Jun 062012
 

Light Frigat SIgma 10513 Maroko

Apakah ini kategori berita sedih atau gembira, silahkan ditafsirkan masing-masing. Setelah tertunda-tunda selama 2 tahun, Departemen Pertahanan akhirnya memesan satu Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 ke perusahaan Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding. Kontrak ini ditandatangani di kantor Kemhan Jakarta, oleh Badan Sarana Pertahanan yang mewakili Kementerian Pertahanan.

“Disamping untuk tugas tempur, Kapal PKR 10514 diperlukan untuk memberikan deterrent effect terhadap pihak yang mencoba mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI”, ujar Kepala Baranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Menurut pemerintah, Pembangunan Kapal PKR 10514 akan melibatkan joint production dengan PT. PAL Indonesia, berupa Transfer of Technology (ToT) dalam konstruksi desain dan pembangunan Kapal.

Namun seperti apa bentuk ToT tersebut, belum diketahui secara jelas. Sebelumnya PT PAL pernah menolak transfer of teknologi yang ditawarkan Damen Schelde, karena hanya meliputi konstruksi desain. Menurut PT PAL, mereka telah menguasai konstruksi desain kapal sekelas PKR. Teknologi yang dibutuhkan justru instalisasi sistem dan persenjataan kapal.

Terlepas dari pro-kontra tersebut, puluhan Insinyur PT PAL akan bertolak ke Belanda, untuk melakukan proses alih teknologi.

Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko


Kapal PKR 10514 akan dibangun di tiga tempat: PT. PAL Indonesia, Vlisingen dan Galatz. Terakhir Kapal PKR akan dirakit di PT.PAL Indonesia lalu diserahterimakan pada tahun 2017.

Pengadaan Kapal PKR 10514 ini menggunakan anggaran kredit eksport sebesar 220 juta dolar AS.

Spesikasi Kapal PKR 10514
Harga 1 Unit: USD 220 juta dengan waktu penyelesaian 4 tahun lebih.
Panjang 105 x lebar 14 meter dengan bobot 2335 ton.
Speed: Max/Cruise/Economic 28/18/14 knot.
Range at 14/18 knot 5000 NM, Endurance 20 hari, Sea Keeping Sea State 5
Kru: 120 orang, Helli Pad 10 ton.
Persenjataan: Anti serangan Udara, Anti serangan Kapal Selam dan Anti serangan Kapal Atas Air.

Sejarah Sigma
Sebenarnya, kerjasama pembangunan PKR Sigma 10514 dengan Damen Schelde sudah ditandatangani sejak tahun 2010 di Surabaya Jawa Timur. Namun setelah itu tidak ada perkembangannya karena perbedaan pendapat dengan PT PAl soal ToT.

Hal ini mengingatkan kita dengan pemesanan 4 korvet Sigma ke Damen Schelde Naval Shipbuilding. Awalnya disepakati 2 korvet akan dibangun di Belanda dan 2 di Indonesia. Namun kenyataannya ke 4 korvet dibangun di Belanda. Setelah 4 korvet dikirim ke Indonesia, ahli ahli kapal Indonesia tetap saja tidak bisa membangun korvet seperti yang dicita-citakan dengan korvet Nasional. Selama pembangunan 4 Korvet tersebut, tidak ada transfer teknologi ke Indonesia.

Kini Indonesia memesan lagi satu Light Frigate Sigma 10514 dan dijanjikan ada transfer teknologi.

Transfer teknologi seperti apa yang anda harapkan dari pemesanan satu kapal perang ? Saat memesan 4 korvet dengan nilai sekitar 600 juta USD saja, Damen Schelde Naval Shipbuilding. tidak memberikan alih teknologi.

Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko


Pemerintah Indonesia tampaknya sudah cinta kering dengan Perusahaan Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Mengapa disebut cinta kering ?. Karena biasanya orang yang sudah jatuh cinta, tetap suka walau “dikerjai/diakali” oleh pasangannya. Mirip dengan kasus pemesanan 4 korvet Sigma dan 1 Light Frigat kepada Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda.

Sekarang Indonesia telah memesan satu Light Frigat ke Belanda. Bagaimana dengan nasib Light Frigat kedua, ketiga dan seterusnya ? Apakah akan dibangun di PT PAL Indonesia, atau tetap “Keukeuh” dibangun di Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda.(Jkgr).

  19 Responses to “PKR Contest: Winner Goes to Damen Schelde”

  1.  

    ada yang punya info yang membedakan sigma 10513 an sigma 10514?

    •  

      10513 singkatan panjang 105m Dan Lebar 13m
      10514 panjang sama Lebar 14m.

