Agu 212014
 

Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia. 

Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1), PTTA karya Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo bersama

KOMPAS.com — Salah satu rencana presiden terpilih Joko Widodo adalah mengaplikasikan drone atau pesawat nirawak (UAV) untuk pemantauan. Rencana ini menuai reaksi positif dari banyak pihak. Namun, perencanaan tetap dibutuhkan.

Kompas.com menemui pakar radar dan pesawat nirawak dunia asal Indonesia, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, di Jakarta, Jumat (15/8/2014). Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University, Jepang, sejak 1 April 2013. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak.

Josh memberikan gagasan dan masukan tentang apa yang harus dipersiapkan sebelum memakai drone. Berikut petikan perbincangan dengan Josh.

Ilustrasi PTTA (Sumber : Kompas.com)

Presiden terpilih Joko Widodo rencananya memperkuat pertahanan dengan drone. Salah satu tujuannya untuk pemantauan laut. Bagaimana menurut Anda?
Ini sangat bagus karena pada dasarnya kita bisa mengurangi risiko kematian dari awak kapal atau petugas keamanan. Selain itu, kalau drone kita pergunakan setiap hari untuk pengawasan tapal batas, kan orang itu akan hitung-hitungan.Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia. 
Lalu, apa yang harus direncanakan oleh Indonesia ketika punya program menggunakan drone untuk pemantauan ini?
Hal lain yang mesti dipikirkan adalah undang-undang untuk keamanan menggunakan drone. Suatu saat, Indonesia kan akan berkembang, termasuk akan bertambah pesawatnya. Nah, ini kan dibutuhkan aturan.Tidak hanya di Indonesia, di Jepang pun permasalahan ini belum jelas dan sedang dibahas. Misalnya, tentang klasifikasinya, ukuran besar-kecilnya, ketinggian menerbangkan drone seperti apa dan di mana saja, harus kita perjelas dulu kebijakan itu.
Namanya pesawat kan ada jalurnya. Nah, sekarang agar dronedapat terbang sesuai pada titik yang kita inginkan harus ada sistem navigasinya. Sistem pengamanannya juga, bahkan di Indonesia alat-alat yang digunakan untuk teknologi drone masih impor. Semua harus diperjelas. Jalurnya harus jelas untuk keamanan. Begitu pula untuk keamanan pengoperasiannya.
Jepang dan Amerika saja belum memikirkan sampai di situ. Ya, kita tidak pesimistis sebenarnya. Akan tetapi, cobalah untuk memperbaiki hal-hal yang seperti itu. Untuk standardisasi dronejuga harus dipikirkan. Jadi, kita harus buat aturan yang jelas. Jika jalurnya tidak jelas, pesawat drone bisa menabrak kapal penumpang.
Nah, untuk mendukung ini, kita harus membuat teknologi sendiri. Jadi, kita tidak hanya bisa beli saja, tetapi juga memperjelas sistematika atau aturan mainnya dan dari drone itu sendiri.

Drone-nya sendiri?

Yang penting kita yang harusnya membuat teknologi itu. Sebab, dari segi keamanan, misalnya pengamanan data, kita sendiri yang kelola. Nah, kalau drone-nya kita ambil dari orang lain, kita tidak akan tahu secara penuh prosesnya. Setahu saya, ada delay satelit, yang mungkin saja ada perpindahan data dulu ke pembuat dan sebagainya. Agar terjaga keamanannya, teknologi kita harus buat sendiri. Selain itu, kita harus juga menyesuaikan drone yang dibuat dengan klasifikasi dan ciri yang ada di Indonesia. Drone yang kuat untuk alam Indonesia. Dibuatnya di Indonesia, risetnya juga harus di Indonesia. Kalau dari luar, belum tentu cocok.

Jadi, drone apa yang pas untuk keamanan di laut Indonesia?

Jadi, dari segi jangkauan, setidaknya harus menjangkau Zona Ekonomi Eksklusif. Jadi sampai batas itu, bisa bolak-balik. Jadi, enggak mungkin drone yang kecil, harus juga disesuaikan dengan kedalaman lautnya. Setiap jenis keamanan sangat bergantung dari besaran kedalaman laut. Jenis, kemampuan, jumlah dan biayadrone yang dibutuhkan sangat bergantung pada kedua hal itu.

Bagaimana efektivitas drone untuk pengamanan sebenarnya?

Jadi, pertama, drone itukan hanya sebatas mengetahui, bahwa oh di sini ada illegal logging, atau pengubahan tapal batas. Selama ini kan polisi laut kalau ada permasalahan langsung menembak atau lain sebagainya. Namun, drone posisinya tidak dapat untuk membuat tindakan bila ada permasalahan. Kalau tidak, malahdrone kita yang malah ditembak. Jadi, kita harus membuat jaringan pada UAV-nya, itu kan hanya warning-nya, nanti info dari drone disalurkan entah ke polisi laut, instansi keamanan laut terdekat. Sistem keamanan seperti itu juga mesti dipikirkan.

Harapannya untuk pengembangan?

