Agu 212014
 

Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia. 

Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1), PTTA karya Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo bersama

KOMPAS.com — Salah satu rencana presiden terpilih Joko Widodo adalah mengaplikasikan drone atau pesawat nirawak (UAV) untuk pemantauan. Rencana ini menuai reaksi positif dari banyak pihak. Namun, perencanaan tetap dibutuhkan.

Kompas.com menemui pakar radar dan pesawat nirawak dunia asal Indonesia, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, di Jakarta, Jumat (15/8/2014). Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University, Jepang, sejak 1 April 2013. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak.

Josh memberikan gagasan dan masukan tentang apa yang harus dipersiapkan sebelum memakai drone. Berikut petikan perbincangan dengan Josh.

Ilustrasi PTTA (Sumber : Kompas.com)

Presiden terpilih Joko Widodo rencananya memperkuat pertahanan dengan drone. Salah satu tujuannya untuk pemantauan laut. Bagaimana menurut Anda?
Ini sangat bagus karena pada dasarnya kita bisa mengurangi risiko kematian dari awak kapal atau petugas keamanan. Selain itu, kalau drone kita pergunakan setiap hari untuk pengawasan tapal batas, kan orang itu akan hitung-hitungan.Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia. 
Lalu, apa yang harus direncanakan oleh Indonesia ketika punya program menggunakan drone untuk pemantauan ini?
Hal lain yang mesti dipikirkan adalah undang-undang untuk keamanan menggunakan drone. Suatu saat, Indonesia kan akan berkembang, termasuk akan bertambah pesawatnya. Nah, ini kan dibutuhkan aturan.Tidak hanya di Indonesia, di Jepang pun permasalahan ini belum jelas dan sedang dibahas. Misalnya, tentang klasifikasinya, ukuran besar-kecilnya, ketinggian menerbangkan drone seperti apa dan di mana saja, harus kita perjelas dulu kebijakan itu.
Namanya pesawat kan ada jalurnya. Nah, sekarang agar dronedapat terbang sesuai pada titik yang kita inginkan harus ada sistem navigasinya. Sistem pengamanannya juga, bahkan di Indonesia alat-alat yang digunakan untuk teknologi drone masih impor. Semua harus diperjelas. Jalurnya harus jelas untuk keamanan. Begitu pula untuk keamanan pengoperasiannya.
Jepang dan Amerika saja belum memikirkan sampai di situ. Ya, kita tidak pesimistis sebenarnya. Akan tetapi, cobalah untuk memperbaiki hal-hal yang seperti itu. Untuk standardisasi dronejuga harus dipikirkan. Jadi, kita harus buat aturan yang jelas. Jika jalurnya tidak jelas, pesawat drone bisa menabrak kapal penumpang.
Nah, untuk mendukung ini, kita harus membuat teknologi sendiri. Jadi, kita tidak hanya bisa beli saja, tetapi juga memperjelas sistematika atau aturan mainnya dan dari drone itu sendiri.

Drone-nya sendiri?

Yang penting kita yang harusnya membuat teknologi itu. Sebab, dari segi keamanan, misalnya pengamanan data, kita sendiri yang kelola. Nah, kalau drone-nya kita ambil dari orang lain, kita tidak akan tahu secara penuh prosesnya. Setahu saya, ada delay satelit, yang mungkin saja ada perpindahan data dulu ke pembuat dan sebagainya. Agar terjaga keamanannya, teknologi kita harus buat sendiri. Selain itu, kita harus juga menyesuaikan drone yang dibuat dengan klasifikasi dan ciri yang ada di Indonesia. Drone yang kuat untuk alam Indonesia. Dibuatnya di Indonesia, risetnya juga harus di Indonesia. Kalau dari luar, belum tentu cocok.

Jadi, drone apa yang pas untuk keamanan di laut Indonesia?

Jadi, dari segi jangkauan, setidaknya harus menjangkau Zona Ekonomi Eksklusif. Jadi sampai batas itu, bisa bolak-balik. Jadi, enggak mungkin drone yang kecil, harus juga disesuaikan dengan kedalaman lautnya. Setiap jenis keamanan sangat bergantung dari besaran kedalaman laut. Jenis, kemampuan, jumlah dan biayadrone yang dibutuhkan sangat bergantung pada kedua hal itu.

