau ini adalah versi terakhir dari keluarga Flanker, jadi kemungkinan mereka sudah akan sibuk dengan PAK-FA, dan tidak mau ambil pusing lagi dengan Su-35 di masa depan.

      Lagipula, sekarang keuangan Russia sudah tekor gara2 harga minyak turun, mereka berencana mulai memangkas anggaran pertahanan:

      http://www.defensenews.com/story/defense/international/europe/2014/12/18/russias-financial-woes-could-impact-defense-spending-/20585339/

      Ini artinya industrial dan technology support Russia untuk Su-35 mempunyai prospek yang sangat jelek di masa depan.
      Dalam 30 tahun, Sukhoi Su-35 buatan tahun 2045 kemungkinan besar akan sama persis dengan model yang ada sekarang, alias jauh ketinggalan jaman.

      • Bukan berlebihan.

        Ini adalah faktor resiko yang real yang mengikuti semua transaksi pembelian pesawat tempur dari Russia.

        Sebagai contoh yang sederhana saja,

        Lihat Su-27S yang dibuat di tahun 1980-an. Kebanyakan Su-27S yang ada di AU Russia saat ini, tetap saja masih sama persis dibanding versi tahun 1980-an.

        Lihat Su-27SKM yang sudah dimodernisasi dari Su-27S === Tidak mungkin bisa di-upgrade ke Su-35; Airframe berbeda, komputer beda, mesin beda, semuanya berbeda.

        Su-35 adalah pesawat yang sangat bagus di kertas — untuk saat ini. Tapi 30 tahun ke depan, bagaimana?

        Apakah Russia akan menjamin semua upgrade untuk Su-35?

        Inilah salah satu sebab, dahulu saya jadi membelot dari “Sukhoi fanboyz” grup.

        Kalau mau di label disini sebagai “Sales”, terserah.
        Su-35 adalah pilihan yang salah untuk negara seperti Indonesia, terlepas dari semua kemampuannya di atas kertas.

        Sebagai perbandingan:

        F-16A/B Block-15 OCU dapat di-upgrade habis2an ke versi F-16C/D Block-52, memberikan kemampuan BVR, radar yang 2-3x lebih ampuh, Link-16 network, ECM, targeting pod baru, dan JHMCS untuk kemampuan offbore-sight WVR combat.

        Pakistan baru saja melakukan hal ini:
        http://www.janes.com/article/42699/tai-completes-pakistan-f-16-fleet-mid-life-upgrade

        SAAB Gripen A/B juga dapat di-upgrade ke versi C/D, dan dapat di-upgrade lagi ke versi E/F.

        • pernyataan anda sebagai fans boys sukhoi hanya tahayul belaka tanpa ada bukti yang bisa dipergunakan. anda hanya berlaku seolah2 fans boys sukhoi buat memperlancar jualan asumsi anda.

        • Terserah anda tahayul atau bukan.

          Dahulu sy sangat senang tatkala Indonesia membeli Su-27 dan Su-30 yang pertama di tahun 2003.

          Waktu itu, belum ada Ausairpower, maka sy juga sudah rajin mengikuti website ini:

          http://www.sci.fi/~fta/index.htm

          Banyak artikel disini juga ditulis oleh Carlo Kopp dan Peter Goon, kedua penulis utama untuk Ausairpower.

          Yah, untuk bbrp tahun, sy juga terbuai dengan tulisan2 disana, yang menuliskan betapa “hebatnya” Su-35.

          Tapi sy kemudian sadar, konteksnya blog ini salah. Ini hanyalah biro iklan Su-35. Isinya kurang dapat dipercaya.

          Tujuan utama Ausairpower adalah supaya Australia membeli F-22.

          Dan untuk itu, Peter Goon dan Carlo Kopp, tentu saja harus melukiskan industri pesawat terbang Russia yang luar biasa hebat, dan Sukhoi Su-35 sebagai “Rahwana”, yang tidak dapat dikalahkan oleh semua tipe lain, kecuali titisan “Batara Wisnu”, yakni F-22.

          Ugh, mereka bahkan lupa menuliskan, kalau kesiapan tempur F-22 hanya 70%, lebih rendah dibanding F-15 dan F-16.

          Biaya operasional F-22 juga hampir 150% lebih mahal dibandingkan F-15. Australia pasti bangkrut kalau membeli F-22, krn biaya op mereka bisa 2x drpd US yang mempunyai lebih dari 180 pesawat.

          Dan tentu saja, dibalik semua kehebatannya itu, Eurocanards Rafale dan Typhoon sudah berhasil mengalahkan F-22 di latihan udara Red Flag. Ini bahkan belum memperhitungkan apa F-22 dapat menandingi Eurocanards + Meteor??

          Artinya, apa yang dituliskan disana sama sekali tidak obyektif.
          Kita justru harus menganalisa dari website2 berita lan yang impartial.

          Eurocanards bukanlah tipe-tipe pesawat yang sempurna, sebagaimana Ausairpower melukiskan F-22.

          Tapi setiap pesawat ada kelemahannya, dan pd akhirnya, tergantung apakah kelemahan itu mematikan atau tidak.

          Kelemahan Su-35 adalah ketiga hal diatas tadi, supplier yang dari Russia juga salah satu kelemahan, tipe ini belum mengumpulkan banyak jam terbang untuk menjadi teruji seperti Su-30MKI, dan terakhir, tentu saja… biaya operasional Su-35 akan selangit.

          SAAB Gripen-E juga bukan pesawat yang “perfect”.
          Walaupun Gripen adalah single engine, dan tidak mampu bersaing dalam payload/range dibanding pesawat lain yg lebih berat, ini adalah pilihan paling sesuai untuk Indonesia.

          • saya hanya memberikan kritik terhadap anda supaya tulisan anda tidak bias. hanya menyajikan fakta dari suatu barang tanpa embel2 yang tidak jelas. karena data pesawat yang anda sampaikan bisa diverifikasi sedangkan pernyataan anda sebagai fans boy tidak bisa diverifikasi.

            jika kita gunakan analogi hampir semua masuk dalam kriteria. misalkan kita punya uang terbatas tetapi butuh mobil. otomatis pilihan tersedia baru atau bekas. jika bekas ada resikonya.

            jika baru muncul juga pertanyaan untuk uang terbatas itu jika beli lcgc bisa dapat 2 tetapi jika beli suv cuma dapat 1. berikutnya ternyata jalan yang kita lalui sering banjir dan banyak lubang yang dalam. maka besar kemungkinan kita beli mobil suv meskipun dapat 1 unit. ataukah kita memaksa beli sedan seharga 1 suv meskipun kita tahu jalanya berlubang cukup dalam dan sering banjir ?

          • Artikel dan Komentar @Gripen-Indonesia, adalah yang paling aktual di bandingkan dengan Artikel sebelum sebelumnya

            Karena di sadur dari Link yang KREDIBLE, macam Janes, Aviation, CA…dst…..

            Dan semuanya Masuk Akal dan Sangat Obyektif

            tinggal kita masih fobia embargo ndak, repot kalau masih fobia (penyakit jiwa), susah disembuhkan soalnya

        • rusia adalah salah satu negara pengekspor senjata terbesar saat ini kontraknya lebih dari 15 milyar dolar, belum lagi ekspor senjata di pasar gelap…terlalu lebay klo gripen vs SU-35, dilihat dari pesawat generasinya saja SU-35 4,5..jauh jauh lebih unggul dari jangkauan radar, aerodinamika, jarak tempuh, kemampuan jamming, jangkauan rudal, dsb….

          klo soal kekayaan rusia jgn ditanyalah….pesawat gripen terlalu banyak konten amerika bercokol di tubuh gripen….resiko embargo cukup menyulitkan sekalipun ada TOT, mustahil klo indonesia beli ketengan…

        • Ini sales gripen gigih bgt nawarin dagangannya yach, sampai lupa pesawat andalan kita saat ini memang masih keluarga shukoi yg jadi tulang punggung pengaman kedaulatan di Udara.

          • anda juga gigih jadi salesnya Sukhoi

          • Maklum mata pencaharian mereka itu bro ….biarin aja namanya orang cari nafkah.
            Yg penting utk kedaulatan tetep yg terbaik yg dipilih dan berdasarkan rekomendasi dari TNI dan Panglima.
            Kl berdasarkan rekomendasi TNI AU sbg pengguna dan Panglima …..mka jelas SU-35.
            Case closed.
            Sales silahkan dilanjut …..

          • TNI jatuh cinta dengan C-27J Spartan

            Pemerintah akhirnya beli C-295

            Karena ada ToT dan sudah terbiasa dengan Produk Airbus

            70% Pemerintah milih Gripen atau Typhoon

          • @SS

            Typhoon Lahh , Biar Lo2 Pada Pada Gigit jari 🙂
            Soalnya Tawaran Typhoon Real, Dibanding Gripen Tawaran palsu, Ngomongnya doang di gede2in.

            typhoon mesin nya punya sendiri, klo di ToT juga milik sendiri, bukan punya USA. nah ini yg di incer PTDI.

