Jan 062014
 
TNI Inginkan Pesawat Sukhoi SU-35

TNI Inginkan Pesawat Sukhoi SU-35

Panglima TNI Jenderal Moeldoko ingin menambah pesawat tempur untuk Angkatan Udara dana salah satu pesawat tempur yang diincar adalah Sukhoi SU-35. “Tapi ini baru tahap diskusi, kalau maunya Panglima sih iya,” Ujar Jenderal Moeldoko, sambil tersenyum kepada wartawan di Lapangan Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, 6 Januari 2014.

Moeldoko mengaku sudah berdiskusi langsung dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Menteri Purnomo pun setuju upaya menambah kekuatan tempur Angkatan Udara Indonesia.

Pesawat tempur Sukhoi SU-35 adalah pesawat kelas berat penghubung generasi keempat dan kelima. Saat ini Indonesia baru mempunyai satu skuadron atau 16 unit pesawat campuran Sukhoi SU-27 dan dan SU-30 yang bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain Sukhoi SU-35, Moeldoko juga membidik pesawat tempur buatan Amerika Serikat. Namun, mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu belum mau menyebut rinci pesawat tempur apa saja yang masuk incarannya. “Apakah F-16 atau produk terbaru lainnya, Insya Allah kami bisa (membeli pesawat tempur lagi).”

Tahun ini, TNI Angkatan Udara bakal menerima belasan pesawat baru dan bekas berbagai jenis. “Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi Tempo, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet adalah F-16 blok 24 hibah dari Amerika Serikat. Menurut Hadi, sebelum bulan Oktober 2014 Angkatan Udara bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah yang diperbaiki lagi sistem avioniknya. Sesuai rencana pesawat F-16 bakal “tinggal” di Skuadron 16, Pekanbaru, Riau.

Angkatan Udara juga bakal menerima secara bertahap pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan baru delapan unit yang diterima Indonesia. Pesawat inilah yang bakal digunakan untuk melatih pilot-pilot tempur TNI AU menggantikan pesawat Hawk 100/200.

A Sukhoi Su-35 fighter aircraft takes part in a flying display, during the 50th Paris Air Show, at the Le Bourget airport

Kapal Selam Kilo
Panglima TNI Jenderal Moeldoko juga berencana mengirim tim ke Rusia pada akhir bulan ini. Tim ini ditugaskan menemani perwakilan Kementerian Pertahanan untuk membicarakan kemungkinan pembelian kapal selam Kilo Class buatan Negeri Beruang Merah tersebut. “Kami akan lihat dan dalami dua pilihan,” ujar Jenderal Moeldoko.

Dua pilihan tersebut adalah kemungkinan membeli kapal selam Kilo Class produksi baru atau membeli bekas dengan skema hibah. Meski begitu, Moeldoko tetap berharap pemerintah bisa membeli kapal selam Kilo Class produksi baru. “Mudah-mudahan saja, kalau kondisi anggaran pemerintah bagus,” kata dia.

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetio sebelumnya pernah menyebut ketertarikannya memboyong kapal selam jenis Killo Class dan Amur Class buatan Rusia. Namun, dia belum bisa menentukan kapal selam mana yang bakal diboyong ke Tanah Air.

Laksamana Marsetio telah menyambangi Rusia tahun lalu. Dia tertarik dengan kemampuan kapal selam Kilo Class. Kapal yang diproduksi 1990-2000 itu tergolong canggih karena mampu menembakkan rudal dari dalam laut ke permukaan. Rudal yang diluncurkan pun punya jangkauan jauh, yakni 300 kilometer. “Indonesia belum punya kapal selam seperti ini,” kata Marsetio (Tempo.co/ INDRA WIJAYA)

  291 Responses to “Pesawat SU-35 Semakin Mendekat”

  1.  

