Mei 162017
 

Destroyer Shenyang China, (RIA Novosti / commons.wikimedia.org)

Beijing – China dan Vietnam akan mengatur dan mengendalikan dengan selayaknya sengketa laut mereka, menghindari gerakan yang akan membuat masalah makin rumit atau meluas, untuk menjaga perdamaian di Laut China Selatan (LCS).

Pernyataan itu dikemukakan kedua negara dalam komunike bersama, yang dikeluarkan pada 15/5/2017.

Vietnam adalah negara Asia Tenggara paling terbuka dalam sengketa dengan China akan wilayah perairan itu setelah Filipina menarik diri dari benturan di bawah kepemimpinan Presiden Rodrigo Duterte.

Setelah yang China sebut perundingan “positif” terkait Laut China Selatan pada pekan lalu antara Presiden Xi Jinping dengan Presiden Vietnam Tran Dai Quang, pernyataan bersama itu menekankan keperluan mengendalikan perbedaan.

Kedua negara sepakat untuk “mengatur dan mengedalikan dengan selayaknya sengketa maritim, dan tidak mengambil aksi apa pun yang dapat membuat isu itu makin rumit atau memperluas perselisihan, serta menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan,” katanya.

Dokumen itu, yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri China, mengatakan bahwa kedua belah pihak bertukar pandangan “dalam dan terbuka” terkait isu maritim, dan sepakat untuk menggunakan mekanisme perundingan perbatasan untuk mencari solusi yang permanen.

China mengklaim 90 persen dari kawasan Laut China Selaran yang memiliki potensi kaya sumber daya alam. Selain Vietnam, Brunei, Malaysia, Filipina dan Taiwan juga mengajukan klaim atas sebagian dari rute itu, di mana perdagangan senilai 5 triliun dolar melintas setiap tahunnya.

Pada tahun lalu ketegangan antara Beijing dan Hanoi meningkat setelah Taiwan dan pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa China telah menempatkan misil permukaan ke udara di Pulau Woody, bagian dari kepulauan Paracel yang dikendalikannya.

Vietnam menyebut ulah China sebagai sebuah pelanggaran serius pada kedaulatannya atas Paracel.

Pada 2014, ketegangan antara kedua negara komunis itu memuncak menjadi lebih dramatis ketika Chian memindahkan sebuah situs pengeboran mintak ke perairan sengketa dan aksi protes muncul di seluruh penjuru Vietnam.

Hubungan kedua negara telah meningkat secara bertahap sejak saat itu, dengan pertukaran beragam kunjungan pejabat tingkat tinggi, sekalipun pengembangan militer regional terus berlanjut, termasuk pembangunan landasan udara oleh China di pulau buatan di perairan yang sibuk itu.

Quang tiba di Beijing pekan lalu untuk melakukan kunjungan kenegaraan dan menghadiri konferensi dua hari yang berakhir Senin terkait skema ambisius yang diusulkan oleh Xi untuk membangun Jalur Sutra baru yang menghubungkan China ke Asia, Eropa dan lainnya, melalui investasi infrastruktur besar-besaran.

Sementara itu, terkait dengan situasi di Laut China Selatan, para negar pihak tengah menantikan perkembangan perundingan kerangka kerja kode perilaku (CoC) di wilayah Laut China Selatan.

Perundingan kerangka kerja CoC diyakini dapat selesai pada pertengahan 2017, sesuai dengan tekaD China pada tahun lalu dan amanat pemimpin Asia Tenggara.

Antara

 Posted by on Mei 16, 2017