Feb 172014
 
Saab Gripen NG Swedia

Saab Gripen NG Swedia

Transfer of Technology (ToT) hanya bisa terjadi dengan jalan joint development dan/atau mendatangkan tenaga ahli dengan jumlah yang memadai. ToT โ€œ100%โ€ seperti yang ditawarkan Saab Swedia untuk pesawat tempur Gripen NG ย hakekatnya hanya karoseri. ToT karoseri ini tidak akan membikin kita bisa mengembangkan pesawat sendiri nantinya, namun paling banter hanya akan menambah lapangan pekerjaan. Dan penambahan pekerja pun nggak seberapa dibanding cost yang akan dikeluarkan, alias MUBAZIR.

ToT Gripen hanya akan menimbulkan bencana bagi kapasitas produksi untuk IFX. Pemerintah tidak mungkin invest membuat 2 jalur produksi untuk IFX dan Gripen. Invest 2 jenis man power juga mahal yang hanya akan menciptakan jebakan over supply man power di masa mendatang karena produksi kedua jenis pesawat ini hanya sedikit. Jangankan 2 jalur produksi, saya belum yakin apakah IFX akan dirakit akhir di PT DI Bandung, mengingat panjang landasan udara Husein sepertinya pas-pasan untuk fighter sekelas IFX (need correction).

Dengan budget yang kecil, pengadaan pesawat yang cukup berwarna hanya akan meningkatkan biaya perawatan. AS mulai meninggalkan sekian jenis pesawat yg sangat berwarna menjadi pesawat tunggal yang bisa menjawab banyak tuntutan dengan melahirkan keluarga F-35.

Gripen kemampuannya rata-rata, kelasnya setara FA-50 Korea. Lebih tepat di kelas 12 ton pemerintah pakai terus keluarga T-50 dan FA-50 Golden Eagle. Di kelas 20-an ton pakai F-16 kemudian beralih ke IFX. Kelas 35 ton-an pakai keluarga Flanker/Fullback. ToT dengan joint development di kelas 20-an ton (KFX/IFX) sangat strategis, karena berada di tengah-tengah antara kelas 12-an ton dengan 30-an ton, sehingga future RI punya fleksibilitas untuk mengembangkan fighter sendiri di kelas 12-an ton dan 30-an ton.

Penggunaan Eurofighter Typhoon, meskipun ini pesawat bagus tapi mahal, juga tidak banyak manfaatnya. Typhoon hanya bermanfaat jika RI punya gesekan dalam hubungan dengan China. Inggris cs tentu saja tidak akan support jika Typhoon dipakai untuk menyerang sekutunya: Australia, Singapore, Malaysia, dann lain-lainl. Sekali dua kali Typhoon bisa gelut dengan F-35 tetangga, tapi tidak dijamin untuk perang berkepanjangan sekian ronde. Typhoon hanya akan menyandera Indonesia, agar budget militer besar hanya untuk barang pajangan.

Gripen NG

Gripen NG

Tawaran ToT Gripen hanya omomg kosong, sebagai pemanis agar pesawatnya laku. Skema ini tidak jelek, tapi cocoknya untuk negara yang industri pesawatnya masih pemula. Contohnya Malaysia, biar menyerap tenaga kerja. Bagi RI fase ToT semacam ini sudah lewat. Real ToT pesawat untuk makin mandiri buat pesawat adalah di joint development di IFX/KFX. Tahun 80-an RI sudah ToT membuat heli BO105, Super Puma, hingga torpedo SUT, termasuk airframe nya dibubut di Bandung. Dan sekarang tetap saja kita kesulitan mengembangkan sendiri benda-benda ini, karena ToT memang tidak mungkin mentransfer kemampuan agar bisa mengembangkan sendiri.

Gripen adalah light fighter berteknologi jadul (lama) yang tidak bakal dipakai untuk future medium weight stealth fighter IFX/KFX. Korea kebingungan dengan teknologi ToT jadul ini? Lah pesawat sekelasnya yang lebih baru, FA-50, isinya apa? Kalau tidak dipakai di KFX IFX, buat apa bela-belain keluar miliaran US$ utk ToT Gripen ini? Misal benar mengajarkan engineer sampai mandiri, Indonesia mau pakai di mana? Belum keluar maintenance cost sepanjang masa hanya untuk light fighter yang kelasnya duplikasi dengan Golden Eagle. Jangan KEMARUK, tapi lihat implikasi cost dan benefit untuk kemandirian.

Bagi Swedia, ini terakhir kesempatan obral ToT Gripen ke RI. Saat ini resource RI baik itu cost dan engineer terserap ke IFX. Sekalinya pesawat IFX operasional, RI tiba tiba akan langsung naik kelas di kancah industri pesawat tempur canggih dunia. Teknologi Gripen pun terlibas dan tinggal menjadi masa lalu. RI kalau kemudian akan mengembangkan pesawat baru minimal berbasis IFX, sementara Gripen hanya sekedar literatur pustaka. Dengan IFX/KFX, RI dan Korsel akan mengisi segment pasar yg saat ini juga diincar Swedia. Apa kata dunia, RI sudah bisa buat IFX yang canggih kok masih ToT karoseri Gripen yang lebih light dan jadul. Bad image for RI, but good image for Sweden.

Tahukah anda, tak lama N250 berhasil first flight 1995an kemudian saham Fokker anjlok hingga pabrik ini tutup 1997-an?

Kini begitu PT DI akan menyelesaikan N219, Airbus memindahkan seluruh produksi NC212 nya ke PT DI. Perlu disadari, N219 pesaing langsung 212 dan Airbus tidak ingin kehilangan pasar di Asia Pasifik. Bagi RI, keuntungan dari lisensi (ToT) 212 kecil, tapi cukup penting di masa sulit sekarang. Kalau mau untung besar ya develop pesawat sendiri, bukan sekedar karoseri ToT. Good luck N219, IFX, New N250 dan sebagainya. (written by WH / 17/02/2014).

Bagikan :

  76 Responses to “Polemik ToT Saab Gripen NG”

  1.  

    ulasan mantap bung…kalo menurut saya ketika belum mampu membuat pesawat yang canggih beli pun juga tidak apa,,yang kita butuh sebenarnya payung udara yang bukan saja dari pesawat tetapi juga dari rudal anti peswat(SAM)..kita lihat iran dan korea utara,,tidak pernah terdengar gaungan pesawat” meraka,,namun cukup membuat negara sekutu bergetar dengan gaungan rudal mereka yang kabarnya mamopu merontokkan pesawat super canggih sekutu..oiya kalo menurut warjager,,SAM medium range bagusnya untuk operasional AU atau AD..?

    •  

      CC Banyak ragam pesawat tempur bikin biaya perawatan tinggi tidak efisien.

      CC Kalau mau TOT ya tiru India bikin Shukoi Pak-Fa Rusia yang sydah teknologi stealth.
      CC itu diatas kelasnya daripada bintang pada Paris Airshow 2013 yaito =Sukhoi 35.

      CC Efek gentar Shukoi 35 dan Pak-fa jaoh lebih gede.

      Cc untuk kelas ringan KFX /IFX dikembangkan.
      CC Kalau sudah produksi tapi kita mendua dengan Saab Jas Grippen ..??bagaimana memasarkan KFX/IFX keluar Indonesia??

      CC ulah negara barat tidak ingin Indonesia maju.
      CC dulu diembargo sekarang saat mulai berpaling ke Russia dan mau melangkah maju malah ditawari -F16 bekas – Hercules bekas – jualan Grippen bungkus TOT. ???