Kalau pengembangan di Indonesia itu bergantung pada ahlinya. Ada yang pintar membuat frame, ada yang membuat sistem di dalamnya, mesin, bodi, dan sebagainya. Selama ini, semua bersaing. Nah, saya berpikir bahwa kita harus menyatukan itu agar lebih berkembang lagi dengan baik, jadi mempersatukan ahli di Indonesia. Ini pelik sekali. Banyak orang Indonesia yang hebat. Ini hal yang mesti diperbaiki, misalnya dengan membuat sebuah konsorsium atau apa pun bentuknya itu. Itu harus ada figur yang bisa mempersatukan dan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia karena sebenarnya kita mampu mengatasi beberapa kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dulu, mungkin ada figur seperti Habibie, tapi sekarang belum ada.


Josaphat Tetuko, Pakar Radar dan UAV Dunia Asal Indonesia

Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

KOMPAS.com — Dua matanya selalu berbinar, seakan memancarkan energi positif. Dialah Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, perekayasa radar dan pesawat nirawak asal Indonesia yang kini berkarya di Jepang.

Ditemui Kompas.com di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (15/8/2014) lalu, Josaphat berkisah tentang masa kecil, perjuangannya meniti karier, karya, serta mimpi yang masih dimiliki pada usianya yang menginjak 44 tahun. Selain berbincang tentang perjalanan hidupnya, ia juga memberikan pandangannya tentang gagasan drone yang diungkapkan Presiden terpilih Joko Widodo.

“Saya senang menatap mata orang ketika berbicara,” katanya. Mungkin seperti kata pepatah, mata adalah jendela hati. Dengan menatap mata, kepribadian dan isi hati seseorang bisa diketahui.

“Hal yang begitu menyedihkan ketika masih mendapati mata pemuda yang terlihat lesu, tatapannya kosong, seakan banyak masalah yang mesti dipikirkannya. Sempatkah mereka berpikir untuk dunia,” ujarnya.

Josh, demikian nama panggilannya, terlahir dari seorang ayah yang bekerja di TNI Angkatan Udara. Latar belakang keluarga ini menjadi salah satu faktor yang memupuk minatnya pada radar dan pesawat nirawak.

Pada umur empat tahun, Josh sudah diajak ke kantor ayahnya yang saat itu menjadi anggota Pasukan Gerak Tjepat TNI AU. Ia berkeliling markas militer, melihat ragam teknologi. Ia lalu menemukan dan jatuh cinta pada radar.

“Radar itu buatannya siapa? Buatan orang Indonesia, ya?” demikian ia sering bertanya. Sayangnya, jawabannya bukan. Dia pun kecewa. “Padahal, saya bangga kalau itu buatan orang Indonesia,” imbuhnya.

Kegemarannya berkeliling, mengamati, dan menghitung radar kerap menjadi bahan obrolan para tentara yang bertugas piket. Tak jarang, dia “diomeli” karena aktivitasnya yang mungkin mengganggu itu.

Beranjak dewasa, ternyata kecintaannya pada radar tak hilang. Lulus SMA, cita-citanya adalah mempelajari dan menciptakan radar. Ia melirik universitas yang menawarkan program aeronautika di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Beasiswa ke Jepang memang kemudian dikantongi. Sayangnya, bukan pada jurusan aeronautika, melainkan elektronika. Josh remaja sempat kecewa. Tetapi, ia pun mengambil kesempatan belajar elektronika itu.

Masuk ke Kanazawa University, impian Josh akan radar tak padam. Pada tingkat empat, ia mencari-cari pelajaran tentang radar. Ia pun menemukan mata kuliah yang berkaitan dengan radar, yaitu satelit dan keantariksaan.

Lulus tahun 1995, Josh menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil membuat radar bawah tanah. Pria yang kerap dijuluki “The Smiling Professor” ini pun melanjutkan studi tingkat master untuk memperdalam bidang radar.

Menempuh pendidikan tingkat doktoral, Josh mengambil bidang Synthetic Apperture Radar (SAR) di Center Environmental Remote Sensing. Di institusi itu, dia berkenalan dengan SAR. Di sana juga ia kini berkarya.

Gurita pendidikan

Seorang guru besar dari University of Illinois, Prof Em Wolfgang-Martin Boerner memberikan julukan “Academy of Octopus” atau gurita pendidikan kepada Josh. Julukan itu terkait dengan sepak terjangnya dalam radar.

Pada masa susah hidupnya di Jepang, Josh harus banyak meneliti agar bisa mendapatkan beasiswa. Ia akhirnya mendapatkan beasiswa tambahan dari Sato Yo Internasional Foundation. Sekarang, dia menjadi assessor di lembaga tersebut.

Saat mengenyam pendidikan doktoral, Josh rajin menulis paper. Hingga usia 25 tahun, Josh telah menghasilkan 16 paper. Jumlah itu tiga kali lebih banyak dari yang disyaratkan untuk menjadi seorang dosen. Alhasil, Josh pun mendapat banyak tawaran mengajar.

“Saya tidak menyangka rekrutmen staf pengajar di Jepang dinilai dari jumlah paper yang dibuat. Saya langsung diangkat menjadi dosen, tanpa melalui tingkat asisten dulu,” tuturnya.

