Jan 062014
 
TNI Inginkan Pesawat Sukhoi SU-35

TNI Inginkan Pesawat Sukhoi SU-35

Panglima TNI Jenderal Moeldoko ingin menambah pesawat tempur untuk Angkatan Udara dana salah satu pesawat tempur yang diincar adalah Sukhoi SU-35. “Tapi ini baru tahap diskusi, kalau maunya Panglima sih iya,” Ujar Jenderal Moeldoko, sambil tersenyum kepada wartawan di Lapangan Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, 6 Januari 2014.

Moeldoko mengaku sudah berdiskusi langsung dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Menteri Purnomo pun setuju upaya menambah kekuatan tempur Angkatan Udara Indonesia.

Pesawat tempur Sukhoi SU-35 adalah pesawat kelas berat penghubung generasi keempat dan kelima. Saat ini Indonesia baru mempunyai satu skuadron atau 16 unit pesawat campuran Sukhoi SU-27 dan dan SU-30 yang bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain Sukhoi SU-35, Moeldoko juga membidik pesawat tempur buatan Amerika Serikat. Namun, mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu belum mau menyebut rinci pesawat tempur apa saja yang masuk incarannya. “Apakah F-16 atau produk terbaru lainnya, Insya Allah kami bisa (membeli pesawat tempur lagi).”

Tahun ini, TNI Angkatan Udara bakal menerima belasan pesawat baru dan bekas berbagai jenis. “Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi Tempo, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet adalah F-16 blok 24 hibah dari Amerika Serikat. Menurut Hadi, sebelum bulan Oktober 2014 Angkatan Udara bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah yang diperbaiki lagi sistem avioniknya. Sesuai rencana pesawat F-16 bakal “tinggal” di Skuadron 16, Pekanbaru, Riau.

Angkatan Udara juga bakal menerima secara bertahap pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan baru delapan unit yang diterima Indonesia. Pesawat inilah yang bakal digunakan untuk melatih pilot-pilot tempur TNI AU menggantikan pesawat Hawk 100/200.

A Sukhoi Su-35 fighter aircraft takes part in a flying display, during the 50th Paris Air Show, at the Le Bourget airport

Kapal Selam Kilo
Panglima TNI Jenderal Moeldoko juga berencana mengirim tim ke Rusia pada akhir bulan ini. Tim ini ditugaskan menemani perwakilan Kementerian Pertahanan untuk membicarakan kemungkinan pembelian kapal selam Kilo Class buatan Negeri Beruang Merah tersebut. “Kami akan lihat dan dalami dua pilihan,” ujar Jenderal Moeldoko.

Dua pilihan tersebut adalah kemungkinan membeli kapal selam Kilo Class produksi baru atau membeli bekas dengan skema hibah. Meski begitu, Moeldoko tetap berharap pemerintah bisa membeli kapal selam Kilo Class produksi baru. “Mudah-mudahan saja, kalau kondisi anggaran pemerintah bagus,” kata dia.

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetio sebelumnya pernah menyebut ketertarikannya memboyong kapal selam jenis Killo Class dan Amur Class buatan Rusia. Namun, dia belum bisa menentukan kapal selam mana yang bakal diboyong ke Tanah Air.

Laksamana Marsetio telah menyambangi Rusia tahun lalu. Dia tertarik dengan kemampuan kapal selam Kilo Class. Kapal yang diproduksi 1990-2000 itu tergolong canggih karena mampu menembakkan rudal dari dalam laut ke permukaan. Rudal yang diluncurkan pun punya jangkauan jauh, yakni 300 kilometer. “Indonesia belum punya kapal selam seperti ini,” kata Marsetio (Tempo.co/ INDRA WIJAYA)

  291 Responses to “Pesawat SU-35 Semakin Mendekat”

  1.  

    prihal uav: dl jg gtu u snjata galil,cuman bda kasus. gpp bli buatan barat dkk utk dpreteli n dkloning g dpke u operasi aplgi perang y berkaca atas penyadapan n embargo. mumpung SBY blm trun AQ saran yg diatas td. utk bbm slama perang yg Katanya bertahan 3 hari, BUMN hendakny sdh merubah bahan Baku utk penggerak listrikny PLN dri air,angin, surya,sampah dll nah u minyaknya bs dialihkan ksna. alutsista kya su 35 dll td agar dbli satu-satu dl Baru d MEF II lgsg d brong smua.

  2.  

    yyyyy my critanya galil dl. btt,lontongny gmn?

  3.  

    Bung oke ini kalau sebagai prajurit akan mendapatkan medali kehormatan karena berjuang MELEBIHI panggilan tugas.
    Kalau didinia salesman bung oke akan mendapatkan deal deal besar yang sales lain tidak bisa menjangkaunya..bahkan untuk sales peti mati sekalipun,,dia akan sering dapat order.bahkan obat cacing pun sudah ditawarkan disini dan mulai terkenal disini
    tapi para warjager terhibur dengan koment koment beliau..salut buat bung okelah
    @Bung okelah iya gambar kapal itu bukan kelas OHP (oliver hazard perry)

    Lanjut ke UAV
    Kita sudah membeli 2 type UAV dari satu negara memalui filipina.
    Yang satu type dipakai angkatan udara yang satu type lagi nggak usah dibahas disini
    karena yang memakainya adalah denkarung,
    Saya kira cukup tuk bahas Uav yg beli dari luar

    Sedangkan yang dari dalam negeri beberpa type masih dikembangkan terus.ada juga yang memakai rotor dan Salah satunya memakai mesin jet tetapi sayang test terakhir performa tenaganya masih kurang (kedodoran)

    @Bung Antonov
    Data dari tingkat kebisingan kapal selam yang saya posting adalah hasil ngobrol dengan awak hiu jadi ane nggak punya linknya ,maaf kalau mengecewakan anda,
    @bung now saya juga lupa tidak mencatat berapa tingkat kebisingan kasel kelas colins nanti kalau ketemu lagi saya tanyakan.

    @Bung Now
    F 15 SG menurut saya SETARA dengan F 16 32 ++ (setara blok 52) kita bahkan dari analisa saya dan ngobrol dengan para joky,mereka tak akan mundur bila bertemu dengan f15 SG dipalagan sebenarnya .tentunya dengan data data diatas kertas dan dianalisa
    Monggo bung now dan para warjag kalau mau menganalisa lagi speck kedua pesawat nanti saya bantu.,kenapa kok berani,?

