Jan 302019
 

Penulis : Prasta Kusuma, S.IP
Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD

Jakartagreater.com    –   Meningkatnya potensi konflik di Laut Tiongkok Selatan menyebabkan banyak negara di kawasan Asia Tenggara mempersenjatai diri dengan senjata-senjata canggih. Apalagi Tiongkok sendiri semakin percaya diri karena militer mereka ditopang oleh senjata buatan lokal yang semakin lama memiliki teknologi yang semakin canggih.

Selain terus mengembangkan pesawat tempur siluman, Tiongkok juga terus mengembangkan program kapal induk mereka. Setelah sukses meretrovit kapal induk bekas Uni Soviet, Varyag yang kemudian menjadi kepal induk Liaoning, Tiongkok  juga sedang bersiap meluncurkan kapal induk kedua (pertama produksi dalam negeri) mereka dan bersiap memproduksi yang ketiga.

Tiongkok  sendiri menjadikan Fighter J-15 yang merupakan copy dari Su-33 Flanker Rusia, sebagai  ujung tombak dari armada kapal induk mereka ini. Tiongkok  juga terus mengembangkan pesawat tempur siluman mereka J-20 dan J-31 agar semakin siap beroperasi dalam jajaran tempur angkatan bersenjatanya.

Karena agresivitas Tiongkok  mengembangkan sistem persenjataan nya ini lah pada akhirnya, negara negara di kawasan Asia Tenggara juga ikut memodernisasi persenjataannya, terutama negara-negara yang berkepentingan langsung dengan konflik di Laut Tiongkok  Selatan, terutama pertahanan udara mereka.

AU Vietnam, menjadikan Su-30MKK mereka sebagai ujung tombak pertahanan udara nya disamping Rudal anti pesawat  SA-20 Gargoyle (S-300). AU Malaysia mengoperasikan Su-30 MKM yang didesign khusus untuk keperluan pertahanan Malaysia dan juga F-18D Hornet dari Amerika.  RMAF juga sedang mengadakan program MCRA untuk mengganti pesawat tempur Mig-29 Fulcrum dan F-5 Tiger milik mereka.

RMAF sedang mengkaji 4 pesawat tempur (Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, F/A-18 E/F Super Hornet dan Saab JAS-39 Gripen) untuk mengganti armada udara tua mereka. Di bawah program ini, RMAF mencari pesawat tempur canggih baru untuk melengkapi 3 skuadron dengan 36 hingga 40 pesawat tempur baru.

AU Filipina baru saja memulai program modernisasi Alutsista mereka dengan membeli jet tempur ringan F-50 Golden Eagle dari Kosel dan mempertimbangkan pembelian multirole fighter aircraft seperti F-16 C/D Fighting Falcon dan JAS-39 Gripen. Yang terbaru adalah Singapura, sebagai negara kecil di kawasan, yang siap membeli jet tempur canggih terbaru dari Amerika Serikat yaitu F-35A Lighting II.

Rencananya, jet tempur canggih ini akan menggantikan armada F-16C/D Blok 52 RSAF yang dinilai akan menua dalam waktu 10 tahun lagi. Saat ini diketahui RSAF mengoperasikan 60 unit Fighting Falcon disamping F-15SG Strike Eagle dalam jajaran arsenal tempur utama udara nya. Memang belum diketuhi berapa unit F-35A Lighting II yang pasti akan dipesan oleh Singapura.

Namun, pembelian F-35A Lighting II ini tentu akan berdampak sangat signifikan terhadap persoalan geopolitik dan geostrategi di kawasan Asia Tenggara.  AU Singapura akan dinilai sebagai kekuatan paling menakutkan diantara anggota ASEAN lainnya.

Dan dikawasan tenggara Asia, AU Singapura akan menjadi operator kedua pesawat tempur canggih generasi ke-5 yang digadang-gadang memiliki fitur kasat radar ini setelah AU Australia, RAAF yang memesan 62 fighter canggih tesebut..

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sendiri memiliki program MEF untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya, termasuk kekuatan udara di dalamnya. Namun, Indonesia termasuk negara yang saya nilai “kurang cepat” dalam pengadaan program moderniasi persenjataannya, khususnya untuk Alutsista udara nya.