  34. Memang kalau konteksnya untuk ganti f5 gripen ini paling cocok. Dan kelihatanya skenarionya begitu. SU35 tetap dibeli tapi untuk ska baru, walau mungkin blm full satu ska. Thypoon juga mungkin diakuisisi tapi di mef3. Rafale yang bakalan lewat g jd pilihan.

  35. melihat kabar jerman menghentikan sementara pengiriman senjata ke negara arab pdahal barang sudah lunas.
    Kesimpulan saya tiga pesawat d atas punya potensi embargo.atau paling tidak ikut campur urusan dalam negri

  36. Menurut sy pengganti F 5 Tiger itu Gripen..karna sama2 di kelas Medium & ada TOT..untuk Heavy Fighter di isi 2 Skadron bentukan baru SU 35 & PakFa..

  37. Apa saja boleh asal handal terus diupgrade baik pswt, senjata dan pilotnya serta kru pendukungnya dan indonesia harus punya duit buat beli semuanya.. bukan bacot dan gaya yg guedeeew

    Kalau salah pilih adalah resiko yg menantang Dan haris dihadapi dengan perbaikan… adakah perbaikan di nkri?? Haha spt keledai masuk lubang yg sama

    • Kalau dibilang su belum battle proven ya coba saja perang rahasia dengan membasmi pembajak somalia.. ratakan kampungnya dengan tanah beres lihat reaksi russia ngamuk2 ndak?

      Kalau f16, tipun, rapal, grape jus anggur ingin tahu kekuatannya.. gampang bom saja opm pakai pswt tsb hahahaha dijamin langsung jadi barang rongsokan tuh pswt

  38. PERBANDINGAN EUROCANARDS
    Untuk membandingkan, Bung Gripen sebaiknya juga menyebut laporan yang dibocorkan ketika Swiss mengevaluasi ketiga Eurocanards ini. Lihat komen saya no. 122 di artikel Gripen-NG Pilihan yang Paling “Indonesia” ?. Propaganda !.

    Sayangnya (karena bocoran?) file pdf-nya rupanya discan menjadi jpg jadi susah ditampilkan. Namun bila ada yg berminat dapat saya email ke Bung Diego.

    Sari laporan adalah sebagai berikut :
    “Among the three candidates, the Rafale was the aircraft which deemonstrated the best effectiveness and suitability in the accomplishment of all types of Air-to-Air missions, Recce anda Strike missions. In adddition, the Rafale made the best impression to the pilots. The strong points of the Rafale were the quality of its sensors suach as the PESA Radar, the Frontal Optronics and the EW suite SPECTRA. The good data fusion af all its sensors allowed to provide to the pilot a very good Situational Awareness. A new concept to display all mission data has been implemented. The Recce Pod demonstrated also outstanding performances. The actual weak point of the Rafale was the lack of Helmet Mounted Sight System. The Rafale has been rated Satisfactory in the accomplishment of all types of Air-to-Air, Recce and Strike missions with some enhancing characteristics in several domains. The Rafale obtained the 1st rank in the evaluation of the effectiveness.

    The Eurofighter was able to fulfill all Mission Essential Tasks required by Air-to-Air missions. Hence, in the Air-t0- Air domin, there were severa deficiencies that prevented a good execution of some mission essential tasks. The a/c perrformances (supercruise at Mach 1.4) were among the strong points of the Eurofighter. The sensors data fusion and the EW suite performances can be mentioned among the weak points. The Eurofighter was rated satisfactory for Air Policing missions and satisfactory with comments in the accomplishment of DCA and Escort missions. The Eurofighter could be engaged in Recce and Strike missions, nevertheless there were also sveral limiting factors of the Eurofighter. The RecceLite pod provided only basic solutions for Recce tasks. For Strike missions, the Eurofighter was not able to engage multiple targets in one pass (multiple DMPI). Despite the mentioned limitations, the capabilities of the Eurofighter to fulfill Recce and Strike missions were rated as unsatisfactory. The Eurofighter obtained the 2nd rank in the evaluation of the effectiveness.

    Although the Gripen could be engaged in all type of Air-to-Air missions, Recce and Strike missions, there were several limiting factors affecting the overall mission success. Given by its design, the endurance, aircraft performances and aircraft weapon load were among the limiting factors of the Gripen. For Recce mission, the RecceLite pod was also used by Gripen. Multiple targets were not able to be engaged during Strike missions. There was no sensor data fusion between the Radar and EW suite. Among the strong points, the Gripen had three large screen to display Situational Awareness and mission data. The EW suite can be mentioned among the strong points of the Gripen. The Gripen has been rated unsatisfactory in the accomplishment for Air-to-Air and Strike missions. In the Recce domain the Gripen was assessed satisfactory with comments. The Gripen obtained the 3rd rank in the evaluation of the effectiveness.

    Based on flight test results, the Rafale is the candidate which fulfill all Swiss Airforce requirements and ended with the best score recommended as new fighter for Swiss Air Force. The Eurofighter as the best alternative to the Rafale.”

    BTW, AU Swiss punya mission Air Policing yg rupanya adalah pengamanan Davos meeting yg diadakan setiap tahun.

    • @Bung Antonov,
      Pertama-tama ini adalah perbandingan yang subjective di Switzerland — jadi apa yang menjadi kriteria report di Swiss, bukan berarti dapat dijadikan tolok ukur untuk semua Angkatan Udara lain di dunia.

      Kedua, anda menunjuk kepada dokumen “leak” dari report tahun 2009, yg dibocorkan dari DepHan Swiss.

      http://www.defenseindustrydaily.com/switzerland-replacing-its-f-5s-04624/

      Feb 13/12: Swiss 2009 evaluation leaked. Earlier accusations (vid. Jan 26/12) are given concrete form, as the confidential 2008/2009 Swiss Air force evaluation results are publicly leaked. What makes them explosive, is that they directly contradict earlier statements from Swiss military and political leadership that all 3 planes met Switzerland’s specifications. If all finalists meet specifications, then relative capability doesn’t matter, and the best deal among the eligible contenders wins. The report says that the Gripen did not, however, leaving the entire basis of the Swiss selection open to question.

      The 2009 Eval Report. According to this report external link [PDF], France’s Rafale was the only plane to meet Swiss requirements in all 3 areas – an assessment that would have created significant problems for the competition. The JAS-39C/D Gripen failed to meet Swiss threshold requirements in all 3 areas of Counter-air, Reconnaissance, or Strike roles

      Lihat entry berikutnya, di Feb 14/12:
      Defense Minister Swiss, Ueli Maurer menyatakan bahwa pdf yg berdasarkan laporan dari tahun 2009 ini sudah “outdated” — ketinggalan jaman.
      Lagipula, pesawat yg diperbandingkan dalam report di atas adalah Gripen-C/D, bukan versi E/F yang ditawarkan.

      Maurer mempertahankan Gripen sebagai pilihan yang valid, yang memenuhi semua persyaratan sebagai pengganti F-5E, dan paling cost-effective.

      Parlemen Swiss juga memberitakan kalau laporan “leak” ini tidak mempengaruhi pilihan mereka atas Gripen:

      http://www.vbs.admin.ch/internet/vbs/de/home/documentation/news/news_detail.43408.nsb.html

      http://www.swissinfo.ch/eng/controversial-choice-of-fighter-jet-defended/32122300

      • Bung Gripen Indonesia,
        Anda belum mengunduh ya. Kalau anda baca laporan lengkapnya karena yg saya komen baru flight test-nya (saya kan sdh tawarkan, kalau sulit mengunduh, saya bisa email ke Bung Diego), setelah flight test ada lagi evaluation test, dimana masing2 kandidat dievaluasi lagi sesuai scheduled uogrades masing2 kandidat. Dalam evaluasi ini, Gripen menawarkan Gripen MS21 (mungkin sama dengan Gripen NG). Ini saya kutip lagi:

        “With its scheduled upgrades, the Gripen MS21 obtained the highest delta effectiveness score. However, the Gripen MS21 is still not able to compete with the two other candidates. It never reaches the Meet Minimum Expected Capabilities in all type of missions. Based on flight test results and upgrades scheduled for the delivered configuration, the Rafale is the aircraft that can accomplish with the best effectiveness all Air-to-Air, Recce and Air-to-Ground missions. The Rafale is recommended to be The New Fighter Aircraft for the Swiss Air Force.”.

        Selanjutnya Menhan Swiss memilih Gripen karena paling murah! Tetapi setelah bocoran ini tersebar, parlemen ngotot dan meminta referendum yg pada akhirnya rakyat Swiss menolak Gripen. Seterusnya belum ada kabar kelanjutannya.

        • Saya sudah baca.
          Link pdf-nya masih ada bebas kok di Internet.

          Bocoran ini mungkin mempengaruhi referendum di Swiss, tapi boleh dibilang sama saja, karena faktor politik.

          Kalau Swiss waktu itu memenangkan Rafale, tetap saja referendum akan membatalkan deal pesawat tempur di Swiss.