    •  

      1. Project kfx/ifx tidak akan segampang yg penulis jabarkan potesi project ini gagal sudah mulain keliatan, kalo juga nantinya pesawatnya selesai kemampuannya saya ragu sekali bisa lebih baik dari f16 yg sudah sangat terbukti.

  2.  

    kalau punya duit bisa jadi gini

    tahap 1
    tot karoseri dari SAAB, pembentukan industri jet awal, yah untungnya mungkin komponen f-16 & t-50 bisa diproduksi lokal
    tahap 2
    tot dari KFX, industri jet kita di upgrade sehingga semua pespur dibawah ifx bisa ditingkatkan setara ifx

    •  

      koreksi dikit, kalau memang seperti itu strateginya apa tidak lebih baik tahap 1 itu kita langsung saja kerjasama dengan KAI perbanyak lagi T-50i dengan program ToT mesinnya…jauh lebih efisien daripada ToT Gripen sedangkan basis mesin Jetnya berbeda dgn T-50i…

      lebih baik kita fokus dgn proyek IFX, pastikan selesai secepatnya lalu selanjutnya tinggal kita kembangkan sendiri mungkin IFX-2 dst. lebih jelas arah programnya daripada ToT Gripen…

      •  

        coba dicermati mesin t-50 itu pakai ge atau samsung techwin ? jika pakai ge otomatis beli ke paman sam.

        http://www.koreaaero.com/english/product/fixedwing_t-50.asp

      •  

        kalau saya, gripen dijadikan tot industri jet sedangkan ifx dijadikan standar output industri.
        untuk t-50 tot yang didapat itu d KFX, beda dengan SAAB
        andaikan beneran 100% tot-nya, basis mesin nggak jadi masalah mau itu t-50/f-16, engine standar gripen bisa di sesuaikan dengan pespur gen 4 (t-50/f-16) lainnya, kalau industri jetnya udah jadi, enginer kita bisa pasti bisa memproduksi dan menyesuaikan dengan spek pespur gen 4 yang diinginkan

        tot dari SAAB lebih seperti pemanasan sebelum memasuki standar KFX yang waw

  3.  

    memang benar kata si penulis itu… segala system jet gripen dari perusahaan inggris, us, itali dan sweden mampukah ia beri teknologi pada indonesia ini? ini persolan saya.. lebih baik indonesia pilih perancis dari jet rafeal mungkin perusahaan safran dan thales akan menbantu kamu ini untuk bina jet kfx …indonesia bukanlah seperti brazil dan africa selatan mahir system elekronik pesawat jenis jet system, indonesia memerlukan rekan yang mahir untuk bina persawat kfx itu sama korea selatan, kebanyakan bina indonesia adalah pesawat turboprop tapi bukan jenis jet

  4.  

    Sebenarnya tawaran ToT Gripen SAAB sangat patut dipertimbangkan mengingat secara teknologi sudah cukup canggih & Indonesia belum mempunyai kapabilitas dalam membuat/mengembangkan pesawat tempur. Namun poin utamanya bukan masalah ToT karena Indonesia sudah memiliki program pengembangan pespur definitiv. Melainkan pemenuhan kebutuhan pespur yang aman dari embargo, murah, handal serta kompetitif. Demikian karena melalui ToT tersebut Indonesia menjadi memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan/reparasi sendiri + ilmu dalam pembuatan pespur gen 4+, dan itu menjadi nilai plus yang sangat penting. Namun yang menjadi permasalahan dalam ToT SAAB adalah indikasi ToT tersebut tidak termasuk mesin jet pesawat, sebab mesin Gripen NG menggunakan mesin F414 buatan amerika. Pada akhirnya ToT tersebut akan menjadi mubadzir, sebab mesin jet adalah unsur terpenting dari pespur yang masih sangat sulit dikuasai oleh Indonesia. Dan kembali lagi ke awal, Gripen menjadi tidak lagi 100% aman dari embargo, tanpa mesin tiada burung besi yang dapat terbang.

    Dan membicarakan perbandingan antara Gripen NG dengan FA-50 itu sangat tidak relevan & kesannya terlalu menyepelekan Gripen – sudah sangat beda kelas. Secara FA-50 sejatinya adalah combat trainer = bukan penempur murni, dalam hal avionik, kemampuan tempur, manuverability, daya jelajah & kecepatan kalah jauh dengan Gripen, dalam hal jelajah & kemampuan bantuan serang darat FA-50 bahkan kalah dari Super Tucano yang notabene pespur propeler. Bahkan jika dibandingkan dengan JF-17 Thunder -(yg sejatinya adalah pespur MIG yg batal diproduksi karena desainnya dinilai tidak mumpuni/tidak memenuhi standar operasional Rusia lalu desainnya dijual ke Cina)- sekalipun Gripen masih lebih unggul, JF-17 bahkan baru akan memasang radar sekelas AESA (hasil pengembangan dalam negeri Pakistan) pada block II yang rencananya masih akan dikembangkan.

    Tapi, meskipun Gripen bisa dikatakan sudah sangat layak sebagai pengganti F-5. Tetap saja mengadopsi Gripen dapat menjadi langkah blunder bagi Indonesia secara jangka panjang. Yaitu pada kedepannya mengakibatkan TNI menjadi mengoperasikan terlalu banyak jenis pesawat yang pada akhirnya berimbas pada manajemen tempur yang menjaadi semakin rumit. Pada situasi konflik nyata, keadaan ini menjadi sangat tidak menguntungkan sebab setiap alat tempur membutuhkan perlakuan yang spesifik. Seperti yang dicontohkan oleh Perancis pada masa PDII, Perancis mengoperasikan beraneka macam alat tempur, sekilas tampak gagah dan keren tapi ketika perang meletus semuanya menjadi amburadul. Sebab setiap alat membutuhkan onderdil spesifik & cara pengoperasian yang berbeda sehingga manajemen operasional tempur menjadi sangat tidak ringkas dan tidak praktis. Maka ketika Jerman melancarkan Blietzkrieg, pontang pantinglah Perancis sehingga dapat digulung jerman hanya dalam 3 hari. Nampaknya negara2 barat & Rusia berkaca pada pengalaman Perancis itu sehingga mereka merampingkan variasi2 dalam alat2 tempurnya, demi tercapainya manajemen tempur yang efektif dan efisien yang pada akhirnya akan menunjang kemampuan durasi/ketahanan tempur.

    Apa yang saya ulas diatas mohon dilihat sebatas sharing, bukan untuk memancing perdebatan. Mengenai keakurasian info silahkan gugling masing2, jangan cuma cari di lokal tapi yang interlokal juga biar bertambah wawasan. Salam.

    •  

      Iya, ToT dari Saab hanya mubazir. Kemungkinan penawaran ToT ini bermotif politis. US dan sekutunya ingin menjebak indonesia agar anggaran yg ada tersedot habis buat program ini sehingga kemungkinan indonesia beli SU 35 yg bisa ngerontokin F 35 yg merupakan andalan sekutu US menjadi semakin kecil.

      Tapi perlu diwaspadai juga, kalaupun indonesia tidak jadi ambil program ToT Saab, meskipun indonesia sudah punya program joint production IFX dengan Korsel, sekutu2 US (termasuk Korsel) pastinya tidak rela indonesia punya kemampuan bikin pespur sendiri. Sehingga selain program IFX ini terus dijalani, indonesia mesti mengembangkan sendiri juga IFX diluar program joint production dengan Korsel.

