Pesawat Spektakuler yang Gagal Diproduksi

Jakartagreater.com – Pada 1950-an dan 1960-an, produsen pesawat Amerika secara aktif mengembangkan berbagai pesawat tempur, pembom, dan pesawat pengintai baru untuk militer AS, lansir National Interest.

Beberapa desain tersebut sukses, seperti F-4, F-15 dan B-52 yang tetap beroperasi hingga tahun 2019, tetapi ada beberapa produk yang akhirnya gagal diproduksi, meski itu adalah pesawat spektakuler. Berikut ini adalah beberapa pesawat yang gagal.

Convair YB-60 (foto : Wikipedia)

Convair YB-60

Pada awal 1950-an, Angkatan Udara AS menginginkan pembom strategis berat bertenaga turbojet yang mampu membawa bom atom melintasi lautan. Convair telah membangun mesin piston B-36 untuk Angkatan Udara dan memutuskan bahwa hanya mengganti motor prop B-36 untuk mesin jet – di antara perubahan sederhana lainnya – akan cukup untuk menghasilkan bomber baru yang memenangkan persaingan.

Hasilnya adalah bomber YB-60, monster sepanjang 52 meter dengan delapan mesin turbojet J57. Prototipe pertama dari dua prototipe lepas landas pada penerbangan perdananya pada bulan April 1952. YB-60 dapat terbang 2.900 mil dengan kecepatan jelajah 467 mil per jam, dan mampu mengangkut beban 36 ton bom.

Mengesankan, pasti – tetapi tidak mengesankan seperti kinerja pesaing YB-60, yakni Boeing B-52. Delapan mesin B-52 melaju dengan kecepatan 525 mil per jam pada jarak 4.500 mil sambil membawa 35 ton bom.

Pesawat supersonic Bell xf-109 (foto : Wikipedia)

Bell XF-109

Pada tahun 1955, Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS mendekati Bell Aircraft Corporation dengan ide rancangan sebuah pesawat tempur Mach-2 yang mampu meluncurkan dan mendarat secara vertikal. Bell menyodorkan desain yang secara tidak resmi disebut XF-109.

Dengan panjang 18 meter, XF-109 memiliki delapan mesin jet J85 – empat mesin afterburning dengan dua masing-masing ditempatkan di ujung sayap, ditambah dua mesin afterburner di belakang dan sepasang mesin J85 non-afterburning di belakang kokpit .

Dengan nozle mesin di belakang dan bagian bawah, bentuk dasar XF-109 tidak berbeda dengan jet tempur F-35B yang dirancang Lockheed Martin untuk Korps Marinir AS 40 tahun kemudian.

Tetapi XF-109 jelas lebih unggul dari masanya. Angkatan Laut dan Angkatan Udara kehilangan minat dan militer membatalkan jump jet rancangan Bell pada tahun 1961 sebelum perusahaan dapat membangun prototipe yang sebenarnya. Harrier – pesawat tempur vertikal lepas landas dan pendaratan pertama di dunia, yang terbang untuk pertama kalinya pada tahun 1967 akhirnya menjadi pilihan Marinir AS. Harrier buatan Inggris adalah pesawat tempur subsonik.

An air-to-air left front view of a YF-12 aircraft.

Lockheed RB-12

Pada Januari 1961, desainer pesawat legendaris Lockheed, Kelly Johnson, mengirimkan proposal ke Angkatan Udara AS. Idenya adalah untuk menggunakan pesawat mata-mata A-12 yang berkecepatan Mach-3 – pendahulu ikon Blackbird SR-71 – yang dirancang Kelly untuk CIA dan memodifikasinya menjadi pembom strategis yang sangat cepat. Kurang lebih secara paralel, Johnson sedang mengerjakan pesawat tempur F-12 versi A-12.

Angkatan Udara menyukai gagasan bomber RB-12 berkecepatan Mach-3, tetapi diusulkan dengan desain yang sedikit diubah yang disebut RS-12. Menggunakan bahan titanium untuk membangun badan pesawat dan mesin turbojet J58 yang kuat. Ditambahkan juga radar canggih, dan rudal udara-ke-darat jarak jauh dengan hulu ledak nuklir berdasarkan rudal udara-ke-udara AIM-47 yang juga mempersenjatai F-12.