    •  

      Bagaimana strateginya bung? Soalnya diatas kertas F16 blok 32 bukanlah lawan F15SG. F15SE ini sempat dipertimbangkan oleh Korsel untuk pengganti pespur jadul dan dijadikan sumber FX fighter-nya dengan pertimbangan dari semua pespur generasi 4++, F15SE (RSAF F15SG) adalah yang paling unggul segi ‘stealth’nya alias punya RCS paling kecil.

      Dari segi kemampuan pesawat F15SG lebih unggul, sementara dari segi jumlah juga lumayan banyak. Sedangkan pada kondisi nyata RSAF juga mengoperasikan F16, jumlahnya 70 unit dan 62 diantaranya adalah F16 C/D blok 52. Dari segi teknis dan jumlah lebih unggul. Selain itu juga saya rasa pilot mereka masih lebih unggul dari segi pelatihan. Jadi menurut saya jangankan dgn F15SE, dgn F16 C/D blok 52 saja diatas kertas F16 blok 32 underdog

      Perbandingan performa F-15 vs F-16
      maximum speed
      F-15C Eagle 2698 km/h
      F-15E Strike Eagle 2698 km/h
      F-16C Fighting Falcon 2175 km/h

      climb rate
      F-15C Eagle 17500 m/min
      F-15E Strike Eagle 16000 m/min
      F-16C Fighting Falcon 15250 m/min

      ceiling
      F-15C Eagle 20000 m
      F-15E Strike Eagle 18200 m
      F-16C Fighting Falcon 18000 m

      engine thrust
      F-15C Eagle 258 kN
      F-15E Strike Eagle 258 kN
      F-16E Fighting Falcon 144 kN
      F-16I Fighting Falcon 129.6 kN
      F-16C Fighting Falcon 127 kN

      weapons payload
      F-15E Strike Eagle 11000 kg
      F-16C Fighting Falcon 7700 kg
      F-15C Eagle 7300 kg

      cannon rounds
      F-15C Eagle 940 (20 mm)
      F-15E Strike Eagle 940 (20 mm)
      F-16C Fighting Falcon 515 (20 mm)

      Thrust / weight ratio
      F-15C Eagle 1.12
      F-16C Fighting Falcon 1.095

      Belum lagi jika diingat F15SE punya EW teknologi terkini. Perbandingan rasio kill vs losses pada pertempuran udara, F-15 punya record 104 – 0 sedangkan F-16: 90 – 1

      Terus terang walau bisa memaklumi hibah F16 blok 32 TNI, saya juga pada kadar tertentu agak pesimis jika memikirkan siapa yang bisa dihadapi pesawat ini sementara ‘musuh’ potensial punya keunggulan kuantitas dan kualitas. Silahkan kasih pencerahan dan kabar baiknya bung 🙂

      •  

        Yup anda betul harus ada STRATEGINYA
        Dalam doktri perang asimetris di TNI AU diajari latihan peperangan Air to Air berupa latihan Dissimilar Basic Fighter Maneuver (DBFM) yakni latihan pertempuran di udara antar dua pesawat tempur dengan jenis yang berbeda

        Tetapi anda lupa ,faktor kelincahan dan untuk apa F 16 dan F15 itu diciptakan,,
        kalau beranalogikan seperti bung oke
        Bung now mengesampingkan faktor kelincahan daripada mobil jenis sedan lancer dengan SUV seperti pajero walaupun opsi perangkat pajero lebih canggih dia lebih berat dan tidak lincah dan ini memungkinkan untuk evanding manuver dan membalas tembakan.,
        karena tidak MUSTAHIL duel udara akan diakhiri dengan dog fight
        Semua penerbang pesawat F-22 dan F-35 serta pesawat generasi ke lima lainnya saat ini tetap harus berlatih menggunakan senjata JARAK PENDEK dalam simulasi pertempuran udara jarak pendek atau dogfight. Pada akhirnya prinsip pertempuran udara modern, aturan bertempur (rules of engagement) dan jenis missi tetap mengarahkan bahwa kanon dan rudal jarak pendek tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari senjata pesawat tempur abad ke-21.
        lebih spesifiknya sdh saya quote di artikel yang baru bung Now
        No ofensive yaa jadi mohon maaf kalau saya salah
        hehehehe

        •  

          yaa Tambahan
          Coba bayangkan bung now gimana strateginya pespur hawk 109/209 subsonic kita mencegat dan mengejar F5 tigernya singapura yang supersonic terbang black flight diwilayah kita
          kira kira gimana caranya

          •  

            Gimana ya? kalo mencegat sih masih mungkin, ini hubungannya dgn arah maju pesawat musuh dan lokasi pesawat kita, tapi kalo ngejar supersonic dgn pesawat subsonic dgn masing2 full throttle sih ga mungkin terkejar.

        •  

          Betul bung @Satrio, di jaman BVR ini dogfight masih sangat diperhitungkan, tidak saja oleh Russia dgn pesawat flanker yg masih terus mempertahankan keunggulan agility dan maneuverability tapi juga oleh pesawat US macam F35 yg walau tidak selincah flanker untuk dogfight namun tetap masih dipersenjatai AIM-9 Sidewinder dan bahkan cannon 25 mm

        •  

          Apakah kalau sudah ke lock mesti tidak bisa ngeles kang okelah

      •  

        ora mudeng

        •  

          Maaf bung @cakra naggala, saya coba perjelas lebih lebih rinci sebatas pengetahuan saya. Sebagai gambaran awal F16 adalah pesawat bermesin tunggal dan F15 bermesin ganda.

          maximum speed = Kecepatan maksimal yang bisa dicapai oleh pesawat. Satuan yang digunakan adalah Kilometer per jam. F15C/E pemenangya karena punya kecepatan 2698km per jam
          F-15C Eagle 2698 km/h
          F-15E Strike Eagle 2698 km/h
          F-16C Fighting Falcon 2175 km/h

          climb rate = Kemampuan “nanjak” atau terbang vertical atau nyaris vertical. Data dibawah memberi keunggulan untuk F15C yang mampu terbang ‘lurus’ ke atas dgn kecepatan 1700km per jam
          F-15C Eagle 17500 m/min
          F-15E Strike Eagle 16000 m/min
          F-16C Fighting Falcon 15250 m/min

          ceiling = Adalah ketinggian maksimal yang bisa dicapai pesawat, pemenangnya adalah F15C karena mampu terbang sampai ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut
          F-15C Eagle 20000 m
          F-15E Strike Eagle 18200 m
          F-16C Fighting Falcon 18000 m

          engine thrust = Daya dorong mesin dalam satuan Kilo Newton, pemenangnya adalah F15C/E dgn daya dorong mesin 258 kN
          F-15C Eagle 258 kN
          F-15E Strike Eagle 258 kN
          F-16E Fighting Falcon 144 kN
          F-16I Fighting Falcon 129.6 kN
          F-16C Fighting Falcon 127 kN

          weapons payload = Kemampuan angkut persenjataan dalam kilogram, semakin tinggi payload berarti semakin banyak/beragam persenjataan yang mampu dibawa suatu pesawat.
          F-15E Strike Eagle 11000 kg
          F-16C Fighting Falcon 7700 kg
          F-15C Eagle 7300 kg

          cannon rounds = Kaliber amunisi dalam ukuran milimeter pada persenjataan cannon masing2 pesawat, pesawat F15 dan F16 menggunakan peluru dgn kaliber yang sama
          F-15C Eagle 940 (20 mm)
          F-15E Strike Eagle 940 (20 mm)
          F-16C Fighting Falcon 515 (20 mm)

          Thrust / weight ratio = Daya dorong dan berat pesawat. Gampangnya thrust /weight ratio ini adalah salah satu factor yang menentukan kemampuan pesawat yang berhubungan dgn kelincahan dan kemampuan manuver. Cara ini digunakan untuk menilai kemampuan bergerak karena ukuran dan berat pesawat tempur yg berbeda2. Pesawat yang lebih kecil belum tentu kalah dgn pesawat yg lebih besar dan sebaliknya. Berdasarkan data di bawah, walau F15 lebih berat tapi punya tenaga yang lebih besar untuk bermanuver.
          F-15C Eagle 1.12
          F-16C Fighting Falcon 1.095

          Perbandingan rasio kill vs losses adalah catatan pertempuran nyata masing2 pesawat, dimana F15 punya catatan 104–0. Itu maksudnya selama ini F15 dalam pertempuran nyata sudah berhasil menjatuhkan 104 pesawat lawan dan belum pernah tertembak jatuh. Sementara rasio kill-losses F16 adalah 90–1

          Mengenai bagaimana strategi dan potensi F16 TNI bisa menghadapi F15 Singapura dari pandangan ‘insider’ anda bisa baca pada penjelasan bung @Satrio di tag “TNI Cari Pengganti Pesawat Tempur F-5”

          •  

            #ralat: clib rate F15 adalah 1700 meter per jam (mampu memperoleh ketinggian 1.7 km per jam)

    •  

      Makasih Mas@Satrio, nggak papa. Perlu diingat bahwa desibel bukan angka absolut tapi angka skala jadi beda 10 desibel adalah 10^1 , 15 desibel adalah 10^1,5, 20 desibel adalah 10^2 dst-nya.
      Jadi beda desibel U 209 (before overhaul): 70 desibel; U 209 (after overhaul): 55 desibel. Beda 15 desibel jadi adalah sekitar 32 x lebih senyap (bagus sekali).

  4.  

    semakin menarik aja isi komentar di warjag ini dengan tampilan terbarunya…

  5.  

    Menanggapi perdebatan bung danu dan bung now
    Dengan orang orang cerdas ini lah warjag jadi hidup (diselingi bung Ok) jadi itu positif sekali,maka akan timbul analisa alternatif gabungan pendapat dari analisa beliau2 ini.
    sekedar menambahkan

    Pertimbangan utama pemeritah membeli alutsista yaitu: life cycle maintanance cost, communalities, dan established.
    Seharusnya dlm setiap mengkaji kebijakan janganlah dilihat scr partial. Semua kebijakan pasti ada tujuannya, baik kebijakan retrofit maupun pengadaan baru ataupun bekas.
    Semua kebijakan tersebut muncul karena pertimbangan anggaran, teknologi, kapasitas tempur & kondisi lingkungan .taktis dan strategis. Semua ada hitungan & analisanya.

    Kenapa kita perlu melakukan retrofit, hal itu karena keterbatasan kemampuan anggaran dg jalan mengoptimalkan eksisting alutsista sesuai kebutuhan saat ini, tanpa mengurangi kapasitas tempur.

    Kenapa kita perlu beli baru atau bekas dalam pengadaan alutsista, hal itu juga berdasarkan pertimbangan kemampuan anggaran, teknologi alat perang saat ini yg pd kenyataannya teknologi alat perang kita telah ketinggalan, peningkatan kapasitas tempur yg disesuaikan dg kondisi lingkungan strategis, dan hal yg paling utama utk jangka panjang adalah upaya trasfer teknologi.(sudah saya ulas ditulisan saya Pola pembelian alutsista)

    Ketika ada yg apriori, itu sah-sah saja selama untuk kepentingan positif sbg bahan koreksi. Namun yg perlu ditekankan, semula alasan harus berdasarkan kajian & analisa yg matang & tidak ngawur. CONTOH Suatu misal bahwa ada pernyataan Leopard 2 blm battle proven, hal ini dasar kajiannya dr sisi mana. Kita ketahui bersama Hull MBT Abram menggunakan produk Reimental Jerman yg juga digunakan utk Leopard. Jadi otomatis jika MBT Abram dibilang battle proven maka Leopard juga demikian, apalagi berdasarkan kajian armor menunjukkan kemampuan lebih pada leopard.

    Dengan demikian yang perlu kita PAHAMI BERSMA, bahwa setiap kebijakan ada nilai positifnya.
    Kita tidak bisa mengatakan begitu saja bahwa yang lama yang terbaik,atau digabungkan saja jenis/type alutsista ,atau beli bekas buang buang duit …tidak begitu
    karena dengang pemikiran tersebut kita akan KETINGGALAN dalam berbagai aspek.

    Sedangkan ada kebijakan bahwa pengadaan baru lebih hebat, tapi kita harus SADAR akan kemampuan anggaran kita. Jadi untuk saat ini kebijakan yg tepat buat Indonesia adalah dengan menggabungkan 3 kebijakan tersebut. yaitu retrofit,pembelian bekas dan pembelian baru.
    Namun yang paling utama utk jangka panjang adalah peningkatan KEMANDIRIAN alutsista.
    Banyak KELEMAHAN yang terjadi selama kita masih TERGANTUNG terhadap produk negara lain, baik dari segi anggaran, kapasitas tempur, teknologi dan POLITIK.