      Artinya kalau nantinya ternyata sekutu2 US berusaha menghentikan atau menghalang2i program IFX, indonesia bisa nerusin sendiri, kalau perlu “nyolong” teknologi dari negara lain buat ngembanginnya.

  5.  

    Menurut Pendapat Saya sbg Orang Awam…
    mungkin TOT gripen untuk ngembangin pesawat srikandi Pt. DI / membuat varian lain gripen yg pola kerja samanya mirip pengembangan pesawat cn235/295 antara PT DI dengan Airbus..

    yaa.. mungkin saja lebih canggih dari aerofighter typhoon atau rafale… mengingat kualitas SDM Pt DI yg sudah diakui dunia…

    kita lihat aja nanti… segala keputusan ada pada pemerintah…

    yang penting kita harus optimis …. majuu indonesiaa..

    maaf … kalo saya ngawuur… he..he

  6.  

    TNI memang hrs fokus dan spesialisai utk beberapa jenis pesawat saja. Utk memaintenance banyak jenis pesawat sgt riskan. Sebaliknya jika TNI sdh spesialiasi pd bbrp jenis peswat saja spt misalnya sukhoi, maka baik penerbang, teknisi, spare part, simulator, dan infrastruktur lainnya tdk terbagi2. TOT grippen kalo cuma karoseri saja bukan pada mesin jet atau rudalnya sama saja bohong, tdk ada peningkatan. Lbh baik kita mengejar TOT dari sukhoi bgmn pmrth dlm hal ini TNI bisa meyakinkan dan mengajak mitranya dari rusia utk berbagi ilmu agar bisa membantu rusia jg dlm menjaga kepentingan rusia di asia, pasifik, dan hindia.

  7.  

    Istilah lebih pas nya ..
    Swedia hanya ingin meminjam tangan bangsa indonesia supaya laku di pasaran,gripen NG yg kurang laku di pasaran dan kurang diminati oleh negara2 disqmping harga dan kemampuanya yg setara dg china bahkan bisa lebihbbaik dari china baik harga dan kualitasnya, meskipun bukan sama2 memakai produk local nya.

    Lihat indonesia baru bisa buat anoa,ss pindad,LPD, cn235,295, sudah banyak yg nglirik itu karena skill org indonesia yg lebih memaadai itu terbukti dr juara umum AASM,DLL,

  8.  

    setuju ama bung Patech
    Kita berasal dari leluhur yang besar(kejayaan nusantara)
    di saat leluhur kita melintasi samudra biru.leluhur briton masih loncat2 di pohon memakai cat biru
    tetapi semua berubah semenjak negara api menyerang ๐Ÿ˜€ (you know lah)

  9.  

    Koq bnyk yg komen tot mesin ya.? Aneh-aneh ajah. Bikin mesin jet jauh lbh rumit dari bikin pesawat itu sendiri. Jadi ga usah berharap klo pun tot sukhoi, bakal bisa bikin mesin jet sukhoi.

  10.  

    Koq bnyk yg komen tot mesin ya.? Aneh-aneh ajah. Bikin mesin jet jauh lbh rumit dari bikin pesawat itu sendiri. Jadi ga usah berharap klo pun tot sukhoi, bakal bisa bikin mesin jet sukhoi..

    •  

      ๐Ÿ˜€ ya. China sudah bisa bikin berbagai mesin. tapi untuk mesin pesawat tempur walau sudah plus nyolong teknologi timur Russia & barat tetap masih harus menggelontorkan dana $15bn usd untuk R&D mesin saja

      sementara untuk program IFX kita “hanya” mengeluarkan dana $1.5bn usd untuk program pesawat $8bn usd, itu dikarenakan mesin menggunakan pihak ke 3. walau fuselage atau sebagian elektronik sudah mampu buat sendiri tapi mesin diembargo ya efeknya sama saja, grounded.

      Harapan harus realistis, duit ga bohong

      •  

        bahkan mtbf mesin ex china pun baru mendekati 50% dari mesin ori rusia. perihal mesin bisa diterapkan multi sourcing untuk mesin yang sejenis. selama kita punya kemampuan re-design seharusnya tidak ada masalah.

      •  

        bung @aluguro, untuk saya pribadi sampai saat ini sepertinya perogran IFX adalah program “belajar”, bukan program pemenuhan kebutuhan. hasilnya tidak bisa dilihat seketika melainkan 10-20 tahun ke depan, jumlahnya juga tidak signifikan. 100% mandiri rasanya kecil kemungkinan dijaman sekarang apalagi masa depan, pasti selalu ada komponen2 dari luar yang bisa diembargo. Untuk memperkecil kemungkinan itu ada beberapa jalan yang bisa dipertimbangkan. Misalnya memilih sumber teknologi tersebut (say, Russia dan China), serta faktor politik/ekonomi

        untuk memenuhi kebutuhan kita masih harus tetap butuh produk luar. tapi walau bagaimanapun program IFX harus terus berlanjut, banyak manfaat yang bisa didapat walau dari $1.5bn usd ๐Ÿ™‚ tapi hendaknya kita tetap realistis memandang proyek ini. Saya yakin pemerintah juga punya Plan B dan C

        sebagai perbandingan, belum lama ini Singapura mengeluarkan dana $2.4bn usd hanya untuk upgrade saja

        •  

          saya hanya mengingatkan bahwa janganlah terlalu berharap berlebihan dari kfx. tempatkan pada tempat yang sewajarnya. avionik dan radar di kfx saja belum bisa dibikin oleh sk. apalagi sampai mission system dan detail2 yang lain. di kfx setidaknya kita punya pengalaman dari nol filosofi dan design pespur. bermodal itu bisa dilakukan penyesuaian untuk desain dengan skema multi sourcing. hanya saja apakah produsen avionik dan radar dan hal2 lain mau berbagi source codenya ? itu pertanyaan besar di kita ? perkembangan pespur semakin hari lebih banyak ditentukan oleh desain dan avionik (electronis & software)nya. mesin ya masih tetap sama paling banter ber tvc. mau tot mesin ? resiko lebih besar dengan dana jauh lebih besar dibanding pespurnya sendiri. lebih baik bersikap realitis.

          •  

            Betul bung, harus realistis dgn proyek IFX. jangan sudah tau modal kita hanya 20% dari total 8bn usd tapi marah2 dan memaki-maki pemerintah ๐Ÿ˜€

            saya rasa untuk sumber mesin IFX sebaiknya melirik Russia, sumber lain semuanya dalam kantung US. Pratt&Whitey bahkan membuka kantor di Singapura yang ga punya industri pesawat terbang, itu pelecehan bagi Industri pesawat terbang kita.

  11.  

    adakah produsen pespur yg hanya menjual mesinnya aja? andainya ada kita bs merakit pespur dan teknologinya: radar,senjata kita sesuaikan dg kebutuhan. tolak gripen, beli su35 dan s300 serta tetap jalan ifx.

  12.  

    @ Bung WH mohon sebelumnya dijelaskan dahulu sharingnya memang tawaran TOT dari saab itu apa yang sudah beredar informasinya ? , juga detail spesifikasi tehnis antara gripen ng dengan pesawat pembadingnya untuk kebutuhan pesawat ini sebagai workhorse . supaya para warjager disini juga faham sehingga bisa mengulas lebih dalam tentang kelebihan dan kekurangannya.
    Terima Kasih

  13.  

    Swedia harus belajar banyak bahasa kiasan ala Indonesia ….

