Apr 212014
 

Ilustrasi Cut Nyak Dhien pada lembar uang RI

Pada 11 desember 1901 Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriatmaja yang digelari “Pangeran Mekah” menerima tahanan Politik dari pemerintahan Hinda Belanda.

Sang Bupati sedikit heran menerima titipan tahanan politik tersebut. Bupati berpikir akan mendapatkan Tahanan Politik yang Gagah Perkasa, seorang Pejuang yang Tangguh yang mempunyai pengaruh yang besar di daerah asalnya, sehingga perjuangan tahanan politik tersebut bisa memberikan pengaruh negatif akan kekuasaan belanda dalam melakukan penjajahan di bumi Nusantara.

Mungkin sang bupati membayangkan akan dititipi seorang tahanan politik sekelas Pangeran Diponegoro yang terkenal memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan Pemerintah Hindia Belanda yang tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.

Pangeran Diponegoro yang tertangkap dan diasingkan dengan operasi licik Belanda dimulai pada tgl 20 Februari 1830 saat sang Pangeran dan colonel cleerens bertemu di remo kamal Begelen (sekarang wilayah Purworejo). Kolonel Cleerens mengusulkan agar Pangeran Diponegoro berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Jendral Markus de Kock dari Batavia.

Pada 28 Maret 1830 Pangeran Diponegoro bertemu dengan Jenderal de kock di magelang dan memaksa berunding dan menghentikan perang. Pangeran Diponegoro menolak tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti.

Hari itu juga Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran kemudian dibawa ke gedung Karisedenan Semarang dan langsung dibawa ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April dan sampai 11 April 1830 dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Musium Fatahillah) sambil menunggu penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van de Bosch. Pada tgl 30 april 1830 keputusan keluar. Pangeran Diponegoro, Raden ayu Retraningsih, Tumenggung Dipasana dan isteri beserta pengikutnya seperti Mertaleksana, Banteng wereng dan Nyai Sotaruna DIBUANG ke Manado dengan menggunakan kapal Pollux pada tanggal Mei 1830 dan ditawan di Benteng Amsterdam dan pada 1834.

Pangeran Diponegoro dipindahkan kebenteng Roterdam di Makassar Sulawesi selatan dan wafat pada 8 Januari 1855 dimakamkan di Jl Diponegoro kelurahan Melayu Kecamatan Wajo empat kilometer di sebelah utara pusat kota Makassar.

Pemikiran Bupati Sumedang akan mendapatkan titipan Tahanan Politik sekelas Pangeran Diponegoro sirna karena hanya mendapatkan Tahanan politik seorang wanita tua renta yang rabun dan memakai pakai lusuh yang hanya itu yang dipunyai melekat di tubuhnya. Sebuah Tasbih tak lepas dari tangannya juga sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Perempuan Tua renta itu bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda. Melihat kondisi tahanan politik yang seorang wanita tua renta dan rabun dan punya penyakit encok, sang bupati tidak tega melihat kondisinya, apalagi dilihat wanita tersebut sangat taat beragama maka sang Bupati tidak menempatkan ibu tua itu ke penjara tetapi dititipkan ke H.Ilyas seorang Tokoh agama di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan tua itu tinggal dan dirawat.

Masyarakat dan Bupati Sumedang tidak tahu siapa nama ibu tua tersebut dan apa dosanya terhadap pemerintah Hindia belanda sehingga tega teganya membuang ke Sumedang dan menjadikan Tahanan politik. Apa kekuatan dan pengaruh si ibu renta tersebut ?. Masyarakat Sumedang banyak yang membawakan makanan dan Pakaian karena menaruh Hormat dan simpati kepada ibu tua tersebut. Sang Ibu tua renta itu sangat anti pemberian makanan, pakaian dan apapun dari pemerintahan Hindia Belanda. Sang ibu tua itu sangat membenci Belanda tampak dari sorot matanya yang rabun dan sikapnya yang keras bila mendengar pemberian dari pemerintah Hindia Belanda. Masyarakat Sumedang menyebut dan mengenalnya sebagai Ibu PERBU.