    alhamdullillah sekarang warjag rame banget………, komentar2nya banyak yang mantaf dan berbobot, sampai banyak yang membahas diluar thema dari artikel diatas sampai kita2 juga terpancing mengomentarinya hi hi hi ……… (angkat jempol buat bung Diego….)
    Nah saya sebenarnya tertarik dengan salah satu hal, seperti ini:
    Berapa anggaran mef 2+mef 3 (klo digabung) sebenarnya, nah baru kita membahas usulan, saran, analisa dari keputusan para pengambil keputusan di negeri ini soal alutsista utama yg menjadi prioritas terhadap taktik strategi kedepannya dan dengan potensi ancaman yang ada di kemudian hari?????
    Apakah kita tetap akan memakai madzab gado2/campuran barat dan timur dlm pengadaan alutsista??? keputusan disini jelas pasti byk PLUS dan MINUSnya………..misalnya seperti kata panglima TNI , keinginan ambil pespur Su-35 dan juga mau ambil lg F-16 atau yg lainnya punya amrik (politik bebas dan aktif/non blok serta pengalaman masalah embargo) dan lain sebagainya………..

    •  

      yaa mahzab gado gado seperti yang anda bilang akan diteruskan karena itu KEUNTUNGAN kita dalam berpolitik bebas dan akti dan zero enemy.
      Anda lihat betapa galaunya ausy pingin pespur sukhoi family tetapi terikat denga politik satu blocknya kepihak barat.Bila aushy seperti kita mungkin sudah memboyong Su 35 ,Pengebom TU dan Killo bahkan borey class

      Sayang Anggaran kita belum mendukung keuntungan adzab gado gado dan belum bisa mengakomodasi semua keinginan para user dan para fansboy.
      Skema pembelian alutsista dari luar yaitu akan didisi prosuk dari Blok timur (rusia),Amerika serikat.eropa,Asia dan Asia selatan.Sedangkan khusus untuk pespur user tidak berani mengambil dari produk china ..cmiiw

      •  

        Nah itu dia bung satrio, krn kita memakai madzab itu……. akhirnya muncul banyak argument dari fansboy dengan segala macam dalil pembenaran dan penguatan dari pendapat ttg keunggulan suatu produk tehnologi antara barat dan timur………….
        Nah klo saya melihat….. itulah Indahnya Perbedaan Pandangan Dalam Kebersamaan yg muaranya tertuju pada Kejayaan bangsa dan negara Indonesia khususnya kejayaan TNI kita minimal kesetaraan kualitas alutsista di kawasan ini.
        Nah, soal anggaran yg bung SATRIO sebutkan tadi…………… ,
        Saya mempunyai pendapat misalnya Si Arsitek mendapat order dari user untuk membuatkan rumah dengan anggaran terbatas………..
        Padahal semua ide dan gagasan serta design si Arsitek itu kadang Liar tidak dibatasi oleh anggaran (ruang dan waktu).
        Nah disini si Arsitek akan berpikir Cerdas dgn waktu yg telah ditentukan oleh user akan memberikan suatu kebijaksanaan yang bisa memuaskan semua pihak khususnya user tadi suatu dgn suatu konsep design yg akhirnya mjd Design jadi dengan rancangan Rencana Anggaran Biaya sesuai budget yg telah ditentukan dgn kualitas sesuai keinginan user tadi.
        Itulah menurut saya, kenapa Menhan dan Panglima TNI beserta semua jajarannya memandang sebuah MEF dgn tepat dgn melihat semua segi yg ada…..
        Terima Kasih……….

      •  

        bung satrio…menurut anda…gado2 banyak keuntungan ya drpd ruginya??forumers sebelah gado2bikin logistik disaster loh

        •  

          yaa lebih banyak untungnya dong
          karena bisa banyak teknologi yang di[elajari untuk kemandirian alutsista.
          dan untuk meminimalisir efek embargo kedepan bila adaa.
          Kita sudah pernah merasakan efek embargo sejak 1999 itu lebih dari 60 persen alutsista mangkrak..
          Tni AL dan TNI AU yang paling terdampak oleh embargp itu,,,dan itu PAHIT.

          Kalau yang ngomong logistik disarter atau logistik nightmare.
          itu gak mau repot ,,gak mau susah
          kalau diembargo lagi baru tau rasanya

        •  

          jargon logistic nightmare tidak selamanya benar. setiap penambahan pespur baik dari jenis yang sama maupun berbeda pasti dibentuk tim yang baru buat merawatnya. jika tim/orangnya baru otomatis perlu pelatihan. kesulitan pengadaan sucad bisa disiasati dengan integrated system yang lebih baik. di perusahaan swasta dengan variant model yang lebih banyak saja tidak menjadi kendala. apalagi jenis pespur yang masih bisa dihitung dengan jari.

          •  

            Tambahan
            Kalau nggak mau repot itu harusnya bikin systim khusus semacam ILS milik us (yang macam arsenalnya banyak banget )

            Integrated Logistic Support (ILS) dimana pada sistim ini secara on line akan termonitor setiap material Alutsista kapan harus diganti, kapan harus masuk bengkel, dan harus masuk perawatan /pemeliharaan berat dan kesemuanya dilaksanakan dengan penuh kedisiplinan tinggi.
            Dari situ tau mana Sucad yang harus disediakan mana yang lifetimenya pendek dan fast moving yang harus diperbanyak stocknya.
            cmiiw

          •  

            Swasta atau BUMN sekalipun yang profit oriented (seperti Garuda), memang harus memprioritaskan efisiensi. Garuda menyederhanakan jenis pesawat menjadi hanya Boeing dan Airbus, dulu sempat ada DC/MD dan Fokker.

            Pertimbangan TNI lebih ke fungsi khas senjata, biaya prioritas belakangan.
            Tapi terlalu banyak jenis juga akan bikin pusing, jika sejumlah pespur X tiba2 rusak diluar jadwal perawatan reguler, teknisi ska X akan kewalahan karena beban kerja tambahan. Sementara teknisi dari ska tempur Y tidak dapat diperbantukan karena tidak menguasai teknis pespur X.

    •  

      Seharusnya untuk anggaran belanja Alutsista di MEF II adalah sebesar 45 (empat puluh lima) milyar dollar, selama 5 tahun dihitung dari tahun 2015. Angka ini diambil dari 50% Anggaran TNI tiap tahun yg pada th 2014 ini sebesar 83 trilyun. setiap tahun anggaran TNI harus naik 7%. dan 50% persen untuk anggaran rutin dan 50 persennya lagi untuk belanja alutsista, sedang untuk radar dan satelit, pangkalan dan lanud. diambil dari dana taktis non budgeter, dan dana silpa tahun sebelumnya,

      Anggran ini tidak akan lebih dari, 1,5 persen GDP Indonesia, bahkan mungkin hanya menyentuh 0,9 dari GDP jika pertumbuhan ekonomi lima tahun mendatang rata-rata 6.8%, spt tahun kemaren.

      lalu apa saja yang bisa dibeli dgn uang segitu. ??? (dengan kurs 1 US$ = Rp. 10.000,-

      1. Jika dibelikan SU 35 BM, akan mendapat 562 pesawat.
      2. Jika semuanya dibelikan Rudal S-300. dgn 12 peluncur akan mendapat 300 batre.
      3. jika beli kapal selam sekelas Changbodo akan mendapat 180 unit kapal selam
      4. JIka dibelika Kapal Induk tercanggih, terbaru spt milik Amrik akan dapat 3 unit, tapi kalau lebih
      jadul sekelas nimits akan dapat 10 unit.
      5. Atau kalau dibelikan KCR buatan dlm negeri yg berharga Rp 250 milyar. akan dapat 1800
      (seribu delapan ratus) KCR.
      6. Nah kalau mau disebar ya tinggal dibagi saja, mau beli apa jumlahnya berapa.

      Tapi persoalannya, apakah, kita boleh borong itu barang, apa diijinin ama negara produsen, apa didiamin ama Amrik. apa tetangga ngg sewot. tinggal politikal will dari pemerintah.

  2.  

    bung Roger,

    Melihat rekam jejak 3 tetangga yang berbatasan darat, 2 di timur adalah tetangga santun. Yang mungkin perlu mencicipi rasa armored column khas Indonesia adalah yang ketiga.
    Fortunately, wilayah mereka cukup ‘tipis’, seluruh titik terjangkau combat radius Tugino dari Putussibau dan Tarakan / Tj Redeb, sehingga tidak butuh LZ.

    Stated reason tentang ‘air escort’ sangat menarik untuk diulas big picture-nya. Hari gini, apakah tidak perlu merebut air superiority terlebih dahulu ? Jika air superiority di kuasai lawan, armored column and its supporting AH-64s apakah relevan? Sebaliknya, jika a/s di tangan kita, air escort + recon selagi armored column bergerak maju bisa diemban Tugino dengan mudah (memang sih klo Tugino jadi air escort, yang punya proyek dan melakukan deal adalah AU). Kalaupun gak seru klo gak ada air escort, Fennec / Mi-35 sudah memadai, atau AH-1Z sudah amat sangat gahar. (Dari sini, saya pikir jauh lebih baik punya Su-35 daripada AH-64, air escort maksimalkan aja asset yang ada, Tugino dan Mi-35).

    Masalah dengan AH-64, kita terpaksa bayar pepesan kosongnya juga. Silsilah Apache bearasal dari ‘doctrinal niche’ / mitos bahwa ia akan melakukan misi deep strike di palagan Eropa masa perang dingin, memikul tugas FOFA (follow-on forces attack), menghantam 2nd dan 3rd echelon satuan lapis baja Pakta Warsawa yang OTW ke front. Bahu membahu bersama A-10. Tuhan masih melindungi umat manusia, seandainya Pakta Warsawa jadi menyerang, AH-64 akan berjatuhan seperti nyamuk (seperti kemudian terbukti di Iraq dan Afghanistan, dan tidak berani keluar di Kosovo), kalah jumlah tank (3:1) NATO akan mengandalkan nuklir (Pershing dsb), dan kita kena getahnya…

    Beberapa catatan menarik:

    >RAH-66 Comanche, si stealthy super chopper divonis mati 2004.

    Further contributing to Comanche’s woes, the world changed enormously between 1982 and 2004. This stealthy super chopper suddenly had limited relevance to real-world mission needs. Quoting Dr. James
    Williams (penulis buku A History Of Army Aviation) again: “the battlefield for which Comanche was designed had grown less probable.” Defense analyst Cindy Williams put it in somewhat more clinical terms, writing “the doctrinal niche that the Comanche occupies is unnecessary.”
    That’s fancy talk for “we don’t need ‘em.”
    (Real Lessons From an Unreal Helicopter, Time.com).
    Kalau stealthy super chopper aja tidak lagi dibutuhkan, bagaimana dengan AH-64 yang tidak super dan terlanjur ada ?

    In February 2004, the US Army cancelled further research, development and planned purchases of the RAH-66 Comanche stealth helicopter. It believed that the helicopter would not meet the requirements of
    changing operational environments.
    (army-technology.com)
    Rancangan tahun 2000an aja dianggap tidak memenuhi tuntutan lingkungan operasi yang berubah, apalagi rancangan tahun 1975 (The prototype YAH-64 was first flown on 30 September 1975).

    >THE A-10 THUNDERBOLT AS AN ORGANIC ARMY ASSET .
    A thesis presented to the Faculty of the U.S. Army Command and General Staff College in partial fulfillment of the requirements for the degree MASTER OF MILITARY ART AND SCIENCE by MICHAEL N. RILEY, MAJ, USA, Fort Leavenworth, Kansas 1991.

    Abstract: The study investigates three options for the implementation of H.R. 4739 that directed the transfer of the A-10 into the Army. The three options are:
    1) Status quo with the Air Force continuing to provide close air support (CAS) to the Army, and the A-10 would replace the OV-1 as a surveillance platform.
    2) The formation of a U.S. Army Close Air Support Brigade (CASB) as proposed by the 1989 TRADOC study for assuming the entire CAS mission.
    3) The formation of a U.S. Army Air Attack Regiment (AATR) that combine AH-64’s and A-10’s into one unit under the corps aviation brigade (CAB).

    Seperti galau, kurang PD dengan AH-64 saja?

    >Each Israeli infantry battalion in war to have fighter jet: report, July 04 2009.

    The Israel Defense Forces (IDF) has decided every single infantry battalion participating in war will soon have its “very own” Israel Air Force (IAF) fighter jet at its beck and call, waiting for its instructions to give it close air support, Israel National News reported Friday on its website.
    If identifying a target it wants to use force from the air, an infantry battalion will be able to authorize the strikes easily and independently, without having to pass the order up through the chain-of-command,
    said the report.
    Standing army battalions will receive this extra empowerment by the end of 2010, and reserve battalions will all receive it in the course of the next 3 years.
    These goals were defined in the course of staff work currently being carried out by the Ground Force Command and the Air Force, with the goal of laying systematic rules of combat support for ground battalions.

    CAS tingkat yon langsung by-pass ke fighter jet, gak pakai AH lagi.

    >Future CAS 21st Century USAF Air Commandos & Navy SeaHog.
    So today, we have Army AH-64 helicopter gunship aviators living in denial that their choppers fly TOO SLOW and need Piasecki Vectored Thrust Ducted Propellers (VTDP) kits to get to 250 mph to survive over the modern battlefield we knew was necessary even back during Vietnam. In fact, the Army rotorhead is so stubborn and refuses to adapt, he continues to fly in broad BLUE sky daylight in OD GREEN helicopters, yet wonders why he is getting shot down?.
    The Russians have SU-25s OWNED & OPERATED by their ground maneuver elements. If the USAF wants to retire A-10s they should instead be transferred to the Army. New production models can be built by Northrop-Grumman who own the plans from defunct Fairchild-Republic.

    •  

      Kalau untuk mengatasi Infanteri yang mengendap dipohon membawa manpad yang bisa menyabot Heli Mi 35/tukino yang berfungsi sebagai payung udara,,atau infanteri yang akan menyabot MBT kita dengan ATGM itu diperlukan radar Longbow II yang adanya di Apache ,,tidak dipunyai oleh MI 35 dan Tukino,,sedangkan MI 35 terlalu gendut untuk bisa evanding manuver tembakan manpad juga tukino yang lambat bila dikejar manpad

      Teknologi apache dibutuhkan untuk pembuka dalam konsep Perang kavaleri Modern,baru didukung MI 35 dan tukino dalam sotrie berikutnya dan tentunya aaerial warfare dan control of the skies sudah diamankan oleh sukhoi kita
      cmiiw

    •  

      Sebelum sat lapis baja masuk (dan air superiority sudah direbut), sekian KM hutan di kiri kanan jalur tank sudah disapu dan disterilkan Tontaipur dan Kostrad yang merembes dengan sniper2 jawara Asia-Pasifik, tentara yang masih belajar nembak dengan senapan serbu dan gak kebagian medali, akan mati konyol di hutan 🙁

      Di udara Tugino terbang berputar2 di atas range manpads, mengincar MBT lawan dengan laser range findernya, di back-up Hawk yang subsonic dan sudah sering latihan menembakkan AGM-65, di atas sekali Su-35 / Su-30 / Su 27 mengawasi teater dengan radar jarak jauh dan IRST-nya…

      •  

        Kalau tidak mempunyai teknologi nya yaa kita mempergunakan seperti yang anda sampaikan bung danu..mungkin sekarang seperti itu strateginya.
        Dengan kemungkinan menemukan indanteri yang mengendap dipohon kurang dari 50 persen karena akan sulit sekali dengan cara manual mencari manusia dirimbunan pohon dengan luas area jarak jangklau manpad dan ATGM sekitar 5-7 km.
        Maka dari itu susah sekali menumpas gerombolan OPM di belantara mereka yang medannya dikuasi
        SF kita sampai harus perlu penunjuk jalan dengan pola PENYEKATAN
        Jadi artinya tidak gampang,