Beberapa universitas yang memberikan tawaran mengajar ataupun menjadi staf antara lain Leicester University, Kanazawa University, serta Massachusetts Institute of Technology. Ia kemudian memilih di Chiba University, Jepang.

Sejak 1 April 2013, Josh terdaftar sebagai profesor termuda di Chiba University. Ia telah menghasilkan radar, satelit, dan pesawat nirawak. Ia juga mengantongi 120 paten, 500 kali presentasi di banyak negara, serta profesor dengan dana terbanyak.

Lebih dari itu, Josh juga mengepalai sebuah laboratorium di Jepang bernama Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL). Di sanalah ia melakukan rekayasa dan riset radar serta pesawat nirawak.

Salah satu karya Josaphat adalah pesawat nirawak Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1). Pesawat nirawak itu adalah yang terbesar di Asia, berukuran 6 meter serta dapat membawa sensor hingga seberat 30 kg.

Impian

Selain dosen dan perekayasa, Josh juga seorang filantropi. Sejak tahun 2002, bersama keluarganya, ia mendirikan yayasan pendidikan Pandito Panji Foundation. Nama yayasan itu diambil dari nama putranya sendiri.

Yayasan itu memberikan beasiswa penuh bagi anak-anak bangsa sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga master. “Untuk tingkat doktor, kita biarkan mereka untuk mencari dana sendiri agar mereka punya kebanggaan sudah membiayai dirinya sendiri,” tutur Josh.

Josh juga memberi kesempatan kepada orang Indonesia untuk mengenyam program pendidikan singkat di Jepang. Selain belajar, orang Indonesia juga diharapkan mengenal Jepang dengan kedisiplinan, ketekunan, dan kemanusiaannya walaupun relatif tak beragama.

Dana yayasan yang didirikan Josh di antaranya berasal dari uang pribadi. Ada satu impian Josh, yaitu agar orang Indonesia lebih maju. Ia juga bisa berperan bagi Indonesia meskipun tidak bekerja di Indonesia.

“Ini kesempatan saya memberikan banyak manfaat bagi anak-anak Indonesia untuk belajar di luar. Mudah-mudahan dalam 5-10 tahun ke depan, agen-agen saya ini bisa memperbaiki Indonesia. Saya kira bisa. Mungkin suatu saat juga ada pengganti saya,” harapnya.

Gemar mengumpulkan peta kuno, Josh juga mempunyai impian untuk mendirikan museum peta dan teknologi bila usianya menginjak 65 tahun nanti. Ia bercita-cita membangunnya di wilayah Narita. Di museum itu, ia berharap bisa menginspirasi orang lain dengan menunjukkan teknologi yang telah dibuatnya.

“Ini semacam time mark dalam hidup saya. Suatu saat akan bercerita tentang perjalanan hidup saya, tentang apa saja yang telah saya capai,” katanya.

Josaphat juga memimpikan Indonesia yang lebih baik dari saat ini. Menurut dia, Indonesia tidak bisa terus mengejar ketertinggalan, tetapi berupaya menjadi pemimpin. Salah satu pilarnya adalah lewat edukasi dan riset.

Catatan: artikel telah di-update untuk memperbaiki umur Josaphat, seharusnya 44, bukan 65.

Sumber : Kompas.com

Bagikan:
 Posted by on Agustus 21, 2014

  151 Responses to “Prof. Josaphat berkomentar tentang masalah “Drone””

  1.  

    wew

    •  

      Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia.”

      kok pak tetuko nadanya kecewa gitu? apa user indonesia pesanya dikit ya ?atau kalah tender sama produk luar?

    •  

      Waktu ketemu ada yg keren dari omongan Pak Endri, “saya tidak ambil pusing dengan cercaan teman-teman atau masyarakat Indonesia terkait UAV yg saya buat. Kenyataannya Malaysia yg lebih menghargai saya dibanding dalam negeri.”

      Buat teman2 yg belum tahu, pesawat UAV ini 100% buatan anak Indonesia dan diklaim Malaysia sebagai PTTA buatan negeri jiran tersebut. Beliau buat perusahaan namanya PT GTSI dan ahlinya semuanya dari Indonesia tapi konsumennya semuanya dari luar Indonesia. Sampai sekarang belum ada tawaran langsung dari badan Pertahanan kita atau pemerintah kita.

      Thanks mengingatkan kembali saya dengan beliau. Saya belajar banyak dari pengalaman2 beliau, suksea terus Pak Endri..

      •  

        Betul bung Jalo, banyak ide-ide segar disampaikan, yang datang malah cercaan-cercaan, apalagi kalau politik ikut masuk (temasuk KKN), maka yang terjadi kerusakan fatal.

        yang paling ngeri adalah perusahaan plat merah, wuihh, ngeri sekali

    •  

      aku nek weruh ngene iki melu mumet..
      ikon cintailah produk indonesia cm sbg wacana saja..!!!!!

      semoga pemerintahan yg baru segera mengambil langkah bijak merangkul SDM yg bekerja di luar…

    •  

      nah ini dia yg saya maksud, saya tidak anti drone, tp klo baca artikel kemarin yg oleh tim transisi/apalah bilang mau beli 28 drone seharga 7-10jt usd per unitnya (+/- 3triliyun) apa ga sayang?

      ini yang saya harapkan, bikinan anak bangsa yang saya yakin tidak kalah kemampuannya tp lebih murah.
      semoga pemerintah baru menganggarkan dana lebih untuk riset serta pengembangan alutsista dlm negri, jaya terus NKRI!

  2.  

    Komen dulu ah…

  3.  

    weleh,
    pada cepet cepet bangets

  4.  

    pertamax

  5.  

    Lanjutkan pak prof

  6.  

    10 besarr…mantaff

  7.  

    Dukung terus dng kebijakan yang memihak industri dan riset dalam negeri. Hilangkan budaya wani piro aku oleh opo.

  8.  

    tulisan paling atas,,

    Tahun depan Malaysia akan menggunakan drone yang saya buat untuk mengawasi tapal batas Indonesia. Sayang sekali, pihak Malaysia akan membeli teknologi orang Indonesia untuk menjaga perbatasan keamanan Indonesia.

    apa bisa di tanam chip penyadap? hehehhe just kidding

    •  

      bisa jadi..bisa jadi..hehehe

    •  

      Gak perlu tanam chip, cukup kasih tau algoritma+source code nya ke anak2 ano, pasti ngaco tu layangan.

    •  

      Gak boleh gitu bung, dimata produsen kita harus menjaga imej di hati konsumen. Ngapain kita buat begitu, karya beliau aja tidak mendapat perhatian dalam negeri.

      •  

        bener sih bung, klo sampe ketauan di tempel alat penyadap, yang rugi, produsen sendiri,,

      •  

        Bung Jalo mungkin tahu, kenapa beliau tak diajak oleh pemerintah atau developer drone di sini?

        •  

          🙂

        •  

          Namanya kebutuhan militer itu saya lebih percaya anggota2 dibawah, saya sering ngobrol dengan mereka masalah kebutuhan apa yg belum terpenuhi dll. Saya sampai skrg kurang percaya dengan yg diminta pimpinan2. Kalau ke Papua dan Kalimantan harapan anggota bawah itu berbeda-beda.

          Yg paling kereen adalah, harapan anggota itu sama semua yaitu berharap yg mereka gunakan atau yg akan dipakai itu hasil karya anak bangsa. Coba aja tanya kalau ada kenalan anggota TNI yg berpangkat bawah. Sayang hal ini berbeda dengan yg diatas, 🙂

          •  

            Sy juga sama bung jalo…prajurit bawah adalah orang orang sederhana yg ingin mengabdikan dirinya sepenuh hati karena lingkungannya cuma teman senasib sepenanggungan,senjata dan barak…kalo atasannya lingkungannya sdh kosmopolitan bergaul jg dgn sipil yg sdh terkontaminasi pamrih dan status sosial…

            Bagi prajurit kembali dengan selamat dan penuh kebaggaan telah berhasil melaksanakan tugas sdh merupakan anugerah…bagi atasan lebih dari sekedar selamat dan berhasil dlm tugas…mereka butuh pengakuan seperti teori piramida kebutuhan tertinggi maslow…

            Itulah kenapa revolusi perwira muda mesir tahun 50 an dipelopori oleh perwira berpangkat kolonel kebawah…karena merekalah yg ikut merasakan penderitaan bersama anak buahnya…kalau atasannya sih biasa senang senang di atas penderitaan anak buah bersama rajanya si farouk doyan betina itu…dan rakyat mendukung mereka…

          •  

            Betul mas Jalo..betul sekali. Saya masih berharap panglima saya ada yang seperti Jenderal Sudirman..meskipun mustahil

          •  

            ada istilah semakin tinggi pohon semakin kuat angin menerpa .semakin tinggi jabatan semakin tinggi pula godaanya…. begitukah bung?

          •  

            seperti di Mesir … revolusi oleh kolonel ke bawah, bisa aja nih bung Jalo …

          •  

            itu sih sifat lazim orang dimari…dikantor swasta saja..kalo internal bikin proposal utk sesuatu ribet deh…dihantam kiri-kanan…tapi kalo trainer bawa barang yg sama dipoles dikit…dibumbui sdh sukses di LN..beh…itu acc cepet dipuji2 lagi…ternyata setelah gw lihat2 ini penyakit SMS(susah melihat orang sukses)..SMS(senang melihat orang susah)…krn intinya menghalangi bintang baru mengorbit..itu kelemahan bangsa kita…dan ternyata ongkosnya sangat mahal..hanya krn penyakit kejiwaan ini…Habibie jg dulu dihantam kiri-kanan …pokoke harus jatuh…akhirnya kita kjg yang nyesel…..Itulah Indonesia sob…tapi ada positifnya kalo orang berhasil di Indonesia…Insya Allah bersaing di LN mudah…rekan2 gw sdh membuktikannya…

  9.  

    mantab sekali..sebenarnya orang indonesia banyak pintar n jenius tergantung bagaimana bangsa ini memanage mereka agar tidak berkarya untuk orang lain..saatnya para ahli ini memajukan dan membangun Indonesia. Kita yakin bangsa kita mampu dan lebih baik dari negara lain dalam hal teknologi. Semoga lebih banyak tetuko-tetuko yang lain di negara ini..merdeka!!

  10.  

    Numpang lewat

  11.  

    walah..tepok jidat ane..nape sono duluan yg make buah karya prof ini ya..menyakitkan sekali baca kenyataan ini..begitulah klo pemikiran orang pinter tp ama yg di atas sono mikir gak perlu..sayang banget..semoga kedepan orang2 pintar negri ini hasil karyanya lebih dihargai di rumah sendiri..aamiin

  12.  

    ? ] Presiden terpilih Joko Widodo rencananya memperkuat pertahanan dengan drone. Salah satu tujuannya untuk pemantauan laut. Bagaimana menurut Anda?

    ! ] Ini sangat bagus karena pada dasarnya kita bisa mengurangi risiko kematian dari awak kapal atau petugas keamanan. Selain itu, kalau drone kita pergunakan setiap hari untuk pengawasan tapal batas, kan orang itu akan hitung-hitungan.

    Mumpung ada pakar drone, yang kontra ayo nimbrung…

    •  

      Dan yg palung penting, Drone buatan anak Indonesia akan digunakan mengawasi wilayah Indonesia. Karena pemerintah kita ogah. Saya pernah ketemu beliau saat membantu Asosiasi Radar Indonesia (Asri) mengembangkan radar2 canggih. Yg disayangkan beliau adalah riset yg dilakukan Asri itu asli dari kantong pribadi bukan dibantu oleh yg punya kebijakan. Dan yg miris adalah produk buatan Asri tidak mendapat perhatian penuh pemerintah. Karena kenyataannya yg diprioritaskan adalah membeli dari luar.

      •  

        berarti memang urang menyukai produk lokal yah bung jalo.
        apa pengaruh kualitas atau memang ada makelar yang ingin cari keuntungan yah,,,

        •  

          Ada 2 jawaban:
          1. Beli dari luar bisa gross up harganya (baca: mark up). Anda yg bekerja dibagian pengadaan barang pasti ngerti hal ini.
          2. Drone lokal dengan spek yg nanggung harganya dirasa masih mahal..ini akibat produksi yg terbatas. Lain kata kalau pemerintah langsung mesen 100 unit, harga produksi bisa ditekan, tp ya mustahil mesennya banyak

          •  

            1. selain mark-up ada jalan2 gratis ke LN. alasan: meninjau pabrik

            2. dulu pesanan pertama anoa oleh JK juga cukup banyak…

          •  

            Bertahap mas. Seiring penggunaannya kan tetap harus dikembangkan. Mas tau Anoa generasi pertama dulu seperti apa? Ga bagus seperti skrg mas. Sudah dikemudikan. Berat sebelah dan penuh masalah lainnya. Tapi saat itu Pak JK maksa harus tetap dikembangkan. Kalau tidak digunakan tidak akan pernah tau kelemahan dan kekuatannya dimana. Boeing 787 sampai skrg saja masih penuh masalah, tp beberapa airlines sudah antri beli. Tentunya boeing terus melakukan pengembangan. Bikin produk baru langsung sempurna itu tidak ada mas. Kalau ada, bisakah saya diberi pencerahan?

          •  

            Betul sekali Mas Danu. Padahal saat itu anoa penuh masalah tp Pak JK tetap maksa TNI harus pesan banyak. Biar duit pindad muter dan biaa digunakan untuk pengembangan anoa lebih lanjut

          •  

            thxs pencerahan nya sobat semua

          •  

            bung ARUL,

            kalau mau ngeledek belajar dulu yang banyak…

            …drone kita belum sampai pada tahapan militer/pertahanan,,,yah,,cuman sanggup mengawasi,mengecek,melihat saja…

            emang militer kerjanya hanya tembak2an, gak bawa rudal berarti bukan militer ?
            apa global hawk itu milik delta atau american airlines ?

            B-737 Surveiller TNI AU yang gede itu bawa senjata apa?

            http://2.bp.blogspot.com/_En-sxfOkXP8/SklPBfBV2VI/AAAAAAAACak/6j1HkW4roOc/s400/B-737+2×9.jpg

    •  

      baguslah untuk mantau… kasihkan pada polairut aja, lebih menghemat energi tuh. kalau untuk UCAV belom lah, cari yang battle proven aja deh, soalnya menyangkut pertahanan jadi tidak asal dran dron aja. Moga yang akuisisi dari Russia segera terlaksana.

