Pertemuan Bersejarah Trump – Kim Jong Un, Teken Dokumen

76
71
Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura, 12/8/2018. (photo: Dan Scavino Jr. – @Scavino45)

Singapura, Jakartagreater.com – Mengakhiri pertemuan bersejarah mereka di Pulau Sentosa, Singapura, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengeluarkan pernyataan bersama menyangkut pertemuan mereka pada 12 Juni 2018 ini.

Berikut pernyataan selengkapnya kedua pemimpin seperti disiarkan Reuters, dirilis ANTARA, 12/6/2018:

Pernyataan Bersama Presiden Donald J. Trump dari Amerika Serikat dan Ketua Kim Jong Un dari Republik Rakyat Demokratik Korea pada Pertemuan Singapura.

Presiden Donald J. Trump dan Ketua Kim Jong Un telah menggelar pertemuan pertama nan bersejarah di Singapura pada 12 Juni 2018.

Presiden Trump dan Ketua Kim Jong Un telah bertukar pendapat secara komprehensif, mendalam dan jujur mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan pembentukan hubungan baru AS-DPRK (Korea Utara) dan membangun rezim perdamaian yang kekal dan kuat di Semenanjung Korea.

Presiden Trump telah bertekad untuk memberikan jaminan keamanan kepada DPRK, dan Ketua Kim Jong Un telah menegaskan kembali komitmen tegas dan teguhnya dalam menuntaskan denuklirisasi Semenanjung Korea.

Untuk meyakinkan bahwa pembentukan hubungan baru AS-DPRK akan memberikan sumbangan kepada perdamaian dan kemakmuran di Semenanjung Korea dan dunia, dan menyadari bahwa pembangunan kesalingpercayaan dapat memajukan denuklirisasi Semenanjung Korea, maka Presiden Trump dan Ketua Kim Jong Un mengeluarkan pernyataan berikut:

1. Amerika Serikat dan DPRK bertekad membangun hubungan baru AS-DPRK sesuai dengan hasrat rakyat kedua negara mencapai perdamaian dan kemakmuran.

2. Amerika Serikat dan DPRK akan bersama-sama berusaha menciptakan rezim perdamaian yang langgeng dan kuat di Semenanjung Korea.

3. Menegaskan lagi Deklarasi Panmunjom pada 27 April 2018, DPRK bertekad untuk bekerja ke arah denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea.

4. Amerika Serikat dan DPRK bertekad menyelesaikan masalah POW/MIA (tawanan perang), termasuk repatriasi mereka yang sudah teridentifikasi.

Menyadari bahwa pertemuan AS-DPRK –yang pertama dalam sejarah– sebagai peristiwa sangat langka dengan signifikansi yang besar dan demi mengakhiri berpuluh tahun ketegangan dan permusuhan di antara kedua negara dan demi membuka sebuah masa depan yang baru, Presiden Trump dan Ketua Kim Jong Un bertekad untuk mengimplementasikan secara menyeluruh dan segera ketetapan-ketetapan dalam pernyataan bersama ini. Amerika Serikat dan DPRK bertekad untuk menyelenggarakan negosiasi-negosiasi berikutnya yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, dan pejabat tinggi DPRK yang relevan, dalam tempo sesingkat-singkatnya, untuk mengimplementasikan hasil-hasil pertemuan AS-DPRK.

Presiden Donald J. Trump dari Amerika Serikat dan Ketua Kim Jong Un dari Komisi Hubungan Luar Negeri Republik Rakyat Demokratik Korea telah bertekad untuk bekerja sama bagi terciptanya hubungan baru AS-DPRK dan untuk memajukan perdamaian, kemakmuran, dan keamanan Semenanjung Korea dan dunia. (12 Juni 2018, Pulau Sentosa, Singapura).

Trump sebut Kim “cerdas sekali”

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menandatangani sebuah “dokumen komprehensif”, Selasa, 12/6/2018, menyusul pertemuan bersejarah di Singapura yang ditujukan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea, dirilis ANTARA.

