Agu 242017
 

MRAP Sanca Pindad – Thales Australia (shephardmedia.com)

Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku sudah menyiapkan lahan seluas 10.000 hektar, yang akan dijadikan sebagai area relokasi tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Kami sudah siapkan 10.000 hektare untuk pindahkan PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT PAL. Nanti kalau bisa lebih ya semakin baik,” ujar Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu, 23/8/2017.

Terkait lokasi persis dari lahan tersebut, Menhan mengaku belum mau membocorkannya. Namun, ia menuturkan bahwa tanah itu berada di Lampung.

“Nanti, setelah ini saya ke Lampung untuk lihat (lahan),” katanya menambahkan, yang dirilis Antara.

Ryamizard Ryacudu menilai pemindahan pusat operasi tiga BUMN, yang masing-masing bergerak di bidang pembuatan produk militer, pesawat terbang, serta kapal perang dan kapal niaga itu, dimaksudkan untuk memajukan industri pertahanan nasional.

“Pindahnya butuh proses dong. Secepatnyalah. Kalau sekarang ini PT Pindad saja luas tanahnya cuma 26 sampai 40 hektare. Nanti, kita kasih kira-kira 3000 hektare. Lebih besar kan, jadi tidak perlu muter-muter,” ujar Ryamizard.

Menhan menambahkan bahwa kegiatan relokasi ini akan menggunakan dana dari negara.

Kendati demikian, ia tidak merinci jumlah anggaran yang akan digunakan dalam proses pemindahan serta pembangunan pusat operasi industri pertahanan itu.

“Ya belum tahu. Saya siapkan tanah dulu saja, karena kalau lima tahun lagi tidak akan bisa, tidak ada tempat lagi. Jadi tanah dulu,” ujar Menhan.

Proses pemindahan ini diharapkan terwujud dalam waktu 2 hingga tiga tahun. “Kalau 5 tahun lagi, tidak akan ada lagi tanahnya, jadi harus cepat,” kata Menhan Ryamizard Ryacudu.

Bagikan:

  54 Responses to “Pindad, PT PAL dan PT DI Bakal Pindah ke Lampung”

  1.  

    Pertamax
    Woy pindahnya ke daerah ku Lampung sai

    •  

      Selamat buat warga Lampung….. MANGTAFF !!…

    •  

      Selamat ya bung @anas…tmpat anda yg terpilih…buruan buat surat lamaran, krn pst dibutuhkan tenaga kerja yg banyak… kali aja ke trima dan siap bikin badak atau kaplan…. peace bung

      •  

        Semoga rencana ini bisa benar-benar diwujudkan. Soalnya dulu pernah diwacanakan PTDI akan bangun pabrik di Jatim, sudah dibicarakan oleh Presiden dan Gub Jatim tapi entah mengapa tidak berlanjut.
        Nah sekarang rencana di Lampung malah lebih keren lagi kedengarannya.

        •  

          Saya kok ga yakin pemindahan ini. 1000% ga, kenapa :
          1. Bukankah PT. DI (komersial) + Regio sdh direncanakan di Kertajati Majalengka. Bahkan pembebasan lahannya sudah 80%.
          PT. DI (militer) sebaiknya tetap posisi semula. Karena SDM banyak tersedia di Bandung (ITB) berikut fasilitas2nya untuk keluarga/tinggal. Jika dipindah ke lampung, apalagi di daerah remote, bisa saja SDM yang ada saat ini akan keluar dan memilih kerja di perusahaan Luar yang mempunyai fasilitas tinggal di kota untuk keluarga.
          lagian tidak murah memindahkan PT. DI, berikut pembangun bandara dan fasilitasnya.

          2. PT. PAL (komersial), mungkin iya ke lampung tetapi masuk ke kawasan berikat industri perkapalan Tanggamus. Klo yang PT.PAL militer tetap di sby, dekat dengan user (Armatim, ITS dan Lab desain dan uji Kapal terbesar di asia milik BPPT juga di sby, Pusat Desain Kapal juga di Sby)

          3. PT. Pindad
          Bukannya baru saja diupgrade pusat industri amunisi di Malang ? Jika PT. Pindad Bandung akan di upgrade lebih baik ke Subang. Dijadikan satu dengan PT. Dahana.

          Lagian apa Enggak khawatir, 3 Industri strategis militer dalam satu lokasi/propinsi ?

          Pemindahan itu masuk akal jika digabungkan Industri Militer dengan Industri pendukungnya, Ini khan benar-benar beda jalur dan tidak saling mendukung ?
          Misal :
          PT. DI dengan Lapan, Len jadi satu.
          PT. Pindad dengan Dahana, PT. KS jadi satu

          •  

            Mungkin tempat lamanya sebagai HOT LINE HOLDING BUMN

            Sedang produksi kemandiriannya ada di LAMPUNG yang strateghis jauh dari jangkauan rudal OSTALI dan FPDA/Usa Army

          •  

            sebelum anda punya pertanyaan itu mereka sudah memikirkan apa yg akan anda tanyakan dan apa jawabanya.. krn mereka sudah memikirkan itu lama dan di kaji berulang2 baru berani memberikan pernyataan spt itu.. bukan karena pemikiran tadi pagi trs sore beri pernyataan.. dan sy rasa mereka lebih tau apa yg harus di lakukan dan bagaimana solusinya

          •  

            Mas Paijo,
            Jangan panjang-2 komennya klo isinya cuma begitu

          •  

            Nahh, ini baru akur komennya.. Xixixixixixixi

          •  

            Lebih baik jangan lah,
            Jika kita konfrontrasi dgn musuh itu akan lbh memudhkan musuh untuk destroy..
            1 rudal 3 industri penopang pertahanan hancur..
            Maka hancur pondasi pertahanan kita.

  2.  

    Semuga sukses di tempat baru

    •  

      Majalengka mungkin untuk Regio.

      PTDI yang di Lanud Husein mungkin untuk IFX. sebab dengan banyaknya hangar kosong bekas tempat produksi helikopter dan pesawat angkut kecil maka akan ada banyak hangar kosong yang bisa dipakai untuk produksi IFX.

      Dari kemungkinan produksi yang 5 – 6 unit per tahun bisa ditingkatkan jadi 20 – 24 unit per tahun.

  3.  

    ide yg bagus juga itu yaaa

  4.  

    Beberapa komponen militer pasti akan turut dipusatkan antara jakarta – lampung, kapal perang bakal berseliweran di sono??

  5.  

    Bukan hanya ibukota negara yg diwacanakan pindah, BUMN strategispun juga ada rencana mau dipindahkan.

    Rencana menara kembar Petromak juga mau saya pindahkan ke neraka…… 😆

  6.  

    mungkin di sby tetap ada gak ya pt pal-nya? ?

  7.  

    Pasti akan membutuhkan banyak tenaga kerja…10 ribu hektar lho…

  8.  

    Gak bagus juga kalau dikumpulkan,kena musibah bisa lumpuh semua…masa industri strategis dan rahasia malah dikumpulkan,jadi target musuh dong

    •  

      Saya sependapat Bung Sibluu. Saat suasana perang akan memudahkan musuh RI untuk menghancurkan ke tiga industri strategis tsb.

      Tetapi pada saat damai – ke tiga industri strategis yang dipooling ini jelas bakal meningkatkan efisiensi perusahaan yg ujung-2nya akan mendongrak profit. Tapi saya yakin semuanya sdh diperhitungkan.

      Salam

    •  

      Tidak dikumpulkan berdampingan bung.

      Propinsi Lampung itu luas banget. Panjang 400 km, lebar 300 km.

      Dibandingkan dengan menempatkan PT PINDAD dan PTDI yang jaraknya hanya 1 kota, satu di Pajajaran/Pasteur, 1 di Kiaracondong. Jaraknya jika ditarik garis lurus maksimal hanya belasan km antara satu sama lain di Bandung.

      Kalau di Lampung jaraknya antara satu sama lain bisa ratusan kilometer dan masing2 pasti ada arhanudnya.

      •  

        Kalau tiap industri strategis berjarak ratusan km padahal dermaga khusus yg dibangun buat mereka untuk kegiatan eksim dan lokal cuma satu pasti ada lokasi BUMNIS yg terlalu jauh. Saya yakin salah satu tujuan pemerintah ini adalah untuk mengejar efisiensi.

        Kalau memang masing-2 industri strategis dibikinkan dermaga masing-2 itu jadi tidak efisien. Atau masing-2 BUMNIS nanti disuruh cari pelabuhan (umum) terdekat agar bisa menekan ongkir.

        Pemerintah sudah pasti punya kalkulasinya, supaya efisiensi dan optimalisasi tercapai.

        Salam

        •  

          Makanya ada jalan tol dari Bakauheni terus sampai Terbanggi Besar…untuk pengangkutan baja ke Pindad, PAL dan PTDI.

          Atau langsung dari Panjang ke Lampung Selatan atau Tanggamus lewat jalan biasa.

          Atau untuk PTDI ke Way Tuba via Tol dilanjut ke jalan biasa.

          nggak akan terlalu jauh jika lokasinya berbentuk segitiga.

          Yang pasti PT PAL harus di pantai, kemungkinan besar dekat dengan Pangkalan AL di Teluk Ratai. Jadi dekat ke Pelabuhan Panjang.

          Jadi lokasi segitiga dimulai dari Pelabuhan Panjang.

          Lokasi berbentuk segitiga juga menunjang perlindungan arhanud yang saling mendukung antara tiga titik.

          Kalau lanud yg di Way Tuba tidak digunakan untuk PTDI berarti bakal menggunakan lokasi dekat Bandara Branti yang masih sepi penerbangan dibanding dengan Bandung.

          Atau PTDI bikin landasan sendiri di lahan seluas 3000 hektar itu.

          Landasan udara 60 x 2000 meter kelihatannya cukup memadai untuk testing pesawat.

  9.  

    Heran….

  10.  

    Kalau dipindah, pabrik lamanya bgmn? Tetap operasi atau dijual? Atau produksi produk sipil (khusus Pindad)

  11.  

    Clue dari Panglima Pak Gatot, PINDAD akan dipindahkan ke lokasi yang dekat Bandara dan dekat Pelabuhan.

    Satu-satunya bandara yang dekat dengan pelabuhan jaraknya sekitar 30 km antara bandara dan pelabuhan adalah Bandara Branti di Natar, Lampung Selatan.

    Pelabuhannya di Panjang, Bandar Lampung.

    Luasnya 3000 hektar kalau di kota Bandar Lampung mungkin kurang lahan segitu. Yang ada lahan segitu di Lampung Selatan atau Tanggamus.

    Jadi prediksi saya lokasi PINDAD adalah di kabupaten Lampung Selatan atau kabupaten Tanggamus.

    Kalau di PT PAL mungkin bisa di daerah Panjang atau Padang Cermin atau Teluk Ratai dekat pangkalan AL yang mau dibangun.

    PTDI mungkin di sekitar lanud Artha Kesra sebab di situ sudah ada landasan udara TNI AU untuk helikopter. Pengamanan juga ada dari TNI AU.

    Wah nanti berarti semakin banyak orang pintar (tenaga ahli) yang datang ke Lampung.

    Juga berarti makin banyak arhanud yang akan ditempatkan di Lampung.

  12.  

    Mulai dari industri pertahanan buka cabang di luar jawa, selanjutnya industri pokok lainnya juga ya!!

  13.  

    mending ngk usah dipindah semua.. kalau di Lampung mending buat lini produksi yg baru. Misal Pindad di Lampung khusus produksi Tank, PT DI khusus KFX , PT PAL khusus buat kapal angkut seperti LPD, LHD, dll. Dari pada memindahkan semua aset yg ada di Bandung dan Surabaya saya kira tidak efektif karena pasti akan memulai dari nol dan itu akan membutuhkan dana yg sangat banyak dan waktu yg lama. Saya harap tidak ada kongkalikong antar pejabat yg merugikan negara.

  14.  

    Sekalian ibukota pindahin jg ke lampung

  15.  

    Mari kita dukung..perluasan industri BUMN dan alutsista(yg secara tidak langsung perluasan kepemilikan tanah diindonesia..supaya tidak banyak dikuasai asing walaupun status mereka hanya HGB)..jangan sampai kita terlena..nanti mereka mereka beli pimpinan suatu daerah utk setifikasi resmi secara hukum…ini juga penting..kasihan orang2 asli bangsa indonesia kedepannya..

  16.  

    Bung Senopati,

    Mengapa ragu ?

    Desain kapal biarlah di Surabaya.

    Industri kapal selam biarlah di Surabaya.

    Industri kapal perang tipe kecil biarlah juga di Surabaya.

    Namun ada satu tujuan yang bung Senopati tak bisa lihat.

    Coba lihatlah sarana di mana SSV filipina dan PKR sigma dibangun.

    Ukurannya HANYA sekali lagi HANYA panjang 400 meter x 30 meter.

    Ukuran segitu HANYA sekali lagi HANYA sanggup meluncurkan maksimal 4 unit kapal perang panjang lebih dari 100 meter dalam 1 tahun.

    Kalau ukuran segitu, jika untuk bikin KCR 60 saja, bisa 6 – 12 unit KCR dalam setahun.

    Yang mau dikejar itu adalah percepatan produksi kapal perang ukuran besar.

    Untuk kejar MEF, kita butuh kapal combatan ukuran besar 6600 ton setidaknya 10 unit dan 4500 ton setidaknya 21 unit serta 900 ton setidaknya 20 unit lagi. Belum lagi LPD, LST, BCM.

    10 + 21 + 20 = 51 kapal perang ukuran besar.

    Semua itu harus dikejar sehingga tahun 2024 harus selesai semua.

    Waktu tersisa tinggal 2024 – 2017 = 7 tahun lagi.

    7 tahun x 4 kapal besar = 28 unit maksimal bisa produksi jika di Surabaya.

    Belum lagi jika PT PAL ada pesanan luar negeri.

    Belum lagi untuk produksi kapal-kapal pembangkit listrik.

    Jika dibuka di lahan yang lebih luas dengan dibangun setidaknya dengan ukuran yang hampir sama seperti di Surabaya.

    Maka bisa dibangun galangan kapal dengan ukuran 400 meter x 40 meter sebanyak 4 atau 5 unit.

    400 x 40 x 4 = 64.000 meter persegi.

    400 x 40 x 5 = 80.000 meter persegi.

    64 – 80 ribu meter persegi itu hanya untuk galangan saja, belum lagi hangar produksi untuk membangun modul2 kecil untuk dijadikan satu di galangan itu. Belum lagi dermaganya. Belum lagi jalan antar galangan, belum lagi gudang-gudangnya. Belum bangunan kantor dan bangunan tempat tinggal. Maka dibutuhkan lahan tidak hanya 80 ha tetapi bisa 5000 ha.

    4 unit galangan x 4 kapal besar yang bisa diluncurkan dalam setahun = 16 unit setahun.

    5 unit galangan x 5 kapal besar = 20 unit setahun.

    Pembebasan lahan 2 tahun. Pembangunan 3 tahun.

    2 + 3 = 5

    Sehingga waktunya hanya tinggal :

    7 – 5 = 2

    2 tahun x 20 unit = 40 unit

    Kebutuhan 51 unit kaprang besar, dari galangan baru bisa sumbang 40 unit.

    Jadi tinggal 51 – 40 = 11 unit

    11 unit kapal combatan besar lainnya bisa dikerjakan berbarengan dengan pengerjaan KCR dan LPD di Surabaya sampai tahun 2024.

    Dengan ukuran galangan selebar 40 meter itu maka LHD sekelas Mistral (lebar 32 meter) bisa dibangun di situ juga (kalau yg ini ngarep hehehehe)

    Jika 20 unit kaprang bisa diluncurkan per tahun maka dalam 5 tahun bisa 100 kapal per tahun.

    Sehingga di tahun 2045, bisa terwujud tujuan cita-cita RI punya 700 KRI.

    •  

      Satu lagi, armabar bakal dipindah juga ke Lampung, jadi lokasi PT PAL di Lampung juga bisa terlindungi oleh arhanud AL.

      •  

        Lalu apa krn alasan armabar pindah ke lampung ketiga BUMN strategis hrs boyongan ke lampung boss.?
        Kalo pilih aman dan terlindung di jawa semua persenjataan ada dan siap melindungi dr timur ke barat dan utara keselatan.
        Kalo alasan percepatan produksi, galangan kapal yg lain bisa kok apalagi pake sistem modul.
        Jd indikasi pemilihan lampung terkesan subyektif apalagi lampung rawan bencana gempa. Piye kang, kira2 ada alasan yg lebih obyektif kah.? Yg bener2 mendesak.?

        •  

          begini Nak Ruskye,

          Daerah rawan gempa itu ada di pantai barat Sumatera termasuk Lampung bagian barat.

          Kalau Lampung bagian tengah, selatan dan timur hanya kena sedikit dampak.

          Bahan baku untuk buat kapal, pesawat terbang dan kendaraan lapis baja itu adalah lembaran baja.

          Lampung dekat dengan Cilegon yang adalah pusat pabrik baja.

          Dari Cilegon tinggal nyebrang pakai feri atau tongkang ke ke pelabuhan Panjang.

          Prediksi saya PT PAL akan didirikan dekat pelabuhan Panjang dan pangkalan AL Teluk Ratai.

          Dari Panjang juga bahan baku baja bisa diangkut ke daerah Lampung Selatan atau Tanggamus atau Way Tuba ke tempat PTDI dan Pindad akan berdiri.

          Lalu lintas jalan di Lampung tidak semacet di Jakarta dan Bandung.

          Lampung masih banyak tanah kosong untuk tes panser, tank dan meriam ataupun roket.

          Lampung juga banyak tanah kosong untuk pendirian industri, landasan udara baru sekaligus pemukiman baru untuk karyawan pabrik.

          Dengan pendirian industri pertahanan di Lampung maka provinsi ini akan semakin dipacu secara ekonomi mengingat tingkat ekonomi di Lampung jauh tertinggal dibanding provinsi terdekat yaitu Sumsel.

          Para maling dan begal yang ada di Lampung diharapkan supaya bertobat dan ganti pekerjaan sebagai tukang bangunan, tukang bersih-bersih dll.

          Kalau para maling dan begal itu tidak bertobat dan beraksi maka akan jadi sasaran uji tembak produk Pindad oleh anggota TNI yang akan semakin banyak jumlahnya di Lampung.

        •  

          Lho komenku ilang.

        •  

          Nak Ruskye,

          Tadi udah saya jawab panjang lebar tapi kayaknya kena sensor karena ada tempat2 yg saya sebutkan.

          Alasan utama secara singkat :

          Memacu tingkat pertumbuhan ekonomi di Lampung.

          Menyediakan lokasi yg lebih luas untuk uji hasil produksi.

          Menyediakan jarak cukup aman bagi penduduk setempat jika terjadi musibah karena kecelakaan kerja, misal ledakan amunisi dll.

      •  

        Ini mah namanya setan proyek,, Pemborosan.. Xixixixixixixi

        Mending dipake beli alat produksi yg lebih modern,, itu mesin PT Pindad, PAL, DI banyak yg udah tuir..

        Kalo sifatnya ekspansi okelah,, tp kalo pemindahan total ya trlalu beresiko dan butuh biaya yg gede banget utk ngebangun ribuan hektar.. Di lampung lebih cocok utk produksi produk sipil.. Kalo militer tetap ditempat yg udah ada..

        Yg cocok dilampung atau dipesisir pulau sumatera ya pt PAL komersil.. Dari jaman bung karno, pulau sumatera, pesisir kalimantan dan sulawesi emang mau dijadiin pusat pelabuhan dagang karena letaknya yg strategis..
        Pulau jawa dan bali dijadiin pusat lumbung pangan dan pariwisata..
        Kalimantan jd pusat pemerintahan dan pertahanan angkatan udara.. Papua (biak) jd pertahanan Laut dan pulau jawa (bandung) jadi pertahanan darat..

        •  

          Kelihatannya tidak dipindah total bung.

          Pemindahan PTDI kemungkinan hanya untuk helikopter dan pesawat angkut.
          Pembuatan IFX masih di Bandung.

          Pindad dipindahkan yang untuk industri militernya. Industri sipil (excavator dan traktor) tetap di Bandung.

          Pemindahan PT PAL untuk bangun kapal2 permukaan ukuran besar (900 ton atau lebih).

          Kaprang kecil seperti KCR serta Kapal selam tetap dibangun di Surabaya.

          Pusatnya yang dipindahkan sedangkan lokasi yg sekarang akan jadi cabang.

  17.  

    menurut ane :
    1. memindahkan pt. pal pindad dan pt.di sudah tepat..biar tidak java sentris..
    2. untuk pindad..jelas punya lapang luas sangat dibituhkan..krn skr pindah sudah produksi tank dan apc ber meriam..kalo skr..setiap pindad akan test harus jalan jauh..kurang efisien..
    3. untuk pt.di jelas butuh area..kapasitas hangar dan mesin akan mempengaruhi daya produksi..bisa jadi telat produksi krn kapasitas hangar..belum nanti mau bikin male..
    4. nah masi bingung dng konsep pt.pal..mungkin pal yg di surabaya untuk sipil..sedangkan pal yang di lampung khusus untuk kalangan terbatas
    imho yah…

  18.  

    setuju dibuat kawasan industri terpadu di luar pulau Jawa … hanya saja biaya relokasi atau buat tempat baru pasti akan sangat super wah !!!
    semoga duit nya cepet dicetak lg yg buanyakkk …

  19.  

    knp enggak bikin aja yang banyak? enggak cuman 1 tempat gitu maksudnya

  20.  

    maaf newbie, tp menurut saya, mungkin luas 10 rb HA tidak mentok untuk pabrik saja, karena d bandung kalau melaksanakan uji tembak harus membutuhkan lahan yang luas, apalagi pindad sudah mulai memperlebar lini produksi, dan bilamana ujicoba terjadi kecelakaan/kesalahan material uji coba itu jatuh di wilayah yang tidak ada pemukimannya, contoh rudal roket/altileri/rudal jarak 50-300 km membutuhkan lahan dan jalur penembakan yang aman dr jangkauan penduduk, sama halnya PT DI bila ada kesalahan uji coba tidak jatuh d areal pemukiman, kl kalau PT PAL menurut saya kenapa ke lampung karena disana dekat dengan area konflik, seperti dengan singapura/malaysia dll, jadi pada saat ada perbaikan lebih dekat dan akses lebih mudah karena tidak terjebak daerah perkotaan yang padat di surabaya, disamping itu daerah jawa barat dan jakarta adalah daerah bisnis nasional yg kita tahu 60% ada d daerah tsb, bisa jadi mewaspadai adanya antek/teliksandi asing yang ingin tahu bagaimana perkembangan industri strategis, karena industri strategis tidak mungkin 100% memberi informasi 100%, kemudian untuk latihan tempur sangat banyak d daerah tsb, dan dukungan logistik dan angkut pasukan lebih gampang, karena jalan tol dan kereta api sudah tersedia disamping rata2 penduduk tiap daerah kurang dr 500/m2, jadi tingkat mobilitas pasukan dengan dukungan pabrik dan akses yg masih belum padat sangat efisien drpd angkut sana sini, seperti uji coba roket pasti harus angkut material uji coba dr bandung ke lap uji tembak, seperti rocket rhan, karena lap tembak d bandung sangat kurang memenuhi jangkauan uji coba tembak,

  21.  

    MEMANG SUDAH SAATNYA KAMPUNG HALAMANKU MAJU!!!

 Leave a Reply