    Jika ingin dibeli oleh Indonesia …. coba bahasanya diperhalus menjadi … :Kami menawarkan hibah Grippen NG berikut ToT 100% kepada Indonesia. Tak ada cost lain selain mengganti beaya yang kami keluarkan untuk mengembangkan dan membuat pesawat tersebut untuk keperluan Indonesia”

    Saya yakin 1000% …. Pejabat-pejabat Indonesia pasti menerima tawaran tersebut tanpa pikir panjang lagi … apalagi jika “kick-backnya” cukup besar …. Hehehehehe

  14.  

    Setuju dgn bung WH, ToT ini akan menghabiskan sumberdaya kita. Masalahnya, (1) Kapan IFX siap terbang? Tampaknya masih terlalu lama dan utk mengisi kekosongan, Gripen adalah pilihan yg paling realistis, beli saja pesawatnya saja dlm jumlah minimal tanpa ToT. (2) Paket yg ditawarkan cukup menarik mencakup rudal jelajah stealh Taurus dgn jangkauan lebih dari 500 km (bandingkan dgn Brahmos: max 300 km) dan ‘Gripen Solution’ (UAV dan ‘pesawat radar’ AEW&C Erieye). Skrg mereka mulai mengembangkan ini: http://breakingdefense.com/2013/07/as-europe-scrambles-to-buy-uavs-wheres-the-pilot-in-that-gripen/

  15.  

    hanya opini orang awam. penawaran gripen dengan tot 100% adalah salah satu strategi jitu guna meningkatkan kapasitas produksi pespur swedia. setidaknya mereka akan lebih memusatkan perhatian mereka ke RnD buat persiapan gen 5 bahkan unmanned gripen. penjualan partai besar akan memuluskan jalan untuk itu. mungkin untuk tujuan itulah mau berbagi resep dengan pelanggannya. karena pelanggan tersebut akan berusaha ditarik menjadi mitra dalam pengembangannya. sedangkan bagi indonesia, mendapat keuntungan yang tidak sedikit. misalnya integrasi system trimatra (sing saja perlu bertahun-tahun untuk mewujudkannya dengan dana yang besar), konsep mission system yang mungkin bisa diterapkan dalam pengembangan aew&c, radome dan radar ( bisa swasembada radar). saya sendiri berkeyakinan, sdm kita jika sudah “icip2” teknologi tinggi pasti akan bisa mengejar ketertinggalan dengan barat. Dan ada satu lagi yang menarik adalah kemungkinan lintas platform persenjataan yang kemungkinan tidak bisa kita dapatkan di kfx. apakah begitu kfx berhasil, otomatis ifx bisa meluncurkan rudal ex rusia ? jika tidak benarlah strategi barat, berilah indonesia pesawat terbaik tetapi lengkapi missile-nya dengan kelas ecek2. coba tengok kasus dsme 209, hampir semua system yang dipakai kelas wahid tetapi persenjataannya hanya kelas torpedo walaupun memungkinkan diisi sub harpoon maupun exocet.

    •  

      Benar bung aluguro. sekarang ini kita msh kekurangan pespur medium jg berat. kalau membeli flanker dlm jumlah besar boleh2 aja, tp jg dipikiri biaya operasional dan maintenancenya yg jg kelewat besar utk kantong kita. jg sangat riskan jk produk pespur hny dari satu negara produsen ntah itu blok timur mwpn barat. kalau menurut saya kita blh borong flanker tp tdk ada salahnya utk mengisi kekosongan pespur medium memilih gripen yg murah di operasionalnya. jd flanker utk pemukul lapis ke tiga dan gripen sebagai patroli dan jg penyerang lapis kedua. dari pada kita ambil hibah zombie gurun us yg jam terbangnya jg cuma 200 jam lg dan sangat besar kemungkinannya utuk diremote meledak klw kita macem2 dgn mrk. mendingan msh embargo msh bisa kanibal sucad drpd di remote hancur.

      •  

        waktu kita hanya sedikit bung pedro, hanya enam tahun sebelum china lebih agresif lagi dan oz cs lebih menekan lagi karena memaksa kita berpihak penuh ke mereka. target china 2020 taiwan bergabung dengan mainland dengan sukarela seperti hongkong. kabarnya rakyat taiwan tidak ada keberatan hanya di army-nya saja yang belum setuju. jika flashpoint muncul di tahun 2020 aset kita apa ? kemungkinan 1sq su-35, 1sq su27/30, 36sq f-16 (quality ?). apakah siap menghadang fpda ? apalagi china ? apakah kita hanya berandai-andai dengan keberhasilan kfx yang baru maspro >2020 ? prioritaskan alutsista yang modern , irit dan murah (sebagian diproduksi di indonesia baik suku cadang maupun assembly).

  16.  

    Sangat setuju dngan ulasan bung. WH

  17.  

    udah lanjutin aja kemampuan buat pesawat IFX/KFX Pak Pur. nda usah tergoda ama Gripen pesawat itu rawan embargo

  18.  

    Selamat bung Diego, beberapa bulan ini, banyak nongol muke-muke, eh maksudnya account baru bermunculan. Berarti lapaknya laris manis tanjung kimpoel. Moga makin berkembang neh webnya. Tapi jangan trus dijejelin sponsor yang bikin heboh yah, cukuplah jadi ajang promo sales-sales alutsista. Kalo diluar itu ya jangan masuk sini.

    Ngemeng-ngemeng muke baru disini gak ada tahap opspek dulu yah? he…he….

    •  

      @maling jemuran : ospek atau makrab bung :)…saya cuma memperhatikan dari pojokan saja koq, mumpung masih nubie

    •  

      Siap Bung @MJ. Tidak ada promo di sini kecuali yang google adsense itu. Ya itu itu saja, untuk biaya sewa server. Kadang ada yang posting iklan/promo, tapi ketika saya tahu, langsung saya hapus.

      Gak ada plonco-plonco-an lah. Sama rasa, sama rata ๐Ÿ˜€

  19.  

    Benar bung aluguro. sekarang ini kita msh kekurangan pespur medium jg berat. kalau membeli flanker dlm jumlah besar boleh2 aja, tp jg dipikiri biaya operasional dan maintenancenya yg jg kelewat besar utk kantong kita. jg sangat riskan jk produk pespur hny dari satu negara produsen ntah itu blok timur mwpn barat. kalau menurut saya kita blh borong flanker tp tdk ada salahnya utk mengisi kekosongan pespur medium memilih gripen yg murah di operasionalnya. jd flanker utk pemukul lapis ke tiga dan gripen sebagai patroli dan jg penyerang lapis kedua. dari pada kita ambil hibah zombie gurun us yg jam terbangnya jg cuma 200 jam lg dan sangat besar kemungkinannya utuk diremote meledak klw kita macem2 dgn mrk. mendingan msh embargo msh bisa kanibal sucad drpd di remote hancur.

  20.  

    Terima kasih bung diego, akhirnya ulasan bung WH dari artikel Pesawat Tempur dan Kesiapan Militer Indonesia dinaikkan mjd artikel tersendiri (apalagi bung WH kita kenal salah satu sesepuh di warjag ini dgn keahlian kedirgantaraan dan byk pengalaman di bidang tsb) , nah saya menunggu komentar dari bung Satrio soal polemik TOT saab gripen NG yg .
    Karena yg saya ketahui 2 sesepuh ini berbeda pendapat dan pandangan soal TOT saab gripen ini dgn versi masing2 tapi mereka berdua tetap mengedepan nasionalisme untuk kemajuan bangsa Indonesia.
    Monggo bung WH dan bung Satrio, silahkan…. Terima kasih.