Bagaimana efektivitas drone untuk pengamanan sebenarnya?

Jadi, pertama, drone itukan hanya sebatas mengetahui, bahwa oh di sini ada illegal logging, atau pengubahan tapal batas. Selama ini kan polisi laut kalau ada permasalahan langsung menembak atau lain sebagainya. Namun, drone posisinya tidak dapat untuk membuat tindakan bila ada permasalahan. Kalau tidak, malahdrone kita yang malah ditembak. Jadi, kita harus membuat jaringan pada UAV-nya, itu kan hanya warning-nya, nanti info dari drone disalurkan entah ke polisi laut, instansi keamanan laut terdekat. Sistem keamanan seperti itu juga mesti dipikirkan.

Harapannya untuk pengembangan?

Kalau pengembangan di Indonesia itu bergantung pada ahlinya. Ada yang pintar membuat frame, ada yang membuat sistem di dalamnya, mesin, bodi, dan sebagainya. Selama ini, semua bersaing. Nah, saya berpikir bahwa kita harus menyatukan itu agar lebih berkembang lagi dengan baik, jadi mempersatukan ahli di Indonesia. Ini pelik sekali. Banyak orang Indonesia yang hebat. Ini hal yang mesti diperbaiki, misalnya dengan membuat sebuah konsorsium atau apa pun bentuknya itu. Itu harus ada figur yang bisa mempersatukan dan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia karena sebenarnya kita mampu mengatasi beberapa kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dulu, mungkin ada figur seperti Habibie, tapi sekarang belum ada.


Josaphat Tetuko, Pakar Radar dan UAV Dunia Asal Indonesia

Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

KOMPAS.com — Dua matanya selalu berbinar, seakan memancarkan energi positif. Dialah Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, perekayasa radar dan pesawat nirawak asal Indonesia yang kini berkarya di Jepang.

Ditemui Kompas.com di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (15/8/2014) lalu, Josaphat berkisah tentang masa kecil, perjuangannya meniti karier, karya, serta mimpi yang masih dimiliki pada usianya yang menginjak 44 tahun. Selain berbincang tentang perjalanan hidupnya, ia juga memberikan pandangannya tentang gagasan drone yang diungkapkan Presiden terpilih Joko Widodo.

“Saya senang menatap mata orang ketika berbicara,” katanya. Mungkin seperti kata pepatah, mata adalah jendela hati. Dengan menatap mata, kepribadian dan isi hati seseorang bisa diketahui.

“Hal yang begitu menyedihkan ketika masih mendapati mata pemuda yang terlihat lesu, tatapannya kosong, seakan banyak masalah yang mesti dipikirkannya. Sempatkah mereka berpikir untuk dunia,” ujarnya.

Josh, demikian nama panggilannya, terlahir dari seorang ayah yang bekerja di TNI Angkatan Udara. Latar belakang keluarga ini menjadi salah satu faktor yang memupuk minatnya pada radar dan pesawat nirawak.

Pada umur empat tahun, Josh sudah diajak ke kantor ayahnya yang saat itu menjadi anggota Pasukan Gerak Tjepat TNI AU. Ia berkeliling markas militer, melihat ragam teknologi. Ia lalu menemukan dan jatuh cinta pada radar.

“Radar itu buatannya siapa? Buatan orang Indonesia, ya?” demikian ia sering bertanya. Sayangnya, jawabannya bukan. Dia pun kecewa. “Padahal, saya bangga kalau itu buatan orang Indonesia,” imbuhnya.

Kegemarannya berkeliling, mengamati, dan menghitung radar kerap menjadi bahan obrolan para tentara yang bertugas piket. Tak jarang, dia “diomeli” karena aktivitasnya yang mungkin mengganggu itu.

Beranjak dewasa, ternyata kecintaannya pada radar tak hilang. Lulus SMA, cita-citanya adalah mempelajari dan menciptakan radar. Ia melirik universitas yang menawarkan program aeronautika di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Beasiswa ke Jepang memang kemudian dikantongi. Sayangnya, bukan pada jurusan aeronautika, melainkan elektronika. Josh remaja sempat kecewa. Tetapi, ia pun mengambil kesempatan belajar elektronika itu.

Masuk ke Kanazawa University, impian Josh akan radar tak padam. Pada tingkat empat, ia mencari-cari pelajaran tentang radar. Ia pun menemukan mata kuliah yang berkaitan dengan radar, yaitu satelit dan keantariksaan.

Lulus tahun 1995, Josh menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil membuat radar bawah tanah. Pria yang kerap dijuluki “The Smiling Professor” ini pun melanjutkan studi tingkat master untuk memperdalam bidang radar.

Menempuh pendidikan tingkat doktoral, Josh mengambil bidang Synthetic Apperture Radar (SAR) di Center Environmental Remote Sensing. Di institusi itu, dia berkenalan dengan SAR. Di sana juga ia kini berkarya.

Gurita pendidikan

Seorang guru besar dari University of Illinois, Prof Em Wolfgang-Martin Boerner memberikan julukan “Academy of Octopus” atau gurita pendidikan kepada Josh. Julukan itu terkait dengan sepak terjangnya dalam radar.

Pada masa susah hidupnya di Jepang, Josh harus banyak meneliti agar bisa mendapatkan beasiswa. Ia akhirnya mendapatkan beasiswa tambahan dari Sato Yo Internasional Foundation. Sekarang, dia menjadi assessor di lembaga tersebut.

Saat mengenyam pendidikan doktoral, Josh rajin menulis paper. Hingga usia 25 tahun, Josh telah menghasilkan 16 paper. Jumlah itu tiga kali lebih banyak dari yang disyaratkan untuk menjadi seorang dosen. Alhasil, Josh pun mendapat banyak tawaran mengajar.

“Saya tidak menyangka rekrutmen staf pengajar di Jepang dinilai dari jumlah paper yang dibuat. Saya langsung diangkat menjadi dosen, tanpa melalui tingkat asisten dulu,” tuturnya.

Beberapa universitas yang memberikan tawaran mengajar ataupun menjadi staf antara lain Leicester University, Kanazawa University, serta Massachusetts Institute of Technology. Ia kemudian memilih di Chiba University, Jepang.

Sejak 1 April 2013, Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak.

Lebih dari itu, Josh juga mengepalai sebuah laboratorium di Jepang bernama Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL). Di sanalah ia melakukan rekayasa dan riset radar serta pesawat nirawak.

Salah satu karya Josaphat adalah pesawat nirawak Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1). Pesawat nirawak itu adalah yang terbesar di Asia, berukuran 6 meter serta dapat membawa sensor hingga seberat 30 kg.

Impian

Selain dosen dan perekayasa, Josh juga seorang filantropi. Sejak tahun 2002, bersama keluarganya, ia mendirikan yayasan pendidikan Pandito Panji Foundation. Nama yayasan itu diambil dari nama putranya sendiri.

Yayasan itu memberikan beasiswa penuh bagi anak-anak bangsa sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga master. “Untuk tingkat doktor, kita biarkan mereka untuk mencari dana sendiri agar mereka punya kebanggaan sudah membiayai dirinya sendiri,” tutur Josh.

Josh juga memberi kesempatan kepada orang Indonesia untuk mengenyam program pendidikan singkat di Jepang. Selain belajar, orang Indonesia juga diharapkan mengenal Jepang dengan kedisiplinan, ketekunan, dan kemanusiaannya walaupun relatif tak beragama.

Dana yayasan yang didirikan Josh di antaranya berasal dari uang pribadi. Ada satu impian Josh, yaitu agar orang Indonesia lebih maju. Ia juga bisa berperan bagi Indonesia meskipun tidak bekerja di Indonesia.

“Ini kesempatan saya memberikan banyak manfaat bagi anak-anak Indonesia untuk belajar di luar. Mudah-mudahan dalam 5-10 tahun ke depan, agen-agen saya ini bisa memperbaiki Indonesia. Saya kira bisa. Mungkin suatu saat juga ada pengganti saya,” harapnya.