    Semoga setiap kebijakan pengembanan alutsista membawa Indonesia lebih kuat & lebih maju.
    amien
    maaf kalau kepanjangan dan ngawur

    •  

      mas Satrio sampean cocok deh klo jadi Menhan. Menarik yg di sampaikan mas Satrio , mohon pencerahan terutam alutsista yg bekasiah bila di retrofit apakah benar kapasitas tempur nya sama atau ekuivalen dg yg baru ? dan sementara Jelas biaya mentainance lebih besar dan Aging tentunya akan pendek , dan tentu nya rawan penyadapan atau pun di pasang program bug/virus sehingga bisa di remote control atau self destrution bila keadaan di perlukan kepentingan politik

      kelebihan mungkin : batle proven, biaya retrofit ringan, boleh gak di bongkar terus dipelari atau di modif ?? misal F16 di ganti radarnya sehingga radar range lebih jauh bisa di luar horizon maaf agak ngayal..

      maaf klo pertanyaan ngawur ??

      •  

        Yaa Menhan Ketoprak
        Yang anda maksut mungkin dalam konteks pembelian hibah F16 bekas yaa ?
        Oke kita bahas.
        Untuk umur air frame memang tidak bisa bohong ,tetapi kita diberi pespur yang umur airframenya masih panjang dan bisa kita pakai sampai 20 thn jam terbang .sambil mengisi jedah sampai IFX siap kita gunakan,
        Kenapa bisa begitu karena rata rata kita memakai pespur 200 jam perbulannya cmiiw agak lupa soalnya dan f16 sisitim latihannya bisa memakai Simulator yang sudah lama kita punya jadi bisa menghemat jam terbang.
        Juga dengan adanya pembelian T 50 GE yang mirip dengan speck F16 (berkaitan strategi) kita bisa memaksimalkan latihan pilot F16 dan calon pilotnya kepada kedua alutsista itu sehingga lebih ekonomis dan ngirit biaya dan AIrframe
        Tidak seperti sukhoi kita yang boros jam terbangnya karena untuk latihan dan menjadi pencegat black flight yang tidak perlu,dikarenakan tidak mempunyai simulator dan kurangnya armada pespur buat workhorse dan intercept.
        Saat penjualan Hawk MK 53 balik ke BAE mereka sampai heran pesawat yang sudah puluhan tahun dipakai masih tersisa banyak umur airframenya.

        Maka tujuan strategisnya dari menerima hibah 24 pesawat itu dari pada membeli baru dapat cuma 6 biji tsb Untuk menambah pespur medium untuk workhorse dan intercept berkaitan dengan LUASNYA kedaulatan udara yang harus dijaga dan untuk NGEMAN sukhoi yang aslinya heavy fighter tuk pemukul seperti yang dipakai oleh AU rusia..bukan sebagai tukang riwa riwi berkaitan dengan mahalnya ongkos operasionalnya sukhoi dan belum punya simulator.

        Untuk kekawatiran rawan penyadapan atau pun di pasang program bug/virus sehingga bisa di remote control atau self destrution bila keadaan di perlukan kepentingan politik itu bisa jadi karena di US sana ada program yang namanya QF 16
        dimana pepur F-16 dirubah menjadi QF-16.
        QF-16 sebagai drone dapat diterbangkan oleh atau tanpa pilot. Penyerahan QF-16 dijadwalkan mulai 2014.kepada USAF.
        NAH kita harusnya sudah memperhitungkan itu ..Mungkin kita sudah meminta dengan syarat tidak dipasangi alat yang macem macem dan tugas orang orang seperti MR melekteck yang akan membereskannya dengan cara menguji apakah ada semacam output keluar yang tidak perlu diavinoknya,,(Semacam source) gitu mungkin bung melectevk yang bisa menjelaskan

        Untuk nguprek radar
        Kalau kita bisa nyolong tecknologinya kenapa tidak
        Tetapi untuk mengganti radar F16 Hibah dengan radar block 52 AN/APG-68 V(5) sepertinya tidak mungkin karena airframe nya tidak muat
        Demikian juga mengganti mesinnya dengan F100-PW-229.milik block 52 juga tidak muat airframenya dan perlu pembesaran air intake tuk memasok udara lebih besar.
        Jadi kita memakai yang SEMAMPU dimuat dan digunakan oleh Airframe F 16 block 25/32 jadi yang masuk akal adalah F 16 retrofit 32++ setara block 52.
        dan yang paling penting sesuai anggaran 😀
        maaf kalu kepanjangan tetapi saya rasa anda puas dengan jawaban saya

  6.  

    alhamdullillah sekarang warjag rame banget………, komentar2nya banyak yang mantaf dan berbobot, sampai banyak yang membahas diluar thema dari artikel diatas sampai kita2 juga terpancing mengomentarinya hi hi hi ……… (angkat jempol buat bung Diego….)
    Nah saya sebenarnya tertarik dengan salah satu hal, seperti ini:
    Berapa anggaran mef 2+mef 3 (klo digabung) sebenarnya, nah baru kita membahas usulan, saran, analisa dari keputusan para pengambil keputusan di negeri ini soal alutsista utama yg menjadi prioritas terhadap taktik strategi kedepannya dan dengan potensi ancaman yang ada di kemudian hari?????
    Apakah kita tetap akan memakai madzab gado2/campuran barat dan timur dlm pengadaan alutsista??? keputusan disini jelas pasti byk PLUS dan MINUSnya………..misalnya seperti kata panglima TNI , keinginan ambil pespur Su-35 dan juga mau ambil lg F-16 atau yg lainnya punya amrik (politik bebas dan aktif/non blok serta pengalaman masalah embargo) dan lain sebagainya………..

