Mei 132017
 

Dok. Presiden Barack Obama, Michelle Bachelet (Chile), Xi Jinping, Hassanal Bolkiah, Vladimir Putin dan Joko Widodo di Beijing, China, Nov. 11, 2014. (The White House)

Jakarta – Presiden RI Joko Widodo akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Minggu (14/5/2017) untuk membahas peningkatan kerja sama ekonomi bilateral Indonesia dan China.

“Pertemuan akan fokus membahas peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi dan juga akan menindaklanjuti kesepakatan-kesepakatan yang dicapai oleh kedua kepala negara pada pertemuan sebelumnya pada 2016,” kata Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Edi Yusup di Jakarta, Jumat, 12/5/2017.

Pertemuan antara Presiden Jokowi dan Presiden Jinping akan dilaksanakan di sela-sela pertemuan “Belt and Road Forum for International Cooperation”.

Tahun lalu, Pemerintah China telah setuju untuk membuka akses pasar bagi produk-produk pertanian dan peternakan Indonesia, khususnya sarang burung walet, buah naga, durian, dan produk susu.

Nilai ekspor sarang burung walet Indonesia ke China telah meningkat hingga mencapai 36 juta dolar AS, dan nilai ekspor itu masih dapat terus ditingkatkan.

Namun, China belum membuka akses pasar untuk produk buah Indonesia, seperti buah naga, durian, manggis, dan nanas karena adanya perjanjian protokol yang belum dilengkapi antara badan karantina Kementerian Pertanian kedua negara.

“Perjanjian protokol itu persyaratan untuk ekpor produk-produk pertanian. Ini salah satu hal yang ingin kami dorong penyelesaiannya,” ujar Edi.

Selain itu, Presiden Jokowi dalam pertemuan dengan Presiden Jinping juga akan membahas dukungan China bagi studi kelayakan untuk proyek-proyek infrastrutur Indonesia, seperti pelabuhan, jalan tol, jalur kereta Trans Sumatra dan Trans Sulawesi.

Pemerintah Indonesia dan China akan menandatangani nota kesepahaman tentang perjanjian kerja sama teknis dan ekonomi. Penandatanganan itu dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Indonesia dan Kementerian Perdagangan China.

“China akan membantu Indonesia dalam pendanaan studi kelayakan proyek-proyek infrastruktur,” tutur Edi.

One Belt One Road

Pertemuan BRF yang diselenggarakan oleh Pemerintah China bertujuan untuk membahas rencana konsep “One Belt One Road” (OBOR), yakni suatu strategi pembangunan yang diusulkan Presiden Xi Jinping yang berfokus pada konektivitas dan kerja sama antarnegara, terutama antara China dan seluruh negara Eurasia, yang terdiri dari dua komponen utama jalur ekonomi – jalur sutra darat dan jalur sutra maritim.

Pertemuan BRF pada 14-15 Mei itu akan dihadiri oleh sekitar 20 kepala negara/pemerintahan, termasuk Presiden Jokowi.

Tujuan pemerintah RI menghadiri forum ini untuk melihat posisi dan peluang Indonesia dalam rencana strategi pembangunan OBOR tersebut.

“Kehadiran Indonesia, tujuan utamanya meningkatkan kerja sama percepatan pembangunan infrastruktur nasional, seperti yang terkait dengan pembangunan pelabuhan, tol, dan sebagainya,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir.

Kehadiran pemerintah Indonesia dalam pertemuan BRF itu juga bertujuan untuk mendapatkan dukungan bagi implementasi cetak biru (blueprint) konektivitas dan pembangunan infrastruktur nasional.

“Kami berharap ‘blueprint’ nasional dan ASEAN ‘connectivity’ agar bisa didukung dalam pertemuan tersebut. Pertemuan ini baik untuk peningkatan kerja sama dalam konteks pembangunan kapasitas,” ucap Arrmanatha.

Selama kunjungan ke Beijing, Presiden Jokowi juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Swiss, Perdana Menteri Fiji dan Sekretaris Jenderal Partai Demokratik Liberal Jepang.

Antara

Bagikan:
 Posted by on Mei 13, 2017