Sebagai contoh adalah dalam pengadaan pesawat pengganti tempur F-5 E/F Tiger skadron 14. Pesawat tempur yang resmi dipensiunkan sejak tahun 2017 silam, hingga kini pengganti  nya belum juga datang. Memang, Su-35 Super Flanker telah menjadi pilihan TNI AU untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger skadron 14.

Tapi, hingga sekarang, Su-35 yang digadang-gadang akan menjadi pesawat tempur paling canggih TNI AU belum dapat dipastikan kedatangannya.

Sebagai mana yang dijelaskan oleh Dubes Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva dalam wawancaranya bersama Antara pada akhir Desember 2018 lalu mengatakan, permasalahan kontrak yang “belum berjalan efektif” dengan pemerintah RI, menjadi salah satu permasalahan yang hingga kini menyebabkan pesawat tempur canggih untuk Indonesia tersebut belum masuk lini produksi.

Rusia berharap pemerintah Indonesia segera menuntaskan masalah kontrak tersebut sehingga pengiriman 11 pesawat tempur Su-35 Super Flanker untuk Indonesia bisa cepat terealisasi.

Selain permasalah Su-35 Super Flanker yang belum diketahui kapan kedatangannya ke Indonesia, Indonesia juga mulai harus mulai memikirkan pengganti pesawat tempur lainnya, seperti  pesawat tempur Hawk 109/209 yang memperkuat skadron udara 1 dan 12.

Pesawat tempur Hawk sendiri sudah mengabdi kurang lebih 20 tahun untuk NKRI.  Kemungkinan besar pesawat tempur ringan ini akan masuk fase pensiun dalam 5 tahun mendatang.  Contoh kasus yang terjadi dalam pengadaan Su-35 yang dinilai lama ini bisa menjadi Boomerang tersendiri terhadap system pertahanan Indonesia karena bisa menjadi gap dalam system pertahanan Indonesia.

Karena itu, kematangan perencanaan dan juga ketegasan pemerintah dalam melakukan pengadaan Alutsista tempur baru menjadi keharusan agar tidak terjadi ada nya gap kekuatan dalam sistem pertahanan Indonesia yang diakibatkan system persenjataannya belum efektif untuk dipakai atau telah dinilai kadaluarsa.

Apalagi kekuatan udara menjadi salah satu factor krusial dalam sistem pertahanan sebuah negara di era modern ini. Kekuatan deterrent  yang dimiliki pesawat tempur sangatlah besar karena pesawat tempur merupakan senjata yang bisa secara langsung menyerang musuh jauh dibelakang garis pertahanan nya.

Pesawat tempur juga bisa menjadi mata dan telinga bagi elemen pertahanan lainnya guna menjaga kesinambungan sistem pertahanan negara. Singapura menjadi negara yang bisa mengeksploitasi angkatan bersenjatanya secara baik, sehingga Singapura menjadi salah satu negara yang dipercaya oleh banyak investor untuk menanamkan modal miliknya dinegara tersebut karena dinilai menjadi negara yang stabil dan aman.

Karena hal tersebut, Singapura bisa maju secara ekonomi  walaupun memiliki sumberdaya alam yang tidak teralu banyak dan juga luas wilayah yang amat sangat kecil dibandingkan negara tetangga nya. Singapura juga mengontrol beberapa ruang udara milik negara tetangga nya termasuk wilayah udara Indonesia di atas langit kepulauan Riau yang masuk dalam wilayah FIR-1.

Saat ini pemerintah Indonesia memang sedang berupaya untuk mengembalikan control ruang udara di atas kepulauan Riau tersebut agar bisa dikelola kembali oleh Indonesia.

Pengembalian control ruang udara tersebut selain memiliki arti strategis bagi pertahanan, memiliki arti strategis juga bagi ekonomi Indonesia. Masalahnya, apakah Singapura akan dengan cuma-cuma memberikan control ruang udara yang berharga tersebut kepada pemerintah Indonesia?