    •  

      yaa mahzab gado gado seperti yang anda bilang akan diteruskan karena itu KEUNTUNGAN kita dalam berpolitik bebas dan akti dan zero enemy.
      Anda lihat betapa galaunya ausy pingin pespur sukhoi family tetapi terikat denga politik satu blocknya kepihak barat.Bila aushy seperti kita mungkin sudah memboyong Su 35 ,Pengebom TU dan Killo bahkan borey class

      Sayang Anggaran kita belum mendukung keuntungan adzab gado gado dan belum bisa mengakomodasi semua keinginan para user dan para fansboy.
      Skema pembelian alutsista dari luar yaitu akan didisi prosuk dari Blok timur (rusia),Amerika serikat.eropa,Asia dan Asia selatan.Sedangkan khusus untuk pespur user tidak berani mengambil dari produk china ..cmiiw

      •  

        Nah itu dia bung satrio, krn kita memakai madzab itu……. akhirnya muncul banyak argument dari fansboy dengan segala macam dalil pembenaran dan penguatan dari pendapat ttg keunggulan suatu produk tehnologi antara barat dan timur………….
        Nah klo saya melihat….. itulah Indahnya Perbedaan Pandangan Dalam Kebersamaan yg muaranya tertuju pada Kejayaan bangsa dan negara Indonesia khususnya kejayaan TNI kita minimal kesetaraan kualitas alutsista di kawasan ini.
        Nah, soal anggaran yg bung SATRIO sebutkan tadi…………… ,
        Saya mempunyai pendapat misalnya Si Arsitek mendapat order dari user untuk membuatkan rumah dengan anggaran terbatas………..
        Padahal semua ide dan gagasan serta design si Arsitek itu kadang Liar tidak dibatasi oleh anggaran (ruang dan waktu).
        Nah disini si Arsitek akan berpikir Cerdas dgn waktu yg telah ditentukan oleh user akan memberikan suatu kebijaksanaan yang bisa memuaskan semua pihak khususnya user tadi suatu dgn suatu konsep design yg akhirnya mjd Design jadi dengan rancangan Rencana Anggaran Biaya sesuai budget yg telah ditentukan dgn kualitas sesuai keinginan user tadi.
        Itulah menurut saya, kenapa Menhan dan Panglima TNI beserta semua jajarannya memandang sebuah MEF dgn tepat dgn melihat semua segi yg ada…..
        Terima Kasih……….

      •  

        bung satrio…menurut anda…gado2 banyak keuntungan ya drpd ruginya??forumers sebelah gado2bikin logistik disaster loh

        •  

          yaa lebih banyak untungnya dong
          karena bisa banyak teknologi yang di[elajari untuk kemandirian alutsista.
          dan untuk meminimalisir efek embargo kedepan bila adaa.
          Kita sudah pernah merasakan efek embargo sejak 1999 itu lebih dari 60 persen alutsista mangkrak..
          Tni AL dan TNI AU yang paling terdampak oleh embargp itu,,,dan itu PAHIT.

          Kalau yang ngomong logistik disarter atau logistik nightmare.
          itu gak mau repot ,,gak mau susah
          kalau diembargo lagi baru tau rasanya

        •  

          jargon logistic nightmare tidak selamanya benar. setiap penambahan pespur baik dari jenis yang sama maupun berbeda pasti dibentuk tim yang baru buat merawatnya. jika tim/orangnya baru otomatis perlu pelatihan. kesulitan pengadaan sucad bisa disiasati dengan integrated system yang lebih baik. di perusahaan swasta dengan variant model yang lebih banyak saja tidak menjadi kendala. apalagi jenis pespur yang masih bisa dihitung dengan jari.

          •  

            Tambahan
            Kalau nggak mau repot itu harusnya bikin systim khusus semacam ILS milik us (yang macam arsenalnya banyak banget )

            Integrated Logistic Support (ILS) dimana pada sistim ini secara on line akan termonitor setiap material Alutsista kapan harus diganti, kapan harus masuk bengkel, dan harus masuk perawatan /pemeliharaan berat dan kesemuanya dilaksanakan dengan penuh kedisiplinan tinggi.
            Dari situ tau mana Sucad yang harus disediakan mana yang lifetimenya pendek dan fast moving yang harus diperbanyak stocknya.
            cmiiw

          •  

            Swasta atau BUMN sekalipun yang profit oriented (seperti Garuda), memang harus memprioritaskan efisiensi. Garuda menyederhanakan jenis pesawat menjadi hanya Boeing dan Airbus, dulu sempat ada DC/MD dan Fokker.

            Pertimbangan TNI lebih ke fungsi khas senjata, biaya prioritas belakangan.
            Tapi terlalu banyak jenis juga akan bikin pusing, jika sejumlah pespur X tiba2 rusak diluar jadwal perawatan reguler, teknisi ska X akan kewalahan karena beban kerja tambahan. Sementara teknisi dari ska tempur Y tidak dapat diperbantukan karena tidak menguasai teknis pespur X.

    •  

      Seharusnya untuk anggaran belanja Alutsista di MEF II adalah sebesar 45 (empat puluh lima) milyar dollar, selama 5 tahun dihitung dari tahun 2015. Angka ini diambil dari 50% Anggaran TNI tiap tahun yg pada th 2014 ini sebesar 83 trilyun. setiap tahun anggaran TNI harus naik 7%. dan 50% persen untuk anggaran rutin dan 50 persennya lagi untuk belanja alutsista, sedang untuk radar dan satelit, pangkalan dan lanud. diambil dari dana taktis non budgeter, dan dana silpa tahun sebelumnya,

      Anggran ini tidak akan lebih dari, 1,5 persen GDP Indonesia, bahkan mungkin hanya menyentuh 0,9 dari GDP jika pertumbuhan ekonomi lima tahun mendatang rata-rata 6.8%, spt tahun kemaren.

      lalu apa saja yang bisa dibeli dgn uang segitu. ??? (dengan kurs 1 US$ = Rp. 10.000,-

      1. Jika dibelikan SU 35 BM, akan mendapat 562 pesawat.
      2. Jika semuanya dibelikan Rudal S-300. dgn 12 peluncur akan mendapat 300 batre.
      3. jika beli kapal selam sekelas Changbodo akan mendapat 180 unit kapal selam
      4. JIka dibelika Kapal Induk tercanggih, terbaru spt milik Amrik akan dapat 3 unit, tapi kalau lebih
      jadul sekelas nimits akan dapat 10 unit.
      5. Atau kalau dibelikan KCR buatan dlm negeri yg berharga Rp 250 milyar. akan dapat 1800
      (seribu delapan ratus) KCR.
      6. Nah kalau mau disebar ya tinggal dibagi saja, mau beli apa jumlahnya berapa.

      Tapi persoalannya, apakah, kita boleh borong itu barang, apa diijinin ama negara produsen, apa didiamin ama Amrik. apa tetangga ngg sewot. tinggal politikal will dari pemerintah.

  7.  

    bung Roger,

    Melihat rekam jejak 3 tetangga yang berbatasan darat, 2 di timur adalah tetangga santun. Yang mungkin perlu mencicipi rasa armored column khas Indonesia adalah yang ketiga.
    Fortunately, wilayah mereka cukup ‘tipis’, seluruh titik terjangkau combat radius Tugino dari Putussibau dan Tarakan / Tj Redeb, sehingga tidak butuh LZ.

