Dec 232018
 

Kapal perusak rudal USS Zumwalt (DDG 1000) (bawah) © US Navy via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Pada Januari 2018, Angkatan Laut AS akan menugaskan kapal perusak siluman (stealth) hi-tech Kelas-Zumwalt kedua, USS Michael Mansoor. Perusak ketiga dan terakhir, USS Lyndon B. Johnson diluncurkan pada Desember 2018 ini dan akan ditugaskan pada tahun 2022, seperti dilansir dari laman National Interest.

Secara tradisional, kapal perang dirancang untuk melakukan misi tertentu. Namun Zumwalt yang canggih telah menjadi kapal yang “mencari misi”, terutama sejak pengadaan amunisi yang sangat mahal untuk sistem senjata utamanya dibatalkan. Setelah miliaran dolar hingga bertahun-tahun kemudian, Angkatan Laut AS mungkin akhirnya menemukannya.

Pasca Perang Dingin 1990-an, US Navy tidak memiliki pesaing setara dilaut lepas, sehingga ia merancang pejuang permukaan generasi berikutnya untuk dapat melibatkan target-target pantai. Ketika menghapuskan kapal perang terakhirnya, pihak US Navy memutuskan kapal perusak berikutnya harus memasang senjata jarak jauh yang dapat memberikan dukungan tembak yang lebih hemat daripada meluncurkan rudal jelajah Tomahawk bernilai jutaan dolar.

Pada tahun 2000-an, pengembangan dilanjutkan untuk sebuah perusak DDG-1000 yang mengintegrasikan setiap teknologi generasi selanjutnya yang dibayangkan. Angkatan Laut menjanjikan kepada Kongres AS sebuah kapal perusak yang lebih besar namun cuma butuh 95 awak, tak perlu hingga 300 kru berkat otomatisasi, dengan ruang yang memadai dan juga kapasitas pembangkit listrik untuk mengerahkan senjata api dan senjata laser.

Desain kapal perusak rudal USS Zumwalt (DDG 1000) © US Navy via Wikimedia Commons

Kapal perang baru akan lebih tersembunyi untuk menghindari serangan musuh, mengepak senjata 6-inci dengan jangkauan 115 mil untuk membombardir target darat. Sebanyak 32 DDG 1000 direncanakan untuk menggantikan kapal perusak kelas Arleigh Burke.

Kapal utama USS Zumwalt mengambil bentuk lambung seperti kano yang tampak futuristik, lebih lebar di bawah garis air daripada di atas, ini membantu mengurangi penampang radar kapal sepanjang 190 meter itu tampak seperti sebuah kapal nelayan kecil.

Motor induksi kapal menghasilkan listrik 58 megawatt saat melaju, cukup untuk memberi daya kapal berbobot 17.630 ton berkat Sistem Daya Terpadu. Motor yang digerakkan secara elektrik dan knalpot dingin juga mengurangi tanda akustik  dan inframerah kapal perusak. Lingkungan komputasi total kapal baru menghubungkan semua sistem perusak, membuat dapat diakses dari konsol mana pun di seluruh kapal.

Selain senjata 6 inci yang ditembakkan beruntun, Zumwalt memiliki 90 sel peluncuran misil vertikal Mark 57 yang tersebar dihaluan dan buritan untuk meminimalkan ledakan sekunder. Ini dapat menargetkan dan meluncurkan rudal jelajah Tomahawk, roket anti-kapal selam ASROC, atau paket rudal pertahanan udara jarak menengah Evolved Sea Sparrow.

Konsep kapal perusak USS Zumwalt (DDG 1000) meluncurkan rudal © US Navy via Wikimedia Commons

Helipad landasan dan hanggar Zumwalt cukup luas, ini dapat menampung hingga 3 drone helikopter MQ-8B atau dua helikopter MH-60R Seahawk, yang dapat membawa rudal anti-tank Hellfire atau torpedo. Perusak juga membanggakan sonar dual-bandwidth yang dapat untuk berburu kapal selam, tapi tidak dilengkapi torpedo seperti kelas Arleigh Burke.

Sayangnya, awak kapal perusak yang terdiri atas 150 personel, ditambah detasemen udara 28 orang, telah melebihi 50 persen dari jumlah yang semula ia dijanjikan, tetapi tetap setengah dari kru perusak Arleigh Burke. Namun, beberapa analis khawatir pelengkap kru super-trim terlalu sedikit untuk mempertahankan kapal bila terjadi kerusakan dalam pertempuran.

Memang, pada tahun 2008, US Navy tak lagi mempedulikan membombardir negara-negara yang lebih lemah secara militer. Sebaliknya, itu merenungkan tantangan yang ditimbulkan oleh kapal permukaan dan kapal selam Tiongkok yang berkembang pesat, serta proliferasi rudal balistik dan kapal jelajah anti-kapal yang mematikan.

Lebih buruknya, sistem senjata mutakhir Zumwalt bahkan tak bekerja dengan baik, karena hanya mampu menjangkau 2/3 jangkauan yang dijanjikan (sekitar 70 mil). Selain itu, peluru berpendorong roket dan berpemandu GPS yang disebut LRLAP harganya $800.000 hampir sama mahalnya dengan rudal jelajah yang lebih presisi, jangkauan lebih jauh dan tentu lebih menghancurkan. US Navy akhirnya membatalkan amunisi LRLAP yang sangat mahal itu, meninggalkan Zumwalt dengan dua senjata besar yang tidak dapat ditembakkan.

Pecahan 100 dollar, mata uang Amerika Serikat © MarketWatch.com

Perampingan dan Downgrade

Terlepas dari kesulitan yang cukup dikenal dalam mengembangkan sistem militer generasi mendatang, Zumwalt telah dijual ke Kongres berdasarkan perkiraan biaya minimum yang tidak realistis. Akhirnya, biaya program itu melebihi anggaran sebesar 50 persen, memicu pembatalan otomatis menurut Nunn-McCurdy Act.

Menjelang tahun 2008, US Navy berusaha untuk membangun lebih dari 2 Zumwalt sebagai ganti kapal perusak Arleigh Burke Flight III dengan kemampuan pertahanan rudal balistik. Namun Senator Maine, Susan Collins, mempersoalkan kapal perusak ketiga untuk menjaga galangan kapal Bath Iron Works miliknya tetap beroperasi.

Setiap unit Zumwalt sekarang berharga $ 4,5 miliar, itu selain $ 10 miliar yang habis untuk pengembangan. Seperti halnya F-35 dan Littoral Combat Ship yang bermasalah, biaya spiral Zumwalt adalah karena ambisi US Navy untuk mengintegrasikan sepenuhnya teknologi baru yang masih dikembangkan secara bersamaan. Desain akhirnya bahkan tak distabilkan pada saat pembangunan dimulai pada tahun 2009. Sistem kelistrikan hibrida telah terbukti sangat menantang untuk diintegrasikan, membuat Zumwalt ketiban sial dan mogok saat melintasi Terusan Panama pada bulan November 2016.

Hampir 1 dekade setelah peletakan lunas, sebuah laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO) tahun 2018 menyatakan hanya 5 dari 12 teknologi utama Zumwalt yang “matang”. Namun lucunya, kapal-kapal itu bahkan secara resmi “dikirim” tanpa sistem tempur. Kapal utama USS Zumwalt yang ditugaskan pada tahun 2012, tidak akan siap untuk penyebaran operasional sampai tahun 2021.

Kapal perusak USS Zumwalt (DDG 1000) tanpa dilengkapi sistem tempur tiba di pangkalan, pelabuhan San Diego © US Navy via Wikimedia Commons

Kebutuhan untuk mengurangi menguapnya biaya menyebabkan penurunan peringkat yang melumpuhkan. Alih-alih cocok menggabungkan radar pencarian SPY-4 yang kuat dengan radar penargetan resolusi tinggi SPY-3, US Navy malah membuang SPY-4 dan menggabung SPY-3 untuk menangani pencarian juga. Ini menghemat $ 80 juta per unit tapi kemampuan pencarian udara menurun secara signifikan.

Terlebih, Zumwalt saat ini hanya dipersenjatai rudal pertahanan udara Evolved Sea Sparrow dengan jangkauan 30 mil, cukuplah kalau hanya untuk jangkauan lokal. Meskipun sel-sel rudal pada Zumwalt kompatibel dengan rudal standar jarak-jauh, mereka bergantung pada sistem tempur Aegis untuk memandu, yang jelas tidak dimiliki oleh Zumwalt. Dan CIWS di Zumwalt telah di downgrade dari 57 mm menjadi meriam 30 mm.

Lebih parahnya lagi, penampang radar kapal perusak telah terdegradasi untuk memotong biaya, dengan mengadopsi baja yang lebih murah untuk geladak dan penggabungan sensor non-flush dan tiang komunikasi.

Perusak Siluman untuk Berburu Kapal?

Lantas untuk apakah ketiga DDG-1000, walau fitur dan daya dorongnya bagus? Ketiga kapal perusak memang canggih, namun tidak memiliki amunisi untuk senjata mereka, tidak punya rudal anti-kapal, tanpa torpedo anti-kapal selam dan tak dilengkapi rudal pertahanan udara jarak jauh.

Lebih jauh, Zumwalt memiliki lebih sedikit sel untuk mengemas rudal serang darat daripada kapal perusak Arleigh-Burke yang memliki 96 sel, kapal jelajah kelas Ticonderoga punya 122 sel, atau kapal selam rudal jelajah kelas Ohio dilengkapi 144 sel dan semuanya lebih murah, bahkan kelas Ohio lebih siluman.

Uji peluncuran rudal balistik Trident II D5 dari kapal selam Ohio-Class di Samudera Pasifik © US Navy

Bahkan lambung siluman perusak Zumwalt tak menawarkan keunggulan yang jelas apakah itu sebagai pengawal atau membutuhkan pengawalan dari kapal perang non-siluman. Dan mempertahankan kelas yang hanya terdiri dari tiga kapal berarti biaya melambung sangat tinggi dalam pelatihan dan pemeliharaan per kapal. Makanya banyak analis berspekulasi bahwa karier operasional Zumwalt akan terbukti berumur pendek.

Zumwalt membutuhkan misi baru, bahkan jika itu berarti mengutak-atik kemampuannya dengan biaya tambahan. Akhirnya, pada bulan Desember 2017 US Navy mengumumkan bahwa kelas Zumwalt ini akan mengkhususkan diri sebagai “penyerang permukaan”, yaitu memburu kapal lain.

Ketiga perusak akan dimodifikasi guna menembakkan rudal anti-kapal subsonik Tomahawk Maritime Blok IV baru dan rudal SM-6 untuk memberikan pertahanan udara jarak jauh 150 mil serta memiliki kemampuan serangan darat atau laut sekunder.

Dibandingkan dengan rudal Tomahawk, SM-6 memiliki hulu ledak 140 pon yang jauh lebih kecil, tetapi punya kecepatan maksimum Mach 3,5 membuatnya lebih sulit untuk ditangkis. Akhirnya, amunisi yang lebih murah dapat dikembangkan untuk senjata yang saat ini tidak berguna, atau mereka dapat diganti dengan sel peluncuran rudal tambahan atau bahkan railgun masa depan atau senjata laser terarah.

Peran kombatan permukaan ini mungkin paling baik memanfaatkan kemampuan siluman Zumwalt, memungkinkannya untuk bergerak didepan armada dan menembus zona “anti-akses” yang terancam oleh rudal anti-kapal jarak jauh. Itu bisa merangkak lebih dekat ke kapal perang musuh sebelum meluncurkan misilnya, memberi sedikit waktu bagi musuh untuk bereaksi.

US Navy juga bekerja pada sensor jaringan antara kapal selam, kapal permukaan, helikopter, pesawat patroli dan jet tempur melalui teknologi “Keterlibatan Kooperatif” atau “Cooperative Engagement”. Dengan demikian satu strategi bisa melihat “pengintai” menghasilkan data penargetan menggunakan radar aktif, kemudian mengirimkannya ke kelas-Zumwalt yang akan meningkatkan sensor untuk melakukan serangan.

Pembengkakan biaya saat ini dilaporkan sekitar $ 90 juta, suatu jumlah yang mungkin bisa terbukti bermanfaat jika itu membantu mengembalikan nilai setelah $ 22 miliar terbenam ke dalam konsep kapal yang ambisius tetapi gagal.