Ibu Perbu tidak lama mengalami pengasingan di Sumedang dan pada Tanggal 6 November 1908 meninggal dunia dan dimakamkan secara terhormat di Gunung Puyuh sebuah Kompleks pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang tak jauh dari pusat kota Sumedang. Sampai wafatnya sang ibu tua, sang Bupati dan masyarakat Sumedang tidak tahu siapa sesungguhnya Ibu Perbu hingga kemerdekaan Indonesia.

 

Ketika masyarakat sudah berganti generasi dan sudah melupakan sosok ibu Perbu perempuan tua yang rabun tersebut, 60 tahun kemudian terungkap siapa sosok sejatinya ibu Perbu tersebut. Yaa Ibu Tua renta yang rabun dan mempunyai penyakit encok tetapi tegar itu ternyata seorang Garuda wanita Indonesia yang Tangguh  dan seorang Pejuang wanita yang ditakuti oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Ibu tua itu adalah “Tjoet Njak Dien”

“Tjoet Njak Dien” seorang Pahlawan wanita Aceh yang telah diasingkan ke pulau Jawa, Sumedang Jawa Barat. Pengasingan itu berdasarkan Keputusan no 23 (Kolonial Verslag 1907:12), dan dengan mudah dipastikan bahwa ibu Perbu itu tak lain adalah “Tjoet Njak Dien” yang diasingkan Belanda bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Tengku Nana berusia 15 tahun.

Pantas saja pemerintahan Hindia belanda harus mengasingkan ke Jawa karena takut pengaruh sang Garuda Wanita Indonesia ini sangat besar di aceh. Proses penangkapan sang Garuda wanita ini tidak kalah liciknya dengan proses penangkapan Pangeran Diponegoro dan khabarnya anak dari sang ibu juga diculik oleh orang orang suruhan pemerintah Belanda.

Masih teringat kata kata sang Garuda wanita Indonesia yang membakar para pengikutnya saat mendengar khabar suaminya Teuku Umar telah gugur di medan perang. Kata kata ini untuk terus melawan penjajahan Belanda. kata kata tersebut berbunyi begini:

“Di tempat itu Arwah Umar (Teuku Umar) akan menyertai kita ! Dari sanalah jugalah kita akan memenuhi tugas tugas kegerilyaan kita seperti yang dilakukan oleh Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi Kafir,

Pang La’ot ..Selama aku masih hidup kita kan memiliki KEKUATAN, Perang Gerilya ini akan kita teruskan!!. Demi Allah Polim masih hidup ! Bait Hidup ! Imam Longtoba Hidup !Sultan Daud Hidup ! Imam Longbata Hidup ! Sultan Daud Hidup !. Menantuku Teuku Majet di Tiro masih Hidup ! Anakku Cut Gamblang masih Hidup ! Ulama tanah Abee Hidup ! Pang La’Ot Hidup ! Kita semua masih Hidup! Belum ada yang KALAH.

Umar memang telah syahid ! Marilah kita meneruskan pekerjaannya untuk Agama ! untuk Kemerdekaan bangsa kita ! Untuk Aceh! ALLAHU AKBAR”

Saya saat ini mendengar kata kata sang Garuda wanita itu merinding rasanya betapa hebatnya sang Garuda wanita dengan keyakinan dan kekuatannya membebaskan ibu pertiwi dari cengkraman penjajahan. Dan ternyata angan angan sang bupati Sumedang Pangeran Aria Suriatmaja menerima tahanan politik sekelas pangeran Diponegoro tidak salah, ternyata yang diterima adalah seorang Garuda wanita Indonesia yang ahli dalam bergerilya. (by Satrio).