        Bila ada teknologinya dan kita mampu beli dan sesuai dengan strategi kita yaitu Radar Longbow yang digendong oleh apache kita ingin meng efektifkan dan meningkatkan kesuksesan dalam menangani infantri yang menyusup tersebut yaa dibeli lah karena tidak semua negara diberikan ijin,,mumpung kondisi politik memungkinkan kita diberi akses membeli product hightech US ,,syukur syukur bisa dicolong teknologinya
        Bila Tucano dan MI 35 punya radar sejenis Longbow mungkin kita gak perlu untuk beli apache

        •  

          Ijin nambahin bung @Satrio,

          Pelacakan “infantri dirimbunan pohon” oleh Apache bisa dilakukan berkat adanya TADS (Target Acquisition and Designation Sights) yang juga dilengkapi thermal imaging camera. Dgn kemampuan ini melacak infantri akan bisa dilakukan siang/malam, dibalik kabut, asap dan rerimbunan pohon. Tapi jika ngumpetnya di belakang pohon gede tanpa ada anggota badan yang nongol memang sulit juga 😀 mungkin tergantung sekuat apa sensor dan halangannya.

          Untuk melihat gambaran tampilan thermal imaging camera bisa dilihat disini

          •  

            Terimakasih bung now atas tambahannya
            menambahi keterangan saya dari yang ada didata saya,,ingatan dan hasil ngobrol saja.
            Jadi maaf kalau kadang gak pakai link

      •  

        mas Satrio,

        saya kok gak nemu rujukan Longbow bisa menemukan orang ngumpet di hutan.

        Longbow merupakan paket AN/APG-78 Fire Control Radar (FCR), dan Lockheed-Martin AN/APR-48 Radar Frequency Interferometer (RFI).

        Target identification algorithms in the radar’s software look at the shape of possible targets, and their Doppler signatures, to identify aircraft, helicopters, SPAAGs (self-propelled AA guns), SAM systems, tanks, AFVs, trucks and other wheeled vehicles

        The Longbow weapon system supports the AGM-114L active radar guided missile, operating in the same millimetric band as the radar.
        Sebagai fire control radar, Longbow mengarahkan Hellfire ke sasaran2 yang ditemukan di atas.

        Sementara M230 Chain Gun (1,200 butir peluru, al. untuk menembak manusia) dikendalikan pilot via helmet mounted sight (saja).

        Kalaupun Longbow bisa, sekarang ada opsi lain yang bisa ditenteng UAV, Forester (Foliage Penetration Reconnaissance, Surveillance, Tracking and Engagement Radar).
        http://defense-update.com/Images_new3/fopen_forrester.jpg

        Mungkin radar ini gak akan dijual ke kita, biar TNI terus kesulitan di Papua, dan mereka tetap pegang kartu truf…
        (kalau yang di hutan habis gak ada pegangan lagi)

        •  

          Target identification algorithms in the radar’s software look at the shape of possible targets, Teknologi sensor panas yang canggih bung danu dan tampilan TV camera resolusi tinggi, electronic zoom, target tracker dan auto boresight.

          Intinya daya endus dan visual dari Apache sangat kuat. Kru AH-64E Apache Guardian bisa membedakan, apakah mahluk hidup yang mengendap di hutan, manusia atau binatang.
          cmiww
          Itu yang jadi keunggulan Long bow radar jadi cukup satu yang maju kedepan apache yang biasa bisa nguntit dibelakangnya nunggu suplai data mana yang akan dihabisi
          Makanya kita belli 4 yang kondean dan 4 yang biasa

          •  

            tanya bung satrio, kalau seandainya saya ngumpet di dalam lumpur/air sambil bawa manpads sebatas dada apakah si apache bisa mengendusnya ?

          •  

            Masih bisa
            kecuali tubuh bagian atas yang tidak terndam air
            dilumuri lumpur untuk mencegah suhu panas terdeteksi.
            karena walau hanya setengah badan yang terdeteksi kalau dilayar monitor suhu badan tetap membentuk anatomi tubuh manusia(siluet) ,,kan beda sama sama binatang cmiiw

            Kecuali ada pakaian khusus yang bisa mencegah suhu panas tubuh terdeteksi

          •  

            kalau tak salah sritex sudah memproduksi

  3.  

    Mohon penjelasann bung admin, sudah sampai dimana tuh AEW&C yg akan dimiliki TNI.? Sepertinya kok banyaknya pesawat tempur akan kurang maksimal kemampuan pertahanan udaranya jika belum ada yg satu itu……salam SUKHOI.

  4.  

    saya mau tanya pada sesepuh warjag.apa benar tender sukhoi+penandatanganan nya dijaman pemerintahan presiden wanita kita..?maaf saya masih orang awam..mohon pencerahan.

    •  

      Memangnya kita pernah punya Presiden wanita!? he he he..,

      Iya bung, bener. Namun kuantitas dan kelengkapannya minim berhubung krisis ekonomi. Tapi dimulainya memang sudah lama, duluan kita daripada Malaysia

      Ketika kita masih terus ngeteng Malaysia kemudian beli 1 squadron. TNI baru kemarin2 full 1 squadron. Tapi kelebihannya batch akhir ini membuka kemungkinan dapat kelengkapan dgn teknologi terakhir, minimal itu bisik2 dan harapan kita semua

      •  

        oh addition of generation ya bung.?hehehe kalau begitu kira penambahan su-35 betul-betul kebutuhan yang mendesak atau kita santai-santai saja dulu

        •  

          Kecelakaan saja bung 😀

          Disebut mendesak ancaman perang terbuka belum terlihat, dibilang tidak mendesak kelemahan kita bisa memancing ‘musuh’ makin berani dan kita bisa jadi si-bully seperti nasib Pilipina.

          Idealnya sedia payung sebelum hujan sesuai, sic vis pacem, para bellum

  5.  

    stahu q, AH-64 dkk it msh bs djangkau si pantsyir s1 stidakny bs mrusak baling-baling ato nembak sang pilot. jd sebar aj manpad Sklas javelin. s400 jauh lbh mengena dan cukup u hadang pespur gen 5 y yg tentunya dg radar yg sesuai.
    agan satrio, Diego, nowyoudont, melektech,patech n else tolong Bantu pakde poer n om syafrie bliin Gigi u si macan.”u r great”

  6.  

    nyambung d diskusi no.45: secanggih alat tmpur apapun msh lbh canggih sang userny. y itulah knapa jka msh ttp bli apache,mreka g bakaln brikan full version.diskon it hanya akal2an n ada maunya.aq percaya TNI mampu mendownkn apache tipe apapun.
    skedar Tanya d forum ini, mw mndirikn pabrik ‘mini’ pindad ato solusi 247 it alurnya gmn y.mengingat devisanya biar g kluar banyak2? jka g tw dkira gudang amunisi terroris,waduuuh

  7.  

    nah..kan.. nah..kan.. komennya si neng okelah ini mencla-mencle.. atw jgn2 ngidap amnesia akut.. di thread sebelah dia minta spy RI kerjasama dgn china.. skrg lain lg.. katanya jgn percaya dgn china ?? bikin binun warjager aja.. atw jgn2 ente emg kepengen jd seleb di jkgr? walah.. salah tempat dimari neng??

  8.  

    Banyak komentar yg coba melemahkan dan propokator. Biarin saja kita sdh di jalur yg benar dalam peningkatan kemampuan pertahanan kita. Ingat iri tanda tak mampu.

  9.  

    * Siap2 Mimpi basah lagi …*

    – SU-35 sudah masuk Listing.
    – T50 Pakfa selesai Uji akhir pada akhir tahun 2013,
    – Juni 2014 F-35 udah nongkrong.
    – Tim TNI AU berangkat ke Rusia Peb 2014
    – Ngabisin Dana On Top kira2 buat apa z…??