          Sebenarnya campur tangan sayap kiri di sana sudah banyak bikin kacau utk kesiapan tempur Schweizer Luftwaffe (AU Swiss). Mereka skrg ini bahkan hanya dapat operasional sewaktu jam kerja (jam 8 pagi – jam 5 sore),

          http://www.bloomberg.com/news/articles/2014-02-17/invading-switzerland-try-before-8-or-after-5

          ## Report ini sendiri boleh dibilang semuanya isinya “kesimpulan”, kriteria yang dibahas tidak dituliskan secara men-detail satu per satu perbandingan subsistem dan daftar persenjataan diantara ketiga pesawat ini. Jadi sebenarnya sulit untuk pembaca yg kritis untuk menilai apa yg menjadi dasar Swiss dapat menghasilkan penilaian sedemikian rupa.

          Contoh dari yg anda kutip saja:
          “Based on flight test results and upgrades scheduled for the delivered configuration, the Rafale is the aircraft that can accomplish with the best effectiveness all Air-to-Air, Recce and Air-to-Ground missions.”

          Flight test result yang mana?
          Akserelasi ke 50,000 ft?
          Supercruise performance?
          Jenis missile mana yg dipakai untuk simulasi?
          Apakah MICA-IR dan -EM (yg dipakai Rafale) sudah dinilai jauh lebih handal dibanding kombinasi IRIS-T dan AMRAAM (untuk Gripen / Eurofighter)?

          Semuanya tidak ada jawaban yg jelas.

          Sekali lagi ini hanya kriteria peniliaian Swiss, jadi sifatnya subyektif. Bukan berarti ini akan mempengaruhi kriteria yang ditetapkan negara lain.

          Brazil jelas tidak peduli. .
          Disana Rafale kalah, dan Gripen-NG yang menang.

          Kali ini tidak ada report “leak” atau sabotase semacam itu yang menentukan kemenangan.

          Di Brazil ini yang terjadi:

          http://www.defenseindustrydaily.com/brazil-embarking-upon-f-x2-fighter-program-04179/

          Influential Workers’ Party Deputy (PT is Lula’s party, Deputy = MP or Congressman) Jose Genoino as saying:

          “France is always the better partner. Concerning Russia, everyone knows the difficulties and we don’t know what is going to happen in ten years so that we will be able to guarantee our spare parts. The USA, traditionally, does not transfer technology… We want to seek the lowest price with the most technology transfer.”

          ——————–

          According to reports, the indications are that technology transfer will be more important than cost in terms of the final choice. Defence minister Nelson Jobim:

          “Whatever the final contract it must be closely linked to national development, to help advance in the creation of a strong defense industry and therefore the technological edge we are requesting.”

          In December 2013, Brazil came to the conclusion that Sweden’s JAS-39E/F Gripen was their best choice. A contract for 36 aircraft was signed in October 2014, and Brazil’s air force (FAB) has confirmed that their eventual goal is 108 fighters in 3 tranches. Another 24 aircraft could end up serving in Brazil’s navy, as carrier-borne fighters.

          • Sebetulnya pertanyaan Flight test result yang mana? lebih tepat ditujukan ke Swiss Air Force, bukan ke saya.

            Brazil cukup dekat dengan USA + EU dan tidak pernah kena embargo. Jadi pilihannya beralasan, meskipun dia sudah rugi tidak bisa jual 24 Gripen ke Argentina karena ancaman embargo Inggris. Apakah kalau Brazil beli kita juga harus beli?

            Lain Indonesia yg juga cukup dekat tapi sudah punya pengalaman pahit sekali diembargo, jadi seharusnya ini menjadi prioritas pertimbangan. Kasus F-16 bekas adalah beda, meskipun dikasih beli tapi sampai sekarang belum diizinkan beli AIM-120 paling tidak blok C7. Bukankah ini embargo terselubung?

            Seandainya kita jadi beli Gripen, pertanyaannya juga apakah kita diijinkan beli Meteor? Belum tentu, karena USA dan PDFA pasti protes (Meteor katanya sedang diusahakan dapat dibawa F-35).

            Pada akhirnya, kecuali Indonesia jelas2 masuk blok Barat dengan segala konsekwensinya (politik, ekonomi) membeli alutsista utama yang rawan embargo adalah tetap berisiko. Risiko adalah fungsi dari kemungkinan terjadi dan konsekwensinya yang kalau diplotkan di risk matrix akan ada di pojok kanan atas yang berarti nilai risiko paling besar. Sudah kita alami dan jalani kok jangan sampai kita menjadi keledai yang terperosok 2 kali.

            Having said that, saya setuju Gripen NG adalah pesawat yang bagus, tetapi saya tidak setuju kita beli karena alasan di atas. Lebih baik cari alterrnatif yang lain yang lebih aman dari ancaman embargo.

            Apa alternatifnya? Saya lihat hanya ada 2, Rafale dan Su-35. Tinggal membandingkan saja harga, persenjataan, kinerja, suku cadang, perawatan, kesesuaian dengan kondisi geografis dll.

            Diskusi sampai disini, istirahat dulu.

          • Takut, Takut, Takut, Takut

            Kapan majunya, kalau kita takut terus ?

            Rusia saja sekarang ngak berdaya menghadapi Embargo.
            Mata uang Rubel hancur
            Industri strategis juga lambat tapi pasti akan hancur.
            Yak-130 juga pakai mesin Ukraina yang sudah Pro Barat
            Kapal Selam juga
            Sukhoi pun ada komponen yang diproduksi Ukraina

            Anda juga (Antonov) orang UKRAINA, Pro Barat !!!

            Ha…..ha…hi…hi…

          • Bung Antonov,

            Memang pertanyaan sy tidak ditujukan ke anda.

            Sy cuman menggarisbawahi kita justru harus meragukan laporan “bocoran” ini sebagai bahan pembanding Eurocanards yang jelas, karena sama sekali tidak ada detail disana yg harus dianalisa.

            Kita malah dapat meragukan authensitas-nya, apa report “bocoran” ini asli atau palsu.

            Ada kemungkinan, report ini juga sebenarnya juga sengaja dibuat (oleh orang2 Perancis) untuk menyabotase kontrak Gripen-NG di Swiss.

          • MBDA tentu akan menjual apa saja ke Indonesia, asalkan kita punya uang. Transaksi dengan MBDA justru akan menjadi iklan yang bagus buat mereka,

            “Kalau anda nggak dikasih beli senjata top-spec buatan Amrik, beli saja dari kami! Kualitasnya nggak kalah (malah lebih bagus), dan kita nggak akan pusing soal ijin FMS seperti you-know-who!”

            Ingat di artikel lalu, sy pernah menuliskan, US tidak mengijinkan UAE untuk membeli stealth cruise missile AGM-158 JASSM untuk F-16 Block-60 mereka.

            Solusi mereka: membeli MBDA Strom Shadow.

            Kecil kemungkinannya Australia memprotes pembelian MBDA Meteor Indonesia –> krn senjata ini sifatnya lebih defensive, tujuannya untuk menghancurkan F-35 atau SH, kalau ada yg berani coba2 “menjajal” pertahanan Indonesia.

            Lagipula sudah saatnya percaya diri dengan Indonesia, sebagai bangsa yang baik dan bermasa depan bagus…

            Sekarang ini kita sudah jauh dari masa sewaktu embargo.

            Indonesia skrg adalah negara yang demokratis. Sudah tidak mempunyai “dosa teritorial masa lalu (spt Timor Timur)”, dan tidak lagi mempunyai hutang HAM yang terlalu pelik (Contoh: Kenapa Jerman memblokade transaksi senjata dengan Saudi Arabia). Tentu demokrasi kita belum sempurna, tapi tidak ada alasan kenapa supplier Eropa justru mau menutup pintu ke Indonesia.

            Swedia sendiri adalah contoh yang baik.

            Patut diketahui, sebelum tahun 2000 itu saja, Swedia hampir sama sekali tidak mau meng-ekport senjata ke luar, karena takut senjatanya dipakai untuk melanggar HAM.

            Tetapi keadaan skrg: SAAB dengan dukungan penuh pemerintah Swedia, malah menawarkan ToT Gripen ke Indonesia.

        • Hasil referendum di Swiss lebih pada konteks apakah “Swiss perlu pesawat tempur baru atau tidak” dan bukan pada konteks apakah “Swiss perlu beli Grippen atau tidak”. Melihat situasi politik di Eropa dan peran Swiss yang selalu netral, telah menjadi isu besar di Swiss ketika pemerintah federal memutuskan membuang uang banyak untuk membeli pesawat tempur generasi baru.

        • Bung Antonov,

          Memang pertanyaan sy tidak ditujukan ke anda.

          Sy cuman menggarisbawahi kita justru harus meragukan laporan “bocoran” ini sebagai bahan pembanding Eurocanards yang jelas, karena sama sekali tidak ada detail disana yg harus dianalisa.

          Kita malah dapat meragukan authensitas-nya, apa report “bocoran” ini asli atau palsu.