  21.  

    inti utama menurut saya yg awam:
    kita harus tetap fokus pada pengadaan SU 35 BM (mutlak)
    .gripen ng blh hanya max 1 skuadron dg spek diatas rata2

  22.  

    1. apa dasar dari penulis melihat TOT hanya masalah karoseri?
    2. tidak salah pemerintah investasi di dua lini pespur, toh resikonya juga terbilang kecil, KFX seberapa besar sih resiko dengan modal $ 2B, dan gripen dengan mengakusisi unit plus TOT apa ruginya bagi negara dengan kuantitas pespur yang terbilang sangat minim?
    3. “Apa kata dunia, RI sudah bisa buat IFX yang canggih kok masih ToT karoseri Gripen yang lebih light dan jadul” hahaha, IFX udah jadi belum? kecanggihan IFX dimana sih? dalam waktu 15 tahun bukannya tidak mungkin gripen akan jadi lebih canggih?

  23.  

    CAKEP, ULASAN YANG MURNI TANPA HAYALAN, SALES GRIPEN KENA BATUNYA DISINI..HIHIHII..

  24.  

    Isu2 terkait dengan tawaran 100% ToT Gripen dari Swedia.

    Semua ToT terkait dengan intellectual property rights, baik untuk barang low technology maupun hi technology. Menurut WTO, intellectual property rights mencakup :
    o Copyright and related rights
    o Trademarks, including service marks
    o Geographical indications
    o Industrial designs
    o Patents
    o Layout-designs (topographies) of integrated circuits ie electronics/ avionics
    o Undisclosed information, including trade secrets

    Semua di atas terkait pula dengan negara asal/ negara maju : EU, UK, Rusia dan atau Amerika Utara.
    Pesawat tempur Gripen komponennya perkiraan bersumber dari beberapa negara: USA, Swedia, UK, Perancis, Jerman, Canada, dan Lainnya dengan presentasi 42%, 22%, 22%, 8%, 4% dan 2%. Pesawat ini adalah barang jadi/ sudah diproduksi.

    Kerjasam ToT KFX/IFX juga terkait dengan intellectual property rights. Bedanya adalah Indonesia dan Korsel mulai dari nol dengan partsipasi โ€˜sahamโ€™ Indonesia sebesar kalau tidak salah 20%. Dengan demikian diasumsikan bahwa isu/ masalah intellectual property rights antara Indonesia dan Korsel telah diselesaikan sepanjang menyangkut intellectual property rights.

    Silahkan ambil kesimpulan sendiri.

  25.  

    Saya kurang setuju dgn tulisan diatas.. mengharapkan ifx/kfx dgn duit yg cuma 1,5 bilion us. dan mengharapkan bisa mengganti kekosongan pespur medium secepatnya? bullshit.. sampai skrg ifx/kfx tarik ulur dan cuma mokaf nangkring di etalase.. waktu tinggal sdkt keadaan situasi regional dan nasional mulai genting. pemilu tinggal hiitungan hari.. kalau fpda dan pla pecah perang kita mau menjaga pake apa? pake sukhoy dgn pake layangan gelasan sambil nunggu ifx/kfx rampung..? yang realistis aja.. waktu sdh mendesak utk memenuhi kuantitas pespur RI.

    •  

      TIME IS MONEY
      KFX/IFX 2030….?

      http://www.youtube.com/watch?v=5vE08ANrOe0#t=50

      •  

        wahhh..TNI disorot lemah dalam kapasitas perawatan senjata2 barunya dan si narasumber juga mengatakan tenaga ahlinya kurang..jadi 2030 tak ada yg significant dalam kekuatan TNI selain alat2 baru tapi kurang mumpuni dalam merawatnya…. kira2 seperti itu yg saya tangkap dari video-nya.

        mungkin si pewawancara salah perhitungan juga, apakah dalam rentang waktu selama itu TNI tidak merekrut insinyur2 muda nan cerdas?…terus Australia juga punya sebanyak apa tenaga ahli dan sejauh mana kemampuan industry pertahanan mereka selain hanya mengoperasikan saja peralatannya??…

        satu yang diakui mereka tersirat kemampuan RI bangkit dan mandiri dalam industry persenjataan yang kiranya membuat gelisah jiran sebelah itu…

      •  

        Teman2 setelah lihat videonya mungkin lebih mudah tlg dibaca pdf-nya disini : https://www.aspi.org.au/publications/moving-beyond-ambitions-indonesias-military-modernisation/Strategy_Moving_beyond_ambitions.pdf

        Ini adalah kritik orang luar/asing terhadap modernisasi TNI. Kalau kita sendiri yg mengkritik biasanya dicemoohkan, tidak ditanggapi bisa2 malah dimaki dicap anti.

        Bacalah supaya tahu kelemahan kita dimana.

      •  

        Pakistan beli F16 A/B blok 15 eks Jordania ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ mungkin untuk mengawal JF17

        “Pakistanโ€™s Air Force has purchased one squadron of F-16 multi-role fighter aircraft from Jordan. The 13 F-16s were in service in the Royal Jordanian Air Force and will be inducted into the Pakistani air force next month. The deal has been finalized, approved by both countries, as well as the United States. The 13 aircraft are the same F-16 A/B Block-15 variant that Pakistanโ€™s Air Force already operates”

  26.  

    Klo semisal qt menjadi beli si grippen ini, qt dapat ToT bagaimana meng-integrasikan data di 3 matra. Hal ini sbenarnya yg dikejar.

  27.  

    he..he.. saya yakin, jika Pak Moel atau Pak Pur atau siapapun para pengambil kebijakan (bil khusus-Pertahanan) ngebaca nih diskusi pasti bingung, pro-kontra dengan argumen dan alasan yang beraneka. tapi saya juga yakin kalau para petinggi kita udah memikirkannya dengan perhitungan yang jelas lebih jauh kedepan dengan segala tetek-bengeknya. TNI pasti pingin punya mainan yang serba super dengan jumlah yang serba banyak juga, para petinggi pemerintahan juga pingin punya pengawal yang kuat sehingga rakyatnya bisa terjamin keamanannya dan tentu saja akan memudahkan dalam lobi-melobi (Daya tawar) dalam hubungan bernegara dan kita sebagai rakyat juga mempunyai keinginan yang sama to..??? jadi semua sudah klop bin sependapat, tinggal masalahnya kembali kepada kemampuan pendanaan negara. Salam NKRI

  28.  

    Saya setuju dengan bung Alugoroe, apa lagi hanya dengan budget seupil pengen bisa bikin pesawat tempur sendiri 100%, kayaknya nggak mungkin, bukan kayaknya lagi tapi jelas mustahil, untuk riset mesin jet saja china menggelontorkan duit sampai 150 triliun rupiah lebih. Bener kata bung alugoroe jangan terlalu berharap berlebihan dari kfx/ifx, tempatkan pada tempat yang sewajarnya, optimis boleh saja tapi kita juga harus realistis.

    •  

      Betul Bung OrAnG LoGiS, sepertinya ada salah persepsi tentang ToT.
      Misalnya utk KFX/IFX, nantinya prediksi saya kita akan sebatas ‘tukang jahit’ saja semacam NC-219.
      Airframe fuselage sayap dan ekor mungkin bisa dibuat kalau kita punya jig + machining tools.
      Sisanya diimpor dan dipasang: kokpit, radar, avionik, ECM, landing gear, servo, fuel tanks, dan engine. Mau produksi sendiri? Terbentur intellectual property rights dan economic of scale.
      Utk Gripen kasusnya sama.

  29.  

    Seberapa strategiskah pengadaan Typhoon + Grippen ?

    A.
    Air force : copas dari koment bung Nowyudon :

    1. Su-35SI Super Flanker : 64 = $5.1 bn USD
    2. JAS-39 Gripen NG: 44 = $4.8 bn USD
    3. EF Typhoon (refurbished+new): 36 = $3.5 bn USD
    4. Su-34 Fullback: 48 = $2.4 bn USD
    5. Erieye: 10 $1.3 bn USD
    Total AU = $ 17.1 bn USD dapet= 202 unit.

    B.
    Alokasi anggaran grippen + typhoon dialihkan ke keluarga flanker :
    1. Su-35 $79 = 64+60 = 124 Su-35
    2. Su-34 $50 = 48+70 = 118 Su-34
    3. Erieye tetap 10 unit
    Total AU = $ 17.1 bn USD dapet= 262 unit

    Kita asumsikan z data diatas itu valid dan akan terealisasi, tapi mari kita lihat sbb :

    – Jadual IFX masuk produksi 2020-2025 (Kemungkinan),
    – Kebutuhan Kuantitas Pespur,
    – Resiko kepemilikan Beragam Pespur
    – Manfaat lebih dari Pespur itu sendiri
    – Beban bea Maintenance jangka Panjang.
    – Kombinasi Pespur FPDA F-35,F-18,F-15,F-16

    Berdasarkan spec Su-35 yg lebih superior dibanding Typhoon dan grippen, sementara kebutuhan Workhorse sebtulnya masih tercukupi dgn kehadiran F-16 Hibah, F-5, Hawk 209 dll.

    Kalo pun harus berperang dgn China, lantas apa yg diharapkan dari keberadaan typhoon + grippen jika kalah dlm air superiority ?

    Kalo gue diberikan pilihan..baik kondisi Perang atau Damai, dgn dana anggaran yg sama maka gue pilih B, lebih gahar dan menghasilkan kuantitas yg lebih banya

    •  

      Pertahanan/ketahanan lewat hubungan politik dan ekonomi bung @donnie.

      ada berbagai cara pertahanan negara. Contoh Singapura. Pada awalnya mereka mengandalkan modernisasi militer sebagai konpensasi wilayahnya yang kecil. Namun merekapun sadar bahwa akhirnya sebesar apapun alikasi anggaran pertahanan mereka, tapi tetap saja negara2 dengan potensi ekonomi lebih besar seperti Malaysia dan Indonesia akan melewati dan melebihi kemampuan militer mereka.

      Karena itu mereka mulai beralih pada bentuk perlindungan lain lewat politik. Apalagi jika bukan mencari centeng sakti dengan harga tertentu. Saat ini selain terus memperkuat militernya merekapun mendapat payung perlindungan US. selain itu negara mereka yang sangat kompetitif untuk investasi dan salah satu hub ekonomi utama di Pasifik menyebabkan banyak pihak berkepentingan menjaga Singapura

      Dalam kasus Indonesia serupa tapi tidak sama. kita perlu keseimbangan hubungan barat timur karena kita negara non blok dan ingin netral. Tanpa itu dan hanya masalah teknis saya sepenuhnya setuju dengan pendapat anda. Dana Gripen dan Typhoon dialihkan saja untuk tambahan unit Flanker dan S300/400

      Atau, misal pesawat tempur, SAM, SSM, subs mengandalkan Russia, sementara alutsista AD dan AL mengandalkan produk barat. Alasannya adalah: kecil kemungkinan invasi militer asing ke Indonesia, namun jika terjadi – maka hal itu hanya setelah kekuatan udara dan pertahanan kita dilumpuhkan. Padahal kita tau, soal pertahanan udara Russia masih jauh unggul. selain itu juga pesawat tempur Sukhoi juga mulai mengungguli pesawat produk barat. Untuk counterinsurgency dalam negeri sendiri ga perlu MBT dan MLRS, industri militer dalam negeri kita sudah cukup memenuhi kebutuhan itu

      •  

        Betul Bung Nowyou..

        disini kita melihat MEMBELI saja ada unsur rasa KAGOK ya…hehe.
        tentu kekhawatiran Barat Cemburu lebih kental aroma nya,
        Seperti bbrpa unit Apache cukup sebagai pengimbang diplomasi, toh pada dasarnya permainan silat lidah dan ketergantungan yg besar, menambah ketergantungan yg dari sudah ada tentu adalah Jaminan untuk terus dlm posisi tertekan, mau sampe kapan.?

        Diplomasi Politik pemanis hub.tetap didahulukan tetapi Orientasi Perkuatan Pertahanan Militer pun harus mempunyai roadmap yg jelas dan terarah (cara pandang internal),

        mengambil Opsi B, ada 2 kemungkinan.
        – Barat/AS menawarkan kepemilikan Pespur kualitas lebih atau
        – melakukan Punishment secara militer (ini pun masih 50:50 kemunkinannya)
        jika kita pandai diplomasi, As bagaimanapun memperhitungkan posisi Rusia dan china terhadap Indonesia.

        # sekedar pemikiran.

    •  

      salam..
      @donnie : saya juga lebih condong dengan pilihan B bung, tetapi apakah bisa seperti itu kebijakan yang diambil??karena menurut saya ini dilematis juga, secara untuk Grippen dan Thypoon ini rawan sekali dengan embargo barat..bisakah kita menolak secara halus tawaran Grippen dan Thypoon ini atau pembelian yang dilakukan hanya untuk setengah skuadron saja, tidak perlu sampai minimal 30 unit??

      •  

        trimakasih Bung DewaKembar,

        Knapa engga, mau nolak halus atau tidak menggubris sama sekali itu hak kita qo, tergantung Pembuat keputusan sebenernya,
        Justru mengakuisisi yg gahar untuk mendapatkan yg ringan2, dengan Flanker segambreng, masa iya AS cuma nawarin ngasih F-16 blok 15 yg perlu di sekolahkan lagi ?? diambil atau tidak rayuan AS nantinya…masuknya ke kelas aksesoris ga wajib.

        gerilya mendapatkan alutsista lah ๐Ÿ˜€

    •  

      Sekema Opsi B pun masih bisa diotak atik lagi, misalya ditambahkan dgn Bomber jarak jauh + Pak fa bbrp unit untuk 4 kogabwilhan,
      lebih mantap.

    •  

      Bung Donnie ‘Seberapa strategiskah pengadaan Typhoon + Grippen ?’ sdh dijawab TNI AU dengan memilih Su-35 sebagai pilihan pertama.

    •  

      @bung donnie, jelas terlihat gambaran rencana pengadaan pespur yang aneka ragam adalah situasi sekitar indonesia 2020. dengan membeli ke berbagai produsen pesawat maka untuk memenuhi kuantitas minimum misalnya 200 pesawat baru dalam kurun waktu 5-7 tahun akan lebih mudah dibanding mengandalkan satu produsen saja. dan akan berubah situasinya kelak jika KFX/IFX berhasil terbang dan memenuhi harapan. Memang selalu jadi hal yang menakutkan, masalah maintenance, logistik dan sparepart, akan seperti apa. namun jika saya sebagai pihak TNI maka mau tidak mau opsi ini yang harus diambil, karena memang jelas secara kuantitas jumlah unit masih minim dan semakin kuatnya potensi konflik di sekitar NKRI. apalagi dengan diharuskannya syarat TOT dalam setiap kerjasama dengan asing maka indonesia akan punya banyak source teknologi sekaligus SDM yang komplit untuk menuju kemandirian alutsista nasional.

      •  

        @ Bung One, trimakasih responnya.

        @bung donnie, jelas terlihat gambaran rencana pengadaan pespur yang aneka ragam adalah situasi sekitar indonesia 2020. dengan membeli ke berbagai produsen pesawat maka untuk memenuhi kuantitas minimum misalnya 200 pesawat baru dalam kurun waktu 5-7 tahun akan lebih mudah dibanding mengandalkan satu produsen saja.
        ————————
        Pengadaan 200 pespur dlm 5-7 katakanlah dari keluarga flanker, tentunya bukan suatu kesulitan bagi pihak produsennya, dgn jumlah seperti itu bahkan kita bisa negoisasi untuk membagi Joint produksi dlm arkian merakit (minimal), lebih bagus seperti yg ditawarkan ke Brazil dan hal ini suatu kemungkin yg patut dijajal/dinego kan.seperti dalam skema B diatas, memiliki 252 (262-10 erieye) keluarga Flanker, infrastruktur maintenance perawatan dan perbaikan sangat mungkin didirikan di Indonesia,
        Cepat atau lambat para Joki TNI AU pasti menyumbangkan hal2 yg sifatnya teknis dilapangan untuk perbaikan kualitas dikemudian hari.

        Hal inipun tidak lantas menjadi ANTI grippen/typhoon, jika diperlukan ya diakuisisi juga dgn jumlah lebih sedikit dari rencana list diatas.

        Yang menjadikan naek kelasnya tni au di kawasan, siapapun hampir sepakat bahwa kepemilikan flanker familiy lah penyebabnya, dan mari perkuat hal itu.

        diluar masalah tot karoseri ala grippen, ke-2 pespur ini (grippen + tyhpoon) ditargetkan memenuhi secara jumlah dan berfungsi sebagai stop gap, jika nantinya IFX sukses, maka ke-2 pespur ini tidak dilanjutkan lagi inventorinya, disini seperti ada value yg terbuang, karena dlm pemikiran gue kepemilikan Pespur haruslah bersifat Inventory yg cukup lama, lebih baik anggaran yg ada direlokasikan, begitu.
        ternyata setelah dihitung2 baik untuk memenuhi variable kuantitas atau variable deterence, memperbanyak flanker familiy lebih optimal dgn anggaran yg sama.

        imho..

        •  

          1. pengadaan super flanker 200 unit dalam 5-7 tahun, sangat sulit bung. karena negara produsen flanker juga tengah melakukan penambahan kekuatan matra udara mereka, dan produsen pun memiliki banyak order dari negara lain disaat yang sama.
          2. sekalipun melalui joint produksi tentunya butuh persiapan infrastruktur dan SDM, khususnya SDM kita masih perlu kesiapan tenaga dan keahlian tersendiri. tentunya akan makan waktu yang cukup lama.
          3. seperti yang sudah di paparkan diatas, bahwa pola pengadaannya selalu mix antara bekas dan baru, tentunya berpengaruh nantinya dalam time frame pemakaian secara berkala dan bertahap keluar dari inventory, di sisi lain juga melihat sikon IFX,
          4. bicara deterence, sekalipun pespur dengan list gado-gado diatas, saya yakin juga bikin gentar siapapun khususnya negara tetangga jika dalam waktu 5-7 tahun kedepan indonesia memiliki tambahan 200 unit pespur baru lengkap dengan teknologi dan mengadopsi doktrin tempur baru.
          5. posisi indonesia adalah mengejar ketertinggalan kuantitas tapi sebisa mungkin di penuhi dalam waktu yang singkat dan juga terus mendorong persiapan industri dalam negeri, sehingga muncullah program percepatan.
          6. di tahun 2025 kelak, produk pespur generasi baru misalnya PAKFA, F35, J22 atau bahkan KFX akan sudah dalam kondisi persaingan di level market. sehingga disaat itu indonesia dengan program IFX di harapkan cukup siap secara teknologi dan SDM bersaing dalam hal pembangunan kemandirian militer, bisa melalui skema joint production skala raksasa ataupun meningkatkan kemampuan IFX menjadi setara dengan produk lainnya.

          •  

            @Bung One..

            1. pengadaan super flanker 200 unit dalam 5-7 tahun, sangat sulit bung. karena negara produsen flanker juga tengah melakukan penambahan kekuatan matra udara mereka, dan produsen pun memiliki banyak order dari negara lain disaat yang sama.
            2. sekalipun melalui joint produksi tentunya butuh persiapan infrastruktur dan SDM, khususnya SDM kita masih perlu kesiapan tenaga dan keahlian tersendiri. tentunya akan makan waktu yang cukup lama.
            ———————–
            jadi diskusi kita mengerucut kepada masalah skala produksi, memungkinkan apa tidak.

            * Sebetulnya yg paling paham menjawab mampu tidaknya nya tentu orang dalam si produsen super flanker sendiri.

            Hanya secara logika sederhana gue (mohon maaf kalo ngawur), meningkatkan scala produksi itu bukan suatu Masalah Besar bagi RosoboronExprt ini, bukannya ada yg dinamakan Blue print kalopun itu terpaksa disub kontrak-kan dgn tim dari Migoyan.

            Prediksi gue sendiri pengerjaan yg paling memakan waktu adalah Perakitan dan Finishing.
            Jika 100 orang mampu menyelesaikan 16 unit/tahun.
            tentu disini yg akan ditambah adalah manpowernya, dgn cara mengalihkan sementara tenaga kerja dari bagian produksi pesawat civil.
            Manpower yg diperlukan dlm keadaan produksi normal akan berbeda dgn ketika menerima orderan Massive,

            # kalo ada sahabat yg memahami cara menggenjot rate produksi pespur, silahkan dibantu biar lebih valid.

  30.  

    Kalo saya menilai sebagai orang awam, kemungkinan adanya agenda tersembunyi dari sweden untuk mengurungkan niat Indonesia beli SU-35. sebab strategi hibah F-16 ASU kok sepertinya gagal membendung niat kemhan belanja SU-35. mohon maaf kalo sok tau, barang kali para suhu Warjager ada yang nambahin!

    •  

      saya kira betul bung joni.. kalo liat negara penyuplai perangkat Saab gripen yang kebanyak dari negara US dan UK aku yakin kayaknya tawaran TOT dari Saab Gripen merupakan usaha penjegalan atau setidaknya usaha dari barat untuk mengurangi jumlah SU 34-35 yang akan diakusisi oleh pemerintah untuk mengurani kekuatan udara NKRI

  31.  

    intinya untuk alutsista produk blok barat adalah selama itu belum ada pengumuman / rilis resmi dari kemenhan atau pemerintah maka pengadaan itu belum terjadi.

  32.  

    Maaf, no offense. Menurut saya aneh banget kalau meragukan tawaran SAAB utk ToT Gripen, apalagi jika dibandingin dengan program kfx-ifx yg gak jelas.

    Ada pergantian pimpinan sj, program itu langsung terancam batal. Artinya, program kfx-ifx ini tingkat ketidakpastiannya tinggi bgt. Selain kegagalan program scr teknis, jg kegagalan krn faktor politik.

    Nah, kembali ke Gripen, Brazil sj yg IMO lbh maju industri dirgantaranya dibanding Indonesia percaya dan menjalin kerjasama dgn SAAB. Contoh lain Thailand, meski bukan soal ToT, tp program pembelian Gripen plus AEW-nya yg terintegrasi dgn kekuatan tri matranya mendongkrak kekuatan RTAF.

    Kalau dikatakan jadul, itu bandingannya dgn apa? Kalau dibandingkan Flanker Family, F-35 ya iya-lah. Lha wong beda kelas. Tp kalau kebutuhannya utk menggantikan F-16 sbg workhorse sbg hasil buatan dalam negeri, kemampuan membangun pespur sekelas Gripen adalah pilihan plg logis.

    Kalau ngandelin program kfx-ifx, based on program kerja selesainya tahun 2020, dimana saat katakanlah kfx-ifx berhasil, pesawat ini jatuhnya juga jadi pesawat jadul. Itu kalau lancar dan sukses sesuai rencana. Kalau tidak? Wasting time bukan? Lha wong faktanya diawal2 sj hambatannya dah keliatan. Realistislah

  33.  

    oot dulu yu… ๐Ÿ˜€

    * Mungkinkah sebaran sarang penempur bisa diatur ulang..? *

    Sekilas, namanya juga awam, cara penempatan Pespur sampe hari ini ditempatkan berdasarkan hirarki spesies Biologi.

    contoh :
    All Flanker di Makasar , F-16 di Sumatera dan Jawa, Hawk di Kalimantan, F-5 di Irian, Heli cougar di Bandung, dll.

    entah karena masing2 kuantitasnya yg terbatas atau karena masalah2 lain yg nanti minta penjelasan kepada sesepuh disini.

    Berikut hanya sekedar pemikiran gue saja (berkhayal dikit) :
    —————————————————–
    Jika memang nantinya ditahun 2020-2024 ke atas adalah postur sebenernya TNI AU dgn asset sbb :

    1.Heavy fighter : 10 skuad
    2.Medium Fighter : 20 skuad
    3.Light/trainer : 10 skuad
    4.Helli serang : 10 skuad
    5.Hellu serbu : 10 skuad
    6.Bomber : 4 skuad
    7.Transport : 5 skuad.
    8.Arhanud dan Radar
    9.Ucav/UAV

    dll.
    (asumsikan /skuadron adalah 16 atau 18 unit)

    maka kita akan memiliki
    – 10 Lanud Utama full skuad atau
    – 20 Lanud utama dgn konsep Setengah skuadron.
    atau kombinasi 20 Lanud utama dgn puluhan lanud sekunder.

    A.Lanud Utama tipe A, akan memiliki asset lengkap dari 1 s/d 9,
    B.Lanud Sekunder tipe B, bisa memiliki asset dari No.2 s/d 9, yg jadi pembeda adalah kuantitas masing2 item.
    C.Lanud Bantu tipe C, diisi oleh pespur yg siap2 mau pensiun.

    Apakah kedepannya pengaturan sebaran Pespur akan seperti ini tidak lagi menurut spesiesnya..??

    Catatan :
    Penyederhanaan Merk/Produsen Pespur memang jadi tuntutan jika

  34.  

    Salam buat semua…
    Menarik sekali semua pendapat yang diatas.Mohon koreksi apabila ada yang kurang tepat.

    Riset dan pengembangan bisa diperoleh dengan biaya cukup besar dan waktu yang tidak sebentar. Mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan bila waktu tidak mencukupi bila sudah diambang perang.

    Ibaratnya berapa persen puzzle yang mampu kita buat saat musuh sudah datang ? Menyiasati hal itu, alangkah baiknya pemerintah membuat skala prioritas riset yang diperoleh dari ToT. Skala prioritas ini pun juga bisa digunakan untuk mendukung pengembangan alutsista lain .

    Misal pengetahuan mesin dan radar akan membantu penguasaan teknologi roket dan uav yang sudah dirintis. Proyek KFX/IFX maupun ToT dari manapun layak untuk disambut apabila sudah sesuai prioritas. Keterbatasan memang bagus untuk mencari jalan keluar. Seperti saat Perancis mengembargo pesawat Israel,
    akhirnya Mossad mencuri blueprint Mirage langsung dari kantor di Perancis.

    Kita mungkin tidak mampu bertindak seekstrim itu karena di sinilah daya tawar pemerintah yang diuji dihadapan produsen untuk memaksakan materi ToT.

  35.  

    Menurut saya gak seperti itu bung..? mereka hny menawari penjualanan sklgs kerjasama ToT krn mrk jg sdh mengetahui jk kita jg mewajibkan atw setidaknya mengharapkan alih teknologi dlm bbrp item pembelian alutsista. wajar saja mrk menawari ToT sambil berjualan. curiga blh, tp jgn berlebihan.. toh membelinya pake uang kita, brp kebutuhan pespur yg tau jg TNI sbg user dan kemenhan sbg tindak lanjutnya. klw kita menolak knp rupanya apa mrk maksa ? klw kita setuju jg knp rupanya? apa kita terbujuk rayuan gombal ? jd menurut bung strategi dan kebijakan pertahanan semudah pemuda culun turun gunung digombal psk langsung manut.. gitu..? semua keputusan ada ditangan kita. dan mrk sekedar menawarkan kemungkinan yg mgkn kita jg butuh. yg terpenting itu adlh bgmn pespur kita bertambah byk dari skrg dan diusahakan dlm keadaan baru jgn hibah kecuali yg dihibahkan alutsista yg punya deteren tinggi. klw menerima hibah tp yg dihibahkan alutsista yg sdh tdk punya nilai deterent disekitar mending ditolak dan ambil yg baru mengingat air framenya msh punya jam lbh lama dibanding hibah yg sdh sdkt dan jg mengeluarkan biaya embel2 retrofit yg jg besar. kuantitas terkejar dan dari segi kualitas jg dapat krn pespur dapat yg baru. masalah jenis dan tipe yg deteren biar yg diatas yg mengkaji itu semua.

  36.  

    setau saya kelas untuk pespur tidak dilihat dr berat deh, kalo membedakan berat itu untuk kapal perang misal destroyyer sekian ton, frigat sekian ton, korvet sekian ton dll.
    Kalo pespur tidak bs dibedakan lewat berat bung kalo beratnya kecil tp dia speknya multilore dan punya spek avionik yg canggih, radar yg jauh dan bs menggotong macam2 rudal jarak jauh, sedang, pendek saya rasa itu bs dikatakan fighter yg jago.
    Itu aj jd untuk pespur tidak bs dibedakan sesuai beratnya.

  37.  

    Bukankah proyek pengembangan pesawat KFX/IFX adalah PLAN A bagi Indonesia untuk mandiri membuat pespur dimasa depan, namun kendalanya adalah persoalan teknis dan politis sendiri, karena disatu pihak Korsel mau berbagi ToT kpd kita tetapi dilain pihak Korsel sendiri adalah sekutu kuat AS di Asia selain Jepang. Jadi bilamana kita ada gesekan kembali dg kebijakan/kepentingan AS, dikhawatirkan akan mengganggu pelaksanaan proyek KFX/IFX ini, apalagi ada wacana mesin yg digunakan KFX/IFX adalah mesin F-414( F/A 18 Hornet) milik AS!

    Oleh karena itu Rencana Kerjasama sekaligus pengadaan Eurofighter Typhoon berikut ToT nya di Indonesia adalah merupakan langkah strategis sebagai PLAN B, bilamana kita mengalami beberapa kendala teknis dalam proyek KFX/IFX nanti, maka kekurangan tsb diharapkan akan tercover melalui teknologi yg dimilki Typhoon…semoga saja!

    Persoalan apakah nanti memilih Saab Gripen NG ataupun Eurofighter Typhoon berikut ToT nya, adalah kembali kpd “Pilihan Strategis” pengamat dan pengambil kebijakan ditubuh TNI sendiri.

 Leave a Reply