  64 Responses to “Perjuangan GARUDA Wanita Indonesia”

  1. pertamaxxxxxxxxxxxxx

    • Numpang pertamaaxxx yaaa… 😀

    • SILAHKAN untuk siapa saja mengirim Artikel ke JKGR
      Karena akan menambah Ilmu dan wawasan para warjager semua

      Saya hanya kebetulan orang pertama yang menyumbang artikel diJKGR
      Sebelumnya saya juga tanya dulu ke bung Diego apakah diperbolehkan menyumbang Tulisan
      Dan Alhamdulillah telah diikuti oleh Warjager lainnya

      Monggo ditunggu artikelnya

      • Bung Satrio..! Nice artikel..! Tapi koreksi sedikit. Maaf, makam Pangeran Diponegoro tuh bukan di Wajo. Tapi betul-betul di pusat kota Makassarnya, tepatnya memang di Jl. Diponegoro, di samping kompleks pasar sentral Makassar. Daerah itu dibangun dan dikelola oleh keluarga H. Jusuf Kalla and the gang, jadi alhamdulillah sangat terpelihara, bahkan perumahan keturunannya juga berada tidak jauh dari lokasi makam, cuma jalan kaki sekitar 5 menit. Maaf sekedar koreksi bung..! Soalnya daerah Wajo sendiri, sesungguhnya sangat jauh dari Makassar, bukan 4 km, tapi 4 jam perjalanan darat. Salam hangat selalu..!

        • Memang wilayah daerah dimakamkan P Diponegoro…memiliki sebutan “Wajo’ krn dahulunya merupakan wilayah pemukiman suku Bugis asal Wajo Sengkang di kota Makassar …Jaraknya hanya 1 sd 1,5 km dari Lapangan Karebosi….Skr daerah tersebut merupakan daerah bisnis …dikota Makassar….saya dulu hampir tiap hari lewat jalan ini dan melihat makam beliau ……….

        • @Bung yayan terimakasih atas infonya

          @Bung Traveler terimakasih atas tambahan infonya

          Kecamatan Wajo dikota Makasar mempunyai beberapa keluarahan yaitu:
          1 Butung
          2 Ende
          3 Malimongan
          4 Malimongan Tua
          5 Mampu
          6 Melayu
          7 Melayu Baru
          8 Pattunuang

          Jalan Diponegoro berada di Timur Jln Sangir berujung ke jalan andalas.
          Daerah situ dekat dengan pelabuhan mungkin dulu satu area dengan “benteng Roterdam” tempat pangeran Diponegoro diasingkan
          cmiiw

        • Koreksi sedikit bung yayan…. bung berdua tidak salah, mungkin menurut bung yayan kalo yang dimaksud dengan wajo nya itu sendiri adalah kabupaten wajo ya memang jauh dari kota makassarnya bung, sekitar 200an km lebih, tp kalo yang dimaksud dengan bung satrio wajo yang dimakassar adalah kecamatan wajo itu juga benar, karena letaknya memang di kecamatan wajo bung makan pangeran diponegoro …. 🙂 cmiiww….

        • bung Satrio kykx hapal betul seluk beluk kota makassar. orang makassar ya bung.?

        • wah…. bung@satrio… tahu betul seluk beluk di makassar dan sulsel, Orang makassar ya? jgn2 lahir dekat2 kab. wajo nih???

          numpang lewat, SR…
          salam Indonesia Raya….

      • Upps..! Maaf bung Satrio, saya yang salah lihat. Maklum tadi pagi saya membacanya sambil jogging. Apa yang anda utarakan adalah benar.! Mohon maaf atas kesalahan komentar saya. Saya berharap tidak merusak esensi artikel anda. Sekali lagi saya mohon maaf atas kekeliruan saya. Tadi saya sepintas melihat kata Wajo, tidak terbaca kata kecamatan yang mendahuluinya, jadi yang saya pikir adalah kabupaten Wajo. Hehehe..! Maaf bung Satrio..! Salam hangat selalu..!

        • Gak papa kok bung yayan gak jadi masalah

          Ini ada request dari warjager artikel dengan judul
          Singapura,LCS dan Mbah bowo
          monggo di elaborasi disebuah artikel
          hehehehehe

  2. PERTAMAXXXXXXXXXX 😀

  3. slamat hari kartini deh

  4. Mantap

  5. hadeuh telaat :mrgreen:

  6. PERTAMAXXX

  7. Kelicikan belanda tetap dan untuk selamanya.

  8. garuda wanita…

  9. malam warjager & Sesepuh..

    ijin nyimak Bung @Satrio

    Salam

  10. biografi

  11. Ingat para TKW ya sedulur

  12. nompang pertamax nya y. . .tarik 3. . .