          Ada kemungkinan, report ini juga sebenarnya juga sengaja dibuat (oleh orang2 Perancis) untuk menyabotase kontrak Gripen-NG di Swiss.

  39. Lebih adilnya ambil semua jenis pesawatnya.
    indonesia sebenarnya mampu.. kaya.
    indonesia besar bung….

    cuma saat ini masih besar korupsinya ..
    Masih besar pengaruh asingnya…
    Masih besar kepentingan golonganya..

  40. SU 35 1 SKA MEF 2, Gripen + TOT 1 SKA MEF 2 & 1 SKA MEF 3, itu saja…yg cost nya murah buat ngeronda…yg Herder buat ngejar dan Gebug maling yg coba masuk

  41. Setiap missile harganya jutaan dollar. Kalau pesawat tempur membawa sedemikian ban Setiap missile harganya jutaan dollar. Kalau pesawat tempur membawa sedemikian banyak missile dan tertembak jatuh (atau mengalami kecelakaan), sebelum berhasil menembak, maka ini adalah investasi $100 juta yang mubazir

    Kalau gak mau mubazir beli yg loakan harga rp.500 rb … huft… terus kalo gak mau tertembak atau gk mau celaka… beli miniaturnya aja buat di pajangin..

  42. intermezzo;

    kokpit rafale, minimalis dan futuristik,

    http://cdn-www.airliners.net/aviation-photos/middle/2/9/2/2016292.jpg

  43. jika pilihan utama hanya tot sebaiknya memilih typhoon. eads sudah terbukti melakukan transfer teknologi ke ptdi. selain performa typhoon yang bagus. dengan catatan kita diberi data secara detail dan aplikasi mesin eurojet buat ifx. kalau partial supply part saya rasa eads tidak berkeberatan. contohnya malaysia dengan pembelian airbus a400m beberapa unit saja bisa mendapatkan offset pembuatan suku cadangnya.

  44. Kalau menurut saya bukan Gripen vs Sukhoi 35. Kita butuh keduanya. Kita butuh ToT dari Gripen untuk melengkapi IFX, kita butuh Sukhoi 35 untuk menggentarkan lawan. Dengan kedua pesawat ini, ketergantungan kita terhadap US menjadi sangat minim. Bukan salah satu tapi keduanya kita butuhkan. Saya yakin para petinggi Indonesia sudah sadar hal ini.

    Pernyataan pejabat US bahwa Amerika sulit mengembargo Indonesia adalah sebuah harapan agar Indonesia memakai lebih banyak teknologi mereka. Sehingga lebih mudah dikendalikan. Jika Indonesia menjadi mandiri dalam teknologi atau malah lebih dekat dg Rusia, ini akan jauh lebih merepotkan Amerika.

  45. wow… tulisan yang sangat bagus
    Gripen memang pilihan terbaik sebagai pengganti armada F-5 kita.
    alasan ; cost operational, ToT & performance.

    SU-35 beda kelas bung,
    menurut saya, lebih tetaptnya untuk mengganti SU-27, nantinya.

    ingat kita butuh kemandirian, tapi kita juga harus sadar diri.. atas kemampuan kita saat ini.

  46. bung gripen 30 thn itu lama bisa aja diperjalanan nanti SU 35 berevolusi…gak ada yg gak mungkin..

  47. ketahuilah saudara, negara yang memiliki militer lemah mudah ditekan oleh negara yang memiliki militer besar dan modern, korupsi adalah soal lain silahkan diselesaikan secara hukum, militer adalah soal tersendiri yang juga memerlukan perhatian tersendiri,namun secara prinsip para pemerhati militer setuju bahwa korupsi menyebabkan pelemahan anggaran negara termasuk anggaran untuk militer oleh karena itu harus segera diberantas.

  48. gripen cocoknya buat latihan tembak Rhan

  49. …Tidak seperti Rafale, dan Typhoon yang hanya dapat memakai Link-16 (ini masih dalam pengaruh FMS US) untuk aerial network…

    hehe

    Tidak seperti Rafale,

    koma dibelakang rafale penting, artinya “hanya dapat memakai Link-16” berlaku untuk typhoon, tidak untuk rafale.

    rafale masih dapat menggunakan tactical data link buatan thales,

    Thales has developed a complete range of Tactical Data Link (TDL) solutions. On board the Rafale, these solutions offer a secure source of tactical data, including situation awareness, command & control, electronic warfare, orders and reports, flight pass and fighter-to-fighter information.
    (brosur thales)

    • idealnya memang rafale bung, hanya saja seperti rusia harus beli banyak seperti india jika ingin tot super luas.

    • + HMD untuk rafale adalah topsight dari thales,

      TopSight is a helmet-mounted sight/display system developed by Thales Group for the French Air Force Rafale next generation multi-role aircraft. It was designed to provide Rafale’s pilots with situational awareness and flight information as well as automatic target designation, tracking and acquisition. The TopSight helmet-mounted display system is coupled to the IR sensor mounted at the frontal section of Rafale’s fuselage.

      http://defenceforumindia.com/forum/indian-air-force/26441-laymans-analysis-our-last-two-mmrca-contenders.html

    • Dan tiba-tiba yang dipilih akhirnya adalah F-16 Block 60 karena tawaran dari Amerika kemaren lewat David B. Shear yang barusan berkunjung. Tekanan politik tidak bisa diabaikan. Mungkin Amerika mau kasih offset 30% komponen dikerjakan di Indonesia. Dan semua diam, gak ada lagi diskusi-diskusi embargo, justru bangga karena kita dikasih F-16 lebih bagus dari Singapore.
      Heuheuheuheu…. Liat tuh Apache, mana ada yg bilang embargo. Malah bangga, padahal buat apa ya beli helikopter mahal-mahal.

  50. Lah yang jualan mencoba memanipulasi penonton dengan mendekatkan diri kepada rafale dan Typhoon..

    Namanya sales memang begitu

    1. Jelekkan produk market leader (SU35)
    2. Jika tidak berhasil, sejajarkan dengan barang yang mampu melawan produk market leader
    3. Jika opini sudah terbentuk dan sejajar
    4. Hancurkan lagi produk market leader

    Sudahlah.. Rafale dan Typhoon sudah sering intercept di baltic (Baltic Patrol MIG 29 (Polandia tidak mengirim F16 karena rentan FOD), Typhoon, Rafale) dan ikut Red Flag, Rafale juga ikut gempur ISIS.. Gripen pernah gak ya ikut latihan atau sorti tempur? performa di pitch black saja SU30 ma F18 yang jadi sorotan, even di media Australi..

    sudahlah beli produk mahal-mahal ko cari yang belum proven..

    Fakta yang berbicara buka data dikertas yang belum terbukti

    • Waduh ….sbg gripen odong2 sy gk bs jawab ini pak.
      tapikan ….tapi …..tapiiii ….tapiiiiiiiiiiiiii tanpa battle proven pun gripen bagus pak.

      • kalau mau battle proven ya harus beli pesawat yang sudah jadi dan dipakai buat nyerang negara lain. contohnya produk amerika f-16, f-18 dan f-15. jika produk baru ya belum ada yang battle proven contohnya f-35. mungkin supaya dapat cap battle proven amerika akan menggunakannya lawan negara lemah dulu. karena tidak mungkin menyerang rusia atau china secara langsung.

        • Baca dulu artikel diatas. Gripen sudah lumayan Battle Proven, sama juga dengan Sukhoi yang belum pernah berkelahi dengan pesawat barat

          Beli Sukhoi karena Kepepet (Embargo ?)

          Beli ke barat karena kebanggaan dan memang pilihan

          • maksudku itu gripen ng mu itu apakah battle proven ?

          • Saya sudah tuliskan di atas.

            Dewasa ini, sudah tidak ada pespur yang “battle proven” — karena dua kekuatan udara dari negara yg seimbang sudah tidak pernah lagi mengadu nyawa, seperti di tahun 1980-an.

            Satu2nya pembanding adalah dalam latihan udara internasional.

            Gripen-C Hungaria sudah cukup mendapat nama dalam latihan NATO.
            Gripen-NG tentu saja belum pernah ikut, tapi akan lebih handal dibanding -C hampir dalam segala hal.

            Kita harus menunggu perkembangan selanjutnya dalam hal ini.
            Sama halnya, dengan Typhoon + Captor-E AESA + Meteor juga belum teruji. Mungkin setelahnya, akan lebih mudah untuk Eurocanards mengalahkan F-22 di latihan Red Flag.

            Masalahnya, F-22 sendiri, upgrade-nya tidak banyak mengalami kemajuan (krn jumlahnya yg terlalu sedikit).
            IRST saja tidak punya.
            Ini satu lagi yang lucu:
            Tidak seperti F-15 dan F-16 versi upgrade, F-22 bahkan belum diperlengkapi dengan JHMCS (Joint-Helmet-Mounted Cueing System) untuk mengoperasikan AIM-9x.

            http://www.flightglobal.com/news/articles/f-22-raptors-need-helmet-mounted-cueing-system-to-take-full-advantage-of-381748/

            Ooops, Ausairpower juga lupa menuliskan ini dalam artikel Betara Wisnu mereka.

