Mar 172019
 

Jet tempur Su-30MKM Angkatan Udara Malaysia (RMAF) © Malaysian Defence

JakartaGreater.com – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) menetapkan prioritas pada pengadaan kemampuan pengawasan maritim, sistem pesawat nirawak (UAS), serta radar berbasis darat dan Light Combat Aircraft (LCA) karna menunggu kertas putih pertahanan pemerintahan baru untuk arahan dan anggaran, seperti dilansir dari laman AIN Online.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan AIN Online menjelang pameran LIMA 2019 yang akan berlangsung di Langkawi pada minggu terakhir Maret 2019, Kepala Staf TUDM Tan Sri Affendi Buang mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya Malaysia merancang kertas putih pertahanan sebagai “bagian” dari pemerintah dan dia juga mengatakan akan memberi indikasi kepada pemerintah untuk melengkapi TUDM dengan hal yang benar.

Berdasarkan atas roadmap CAP55 baru TUDM yang dirilis tahun 2018, Angkatan Udara Malaysia mencari pesawat tempur multi-peran mesin tunggal (MRCA), pesawat tempur ringat (LCA), pesawat patroli maritim (MPA), pesawat nirawak (UAV), rudal darat dan radar, di antara kebutuhan lainnya pada tahun 2055.

“Kami menangani lingkungan strategis Malaysia sebagai negara maritim; kami juga ingin memiliki kemampuan pengawasan yang ditingkatkan dan memiliki kesadaran situasional yang lebih baik sebagai agenda utama kami. Kita berbicara tentang MPA dan UAV MALE”, kata Affendi.

Pesawat Patroli Maritim (MPA) Boeing P-8A Poseidon © Royal Australian Air Force

Dia menambahkan bahwa TUDM telah menerima “lusinan” proposal atas berbagai solusi, termasuk platform khusus, platform roll-on/roll-off ataupun upgrade Beechcraft King Air B200T saat ini dengan sistem baru. Boeing, Airbus dan Leonardo telah mengkonfirmasi bahwa mereka telah merespons dengan usulan P-8A Poseidon, C295 MPA dan ATR-72MP.

Setelah bertahun-tahun dalam pencarian jet tempur multi-peran, TUDM kini mendorong maju program LCA. LCA akan menggantikan armada pesawat ringan multi-peran TUDM, yang terdiri dari BAE Hawk 108/208 dan Aermacchi MB-339CM, yang memiliki masalah logistik dan pemeliharaan. Dia mencatat bahwa LCA modern memiliki kemampuan multi-peran yang dekat dengan jet tempur sesungguhnya, tapi memiliki modal dan biaya operasi yang lebih rendah.

Affendi mengakui bahwa TUDM telah menerima informasi tentang FA-50 Golden Eagle (Korea Aerospace Industries), M346 (Leonardo), Tejas (HAL), JF-17 Thunder (PAC) dan Yak-130 (Yakovlev) serta mengharapkan lebih banyak proposal lainnya.

“Memulai RFI sekarang memberi kami waktu untuk melakukan studi kelayakan saat kami menunggu persetujuan pemerintah untuk memulai proyek itu. Karena kami juga mencari Fighter Lead-In Trainer (FLIT), pesawat harus melengkapi kedua peran”, katanya. “Kami bekerja dalam kemampuan keuangan yang realistis, oleh karena itu LCA harus maju lebih dulu daripada program MRCA kecuali pemerintah saat ini telah memiliki anggaran yang memungkinkan kami untuk melanjutkan keduanya pada saat yang sama”.

Armada pesawat tempur Hawk 108/208 Tentera Udara Diraja Malaysia © Xu Zheng via Wikimedia Commons

Affendi berkomentar bahwa BAE Hawk 108/208 berada di tahun ke-25 layanannya dan mendekati “masa pakainya” serta biaya perawatan meningkat. Ini akan secara bertahap diganti bersama dengan MB-339CM selama 10-15 tahun. Dia menambahkan TUDM pun masih terbuka untuk mengoperasikan campuran pesawat blok Timur dan Barat, karena angkatan udara ingin memiliki keseimbangan kemampuan terbaik. “Setelah memiliki 20 tahun platform campuran, kami telah belajar cukup banyak dan menyadari apa hal yang kami inginkan dan masalah apa yang harus diwaspadai”.

KASAU Malaysia melaporkan bahwa TUDM akan dapat menyelesaikan semua masalah pemeliharaan untuk Sukhoi Su-30MKM pada tahun 2019. Sekitar dua pertiga armadanya telah melewati program pemeliharaan berat 10 tahun yang tertunda karena kendala biaya.

Tim yang dipimpin TUDM, yang terdiri dari Aerospace Technology Systems dan Caidmark serta RMAF Central Aerospace Engineering Services, bekerja sama dengan perusahaan MRO Sukhoi Rusia, mengatur program pemeliharaan dan perombakan sendiri.

“Kami juga telah mengirim tim kami ke OEM di Rusia serta perusahaan MRO Sukhoi di negara-negara Eropa Timur lainnya untuk belajar”, terang Affendi. “Meskipun pekerjaan dilakukan oleh para ahli lokal kami, kami pun tetap mengikuti prosedur standar industri kedirgantaraan yang ketat”.

Mockup jet tempur multiperan generasi 4,5 KF-X / IF-X © Rangga Baswara Sawiyya via Angkasa Review

Melihat lebih jauh ke depan, Affendi ingin TUDM memiliki jet tempur generasi kelima dan keenam agar angkatan udaranya tetap relevan sama seperti halnya Angkatan Udara negara tetangga Malaysia yang sedang merencanakan pengadaan platform ini, mulai dari F-35 (Singapura) hingga IF-X (Indonesia).

“Kami ingin memiliki teknologi karena kami ingin setara dengan yang lainnya. Angka tak penting. Jika Anda ingin level kekuatan Anda diakui, Anda harus ada dalam permainan atau Anda akan tertinggal. Anda harus memiliki platform untuk dapat mengembangkan pengetahuan, yang tidak dapat dilakukan dalam semalam”.

  2 Responses to “Prioritas Malaysia: Radar Pengawas Maritim, UAV serta LCA”

  1.  

    Lanjutkan kawan

  2.  

    “ini adalah pertama kalinya Malaysia merancang kertas putih pertahanan”

    karena selama ini cuma bisa nyontek dari RI dan Singapura