  13. MERDEKA!terima kasih bung satria artikelnya sangat menggugah.jadi teringat cerita cerita dari alm ayah tentang betapa susahnya kehidupan bangsa kita dijaman perjuangan “kamu ini termasuk enak nak makan gak susah beras juga udah ada dimsna mana,bapak loh dulu makanya cuman hatinya pohon pisang jarang bisa makan nasi walaupun orang tua bapak seorang petani,kita pun kadang mencuri(menyembunyikan)hasil panen kita sendiri agar bisa menikmati apalagi waktu jaman jepang lebih parah lagi”.mudah mudahan artikelnya bung satria dapat menggugah dan meningkatkan rasa nasionalisme anak muda sekarang yang kalau saya amati kurang bisa menghargai perjuangan leluhur kita yang saling bahu membahu dan tidak memandang suku,bangsa dan agamanya demi lahirnya NKRI.SEKALI LAGI TERIMA KASIH BUNG SATRIA .wasalam!

  14. Ini yg selalu sy tunggu dr postingan2 bung Satrio…. Merinding baca’y… Tp sekaligus sedih….. Sedih karna melihat bangsa kita saat ini,,, klo mereka para almarhum pejuang kita yg saat ini jasad’y berada d dlm tanah bs bicara,,, mungkin tiap hari yg kita dengar adalah tangisan pilu mereka N cacian pd metal kita generasi muda NKRI saat ini….

  15. Mohon penampakannya min

  16. Pengen nangis kalo inget perjuangan bangsa ini…pengen mencabik cabik semua musuh negara dri yg dulu maupun yg sekarang

    gk rela rasanya bila generasi muda sekarang lebih acuh tak peduli pada bangsanya sedih

    • Jangan terlalu sedih bung, justru darah dan airmata yg sudah ditumpahkan para pahalawan kita itulah yg membuat bangsa ini kuat sampai sekarang dan seterusnya… Mereka merelakan dirinya menjadi pupuk yg menyuburkan ibu pertiwi…
      Hormat yg setinggi2 nya untuk para pahlawan kita…

  17. Cut nya dien adlh pahlawan yg patut diacungin jempol. Beliau sudah berperang sejak usia belia yaitu sejak jaman teuku umar, lalu dilanjutin ke panglima polim kemudian setelah keduanya wafat perang aceh dipimpin oleh cut nya dien sendiri. Perang aceh merupakan perang yg sgt lama di bumi nusantara yg menyebabkan aceh mjd daerah terakhir yg baru dikuasai belanda yaitu ditahun 1900an dgn siasat devide et empera dan culture stelsel.

    Saya senang sekali bila melihat film cut nya dien walaupun filmnya sgt lama tapi sgt memberi arti tentang contoh kegigihan beliau smp tua renta dan tdk bisa melihat tapi msh bisa mendarmabaktikan bagi bumi pertiwi bahkan smp terakhir diasingkan di sumedang beliau msh bisa mjd guru ngaji disana shg bisa sgt dihormati disana walau bukan orang sumedang asli makanya beliau dimakamkan sejajar dgn bangsawan sumedang

  18. Artikel ini yg sy tunggu2 @bung satrio, Selamat Hari Cut Nyak Dhien, (tanpa mengurangi respek sy terhadap RA Kartini)…krn nilai perjuangan serta kontribusi beliau terhadap ibu pertiiwi amatlah luar biasa : desingan peluru, tusukan bayonet, teriknya matahari, dingin serta gelapnya hutan belantara maupun sabetan golok telah beliau hadapi. Determinasi tinggi, no surrender! membuat kecut pihak penjajah smp akhir hayatnya. Nasionalis sejati yg emoh berpangkutangan thd pihak penjajah, maka Cut Nyak Dhien berada dilevel yg lebih tinggi…oleh krn itulah knp pihak penjajah mnggantikan sosok beliau dgn sosok karakter berlawanan utk dijadikan panutan dikemudian hari oleh bangsa ini krn sangat berbahaya bila Cut Nyak Dhien yang dijadikan inspirasi generasi selanjutnya terutama kaum hawa….IMHO

