May 062014
 

Ilustrasi baja,  www.shutterstock.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Perusahaan baja asal Tiongkok, PT Shanxi Haixin and Steel Group, siap menggelontorkan dana sebesar 50 juta dollar AS untuk membangun dua pabrik besi baja di Indonesia. Untuk memuluskan rencananya tersebut, Shanxi dipastikan mengandeng perusahaan lokal yaitu PT Trinusa Group.

Dengan status Penanaman Modal Asing (PMA), dua perusahaan tersebut sudah membentuk satu perusahaan joint venture dengan nama PT Resteel Industry Indonesia.

Achmad F Fadhillah, Chairman PT Resteel Industry Indonesia, mengatakan pembangunan dua pabrik besi baja tersebut nantinya akan terfokus di dua wilayah yaitu Batam dan Tojo Una Una (Sulawesi Tengah).

“Kemungkinan ground breaking bakal dilakukan pada akhir bulan ini. Lalu kami akan mulai produksi setelah enam bulan kemudian, atau sebelum akhir tahun sudah bisa menghasilkan produk,” katanya, Senin (5/5/2014).

Achmad menuturkan, kedua pabrik tersebut ditargetkan bisa menghasilkan produk super low carbon nickel titanium dan special steel dengan kapasitas 100.000 metrik ton per tahunnya untuk satu line produksi. Saat ini produk dari super low carbon ini banyak digunakan untuk industri militer di Tiongkok, seperti kapal dan tank.

Namun itu untuk tahap awal, perusahaan patungan tersebut berencana menambah line produksinya sebanyak 10 line, apabila proyek kedua pabrik tersebut telah rampung pada 2015.

“Satu line produksi kami investasikan sebesar 50 juta dollar AS, jadi kalau 10 line sekitar 500 juta dollar AS. Ke depan, pemerintah juga seharusnya memberikan insentif kepada kami dengan melihat nilai investasi sebesar itu,” katanya.

Menurut Achmad, yang membedakan produk baja yang dihasilkan Resteel dengan pabrik baja lain yaitu sistem produksinya menghilangkan dua proses pengolahan.

“Jadi dari iron ore (batu besi,red) bisa langsung menjadi baja. Inilah mengapa dikatakan baja tersebut disebut special steel. Hasil dari teknologi yang memerlukan energi gas ini memiliki kualitas lebih bagus dan tidak memerlukan power plant baru, hemat energi serta ramah lingkungan,” katanya.

Keuntungan lain dari proyek pembangunan pabrik besi baja ini, menurut Fadillah, akan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat serta pendapatan daerah. Mengingat kedua pabrik diperkirakan akan menyerap tenaga kerja sekitar 2.000 orang.

Atas alasan tersebut, Achmad berharap industri pertambangan di Indonesia yang semakin berkembang pesat ini dibarengi dengan sistem regulasi yang tidak tumpang tindih. “Sebaiknya regulasi yang dikeluarkan pemerintah memperhatikan kepentingan semua pihak, khususnya para pekerja tambang,” ucapnya.

Shelby Ihsan Saleh, Direktur PT Resteel Industry Indonesia, mengatakan perusahaan juga sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas apresiasi serta izin yang diberikan kepada pelaku industri untuk dapat diproduksi di dalam negeri.

Pasalnya, industri besi baja dengan model pengolahan dengan teknologi terbaru tersebut saat ini hanya diproduksi di dua negara, Rusia dan Tiongkok.

“Indonesia menjadi negara ketiga yang bisa memproses baja khusus tersebut. Untuk tahap awal (line produksi satu hingga tiga, red), hasil produksinya akan dikirim ke Tiongkok terlebih dahulu. Setelah itu, line produksi keempat bisa untuk konsumsi di Indonesia,” ujarnya. (KOMPAS.com)

 Posted by on May 6, 2014  Tagged with:

  131 Responses to “Tiongkok Bangun Pabrik Baja di Indonesia”

  1. Pertamax…wah nih pabrik bisa dimanfaatin gak teknologinya ya buat kemandirian negeri..mantaap

    • Yang penting Aturan Investasi Jelas, Gaji Pegawai Jelas, THR Jelas, Kesehatan Jelas

      Soalnya (menurut pengalaman Pribadi dan Teman-Teman Saya), Perusahaan asal Tiongkok kurang mengerti tentang HAM, Lebih mendahulukan Kolusi, Jauh berbeda dengan Perusahaan asal BARAT, yang mengedepankan Kreativitas dan Reward.

    • Nebeng No one :

      Semoga pemerintah lebih berhati-hati untuk PMA dalam hal SDA Indonesia jangan sampai seperti terjadi di preeford yang hitung-hitungnya sangat merugikan indonesia, negara harus memiliki saham didalamnya paling tidak 30 % agar dapat mengontrol secara lansung dan dapat mengambil keputusan. dalam hal produksi perketat dengan persyaratan hasil produksinya mengutamakan pasar dalam negeri, sangat tidak fair klo dikatakan ” tahap awal (line produksi satu hingga tiga, red), hasil produksinya akan dikirim ke Tiongkok terlebih dahulu Setelah itu, line produksi keempat bisa untuk konsumsi di Indonesia,” paling tidak harus tetap share 70/30 line awal.
      Dalam hal ini pemerintah harus mempelajari ulang MOU untuk PMA diatas jangan sampai hanya untuk memperkaya segelintir orang indonesia semata, sedang SDA ini milik dan untuk seluruh bangsa dan negara.

      maaf jika ada yang salah orang ooT berkomentar

      • @ aldho

        harus bisa dibedakan antara tambang mineral dan pabrik baja…

        freeport dan newmont adalah tambang mineral… harus ada porsi pemerintah di sana… karena mereka menggali perut bumi Indonesia, harus ada keuntungan buat kita selaku pemilik perut bumi itu

        nah… kalo pabrik baja… itu cerita lain… kita harus memandangnya sama seperti pendirian pabrik-pabrik lain… sama seperti pendirian pabrik baja di daerah jabodetabek…. tidak ada kegiatan menggali perut bumi… jadi tidak mutlak harus ada share pemerintah di sana

        ini murni investasi lho… kita yang diuntungkan karena akan ada transfer teknologi pengolahan baja versi terakhir…

        jika pemerintah pusat dan atau pemerintah daerah ingin mendapatkan keuntungan dari captive market yang tersedia (karena hasil produksi sudah dipastikan akan habis diserap), maka sebaiknya pemerintah pusat dan atau pemerintah daerah ikutan tanam saham di perusahaan itu…

        atau bisa dilakukan opsi “kewajiban melantai di pasar bursa” ketika industri ini sudah berhasil produksi agar saham yang dilepas bisa diakuisisi pemerintah…

        kesimpulannya… tidak ada intervensi langsung yang bisa dilakukan pemerintah atas porsi keuntungan yang timbul… ini murni investasi swasta ke swasta… kalo kemudian hasilnya hanya akan memperkaya segelintir orang, ya wajar saja, itulah untungnya para pemilik modal…

        tapi minimal, ada penambahan serapan tenaga kerja, berkurangnya angka pengangguran di daerah itu

        relokasi industri pengolahan baja dari China ke Indonesia sebenarnya merupakan efek bergulir dari diterapkannya peraturan pelarangan eksport mineral mentah ke luar negeri…

        pemerintah mewajibkan perusahaan tambang membangun smelter… dengan dibangunnya smelter, mineral yang semula diekspor dalam bentuk biji murni, akan diolah menjadi bahan baku setengah jadi… terjadi kenaikan nilai atas mineral itu… yang semula per ton mungkin hanya 100 dollar, setelah diubah menjadi bahan baku setengah jadi, per ton meningkat menjadi +100 dollar…

        nah… efek itu yang ingin dikejar pemerintah… berusaha meningkatkan nilai yang didapat dari cukai/pajak lewat peningkatan harga jual produk…

        efek lainnya… ya tadi itu… adanya relokasi industri… berdirinya pabrik-pabrik baru… lapangan kerja baru… dan tak kalah penting… tiap pabrik baru pasti membawa teknologi pengolahan… entah itu teknologi usang… atau teknologi mutakhir seperti pabrik baja ini….

        agar nggak lagi seperti dulu… biji besi dari Indonesia… dikirim ke China… diubah China jadi lembaran baja… lalu dikirim ulang ke Indonesia… kita jual ke China biji besinya seharga 100 dollar per ton… ntar China kirim ulang bajanya per ton 1000 dollah… rugi besar kan…

        tinggal sekarang tugas kita… pilih presiden yang tepat… agar kebijakan ekonomi lebih berpihak kepada kepentingan negara dan bukan kepada kepentingan kantong penguasa….

        pilih siapa…. gampang… bawa sholat saja…. minta sama Allah agar diberikan ketetapan hati ketika memilih…

        • Bung afiq…
          Masalahnya sy gak ngeliat dari ayam ayam yg dijagokan yg punya visi mengembalikan kedaulatan ekonomi kita…semuanya cm berputar sekitar perut perseorangan…tdk ada yg berfikir ekonomi adalah sarana untuk meraih mimpi bangsa untuk sejajar dgn bangsa maju…pikirannya masih sebatas gimana caranya rakyat cukup makan dan alutsista segunung….tujuannya satu terpilih dulu lainnya urusan nanti…

          Maaf saya masih blank…. 😀

          • kalo yang cukup makan dan “alutsista segunung”, sementara aye dukung dulu deh bang 🙂