Trump menyebut Kim telah mengambil langkah yang cerdas sekali karena dia memperkirakan proses denuklirisasi akan diawal dengan aman sangat cepat, kendati media belum mengetahui isi pasti dokumen itu.

Kim sendiri sudah mengatakan bahwa kedua pemimpin telah melaksanakan sebuah pertemuan bersejarah dan memutuskan untuk melupakan masa lalu. “Dunia akan menyaksikan sebuah perubahan besar,” kata Kim seperti dikutip Reuters.

Trump mengaku telah memiliki ikatan batin khusus dengan Kim sehingga hubungan kedua negara akan sangat berbeda dari sebelum ini.

“Orang akan sangat terkesan dan orang akan bahagia sekali serta kami akan mengatasi sebuah masalah yang paling membahayakan dunia,” kata Trump.

Ketika ditanya apakah dia akan mengundang Kim ke Gedung Putih, Trump menjawab, “Tentu saja, saya akan (mengundangnya).”

Kim dan Trump teken dokumen

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani sebuah dokumen menyeluruh menyusul pertemuan bersejarah yang bertujuan menciptakan denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa sampai saat ini media massa belum mengetahui isi dokumen tersebut.

Menurut Reuters, sekalipun terobosan yang dibuat pada pertemuan ini hanya awal untuk sebuah proses diplomasi, namun proses ini dapat membawa ke perubahan yang langgeng pada lanskap keamanan Asia Timur Laut seperti saat mantan presiden Amerika Serikat Richard Nixon menunjungi Beijing pada 1972 yang mengantarkan kepada transformasi Tiongkok.

Sebelum menandatangani dokumen yang disebut Trump sebagai “surat komprehensif” itu, Kim menyatakan kedua pemimpin telah mengadakan sebuah pertemuan bersejarah dan “telah memutuskan untuk meninggalkan masa lalu. Dunia akan menyaksikan perubahan besar.”

Trump menyatakan proses denuklirisasi akan terjadi amat sangat cepat dan menambahkan bahwa dia telah menciptakan “ikatan khusus” dengan Kim dan hubungan dengan Korea Utara akan sangat berbeda (dibandingkan dengan sebelum ini).

“Ini akan mengantarkan kepada hal yang lebih, lebih dan lebih lagi,” kata Trump.

76 KOMENTAR

  1. Moratorium denuklirisasi Korut sudah ada sejak 1993 jadi bukan hal baru dan Trump hanya mengikuti jejak langkah para pendahulunya… Lalu ketika Taepodong 2 meluncur sekitar tahun 2006 Korut mengingatkan ke asu bahwa Moratorium itu sudah tidak berlaku lagi wkkkk… Apakah si fatboy akan benar2 rela melepas nuklirnya atau cuman PHP in si trump kita liat sj nanti xixixi….

    • Kalo Korut berani bermain seperti Iran maka tekanan maksimum yg akan diberikan termasuk larangan seluruh entitas USA untuk berhubungan dgn negara atau perusahaan yg bekerja sama dg Korut. Bukan hal sulit untuk USA bermain embargo dan perang dagang dg China. Kalo China berniat membantu Korut sekalipun.

  2. kayanya kim udah menyerah mbuat nuklir, maklum walo klaim telah membuat bom hidrogen, rasanya kurang masuk diakal krn home industrinya saja masih terbengkalai dan rasanya juga mustahil korut bisa kembangkan nuklir tanpa bantuan luar.

    jadi kesimpulannya opini gw kgk ada reaktor nuklir di korut, dan komposisi bahan peledak roket2/rudal2nya paling setara tnt atau dibawahnya.

  3. Sejak kedatangan nixon ke china 46 thn yg lalu, timbul kesadaran kolektif elit politbiro partai komunis china yg membawa mereka ke arah komunis-kapitalis yg maju dan menjadi penguasa ekonomi dunia. Apakah kim dan stafnya akan mengikuti jejak china dan menyalib korsel dalam pembangunan ekonomi?