    Stated reason tentang ‘air escort’ sangat menarik untuk diulas big picture-nya. Hari gini, apakah tidak perlu merebut air superiority terlebih dahulu ? Jika air superiority di kuasai lawan, armored column and its supporting AH-64s apakah relevan? Sebaliknya, jika a/s di tangan kita, air escort + recon selagi armored column bergerak maju bisa diemban Tugino dengan mudah (memang sih klo Tugino jadi air escort, yang punya proyek dan melakukan deal adalah AU). Kalaupun gak seru klo gak ada air escort, Fennec / Mi-35 sudah memadai, atau AH-1Z sudah amat sangat gahar. (Dari sini, saya pikir jauh lebih baik punya Su-35 daripada AH-64, air escort maksimalkan aja asset yang ada, Tugino dan Mi-35).

    Masalah dengan AH-64, kita terpaksa bayar pepesan kosongnya juga. Silsilah Apache bearasal dari ‘doctrinal niche’ / mitos bahwa ia akan melakukan misi deep strike di palagan Eropa masa perang dingin, memikul tugas FOFA (follow-on forces attack), menghantam 2nd dan 3rd echelon satuan lapis baja Pakta Warsawa yang OTW ke front. Bahu membahu bersama A-10. Tuhan masih melindungi umat manusia, seandainya Pakta Warsawa jadi menyerang, AH-64 akan berjatuhan seperti nyamuk (seperti kemudian terbukti di Iraq dan Afghanistan, dan tidak berani keluar di Kosovo), kalah jumlah tank (3:1) NATO akan mengandalkan nuklir (Pershing dsb), dan kita kena getahnya…

    Beberapa catatan menarik:

    >RAH-66 Comanche, si stealthy super chopper divonis mati 2004.

    Further contributing to Comanche’s woes, the world changed enormously between 1982 and 2004. This stealthy super chopper suddenly had limited relevance to real-world mission needs. Quoting Dr. James
    Williams (penulis buku A History Of Army Aviation) again: “the battlefield for which Comanche was designed had grown less probable.” Defense analyst Cindy Williams put it in somewhat more clinical terms, writing “the doctrinal niche that the Comanche occupies is unnecessary.”
    That’s fancy talk for “we don’t need ‘em.”
    (Real Lessons From an Unreal Helicopter, Time.com).
    Kalau stealthy super chopper aja tidak lagi dibutuhkan, bagaimana dengan AH-64 yang tidak super dan terlanjur ada ?

    In February 2004, the US Army cancelled further research, development and planned purchases of the RAH-66 Comanche stealth helicopter. It believed that the helicopter would not meet the requirements of
    changing operational environments.
    (army-technology.com)
    Rancangan tahun 2000an aja dianggap tidak memenuhi tuntutan lingkungan operasi yang berubah, apalagi rancangan tahun 1975 (The prototype YAH-64 was first flown on 30 September 1975).

    >THE A-10 THUNDERBOLT AS AN ORGANIC ARMY ASSET .
    A thesis presented to the Faculty of the U.S. Army Command and General Staff College in partial fulfillment of the requirements for the degree MASTER OF MILITARY ART AND SCIENCE by MICHAEL N. RILEY, MAJ, USA, Fort Leavenworth, Kansas 1991.

    Abstract: The study investigates three options for the implementation of H.R. 4739 that directed the transfer of the A-10 into the Army. The three options are:
    1) Status quo with the Air Force continuing to provide close air support (CAS) to the Army, and the A-10 would replace the OV-1 as a surveillance platform.
    2) The formation of a U.S. Army Close Air Support Brigade (CASB) as proposed by the 1989 TRADOC study for assuming the entire CAS mission.
    3) The formation of a U.S. Army Air Attack Regiment (AATR) that combine AH-64’s and A-10’s into one unit under the corps aviation brigade (CAB).

    Seperti galau, kurang PD dengan AH-64 saja?

    >Each Israeli infantry battalion in war to have fighter jet: report, July 04 2009.

    The Israel Defense Forces (IDF) has decided every single infantry battalion participating in war will soon have its “very own” Israel Air Force (IAF) fighter jet at its beck and call, waiting for its instructions to give it close air support, Israel National News reported Friday on its website.
    If identifying a target it wants to use force from the air, an infantry battalion will be able to authorize the strikes easily and independently, without having to pass the order up through the chain-of-command,
    said the report.
    Standing army battalions will receive this extra empowerment by the end of 2010, and reserve battalions will all receive it in the course of the next 3 years.
    These goals were defined in the course of staff work currently being carried out by the Ground Force Command and the Air Force, with the goal of laying systematic rules of combat support for ground battalions.

    CAS tingkat yon langsung by-pass ke fighter jet, gak pakai AH lagi.

    >Future CAS 21st Century USAF Air Commandos & Navy SeaHog.
    So today, we have Army AH-64 helicopter gunship aviators living in denial that their choppers fly TOO SLOW and need Piasecki Vectored Thrust Ducted Propellers (VTDP) kits to get to 250 mph to survive over the modern battlefield we knew was necessary even back during Vietnam. In fact, the Army rotorhead is so stubborn and refuses to adapt, he continues to fly in broad BLUE sky daylight in OD GREEN helicopters, yet wonders why he is getting shot down?.
    The Russians have SU-25s OWNED & OPERATED by their ground maneuver elements. If the USAF wants to retire A-10s they should instead be transferred to the Army. New production models can be built by Northrop-Grumman who own the plans from defunct Fairchild-Republic.

    •  

      Kalau untuk mengatasi Infanteri yang mengendap dipohon membawa manpad yang bisa menyabot Heli Mi 35/tukino yang berfungsi sebagai payung udara,,atau infanteri yang akan menyabot MBT kita dengan ATGM itu diperlukan radar Longbow II yang adanya di Apache ,,tidak dipunyai oleh MI 35 dan Tukino,,sedangkan MI 35 terlalu gendut untuk bisa evanding manuver tembakan manpad juga tukino yang lambat bila dikejar manpad

      Teknologi apache dibutuhkan untuk pembuka dalam konsep Perang kavaleri Modern,baru didukung MI 35 dan tukino dalam sotrie berikutnya dan tentunya aaerial warfare dan control of the skies sudah diamankan oleh sukhoi kita
      cmiiw

    •  

      Sebelum sat lapis baja masuk (dan air superiority sudah direbut), sekian KM hutan di kiri kanan jalur tank sudah disapu dan disterilkan Tontaipur dan Kostrad yang merembes dengan sniper2 jawara Asia-Pasifik, tentara yang masih belajar nembak dengan senapan serbu dan gak kebagian medali, akan mati konyol di hutan 🙁

