Jul 122012
 

Rudal Starstreak di APC Stormer

Tabah dan bertahan total. Strategi itu mungkin yang harus dianut satuan Arhanud untuk beberapa tahun ke depan. Betapa tidak, rudal-rudal pertahanan yang dipesan pemerintah, masih berupa misil jarak pendek, seperti: Starstreak buatan Inggris, Grom buatan Polandia dan TD 2000 buatan China. Pertanyaannya adalah, kalau ada rudal jarak menengah, mengapa harus memborong rudal pertahanan udara jarak pendek ?

Pemilihan rudal pertahanan jarak pendek (5- 7 km) ini, menunjukkan postur pertahanan udara Indonesia belum beranjak dari basis pertahanan titik.

Pertahanan titik merupakan pertahanan terhadap sebuah obyek atau area tertentu, seperti: lapangan udara, kilang minyak, pabrik pesawat, istana negara dan obyek vital lainnya, untuk menangkis serangan udara dan peluru kendali. Rudal-rudal anti serangan udara itu ditaruh di dekat atau di atas obyek yang dilindungi.

Penggunaan rudal pertahanan titik biasanya dikombinasikan dengan pesawat pencegat, yang memiliki kemampuan lepas landas dan mendaki secepat mungkin untuk menyerang ketinggian pesawat terbang lain. Pesawat pencegat pertahanan titik harus memiliki kemampuan manuver yang tinggi. Konsep pertahanan seperti ini, biasanya dianut karena daya cakup radar masih relatif sempit. Dengan kata lain, pihak bertahan memiliki waktu peringatan yang sangat singkat sebelum mampu menandingi musuh.

Pertahanan udara titik, mencakup: pesawat pencegat jarak pendek, sistem persenjataan di kapal, sistem artileri penangkis serangan udara maupun rudal anti-udara jarak dekat, serta sistem perlindungan aktif di tank atau kendaraan lapis baja lainnya.

Misil Anti-Udara TD-2000B China

Model pertahanan seperti itu, bisa disebut force protection. Tindakan pencegahan untuk melindungi kekuatan sendiri dari bahaya serangan musuh, serta mengurangi resiko akibat tindakan musuh terhadap obyek vital militer dan negara.

Karena sistem pertahanan ini dianggap masih memiliki kelemahan, maka ditambahkan perlindungan berupa pesawat pencegat pertahanan wilayah. Pesawat pertahanan wilayah didisain untuk terbang jauh dan lebih bertenaga karena bertugas melindungi wilayah yang luas. Pesawat jenis ini konon tidak selincah pesawat pencegat pertahanan titik.

Untuk itulah Rusia menciptakan beberapa jenis pesawat seperti Sukhoi dan Mikoyan Gurevich (MIG), yang memiliki spesialis masing-masing. Sukhoi dirancang untuk melindungi wilayah Rusia yang sangat luas. Sementara MIG didisain sebagai pesawat pertahanan titik yang memiliki kemampuan dog fight yang baik. Untuk menutupi kelemahan pesawat pertahanan wilayah yang dianggap kurang lincah, pesawat itu dilengkapi rudal jarak jauh dan menengah.

Model pertahanan seperti itu mengadopsi teater perang antara Jerman dan Sekutu, lalu berlanjut ketika perang dingin NATO dan Uni Soviet. Namun seiring perkembangan teknologi peluru kendali, strategi pertahanan seperti itu perlu dikaji kembali.

Kini pesawat musuh tidak harus terbang ke target, untuk menghancurkan sasaran. Mereka bisa menembakkan rudal dari jarak menengah. Sementara pesawat tempur tidak bisa menyergap rudal di tengah jalan. Untuk itu, rudal pertahanan udara pun harus ikut berubah dan harus bisa menjangkau pesawat yang menyerang dari jarak jauh.

Anti Pesawat Jarak Menengah S-300 Rusia

Peluru kendali jarak menengah akan efektif jika radar-radar Indonesia sudah bisa mengcover seluruh wilayah RI. Sementara fakta di lapangan menunjukkan radar Indonesia masih bolong-bolong. Ahli radar dari Universitas Brawijaya Malang, Rudy Yuwono mengatakan Indonesia memiliki lebih kurang 30 radar dan rawan terhadap ancaman negara lain. Idealnya Indonesia memiliki 300 radar. Untuk itu, Indonesia sedang berupaya membuat radar sendiri. “Indonesia hanya punya lebih kurang 100 orang tenaga ahli radar. Padahal, radar yang dibutuhkan oleh Indonesia sangat banyak,” ujar Rudy Yuwono.

Bahkan Amerika Serikat memberi bantuan 12 radar sistem pengamanan laut kepada pemerintah Indonesia. Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan, Brigjen Hartind Asrin, bantuan radar AS ditempatkan di Selat Malaka atau Pos Sumatera untuk pengawasan kapal maritim. “Saya sudah lihat satu, di dekat Batam. Itu untuk melihat pergerakan kapal di Selat Malaka. Radar itu diberikan tanpa maksud apa-apa,” ujar Brigjen Hartind di Kemenhan, Jakarta.

Hartind menyebutkan setelah pemerintah AS memberikan bantuan radar kepada Indonesia, petinggi pertahanan China pernah menanyakan, apa saja yang dibutuhkan Indonesia untuk melakukan pengawasan di laut. “Saya katakan, bisa radar dan bisa kapal patroli”, ujar Brigjen Hartin.

Radar Master T Merauke

Jika coverage radar masih bolong-bolong, bagaimana mungkin Indonesia memiliki rudal pertahanan jarak menengah ?. Tampaknya pemerintah masih fokus untuk menutupi radar yang bolong-bolong tersebut.

Yang lebih rumit lagi, adalah menghadapi reaksi negara tetangga, jika tahu Indonesia membeli rudal jarak menengah. Pembelian rudal jarak menengah, ibarat memmbangunkan macan tidur. Rudal mempunyai efek strategis yang besar dan sangat ditakuti. Tentu mereka akan bereaksi dan ujung-ujungnya memicu perlombaan senjata. Kecuali jika Indonesia bisa membangun rudal jarak menengah dengan kemampuan sendiri.(Jkgr).

  15 Responses to “Dari Starstreak Hingga TD 2000B”

  1. bukannya kita juga melirik s300nya rusia dan melirik juga Rudal anti pesawat menengah China ?

  2. dalam membeli alutsista, yang juga perlu diperhatikan adalah biaya perawatannya, yang mungkin jauh lebih mahal dari harga beli, inilah yang diharapkan oleh pihak produsen, yaitu mengikat kita agar uangnya terus mengalir………

  3. yah… bilang banyak duit beli rudal aja kayak rudal ASTOR COKLAT !

  4. iya..memang benar…tutupi dulu wilayah yg bolong2 dg radar..lalu beli missil jarak menengah…S-3OO….jgn memilih yg rawan embargo…made in USA atau UK…berisiko tinggi….kpd wakil rakyat…tolong jgn birokratis….

  5. terkait dengan membelian rudal jarak pendek,seperti starstreak, grom atau td 2000 ada hubungannya dengan sedang

    didalami konsep perang asimetris oleh tni..

    • Iya. Kalau hanya menggunakan rudal pertahanan udara jarak pendek, posisi Arhanud menjadi rancu. Satuan-satuan lain juga memiliki rudal sejenis (manpads), sehingga fungsi Arhanud menjadi nihil dalam melindungi pasukan di medan operasi. Akhirnya Arhanud terjebak hanya di pertahanan titik (obyek vital).

      Dalam Latihan Gabungan, Arhanud tidak diikutsertakan. Mungkin susah memasukkan mereka ke dalam skenario, karena latihan perang tersebut tentang perebutan wilayah RI yang dikuasai musuh.

