Jun 252017
 

Dok. Polisi Kolombia di Bogota (Aneyhenning)

Bogota – Delapan anggota kelompok gerilyawan yang kurang dikenal ditangkap terkait aksi bom minggu lalu di sebuah mal kelas atas, di ibu kota Kolombia, Bogota, ujar polisi pada Sabtu, 24/6/2017.

Tiga orang tewas dan delapan lainnya terluka ketika sebuah ledakan terjadi di toilet wanita, pusat perbelanjaan Andino pada 17 Juni 2017.

Empat pria dan empat wanita, anggota kelompok pemberontak Gerakan Rakyat Revolusioner (MRP), ditangkap – setengahnya di Bogota dan setengah lagi di El Espinal, provinsi Tolima, ujar kepala polisi nasional Jorge Nieto kepada wartawan.

Mereka yang ditangkap akan didakwa dengan tuduhan atas tindak pembunuhan dan aksi teror.

Kelompok MRP, yang baru diketahui keberadaannya oleh masyarakat sejak akhir 2015, sedang diselidiki karena terlibat dalam 14 serangan lainnya, kata Nieto.

“Regu interdisipliner melanjutkan penyelidikan untuk menguraikan berbagai tindakan teroris lainnya dan mengetahui materi serta pelaku intelektual atas tindakan tersebut,” kata Nieto.

Sebuah perangkat, yang diletakkan di belakang mangkuk toilet, meledak pada Sabtu siang di tengah sibuknya kegiatan belanja akhir pekan menyambut hari Ayah.

Korban aksi bom ini adalah wanita Prancis, Julie Huynh (23), yang telah menjadi relawan di daerah miskin kota itu, dan dua warga Kolombia, Ana Maria Gutierrez (27), dan Lady Paola Jaimes Ovalle (31).

Bogota, yang pernah menjadi lokasi sasaran aksi bom mobil dan penculikan, telah berangsur aman selama dasawarsa belakangan, dengan peningkatan pengawasan polisi dan militer serta menempatkan lebih banyak petugas bersenjata di jalanan.

Pada suatu ketika semua tas diperiksa saat memasuki pintu masuk ke dalam mal, tapi itu sudah sangat banyak tidak dilakukan kembali dalam beberapa tahun belakangan.

Anjing pelacak bom biasanya memeriksa mobil di fasilitas parkir ibukota.

Sebuah kesepakatan damai ditandatangani tahun lalu dengan Angkatan Bersenjata Revolusioner Pasukan Kolombia (FARC), kelompok gerilyawan terbesar di negara itu, menganggap serangan bom diyakini mungkin akan berhenti.

Namun kelompok pemberontak terbesar kedua di negara ini, Pasukan Pembebasan Nasional, atau ELN, pada Februari melancarkan serangan dengan menggunakan sebuah alat peledak di Bogota yang melukai puluhan polisi.

Kelompok ELN dan FARC telah mengutuk serangan terhadap pusat perbelanjaan Andino.

 

Antara/Reuters

Bagikan: