Jan 182019
 

Peluncuran rudal pencegat dari kapal perang Angkatan Laut AS © US Navy via National Interest

JakartaGreater.com – Angkatan Laut AS (US Navy) akan mencoba untuk pertama kalinya menembak jatuh rudal balistik antarbenua pada fase tengah penerbangan ICBM, menurut pengumuman Pentagon pada tanggal 17 Januari 2018, seperti dilansir dari laman majalah National Interest.

Namun tidak jelas, apakah rudal SM-3 milik US Navy akan siap untuk tugas itu. Bahkan jika itu dianggap siap, penyebarannya dapat menyebabkan perlombaan senjata berbahaya. Dan pengumuman SM-3 adalah bagian dari Tinjauan Pertahanan Rudal yang baru diluncurkan oleh administrasi Trump.

“Tujuan kita sederhana”, kata Presiden Trump. “Untuk memastikan bahwa kita dapat mendeteksi dan menghancurkan rudal yang diluncurkan terhadap Amerika Serikat, dimana saja, kapan saja dan dari lokasi mana saja”.

Itu termasuk memukul ICBM selama fase tengah penerbangan. Pada saat ini, Amerika cuma memiliki satu senjata, yakni sistem roket Ground-Based Midcourse Defense (GMD), secara teori itu dapat menyerang ICBM.

Ballistic Missile Defense System Overview © Missile Defense Agency via Wikimedia Commons

Versi terbaru dari SM-3 milik Angkatan Laut AS sendiri – pencegat misil utamanya – dapat memperkuat GMD.

“Pencegat SM-3 Blok IIA dimaksudkan sebagai bagian dari arsitektur pertahanan rudal regional, tapi juga memiliki potensi untuk memberikan ‘dasar’ penting bagi [pencegat berbasis darat] yang ada untuk perlindungan tambahan terhadap ancaman ICBM ke tanah air AS”, tulis ulasan pertahanan-rudal negara AS.

Angkatan Darat AS saat ini, mengoperasikan 44 roket GMD yang berbasis di Alaska dan juga California. Pentagon mengatakan akan meminta tambahan dana untuk 20 rudal GMD lagi.

Angkatan Laut AS membeli 90 rudal SM-3 Blok IB yang lebih tua pada tahun 2017 dan 2018. Badan Pertahanan Rudal (MDA) mengumumkan akan menguji SM-3 Blok IIA terhadap target sekelas ICBM pada tahun 2020 sebagai bagian dari upaya pengembangan bernilai $ 230 juta.

Uji coba rudal balistik antar benua Bulava dari kapal selam Yuri Dolgorukiy. © Russian MoD

Pada akhir 2018, armada AS termasuk 38 kapal perusak dan jelajah yang dilengkapi radar Aegis yang kompatibel dengan versi pertahanan rudal SM-3. Angkatan Laut sendiri, ingin menumbuhkan armada BDM menjadi 41 kapal pada tahun 2019.

“Kombinasi peningkatan jumlah dan kemampuan kapal itu, akan menghasilkan kekuatan Aegis yang lebih fleksibel dan tangguh dengan kemampuan pertahanan rudal yang jauh lebih besar”, catat ulasan itu.

Dua sistem Aegis Ashore berbasis darat militer AS yang berada di Rumania serta Polandia, juga mampu menembakkan pencegat SM-3. Karena itu direncanakan akan menerima versi terbaru dari SM-3.

Selama fase penerbangan tengah, ICBM bergerak di atas atmosfer dengan kecepatan 20 kali kecepatan suara. Gagasan bahwa SM-3 dapat mencapai target yang begitu tinggi dan cepat didasarkan pada kemampuan GMD yang telah terbukti melakukan hal yang sama.

Simulasi peluncuran rudal balistik dari Pacific Missile Range Facility (PMRF) saat pengujian pencegat Standard Missile-3 © US Navy via Wikimedia Commons

Dalam tes dramatis pada 30 Mei 2017, Badan Pertahanan Rudal menembakkan roket GMD dan berhasil menghantam rudal target pada ketinggian 60 mil di atas Samudera Pasifik. Itu sasaran berada di kelas yang sama dengan ICBM, kata sumber militer.