Rencananya adalah RS-12 mampu menembus ruang udara Soviet di kecepatan Mach 3,2, ketinggian 80.000 kaki dan meluncurkan satu rudal dari jarak 50 mil jauhnya, menyerang titik target di kota Soviet.

Departemen Pertahanan akhirnya membatalkan F-12 dengan alasan biaya dan memilih untuk tidak melanjutkan dengan RS-12, karena rudal balistik mulai menggantikan pembom berawak. Angkatan Udara akhirnya memperoleh versi pengintaian SR-71 dari A-12 dan mengoperasikannya pada tahun 1990-an.

Pesawat convair 49


Convair 49

Pada 1960-an, Angkatan Darat AS tidak ingin terlalu tergantung dengan pesawat-pesawat Angkatan Udara AS yang tidak cocok untuk melakukan misi-misi dukungan serangan udara jarak dekat. Pesawat tempur seperti F-105 terlalu cepat dan terlalu rentan untuk mendukung pasukan di darat secara efektif.

Angkatan Darat menginginkan pesawat serang serbaguna dan dapat ditempatkan di dekat garis depan, selain itu dapat lepas landas secara vertikal. Pesawat itu juga harus tangguh, dilengkapi senjata berat dan dilapisi dengan lempengan baja. Kebutuhan ini mengarah pada program Advanced Aerial Fire Support System.

Convair, merespons persyaratan AAFSS Angkatan Darat dengan ambisi khas. Berdasarkan pengalamannya dengan XFY-1 yang duduk di ekor, perusahaan tersebut mengusulkan desain mesin kipas dengan dua cincin yang belum pernah dimiliki militer AS, meskipun agak mirip dengan C.540 eksperimental rancangan perusahaan SNECMA Prancis.

Konsepnya aneh dalam penampilan, tetapi Convair percaya itu adalah konfigurasi yang sempurna untuk pesawat yang menggabungkan kemampuan helikopter dengan beberapa fitur ofensif kendaraan darat militer.

Salah satu tantangan terbesar adalah menciptakan kokpit yang miring sehingga pilot tidak menghadap ke langit saat mode lepas landas dan pendaratan di darat. Ini mengharuskan rancangan pesawat yang rumit, dengan engsel maju, yang terlihat seperti Transformer.

Pesawat tempur supersonic CL-1200


Lockheed CL-1200

Pada akhir 1960-an, Lockheed melihat peluang. Mengantisipasi permintaan di seluruh dunia untuk 7.500 pesawat tempur canggih tetapi dengan ‘harga terjangkau’ selama dekade berikutnya, pada tahun 1971 mulai mengedarkan proposal untuk versi CL-1200 Lancer yang lebih baik dan lebih cepat dari versi pesawat tempur Lancer yang lebih cepat tapi terkenal sulit untuk terbang, yakni F-104.

Divisi Skunk Works Lockheed, dengan desainer terkenal Kelly Johnson masih bertanggung jawab, dengan memperbesar sayap dan sirip F-104, menggeser tailplane lebih rendah di badan pesawat, mengubah asupan inlet mesin, menambah kapasitas bahan bakar internal, dan mengganti mesin J79 F-104 dengan mesin TF33. Pesawat CL-1200 yang dihasilkan, secara teori, lebih dapat bermanuver dan dapat dikendalikan daripada F-104 dan hanya menelan biaya sebesar US$ 2 juta per unit, dengan asumsi menjalankan produksi besar. Pada saat itu, F-4E baru harganya setidaknya US$ 2,4 juta.

Lockheed memasukan CL-1200 ke dalam kompetisi Pesawat Tempur Internasional militer AS, yang bertujuan untuk memilih pesawat tempur ekspor untuk sekutu Amerika. Tetapi Northrop F-5E memenangkan kontes, dan Lockheed membatalkan konsep CL-1200, sehingga hanya pernah menghasilkan mock up pesawat.

7 pemikiran pada “Pesawat Spektakuler yang Gagal Diproduksi”

Tinggalkan komentar