          • ok bung GI, gripen ng dengan raven aesa vs f-35 (kira mungkin rcs 0.01sqm). kira2 gripen bisa mengendus typhoon di jarak berapa ? typhoon dan su-35 bisa mengedus di kisaran 90km. kalau ternyata gripen bisa mengendus itu rcs 0.01sqm di atas 120km. saya dukung anda agar pemerintah beli gripen berikut tot 100% mu itu. dalam konsep bvr yang bisa mengedus dan menembak duluan adalah yang menang walaupun kenyataanya hanyalah tergantung takdir.

          • @alugoro

            Sebenarnya sy tidak begitu mengerti bagaimana cara menghitung jarak deteksi RCS begitu.

            Dari segi performa, mungkin Selex Raven ES-05 akan sebanding dengan APG-79 di SH Australia, atau APG-80 di F-16 Block-60. Jadi masih dibawah APG-63v3 F-15SG, atau mungkin Irbis-E di Su-35 — hanya krn keduanya membawa radar yg lebih besar.

            Tetapi apakah Gripen dapat mengalahkan F-35?
            Jawabannya, bisa, tapi kunci utamanya bukan di radar, melainkan perpaduan yg memaksimalkan semua keunggulan Gripen dibandingkan F-35.

          • setuju bahwa peluang menang gripen terhadap f-35 tetap ada. hanya saja berapa % untuk semua pesawat itu datanya gelap.

  51. Klo soal psawat tempur yg pling bagus untuk Indonesia tentunya SU35.,mau beli 1 skuadron atau cuma separuh ga pa” yg pnting lengkap dg prsenjataannya.,tp klo mengejar TOT dan kmandirian Gripen pilihan yg sesuai., jg sbg antisipasi klo kfx/ifx tak brjlan spt rencna.,Slam NKRI.,

  52. @Bung Jalo, bisa dijelaskan mengenai sukhoi kita yang sekarat di Maros?

    terimakasih

    • Hehehehehe, sudah saya tulis diatas…
      Nih pesawat bagus dan kereen, tahun 2010 sudah minta pensiun dini, terbukti hawk yg mini itu masih battle proven.
      Saya kurang tahu detail kerusakannya, tapi yah katanya bermasalah seperti yg saya tulis di atas.

      • Maksudmya SU2701, 2702, 3001, 3002 ya bung? 2010 sudah pensiun??

        kalau gitu saya vote Gripen saja. masa baru 6 thn sudah pensiun. berarti sampah dong.

      • Kemungkinan besar memang karena masalah spare part, keempat Sukhoi pertama itu sudah dikanibalisasi utk menghidupi Sukhoi2 yang lebih baru.

        Masalahnya, kalau minta kirim spare part dari Russia, bukan hari ini telepon, besok udah dianter.

        Spare part mereka sering nggak ada stock.

        India sudah bukan main jengkelnya karena urusan spare part ini.

        http://aviationweek.com/awin/india-upset-russian-military-parts-supply

        When it comes to Russian aerospace products, conventional wisdom is: The equipment is good, the after-market is awful.

        Ask the Indian air force (IAF) and its officials would emphatically agree. Sourcing of spares and consumables for its Russian-built aircraft and weapon systems has sunk to a new low for the? IAF, with the government permitting it to issue multiple global tenders for spares across a range of systems. The move marks a striking break from the Indian defense ministry’s traditional practice of contracting spares from original equipment manufacturers via Rosoboronexport.

        Now the IAF is turning to vendors in Europe, Israel and the U.S. to respond to an urgent spares call for Russian-built equipment it has in inventory.

        There are more than 25 tenders on the street, with more floated each day. The service needs everything from terminals and transformers for its MiG-29 fighters to main wheels for its Su-30 fleet. It also needs multiple spares for its Il-76/-78 transport fleet, Mi-26 and Mi-17 helicopters and virtually all Russian-built ground radars, including its P-19 Danubes.

        Kalau masih takut embargo Amerika, masa tidak takut embargo spare part dari Russia? ?
        😀

        • Setuju , kalau pesen spare part kaga datang datang apa bedanya dengan embargo?

          • Jelas beda bung, kalo yang embargo, waktu ditanya sparepart si penjual pasang muka angkuh (tranlate: sapa luh),

            tapi kalo sparepart gak dateng karena stok, si penjual pasang muka nyengir kuda ato ngenes (translate: sorry bro) :mrgreen:

        • SBY saja terpaksa minta bantuan (ngemis) China dan India, untuk spare part (KW) alternatif selain Rusia.

          Memalukan, Gara-gara Sukhoi harga diri bangsa di injak injak

          Jauh beda dengan Gripen atau Typhoon, mereka yang mengemis ke kita, malah ditawarin ToT lagi

          • gara2 f-16 kena embargo kita ompong tidak ada deteren dan akhirnya terpaksa ikut ke mahkamah internasional dan kalah. kalau kita sekuat rusia/china tinggal gun boat diplomacy saja. seperti kasus lcs di mana china tetap ngotot bila perlu akan disamperin liaoning dan flying shark.

          • Sekarang khan tidak bung

            Semua F-16 sekarang semua sudah terbang mulus

            malah sekarang Sukhoi yang Grounded (Su-27SK/Su-30MK) yang lainnya menyusul, karena umur dan sulitnya suku-cadang.

            ngak perlu Embargo Sukhoi sudah Rontok

        • \Bukan Bung@G-I. Kalo masalah ada pada airframe, itu artinyapesawat digeber melebihi batas gravitinya. Saya tidak tau apa tipe sukho pertama ada Thrust vectoring nya. Secara teoritis, engine punya limiting factor pada berapa G, dia bisa bermanuver. Kalau manuver melebihi nilai batas G nya, airframe akan berkurang. Artinya usia pakai akan tereduksi lebih cepat. Selain itu, engine nya apakah secara konstan memberikan daya dorong untuk menahan beban pesawat nya sendiri (Weight). Jika engine performa menurun, maka airframe juga bakal turun. Jika airframe udah berkurang, sebenarnya bisa dikatakan pesawat tempur itu berbahaya untuk dipakai, bisa tiba-tiba hancur berantakan.

          • kalau saya melihatnya ke MUTU Metal dan disain, mungkin untuk mengurangi harga jual, biar murah

          • nih yang suka melakukan black campaign. mesin rusia untuk pertahanan banyak diexpor ke amerika dan eropa karena kualitas superior dan harga murah. coba bayangkan pesawat sebagus su-35 dikisaran harga usd 80~90m. jika dianalogikan setara ninja 250 kok dibandingkan dengan pesawat seharga usd 150m yang dianalogikan setara bebek. over price lah…

          • @Phoenix15,

            Setahu sy, pesawat buatan Barat sudah menjadi patokan dalam hal tahan lama.

            Tentu saja penggunaan pesawat untuk manuever berat (9G) akan mengurangi usia pesawat, tapi untuk pesawat Barat, ini bukan tidak dapat ditanggulangi.

            USAF masih berencana bahkan untuk memakai F-15 sampai tahun 2040.

            http://www.warisboring.com/2011/04/28/combat-aircraft-revamped-f-15s-to-counter-chinese-stealth-fighters/

            Artikel di atas diambil dari majalah Combat Aircraft, sekitar tahun 2010? Sy pernah membaca copy-nya.

          • sepertinya sebelum airframe mengalami kerusakan akibat manuver dengan g-force sangat tinggi, pilot udah black out duluan…

          • @SS:
            Makanya kita pengen tau sebenarnya kualitas export sama yang dipakai sendiri seperti apa ? Jika material titanium, dan komposit nya juga berbeda bisa dipastikan airframe life time juga beda. Bukan rahasia, jika Russia suka mengurangi kualitas ekspor tidak lebih baik, tapi seberapa persen penurunannya ?
            @Alugoro
            Anda tidak perlu berprasangka buruk jika kita sedang membicarakan kelemahan Sukhoi. Untuk versi SU-27 dan 30, engine nya hanya mampu memberikan service life 1500 Flight hour, atau 10 tahun. Perawatan engine juga sangat komplek, makanya performa nya bagaimana setelah 5 tahun, 7 tahun, itu. Kita sedang mencari tau kenapa bisa Air-frame yang bermasalah ?
            @GI
            Tidak diragukan untuk deltacanard punya kemampuan G-force yang tinggi. Patokannya ada pada T/W, dengan minimum nilai nya 1 untuk pesawat modern. Semakin tinggi tentu semakin baik. Dengan tingkat manuver yang ditawarkan oleh Sukhoi, harus nya udah dihitung pada level berapa G airframe tidak terpengaruh. Saya cukup terkejut masalah Sukhoi kita pada air-frame. Mungkin berkaitan dengan performa engine ?
            @Danu
            Supermanouverability memang ada ongkos yang dibayarkan. Apalagi jika pada kecepatan rendah, kemampuan pilot, dan ketahanan fisik sangat menentukan.

          • saya tidak berprasangka buruk kok bung Phoenix. rusia adalah exportir rocket kelas wahid. mengapa demikian karena bisa membuat rocket dengan biaya lebih murah dan memenuhi standar nato. sekarang nato cs menghentikan import mereka untuk menekan rusia. tetapi akibatnya ongkos produksi mereka meningkat drastis. mungkin ini ada berita buat pertimbangan.

            Russian firm seals $1 billion deal to supply US rocket engines
            JANUARY 16, 2015 / ENGINEERINGRUSSIA

            A Russian manufacturer on Friday announced a $1 billion deal to supply engines for the US Antares rockets making deliveries to the International Space Station.

            Russian producer Energia said in a statement that it had signed the bumper deal to build 60 engines with private US firm Orbital Science, which has a $1.9 billion contract with NASA to supply the space station.

            Deliveries of the new RD-181 engines would start in June, the statement said.

            The agreement comes after an Orbital Science rocket suffered a catastrophic engine failure in October, forcing an end to its supply missions until further notice.

        • menurut saya logic-nya udah sangat jelas, pinjam prinsip investasi, jangan taruh seluruh telur dalam 1 keranjang (atau 2, klo jatuh ruginya masih 50%), minimal 3 (down 1, sisa 67%).

          1. sukhoi karena takut embargo Amerika
          2 f-16 karena masalah spare part dari Rusia
          3. rafale – bebas dari 2 problem di atas

          catatan: gripen dan typhoon gak mungkin mengisi slot 3 karena ancaman embargo UK sementara 3 tetangga kita sekutu UK dalam FPDA.

          piece of cake…

          • sip2 setuju.

          • Numpang like bang danu
            Udah lama gak liat komen yang bermutu
            sepertinya forum udah mulai dingin dari kabar hoax dan forum lagi di goyang dari SU 35 ke typhoon terus ke rafale .f16 dan akhirnya grippen. klo nama2 tetua udah keluar asik bacanya

            salam dari SR

          • Jangan lupa Bung Danu…Perancis pernah menahan Mirage 5 dan MTB pesanan Israel walau sdh di bayar lunas karen takut hub rusak dengan wan abud….tdk ada yg bebas embargo selama bukan buatan sendiri…

            Pilihan ke 4 jd antek AS seperti Spork…dijamin aman dah…

          • salam bung C.A.K

            bung wehrmacht,

            di sisi lain sejarah yang lebih baru mencatat, perancis cuek bebek ketika tetangganya yang godmother FPDA dihantam argentina dengan exocet dan super etendard dalam perang malvinas.

            berdasarkan pengalaman DOM aceh dan malvinas, tetap
            perancis pertaruhan terbaik / best bet di luar rusia…

            tentu saja buatan sendiri terbaik, tapi itu maraton sangat panjang, ifx hanya langkah pertama, semoga generasi2 pimpinan nasional berikut kompak dalam komitmen untuk mempertinggi kandungan lokalnya.

            sekarang aja udah digoyang kok, keluar dari kfx dsb…

          • Bung danu…sejarah terbaru itu jg mencatat Argentina baru menerima 5 pesawat Maritim Super Ettendard dan 5 Exocet dari satu skadron dan 36 Exocet yg dipesan…sisanya ditahan perancis karena solidaritas dgn Inggris…itulah kenapa Argentina cm menyerang Carrier Inggris Invicible cm dengan satu Exocet diluar standar yg harusnya 2 karena cm tersisa satu setelah 4 Exocet sudah dipake buat nenggelemin Destroyer Sheffield dan Transport Atlantic Conveyor (masing masing nerima 2 tembakan Exocet sesuai standar)….itulah kenapa Invicible gak tenggelam gara gara ulah perancis yg mengembargo Argentina…soal AMX jelas perancis gak keberatan…udah jadul…out of date menurut standar barat…beda dgn stormer/scorpion yg lebih baru dan masih masuk arsenal aktif AD Inggris…

          • bung wehrmacht,

            menurut BBC, memang hanya 5 unit exocet yang dijual perancis,

            How France helped both sides in the Falklands War.
            Before the war, France sold Argentina’s military junta five Exocet missiles…
            (Mike Thomson, BBC Radio 4, 5 March 2012)

            tapi yang lebih penting,

            BBC finds evidence that French helped Argentines sink our ships.
            French technicians helped prepare Exocet missiles.
            SACRE BLEU! According to a documentary broadcast on BBC Radio 4 last night, the French cheated on us during the Falklands War by helping the Argies while they were pretending to help us.
            http://www.theweek.co.uk/world-news/falkland-islands/45704/bbc-finds-evidence-french-helped-argentines-sink-our-ships

            ralat: memang ada embargo ‘formalitas’ oleh mitterand selama 4 bulan, sementara teknisi perancis tetap berada di argentina, membantu penyiapan exocet.

            larangan penggunaan tidak peduli apakah alutsista ybs out of date menurut standar barat, f-16 block 15 ex 1980an akhir, kapal2 ex jertim semuanya out of date pada 2003,, sementara scorpion dan hawk adalah senjata kacangan (menurut ukuran mereka)…

          • hehe, belum 2 bulan udah terbukti analisa di atas,

            1. sukhoi karena takut embargo Amerika
            2. f-16 karena masalah spare part dari Rusia
            3. rafale – bebas dari 2 problem di atas

            catatan: gripen dan typhoon gak mungkin mengisi slot 3 karena ancaman embargo UK…

            ternyata alasan embargo gak hanya kepentingan UK dan sekutunya, tapi juga masalah HAM, artinya lebih ribet lagi…
            http://jakartagreater.com/gara-gara-ham-swedia-hentikan-kerjasama-pertahanan/

            walau rafale lebih mahal, resiko embargonya paling kecil, masih wajar jika harganya premium, daripada lebih murah terus lumpuh karena embargo ?

  53. Kalo indo beli gripen fungsinya untuk apa???
    Untuk melindungi wilayah indo???
    Lawan su-27-30 aja udah kalah
    Apalagi lawan F-35 milik singa/ausie

    • Gimana Lwn ausie dan si singa kalau Sukhoi hanya bisa pakai 6 thn??

      Itu 2701, 2702, 3001 , 3002 thn 2010 sudah pensiun bung. alias belum battle sudah rontok.

      Terus terang Tadinya saya 50:50 tapi kalau seandainya benar baru 6 thn sudah pensiun . Jelas berubah 90:10 saya pilih gripen atau typhoon.

      • perhitungan pesawat berdasarkan jam terbangnya bukan berdasarkan kalender. jika tiap hari digunakan otomatis akan cepat menyentuh usia maksimum pemakaian. apakah itu f-16 ataupun su-30. karena perbedaan filosofi desain berbeda maka berbeda juga maintenancenya. contoh sekarang barang elektronika menggunakan metode sukhoi. rusak salah satu bloknya langsung diganti baru blok tersebut dan jarang yang mau otak-atik per komponennya. contoh komputer, mesin cuci dsb.

        • Gripen bisa dipakai berhari-hari, AWET

          Su-27SKM dan Su-30MK2
          Airframe maksimum 25 Tahun, Rata rata Hanya 15 Tahun
          Mesin AL-31F rontok hanya 1500 jam, rata-rata hanya 1.000 jam

          malaysia malah pensiunkan MIG yang masih berumur 15 tahun

          F-16 Block 52+ TNI dan (Gripen Juga)
          Bekas tahun 1985-87, masih bisa dipakai sampai 2040, 50 tahun lebih.
          Mesin GE dan PW rata-rata 7.000 jam, masih bisa diupgrade lebih panjang lagi

          Bumi langit bedanya

      • dan saya yakin seyakin yakinnya jika gripen/f-16 digunakan buat patroli keliling indonesia dengan jam terbang yang tinggi juga apalagi ditambah tidak ada dana yang dialokasikan untuk maintenance pasti akan menemui fakta yang sama dengan sukhoi. ataukah mungkin bisa lebih buruk ? hanya tuhan yang tahu.

        • Hanya tuhan yang tahu, amiiiiin, priest ?

        • Ini jelas tidak bisa diperbandingkan.
          Sudah menjadi rahasia umum, pesawat tempur buatan Barat, lebih tahan lama dibandingkan buatan Russia.

          Gripen sendiri masih cukup baru — jadi belum banyak unit yang mengumpulkan jam terbang gila2an.

          Tapi service life untuk Gripen dan F-16 sudah direncanakan dari semula untuk mencapai 8,000 jam terbang. Dan ini tidak akan berakhir disana.

          Banyak F-16 yang sudah terbang sejak tahun 1980-an (terutama milik NATO dan USAF), justru memberikan contoh yang baik:

          http://www.dodbuzz.com/2014/08/20/f-16-grounding-highlights-need-for-upgrades/

          ““As aircraft accumulate flight hours, cracks develop due to fatigue from sustained operations,” Lt. Col. Steve Grotjohn, deputy chief of the program office’s Weapon System Division, said in a statement. “Fortunately, we have a robust maintenance, inspection and structural integrity program to discover and repair deficiencies as they occur.”