      Yg penting tot sistim senjatanya. Kalo Udah Kuasai ….yg Sudan Ada dapat diubah sesuai kebutuhan plus untuk future use

  2.  

    Mengenaskan tentang kontrak pembuatan PKR Sigma 10514 oleh Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda:

    “Ternyata rincian detail kontrak yang dilakukan pemerintah banyak dipertanyakan. Kapal itu sekarang dipastikan akan dibangun di galangan kapal Belanda, dan dari nilai kontrak seharga 220 juta USD, Indonesia (PT PAL) hanya mendapat pekerjaan sebesar 7 juta USD saja (kurang dari 3%), sementara untuk TOT (transfer of technology) Indonesia malah harus membayar lagi sebesar 1,5 juta USD, belum lagi harus membayar untuk sistem senjata dan pelurunya,” ujar Tubagus kepada VIVAnews, Rabu 6 Juni 2012.

    •  

      itu kan omongannya pak tubagus, yang ga tau apa2 dalemannya (alias berusaha ingin tau dalemannya) :)). yang jelas pemerintah itu tidak bodoh dan pendek pemikirannya, mereka khan yang tau blue printnya dan satu lagi mereka pasti mereka tidak akan mengkhianati negara dan bangsanya

  3.  

    sempak emang tuh kompeni…..!!

  4.  

    kan yang penting dapet tot kapal sigma 10514

  5.  

    Menhan soal Fregat kelas La Fayette:

    Jakarta, Kompas – Setelah merasa mapan dalam industri pertahanan untuk matra darat, Indonesia pun merancang industri pertahanan bagi matra laut. Meski belum resmi diluncurkan, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, Indonesia akan membangun kapal selam sendiri. Terlebih setelah PT PAL Surabaya mengembangkan kapal perang sejenis fregat kelas La Fayette.

    ”Kami sebenarnya cukup bisa membangun sendiri industri pertahanan untuk Angkatan Laut. Sekarang Indonesia sudah membangun kapal perang modern sejenis fregat kelas La Fayette seperti yang dimiliki Singapura dan akan selesai dalam waktu empat tahun oleh PT PAL,” ujar Purnomo di sela-sela seminar ”Pertahanan Nasional Indonesia dalam Perspektif Sosial-Budaya” di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Rabu (25/8).

    JakartaGreater:
    http://jakartagreater.com/2012/04/hilang-fregat-sigma-datang-la-fayette/

    ”Sekarang Indonesia sudah membangun kapal perang modern sejenis fregat kelas La Fayette seperti yang dimiliki Singapura dan akan selesai dalam waktu empat tahun oleh PT PAL”, ujar Menteri Pertahanan 03/2012.

  6.  

    Waduhh, …..

    Kenapa agaknya Malaysia menolak dari membeli PKR SIGMA dan memilih GOWIND FFG?

    Denbravo, congrats, I find your postings to be rational, measured and factual. A rare quality indeed.

  7.  

    Fregate La Fayette itu senjatanya apa saja sih?

  8.  

    Jakarta Greater salah yak, Sigma PKR ini udah kelas Destroyer sementara Sigma TNI AL udah punya kelas korvet. Jadi kelasnya beda Bung Jakarta Greater. Gua ada feeling sampe sekarang belum transfer teknologi bukan Schelde yg gak mau tapi mungkin dari sisi PT PAL nya sendiri yang gak siap and dikasih transfer teknologi bikin hull karna PT PAL baru mampunya segitu. Kalo iya ngapain pemerintah terus pesen ke Schelde? .

    •  

      Sigma 10514 yang dipesan Indonesia, kategori korvet/ light frigate. 105×14 m
      KRI Karel Satsuitubun/ Van Speijk kategori frigate bobot 2200-2800 ton, dgn panjang 113x13m.

      Frigate sungguhan: Krivak class punya Rusia, panjang 123 x14 m dgn bobot 3300-3600 ton.

      Destroyer antara lain: Sovremenny atau Marshal Shaposhnikov punya Rusia. Panjang 160 x 19m. Bobot 6200-8000ton. Atau USS Arleigh Burke 155×20 m, bobot 9000-an ton.

      Kita pernah punya yang lebih besar dari itu semua: Kruiser KRI Irian/ Sverdlov class Rusia. 210×22 m dgn bobot 16.000 ton. Tapi sekarang telah hilang entah kemana. Kabarnya besinya dipotong-potong dan “dikiloin”. Memasuki jaman Orde Baru, alutsista dari Uni Soviet diterlantarkan. Sayang.

  9.  

    Keren

 Leave a Reply