    •  

      Begini bung Danu,,dengan tidak merendahkan drone dalam negeri kita (yang saya yakin belum 100% produk dalam negeri) dan tujuan yang dituju disini hanyalah “COST” bung,,bukan untuk tujuan militer,jangan d bandingkan dengan pesawat intai milik AS Global hawk dan boeing 737 survelillance ( yang memakai radar) bung,,karena untuk menciptakan drone berteknologi militer sangat rumit bung,,ada bahasa Instrumentasi dan Otomatisasi yang spesial,,makanya saya bilang tolong eksperimennya d perdalam dulu sampai mendekati “layak” untuk diproduksi massal,,,koq disini disangkut pautkan dengan penerbangan sipil? makanya pada artikel diatas masih dikembangkan sistem navigasi supaya tidak menabrak kapal/pesawat bung,,,jadi kesimpulan saya : Drone sah sah saja diliat tujuannya (sipil atau militet) kalau sipil saya rasa bagus karena mengejar cost,,sedang untuk militet tanpa didukung dengan GPS/teknilogi navigasi ya percuma bung,,jadi bulanan roket SAM jarak pendek,,analisa pribadi

      •  

        bung ARUL,

        sepakat bahwa endurance wulung masih harus ditingkatkan untuk PENGAWASAN zona ekonomi eksklusif sesuai saran prof josaphat, tapi pada kemampuan sekarang wulung sudah cukup untuk memantau illegal logging atau penggeseran patok perbatasan.

        masalahnya kalimat ini tidak benar,
        …drone kita belum sampai pada tahapan militer/pertahanan,,,yah,,cuman sanggup mengawasi, mengecek, melihat saja…

        drone intai/recon militer ya memang di sekitar itu aja misinya, mengawasi, mengecek, melihat.

        di artikel ini juga tidak disinggung tentang senjata yang harus ditenteng,
        http://www.bppt.go.id/index.php/tirbr/1972-peningkatan-prestasi-terbang-puna-wulung-bppt

      •  

        rudal SAM cerita lain bung,

        di masa damai TNI/polri berhak melakukan recon setiap hari sepanjang perbatasan di kalimantan dengan drone (asal tidak memasuki wilayah jiran).

        jika (sengaja) ditembak jiran dengan SAM, itu merupakan ‘act of war’ walau tentunya ada tahapan2 sebelum kedua pihak terlibat perang terbuka (al. fasilitas hotline antara petinggi militer kedua pihak).

    •  

      skuadron drone. Sudah disiapkan di pontianak. Jokowi tinggal melanjutkan. Tambah skuadron2 baru di sumatera. Jawa. Sulawesi. papua. NTT.

  13.  

    Dibeli sm m.sia…. mantaf, sisi positifnya TNI jd gak bingung2 cari antidotnya.

  14.  

    selamat berkarya pa prof. semoga menjadi pioneer kemajuan NKRI.

  15.  

    Ada kata-kata yg bagus dari beliau…

    “kita harus juga menyesuaikan drone yang dibuat dengan klasifikasi dan ciri yang ada di Indonesia. Drone yang kuat untuk alam Indonesia. Dibuatnya di Indonesia, risetnya juga harus di Indonesia. Kalau dari luar, belum tentu cocok.”

    “Banyak orang Indonesia yang hebat. Ini hal yang mesti diperbaiki, misalnya dengan membuat sebuah konsorsium atau apa pun bentuknya itu. Itu harus ada figur yang bisa mempersatukan dan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia karena sebenarnya kita mampu mengatasi beberapa kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya.”

  16.  

    Yaahhh,,,harus ada figur pemersatu para ahli indonesia,,,

    •  

      Percayakan kpd figur pemersatu, Jokowi-JK, bung…!!!!

      Tuh buktinya wlopun rival terus “memberontak”, bhkn sblm MK mengeluarkan keputusan pun, sang rival kembali “memberontak” dgn langkah2 provokatif kesana-kemari. Tp Jokowi-JK tetap dgn bijak dan kerendahan hatinya dgn kembali menegaskan, “Pak Prabowo (Si Wowok) adl sahabat kami”.
      Nice…

      Saatnya bersama presiden pilihan rakyat, Jokowi-JK, kita kembali bersatu, “MAJUKAN INDONESIA RAYA”!!!

      Keren kan bung jalo….

  17.  

    Affirmative 😈

  18.  

    Sayang sekali sdm yg begitu hebat tidak di manfaatkan pemerintah untuk kemajuan indonesia

  19.  

    Pokoknya drone buat Indonesia, harus buatan Indonesia sendiri, jangan beli dari luar terutama dari ASU

  20.  

    Ah pak Josaphat pada akhirnya mengerti bahwa tidak mudah menjadi Ahli tehnologi di Indonesia.

    Pemerintah masih belum mencapai taraf R&D Investment. Apalagi menyediakan wadah bagi tenaga ahlinya.
    Diluar negeri Banyak kok tenaga ahli dari Indonesia dan masih berstatus WNI.

    Hormat aku buat pak Josaphat.
    Tidak penting siapa yang menggunakan buah dari keahlian kita. Tetap berkarya seperti Mpu/Resi,

    •  

      Hehehehe, selamat datang lagi bung Brotosemedi, apakah kata2 ini sama dengan kerja diluar yg dilakukan bung Brotosemedi??

      “Pemerintah masih belum mencapai taraf R&D Investment. Apalagi menyediakan wadah bagi tenaga ahlinya.”

      Memang sekarang kita harus melakukan evaluasi terkait kenapa ahli kita lebih memilih bekerja diluar, padahal didalam negeri kita sangat membutuhkan tenaga mereka. Jawabannya cuman perbaiki dan berikan perhatian kepada R&D Investment, 🙂

      Prof. Surya yg masih menetap didalam negeri aja kurang serius mendapat perhatian apalagi teman2 diluar sana ya. Miris banget, 🙂

      Sukses terus disana bung…

      •  

        Mas Jalo,
        Kalau hemat saya memang demikian, Pak Jos bukan ilmuan Indonesia. Beliau sudah dikeluarkan dari LAPAN. Ternyata malah berjaya setelah digandeng oleh luar negeri terutama Jepang. Toh pak Jos bekerja sama dengan JAXA (semacam NASA di Jepang).