  19. terimakasih atas tulisannya bung Satrio…keluarga,lingkungan,lembaga pendidikan serta media sangat berperan dalam mengenalkan sosok2 (tanpa meniadakan kelompok/laskar pejuang yg lain)..saat ini berbeda dengan saat dahulu dimana sering sekali kita melihat film2 perjuangan dan ulasan2 mengenai para pejuang yang kita pun tidak tahu sebelumnya mereka siapa..saat ini siapa lagi yang akan menjadi inspirator bagi para generasi muda kalau bukan pendahulu2 kita..

  20. Komentar bungkus kacang goreng di stadion bola ga lebih penting dari bolanya bung…

  21. Baideiwei… Jalan2lah sekali2.. Liat perempuan batak itu sampai detik ini semua masih bawa golok…. Wkwkkk ga ada yg uni kecuali kesadaran tjut tentang arti “berjoeang atoe mati”

  22. Ada gak ya terbersit dibenak produser film utk buat film Kolosal ttg Laksamana Malahayati.? Sya kagum dgn semangat Perjuangan Beliau.. Sya prnh bca kisah Heroik perjuangan Beliau tp lupa dmna link nya.

  23. Untuk seluruh arwah syuhada yang telar berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.. Lahumul fatikhah… Setiap pahlawan, pejuang masing2 mendapat tugas dan misi sesuai dengan kedudukannya dan sama2 pentingnya dalam sejarah Perjuangan. Ada yang melawan secara fisik dan ada yang melawan secara budaya. Karena kita semua tahu, penjajahan kolonial bukan saja penjajahan secara lahiriah, tetapi kita juga terjajah secara karakter. Hingga saat ini “mental inward looking” masih menggelanyut dan mengakar dalam watak kita, shg kita lalai, lena, dan lemah, dan menanggap masalah kebangsaan semata2 bersumber dari internal belaka. Padahal masalah2 yang melanda bangsa kita, tak dapat disangkal merupakan bagian serangan asimetris dari pihak2 asing. Inilah yang belum kita sadari akibat gejala penyakit ‘inward looking, semoga kita tersadar, bahwa tidak ada masalah yang terpisah dari kondisi global yang melanda bangsa kita

  24. absen………..
    selamat hari kartini

  25. Mari kita do’a kan arwah para pahlawan bangsa ini yg telah berkorban dg harta dan nyawanya semoga diterima disisi-NYA. dan kita sebagai penerusnya untuk trs mengisi kemerdekaan ini dg berbuat semampunya tuk kebaikan bangsa ini, serta tetap menjaga PERSATUAN & KESATUAN..!!!

  26. Terimakasih atas atensi Warjager semuanya
    Maaf postingan artikel diatas tidak mengejar setoran
    Hanya memanfaatkan moment Hari Kartini /Hari Tjoet Njak Dien ..ada inspirasi yang lama ngendap dikepala untuk menunggu dituangkan

    Kata kata merinding membaca Kata penyemangat Ibu Tjoet njak dien memang saya alami serasa gejolak didada saat membaca pertama kali dan hal itu sangat kontras saat melihat foto kondisi ibu Perbu diatas yang terlihat terbalut dengan fisik seorang Ibu yang sudah tua,renta,rabun dan mempunyai penyakit encok dalam ketertidak berdayaan..SIAPA NYANA di jiwanya masih menggelegar semangat Garuda wanita Indonesia yang berhati singa sangat menginginkan bangsanya lepas dari penjajahan,dan benci dengan penjajahan