  6. sehabis radar yg tidak kalah pentingnya adalah satelit….jika masih mengandalkan satelit negara lain… sewaktu2x mereka switch off maka semua akan blank kecuali negara2x yg sudah mandiri dalam hal satelit untuk positioning system pertahanan

    • Setuju om, kalau kita beli suatu Hi-Tech dari luar, apalagi Amerika pasti ada kode rahasia yang sewaktu-waktu bisa digunakan, selain satelit, juga radar-radar bantuan hibah AS itu, saya sama sekali tidak percaya kalau tidak ada apa-apanya, apalagi ada embel-embel tidak boleh dimodif.

  7. Timur leste juga ditawari cina radar tapi mereka tidak mau karena operatornya dr cina, jd patut di ketahui ini radar US operatornya siapa, porgramnya seperti apa, nanti disisipkan program mata-mata pula.

    kita harus menguasai satelit krn ini puncak keberhasilan suatu negara dalam pertahanan negara, satelit itu ibarat mata dewa, di mana saja kita bisa akses meskipun pasukan kita didlm hutan pun komunikasi lancar, kendali ranpur terkoneksi. negara yg unggul adalah negara yg memiliki satelit handal

  8. negeri ini harusnya berdiri dengan kaki sendiri….. masa hanya dengan membeli peralatan tempur sendiri harus tunduk pada keputusan negara lain,,,, beli aja perlatan tempur yang canggih…… masa kita kalah sama singapura….. kan negeri ini kaya akan sda-nya kenapa tidak di manfaatkan….. wahai pemimpin negeri ini jika masih menginginkan negeri masih ada ke depannya… perkuat militernya,,,, jangan duitnya kau korup.

  9. sebenarnya klo masalah radar, saat kita memiliki 34 radar militer. Dengan jmlh segitu wilayah barat d tengan sdh seluruhnya tercover dg radar, utk wilayah timur mmg ada bbrp area blank spot namun saat ini Mabes TNI sdg membangun satuan radar di Ambon, Jayapura, sumlaki, Tambolaka (NTT) untuk menambah Satuan radar yg sdh ada spt timika, merauke, biak, Buraen (Kupang). Kedepan jg sdg diprogramkan utk membangun SatRad di Sorong d Morotai. Jika sdh selesai smanya lengkaplah sdh mata d telinga kita. Masalahnya…kita msh minim dalam hal pemukul,..smtra msh mengandalkan Sukhoi di Mksr d F-16 di Madiun. Butuh waktu utk menggeser kekuatan ini jika ada infiltrasi..

  10. Pokoknya perbanyak radar jarak menengah dan jarak jauh ditambah misil jarak menengah dan jarak jauh……. tdk bakalan negara asing berani macam macam lagi….. bravo tni

  11. @Mr.Diego,
    Roket jarak jauh yang dimaksud wamenhan -yang akan menjaga jakarta- apa ya?

    • Yang menjaga jakarta saat ini rudal anti -udara Starstreak Inggris. Roket jarak jauh apaan ya ?.
      Ada Satuan Rudal di Cikupa Tangerang. Gak tahu apa alutsista terbaru mereka.

      • Paling2 sementara ini strarstreak, grom, RBS-70, td -2000b dan mistral untuk tni ad, dari TNI AU mengandalkan QW-3 dan sebentar lagi penangkis udara kanon Oerlikon Kaliber 35 mm dibantu radar dan rudal jarak pendek Chiron. Klo TNI AL pastinya mengandalkan mistral.

        Rencana ke depan untuk TNI AD khususnya Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional(Kosekhanudnas) III Medan, TNI AD juga akan mendatangkan rudal HQ-16 atau LY-80/KY-80. Sedangkan TNI AU kedepan rencana medatangkan/membeli 7 baterai Rudal Jarak Sedang/menengah. (Itu baru masuk shooping list) nggak tau jadi beli apa kagak tinggal pilih punya rusia, china, perancis atau yg lainnya.
        Dengan anggaran MEF terbatas TNI AD untuk rudal pertahanan jarak sedang menyerahkan ke TNI AU aja (mending beli mistral+startreak sudah cukup). Sedangkan TNI AU daripada beli rudal pertahan udara jarak menengah/sedang mending beli lg 1 skuaron fighter kelas berat macam su-35bm lengkap pensilnya.

 Leave a Reply