  4. Mestinya Korea Utara dan Selatan duduk bersama dan berjabat tangan, memulihkan hubungan yg dulu kelam, saling curiga dan bermusuhan, bersatu menjadikan satu Korea. Kalau dua negara ini di gabung, wahhh ndak kebayang menjadi kekuatan militer, ekonomi dan Teknologi yang luar biasa.

  5. @bR. RI telah menjadi anggota tdk tetap DK PBB dan tetap komit bela Palestina. Israel kemaren mencabut visa kunjungan wisata ke Jerusalem kpd RI dan mengundang salah seorang petinggi NU menjadi pembicara dlm pertemuan formal dgn Rabi Yahudi terkemuka ketika dikomfirmasi kpd menlu dan pak Jokowi, pak Presiden mengatakan itu gak akan merubah kebijakan RI kpd Palestina dan Israel kayaknya ini saling berhubungan kasusnya.just Imho!he3

  6. Dengan perjanjian itu apakah militer USA bakal ditarik dari Jepang dan Korsel?? Jelas tidak.

    Kuncinya adalah poin ketiga pada perjanjian tsb dimana USA akan menjamin keamanan Korut. Apakah nasib Korut akan seperti Libya??? Tidak karena arah perjanjian damai ini adalah penyatuan dua Korea seperti Jerman. Dengan demikian otomatis seluruh Korea akan menjadi sekutu bagi USA dan untuk menjamin tidak ada penghianatan, militer USA akan tetap ditempatnya.

    1 rantai telah siap dibuat, tinggal membangun rantai selanjutnya termasuk membangun benteng di Asia Tengah. Dengan begitu kekuatan militer dan politik China dan Rusia akan terkunci. Suatu saat mereka pasti akan bersatu, maka tembok yg kuat harus segera dibangun.

    China dan Rusia itu sendiri adalah Bangsa Yajuj Ma’juj yg telah dituliskan dalam Bibel dan Al Qur’an. Mereka bangsa yg rakus dan perusak. Merekalah yg bakal ditakdirkan untuk membuat kerusakan dimuka bumi.

    Kristen dan Islam akan bersatu dan menghentikan pertikaian mereka menghadapi China dan Rusia yg merupakan Bangsa Yajuj Ma’juj ini. Waspadalah untuk akhir jaman.

    • Ahhh…analisa ngawur. Di bagian mana ayat yg mengatakan Bangsa Yajuj Ma’juj adalah Rusia dan China.? Atau hadist mana yg mengatakan itu.? Jng membuat penyesatan atas dasar agama lho bung. Apalagi mengatakan mencatut Al Qur’an.

      Maaf….kriteria Rusia menjadi Bangsa Yajuj Ma’juj spt nya tdk masuk. Knp.? Kajiannya adalah makin berkembangnya Islam disana dng sangat cepat. Sehingga tidak mungkin Bangsa Yajuj Ma’juj berasal dr negara yg berpenduduk kelak mayoritas muslim.
      Kalo Bangsa Yajuj Ma’juj adalah china msh memungkinkan.

      • Islam hanya berkembang pada masyarakat Tatarstan dan sebagian kaukasia seperti didaerah Dagestan, Cheznia dan sekitarnya. Sisanya bangsa Slavic yg mendominasi Rusia sebagian besar masih memeluk Orthodoks. Sejak kejatuhan Bizantium, Orthodoks selalu membenci Islam. Mereka saat ini mendekati negara2 Islam hanya karena ada kepentingan tertentu. Lihat saja apa yg terjadi pada Cheznia, tak beda jauh dg Xinjiang di China. Kelihatannya damai tapi itu palsu karena umat muslim disana ditekan dg keraa. Buktinya warga Tatarstan diusir dari Krimea saat Rusia menduduki semenanjung milik Ukraina itu.
        https://m.republika.co.id/amp_version/p59k9f31
        https://id.m.wikipedia.org/wiki/Deportasi_Tatar_Krimea

        USA memang pernah menyerang negara2 Islam tapi tak pernah mengusir atau memusnahkan mereka. Kalopun ada gejolak, itu dari intern mereka sendiri. Beda dg Rusia yg begitu menguasai wilayah lainnya, maka mereka akan mengusir atau membantai Muslim yg ada di wilayah tersebut.

