PMF Irak Klaim Cegah Kegiatan Mencurigakan Militer AS

Pasukan Mobilisisai Populer (PMF) Syiah di Irak © Reuters via Sputnik

JakartaGreater.com – Ini merupakan peristiwa yang ketiga kalinya dimana sebuah organisasi milisi berhasil mencegah misi “mencurigakan” militer Amerika Serikat di Republik Irak, kata para pakar militer, seperti dilansir dari laman Sputnik pada hari Kamis.

Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak telah mengklaim mereka menghentikan militer AS dari melakukan misi pengintaian “mencurigakan” di perbatasan Suriah, menurut laporan media Asharq Al-Awsat.

Pasukan AS dilaporkan bertindak mencurigakan pada daerah di bawah kendali PMF, tulis laporan itu.

“Provokasi militer AS telah mencapai tingkatan tertentu untuk mengungkapkan intelijen rahasia kami di perbatasan”, kata seorang komandan operasi lapangan PMF wilayah Anbar Qassem Mosleh. “Komando [wilayah] Anbar menghentikan pasukan melanjutkan pengintaian mereka, memaksa mereka untuk kembali ke markasnya”. “Pengintaian semacam itu dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan nasional Irak”, katanya.

Menurut Mosleh, pasukan AS ini “menggali informasi penting” dari pasukan keamanan yang dikerahkan di sepanjang perbatasan. Komandan milisi mengatakan para prajurit AS tersebut bertanya tentang jumlah pasukan Irak di berbagai titik perbatasan, beserta jenis senjata dan amunisi yang mereka miliki.

Militer AS belum mengomentari klaim PMF tersebut

Tareq al-Aasal, wakil kepala PMF wilayah Anbar, tidak mengkonfirmasi pernyataan Mosleh, mengatakan bahwa karena dia sekarang ini di al-Ramadi, dia tidak memiliki informasi yang cukup tentang hal itu.

Ahli militer Hashem al-Hashemi, mengatakan kepada Asharq Al-Awsat bahwa kejadian ini, ketiga kalinya PMF melarang pasukan Amerika dari melanjutkan misi pengintaian, dengan insiden pertama terjadi pada tahun 2016 dan yang kedua terjadi pada 2 minggu lalu.

Dia mengatakan bahwa PMF ini memperlakukan pasukan AS dengan cara yang sama seperti AS memperlakukan mereka, dimana tidak ada pihak yang diizinkan untuk mendekati bidang penyebaran satu sama lain, sebut media itu.

Menurut al-Hashemi, semua aktivitas militer AS di negara itu biasanya dilakukan dengan pengawasan pasukan Irak.

“Jarang bagi mereka untuk bergerak tanpa pasukan resmi Irak”, terang Hashemi.

PMF adalah entitas pelindung resmi, terdiri dari hingga 40 kelompok militan yang bersatu di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri Irak. Pasukan tersebut dibentuk dalam upaya menyatukan para militan untuk mengusir Daesh keluar dari negara Irak.

PMF menentang pengerahan pasukan AS di Irak, dan para wakilnya di parlemen Irak secara teratur menyerukan pemerintah untuk menuntut penarikan mundur militer AS.

Sejak penarikan sebagian besar dari 100.000 kontingen militer AS dari Irak di tahun 2010, sekitar 5.000 tentara AS masih berada disana. Presiden AS sejauh ini mengumumkan tidak ada niat untuk membawa pulang prajurit yang tersisa kembali ke rumah.

Tinggalkan komentar