Perseteruan AS-China di Perairan Lepas Pantai China Meningkat

JakartaGreater –  Pasukan Angkatan Laut China dan AS telah melakukan latihan “duel” kapal induk di perairan lepas pantai China dalam beberapa hari terakhir, dengan sikap Washington yang melawan “agresivitas” China yang mengatakan kepada AS untuk tidak ikut campur urusan dalam negerinya.

Tentara Pembebasan Rakyat telah mengeluarkan peringatan kepada mitranya di AS, dengan juru bicara Komando Teater Timur militer melaporkan pada hari Rabu 7-4-2021 bahwa pasukan China menjejak dan memantau kapal perusak USS John McCain saat berlayar melalui Selat Taiwan pada hari sebelumnya, dirilis Sputniknews.com, 7-4-2021.

Juru bicara China menuduh Pentagon mengirimkan “sinyal yang salah” kepada Taiwan dan “membahayakan perdamaian, stabilitas Selat Taiwan,” dan stabilitas kawasan secara keseluruhan”

Komando Teater Timur China merupakan satu dari 5 komando teater yang digelar oleh PLA, dan bertanggung jawab atas 6 provinsi daratan Tiongkok termasuk Shanghai, Taiwan (yang dianggap Beijing sebagai provinsi pemberontak) dan Armada Laut Timur. Bersama dengan Taiwan, wilayah tanggung jawabnya meliputi Laut Cina Timur.

Komentar juru bicara PLA muncul setelah keputusan Angkatan Laut AS untuk melayarkan kapal perusak berpeluru kendali USS John McCain melalui Selat Taiwan dalam apa yang menurut Angkatan Laut sebagai transit “rutin” pada hari sebelumnya.

“Transit kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Militer Amerika Serikat akan terus terbang, berlayar, dan beroperasi di mana saja yang diizinkan oleh hukum internasional,” kata Angkatan Laut dalam pernyataan tertulis.

Pelayaran itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan sekutu Taiwannya di satu sisi, dan China di sisi lain ketika Washington berusaha untuk menopang aliansi politik dan militernya dengan pulau itu, rumah bagi pasukan nasionalis yang melarikan diri dari China daratan pada tahun 1949 setelah Sipil China.

Beijing menganggap Taiwan sebagai wilayah kedaulatannya dan telah menghabiskan beberapa dekade menegosiasikan proses reunifikasi secara damai. Pihak AS berusaha untuk mencegah hal ini terjadi.

Otoritas Taiwan memperingatkan China pada Rabu 7-4-2021 bahwa pasukan pertahanannya akan menembak jatuh drone China jika mereka memasuki wilayah udara Taipei.

“Mereka tidak pernah memasuki perairan dan wilayah udara kita yang jaga. Mereka baru saja terbang di sekitarnya pada jarak tertentu. Jika sebuah pesawat masuk itu akan ditangani sesuai aturan. Jika perlu kita melepaskan tembakan,” ujar Kepala Dewan Urusan Kelautan Taiwan, Le Chung-wei memperingatkan.

Peringatan itu muncul setelah pasukan pertahanan Taiwan melaporkan melihat 15 pesawat Angkatan Udara PLA termasuk 12 jet tempur di zona identifikasi pertahanan udara Taiwan di pulau itu pada hari sebelumnya. China tidak mengakui klaim ADIZ Taipei dan secara teratur mengirim pesawat ke daerah tersebut untuk latihan.

Juga pada hari Rabu, Kepala Kementerian Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu mengatakan kepada wartawan bahwa pembuat keputusan AS “dengan jelas melihat bahaya atas kemungkinan China melancarkan serangan terhadap Taiwan.” Dia memperingatkan bahwa pulau itu siap untuk “membela diri tanpa pertanyaan” dan “sampai hari terakhir” jika terjadi agresi.

Terlepas dari prediksi bahwa pemerintahan Biden akan mengambil tindakan yang lebih lunak terhadap China, presiden Demokrat itu sebenarnya meningkatkan ketegangan ke tingkat yang tidak terlihat sejak protes Lapangan Tiananmen tahun 1989 dengan mempertahankan pembatasan perdagangan dan teknologi di era Trump, serta meningkatkan patroli militer AS di dekat perbatasan China.

Amerika Seeikat bekerja membangun aliansi anti-China di kawasan Asia-Pasifik, dan bergabung dengan negara-negara Barat lainnya dalam menuduh RRC melakukan “genosida” terhadap minoritas Uighur di provinsi Xianjiang, China.

Beijing dengan vokal membantah tuduhan “genosida”, dan menunjuk pada kejahatan historis Barat sendiri terhadap penduduk asli (aboriginal), dan mengancam akan mengusir perusahaan asing yang meniru klaim tersebut.

*Foto : dok. USS John S McCain – (@ US DoD – Petty Officer 2nd Class Deanna).

Sharing

Tinggalkan komentar