Nov 122017
 

Pertemuan ke-25 Pemimpin Ekonomi APEC, Da Nang, Vietnam, 11/11/2017. (Sekretariat Kabinet)

Da Nang, Jakartagreater.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara di pertemuan Para Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2017.

Setelah mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, pada Sabtu 11-11-2017 Presiden Joko Widodo dan rombongan menuju Intercontinental Peninsula Resort Da Nang untuk mengikuti serangkaian kegiatan Pertemuan ke-25 Pemimpin Ekonomi APEC (The 25th APEC Economic Leaders Meeting).

Pertemuan diawali dengan “retreat”, foto bersama dan “working lunch” yang akan berlangsung hingga sore hari. Saat foto bersama Presiden Joko Widodo berada di baris pertama, tepat di belakang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan diapit oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe serta Presiden Vietnam Tran Dai Quang.

Pada sela-sela pelaksanaan pertemuan APEC tersebut, Presiden Joko Widodo akan mengadakan pertemuan dengan beberapa kepala negara dan kepala pemerintahan anggota APEC. Tiba di Da Nang Hall, Presiden Joko Widodo disambut Presiden Vietnam Tran Dai Quang. Setelah itu Presiden mengikuti “retreat” I di Ha Noi Hall.

Presiden Joko Widodo duduk di antara PM Jepang Shinzo Abe dan Chief Executive of Hong Kong SAR Carrie Lam. Ada 21 pemimpin ekonomi anggota APEC yang hadir yaitu Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull, Presiden Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah, PM Kanada Justin Trudeau, Presiden Chili Michelle Bachelet.

Presiden China Xi Jinping, Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam, Presiden Indonesia Joko Widodo, PM Jepang Shinzo Abe, Presiden Korea Selatan Moon Jae In, PM Malaysia Najib Razak, Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, PM Selandia Baru Jacinda Ardern.

PM Papua Nugini Peter O’Neil, Presiden Peru Pedro Pablo Kuczynski, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Presiden Rusia Vladimir Putin, PM Singapura Lee Hsien Long, pemimpin delegasi Taiwan James Soong, PM Thailand Chan-o-cha dan Presiden Amerika Serika Donald Trump.

Pertemuan ke-25 Pemimpin Ekonomi APEC, Da Nang, Vietnam, 11/11/2017. (Sekretariat Kabinet)

Presiden Jokowi Soal Ekonomi Digital

Presiden Joko Widodo mengangkat isu ekonomi digital dalam sesi pertama Pertemuan Ke-25 Pemimpin Ekonomi APEC di Vietnam, Sabtu.

“Pemerintah harus mengambil posisi yang tepat dalam memfasilitasi transformasi yang tidak selalu mulus dengan tetap memprioritaskan pembangunan inklusif, berkelanjutan dan penciptaan kesempatan kerja yang produktif,” kata Presiden.

Presiden Jokowi menjadi pembicara kelima setelah Presiden Vietnam Tran Dai Quang selaku tuan rumah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan PM Kanada Justin Trudeau.

Mengawali pertemuan, “Managing Director” IMF Christine Lagarde menyampaikan gambaran tentang situasi perekonomian dan keuangan dunia dewasa ini serta prediksi pada tahun-tahun mendatang.

Presiden menyatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020 mengingat saat ini terdapat 132,7 juta pengguna internet dan 92 juta pengguna gawai di seluruh tanah air.

Potensi tersebut diyakini Presiden Jokowi dapat mendatangkan kesempatan baru bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pola bisnis sebelumnya dan usaha kecil menengah (UKM).

Meski begitu, dia mengajak seluruh pemimpin negara untuk tetap waspada menghadapi perubahan digital ekonomi yang sangat cepat. Menurut Presiden digital ekonomi tidak hanya menciptakan “innovative growth” namun juga membawa dampak disruptif terhadap kondisi yang sudah mapan sebelumnya.

Namun langkah tersebut diyakini tidak mudah karena butuh pemikiran dan terobosan yang kreatif dari para pengambil kebijakan agar kebijakan tidak hanya “business as usual”. Karena itu, Indonesia mendorong APEC memastikan digital ekonomi berjalan sesuai dengan harapan.

“Saya mendorong APEC untuk turut memastikan bahwa digital ekonomi mendatangkan keuntungan bagi rakyat dan meningkatkan inklusivitas,” tambah Presiden.

Selain itu, Indonesia juga mendorong APEC untuk segera mempercepat realisasi “Bogor Goals” agar manfaat globalisasi dapat dirasakan oleh rakyat.

“Realisasi ‘Bogor Goals’ yang sejalan dengan agenda pembangunan harus dipercepat,” ujar Presiden.

Secara umum para pemimpin APEC melihat dunia masih menghadapi berbagai tantangan dengan dampak yang nyata, seperti terorisme dan perubahan iklim.

Sementara PM Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi harus dapat mendatangkan keuntungan bagi rakyat, karenanya inklusi ekonomi dan sosial merupakan hal penting.

PM Kanada Justin Trudeau mengingatkan pentingnya perhatian terhadap perempuan dan anak.