          • @ mas Wehrmacht

            saya bukan mengidolakan Dahlan Iskan, tapi jika kita melihat prestasi kerja beliau, boleh dibilang membanggakan… kita butuh lebih banyak lagi pemimpin seperti Dahlan Iskan…

            @ admin JKGR

            maaf, komen saya murni penilaian pribadi atas prestasi anak bangsa… tidak ada maksud untuk menjurus ke arah pemilihan presiden nanti… tapi jika emang harus diedit… ya silahkan

          • Bung afiq…jangan sebut nama dong…kalau emang harus inisial aja…lgpula emang blon pasti beliau ini maju sbg calon partainya karena masih wait n see.tp kalau melihat kondisinya, sang voldemort (dia yg tdk boleh disebutkan namanya ini) kecil kemungkinan di calonkan partai pengusungnya karena terlalu independen shg nantinya sulit diatur kepentingan partai 😀

          • @ mas Wehrmacht…

            oke mas… kalo gitu kita ganti Voldemort ajah… hehehe

            saya sungguh berharap JK dan DI bisa memimpin negara ini… hasil kerja mereka sudah terbukti… tanpa banyak publikasi… tapi terbukti mengagumkan…

            sayang mereka nggak duet yach…

            terus terang saya juga males ngeliat calon-calon yang ada

        • @ aldho

          tolong baca juga diskusi yang tejadi di bawah… pendapat mas Satrio ada benarnya juga… teramat benar malah…

          pemerintah pusat dan atau pemerintah daerah wajib mengakuisisi setidaknya 30% dari modal investasi agar kita juga bisa merasakan keuntungan dari industri ini

          • @ afiq0110

            Ia iya lah, memang begitu seharusnya, pemerintah harus mempunyai saham minimal 30%,

            knp bung afiq0110 komen pendapat saya seakan-akan salah!!?
            komen diataskan hampir senada dengan bung satrio seperti anda bilang.!? …(maaf tidak sempat baca di bawah… gua hanya bisa nyimak artikel lanjut komen)

        • Betul, ini memang investasi PMA, bukan pertambangan. Bahkan mendukung poin UU Minerba yang menyetop ekspor bijih besi langsung.

          • Sementara ini kita dukung penuh. Ingat, baru 3 negara di dunia yang pake teknologi ini.
            Jadi inget poros 3 capital city dari negara-negara ini 🙂

        • @ afiq0110

          indonesia kaya akan sumber daya mineral..salah satunya adalah pasir besi….dan itu sangat banyak terdapat di pantai selatan indonesia..
          sebagai contoh bila anda hari ini ngeruk 1 ton..besok pagi lubang bekas yg anda keruk akan terisi penuh kembali dengan pasir besi..(dr samudra indonesia)
          itu rezeky dari tuhan untuk indonesia,,(,milyaran ton)
          cuma sayangnya kebanyakan SDM penduduk pantai selatan indonesia belum sampai kesana….malahan yg terjadi adalah kolusi,antara lsm,aparat terkait,preman,dll untuk kepentingan pribadi.
          itu yg saya lihat di sekitar jawa barat saja yaitu di sukabumi,..tegal beluet,ujung genteng,,dan sekitarnya..

          *santai aja mas afiq0110

          • hehehe… terima kasih atas infonya neng/mas oke lah… terus terang saya baru denger tuh…

            bener kata koes plus yach…

            bukan lautan hanya kolam susu… kail dan jala cukup menghidupimu…

            mudah-mudahan implementasi ketat atas undang-undang minerba ini memberikan efek bola salju positif bagi perekonomian kita

            salam kenal @ oke lah

          • silahkan di lihat terbuka untuk umum..pantai nya yang indah..dengan ombak yang bagus sangat cocok untuk surfing,.(sdh banyak orang asing) .juga pantainya yang hitam (pasir besi) dan pemandangan yang sangat bagus… jujur deh..(bali kalah), jaraknya 6-8 jam dari jakarta..silahkan SPA di pinggir pantai..dengan di lumuri pasir besi..cocok buat penyakit rematik,,dll,,,asal jangan siang hari…pasir pantainya panass,…maklum pasir besi yang berkadar fe di atas 50…..
            kalau mancing….wowww ikannya gede2 bangett…tak usah ketengah laut…

            *santai aja mas

        • @ mas Aldho

          jangan esmosi mas Aldho… pelan-pelan meresapinya…

          ketika pemerintah memberikan konsesi pertambangan… maka kemudian pemerintah akan diberikan saham di perusahaan itu dan berhak mendapatkan keuntungan dari hasil kegiatan pertambangan… tanpa ada kewajiban pemerintah untuk menanamkan modal di perusahaan pertambangan itu

          nah… kalo masalah pabrik peleburan baja… ini adalah sebuah perusahaan biasa… jangan dulu melihat produk yang dihasilkannya…

          karena sebuah peleburan baja merupakan sebuah perusahaan biasa… maka pihak investor tidak berkewajiban memberikan saham kepada pemerintah… dan tidak ada pula kewajiban memberikan keuntungan atas hasil usaha

          lalu kenapa saya menyatakan bahwa pemerintah setidaknya harus memiliki 30% saham atas perusahaan peleburan baja ini ?

          Produk yang mereka hasilkan memiliki nilai strategis… Berbeda dengan produk pabrik peleburan baja biasa… Serapan pasar atas produk yang akan dihasilkan sudah tergambar dengan jelas… Industri strategis kita sendiri bahkan akan membutuhkan produk baja yang mereka hasilkan…

          Jika kita memiliki saham atas perusahaan itu… maka kita selain akan mendapatkan keuntungan atas usaha tersebut… kita juga bisa sedikit banyak mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan diambil para pemimpin perusahaan tersebut agar lebih akomodatif terhadap kepentingan negara

          nah… karena tidak ada kewajiban sebuah perusahaan biasa untuk memberikan saham kepada pemerintah… maka mau tidak mau pemerintah harus ikutan investasi dong…

          jadi… tanggapan saya atas komen mas Aldho bukan kepada harus tidaknya kita memiliki saham di perusahaan itu… kalo masalah ini saya setuju dengan mas Aldho…

          tapi komen saya lebih menekankan bahwa ini perusahaan biasa lho… beda dengan pertambangan… jika kita ingin ikutan untung dan sekaligus mengarahkan kebijakan perusahaan… maka kita harus investasi… harus keluar duit juga…

          peace mas Aldho… salam kenal…

          semoga diskusi ini bisa bikin kita makin dekat… bisa lebih mengenal satu sama lain…

      • “YANG JELAS ANE DUKUNG DULU” DAN SEMOGA BISA DI MANFAATIN ITU PELUANG SANGAT BAGUS, TAPI CERMATI DULU MOU nyaa jgn sampai asal tandatangan saja,.. dan kita kebagian yang ke 3 dan 4, 1 dan 2 di bawa ke cina macam apa aja ini

    • bagusnya engineer2 metalurgi kita diserap untuk bekerja disini nih… buat magang aja.. sambil nyerap ilmu.. kalo udah jago serap deh ma BUMNIS… untuk body frame space shuttle. roket dan MBT kan butuh metal dengan racikan khusus.. semoga dalam waktu dekat kita mampu…

      • kira2 ilmuan kita dah ada yg meneliti nano steal gk yaa..selain ringan dn kuat bahkan lbih kuat dr titanium skli pn..cocok tu utk pembuatan kapal selam dn tank indonesia..

  2. setelah korea selatan,rusia,india dan sekarang tiongkok
    amric mana yah..?

    • Buuuuuayak mas, sejak jaman kemerdekaan sudah ada, bahkan yang pertama Investasi di Indonesia
      di Google aja, kalau ndak salah sudah Ribuan bahkan Puluhan Ribu (termasuk perusahaan menengah-kecil)

      Yang paling Kecil adalah Investasi di PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), sekarang PT. DI : Komponen Boeing, Komponen Bell Textron, Dst…
      Masih ingat F-16, Sayapnya produksi IPTN Tuh…..lebih dari 400 biji

      Jangan sampai KEBENCIAN kita jadi membabi-buta, yang akhirnya membuat Mata, Telinga, Mulut kita menjadi BUTA.

  3. Nomer tilu

  4. Wa bagus dong krakatau posco aja produknya mild carbon steel
    ks posco belum produksi full itu juga ada demo lsm/masyarakat sekitar
    kalau perlu stainless steel, aluminum dan titanium steel
    salam trim

    • indonesia beli alut sista dari korsel….dan bahan bakunya yang suplay dari posco cilegon..

      duh parahhh dagang sama korel…

      • hp guw aj Samsung..

      • Ya sabar neng okelah serba salah juga kalau ngandelin ks tok ya berkembang-kembang bajanya masih konsumsi steel structure/ SA 36, pressure vessel SA 283 Gr C, SA 516 Gr 70 belum yang aneh2 itu juga investasinya dengar2 50 trilyun, pabriknya besar ada pelabuhannya dengar2 juga korsel yg buat jembatan sel sunda
        wong pemerintah kita gak bantu infrastrukturnya jalannya pada bolong2
        salam trim

    • karena ada aroma wawan yang bikin tatut disitu, mulai dari pembebasan lahan, kontraktor yang bangun hingga supplier besi bekas dan bahan tambang lain yang mau masuk….

  5. sudah mulai terbuka tabirnya kerjasamanya yang saling mengutungkan siapa tau tot produk yang satu itu menjadi lancar aminnn

  6. siplah nambah2 lapangan kerja

  7. lokasi pabrik dmn tu?

  8. Wah lama – lama produk made in china tapi kualitasnya meragukan

  9. ups, “bo” nya ketinggalan.
    cah=bocah

  10. Ini contoh artikel yang menunjukkan poin bahwa kita jangan sampai berpatriot sempit dalam berekonomi. Argumen saya di komen-komen sebelumnya adalah GAK PENTING MODAL INVESTASI ITU ASING ATO LOKAL YANG PENTING ADA dan BISA MENGEMBANGKAN INDUSTRI. Mana bisa maju kalau kita terus berkutat dalam debat asing vs Indonesia.

    Kata2 Deng Xiaoping saat memulai mereformasi ekonomi China adalah “Warna apapun Kucing, mau Kucing hitam ataupun Kucing Putih yang penting bisa menangkap Tikus”. Bisa dilihat sendiri bagaimana tranformasi ekonomi China liberalisasi, dan saya belum pernah mendengar banyak orang China mengutuk produk asing di negara komunis mereka.

    Ekonomi Indonesia yang dibilang banyak impor ini terutama di sektor pertanian, bukan karena adanya investasi asing, justru sebaliknya, kurang banyaknya investasi industri di sektor ini makanya kualitas pertanian dan logistik nggak maju-maju. Dan bohong belaka bahwa kepentingan asing justru membuat Indonesia impor. Justru sebaliknya para investor baik saham maupun investor riil selalu was-was kalau Indonesia mengalami trade deficit. Mereka mau Indonesia terus maju karena merekA selalu mencari The Next Growth Story After China, keuntungan kita adalah keuntungan mereka juga.

    Trims

    • Point pertama saya setuju, kita memang butuh investasi baik lokal maupun asing untuk membangun dan meningkatkan pertumbuhan (GDP). Di tengah pertumbuhan dan ekspor minerba yang lagi menurun, kita sangat membutuhkan investasi sebagai instrument pertumbuhan kita. Investasi asing di saat ini sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian dan penciptaan multiplier efectnya. Sebetulnya kita tidak perlu membuang devisa terlalu banyak untuk menstabilkan nilai rupiah, kita cuma perlu masuknya dollar dari investor asing tsb. Tantangan yang sangat tradisional sekali sejak dulu adalah banyaknya perijinan di negara kita. Sebetulnya tidak perlu ada perijinan lingkungan dll yang tdk ada hubungannya dengan investasi tsb cukup perijinan di BKPM. Kini bukan jamannya orba lagi yang perlu perijinan sampai RT. Kita negara hukum, kalau ada yg melanggar akibat investasi tsb hadapi saja dgn hukum.

      Point kedua, kurang tepat. menurut saya, kenaikan investasi asing berbanding lurus dengan kenaikan impor bahan baku dan modal. Pada investasi awal, mereka pasti tidak menemui spek bahan mentah dan modal yg diinginkannya sbg penunjang produksi di pasar lokal karena kalau searching dulu mereka akan ketinggalan produksi. Mereka tentu sudah punya resources supliernya disana, shg akan lbh efisien utk memakai resources yg ada dulu. Apalagi perusahaan multinasional, mereka cenderung utk memakai bahan baku dari anak-anak perusahaannya di dunia dibandingkan dgn lokal. Walaupun perusahaan lokalnya rugi karena selisih kurs dan biaya freight tapi secara konsolidasi mereka tetap akan untung.

      Untuk menghindari impor yg tinggi akibat investasi tsb, pemerintah bisa memainkan instrument fiskalnya dgn cara insentif fiskal bagi mereka yg kandungan lokalnya cukup tinggi dan kemudahan investasi lainnya. Pemerintah tidak perlu berpikir utk kehilangan pendapatan pajaknya tapi mereka cukup berpikir pengaruh multiplier efect dari meningkatnya local content tsb. Selain mengurungi pembayaran devisa utk impor, juga akan menumbuhkan perusahaan lokal yg menjadi investor perusahaan asing tsb. Ada substitusi tax income dari tumbuhnya perusahaan lokal tsb. Disatu sisi pendapatan pajak berkurang dari insentif fiskal tsb, tapi disisi lain pendapatan pajak meningkat dari partner perusahaan lokalnya baik dari ppn maupun pphnya. Mungkin satu syarat utk pemberian insentif ini adalah perusahaan yg sdh ber NPWP spy bisa dihitung jumlah substitusi tsb.

      • Trims buat reply @bung Ihsan

        Import menurut saya harus dibedakan berdasarkan guna barang. Import bisa saja dalam bentuk Import raw material, Import barang konsumsi, dan Import barang produksi. Dari ketiga bentuk tersebut yang bahaya adalah import raw material dan barang konsumsi. Untuk import produksi ketiga bagi negara yang dalam transisi seperti Indonesia masih diperlukan. Seperti yang bung ihsan tunjukkan investasi akan menarik barang impor dari hasil teknologi country of originnya. Itu Betul. Artinya dengan adanya investasi asing maka import untuk barang produksi akan naik. Nah dengan adanya investasi–>import produksi maka akan memperbaiki produktifitas Industri yang akan mengurangi ketergantungan terhadap impor konsumsi dan raw material.

        FDI (investasi asing) -> Impor brg produksi (mesin2) NAIK -> Produktivitas Industri Hulu Naik ->Produktifitas Industri Hilir Naik-> Kualitias barang produksi naik–> Impor Konsumsi turun -> Impor raw material turun -> Ekspor Naik.

        Jadi menurut saya asal kualitas impor itu adalah impor barang produksi tidak jadi masalah bung, Asal pada akhirnya kenaikan ekspor bisa offset impor. Lagipula berdasarkan data dari World Bank %Trade(ekspor-impor) Indonesia dibanding dg GDP masih relatif kecil kok baru 45% bandingkan dg Malaysia yg 140% dan Thailand yg 130%.

        Saya setuju poin bung tentang instrumen fiskal tapi dilemma juga sih bung ihsan. Growth model Indonesia skr adalah ditunjang dari C dari konsumsi. Minus dari model ini ya import konsumsi tinggi, tapi Plusnya seperti ditunjukkan tahun lalu dan 2008, dibandingkan dengan negara2 yg growth modelnya dengan X (ekspor) yang kontraksi -7% sampai -20% Indonesia masih tumbuh 5-6%.

        Nah kalau instrumen itu digalakkan justru akan jadi DISINSENTIF bagi perusahan Indonesia untuk berekspor yang justru akan berdampak tipisnya foreign reserve yang akan bahaya kalau indonesia kena krisis kredit. Indonesia gak punya cukup amunisi untuk melancarkan likuiditas.

        Jadi pemerintah menurut saya bisa mem-balance-kan growth model mereka antara konsumsi dan ekspor. Kalau instrumen fiskal berdampak negatif pada salah satu justru akan berbahaya. Susah memang, tapi apa yang gampang di Indonesia? hehehe.

        Trims

        • Saya setuju untuk impor barang konsumsi dikurangi tapi untuk impor raw material selama di indonesia belum ada dan selama impor raw material tsb untuk nilai tambah produksi barang jadi baik barang substitusi impor maupun barang untuk diekspor, saya sangat mendukung sekali.

          Insentif fiskal ini untuk merangsang atau mendorong perusahaan lokal asing untuk menambah nilai kandungan lokal produknya, bila kandungan lokal ini meningkat praktis impor akan berkurang dan berarti foreign reserve juga ikut bertambah apalagi bila produk dengan kandungan nilai lokal tsb utk diekspor lagi spt perusahaan mobil toyota maka reserve kita akan bertambah lagi.

          Pertumbuhan tingkat konsumsi kita memang ada plus minusnya, disatu sisi bila pertumbuhan tingkat konsumsi itu tidak dibarengin oleh suply di dalam negeri maka akan timbul import, disisi lain dengan pertumbuhan tingkat konsumsi tsb akan meningkatkan kapasitas ekonomi kita dalam hal ini GDP, karena kalau ada demand pasti ada suply, tanpa ada demand, maka perusahaan2 kita akan kehilangan pasar yang berarti produksinya akan berkurang. Disisi lain dengan tingginya konsumsi dalam negeri tsb, memang akan menyebabkan perusahaan kita ada kecenderungan utk memenuhi pasar dlm negeri dulu baru ekspor shg akan menyebabkan ekspor berkurang, tapi disisi lain kalau ekonomi dunia lagi krisis spt tahun 2008 dan 2013, dampaknya relatif kecil bagi perekonomian dalam negeri karena porsi ekspor kita lbh sedikit dengan kata lain ekonomi kita relatif lebih stabil bila ada krisis tjd di dunia krn kuatnya perdagangan di dalam negeri tsb.

        • Data 2013, konsumsi yang naiknya tinggi adalah konsumsi pemerintah sebagai instrument contra cyclical alias menutup lemahnya ekspor. Jadi growth ada unsur eksogenous, konsumsi pemerintah, dan ini yang bisa diatur dengan cara membeli produksi dalam negeri sebanyak mungkin.

          bicara strategi investasi asing. Tentu ada trade off. Devisa masuk, tapi akan tersaingi devisa keluar karena impor bahan baku, bahan penolong dan barang modal. Untuk membuat tetap surplus devisa, harus ekspor.

          Model Keynesian tidak bicara misalnya, bagaimana dengan politik ekonomi. Sebagai contoh, tidak ada di sana kedaulatan ekonomi. Yang terpenting adalah pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, inflasi terkendali, neraca pembayaran yang seimbang. Jadi asalkan 4 hal itu bagus tak masalah, apakah itu dalam situasi perekonomian punya kekuatan untuk tak diintervensi atau sebaliknya.

          Maka model Keynesian tak cukup menjelaskan saat kita bicara misalnya, apakah dengan kebijakan ekonomi yang diambil, dalam jangka pendek/panjang tak akan membuat suatu pemerintah kehilangan kemandirian dalam mengambil putusan? Memang tak ada negara yang tak tergantung pada negara lain. Tapi paling tidak tetap harus ada ukuran seberapa independen pemerintah suatu negara mengambil putusan. Hal semacam itu tak masuk dalam model keynesian.

        • Juga misalnya, tak disinggung bagaimana kalau sumberdaya alam habis karena eksploitasi besar-besaran bisa meningkatkan resiko penurunan ketahanan ekonomi.

        • Menarik @bung Ihsan dan @bung ghi. Tolong ralat saya jika salah, tapi saya mengambil kesimpulan bahwa bung ihsan dan bung ghi mengadvokasi, mendukung dua growth model yang berebeda. Di satu sisi bung ihsan lebih condong kepada growth model Konsumsi (C). Pada sisi yang lain bung Ghi lebih condong kepada growth model Government Cons (G). Tentu dari kedua model ini argumennya adalah siapa penentu utama dari aggregate demand.

          Sudah bung-bung jelaskan plus-minus kedua growth model. Yang ingin saya tanyakan, bagaiamana pendapat tentang growth model lewat Investment (I) dan growth model lewat ekspor (X)? Dan dari 4 model tsb mana yang kira2 bisa diikuti oleh Indonesia?

          Ini menurut saya, (1) Growth model melalui ‘I’ ini adalah big push pada pembangunan infrastruktur, Real Estate, dan korporasi. Ini adalah growth model China. Plusnya adalah employement maximization karena pembangunan lewat ‘I’ kebanyakan adalah industri padat pekerja. Bikin jalan, bikin rel, bikin apartemen kan butuh pekerja banyak. Minusnya adalah pada dasarnya pertumbuhan yang didasarkan pada hutang publik dan artificial future growth.

          (2) Growth model expor sudah banyak dipakai negara2 seperti Jerman, Jepang, Korsel, Malaysia, Taiwan dll. Plusnya adalah adanya dorongan untuk industrialiasi sektor manufaktur yang kuat. Minusnya adalah terkesposnya ekonomi thd faktor exogenous dan relatif tidak stabilnya pertumbuhan.

          Menteri Chatib beberapa waktu lalu mengatakan Indonesia akan mulai pelan-pelan menuju growth model Investasi dari konsumsi, sebaliknya China perlahan menuju growth model konsumsi yang dulunya dari Investasi. Bagaimana tanggapan bung2 semua?

          • Menurut saya, sebagai negara yang baru mulai membangun dan mempunyai penduduk yang banyak, indonesia memerlukan growth model I dulu. Karakteristik indonesia beda dengan jepang, korea, malaysia dan taiwan. Mereka sudah lebih dulu berkembang dan penduduknya lebih sedikit dan cenderung stagnan tiap tahun.

            Karena jumlah penduduk banyak maka indonesia harus memenuhi kebutuhan penduduknya dulu baru ekspor kalau tidak akan terjadi inflasi di dalam negeri. Untuk memenuhi domestic demand tersebut, indonesia memerlukan investasi atau modal untuk membangun industrinya. Bila kapasitas produksinya sudah terpenuhi ada baiknya kelebihan kapasitas tersebut untuk diekspor. Sebetulnya saya juga suka dengan growth melalui ekspor karena akan mendatangkan devisa bagi kita tapi konsumsi penduduk kita masih banyak dan kapasitas produksi domestik kita masih sedikit. Untuk itu sebelum menuju kesana, kita harus terlebih dulu memperkuat growth melalui investment ini.

    • FYI : BANYAK perusahaan dalam negeri TAK BAYAR PAJAK…

      Pemerintah terus mengendus modus modus PENGHINDARAN PAJAK.berbagai upaya pun siap dijalakan untuk menutup celah tersebut.Mentri keuangan Agus Martowardjoyo mengatakan salah satu modus menghindarkan pajak adalah mekanisme TRANSFER PRICING yang dilakukan perusahaan Joint venture di Indonesia.ada 7 ribuan perusahaan joint venture di Indonesia dan mereka 7 tahun tidak bayar pajak.

      Modus modus mengakali aturan pajak banyak mulai transfer pricing,penggelembungan utang,hingga penggelembungan biaya promosi perusahaan..dan ini membuat rakyat sakit hati melihat perusahaan yang seperti itu.

      Transfer Pricing: dilakukan oleh perusahaan yang berorientasi eksport yang memiliki kaitan dengan perusahaan ASING,Perusahaan tersebut mengeksport produknyadengan harga SANGAT MURAH sehingga keuntungan perusahaan itu tipis atau malah RUGI..disisi lain perusahaan kaitannya yang diluar negri lah yang menangguk UNTUNG BESAR…

      Dan inilah bila kepentingan Nasional sudah bukan menjadikan pilihan utama dan terpaku dengan Eforia Investasi asing.

      • Yang paling penting jangan menanamkan ke rakyat Indonesia Liberalisme KONYOL dengan gambaran untuk kemajuan Indonesia .

        Karena bagaimana nasib anak dan cucu kita yang akan menerima warisan kebijakan dari pemerintah terdahulu,(Kita)

        Gak bisa membayangkan anak cucu hidup di Indonesia yang SDA nya habis, dan SDM nya makin liberal. ditengah kompetensi dunia yang makin serakah,
        Imho

        • Singapura, Hongkong, dan bahkan Jepang tidak punya Sumber Daya Alam yang bagus (bahkan Spore n HK tidak punya sama sekali) tuh, tetapi mereka tetap bisa berkembang ekonominya. Kenapa? Karena negara menjamin warganya mendapat kebebasan berekonomi. Liberalisasi kebablasan juga tidak bagus. Yang dibutuhkan adalah “Liberalisasi yang Terkendali.”

        • Bagaimana bila Indonesia yang kaya Sumber dayanya mempunyai pemerintah yang pandai melindungi sumber daya Indonesia …agar kelak Warga negara yang sudah pandai dan cerdas ,,,mendapat jaminan kebebasan berekonomi di Indonesia memanfaatkan sumber daya Indonesia,

          Akan Jauh berlipat lipat lebih makmur dari singapura hongkong bahkan Jepang sekalipun

        • Lha bung transfer pricing gak cuma masalah Indonesia bung, semua negara juga gitu, bahkan perusahaan ternama kayak Google juga transfer pricing makanya Amrik murka besar.

          Selama ada negara yang disebut sbg Tax Haven dengan kebijakan tax shelternya ya akan terus begitu. tapi masak, solusinya nanti adalah mengebom negara-negara tsb?

          PS: bbrp negara tax haven: Belanda, Swiss, Irlandia, Bermuda

        • Singapura, jepang, hongkong tak punya sumberdaya. Mereka tak punya beban (dalam konteks SDA) karena tak ada SDA yang akan dikeruk pemodal asing. Tak tepat menganalogikan mereka dengan Indonesia dalam konteks pembicaraan investasi terkait dengan SDA. Maka mereka berusaha mendapat manfaat dari SDA negara lain.

      • plus sarana untuk pencucian uang hasil ngemplang pajak, dan uang panas lainnya adalah dg melalui bank-bank asing yg bnyak beroperasi di Indonesia

      • saya setuju bung satrio, ekonomi jangan liberal, itu hanya akal2an negara maju utk melakukan penjajahan ekonomi

      • Bung Brokoli@ Sudah anda jual saja negara ini, kalau perlu panggil meneer belanda kembali ke Indonesia untuk mensejahterakan para priyayi, ga usah repot pake investasi2 asing segala macam.

        Lagian ngapain modernisasi alutsista, wong yang mau dilindungi udah di obral abis ga tau kemana. Kami rakyat kere ini ga perlu di lindungi TNI dengan alutsista milyaran dollar, sumber daya alam nya saja silahkan dilindungi untuk anak cucu kami!

    • Menyitir kata2 Pak Siswono Yudohusodo (Amin Rais menyebutnya Sang number one nationalist) Pemimpin paling nggak punya 4 tingkatan: pintar, cerdik, lihai, dan licik. Pemimpin yg baik paling nggak antara cerdik dan lihai lah… Mau memilih faham ekonomi apapun asalkan didasari kecerdikan/kelihaian insya allah kputusan2nya prima. Imho.

    • @bung Satrio lha pertanyaannya saya coba balikkan, MENGAPA TIDAK ADA INVESTOR LOKAL YANG BERINVESTASI DI SITU SEBELUM TIONGKOK MASUK? Tidak ada BUMN ataupun swasta, bung. Tidak KS, tidak ANTAM, Tidak BUMI, tidak ada.

      Pertanyaan saya kedua dengan adanya investasi pengolahan tersebut dengan adanya pengolahan bijih besi menjadi baja dan dikirimkan keluar negeri, Indonesia mendapatkan tambahan aggregat ekspor apa itu jelek? Bisnis ya bisnis, pabrik tersebut tentu akan menjual kepada konsumen yang harga paling menarik. Lha kebutuhan steel Indonesia masih sangat terbatas kok, belum ada industri yang masif untuk demand dari negeri sendiri.

      Keuntungan yang lebih penting dari investasi apapun adalah Know-How. Ilmu yang bermanfaat lebih penting dari berapapun duit. Kalau dengan adanya pabrik pengolahan raw material secara modern, tentu menjadi insentif industri untuk mereplikasikan teknologinya di tempat lain di Indonesia.

      Keuntungan lain juga yang dilupakan oleh bung satrio adalah akan berkembangnya industri komplenter baja. Dengan adanya pabrik ini tentu akan berkembang industri penambangan iron sand dan chrome sand. Selanjutnya ada juga indutri pengolahan Iron Pellet, Pig Iron, ada juga industri stainless steel baik slab maupun billet.

      Anda yang tampaknya menyederhanakan tanpa melihat big picture, bung.

      • Lagipula Dari artikel itu joint venture antara Indonesia dengan China kok, jadi gak sepenuhnya investasi asing lah.

        • nah kalau joint venture coba baca modus Transfer Pricing diatas.

          Bagaimana solusi bung brokoli ?
          Jangan terkesan hanya menjadi corong investasi asing saja tanpa melihat dua tiga langkah kepentingan nasional kedepan
          Imho

          • Menggunakan Forensic Accounting, bung. Disiplin ilmu Forensic Accounting di Indonesia masih dalam tahap awal. Bahkan sepengetahuan saya baru ada Dua guru besar di Indonesia di disiplin ilmu ini. Tapi dr yang saya dengar Dirjen Pajak sedang menjajaki mempelajari ilmu ini.

          • dan kita akan memperbanyak perusahaan join venture yang pangsa pasarnya monopoli dan berpotensi menggunakan modus transfer pircing ?

            Sedangkan yang 7 ribu perusahaan saja belum tertangani

          • Boro boro forensic accounting…audit standar aja masih belang bonteng menyesuaikan kepentingan user….PSAK cuma jadi buku tebal tanpa makna bung! Semua karena measurementnya wajar bkn benar…jadi kategori wajarnya sangat relatif tergantung tebal tipisnya amplop :mrgreen:

            Skripsi saya aja mengenai human resource accounting di debat habis karena bila diterapkan karyawanlah yg mengikat pengusaha bkn sebaliknya karena kini karyawan memiliki nilai intrinsik yg akan merugikan buku perusahaan kalau karyawan itu di pecat,meninggal atau resign…

            Indonesia ini kaku pada buku dan alergi pada perubahan karena yg di atas sono orang tua bangkotan produk masa lalu yg harusnya ikut tumbang bersama rezim yg memproduksinya…

          • Audit forensic/Investigatif??
            Ilmunya ada bung, tetapi sangat jarang dilakukan di Indonesia kecuali kasus2 besar. Bahkan BPK saja dalam audit kasus Hambalang terkesan ragu-ragu dalam menyampaikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP).

            Setelah LHP sudah disampaikan, sampai saat ini belum ada tindak lanjut maksimal. Padahal Audit tersebut dilakukan terhadap instansi pemerintahan yang “Diduga” merugikan negara, apalagi kalau audit terhadap perusahaan asing di Indonesia.

          • Nah itu dia maksud saya bung rdadi…audit forensik atau apalah namanya sama aja…itu proses kebalikan dr accounting.kalo accounting memproses data mentah hingga siap saji jd lap keu maka audit adl.proses menelusuri dari mana asalnya komponen2 yg siap saji dlm lap keu…ini kerjaan saya dan sy jamin jika ini diterapkan maka tdk ada perusahaan yg bayar pajak secara wajar tp benar… 😀

            Masalahnya disinilah potensi fraud karena yg diaudit dan dan yg mengaudit sama sama sepakat (jd waskat deh… :mrgreen: ) tinggal pemerimtah dan ujung ujungnya rakyat yg gigit jari karena umpan baliknya ludes di telen genderuwo…

          • @Bung Brokoli…DJP sudah mulai mempelajari ilmu ini..dan untuk kasus2 transfer pricing bahkan mereka sudah punya unit yang menanganinya…mungkin kendalanya adalah kurangnya SDM yg mumpuni di bidang/disiplin ilmu ini, ditambah msh banyak aturan2 bidang ekonomi khususnya investasi yg bolong2…sebenarnya jauh sblm adanya statement pak Agus Marto, DJP sudah menyiapkan plg tdk struktur organisasi dan sdm nya (kira2 2006)..7000 perusahaan dgn modus transfer pricing cm sebagian masalah saja di bidang perpajakan dan ya transfer pricing bukan hanya masalah di Indonesia saja..

      • Pertayaannya kenapa pemerintah tidak menyederhanakan dan menggampangkan Swasta atau BUMN masuk ke Industri tersebut ?
        Mungkin Jawabanya Industri Militer dalam negeri kita kita belum mampu dan butuh banyak menyerap hasil Baja tersebut,,,

        Pertanyaan kedua kenapa tidak sekalian China membuka Industri Militernya disini, karena bahan baku setengah jadinya sudah dihasilkan oleh pabriknya bajanya yang sudah investasi disini .?
        jawabnnya mungkin ini untuk mengakali UU minerba dan mengamankan pasokan bahan baku agar tetap di eksport ke china bukan ke kompetitornya,

        Pertanyaan ke tiga kenapa harus buka di Indonesia tidak di Myanmar dan Laos,kamboja yang sekutunya ?
        mungkin jawabannya karena Semua Sumber dayanya ada di Indonesia

        Bagaimana kalau Emas, Baja, Minyak Batu bara dll disimpan untuk anak cucu kita menunggu mereka siap belajar di negeri orang atau di negeri china sekalipun,
        Bagaimana bila mereka sudah siap bahan bakunya tidak ada ? Indonesia sudah gersang …

        Atau sekalian saja UU Minerba ditingkatkan menjadi Industri hulu dan hilirnya harus dibuat di Indonesia ,,, Kalau mereka mengincar bahan baku Indonesia sekalian aja mereka dituntut untuk membuka Industri barang jadinya disini..

        Bukankah Indonbesia lebih untung karena cerdik dan lihay dalam menarik investor dikarenakan kekayaan sumberdaya nya ?

        • Saya setuju ide bahwa UU Minerba harus diupgrade hingga ke industri hilir. Masalahnya, saat ini perekonomian kita masih ditunjang oleh sektor hulu dengan proporsi sangat besar. Kalo langsung distop mungkin kita musti puasa dulu karena gak ada pendapatan untuk makan (msh banyak impor nih bahan makanan kita). perlahan tapi pasti, setelah keharusan mengolah sda sebelum ekspor, nanti ditambah lagi misal harus ada peningkatan nilai tambah hingga 70 % misalnya sebelum diekspor. akhirnya berujung hingga tidak ada ekspor bahan mentah, bahan baku industri, bahan setengah jadi, bahan perantara dll. Semua ekspor harus dari industri hilir.
          Roadmapnya sekarang meskipun masih belum maksimal setidaknya sudah mulai melangkah 1 kaki ke depan dibanding pemerintahan sebelumnya apalagi masa orba….

      • Bung Brocoli, logika ekonomi munculnya berbagai industri terkait memang betul. Tapi kalau bukan pengusaha lokal yang mendirikan alias kebanyakan/semua adalah pengusaha asing, dan kita tak punya roadmap dan penegakannya bagi kemandirian bangsa, yang terjadi adalah integrasi horisontal oleh perusahaan-perusahaan asing dan pengerukan SDA dengan value adeed yang tak memadai plus resiko mampetnya transfer knowledge.
        Apakah pemerintah juga sudah siapkan pengusaha lokal untuk mendirikan industri yang terkait. Kita tak bisa menyerahkan cek kosong.

    • Keuntungan apanya? Manajemen punya hak mau diapakan produk yg dijual dan mau di bawa kemana keuntungan yg di dapat…

      Keuntungan? Kalau kita bercermin pada pareto law,keuntungan dan efek multiplier nya hanya dinikmati dalam negeri paling banyak 20 persen sisanya yg 80 persen di gondol investor asing entah kemana dan buat apa…

      Pajak? Berapa persen perusahaan yg bayar pajak secara benar di indonesia? Sisanya membayar pajak secara “wajar” setelah laporan keuangannya di olah bandit2 finansial….itu yg bayar,yg tidak bayar?lebih bejibun lagi!

      Mengurangi pengangguran? Iya tp apakah memang kita sdh di byr secara layak? Ingat hukum upah besi david ricardo bahwa tenaga kerja tidak akan mendapatkan upah lebih besar dari keuntungan yg diterima pengusaha meskipun dengan alasan pemilik modal…jalan satu satunya adalah rakyat sbg tenaga kerja sekaligus pemilik modal (dlm hal ini diwakili oleh negara sbg penentu keputusan dlm perusahaan)

      Oke kita ucapkan terimakasih setelah asing menginvestasikan modalnya dan mentransfer kemampuannya melalui operasional usahanya.setelah itu kita persilakan mereka untuk pulang kembali setelah kita bayar modal yg mereka tanamkan karena kita mau mengoperasikan usaha tsb untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat…seperti inalum,pabrik alumunium yg kita ambil alih dari jepang…

      Modal asing boleh tp cm sementara karena prioritas mereka tentu kepentingan nasional mereka bkn kepentingan kita.ambil alih setiap perusahaan asing yg beroperasi saat kita sdh sanggup untuk mengoperasikannya…buat mereka yg tergantung pd kita bkn sebaliknya…

      • Yah saya cuma bisa Jawab “Ada saatnya kita ditindas, tapi kalau kita mau belajar, pada saatnya kita akan membalas”.

        China dulu juga buka keran investasi asing sebesar-besarnya dan hasilnya adal pertumbuhan ekonomis yang fantastis. Setelah 3 dekade reformasi, China sekarang pemegang 15% hutang Amerika Serikat, dengan sekali sahut China bisa menghancurkan ekonomi AS.

        • kalau begitu statement anda
          “””GAK PENTING MODAL INVESTASI ITU ASING ATO LOKAL YANG PENTING ADA dan BISA MENGEMBANGKAN INDUSTRI. Mana bisa maju kalau kita terus berkutat dalam debat asing vs Indonesia.”””

          sangat diragukan efektifnya karena akan lebih punyai nilai tambah buat Indonesia kedepan bila kita lebih cerdik dan lihay memberikan syarat investasi asing agar lebih berpihak ke kepntingan nasional

          Bukan membabi buta menerima Investasi asing yang jelas jelas mengincar…menyiasati, akan sumberdaya Indonesia yang melimpah dengan UU yang masih setengah setengah,
          Imho

          • Yang Penting Duit meluncur terus ke ekonomi, bung. Likuiditas terjaga, ekonomi tumbuh, semakin banyak orang kaya di Indonesia juga artinya semakin banyak bisa berinvestasi mengimbangi investor asing.

          • Dan akan mudah digoyang dan ditekan karena mereka (asing) menguasai segala aspek strategis di Indonesia….

            Menjadi Tuan dinegeri sendiri tidak harus dilalui berkorban menjadi Babu di negeri sendiri bagi orang asing yang menikmati kekayaan leluhur kita,

            Mereka bisa mendidik kita untuk menjadi juragan tetapi akan lamaaaaa dan setelah SDA habis,,,
            Atau kita tidak pernah menjadi Tuan dinegeri sendiri,karena pemerintah tidak percaya akan kemampuan rakyatnya,

            Thankyou diskusinya bung Brocoli semoga menjadi tambahan Ilmu bagi warjager dan direnungkan ,, karena sumber daya alam Indonesia pada waktunya akan Habis

          • Lula da Silva tolooooong…

          • Lula kamal aja bung openmind….lebih sip kayaknya dan masih bebas keriput :mrgreen:

          • Ada pendapat ahli yang mengatakan begini: kenapa negara seperti korea selatan bisa tumbuh lebih cepat daripada negara seperti Indonesia? Karena Korea Selatan tak punya pilihan selain industrialisasi ketika memulai pembangunannya. Indonesia punya SDA yang tergolong paling lengkap, membuat tak fokus ke prioritas tertentu. Termasuk dalam hal investasi asing karena tak ada prioritas. Bisa dibilang semua dibuka, bahasa jawanya: nyoohhh.
            Dan SDA itu seperti kita tahu adalah incaran bangsa lain. Salah satu tujuan mereka (yang punya SDA) adalah mengamankan SDA nya untuk anak cucu mereka dan sebagai cadangan manakala mendesak.
            Maka kebijakan investasi asing harus punya roadmap yang jelas dan konsisten dijalankan yang diorientasikan pada kemandirian.
            Contoh keteledoran adalah diperbolehkannya perusahaan semacam freeport selama berpuluh tahun mengeruk tembaga tanpa ada kewajiban untuk meningkatkan nilai tambah. Dan baru dengan UU minerba hal itu ada. Akibatnya, value added terbesar lari ke negara asalnya, dan setelah sekian puluh tahun, rasanya perlu usaha yang sangat berat dan bisa-bisa berdarah-darah jika perusahaan lokal atau gabungan perusahaan lokal ingin menggantikan freeport (itu pun jika amrik mau). Bayangkan sudah berapa puluh tahun.
            Demikian juga pabrik mobil. Bahkan sekarang pabrik mobil di sini saham terbesarnya dimiliki prinsipal.
            Jadi kita terima begitu saja modal asing tanpa roadmap dan implementasinya konsisten bagi kemandirian bangsa, dengan logika transfer knowledge, transfer value added akan terjadi secara alamiah adalah menyesatkan, sebab knowledge adalah aset bernilai tinggi. Tak ada yang mau membaginya begitu saja. Harus ada political will dan penegakan kebijakan secara terus menerus.

        • Betul dan sekarang saatnya kita menjadi cina baru karena kita sdh sanggup…mulai dengan ambil alih kembali usaha strategis yg menyangkut kepentingan nasional kita yaitu industri dasar,keuangan dan komunikasi….inshaa allah ini modal awal menuju kedaulatan ekonomi bangsa kita…pengeluaran besar saat ini untuk membeli ketiga jenis industri ini gak seberapa ketimbang harus membayangkan anak cucu kita menghamba pada asing untuk sekedar hidup…

      • Gak fair bung bisa kena sanksi kita…main cantik aja…

    • Sebaiknya memang kita jangan anti investasi asing, melainkan selektif. Asing boleh investasi di Indonesia dengan catatan antara lain…
      1. mendukung industri / pengembangan industri di dalam negeri terutama industri strategis contohnya logam, kimia dasar atau lainnya. Dalam contoh artikel di atas tentang baja low carbon menurut saya pada tahap awal karena industri di dalam negeri yang menggunakan belum ada (kecil) tidak ada salahnya diekspor. Setidaknya industri ini membawa nilai tambah dan efek berantai tumbuhan industri lain.
      2. bisa mengurangi sampai menghilangkan ketergantungan terhadap industri lain di luar negeri.

      Meski demikian tetap kita jangan lengah pada industri dasar seperti baja di atas, dalam jangka panjang ketika industri baja dalam negeri berkembang maka keberpihakan pada kebutuhan lokal harus lebih diutamakan. Jangan sampai seperti Inalum, di awal ketika industri alumunium dalam negeri belum berkembang mereka bisa mengekspor produknya namun ketika industri dalam negeri tumbuh mereka tetap tidak mau mengalokasikan untuk kebutuhan dalam negeri bahkan dalam laporan keuangan baru beberapa tahun terakhir untung padahal konon biaya produksinya rendah.

      Investasi asing sebaiknya tertutup bagi industri yang hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar produksi belaka dan menguras devisa negara. Contohnya industri rokok (yang bahkan malah bisa mematikan tembakau lokal dan menambah impor tembakau)
      Berbeda dengan industri elektronika dan telekomukasi, meskipun sama-sama menjadikan Indonesia pasar namun bisa mengurangi impor yang artinya menghemat devisa.

      Industri lain yang menurut saya sebaiknya ditutup atau pembatasan untuk investasi asing adalah industri perbankan dan perkebunan utamanya sawit.
      Industri perbankan di Indonesia yang dimiliki asing dananya sebagian besar mengalir ke sektor konsumtif daripada ke sektor produktif. Sektor ini memang memberikan keunbtungan yang besar. Tak heran bank-bank milik asing di Indonesia memberikan keuntungan yang besar ke pemiliknya sementara Indonesia kesulitan berinvestasi di negara-negara asal bank-bank asing tersebut.

      Industri sawit juga sebaiknya tidak dibuka untuk asing karena pengusaha dalam negeri mampu. Investasi asing masuk karena di negaranya sendiri mereka sudah kesulitan mengembangkan karena keterbatasan lahan

    • Setuju bung Satrio, ini proyek bau. Saya mau komentar banyak tapi kata – katanya sudah anda ambil semua. Kalau boleh menambahkan, ini artinya ada lubang dalam regulasi Indonesia kalau tidak maka lubangnya pasti ada di birokratnya, ada yang main kotor.

      Setelah membaca kalimat ini “kedua pabrik tersebut ditargetkan bisa menghasilkan produk super low carbon nickel titanium dan special steel dengan kapasitas 100.000 metrik ton per tahunnya untuk satu line produksi. Saat ini produk dari super low carbon ini banyak digunakan untuk industri militer di Tiongkok, seperti kapal dan tank”, rasanya saya tiba – tiba marah sekali. Kecuali kalau ini ada hubungannya dengan proyek kapal selam dan tank kita, beda lagi ceritanya,…

      • “Indonesia menjadi negara ketiga yang bisa memproses baja khusus tersebut. Untuk tahap awal (line produksi satu hingga tiga, red), hasil produksinya akan dikirim ke Tiongkok terlebih dahulu. Setelah itu, line produksi keempat bisa untuk konsumsi di Indonesia,” ujar mereka
        ——————————————————————————–
        Lha kalau gak pernah terwujut line keempat maka ya jangan harap Indonesia dibagi hasil produksinya . hehehehehe

        Diskusi disini menyimpulkan bahwa saya tidak anti Investasi asing,, tetapi Investasi asing yang hanya nguber karena SDA kita yg tersedia dan melimpah ,mbok ya o diperketat dan ditambahi syarat membuat Industri hilirnya disini juga yaitu produk jadi , karena SDA suatu saat akan habis dan kita harus memikirkan anak dan cucu kita jangan menjadi genersi Ego,

        saya tergugah menulis karena kata kata bung brokoli yang serasa menyesatkan jadi harus diluruskan agar tidak terkesan membabi buta investasi asing karena jargon demi kemajuan Indonesia,,,
        kan sudah dicontohkan oleh rekan warjag freport sudah 50 tahun beroperasi dan kemajuan teknologi untuk Indonesia apa ???
        SDA habis pasti..

        • Wah saya kecewa dengan bung satrio, saya kira awalnya kita semua warjag bisa berpendapat, berdiskusi, dan berargumen secara setara logis, setara, dan terbuka. Sepertinya saya salah

          Mengatakan pendapat orang lain sebagai SESAT menurut saya sudah nggak enak caranya begitu. Saya berargumen karena merasa punya kewajiban memperlihatkan sisi lain dari segala hal, saya rasa di post-post saya mencoba untuk tidak menggiring opini. Saya punya pendapat begini argumen saya begini. Bagaimana bung bung lain mencerna ya silahkan.

          Defense saya adalah saya tidak pernah membahas di post-post saya tentang eksploitasi SDA di Indonesia melainkan selalu yang saya tekankan adalah pengembangan ekonomi negara dan kebebasan dalam berekonomi.

          Saya dengan lantang mendukung pentingnya kebebasana ekspresi ekonomi tiap-tiap anggota masyarakat sebagai bentuk economi liberalism. Karena saya percaya dengan kekuatan daya inovasi manusia. Ya saya seorang liberalist, tetapi bukan liberalist membabi buta, melainkan Liberalist yang memperhatikan simpul-simpul sosial, seorang Social Liberalist. Liberalisme yang terkendali.

    • diskusi yang cukup panjang, sayang tidak efektif menemukan titik temu.

      analogi:
      lari pagi atau olahraga pada umumnya baik bagi kesehatan [tesis]
      yang tidak sependapat harusnya menampilkan argumen kontra / antitesis yang menunjukkan lari pagi / OR buruk bagi kesehatan.
      ini tidak tergolong antitesis, malah debat kusir;
      lari pagi buruk karena ada resiko jadi korban tabrak lari, bukannya sehat malah mati…

      bagaimana jika faktor resiko tsb dihilangkan (lari di taman, stadion), apakah setuju lari pagi sehat?
      bagaimana jika resiko transfer pricing dapat dihilangkan, apakah lalu setuju dengan PMA?

      [Bajaj says: May 7, 2014 at 3:21 am
      @Bung Brokoli…DJP sudah mulai mempelajari ilmu ini..dan untuk kasus2 transfer pricing bahkan mereka sudah punya unit yang menanganinya…]
      DJP = Ditjen Pajak (?)

      memang bisa ada pertimbangan khusus karena ini kasus khusus (produk super low carbon steel banyak digunakan untuk industri militer, seperti kapal dan tank) tapi PASTI bukan transfer pricing.

      analogi lagi:
      klub sepakbola kaya raya A di eropa membeli pemain bintang X dengan harga selangit, tapi lebih sering dibangku cadangkan.
      rugi ??
      belum tentu, akan lebih rugi jika X dibeli lalu dimainkan klub C seteru abadi klub A, dan menjadi ancaman tambahan di lapangan.

      idem dengan baja ex RI, bagaimana jika kemudian muncul kembali sebagai KS di lepas pantai natuna?

      • Saya mencoba jawab ya @bung jalo. Kalau dari sudut pandang ekonomi kita melihat sisi lain secara oppurtunity cost. Kalau tidak begini, ya begini. Kita cari yang memberikan value tertinggilah. Begitupun soal PMA ini tentang opportunity cost pula. Berdasarkan hal itu saya melihat SAAT INI (saya tekankan saat ini) PMA atau FDI masih diperlukan. Ada beberapa alasan berdasarkan opportunity cost yang bisa saya lihat.

        OC #1. Jika terdapat sumber daya yang potensial untuk diindustrialiasi apakah wise jika dipendam saja. Saya pikir ya karena akan adanya penambahan value. Nah pertanyaannya adalah oleh siapa? Tentu yang paling baik adalah dari dalam negeri. Tetapi seperti saya sebutkan di atas, di kedua site pabrik yang akan dibuat, sebelum tiongkok masuk saya mencari dengan googling maupun teman wartawan industri tidak ada investor Indonesia yang melirik site-site tsb. Nah jika ada sumber daya dan ada investor yang siap saat ini juga apakah wise jika menunggu terus sampai ada investor lokal yang tertarik padahal keuntunganya bisa immidiate lewat kesempatan kerja ribuan orang bagi dua daerah (Sulteng dan Batam) yang tingkat kemiskinannya masih tinggi?

        OC #2 Rule Ekonomi adalah ada demand-ada supply. Tentu yang paling bagus adalah baja Indonesia untuk kebutuhan Indonesia, saya setuju itu. Tetapi untuk adanya pengutamaan supply ke dalam negeri tentu harus ada demandnya. Sayangnya industri-industri yang membutuhkan tipe steel ini masih dalam relatif kecil dan belum massif demandnya. Nah pertanyaannya adalah jika ada suatu pabrik dengan economies of scale sekian padahal demand dalam negeri lebih sedikit, apa tidak boleh pabrik tersebut mencari pelanggan lain untuk memenuhi economies of scale mrk. kalau tidak kan mereka merugi terus. Ini berlaku gak cuma untuk asing, tapi kan juga perusahaan Indonesia maupun JV.

        Saya setuju ada bahaya memang adanya misuse dari end product hingga akhirnya nanti backfire kenegeri sendiri. Solusi saya adalah pengembangan cepat industri-indutstri yang membutuhkan steel ini, industri pertahanan dll. Jadi kondisi seperti OC#2 misalnya berlangsung selama 7 tahun ttp dipercepat jadi 3 tahun saja dengan adanya akselerasi tersebut.

        Tentu akselerasi industri pertahanan perlu juga akselerasi konsumsi pemerintah sebagai end user. Untuk percepatan konsumsi, perlu juga percepatan pendapatan negara lewat pajak. Menaikkan pendapatan pajak (tanpa menaikkan tax rate) selain d mencegah transfer pricing lewat skema pengawasan pajak yang lebih baik adalah melalui memperbanyak orang kaya dan middle class karena mereka bayar pajak lebih banyak. Selain itu juga memperbanyak value added industry karena membayar tax pertambahan nilai lebih banyak. Jika di industri tersebut investor Indonesia tidak tertarik tetapi investor asing tertarik, maka so be it.

        Tentu ada banyak pula opportunity cost yang akan mengcounter argumen saya, tidak apa-apa saya malah tertarik jika diskusi dengan argumen yang baik dan logis.

      • @ Bung Danu..betul DJP = Direktorat Jenderal Pajak, dlm konteks masalah perpajakan transfer pricing hanya salah satu “hantu” yg harus dihadapi..masih banyak modus yg lain..

  11. china & russia yg mau mengolah bahan tambang mentah(ore) di RI dg investasi besar….jepang,usa dan negara2 eropa??!!..

    • Korsel lewat POSCO kerjasama denga Krakatau Steel membuat baja
      Jerman lewat Holcim mengembangkan batu kapur menjadi semen
      Jepang lewat Toyota, Yamaha, Honda dll mengembangkan steel alloy untuk otomotif (jgn lupa perakitannya juga)
      Amrik lewat Phillip Morris mengmbangkan industri tembakau menjadi kretek.
      Uni Eropa lewat kerjasama dengan Airbus membangkitan PT. DI untuk hidup lagi.

      Masih banyak contoh lain bung, jangan tutup mata dengan investasi mereka.

  12. Sdikit melangkah…jangan cm expor bahan tambng ‘pasir besi’…trs setelah jd bahan baru di impor balik.

  13. Semua perjanjian ada sesuatunya loh, mudah”an semuanya demi majunya bangsa ini & saya yakin pemerintah punya maksud baik agar bisa mengisi kekurangan2 yg dibutuhkan bangsa ini karena bila membangun sendiri tdk adanya dana.maka dg kerjasama ini dapat mempercepat semuanya begitu juga dg teknologinya yg bisa diserap bangsa ini nantinya.majulah INDONESIAKU..!!!

  14. waduh runyam sekali… menunggu komen para sesepuh ajalah tentang maslah INVESTASI dari asing apakah sangat baik dan berkelanjutan untuk anak cucu kita atau malah lebih buruk..
    meununggu banget pencerahannya lebih lanjut aja dari para sesepuh spt : bung Jalo, Nyd, Sat, PS, Yayan, dan Bung – bung yang lainnya….

  15. Yang jadi kendala saat ini adalah pegawai pajaknya yg kurang. Dengan perbandingan 1org pegawai pajak:20.000 wajib pajak. Hal ini yang menyebabkan banyak penyelewengan pajak. Yang 2 adalah mental oknum pegawai pajak yg kongkalikong.

  16. dulu ketika rokok kretek merk Sam######a sebagian besar sahamnya dijual ke Philip Moris.. banyak sekali aturan aturan internasional yang mengekang peredaran rokok kretek asal indonesia.. tetapi setelah dikuasi oleh Philip Moris berubahlah sedikit sedikit aturan internasional itu.. apalagi belum keluh kesahnya para pekerjanya yang berada di Mitra produksinya/ MPS dengan gaji sedikit diatas UMK dengan tingkat pekerjaan yang amat berat.. duh asing – asing..

  17. Upaya mengakali UU Minerba. Dan kita hanya dapat ampasnya.

    • Do’a saya yang awam semoga pemerintah lebih jeli, cerdas, tegas kalo perlu harus licik untuk menekan asing seperti strategi R. Wijaya demi kemajuan, kejayaan, martabat bangsa dan negara yang jauh lebih baik lagi.. aminn…

    • Halo Bung Jarwo,
      Salam Kenal. Menurut saya pabrik baja ini adalah hasil kecerdasan pemerintah dalam UU Minerba. Bayangkan sekarang, dengan adanya pabrik baja di Indonesia, berarti hampir semuanya ada dalam kendali kita. Mulai dari bahan baku sampai berupa baja berkualitas tinggi. Kalau kita tidak ingin produk itu dijual ke negara lain, pemerintah bisa menaikkan pajak ekspor baja, mereka pasti kerepotan. Jadi sebenarnya malah bagus kalau menurut saya.

      • Buah duku buah mangga
        Saya sependapat dengan anda 😀

        Ada yg masih ingat tentang penerapan UU minerba ORE, freport dan newmon masih ngotot dan keukuh tidak mentaati aturan itu karena mereka berdalih, tidak ada industri pengolahan yg mampu mengolah lebih lanjut hasil pemurnian tambang emas dan tembaga tersebut.

        Kita lihat, thn depan siapa yg akan menangis dan menyesal karna londo nyasar kalah cerdik dg langkah pemerintah kita menggandeng cina demi keuntungan bersama 😀

        • Komeng anda tampaknya menjawab debat kusir baik tidaknya pembangunan pabrik China diatas bung @Arjuna. Pikiran positif inilah yang menjawab mengapa pemerintah tetap lanjut dengan UU Minerba. Karena sekarang sudah jelas ada alternatif/cadangan back up (beking?) menghadapi kebandelan barat…

  18. untuk para sesepuh Warjag, Mohon diangkat artikel tentang UU Minerba, latar belakang, manfaat yang dinikmati jika UU ini diberlakukan dgn konsekuen. Pemetaan industri terdampak juga sekalian diulas, sekaligus sinyal upaya counter attack pihak2 asing yang merasa dirugikan karena pesta jarahan tambang akan berakhir, @bung Satrio, bung Nowy, bung Diego, bung jalo, dll

  19. Saya setuju banget tuh sama koreksinya bung satrio,
    Salam kenal ya bung satrio, anda sangat patriotik sekali, tidak terkecoh sama tipuan asing
    Cocoknya orang seperti anda ini berada di departemen yg mengcounter kelicikan kelicikan pihak asing yg ingin menguras sda kita.

    Salam dari medan untuk Indonesia tercinta.

  20. Tes…………

  21. bung@lare sarkem setubuh eh setuju dengan anda, dari tadi membca komen saya malah bingung eh malah tiba giliran bung lare sarkem dah di keluarin unek2 nya..salam kenal

  22. Bung Lare Sarkem@ Sang propesor sih enak, minum air botol hasil investasi asing, lah kami yang kere2 ini terpaksa minum air PAM rasa oralit. Lah kok bisa coba, di negara asal sang investor nya air itu gratis, bersih dan sehat bisa diminum dari kran langsung tanpa masak.. dikita air kita sendiri malah dijual dengan harga hampir sama Mahal nya dengan harga BBM perliter.
    Bayangin, air bersih aja rakyat ga punya, udah di lelang ke asing, kurang liberal apa coba?

  23. yg benar nilai investasinya 50 juta dollar atau 500jt dollar ya..saya tidak terlalu yakin jika ini pure investor china,saya punya gambaran sedikit mengenai modus penjualan saham mayoritas indofood kepada asing..yang mana diborong oleh satu holding company yang berbasis di hongkong,padahal itu juga perusahaan milik keluarga om liem,jd indofood tdk pernah berpindah tangan!
    Sama seperti investor asing yang menanamkan modal di indonesia terutama..mungkin bs jd perusahaan asing tsb adalah jg milik org indonesia!

  24. Jadi Indonesia saat ini kebetulan sedang mengembangkan kapal permukaan dan kapal selam, kebetulan juga sedang mengembangkan pesawat dan tank, kebetulan sedang banyak membutuhkan baja kualitas tinggi, kebetulan ada pabrik baja kualitas tinggi sedang dibangun, kebetulan,…

    Masih sangat berharap semoga ini bukan proyek “sialan” lainnya, semoga,..

    Salam

  25. karena joint venture dan bisnisnya mengolah SDA yg nilainya strategis steel dan uranium…positive thingkingnya mungkin ini kamuflase dalam membuat industri militer bersama ( roket ,dsb) atau mungkin juga semacam imbal dari TOT yang alot…. tetap indonesia sebagai pemilik SDA harus lebih untung

  26. Tapi masih lebih baik daripada free…. ma newm…. yg diangkut sak pasir2nya. Kagak mau diolah di dalam negeri. Berani gak presiden baru tegakkan UU Minerba….??

  27. Sekarang tugasnya TNI melalui Bin utk mengadakan ops sintel ToT di pabrik stb, banyak sarjana kita yg bekerja utk memberikan informasi cara peramuan/pembuatan produk super low carbon nickel titanium dan special steel. Selanjutnya BPPT dg PT Dahana, PT Krakatau steel, PT Pindad bekerjasama melalui menhan membuat sub pabrik utk diproduksi sendiri dan kalau kita mau swasambada baja bagus ya hrs ulet utk mengadakan spt itu(mencuri teknologi). Baru nozel roket yg digadang2 akan tahan panas sdh siap, pesawat dg baja superlow carbon nickel titanium sdh siap tinggal otak2 encer (SDM PT DI) dipersiapkan utk buat jet generasi 5 akan ok siap meluncur disertai roket jarak jauh juga siap dicoba sasaran ausi. Merdeka………………

  28. …mbok ya di sisain ampe indonesia bisa ngolah ndiri, biarin aja sementera terbengkalai dolo..

    sekedar catatan bung LS;

    ada kemungkinan bahwa material / logam ‘alami’ suatu saat akan digantikan oleh material hasil rekayasa / engineered materials yang jauh lebih unggul, misal carbon nanotube yang memiliki kekuatan ratusan x baja.
    perbandingan 3 material rekayasa vs. baja

    http://www.nasa.gov/images/content/19299main_comparison.jpg

    semakin ekonomis biaya produksi carbon nanotube, semakin turun harga pasir besi…

      • malah kebeneran, alamnya kagak rusak bang

      • betul, cuma dari segi ekonomi mungkin akan mirip ini;

        kalau ke cianjur lewat puncak, banyak sekali restoran dengan lahan parkir luas mati berbarengan, yang dulunya bisa menampung belasan bus sekaligus,

        di antara pemilik tanah mungkin ada yang melamun
        ‘coba kalau tanah di jual saat harga lagi tinggi2nya, sebelum cipularang dibuka’

        sebagian pangsa pasar kabel tembaga (untuk kabel telepon) telah direbut serat optik, yang tersisa (kabel daya / listrik) mungkin akan habis digondol carbon wiring,

        Cambridge University develops high-conductivity carbon wiring as an alternative to copper.
        Researchers at Cambridge University have developed electrical wiring from carbon, which could potentially replace copper while improving conductivity.
        The researchers claim that the carbon nanotube technology is ten times lighter and up to 30 times stronger than copper wires, and less subject to transmission losses / computing.co.uk

        • bang danu..
          mungkin persis kayak ntu soal duitnya, tapi andai dolo dijual pas harga tinggi si pemilik baru pun akan berpikir geto juga, lebih pait malah..tapi kalo dibandingin ma sda yg dialam indonesia kayaknya kog kagak pas ya bang ya, sda n alam di tanah kita kalo pun kagak tersentuh ntu bukan suatu kerugian, beda jauh kan ma resto puncak ntu..

          kalo pun ntar dah muncul nano metal kayak yg abang sebut n kita baru tau cara ngolah ndiri biji besi konpensonal ntu bukan juga suatu kerugian karna besi yg kayak model karang masih akan tetep digunain..n nano metal kayaknya juga masih lama nurut ane n penggunaannya ntar sementara terbatas pada alat militer doang misalnya, sama persis ma kabel tembaga yg ampe detik ne masih diproduksi n laku keras, serat optik tetep kagak bisa gantiin kabel tembaga..lage pula besi karang kalo jadi murah karna kalah ma nano nano pun malah sangat bagus buat masarakat, murah belon tentu kagak untung..

          seumpama diseluruh dunia semua pake besi nano nano, indonesia kagak rugi karna besi buatan ndiri dgn kualitas nomer atu tetep laku keras di dalam negri..
          yg teknologi nano ntar indonesia cari orang secara personal yg tau cara bikinnya n bayar 10 trilyun buat ngajarin, bukan kerjasama yg dikibulin..

  29. kebetulan nemu ini, tadinya mau di-post di thread ‘titip alutsista..’ tapi nyarinya lama…. 😀

    https://id.berita.yahoo.com/siapa-capres-yang-ditolak-sby-karena-ingin-menasionalisasi-081938079.html

    • ada beberapa cara nasionalisasi, dari cara preman hingga yang lebih elegan, takeover deals

      http://www.reuters.com/article/2007/02/14/us-venezuela-nationalizations-idUSN1319361620070214

      • klarifikasi di acara ‘bincang pagi’ salah satu tv swasta pagi ini;

        ramson siagian / gerindra: nasionalisasi akan dilakukan secara beradab, sesuai aturan / legal / melalui perundangan bekerjasama dengan DPR.

        jadi jauh dari kekhawatiran SBY:
        ….”Kalau hari ini semua aset asing di Indonesia itu dinasionalisasi maka besok kita akan dituntut di arbitrase internasional, lusa kita bisa kalah dan kalahnya kita itu akan memporak-porandakan perekonomian dan dampaknya akan dahsyat,” kata SBY….

        ihsan mojo / demokrat: istilah nasionalisasi menimbulkan kesan ‘paham’ tertentu

        (gak jelas paham apa, nasionalisme?)

      • Cara terbaik ya dengan dibeli mayoritas sahamnya (ex. kita beli lagi 51% saham Indosat-tugas Ibu?) atau sekalian di take over seluruhnya saat kontrak tambang/PLTU/dll habis pak. Seperti INALUM.

 Leave a Reply