      • Islam hanya berkembang pada masyarakat Tatarstan dan sebagian kaukasia seperti didaerah Dagestan, Cheznia dan sekitarnya. Sisanya bangsa Slavic yg mendominasi Rusia sebagian besar masih memeluk Orthodoks. Sejak kejatuhan Bizantium, Orthodoks selalu membenci Islam. Mereka saat ini mendekati negara2 Islam hanya karena ada kepentingan tertentu. Lihat saja apa yg terjadi pada Cheznia, tak beda jauh dg Xinjiang di China. Kelihatannya damai tapi itu palsu karena umat muslim disana ditekan dg keras. Buktinya warga Tatarstan diusir dari Krimea saat Rusia menduduki semenanjung milik Ukraina itu.
        https://m.republika.co.id/amp_version/p59k9f31
        https://id.m.wikipedia.org/wiki/Deportasi_Tatar_Krimea

        USA memang pernah menyerang negara2 Islam tapi tak pernah mengusir atau memusnahkan mereka. Kalopun ada gejolak, itu dari intern mereka sendiri. Beda dg Rusia yg begitu menguasai wilayah lainnya, maka mereka akan mengusir atau memban_tai Muslim yg ada di wilayah tersebut.

  7. Lho tapi perubahan sikap kim ini justru dimulai setelah kunjungan dr si jin ping lho, walaupun didahului dgn saling umpat antara kim dan trump.

    Ya mgkn saja cmn skenario utk membebaskan korut dr sanksi dan menumbuhkan ekonomi korut dan rusia melalui korut.

    Lagian masa iya pendirian korut selama 65 thn bs berubah tiba2 tanpa ada tujuan yg bikin greget.

    • Korut beralih karena paham kalo ngeyel terus menerus mereka akan hancur secara perlahan. Pertanian hancur, pangan juga hancur. Kelaparan disana udah sampe tahap akut. Sumber devisa dipangkas. China juga gak bisa berbuat banyak. Makanya Kim Jong Un berniat mempercepat proses pengembangan senjata nuklir agar bisa dapat posisi yg menguntungkan. Posisi daya tawar terhadap USA dan China. China gak bisa menjamin Korut, buktinya China akhirnya ikut membatasi devisa dan perdagangan dg Korut hingga 70%. China pun juga mikir terlalu beresiko menjaga Korut terus menerus. Makanya pilihan Kim Jong Un sesuai rencana dasarnya untuk mengajak Presiden USA melakukan perundingan dalam 1 meja. Mengakhiri embargo dan bersatu dg Korsel tanpa kehilangan kekayaan dan kekuatannya. Tinggal mastiin aja apakah akan ada kudeta terhadap Kim Jong Un atau tidak khususnya dari pihak militer yg menentang perjanjian damai ini. Bisa jadi awal Kim Jong Un memerintah, dia sudah mengeksekusi Keluarga termasuk pamannya yg dinilai bakal melakukan kudeta jika rencana perjanjian damai ini dilaksanakan.

  8. Kampret lah filter jkgr ini mo reply si yajuj majuj agato ga keluar… Bung Diego ane ga boleh komeng yah??? mending ane silent reader ajalah kalau mo komeng kena filter terus… Kesel juga lm2 sm nih filter udah ngetik panjang2 kagak keluar filter kampretos ane kagak nyebut celeng lho padahal…

  9. Hebat strategi cina..
    Jika bnr gak mugkn korea bersatu hanya berdamai dan denuklurisasi..

    Knp pertemuannya tidak di indo ya..

    Selanjunya usa cina di pasifik kosentrasi urus lcs dan rebutan pengaruh di indo..
    Rakyat indo terpecah antara anti china terserah usa rusia..

    Tp fakta 3 th ini tanpa investasi dan dana china pertumbuhan ekonom indo pasti di bwh 5?..

    Ha ha ha