Gemar mengumpulkan peta kuno, Josh juga mempunyai impian untuk mendirikan museum peta dan teknologi bila usianya menginjak 65 tahun nanti. Ia bercita-cita membangunnya di wilayah Narita. Di museum itu, ia berharap bisa menginspirasi orang lain dengan menunjukkan teknologi yang telah dibuatnya.

“Ini semacam time mark dalam hidup saya. Suatu saat akan bercerita tentang perjalanan hidup saya, tentang apa saja yang telah saya capai,” katanya.

Josaphat juga memimpikan Indonesia yang lebih baik dari saat ini. Menurut dia, Indonesia tidak bisa terus mengejar ketertinggalan, tetapi berupaya menjadi pemimpin. Salah satu pilarnya adalah lewat edukasi dan riset.

Catatan: artikel telah di-update untuk memperbaiki umur Josaphat, seharusnya 44, bukan 65.

Sumber : Kompas.com

jakartagreater.com
 Posted by on Agustus 21, 2014

  151 Responses to “Prof. Josaphat berkomentar tentang masalah “Drone””

  1.  

    ….sak karepmu Pak. Prof. kowe arep gawe opo, mbok dol mbek sopo, duite arep mbok gawe opo…

  2.  

    ajib

  3.  

    saya pernah mengikuti kuliah umum beliau…kagum dan bangga ada orang spintar dia…saya sih ngga heran dengan pemberitaan ini…beliau banyak berseberangan dengan para petinggi2 militer di indonesia…

    •  

      Yup itulah yg saya belajar dari beliau, di Jepang proposal beliau juga ada yg diterima oleh badan pertahanan pasukan bela diri Jepang, baik melalui Jaxa, dll… Hasilnya kita bisa lihat gimana militer Jepang, sampai ada yg digunakan untuk pesawat tempur.

      Itulah kenapa beliau di Indonesia tidak dihargai, sama seperti yg dilakukan Prof. Diran, Prof. Habibie, dan profesor lain2…. Kemarin ada pak Budiman yg saya salute karena bisa merangkul ilmuwan namun sekarang tidak lagi.

      •  

        sebenernya sebelum beliau jadi pns di jepang…beliau ini sempet mengerjakan suatu proyek untuk TNI bikin semacam rancangan radar guna kepentingan militer kita bang jalo….ntah karena apa rancangan tersebut ditolak mentah-mentah dan bahkan setelah itu beliau malah justru dikucilkan pada masa itu…nah dari situlah beliau ini “muntab” akhirnya studi lanjut ke jepang dan sampai sekarang dipekerjakan disana…

        •  

          kalau ngga salah waktu itu beliau menemukan banyak celah yang sangat merugikan dalam sistem radar kita…nah maka dari itu beliau mengajukan proposal tersebut…eehhh malahan ditolak mentah2 (waktu itu)
          saya yakin ada banyak aplikasi hasil studi dan penelitian beliau yang digunakan oleh militer jepang terutama dalam teknologi penginderaan…secara beliau ini ahli bgt soal radar…

          •  

            Iya bener bung Camova, saya pernah berdiakusi dengan beliau. proposalnya sangat menarik apalagi ada tambahan teknologi SAR yg diterapkan di teknologi radar. Makanya beliau gandeng Asri (asosiasi radar Indonesia) yg terkenal independensinya dibanding konsorsium yg dibuat dan diintervensi.

            Teori beliau ini sudah ada banyak negara yg ngejar dan tertarik tapi beliau belum berani melepasnya. Kalau teori tidka digunakan maka kata beliau lebih baik diajarkan ke anak bangsa. Jurnal yg beliau buat itu kereen banget, kalau tidak digunakan yah gak bisa ngomong apa2 lagi…

            Pasti bung mendengar cerita beliau masalah presentasi sewaktu di badan pertahanan kita. Yg saya salute, militer jepang sangat memuji beliau. Sekarang Malaysia sedang melobby beliau untuk membangun pertahanan negara mereka. Dan ada beberapa yg sedang dipertimbangkan, jika tercapai silahkan bedakan dengan punya kita.