Apalagi dengan dengan terus memodernisasi  angkatan bersenjatanya, terutama angkatan udaranya, saya rasa akan sulit untuk Indonesia bisa mengambil ruang udara tersebut dengan mudah dari Singapura.  Efek deterrent yang dimiliki oleh TNI, khususnya TNI AU masih kurang kuat untuk menandingi efek deterrent yang dimiliki oleh RSAF, Angkatan Udara Singapura.

Karenanya, pemerintah harus sangat serius untuk terus memperkuat Alutsista TNI, terutama Alutsista strategis untuk TNI AU.  Program MEF memang masih terus berjalan hingga tahun 2024 nanti. Tapi setelahnya pemerintah harus terus menyiapkan perencanaan yang matang untuk terus memperkuat angkatan bersenjatanya.

Pemerintah juga harus terus mengkaji tentang pertumbuhan anggaran pertahanan. Saat ini, anggaran perahanan Indonesia masih di bawah 2% dari PDB, sedangkan Singapura saja anggaran pertahanan nya sudah mencapai sekitar 3% dari total PDB nya. Menurut standar NATO, anggaran pertahanan ideal sebuah negara adalah 2% dari total PDB nya.

Apalagi saat ini NATO dan para anggotanya berencana  dan mengkaji untuk meningkatkan standarisasi anggaran pertahanannya menjadi 4% dari total PDB nya. Anggaran pertahanan suatu negara memang sangat berpengaruh terhadap postur angkatan bersenjatanya.

Angkatan bersenjata sebuah negara harus selalu kuat karena selain menjadi garda terdepan dalam system pertahanan suatu negara, kekuatan  angkatan bersenjata juga bisa menjadi kekuatan penggetar dimeja diplomasi.  Sebagai contoh bawa hard power bisa membantu kepentingan pemerintah di mejad perundingan adalah dalam kasus Papua Barat.

Show on force yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Indonesia berhasil memenangkan Indonesia di meja diplomasi sehingga Belanda setuju untuk membawa masalah Papua  Barat kedalam meja perundingan kembali .

Salah satu yang mengagumkan adalah ketika itu jajaran pesawat tempur TNI AU dilengkapi oleh bermacam varian pesawat tempur baru tercanggih buatan Uni Soviet pada zamannya seperti MiG-21 Fishbed dan bomber Tu-16 Badger bersama berbagai senjata pendukungnya. Dengan kekuatan seperti itu, TNI AU pernah menjadi Angkatan Udara terkuat dibagian bumi Selatan pada masa nya.

Dengan ketangguhan pesawat-pesawat TNI AU ketika itu menjadi salah satu factor pendukung kenapa Belanda rela menyerahkan wilayah Papua Barat kembali ke pangkuan ibu pertiwi dibanding harus berkonfrontasi secara langsung melawan kekuatan Angkatan Perang Indonesia saat itu.

Walau dalam buku putih pertahanan, diprediksi Indonesia tidak akan mendapat serangan langsung negara lain dalam waktu dekat bukan berarti ancaman tersebut tidak ada. Potensi konflik yang menghantui sebuah negara selalu ada, baik itu secara nyata maupun asimetris.

Apalagi dengan posisi Indonesia yang sangat strategis dan juga memiliki sumberdaya alam yang melimpah, potensi ancaman konflik yang mengancam pertahanan dan keamanan selalu terbuka. Saat ini tulang punggung kekuatan udara Indonesia masih dipeggang oleh armada Su-27/30 Flanker dan F-16 Fighting Falcon block 15/25.

Namun dengan negara tetangga yang terus memperkuat dirinya dengan pesawat-pesawat tempur canggih, Indonesia juga mau tak mau harus terus mengupgrade sistem pertahanan nya agar efek deterrent yang dimiliki oleh Indonesia terus terjaga dan juga bertambah kuat dimata percaturan geopolitik dan geostrategi di kawasan maupun dunia.

Mudah-mudahan program modernisasi Alutsista Indonesia tidak berhenti sampai program MEF ini selesai. Dan ketika program MEF telah rampung di tahun 2024 nanti, diharapkan pemerintah juga sudah mempersiapkan program lanjutannya kedepan dengan matang sesuai dengan kebutuhan dan pola ancaman yang selalu bergerak secara dinamis.

Bagikan: