Agu 252018
 

Jet tempur F-16 Fighting Falcon Angkatan Udara AS © USAF via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Presiden Filipina menolak tawaran Kepala Pertahanan AS dan pejabat tinggi Amerika lainnya untuk membeli jet tempur F-16, mengatakan bahwa akuisisi seperti itu “sama sekali tidak ada gunanya” karena negaranya membutuhkan pesawat tempur yang lebih ringan untuk memerangi gerilyawan.

Dilansir dari laman Defense News, Presiden Rodrigo Duterte mencemooh tawaran yang dikirmkan lewat surat Menteri Pertahanan Jim Mattis, Sekretaris Negara Mike Pompeo dan Menteri Perdagangan Wilbur Ross, setelah sebelumnya Presiden Duterte ditekan oleh AS karena tindakan keras terhadap obat-obatan terlarang.

Setelah menjabat pada pertengahan 2016, Duterte segera mengambil langkah untuk menghidupkan kembali hubungan yang sangat dingin dengan Tiongkok dan ia sering mengambil sikap antagonis terhadap kebijakan keamanan AS.

Presiden Duterte juga pernah mengecam mantan Presiden AS Barack Obama, yang mengemukakan keprihatinan atas pelanggaran hak asasi manusia di bawah Duterte. Bagaimanapun, Pemimpin Filipina ini telah berdamai dengan Presiden Trump.

Dalam pidato yang disiarkan televisi saat upacara militer di kota Davao selatan, Duterte membacakan surat yang diberikan oleh ketiga pejabat AS itu, yang mengutip aliansi panjang antara Washington dan Manila dan meyakinkan dukungan Amerika dalam upaya Filipina untuk memodernisasi militernya.

“Kami berharap dapat bermitra dalam hal pengadaan pertahanan penting lainnya untuk keuntungan timbal balik kita, termasuk melalui platform tempur multi-peran Lockheed Martin F-16 dan platform helikopter serang Anda di antara sistem AS lainnya”, kata Duterte mengutip surat itu.

Filipina, tidak membutuhkan F-16 “namun mereka memajangnya setelah sebelumnya mereka mempermalukan kita”, kata Duterte. “Sama sekali tak ada gunanya membeli jet tempur F-16. Filipina hanya perlu helikopter serang dan pesawat kecil untuk kontra-pemberontakan”.

Duterte mengulangi kekesalannya terhadap AS, karena tidak mau menyediakan 23.000 senapan yang dibutuhkan polisi Filipina. Pembelian senjata dipermasalahkan setelah beberapa legislator AS menyuarakan keprihatinan atas tindakan keras kepolisian yang dipimpin Duterte terhadap obat-obatan terlarang Duterte.

Dia juga meminta agar Amerika mengembalikan tiga lonceng gereja yang dirampas oleh pasukan AS dari Filipina lebih dari satu abad lalu. Kedua pemerintah telah membahas pengembalian lonceng Balangiga, yang dinamai untuk desa Filipina dari mana mereka diambil pada awal 1900-an.

“Jika mereka tidak mau mengembalikan lonceng Balangiga, kita tidak perlu membicarakannya”, kata Duterte.

Meskipun ada penolakan Duterte terhadap Washington, tapi seorang pejabat keamanan Filipina mengatakan bahwa pemerintah mungkin membeli helikopter tempur dari AS, terkait perintah presiden untuk membatalkan kesepakatan bernilai jutaan dolar untuk membeli 16 unit helikopter dari Kanada.

Sebelumnya Presiden Duterte memerintahkan pembatalan kesepakatan untuk membeli helikopter Bell 412EPI setelah pemerintah Kanada memutuskan untuk meninjau ulang kontrak senilai 12 miliar peso atau sekitar AS $ 224 juta sebab khawatir militer Filipina akan menggunakan helikopter utilitas dalam serangan kontra-pemberontakan daripada hanya untuk mengangkut pasukan dan pasokan.