          The F-16 has been undergoing durability testing at Naval Air Station Fort Worth, Texas, where many of the planes are based, to determine what modifications are needed to increase the aircraft’s service life from 8,000 flying hours to as many as 12,000 flying hours.

          Jadi US masih terus bekerja dengan airframe2 F-16 yang sudah tua, dan terus mencoba memperpanjang usianya, dan melebihi desain awal maksimum yang hanya 8,000 jam terbang.

          Inilah sebabnya pasar F-16 bekas masih cukup laku.
          Kalau mereka terus di-upgrade, masih bisa tahan terbang 20 tahun lagi.

          Yordania dan Chile akhir2 ini masih memborong F-16 MLU ex-negara2 NATO.

          F-16 Block-52ID sebenarnya adalah produksi Block-25 tahun 1985 — tapi karena baru saja menjalani SLEP (Structural Life Extension Program), masih akan bisa terbang terus sampai tahun 2034 – 2035.

          Sebaliknya, kita justru harus mempertanyakan:
          Su-35 di-desain hanya untuk 6,000 jam terbang (lebih sedikit dibanding F-16 & Gripen — 8,000 jam), dan 30 tahun (F-16 dari tahun 1980-an, sudah 30-tahunan masih bisa terbang sekarang).

          Apakah benar Su-35 dapat tahan 6,000 jam, atau jangan-jangan 4,000 jam saja sudah bakal rontok semua?

          • untuk konsep modularity memang nato lebih bagus kok. karena ini barang mahal. dan pada saat desain usia komponen juga beraneka ragam. nah karena beraneka ragam usianya maka dibuatlah desain untuk perggantian komponen secara parsial. jika suatu desain dibuat dengan usia pakai yang sama pada saat sudah mencapai umurnya otomatis beli baru dan ganti saja. karena kalau diganti secara parsial jatuhnya mahal karena jika secara hitungan selisih umurnya kecil. vendor besar seperti samsung dan untuk produk consumer electronics mereka tidak menerapkan servise center yang rumit. jika trouble shooting yang kena ic micon otomatis costumer diganti baru.

          • klo soal tua sih, mig-21 india hasil akuisisi sejak 1964 akan digeber hingga 2019…

          • Kanibal, itu kuncinya

            India punya Ratusan, dan Industri dirgantaranya sangat maju, mereka bisa merakit sendiri Su-30MKI

            Kita hanya punya 16 Sukhoi, yang dikanibal apanya ?
            Belinya di CICIL lagi

          • hehe, berarti tahan lama juga, asal ada sucadnya (=dukungan industri dirgantara)…

          • akhirnya balik lagi TPM (total preventif maintenance) nya jalan tidak dan selanjutnya anggaran ada tidak untuk maintenance sesuai tpm.

          • Betul, semuanya bisa berjalan kalau kita mandiri dengan jalan ToT biar cepet.

            Sekarang yang mau ToT 100% hanya Gripen dengan pembelian sedikit

            Kalau Sukhoi saya kira tidak mau (paling hanya service mandiri doang), karena mereka sangat amat pelit

      • Terlalu ngaco klo ada yg blg su pembelian pertama pensiun.jgn menyebarkan berita yg ga jelas. Klo bs d tampilin fotonya masih utuh & terawat berani LAMBURg??????.

  54. wah.. berarti klaim dari komen Mbah Bowo ada benarnya juga dong bung pedro baretta..?? memang sampai saat ini ilustrasi nine dash line masih tetap di tampilkan oleh pihak china di wilayah LCS dan belum dicabut walaupun sudah banyak mendapatkan kecaman dan tekanan dari sebagian negara anggota Asean. dan garis garis itu juga memotong wilayah ZEE laut kita di Kep. Natuna. kalo tidak diantisipasi secepatnya kita bisa kecolongan lagi seperti sipandan dan ligitan..
    dan kalo melihat pengadaan heli serang Apache dari US ( dan pengadaan apache sudah ditampilkan di artikel hari ini ) untuk ditempatkan di natuna mungkin juga sebagai bentuk antisipasi merembesnya konflik LCS dengan strategi alutsista dari blok T diahadpi dengan Alutsista blok B.. bahkan Pak Menhan juga mengajukan tambahan anggaran untuk alutsista., kira kira clue ini arahnya untuk sektor pertahanan mana yaa??
    monggo dibahas bersama sama..

    • Mengapa digambarkan sebagai garis putus-putus? Karena mudah dimodifikasi. Garis yang “putus” bisa (dan pasti akan) ditambahi garis lain yang menjulur keluar. Tiongkok (dengan tentaranya yang barbar) tidak akan “mencuri” secara diam-diam seperti yang dilakukan AS dkk.

  55. monnggo2

    Mau Gripen
    Mau Sukhoi
    Mau Rafale
    Mau Toyphon
    Mau F16
    Mau F 35
    Mau F22 Raptor
    Mau J-15
    Dst…..

    Sek Penteng Gek Ndang dituku
    Nek Meng wacana tok, rasah Dibahas

    Urep Kudu Jelas, Nimpi yo Ngimpi tor gek ndang Tangi, Ados terus Diwujudke

    Kang Jokowi gek dang seng dipil seng endi gek dituku.

  56. Diantara trio Eurodeltas ini dari dulu sampai sekarang saya pilih Rafale saja..

  57. hati hati dengan Gripen ,masalahnya mesinya dari Asu & Masalah Hasan Tiro lagi,,,,kita harus tetap beli SU 35 BM dalam MEF II 2015 – 2019,untuk mengimbangi kawasan Regional & Asia Pasifk,apalgi Ausie ,Sonotan , Upil mau mengakusisi F 35 – F 22,,,,Jangan sampai kita tergiur TOT 100 % ama Gripen,,,,didunia ini tidak ada makan gratis,,,ingat kasus Timor – Timur ,Ligitan – Sigitan.dalam kurun waktu 20 – 30 tahun, masalah dunia terletak dikawasan Asia Pasifik,,,,,ingat Konflik dalam negeri ( Air Asia , KPK – POLRI ,Eksekusi Bandar Narkoba,Freeport ,

  58. nyimakk

  59. Saya pribadi sangat khawatir dan prihatin dengan kabar bahwa Sukhoi kita yang sekarat (kalau berita benar), sungguh kerugian yang luar biasa mengingat umurnya yang masih anak-anak. Apa yang salah?

  60. Bahasa sales wkwkwk piss :V

  61. Mas mas f16 blok 40 di gurun/boneyard masih banyak lho,,,,
    Lumayan kan budget pengganti f5 dpt 2-3ska f16 blok52++.
    Soal battle proven sudah pasti lah,,,emangnya si battle dreamer grape n su.

  62. NGGA ADA YG SALAH JIKA PILIH GRIPEN SAAB UTK MENGGANTI F-5 YG SDH TUA, TOH SELAMA INI TUGAS F-5 JUGA NGGA BERAT2 AMAT, PATROLI AJA…..

    TETAPI UTK EFEK GETAR & MEMBERI PERIMBANGAN KEKUATAN MILITER DI WILAYAH, APALAGI OKTOBER 2014 YG LALU AUSTRALIA SDH MENERIMA 1 UNIT F-35 DARI LOCKHEED MARTIN, MAKA NGGA ADA PILIHAN LAIN UTK MELENGKAPI KELUARGA FLANKER DGN Su-35, APALAGI PABRIK PEMBUATNYA ROSOBORONEXPORT MELALUI DUBES RUSIA DI JAKARTA DENIS MANTUROV SDH SETUJU MEMBAGI ILMUNYA KPD INDONESIA.

    JADI APALAGI, NGGA ADA YG PERLU DIPERDEBATKAN ?….GITU AJA KOK REPOR…

    • Belum ada bukti kalau Su-35 adalah lawan berat F-35, semua masih teori

      Yang sudah praktek, hanya Typhoon dengan melawan F-22, dan dimenangkan (tipis) Typhoon.

      Sedang Gripen C/D berhasil mencundangi Typhoon.

      sedang F-35 adalah versi Downgrade dari F-22.

      Baca Artikel di atas bung

      • NGGA PERLU SAYA BACA ARTIKEL YG BOMBASTIS, SAYA MENGAMATI FLANKER FAMILY SEJAK BU MEGA PERGI KE RUSIA MENEMUI PUTIN THN 2004, SAYA SEPENDAPAT DGN LANGKAH BU MEGA, MEMBELI ALUTSISTA DARI AS & SEKUTUNYA “RAWAN DIEMBARGO”….PERISTIWA PALING MENYAKITKAN ADALAH “INSIDEN DI ATAS LAUT BAWEAN 3 JULI 2003″…

        BUAT KITA BANGSA INDONESIA SDH CUKUP DGN KEPONGAHAN AS & SEKUTUNYA….INGAT !…..KITA MEREBUT PAPUA THN 1962 DARI BELANDA DGN MAYORITAS ALUTSISTA DARI UNI SOVYET (RUSIA SAAT INI), SPT KOMAR CLASS (KRI MATJAN TUTUL), FREGAT-DESTROYER-PENJELAJAH SVERDLOV CLASS (KRI IRIAN) YG PUNYA JULUKAN “MONSTER LAUT” DLL

        SAAT INIPUN KITA MENEGAKAN KEWIBAWAAN WILAYAH UDARA DGN SUKHOI Su-27 & 30 YG MEMPENCUNDANGI F/A-18 SUPER HORNET RAAF, SILAHKAN ANDA BERKOMENTAR TAPI KENYATAAN MENUJUKAN LAIN !…

    • Satu lagi mitos disini…..

      Karena kita sudah punya Su-27/30, ini bukan berarti langkah logis selanjutnya adalah membeli Su-35 untuk “melengkapi keluarga Flanker”.

      Masalah utamanya begini, sekarang ini Sukhoi mempunyai tiga versi Flanker yang berbeda (tidak mempunyai kesamaan kecuali kemiripan bentuk), dan setiap versi tidak dapat di-upgrade ke versi yang lain.

      Ketiga versi Sukhoi:
      ## Su-27SK/SKM dan Su-30MK / MK2 — ini versi yang paling basic, produksi KNAAPO —- hanyalah modernisasi sedikit dari Su-27 bertehnologi tahun 1980-an..

      ## Su-30MKI / MKM / SM — ini adalah keluarga Su-30 dengan front-canard, berbasiskan tehnology-demonstrator Su-35 / Su-37 di pertengahan tahun 1990-an. Diproduksi Irkutsk berbasiskan permintaan India, dan sejak itu sudah dijual ke Malaysia, Algeria, dan akhirnya dibeli Russia sendiri.

      ## Su-35S — tidak ada persamaannya dengan tehnology-demonstrator di tahun 1990-an, tapi model yg sama sekali baru. Produksi KNAAPO. Airframe baru, mesin baru, komputer baru, dan semua sistem baru.

      Ini artinya, kalau Indonesia membeli Su-35S, ini adalah pesawat yang sama sekali baru. Hampir tidak ada persamaan dengan Su-27/30 yang sudah kita miliki.
      Hal ini tentu saja akan memusingkan masalah training, dan maintenance

      Indonesia harus membuat daftar spare-part baru khusus untuk Su-35, dan sudah dibahas disini, masalah spare part dari Russia itu nightmare….

      Biaya operasional untuk Su-35S, tentu saja akan dengan mudah menembus Rp 500 juta / jam karena kesulitan2 ini….
      dan belum tentu pesawat akan selalu siap terbang setelah bbrp bulan (krn belum tentu Russia mau kasih spare-partnya)…

      Masalah lain: Apakah semua sistem di Su-35S yang sama sekali baru akan terjamin bekerja 100%??

      Russia, Sukhoi, dan KNAAPO tidak akan dapat memberikan jaminan.
      Karena tipe ini belum teruji cukup lama di lapangan, dan mengumpulkan cukup banyak jam terbang dibandingkan kedua versi Flanker yang lain.

      Kalau memang Indonesia mau membeli Flanker lagi (dan sebaiknya jangan!), Su-30 SM / MKI akan menjadi pilihan yang lebih terjamin.
      India sudah memproduksi 200 pesawat, Algeria dan Malaysia sekitar 50 pesawat lagi, sedangkan Russia sendiri sudah memesan 75 pesawat.

      (walaupun tipe ini-pun sudah mempunyai segudang masalah.)

  63. Mengungat luas wialyah NKRI & musuh potensialnya maka sebaiknya RI tetap akuisisi min 16 unit SU 35BM sbg efek daya tangkal & penggentar,,mempertimbangkan harga beli, tawaran TOT & utk pengembangan pespur dlm negeri sebaiknya tetap akuisii 32-48 unit JAS Grippen 39 NG dgn devoplemnt maxiumum veri IND mempertimbangkan luas wilayah yg didominasi laut. Lupakan Typhuuaan, F16, hrg mahal, spce di downgrade & rawan embargo

  64. Saya 1 dari sedikit pemirsa disini yang beraliran Rafale. Seperti kata bung Danu diatas, Rafale bebas embargo dan problem sucad. Yang paling penting omnirole-nya itu, untuk misi apapun bisa. Ground attack ayo, air superiority bisa dan maritime strike juga oke sekaligus bisa melindungi armada AL kita. Diadu sama F-15 SE, F-35, F-16 block 52, F-18 E/F SH, atau si Growler yang sudah atau akan dimiliki para tetangga kita juga masih sanggup. Efek deteren juga dapat dibanding beli F-16 block 25 hibah ( walaupun bisa dipakai ngeronda sih ). Yang terakhir harga juga 11-12 sama para pesaingnya karena saya nggak yakin Grippen NG kalaupun dibeli kosongan hanya USD 50-60 juta aja..

    • Masak iya Rafale bebas Embargo ?

      Yang bebas embargo adalah MANDIRI dan EKONOMI yang kuat, seperti China

      • perancis terbukti gak melarang penggunaan senjata buatan mereka di aceh 2003.

        dan gak ada negara sekutu perancis di sekitar kita…

        • Sayangnya perancis gak jual dengan embel2 TOT. Transaksi dengan India juga belum clear karena Hal TOT, makanya Mereka gak gelar dagangannya disini sudah tau requirement RI wajib dengan TOT

          • you can’t always get what you want…

            kita harus belajar untuk bisa fleksibel disaat2 tertentu demi tujuan yang lebih strategis.

            orang perancis bilang,

            c’est la vie
            🙂

  65. ok yang bisa saya simpulkan kira” begini :
    – jika dilihat dari potensi ancamannya adalah pesawat 5th gennya tetangga maka pilihan untuk mengcounternya adalah : SU35 dan upgraded thypoon karena versi ekspornya pakfa masih lama keluar
    – jika dilihat dari cost flight per hour dan maintenance yang sesuai dengan budget kita untuk patroli maka pilihannya adalah : grippen dan f16
    – jika dilihat dari sisi kemandirian industri alutsista + ToT dan ancaman embargo maka pilihannya adalah : thypoon dan grippen ( dengan catatan ToT dengan pembelian dalam jumlah yang sedikit )
    – jika dilihat dari visi maritime strike role maka pilihannya : SU34 dan rafale ( maritime ya bukan ground )

  66. opo iki

  67. kayaknya harga gripen kemurahan tuh, koq antara $50-60 juta, mungkin antara $150-160 juta x, ,

  68. mengapa harus membuat kalo bisa beli? ini watak kita sudah di hafal sama negara2 luar.

  69. Melihat kemampuan gripen sbgai medium fighter,bgus untk jd pespur patroli dn pncegat,untk heavy figter tentunx su 35 tdk dpt d banding2kan dgn gripen,mskipun bru d ats krtas,tetp sja ni adlh pesawt yg plg menakutkan untk AS dn sekutunx.

  70. Ini komentar yang berbobot dan mencerahkan, sepertinya bualan mbah bowo tempo hari bisa jadi warning buat Indonesia lebih wasapada, terimakasih bung.:)

  71. :Mrgreen:

  72. 2. Menjadi negara kita baik memang tidak serta merta membuat negara lain jadi baik terhadap negara kita.

    Setidaknya mengurangi perlawanan / ketidaksukaan negara lain terhadap negara kita.

    Menjadi baik saja, negara lain belum tentu baik thdp negara kita, apalagi kalo negara kita jahat / tidak baik kepada negara lain?

    SBY dgn “zero enemy thousand friends” itu saya anggap masih positif. Lebih tepatnya : musuh tak dicari, tapi pantang mundur jika berhadapan.

    3. Saudi Arabia diembargo Jerman karena apa? Soal keamanan, ya?

    Soal ekonomi, tidak bisa juga berdiri sendiri, butuh keamanan.

    Kalau saya menangkap, kondisi2 yang disebut bung phoenix15 itu tidak berdiri sendiri, tetapi tetap bergantung satu sama lain.

    Logikanya, sulit untuk bisa menjual senjata dgn ikhlas kepada potensi menjadi musuh, walau musuh punya duit banyak.

    • 2/ sebaik apapun hubungan kita dengan suatu negara, jika negara tsb mempunyai keterikatan khusus untuk membela tetangga2 kita dalam situasi perang (entah melalui akad FPDA, anzus dsb) otomatis mereka akan “lebih baik” kepada para tetangga tsb…

      3/ …sulit untuk bisa menjual senjata dgn ikhlas kepada potensi menjadi musuh, walau musuh punya duit banyak…

      musuh sekutu saya adalah musuh saya, otomatis gak mungkin saya menjual sucad (=embargo) pada negara yang berkonflik dengan sekutu saya, wong saya diwajibkan perjanjian untuk membantu sekutu2 saya tsb…

  73. Tanda mau perang aja belum, Indonesia baru aman2 aja nih, daripada buat prsiapan perang (yg memang Su 35, pilihan terbaik) masih diangan, mending fokus ke Development, disini tawaran barat jadi menggiurkan. PT DI berkembang, pesanan sucad melimpah, berkembang industri sucad dalam negeri. SDM Majuu

    Go Kemandirian !!

 Leave a Reply