Mar 292019
 

The launch, designated FTG-05, was a test of the Ground-based Midcourse Defense element of the Ballistic Missile Defense System. The missile successfully intercepted a long-range target launched from Kodiak, Alaska. © Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Badan Pertahanan Rudal (MDA) Amerika Serikat tanggal 25 Maret 2019 mengklaim telah berhasil mencegat roket target sekelas ICBM selama uji coba salvo pertama dari sistem rudal Ground-Based Midcourse Defense (GMD) Angkatan Darat AS, tulis rilis pers MDA.

Tes yang dilaksanakan dua tahun setelah MDA untuk pertama kalinya mengklaim sukses mencegat roket mirip ICBM menggunakan sistem GMD. Ada alasan-alasan untuk skeptis terhadap klaim agensi pada tahun 2017. Demikian juga ada alasan untuk meragukan tes pada tahun 2019 itu meski militer bersikeras akan kesuksesannya.

Roket target meluncur dari Situs Uji Reagan di Kwajalein Atoll di Samudra Pasifik. Sensor berbasis antariksa, darat dan laut melacak target. Empat ribu mil jauhnya, rudal berada di lokasi GMD di Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg, California meluncurkan dua rudal GMI setinggi 50 kaki.

Kendaraan pembunuh terpisah – pada dasarnya, hulu ledak kinetik – dipisahkan dari rudal GMI dan meluncur bebas dari atmosfer Bumi. Di sana, di tepi ruang angkasa, kendaraan pembunuh dilaporkan menghantam target roket yang masuk.

Salvo pencegat rudal berbasis darat (GBI) untuk menjatuhkan ICBM © MDA via Defense News

“Tes ini adalah penggunaan salvo pertama terhadap target ICBM oleh 2 pencegat berbasis darat, yang ditunjuk sebagai GBI-Lead dan GBI-Trail untuk tes”, kata Badan Pertahanan Rudal (MDA).

GBI-Lead menghancurkan kendaraan re-entry (masuk kembali), seperti yang dirancang untuk dilakukan. GBI-Trail kemudian melihat puing-puing yang dihasilkan dan benda-benda yang tersisa, dan jika tak menemukan kendaraan re-entry, memilih ‘objek paling mematikan’ berikutnya yang dapat diidentifikasi dan dipukul olehnya, tepat seperti yang dirancang untuk dilakukan.

“Ini adalah salvo pertama GBI untuk mencegat target ICBM yang kompleks dan mewakili ancaman sesungguhnya dan itu merupakan tonggak penting”, kata direktur MDA, Samuel Greaves. “Sistem bekerja persis seperti yang dirancang untuk dilakukan, dan hasil tes ini memberikan bukti penggunaan praktis dari doktrin salvo dalam pertahanan rudal”.

Tapi Laura Grego, seorang ahli rudal dengan Union of Concerned Scientists yang berbasis di Massachusetts, skeptis dengan klaim MDA. “Tes itu benar-benar tertutup, nakhan lebih tertutup daripada tes beberapa tahun terakhir”, kata Laura Grego kepada National Public Radio. “Itu diklaim sukses, tapi kita tidak bisa mengatakan dari informasi publik seberapa tinggi standar untuk kesuksesan itu”.

Simulasi peluncuran rudal balistik dari Pacific Missile Range Facility (PMRF) saat pengujian pencegat Standard Missile-3 © US Navy via Wikimedia Commons

Kurangnya transparansi sama mengganggu seperti tes tahun 2017. MDA menolak untuk menentukan seberapa cepat target ICBM bergerak dalam pengujian itu. Kecepatan tinggi dari ICBM sejati adalah salah satu alasan utama mengapa kelas roket tersebut sangat sulit untuk dicegat. Rudal balistik antarbenua dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan 20 kali kecepatan suara (Mach 20).

Pada saat sebelum uji coba 2017, Laura Grego telah memeriksa jarak yang diperkirakan akan ditempuh oleh dua roket uji – dan seberapa cepat mereka terbang – dan disimpulkan bahwa roket target yang diluncurkan MDA kemungkinan besar akan jauh lebih lambat secara signifikan daripada ICBM yang sesungguhnya.

Apabila benar bahwa Pentagon menguji pertahanan misilnya terhadap target yang lebih lambat daripada yang realistis, maka militer tak benar-benar tahu apakah pertahanan itu benar-benar berfungsi. Sistem GMD adalah satu-satunya pertahanan rudal milik AS yang seharusnya dirancang bisa mengenai ICBM.

Ada “perisai” rudal GMD termasuk 40 rudal pencegat operasional di Fort Greely di Alaska dan empat di Vandenberg. Pentagon berencana untuk menambah 20 roket GMI selama beberapa tahun ke depan.

Avangard, rudal jelajah nuklir hipersonik buatan Rusia. © Kementerian Pertahanan Rusia

Tapi Laura Grego memperingatkan agar tak terlalu percaya pada sistem. “Kita seharusnya tidak memikirkan GMD sebagai pertahanan yang kuat atau pencegah yang kuat”, katanya kepada NPR. “Karena itu tak memberikan perlindungan dalam dunia nyata”.

Meskipun masih ada keraguan tentang keefektifan atas pertahanan-rudal yang ada, militer berencana untuk menambah sistem baru dan sama-sama belum terbukti menjadi perisai rudal AS. Angkatan Laut AS mengumumkannya awal 2019 bahwa ia akan segera menguji pencegat rudal SM-3 terhadap target kelas ICBM.

Tes SM-3 dapat menghadapi tantangan yang sama yang telah memperumit uji coba GMD. Roket target harus terbang secepat ICBM sejati agar uji coba dapat dilakukan dan disebut sukses.

Sebagai contoh misalnya, Rusia tidak mau mengambil risiko. Pada tahun 2018, Presiden Rusia Vladimir Putin bergegas mengembangkan rudal nuklir hipersonik Avangard terbaru, rudal yang meluncur dengan kecepatan Mach-20 dan bergerak diketinggian lebih rendah dari ICBM, berpotensi menggagalkan rudal seperti SM-3 dan GMD, yang dirancang untuk bekerja dengan ketinggian sangat tinggi.