“Yang juga perlu mendapat tempat adalah perhatian terhadap perempuan dan anak,” kata PM Trudeau.

“Terdapat keyakinan bahwa APEC memiliki kemampuan untuk terus memainkan peran pentingnya di era digital,” kata Presiden Viet Nam Tran Dai Quang sebagai penutup diskusi.

Tema APEC 2017 adalah “Menciptakan Dinamika Baru, Membina Masa Depan Bersama” akan fokus membahas beberapa masalah, antara lain perekonomian berkesinambungan, integrasi regional, penguatan daya saing usaha mikro kecil dan menengah, perubahan iklim dana pertanian. (Antara).

  12 Responses to “Presiden Jokowi Angkat Topik Ekonomi Digital di APEC”

  1. Perdagangan online semakin maju tp berdampak kpd pedagang konvesional yg memiliki atau memakai toko untuk menjual produknya yg menghasilkan pajak bg negara jg memicu pembangunan Ruko dan Mall dan tenaga kerja, nah dgn byknya tempat usaha yg tutup potensi pajak bg pemerintah berkurang jg lapangan kerja. Bagaimana perhitungan pajak dgn usaha online apakah akan transparan?

    • Perlu diwaspadai:

      Kapitalisasi Digital

      Tulisan Dewa Eka Prayoga.

      Peta persaingan para raksasa…

      Landscape eCommerce Indonesia

      Perkembangan paling mutahir adalah investasi miliaran US$ di Indonesia sehingga melahirkan tiga Unicorn, yaitu:
      1. Tokopedia
      2. Gojek
      3. Traveloka.

      Selain itu, terjadi pengelompokan bisnis:

      1). Tokopedia dan Lazada (yang diinvest oleh Alibaba)

      2). Shopee, JD, Traveloka (yang diinvest oleh Tencent)

      3). Blibli dan Tiket.com (yang diinvest oleh GDP Capital milik Djarum Group)

      Saham Alibaba di Tokopedia memang tergolong minoritas, namun di Lazada sudah mencapai 80%. Ini kemudian akan diintegrasikan dengan payment gateway (Alipay dan Doku) serta didukung kekuatan logistik China Smart yang mendominasi logistik Asia Tenggara melalui Singpost.

      Strategi jangka panjang Jack Ma Strategi adalah menguasai infrastruktur di SEA utamanya Indonesia melalui kendaraan ecommerce.

      Alibaba sudah membangun infrastruktur FBL (Fulfilled by Lazada – 60.000 SQM gudang di Cimanggis dan terus membangun di kota-kota lain dan memiliki infrastruktur delivery sendiri dengan LEX – Lazada Express .

      Pesaing kuat Alibaba adalah Tencent (induk semang dari JD.co). Tencent masuk ke Indonesia melalui JD.id , Gojek dan Traveloka. Tencent pun ingin menguasai infrastuktur payment Go-PAY yang dipakai Go-JEK, yang saat ini sudah menjadi e-wallet terbesar di Indonesia, mengalahkan e-wallet yang dibuat bank dan telko. JD.ID sudah mulai membangun gudang distribution Center di Jakarta maupun di Kota-kota besar di Indonesia beserta Hub pengirimannya sendiri. Tencent makin kuat dengan investasi di Shopee.co.id.

      Kedua pemain raksasa ini sudah mengubah peta e-commerce Indonesia. Setahun terakhir ini GMV- nya di pasar Indonesia meningkat pesat dengan membawa produk-produk murah China.

      Petinggi Shopee menyatakan dalam kurun waktu dua tahun ke depan, pasar Indonesia hanya akan menjadi medan pertempuran dua raksasa ecommerce dr China: yaitu Lazada (+ Tokopedia) dan Shopee. ?

      Bagaimana dengan Blibli?

      Akan bertahan tapi menjadi pemain ketiga yang paling banyak menguasai 20% pasar, yang 80% menjadi rebutan kedua grup di atas.

      Peta akan berubah jika Amazon masuk ke Indonesia…

      Bagimana Nasib pemain Lokal?

      Hingga saat ini pemain ecommerce lokal belum bisa mengimbangi pertempuran dengan para pemain raksasa China tersebut.

      Pemain lokal kalah dalam pengalaman, finansial, teknologi, bigdata, dan jaringan. Ada dua kemungkinan bagi pemain lokal yang tidak sekuat Blibli.com: 1). Diakuisisi atau 2). Ditutup karena kehabisan pendanaan di tengah jalan.

      Persaingan di e-commerce ini juga berdampak pada bidang-bidang pendukung lanskapnya. Pemain di bidang logistics dan payment akan dikuasai mereka juga.

      Yang mengkhawatirkan, supplier produk lokal akan tergantikan oleh produk-produk asing jika tak mampu mengambil peluang emas berkembangnya e-commerce ini.

      Rumor yang beredar saat ini…

      Petinggi Lazada berusaha melobi pemerintah untuk dapat melonggarkan aturan impor finish goods untuk dijual via e-commerce Indonesia.

      Apa yang harus dilakukan?

      Venture Capital Indonesia dan pelaku e-commerce lokal (paytren, belanjaqu.com dll) segera melakukan konsolidasi untuk mengimbangi kedua raksasa di atas, untuk melindungi pasar Indonesia dan mendorong produsen lokal bisa bersaing di pasar ecommerce, serta membawa produk-produk lokal masuk ke pasar global.

      Bangun kawan-kawan… Bangun!

      Asing terus menyerang dan berdatangan. Kalau kita cuma diam, matilah kita.

      Kita mesti bersatu. Kita mesti saling support satu sama lain. Kita mesti berdaya di negeri sendiri…

      Jangan sampai produk-produk lokal digilas habis dan gak diserap oleh pasar dengan baik, saking mendominasinya produk-produk luar di negeri ini

      Bangunlah sinergi. Bertumbuhlah bersama.

      Bersatu menguat, bersama berdaya

      Joinlah di berbagai komunitas positif di Indonesia. Jalinlah sinergi dan tumbuhlah dalam kebersamaan

      Yuk bersatu..
      Yuk bersama..
      Yuk berdaya..
      di negeri Indonesia

      Semoga menggerakkan dan memberikan pencerahan…

      Sukses untuk kita semua.
      Aamiin

      • top markotop mas, yo kawula muda terus berkarya dan pertahankan militansi dalam semua bidang, salam NKRI…jayalah Indonesiaku

      • Hhhhhhhhhh, emang gampang apa masuk dunia Startup apalagi di e-commerce?? Kesalahan terbesar pemerintah adalah Pemerintah belum mau menjadi sponsor utama modal Ventura untuk startup di Indonesia, kebanyakan masih harus cari sendiri walopun disediakan banyak inkubator.

      • Menandangnya jng hanya dr satu aspek saja yg kepemilikan saham. Tp hrs dr beberapa sudut pandang.

        – berapa banyak lapak lokal yg tumbuh dr bisnis online ini.? Dr yg lapak imut sampe yg besar. Bayangkan saja seorang anak kecil di Indonesia jd jutawan krn memasarkan mainan olahannya secara online. Tokopedia, Lazada dan yg lainnya boleh dimiliki asing. Tp yg ngisi lapaknyanya lokal semua.

        – Brp banyak jg duit yg didpt dr bea masuk barang impor yg dilakukan Lazada, Tokopedia dan yg lainnya, yg dpt langsung terdeteksi oleh jaringan perbankan nasional.

        -Brp banyak pajak penghasilan yg disetor oleh Lazada, Tokopedia dan yg lainnya. Justru mereka lebih transparan krn transaksi melibatkan perbankan nasional.

        – Brp banyak barang pengrajin kecil yg gak punya toko tp barangnya laris manis dibeli oleh pihak luar negeri tanpa harus ribet promosi melalui ajang pameran tp cukup jualan online saja.

        – yg terakhir, jasa ekspedisi spt JNE dan TIKI jd ketiban durian runtuhnya ngurusin pengiriman ratusan ribu barang setiap harinya. Bahkan boleh dikata mereka meraup untung besar.

        Jd tolong jg dilihat dr aspek2 tersebut. Selama pengusaha mikro klas rumah tangga sampe pengusaha besar dimudahkan dan diuntungkan, mengapa hrs pobia.? Dan yg pasti barangnya murah ketimbang beli di mall dng kualitas yg sama. Urusan pajak, pemerintah tinggal ngitung berdasarkan transaksi perbankan. Gampang toh..! Ok broo…

  2. to pak putin, nanti mampir ke indonesia yah’ ada yang belum tanda tangani nih,..’ begitulah kira-kira keinginan warjag.

  3. Jangan sampai indonesia hanya dijadika pasar dr negara2 yg telah maju scr ekonomi digitalnya. India yg sdh kuat masyarakat ek digitalnya merekascr diam2 namun DNyg diperkuat.

  4. ya seharusnya belanja online itu lebih dipermudah lagi.
    semisal membeli Sukro Su-35……penjual harus menampilkan detail spesifikasinya, harga pasnya, lalu bagaimana pengirimannya, COD atau transfer bank dulu…..
    lalu dibagian selanjutnya ada pilihan armamen, R-77, Kh-58, drop tank, plus ToT. itu juga harus ada.

    wong di pemerintahan aja ada e-budgeting….kok beli sukro ga bisa online. belanja aja udah gampang mosok beli alutsista repotnya minta ampyun……

    lalu keaslian datanya juga harus bisa dipertanggung jawabkan, pembeli kecewa klo di tipu terus sama penjual. digambar barang bagus nan mulus, pas diterima barang bulukan……
    misal radar irbis-e diklaim bisa scanning sampai 120-150 derajat, tapi itu ternyata cuma dibrosur….mungkin ya mungkin krn itu radar pesa mainlobenya cuma 60 derajat, sedang sisanya adalah sidelobe……hhhhhhhhhhh

    makanya beli barang yg ori………

 Leave a Reply