      Di udara Tugino terbang berputar2 di atas range manpads, mengincar MBT lawan dengan laser range findernya, di back-up Hawk yang subsonic dan sudah sering latihan menembakkan AGM-65, di atas sekali Su-35 / Su-30 / Su 27 mengawasi teater dengan radar jarak jauh dan IRST-nya…

      •  

        Kalau tidak mempunyai teknologi nya yaa kita mempergunakan seperti yang anda sampaikan bung danu..mungkin sekarang seperti itu strateginya.
        Dengan kemungkinan menemukan indanteri yang mengendap dipohon kurang dari 50 persen karena akan sulit sekali dengan cara manual mencari manusia dirimbunan pohon dengan luas area jarak jangklau manpad dan ATGM sekitar 5-7 km.
        Maka dari itu susah sekali menumpas gerombolan OPM di belantara mereka yang medannya dikuasi
        SF kita sampai harus perlu penunjuk jalan dengan pola PENYEKATAN
        Jadi artinya tidak gampang,

        Bila ada teknologinya dan kita mampu beli dan sesuai dengan strategi kita yaitu Radar Longbow yang digendong oleh apache kita ingin meng efektifkan dan meningkatkan kesuksesan dalam menangani infantri yang menyusup tersebut yaa dibeli lah karena tidak semua negara diberikan ijin,,mumpung kondisi politik memungkinkan kita diberi akses membeli product hightech US ,,syukur syukur bisa dicolong teknologinya
        Bila Tucano dan MI 35 punya radar sejenis Longbow mungkin kita gak perlu untuk beli apache

        •  

          Ijin nambahin bung @Satrio,

          Pelacakan “infantri dirimbunan pohon” oleh Apache bisa dilakukan berkat adanya TADS (Target Acquisition and Designation Sights) yang juga dilengkapi thermal imaging camera. Dgn kemampuan ini melacak infantri akan bisa dilakukan siang/malam, dibalik kabut, asap dan rerimbunan pohon. Tapi jika ngumpetnya di belakang pohon gede tanpa ada anggota badan yang nongol memang sulit juga 😀 mungkin tergantung sekuat apa sensor dan halangannya.

          Untuk melihat gambaran tampilan thermal imaging camera bisa dilihat disini

          •  

            Terimakasih bung now atas tambahannya
            menambahi keterangan saya dari yang ada didata saya,,ingatan dan hasil ngobrol saja.
            Jadi maaf kalau kadang gak pakai link

      •  

        mas Satrio,

        saya kok gak nemu rujukan Longbow bisa menemukan orang ngumpet di hutan.

        Longbow merupakan paket AN/APG-78 Fire Control Radar (FCR), dan Lockheed-Martin AN/APR-48 Radar Frequency Interferometer (RFI).

        Target identification algorithms in the radar’s software look at the shape of possible targets, and their Doppler signatures, to identify aircraft, helicopters, SPAAGs (self-propelled AA guns), SAM systems, tanks, AFVs, trucks and other wheeled vehicles

        The Longbow weapon system supports the AGM-114L active radar guided missile, operating in the same millimetric band as the radar.
        Sebagai fire control radar, Longbow mengarahkan Hellfire ke sasaran2 yang ditemukan di atas.

        Sementara M230 Chain Gun (1,200 butir peluru, al. untuk menembak manusia) dikendalikan pilot via helmet mounted sight (saja).

        Kalaupun Longbow bisa, sekarang ada opsi lain yang bisa ditenteng UAV, Forester (Foliage Penetration Reconnaissance, Surveillance, Tracking and Engagement Radar).
        http://defense-update.com/Images_new3/fopen_forrester.jpg

        Mungkin radar ini gak akan dijual ke kita, biar TNI terus kesulitan di Papua, dan mereka tetap pegang kartu truf…
        (kalau yang di hutan habis gak ada pegangan lagi)

        •  

          Target identification algorithms in the radar’s software look at the shape of possible targets, Teknologi sensor panas yang canggih bung danu dan tampilan TV camera resolusi tinggi, electronic zoom, target tracker dan auto boresight.

          Intinya daya endus dan visual dari Apache sangat kuat. Kru AH-64E Apache Guardian bisa membedakan, apakah mahluk hidup yang mengendap di hutan, manusia atau binatang.
          cmiww
          Itu yang jadi keunggulan Long bow radar jadi cukup satu yang maju kedepan apache yang biasa bisa nguntit dibelakangnya nunggu suplai data mana yang akan dihabisi
          Makanya kita belli 4 yang kondean dan 4 yang biasa

          •  

            tanya bung satrio, kalau seandainya saya ngumpet di dalam lumpur/air sambil bawa manpads sebatas dada apakah si apache bisa mengendusnya ?

          •  

            Masih bisa
            kecuali tubuh bagian atas yang tidak terndam air
            dilumuri lumpur untuk mencegah suhu panas terdeteksi.
            karena walau hanya setengah badan yang terdeteksi kalau dilayar monitor suhu badan tetap membentuk anatomi tubuh manusia(siluet) ,,kan beda sama sama binatang cmiiw

            Kecuali ada pakaian khusus yang bisa mencegah suhu panas tubuh terdeteksi

          •  

            kalau tak salah sritex sudah memproduksi

  8.  

    Mohon penjelasann bung admin, sudah sampai dimana tuh AEW&C yg akan dimiliki TNI.? Sepertinya kok banyaknya pesawat tempur akan kurang maksimal kemampuan pertahanan udaranya jika belum ada yg satu itu……salam SUKHOI.

  9.  

    saya mau tanya pada sesepuh warjag.apa benar tender sukhoi+penandatanganan nya dijaman pemerintahan presiden wanita kita..?maaf saya masih orang awam..mohon pencerahan.

    •  

      Memangnya kita pernah punya Presiden wanita!? he he he..,

      Iya bung, bener. Namun kuantitas dan kelengkapannya minim berhubung krisis ekonomi. Tapi dimulainya memang sudah lama, duluan kita daripada Malaysia

      Ketika kita masih terus ngeteng Malaysia kemudian beli 1 squadron. TNI baru kemarin2 full 1 squadron. Tapi kelebihannya batch akhir ini membuka kemungkinan dapat kelengkapan dgn teknologi terakhir, minimal itu bisik2 dan harapan kita semua

      •  

        oh addition of generation ya bung.?hehehe kalau begitu kira penambahan su-35 betul-betul kebutuhan yang mendesak atau kita santai-santai saja dulu

        •  

          Kecelakaan saja bung 😀

          Disebut mendesak ancaman perang terbuka belum terlihat, dibilang tidak mendesak kelemahan kita bisa memancing ‘musuh’ makin berani dan kita bisa jadi si-bully seperti nasib Pilipina.

          Idealnya sedia payung sebelum hujan sesuai, sic vis pacem, para bellum

  10.  

    stahu q, AH-64 dkk it msh bs djangkau si pantsyir s1 stidakny bs mrusak baling-baling ato nembak sang pilot. jd sebar aj manpad Sklas javelin. s400 jauh lbh mengena dan cukup u hadang pespur gen 5 y yg tentunya dg radar yg sesuai.
    agan satrio, Diego, nowyoudont, melektech,patech n else tolong Bantu pakde poer n om syafrie bliin Gigi u si macan.”u r great”

  11.  

    nyambung d diskusi no.45: secanggih alat tmpur apapun msh lbh canggih sang userny. y itulah knapa jka msh ttp bli apache,mreka g bakaln brikan full version.diskon it hanya akal2an n ada maunya.aq percaya TNI mampu mendownkn apache tipe apapun.
    skedar Tanya d forum ini, mw mndirikn pabrik ‘mini’ pindad ato solusi 247 it alurnya gmn y.mengingat devisanya biar g kluar banyak2? jka g tw dkira gudang amunisi terroris,waduuuh

  12.  

    nah..kan.. nah..kan.. komennya si neng okelah ini mencla-mencle.. atw jgn2 ngidap amnesia akut.. di thread sebelah dia minta spy RI kerjasama dgn china.. skrg lain lg.. katanya jgn percaya dgn china ?? bikin binun warjager aja.. atw jgn2 ente emg kepengen jd seleb di jkgr? walah.. salah tempat dimari neng??

  13.  

    Banyak komentar yg coba melemahkan dan propokator. Biarin saja kita sdh di jalur yg benar dalam peningkatan kemampuan pertahanan kita. Ingat iri tanda tak mampu.

  14.  

    * Siap2 Mimpi basah lagi …*

    – SU-35 sudah masuk Listing.
    – T50 Pakfa selesai Uji akhir pada akhir tahun 2013,
    – Juni 2014 F-35 udah nongkrong.
    – Tim TNI AU berangkat ke Rusia Peb 2014
    – Ngabisin Dana On Top kira2 buat apa z…??

    Lama2 qo ngegatelin si Pak Fa…pesen 6 biji z dulu, gpp datengnya 2017 juga…Ikhlas.

  15.  

    Seluruh Rakyat Indonesia yang berjiwa patriot, cinta tanah air pasti akan mendukung rencana pengadaan SU-35 dan kilo class. Jangan pesawat dari Amerika, kecuali kalau mereka jual F-35, kalau hanya F-16 yang terbaru pun kekuatannya masih berada dibawah kekuatan Pesawat Asue n Singo dan Indonesia tetap berada dibawah mereka sebagaimana yg diinginkan oleh US.
    US dan kroni-kroninya berusaha utk memposisikan kekuatan militer Indonesia berada dibawah Asue n Singo, sehingga kita harus sadar bahwa kalu kita beli ALUTSITA dari Blok Mereka pasti kemampuannya dibawah Asue n Singo.
    Tahap pertama 6 buah SU-35, tapi kalu boleh lengkap sekalian 1 skuadron, demikian juga kapal selam yang canggih sekalian termasuk fregat dari Rusia yang tehnologinya juga lebih canggih.

  16.  

    jgn sampai kita beli pespur yang dapat “dikendalikan” dengan remote oleh pabriknya giliran mau menembak malah macet atau jangan sampai kita beli pespur yang tertanam alat penyadap

  17.  

    Joyful to become here

  18.  

    ???????????????ñ?????????????????????ñ?????????????????????????????Ÿ???????????ñ????????????????????????????????ñ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

  19.  

    Meninggalkan jejak dulu ah…

  20.  

    Sebagai warga negara yang cinta tanah air….saya pribadi jika pemerintah mau membeli alutsita dlm hal ini Pesawat tempur haruslah melihat sejarah beberapa tahun lalu saat mau menumpas GAM, inggris mengembargo persenjataan yg kita beli untuk digunakan menggempur mereka, lalu Amrik masih segar dalam ingatan kita betapa embargo suku cadang F-16 membuat banyak pesawat yg kita miliki juga tak laik terbang dan nggak bisa terbang. belom lg kalo kita mengingat insiden diatas langit bawean….F-16 nggak bakal mampu melawan F-18 Hornet nya amerika, mrk sdh tahu betul kelebihan dan kekurangan F-16. jadi kalo pemerintah kembali memutuskan membeli PESPUR buatan amrik mnrt saya adalah kesalahan strategi. bagaimana kita mau menjaga udara kita dari ulah iseng amerika,Australia, singapura, yg berkiblat ke amrik dgn pesanan F-35 yg bakal segera mereka miliki jika kita hanya meng upgrade F-16. saya kira langkah tepat ya hrs membeli pespur dari negara yg berseberangan dgn amrik, bisa dari Rusia bisa pula dari China atau jerman bisa juga perancis….

  21.  

    Tucano dan apache punya karakterisitik yg berbeda,kl gw lbh setuju punya keduanya.apa yg bisa dilakukan apache gk bisa dilakukan tucano,begitu jg sebaliknya.persamaannya cumasama2 bisa menyerang/serbu.klbihan apache bisa kawal pasukan darat sedekat mungkin,smntara tucano gk bisa.knapa pasukan anti teror lbh suka MP 5 dibanding senapan serbu laras panjang saat pembebasan sandera?mungkin spt itulah perbedaannya.ruang sempit pake laras panjang akan kerepotan,perang terbuka pake MP5 ya kalah dijangkauan.

  22.  

    yang jelas kita sih gak butuh senjata apa2…toh sepengen apapun kita para TNI fan-boy dan NKRI Lovers..nyatanya pemerintah kan gak melihat kita punya musuh kalau jadi perang dunia ke 3…saya cari modal sebanyak banyaknya buat ngelamar orang Korut, Korsel, Jepang,Cina, India ato Amrik yang cari suaka ke Indonesia akibat efek thermonuclear di negara2 tersebut wakwakwak..kesempatan punya bini bule

 Leave a Reply