        Masalahnya tetap sama mas, pemerintah masih belum melihat keuntungan untuk membuat R&D investment. Lebih jauh, pemerintah lebih senang ToT dibanding R&D. Pingin yang lebih instant. Padahal kalau disejajarkan dan dibandingkan, prinsip ToT hanya melatih sebatas mekanik, sedangkan R&D menelurkan insinyur mesin. Misalnya begitu.

        Terima kasih, sama sama mas Jalo. Salam juga dari kami WNI di Boeing, Lockheed dan Raytheon.

        •  

          bung brotosemedi,saat ini mgkn para ilmuwan kita tidak mendapatkan tempat yg semestinya di negeri sendiri
          tapi suatu saat dimasa depan nanti,saya yakin Indonesia bisa memberikan yg terbaik untuk Ilmuwan ilmuwannya

          •  

            Mudah mudahan demikian. mas.
            Yang penting sekarang merubah anggapan bahwa R&D adalah buang uang secara muspro (kata orang jawa). 🙂

        •  

          Salam hormat saya juga Bung Brotosemedi dari saya dan masyarakat Indonesia buat teman-teman WNI disana. Kami salute dengan apa yg teman-teman perjuangkan disana.

          Iya bener, setelah sukses di Jepang yg saya salute sama beliau adalah tidak melupakan Lapan sebagai awal tempat beliau bekerja. Saat ini beliau bekerjasama Lapan membuat program pelatihan para ahli Lapan di Chiba University dan juga bekesempatan melakukan riset bersama di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL). Banyak yg akan dipelajari seperti masalah Synthetic Aperture
          Radar (SAR), pengideraan jauh, dan satelit. Saat ini beliau sedang berada di Bali mengajarkan anak bangsa kita tentang Symposium on
          Microsatellites for Remote Sensing (SOMIRES). SOMIRES adalah symposium yang membahas satelit2 yang beliau kembangkan saat ini untuk monitoring permukaan bumi. Bulan Oktober beliau akan membantu anak bangsa di Jogja melalui IJJSS dan November menjadi pembicara di acara ISAST yg diselenggarakan Lapan, Serpong.

          Seperti kita ketahui, JMRSL ini adalah salah satu laboratorium yang sangat populer di dunia. Di bawah JICA-JST ODA laboratorium Prof. Josh ini banyak membantu dunia salah satunya masalah isu global. 😀

    •  

      Kalau pengembangan di Indonesia itu bergantung pada ahlinya. Ada yang pintar membuat frame, ada yang membuat sistem di dalamnya, mesin, bodi, dan sebagainya. Selama ini, semua bersaing. Nah, saya berpikir bahwa kita harus menyatukan itu agar lebih berkembang lagi dengan baik, jadi mempersatukan ahli di Indonesia. Ini pelik sekali. Banyak orang Indonesia yang hebat. Ini hal yang mesti diperbaiki, misalnya dengan membuat sebuah konsorsium atau apa pun bentuknya itu. Itu
      ” harus ada figur yang bisa mempersatukan dan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia”
      karena sebenarnya kita mampu mengatasi beberapa kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dulu, mungkin ada figur seperti Habibie, tapi sekarang belum ada.

      apa bung jalo & bung brotosnemedi siap membantu menyatukan ahli” atau menjadi figur yang baru menggantikan Bpk Habibie hehehe… pisssss

      •  

        Mas Waynot,
        Saya melihatnya bukan tergantung dari para ahli tersebut mau membangun atau tidak. Kita seharusnya jujur bahwa tidak sedikit ahli Indonesia di luar yang mau membantu. Walau banyak yang sudah keenakan. hahaha… Tapi biar bagaimanapun, justru hakekat wadah ini harus jadi komitment pemerintah. Tanpa adanya komitmen ini ya sama saja dhagelan mas. 🙂

        Tidak mengurangi rasa hormat, coba kita bandingkan bagaimana BPPT membuat UAV kelas Wulung. Dibandingkan dengan buatan pak Jos. Padahal pemerintah justru mau membeli beberapa drones buatan luar negeri? Lha khan malah jadi dhagelan. Bolehlah membeli sekarang, tetapi tidak lupa untuk dibantu dan dibangun sumber sumber dalam negeri. Demikian maksud saya.

        Inilah yang saya ungkapkan didepan, beagaimana komitment pemerintah sendiri. Mudah mudahan beberapa Presiden RI kedepan memiliki pandangan berbeda.

        Tabik

  21.  

