Pesawat F-35 Mencapai 200.000 Jam Terbang

9
1726
File:A U.S. Air Force pilot navigates an F-35A Lightning II aircraft assigned to the 58th Fighter Squadron, 33rd Fighter Wing into position to refuel with a KC-135 Stratotanker assigned to the 336th Air Refueling 130516-F-XL333-404.jpg From Wikimedia Commons, the free media repository.

Washington, Jakartagreater.com – Armada F-35, pesawat terbang dan program militer paling mahal dalam sejarah, telah mencapai 200.000 jam penerbangan di seluruh operasi global, Lockheed Martin mengumumkan dalam siaran pers saat mengirimkan Jet F-35 ke-400, dirilis Sputniknews.com pada Hari Selasa 4-6-2019.

“Sistem F-35 adalah pendukung utama Strategi Pertahanan Nasional kami dan memberikan kemampuan tempur yang terbukti, kemampuan maju yang harus dimiliki prajurit dan mitra kami untuk memenuhi persyaratan misi”, ujar Wakil Pejabat Eksekutif Program Gabungan F-35, Laksamana Muda Mat Winter dalam rilis pada hari Senin 3-6-2019.

Pesawat produksi ke-400 merupakan F-35A Angkatan Udara AS yang akan dikirim ke Pangkalan Angkatan Udara Hill, Utah.

Jumlah produksi total adalah 283 pesawat F-35A, 87 pesawat F-35B dan 30 pesawat F-35C. adapun 200.000 jam penerbangan mencakup semua penerbangan uji pengembangan, pelatihan, operasional, pesawat AS dan internasional, kata rilis itu.

Seiring dengan harga yang mengejutkan $ 1,5 triliun, program F-35 telah dikritik oleh banyak orang mulai dari analis pertahanan hingga presiden AS saat ini karena sejumlah besar gangguan dan kekurangan desain yang dirasakan yang terus menjangkiti pesawat Jet bertahun-tahun setelah mulai dikerahkan di berbagai cabang militer AS pada 2015.

Pada bulan Mei 2019, Kantor Akuntabilitas Pemerintah menghitung bahwa antara Mei dan November 2019 tahun lalu, hanya 27 persen dari pesawat F-35 di gudang persenjataan militer AS, yang memiliki kemampuan misi penuh selama periode itu, sementara hampir 30 persen dari pesawat tidak mampu terbang sepenuhnya karena kekurangan suku cadang.

Sebelumnya, Proyek Pengawasan Pemerintah, pengawas AS lainnya, mengatakan bahwa varian F-35 untuk Angkatan Laut AS sama sekali tidak berstatus operasional, tidak siap “untuk menghadapi ancaman saat ini atau di masa depan” dan berpotensi berbahaya bagi personel yang mengoperasikan Jet.

9 KOMENTAR

  1. Ini pespur hampir sama masalahnya dengan sukoi mki dan mkm, kalau F35 itu diakibatkan terlalu banyak menggunakan sistem avionic yg berbasis komputer sehngga tingkat besaran radiasinya mengganggu kinerja mesin dan mempersingkat usia mesin, tingkat radiasi sistem avionik yg melebihin tingkat ketahanan mesin menahan radiasi, inilah alasan para pakar kenapa pespur f35 memendam masalah, solusinya cuman satu yaitu menciptakan mesin baru yg mempunyai ketahanan lebih kuat menahan radiasi dan mempunyai power yg lebih untuk menyuplai sistem kelistrikan terhadap kebutuhan listrik yg banyak terhadap sistem avionic komputer yg sitanamkan dalam tubuh f35, masalah si negara pendengki gk mau rugi besar dalam hal ini dan memaksakan apa yg sudah ada dan mencari solusi murah yg tidak menyelesaikan masalah yg ada tp hanya mengurangin dampak radiasi yg ada.

  2. Bah 200,000 jam? Satu pesawat sj yg menggunakn f35 dibrbagai negara klu trbang 2 jam per hari sudh cukup tahan itu catnya tdk trkupas, brarti utk trbang 200,000 jam yaitu 10 hari per 2 jam = 20 jam utk 10,000 pesawat yg trbang, ah ngarang itu kalleee 200,000 jam, klu pun katanya ada 400 f35 dgn 200,000 jam trbang brarti satu pesawat sudah trbang 500 jam
    😆 😆