    SEMANGAT itu yang ingin saya gali dan tularkan dengan mengangkat sisi lain dari perjuangan Ibu Tjoet Njak Dien,
    Makna dari yang ingin saya gali adalah :
    Bahwa Penjajah Belanda (asing) tidak takut dengan kegagahan dan kondisi Fisik seorang pejuang tetapi TAKUT akan semangat kebangsaan yang bisa ditularkan secara meluas untuk menggelorakan semangat kemerdekaan lepas dari Penjajahan

    Dan Semangat itu yang juga DITAKUTKAN oleh para penjajah Sumber daya Indonesia sekarang ini.,Asing akan takut bila semangat kebangsaan dan kemandirian bangsa ini dikorbarkan dan bisa mengancam kepentingan mereka disini

    Saya sudah bertekat dalam hati dan melaksanakan dalam perlakuan saya sehari hari,,
    Saya akan memilih semua Produk buatan bangsa indonesia yang sudah bisa membuatnya ,
    dalam hal kecil saja pakaain , sepatu dan apa yang saya konsumsi sehari hari,
    Imho

    • Mt malam bung satrio. Tulisan bagus, bayangkan bila putri2 Indonesia bisa punya semangat seperti Beliau, sangat luar biasa epeknya.
      Sejak bung Sat memunculkan artikel Embargo diri sendiri, sejak itu pula saya sudah anti barang2 luar. Salam hangat bung

      • Salam hangat juga bung bejpkz
        Lha ini tantangan bagi generasi muda yang masih memgang kata gengsi dan Branded Mainded.
        Perlu ditingkatkan kesadarannya dalam mengembargo diri sendiri dengan memakai produk dalam negeri

    • Perang aceh adalah perang terlama yang dijalani oleh belanda di Nusantara. Perang yang bernafaskan syahid karena berjuang untuk merdeka itu syahid hukumnya. Konon pada penyerbuan awal saja 6 maret 1873 salah satu jenderal belanda langsung menjadi korban di halaman masjid Baiturrahman yang menjadi markas komando pejuang aceh. Itulah sebabnya setelah berhasil menduduki Kutaraja, belanda langsung membakar masjid Baiturrahman dengan harapan meruntuhkan moral pejuang aceh yang ironisnya malah menambah kebencian dan akhirnya belanda harus membangun kembali masjid Baiturrahman seperti semula untuk mencoba memenangkan hati rakyat aceh.
      Setelah Cut Nya Dien tertangkap, komando dilanjutkan oleh panglima polim hingga gugurnya beliau pada 1912. Perang gerilya di belantara pedalaman aceh sendiri masih terus berlangsung jauh lebih lama dari yang dicatat resmi oleh sejarah. Perang aceh baru betul-betul berakhir pada saat jepang masuk ke aceh pada 1942…!!!
      Mungkin inilah yang menyebabkan belanda enggan masuk kembali ke aceh setelah 1945. Faktor jihad, dendam dan semangat untuk merdeka yang juga menyebabkan berbondong-bondongnya ribuan pejuang aceh memasuki binjai, medan dan sekitarnya pada waktu pertempuran medan area pasca proklamasi 1945.
      nb : maaf hanya sekedar meluruskan sejarah dan seperti diceritakan langsung karena kebetulan mendiang nenek bapak saya adalah pelaku sejarah ( bagian dapur dan logistik ) saat perang aceh sedangkan almarhum kakek dan nenek saya sama2 berjuang dalam perang medan area dan berjodoh disana.
      Maaf kalau tulisan ini kurang berkenan bagi warjagers lainnya.

      • Nice info bung, saya baru tahu kalau Aceh belum semuanya berhasil dikuasai belanda sepeninggalan cut nya dien bahkan sampai 1942 (jaman jepang)

        • @ bung Ihsan..
          ya bung, perang aceh adalah perang terlama yang dijalani belanda di nusantara. perang berlangsung hingga 1942 walaupun intensitasnya tidak lagi terlalu tinggi. Praktis belanda selama di Aceh hanya mampu menguasai daerah perkotaan saja.
          Itulah juga sebabnya saya termasuk yang setuju dengan pernyataan bahwa belanda TIDAK menjajah Indonesia selama 350 tahun.