            Drone yg beliau tawarkan masih sebagian kecil, tahun 2012 beliau mengutamakan negara kita sebagai pengguna pertama sayangnya yah begitu, 🙂

            Untung beliau orangnya murah senyum, dan insyallah tertular ke saya biar bisa tersenyum dengan kebijakan2 yg sekarang jalan. 🙂

          •  

            Beliau berhasil meretas dan cari kelemahan radar2 buatan barat, dan berhasil menyulapnya menjadi sangar. Makanya beliau banyak tawaran dari produsen radar, tapi beliau lebih memilih menjadi pengajar. 🙂

    •  

      Ok kita ambil kesimpulan, saya sedikit bercerita deh. Dulu kita sudah mau kembangkan badan sejenis Darpa atau lain2 gitu. Sejumlah ahli sudah disiapkan baik dari sipil dan militer. Namun, karena ada yg tidak mau di intervensi makanya lembaga itu hingga tidak bisa terlaksana.

      Padahal di luar untuk segala pengadaan alutsista angkatan bersenjatanya selalu menggunakan darpa sebagai mediator. Namun berbeda dengan negara kita, makanya jangan kaget jika pertahanan negara kita selalu penuh dengan pro-kontra. Contoh kasus adalah masalah panser anoa, reverse engineering rudal SA-75, dll…. Alhamdulillah sudah ada KKIP, tapi kekurangan itu selalu ada mudah2an lembaga ini tidak di intervensi, semoga…

      Maaf nih mau nulis background masalah ini cuman karena pake hp jadi gak panjang2…

      •  

        anyway…salam kenal bung jalo

      •  

        Jika mas Jalo punya jalur ke KKIP tolong dong di kenalin KKIP sama karya2nya Prof.Tetuko..saya yakin orang2 di KKIP itu mendukung Inhan dalam negeri. mumpung sebentar lagi KKIP pasti akan ada pertemuan dgn Presiden dan Wapres baru…

        •  

          hehehe…Prof. yang satu ini ga mungkinlah orang KKIP ga ada yang ngga tau….secara beliau ini kan orang “lama”. Tetap saja ada suatu permasalahan yang benar-benar kronis dalam tubuh penyelenggaraan pemerintahan kita jika banyak karya anak-anak bangsa yang “emejing” ini tidak digunakan dengan maksimal… ya itu tadi lho diatas “wani pio?, aku entuk opo?!” selama jargon ini masih melekat dengan para pengambil keputusan, ya repot bung…yang nikmatin karya-karya mereka malahan orang luar bukan bangsa kita!

        •  

          Thanks sudah dibantu jawab bung Camova….

          Bung tom, diatas sudah saya tulis beliau melakukan presentasi di badan pertahanan kita. Setiap rapat mendengar pendapat ahli itu seluruh yg berkepentingan pasti hadir salah satunya KKIP… 🙂

  4.  

    Pak endri Rachman,dulu selama 20 tahun lebih dihargai di malaysia,ketika pulang disini malah disia-siakan,sama halnya Ricky Elson yg rela pulang dipanggil dahlan iskan..

  5.  

    Produk dalam negeri itu pahit diawal manis dibelakang,contohnya ss1 pahitnya sdh lewat dan sekarang sdh mulai terasa manisnya. Kalau produk luar negeri manis duluan pahitnya belakangan. Contohnya pesawat f 16 ,sekarang enak diberi hibah tapi kalau sdh diembargo baru terasa pahitnya.so….,tinggal pilih

  6.  

    semua bepulang ke pemerintah dalam hal rule, coba buat aturan dulu untuk memaksa instansi dlam negeri paling tidak lebih berusaha untuk membuat dan mengutamakan produk lokal, hal yang bisa kita tiru dari India,jangan malu meniru india walau sdh telat 60 tahun.., rulenya bersifat memaksa,pasti berhasil sebagaimana dulu rule memaksakan gas 3 kg, walau penuh dengan hujatan dan kesulitan serta taruhan nyawa , toh akhirnya rakyat semuanya terbiasa, kayaknya masyarakat kita kalau dak dipaksa gak jalan ya..