Mei 112019
 

Pesawat tempur Typhoon Inggris (Peter Gronemann – Flickr: RAF Eurofighter Typhoon via commons.wikimedia)

Pesawat tempur yang akan dibeli Kanada nantinya harus mendapat sertifikasi dari AS. Hal ini dinyatakan oleh Pejabat Tinggi pengadaan peralatan militer Kanada.

Persetujuan dan sertifikasi AS diperlukan agar pesawat tempur Kanada sesuai dengan sistem intelijen keamanan tertinggi AS. Tetapi AS tidak akan bisa memutuskan pesawat tempur mana yang akan menggantikan CF-18 milik Kanada yang menua.

“Pada akhirnya ketika kita memilih, ketika kita masuk ke dalam desain terperinci, pada titik tertentu, AS akan memiliki peran dalam sertifikasi tertinggi,” kata Patrick Finn, Defence Department’s assistant deputy minister of materiel kepada The Canadian Press.

Meski harus mendapat sertifikasi AS, menurut Patrick Finn, AS tidak akan duduk semeja mengevaluasi pesawat tempur yang akan dipilih Kanada.

Meskipun demikian, beberapa sumber industri pertahanan khawatir AS dapat menggunakan persyaratan sertifikasi untuk menghalangi Kanada memilih pesawat tempur selain buatan Amerika, terutama mengingat pendekatan administrasi Trump terhadap perdagangan.

Pemerintah Kanada akan menggelontorkan dana sebesar US$ 19 miliar untuk mencari 88 pesawat tempur untuk menggantikan CF-18 Kanada dalam sebuah tender yang diperkirakan akan diluncurkan secara resmi pada bulan Juli.

Meskipun kini ada kelonggaran bagi para produsen jet-jet tempur pada aturan-aturan manfaat industri (seperti berapa banyak produsen pesawat harus memberikan pekerjaan dan produksi di Kanada), namun kini para pabrikan pesawat harus bisa memenuhi persyaratan keamanan tertentu.

Secara khusus, perusahaan akan memiliki waktu hingga bulan September untuk menjelaskan rencana kepastian pesawat tempur buatannya dapat memenuhi standar yang diperlukan untuk menangani intelijen rahasia dari dua jaringan keamanan di mana Kanada ikut ambil bagian, yang disebut ” Five Eyes” dan ” Two Eyes.”

Jaringan “Five Eyes” terdiri dari Kanada, AS, Inggris, Australia, dan Selandia Baru, dan “Two Eyes” hanya terdiri dari Kanada dan AS yang sangat penting untuk bekerja sama dalam pertahanan Amerika Utara.

Memenuhi persyaratan tersebut akan menimbulkan tantangan yang berbeda untuk varian pesawat tempur yang diperkirakan akan menggantikan CF-18, dengan pesawat siluman F-35 buatan AS dan Boeing Super Hornet yang telah sepenuhnya memenuhi persyaratan.

Dua pesaing lainnya, yakni Eurofighter Typhoon dan Saab Gripen, akan menghadapi waktu yang lebih sulit. Typhoon yang digunakan oleh militer Inggris, sudah memenuhi persyaratan Five-Eyes, tetapi Gripen Swedia tidak memenuhi standar Two-Eyes.

Seorang juru bicara Kedubes AS di Ottawa menekankan pentingnya koneksi teknologi antara AS dan pasukan Kanada.

“Kami berharap dapat mendengar lebih banyak tentang rencana Kanada untuk mengganti armada pesawat CF-18 saat ini dengan pesawat generasi terbaru untuk memenuhi komitmen militer Kanada selama beberapa dekade mendatang,” kata Joseph Crook melalui email. “Kami terus percaya pada pentingnya interoperabilitas antara NATO dan NORAD sebagai komponen penting dari akuisisi aset pertahanan Kanada.”

Crook mengatakan AS berharap pabrikan pesawatnya bisa bersaing dalam proses yang adil.

Finn mengakui dalam sebuah wawancara pada hari Jumat bahwa kedua pesaing dari pabrikan Eropa akan memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan.

Menurut Finn ini untuk pertama kalinya AS akan melakukan sertifikasi sebelum pesawat baru dapat terhubung ke dua jaringan keamanan. Dimasa lalu militer Kanada membeli peralatan non-AS yang perlu dimodifikasi untuk memenuhi persyaratan keamanan Amerika, seperti sistem radio dan sensor untuk kapal perang dan drone.

Namun, sumber-sumber industry dirgantara mengatakan ada kekhawatiran AS bisa menggunakan persyaratan keamanan untuk memblokir Kanada dari membeli pesawat tempur non-Amerika.

Analis pertahanan David Perry dari Canadian Global Affairs Institute mengatakan kekhawatiran itu sepenuhnya dibenarkan mengingat kegemaran Presiden Trump untuk menggunakan cara apa pun yang diperlukan untuk membuat negara asing membeli produk AS.

“Pada akhirnya, pesawat-pesawat itu harus terhubung ke sistem Amerika Serikat, sehingga pemerintah AS akan memainkan semacam peran,” kata David Perry.

Theglobeandmail

 Posted by on Mei 11, 2019