      • @Bung EA
        Terimakasih tambahan infonya
        Sebelum Konflik besar antara belanda dan Aceh sebenarnya aceh sudah hidup damai berdampingan dengan bangsa lain namun belanda tertarik untuk menguasai aceh karena posisinya yang strategis untuk berdagang akibat dibukanya terusan Suez dan menjadi saingan dari malaka saat itu.

        Belanda memulai penyerangan di Aceh dengan menembakkan meriamnya kedaratan aceh dari kapal “Citadel Van Antwerpen”,dan perang Aceh pun meletus dan puncaknya pada 8 April 1873 Belanda dibawah pimpinan Jendral Kohler menguasai Masjid raya kebanggaan rakyat Aceh dan Membakarnya.
        Tjoet Njak Dien sangat geram beliau turut merebut Masjid Raya Baiturrohman pada tgl 10 April 1873.dan beliau menjadi saksi tertembaknya Jendral Kohler

        Ucapan Jendral Kohler yang terkenal saat maut merengut jiwanya ..:
        “Ohhh God,Ik ben Getroffen” (Yaa Tuhan Aku terkena Peluru)

        • @ Bung Satrio..
          Terima kasih untuk revisinya..
          belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 dan mulai memasuki kutaraja ( Banda Aceh ) pada 5 April 1873.
          Sedangkan Jenderal johan kohler tewas tertembak oleh sniper pejuang Aceh di halaman masjid Baiturrahman.
          Konon, itu pertama kali seorang jenderal belanda tewas di dalam pertempuran langsung dalam usaha penaklukan nusantara.

    • Makasih bung Satrio, baru ini saya melihat foto aslinya…selama ini hanya melihat gambar ilustrasi atau dulu pernah lihat poster filmnya dan tidak terlalu ‘ngeh’. Melihat foto aslinya terasa sangat berbeda. Saya seperti bisa merasakah kemarahan beliau….jadi merinding, marah, sedih sekaligus geregetan…gimana ya pokoke campur aduk lah.

      Mungkin bisa lebih banyak diposting foto2 tokoh atau suasana perjuangan pendahulu kita dulu. Soalnya foto asli lebih ‘berbicara’ dari pada ilustrasi/lukisan atau patung atau replika kejadian yang sering ada di museum (lupa itu apa namanya ya..:))

  27. Aslmkum wr wb.. Met mlm wat sesepuh semua, Bung Satrio, Bung Diego, Bung jalo, Bung PS, Bung Now dan warjager smuanya yg Ga bisa di sebut Stu2 mdh2n diberi keslmtan n keshtan sllu, amin..
    Maaf cm pgen numpang doain ja, SR lg..nyimak lg…

  28. Pendapat pribadi saya, Harusnya Cut Nyak Dhien dan pejuang wanita lainnya yang jadi pahlawan emansipasi wanita bukan Kartini, apa karena Kartini dekat dengan Belanda sehingga bisa di jadikan ikon emansipasi wanita?

  29. setuju dg komentar bung ihsan….harimauliar kurang memahami fakta sejarah ..(tapi saya tahu makna yg tersirat dari komentarnya)

  30. Kartini (Original) : Habis Gelap Terbitlah Terang
    Kartini (KW) : Pergi Gelap Pulangnya Terang

    🙂

  31. andaikan cut nyadien masih hidup di aceh sekarang…. pasti sudah ditangkap oleh pemerintah aceh karena tidak menggunakan jilbab 🙂

  32. Koq penyebutannya Garuda ya ? Apa tidak lebih tepat Harimau Atjeh ?

  33. sayangnya kiprah perjuangan pejuang wanita seperti dewi sartika,cut nyak dien dan yg lainnya terkesan seperti ditutupi untuk kepentingan yg lebih besar dan seolah-olah hanya ada 1 pejuang wanita di Indonesia

  34. perjuangan Bunda tjut nyak dhien akan selamanya dikenang…doaku untukmu..

 Leave a Reply