Pertama Kalinya F-35A Angkatan Udara AS Lakukan Serangan Udara

F-35A lakukan pengisian bahan bakar di udara di lokasi yang dirahasiakan (foto:Staff Sgt. Chris Drzazgowski/U.S. Air Force)

Pesawat tempur F-35 akhirnya untuk pertama kalinya terlibat dalam pertempuran. AS dilaporkan telah menggunakan dua pesawat siluman F-35 untuk menghancurkan jaringan terowongan ISIS dan suplai senjatanya di Irak pada 30 April.

Serangan udara pada hari Selasa – adalah penggunaan pertama F-35A oleh Angkatan Udara AS – setelah serangan udara F-35A yang dilakukan oleh militer Israel pada Mei 2018 dan F-35B Korps Marinir AS pada September 2018.

Menurut Komando Pusat Pasukan Udara AS, serangan udara itu terjadi di Wadi Ashai, di timur laut Irak. Sebuah rilis berita 24 April dari Komando Pusat AS menyatakan bahwa mlitan ISIS telah berusaha untuk memindahkan amunisi, peralatan dan personelnya ke Wadi Ashai sebagai pondasi kebangkitan kembali ISIS, sehingga mendorong serangan balasan yang dilakukan oleh Pasukan Keamanan Irak dan pasukan Gabungan Combined Joint Task Force.

F-35A melakukan serangan udara menggunakan rudal Joint Direct Attack Munition untuk menyerang jaringan terowongan ISIS yang sudah tertanam, dan AS meluncurkan amunisi jauh ke dalam Pegunungan Hamrin, sebuah lokasi yang dapat mengancam pasukan Irak dan Sekutu.

Informasi lebih lanjut tentang serangan udara tersebut, termasuk apakah serangan itu berhasil, tidak disebutkan dalam laporan.

Serangan udara menggunakan F-35A telah banyak diantisipasi selama berminggu-minggu, setelah Angkatan Udara AS mengerahkan jet tempur ke Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab pada tanggal 15 April. Angkatan Udara AS belum menentukan berapa banyak F-35 yang sekarang beroperasi di Timur Tengah, tetapi semua jet tempur berasal dari Skuadron 388 dan Skuadron 419 yang bermarkas di Hill Air Force Base, Utah.

Siluman F-35 buatan Lockheed Martin, adalah jet tempur terbaru militer AS. Program ini telah mengalami pembengkakan biaya dan kemunduran jadwal sejak dimulai sekitar 20 tahun yang lalu, dan Kantor Akuntabilitas Pemerintah memperkirakan bahwa program tersebut akan menelan biaya lebih dari US$ 1 triliun selama masa pakainya.

Teknisi dan operator F-35 yang dikerahkan ke Al Dhafra memuji kecangihan suite sensor dan komputer yang dimiliki F-35. Kecanggihan F-35 memungkinkan tim untuk mengumpulkan, memadukan, dan mendapatkan begitu banyak informasi, menjadikan F-35 lebih bersahabat bagi pesawat teman namun mematikan bagi musuh-musuhnya.

DefenceNews

Tinggalkan komentar