    Lama2 qo ngegatelin si Pak Fa…pesen 6 biji z dulu, gpp datengnya 2017 juga…Ikhlas.

  10.  

    Seluruh Rakyat Indonesia yang berjiwa patriot, cinta tanah air pasti akan mendukung rencana pengadaan SU-35 dan kilo class. Jangan pesawat dari Amerika, kecuali kalau mereka jual F-35, kalau hanya F-16 yang terbaru pun kekuatannya masih berada dibawah kekuatan Pesawat Asue n Singo dan Indonesia tetap berada dibawah mereka sebagaimana yg diinginkan oleh US.
    US dan kroni-kroninya berusaha utk memposisikan kekuatan militer Indonesia berada dibawah Asue n Singo, sehingga kita harus sadar bahwa kalu kita beli ALUTSITA dari Blok Mereka pasti kemampuannya dibawah Asue n Singo.
    Tahap pertama 6 buah SU-35, tapi kalu boleh lengkap sekalian 1 skuadron, demikian juga kapal selam yang canggih sekalian termasuk fregat dari Rusia yang tehnologinya juga lebih canggih.

  11.  

    jgn sampai kita beli pespur yang dapat “dikendalikan” dengan remote oleh pabriknya giliran mau menembak malah macet atau jangan sampai kita beli pespur yang tertanam alat penyadap

  12.  

    Joyful to become here

  13.  

    ???????????????ñ?????????????????????ñ?????????????????????????????Ÿ???????????ñ????????????????????????????????ñ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

  14.  

    Meninggalkan jejak dulu ah…

  15.  

    Sebagai warga negara yang cinta tanah air….saya pribadi jika pemerintah mau membeli alutsita dlm hal ini Pesawat tempur haruslah melihat sejarah beberapa tahun lalu saat mau menumpas GAM, inggris mengembargo persenjataan yg kita beli untuk digunakan menggempur mereka, lalu Amrik masih segar dalam ingatan kita betapa embargo suku cadang F-16 membuat banyak pesawat yg kita miliki juga tak laik terbang dan nggak bisa terbang. belom lg kalo kita mengingat insiden diatas langit bawean….F-16 nggak bakal mampu melawan F-18 Hornet nya amerika, mrk sdh tahu betul kelebihan dan kekurangan F-16. jadi kalo pemerintah kembali memutuskan membeli PESPUR buatan amrik mnrt saya adalah kesalahan strategi. bagaimana kita mau menjaga udara kita dari ulah iseng amerika,Australia, singapura, yg berkiblat ke amrik dgn pesanan F-35 yg bakal segera mereka miliki jika kita hanya meng upgrade F-16. saya kira langkah tepat ya hrs membeli pespur dari negara yg berseberangan dgn amrik, bisa dari Rusia bisa pula dari China atau jerman bisa juga perancis….

  16.  

    Tucano dan apache punya karakterisitik yg berbeda,kl gw lbh setuju punya keduanya.apa yg bisa dilakukan apache gk bisa dilakukan tucano,begitu jg sebaliknya.persamaannya cumasama2 bisa menyerang/serbu.klbihan apache bisa kawal pasukan darat sedekat mungkin,smntara tucano gk bisa.knapa pasukan anti teror lbh suka MP 5 dibanding senapan serbu laras panjang saat pembebasan sandera?mungkin spt itulah perbedaannya.ruang sempit pake laras panjang akan kerepotan,perang terbuka pake MP5 ya kalah dijangkauan.

  17.  

    yang jelas kita sih gak butuh senjata apa2…toh sepengen apapun kita para TNI fan-boy dan NKRI Lovers..nyatanya pemerintah kan gak melihat kita punya musuh kalau jadi perang dunia ke 3…saya cari modal sebanyak banyaknya buat ngelamar orang Korut, Korsel, Jepang,Cina, India ato Amrik yang cari suaka ke Indonesia akibat efek thermonuclear di negara2 tersebut wakwakwak..kesempatan punya bini bule