“Meskipun ini adalah tes pengembangan, ini persis skenario yang kami harapkan terjadi selama keterlibatan operasional yang sebenarnya”, menurut Laksamana James Syring, kepala Badan Pertahanan Rudal (MDA) kepada wartawan.

Tes ini adalah pertama kalinya sistem pertahanan rudal AS untuk mencegat ICBM. Semua tes pertahanan rudal sebelumnya menargetkan rudal yang jauh lebih lambat dan terbang rendah.

Namun, pengujian pada bulan Mei 2017 mungkin tidak serealistis yang diklaim Pentagon. Laura Grego, ahli rudal di Union of Concerned Scientists yang berbasis di Massachusetts, meneliti jarak yang harus ditempuh oleh dua roket uji coba dan sehari sebelum pengujian, disimpulkan bahwa roket target kemungkinan akan jauh lebih lambat secara signifikan bila dibandingkan dengan ICBM yang diluncurkan dari Korea Utara.

ICBM Korea Utara yang menargetkan Los Angeles kemungkinan akan mencapai kecepatan 6,7 km/detik (19,5 Mach). Sementara target dalam tes tahun 2017 mungkin cuma mencapai 5,9 km/detik (17,2 Mach), atau bahkan lebih lambat dari itu, klaim Grego.

Rudal balistik taktis Hwasong-5 Korea Utara turunan dari rudal balistik R-17 Elberus (Scud) buatan Soviet © Korean Central News Agency (KCNA)

Jika GMD yang sebenarnya saja tidak mampu mencegat ICBM, maka SM-3 juga mungkin mengalami keterbatasan yang sama. Kuncinya, untuk pengamat yang tak memihak dari tes tahun 2020 yang direncanakan, akan menjadi kecepatan dan ketinggian roket target yang sesungguhnya.

Jika target tersebut terbang lebih rendah dan lebih lambat dari ICBM yang sesungguhnya, maka pengujian tidak akan meyakinkan untuk tujuan mengembangkan sistem pertahanan rudal yang berfungsi dengan baik.

Bahkan jika itu seperti yang dikatakan, SM-3 dapat terbukti provokatif, diperingatkan Hans Kristensen dan Matt Korda, keduanya adalah ahli rudal dari Federasi Ilmuwan Amerika di Washington, DC.

Kristensen dan Korda bahkan menjelaskan, bahwa mereka khawatir pengujian SM-3 dapat mendorong Rusia dan termasuk China untuk mengembangkan senjata strategis baru untuk mengalahkan pencegat rudal AS, yang berpotensi memacu perlombaan senjata nuklir yang lebih berbahaya.

Parade rudal balistik Angkatan Bersenjata China (PLA). © William Ide Wikimedia Commons

“Perlu dicatat bahwa keputusan untuk melakukan tes semacam itu tampaknya akan lebih bergantung kepada kapasitas teknologi dan bukan perubahan pada lingkungan keamanan”, menurut Kristensen dan Korda.

Dengan kata lain bahwa pemerintahan Trump mendorong pertahanan baru terhadap ICBM, sementara pencegahan tradisional masih berfungsi dengan baik.

Rusia tampaknya tidak menunggu untuk melihat apakah SM-3 benar-benar dapat mencapai dan menangkis ICBM. Pada tahun 2018 yang lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin bergegas mengembangkan rudal hipersonik nuklir Avangard yang baru, mampu meluncur 20 Mach yang bergerak lebih rendah daripada lintasan ICBM, berpotensi menggagalkan pertahanan rudal seperti SM-3 yang hanya bekerja di ketinggian tinggi saja.

“Sangat jelas bahwa strategi Putin itu adalah mengembangkan sistem serangan nuklir yang bahkan orang yang benar-benar bodoh sekalipun akan mengerti dan paham bahwa itu tidak dapat diatasi dengan pertahanan rudal”, jelas Ted Postol, pakar rudal di Massachusetts Institute of Technology.

Sebagai pertahanan terhadap ICBM, SM-3 mungkin tidak akan berfungsi. Dan bahkan jika itu terjadi, maka itu hanya akan membuat Amerika Serikat menjadi kurang aman.

Bagikan: