Apr 292014
 
Kunjungan Barack Obama ke Malaysia (photo: thetimes.co.uk)

Kunjungan Barack Obama ke Malaysia (photo: thetimes.co.uk)

“Indonesia itu besar..!” Kalimat terakhir dari rangkaian petuah kepala sekolah saya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu masih terngiang hingga ke hari ini.

Belum sampai setahun memasuki dunia persekolahan sewaktu kepala sekolah meminta untuk menemuinya. Hari itu akan menjadi hari terakhir saya di sekolah itu, bahkan juga hari terakhir saya di Indonesia. Kedua orangtua saya harus pindah ke kantor barunya di Italia.

Wajahnya yang sudah menua, dengan kerutan di kening, tidak juga mampu menutupi gambaran jiwanya yang penyabar, santun dan ulet. Dimanapun kita berada, akan bisa dengan mudah menemukan letak peta wilayah Indonesia. Mencari Australia, kita akan menjumpai wilayah Indonesia. Mencari Asia, Afrika, Amerika dan Eropa, kita juga akan sering dengan tidak sengaja melihat dan menemukan letak wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Satu bukti bahwa negara kita sangat besar. Terlalu mudah untuk dicari, dan sangat susah untuk membuatnya tersembunyi. Bahkan meskipun peta itu harus dilipat-lipat, gambar peta wilayah Indonesia akan dengan mudah ditemukan saat peta berlipat itu dibuka kembali. Ini anugerah Yang Maha Kuasa. Ini takdir-Nya..! Kita harus bangga dan menjaga segala kebesaran yang dimilikinya.

Tiba-tiba ucapan pembakar semangat nasionalisme tersebut membakar jiwa saya yang kala itu masih sangat belia. Hingga ketika saya ikut serta melanglang buana di berbagai benua, kecintaan dan kebanggaan atas Indonesia Yang Besar, senantiasa tetap berkobar dan berkibar.

Seperti yang terjadi pada siang tadi. Di kantor Perdana Menteri Malaysia di Puterjaya, saya menerima segulung piagam penghargaan dan plakat kristal yang memahatkan ucapan terima kasih dari sang baginda Raja Agong dan Perdana Menteri yang mewakili segenap rakyat Malaysia, atas jasa saya yang telah memberikan andil besar dalam mensukseskan acara kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Berbagai ucapan selamat, puja-puji dan sanjungan saling berdatangan silih berganti. Semua merasa puas dengan persembahan hidangan kuliner Indonesia, yang mereka anggap sangat spektakuler. Bahkan banyak diantara mereka yang sebelum ini kurang yakin jika kuliner Indonesia bisa didesign megah setingkat dengan kuliner Perancis dan Italia. Di akhir acara, dengan kepala tegak, saya masih bisa berucap bahwa segala yang baru saya persembahkan, sesungguhnya belum seberapa, karena Indonesia itu Besar..! Semua terperangah dan tampak manggut-manggut. Bangga dan bahagia dalam hati, saya kemas menjadi sebuah bingkisan indah untuk keluarga di rumah.

piano-child

Petang mulai beranjak, ketika langkah kaki mengantarkan saya pada ruangan dimana irama denting piano sedang dimainkan. Ya, dia anak pertama saya, perempuan, 11 tahun, Bhita Greina Melani sedang berlatih alat musik sambil melantunkan lagu kesayangannya; “Bukan lautan, hanya kolam susu..!” Hahaha..! Tawa saya tiba-tiba menggelitik tak tertahankan. Pikiran melayang pada fenomena pilu yang sedang melanda bangsa kita. Selain menjadi negara pengimpor minyak, bukankah kita juga telah menjadi negara pengimpor garam? Inilah sebabnya; “Bukan lautan, hanya kolam susu..!” Bagaimana bisa kita memenuhi kebutuhan garam yang semakin besar, jika nyatanya lautan kita adalah kolam susu? Setinggi apa sih kandungan NaCl dalam air susu? Ironisnya lagi, mengapa kita juga sudah sejak lama menjadi negara pengimpor susu? Hehehe..! Rasanya lengkap sudah penderitaan bangsa ini.

Masihkah kita merasa bahwa semangat dan kebanggan kita atas Indonesia Yang Besar ini tetap relevan? Atau, mungkin sudah merasa kadaluwarsa? Ini jawabannya:

Malaysia adalah negara Islam terbesar di Asia Tenggara, sekaligus mencatatkan namanya sebagai salah satu negara dengan industri keuangan Syariah terbesar di dunia, berada dalam kelompok elit yang dihuni oleh negara-negara Qatar, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab. Perbankan Malaysia mendapat suntikan modal dari Timur-Tengah, yang digunakan untuk mengakuisisi asset perbankan di Indonesia. Mengubah bank konvensional di Indonesia, kemudian berganti jubah menjadi bank Syariah. Sangat simple, untuk kemudian menjelmalah Malaysia sebagai Raja industri keuangan syariah terbesar dari Asia Tenggara. Kabar ini pun tercium oleh Obama, yang kebetulan negerinya sedang dilanda krisis ekonomi. Amerika merasa perlu untuk melirik peluang besar yang ada, dan menjadikan Malaysia sebagai sebuah referensi yang tepat.

Di era 1980an, maskapai penerbangan Singapore, SIA, gencar berpromosi di Eropa. Hal unik yang seringkali ditemukan dalam setiap brosur iklannya, adalah dengan tercantumnya nama-nama tempat tujuan wisata yang ada di Indonesia. Sebuah kalimat yang tidak asing lagi berbunyi; Welcome to Singapore, just one step to Toba Lake, Borobudur and Bali.

Bayangkan, sekian lama mereka tumbuh dari hasil memanfaatkan kekayaan dan keunggulan yang dimiliki oleh negeri ini. Kita yang yang sebelumnya terhanyut dalam mimpi basah, sekarang baru terjaga. Tidak apa-apa..! Tidak perlu menyesali, apalagi harus meratapi. Mari Bung, kita bangkit, dan bangun semula Indonesia Yang Besar, Indonesia Raya..! Selamat berjuang..! (by: yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 29 April 2014).

 Posted by on April 29, 2014