    Prof Josaphat ini pernah tinggal di komplek AURI Adi Sumarmo di blok Dirgantara, gak nyangka temen main waktu kecil sekarang sudah jadi ahli bikin Drone namun sangat disayangkan keahlian dan hasil karyanya justru terlebih dulu digunakan oleh bangsa asing. Kasus semacam ini bukan hanya satu, Prof Habibie salah satu putra terbaik bangsa yang dipanggil pulang ketanah air untuk membangun Industri pesawat terbang. Semoga Pemerintahan NKRI dan BUMN ke depan tidak hanya sekedar menyediakan beasiswa untuk belajar keluar negeri namun juga menyediakan lapangan kerja dan dukungan untuk implementasi keilmuan mereka.

  22.  

    mendingan drone dari asu lumayan kanan kiri 2,5% . proyek proyek

  23.  

    Peluang emas untuk calon pemerintah yang baru menggandeng beliau.Salah satu capres berkata “kita akan membeli” ,ditepis oleh fihak AU “kita sudah bisa bikin”.lah usernya sj manut2 wae mau beli kek mau bikin sendiri kek yg penting barangnya ada sekaligus bisa langsung dipakai.Kata bung satrio,belajar embargo diri sendiri selagi kita mampu bikin yah kita bikin sendiri.Thn 2020-2050 adalah perang drone dan perang pesawat siluman.Masihkah kita terus mengimpor Alutsista?

  24.  

    Lagi2… sma kya upin-ipin buatan indonesia di jual ke malay dan di buat jd kartun kebanggan malay…..dan skarang uav buatan indonesia di jual ke malaysia..

    Maaf komen nya acak kadul…..newbie soalnya
    Salam….

    •  

      Upin-ipin itu aseli malaysia hanya merekrut 1-2 orang Indonesia. Sebel boleh, Benci negara lain pun tidak dilarang, tapi kalo ngaku-ngaku produk luar sebagai milik sendiri APA BEDANYA Kita ma Negara Maling seperti yang sering kita teriakkan???

  25.  

    ” Banyak orang Indonesia yang hebat. Ini hal yang mesti diperbaiki, misalnya dengan membuat sebuah konsorsium atau apa pun bentuknya itu. Itu harus ada figur yang bisa mempersatukan dan pengelolaan sumber daya manusia di Indonesia karena sebenarnya kita mampu mengatasi beberapa kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya. Dulu, mungkin ada figur seperti Habibie, tapi sekarang belum ada ”

    Kalau soal beginian bisa dicoba Pak Dahlan Iskan..

    •  

      heh, pak dahlan bikin mobil listrik pake biya sendiri aja, peraturan tentang mobil listrik aja gak2 keluar, sampe nekad make tucuxi tanpa izin buat uji coba. itu menteri loh,,emang lobi mafia sangat kuat..

  26.  

    hebat Pak Yosaphat…untuk keperluan sipil dan pemantauan wilayah perbatasan bagus

  27.  

    Iya sich coba diliat,,itu foto kayaknya d ambil di Jepang,,apakah itu murni d patenkan oleh OI atau kerjasama ama orang Jepun yah,,masih jauh dari harapan ketika membaca komponen masih banyak yang import,,bukankah ini dimunculkan ketika capres kita gembar-gembor pesawat drone,,,ya saat ini masih kita dukung sepanjang positif buat bangsa kita,,sementra disempurnakan dulu lah dengan riset yang benar matang,,,,,

    •  

      alangkah baiknya jika riset sambil jalan bung jadi kita pakai uav/ucav yg lg di kembangkan sekarang dengan segala kekurangannya sambil kita memperbaiki kelemahan” yang ada dan menambahkan yang perlu di tambah,sematang apapun risetnya jika tidak di pakai sama saja karena kita tidak akan tau kekurangan yang terjadi dilapangan

  28.  

    Drone memang butuh…tp itu tidak sampai 1% dr esensi pertahanan…jd gak usah di besar besarin lah….karuan siapin dana buat pengadaan komponen cadangan dan komponen pendukung yg lebih punya efek gentar daripada sekedar alat pengawas perbatasan (kalo gak boleh sy sebut tulang punggung karena ibarat menampar semua ajaran ahli strategi militer dunia)

  29.  

    Miris bung…. orang indonesia yang bikin trus yang make orang malaysia………..sungguh terlalu.

  30.  

    Drone !!

  31.  

    Ayo mulai sekarang & dri diri sndri dulu AKU CINTA PRODUK2 INDONESIA (bkn mas…. ya? ha3x).

  32.  

    hari ini diacara laptop si Unyil Dibahas pembuatan Dron LSU Lapan

  33.  

    Bukan masalah buatan dalam negeri atau luar negeri, atau buatan anak negeri atau orang asing, esensinya adalah fungsi dan strategisnya dalam upaya pertahanan bangsa yang selalu dinamis. Dan saya percaya TNI lebih tahu keadaan yang sebenarnya, apakah ketika pengadaan UAV/UCAV dari luar itu karena memang keadaan sudah sangat kritis sehingga harus cepat dan segera ada barangnya. Sambil menunggu hasil R & D di dalam negeri, pengadaan dari luar diadakan dan nyatanya kondisi keamanan di Republik ini selama 10 tahun kepemimpinan pak SBY relatif stabil.
    Padahal hoaxnya tahun 2004 dan 2005 kita diserang tuh ama tetangga dan siberat, itukan awal pemerintahan pak SBY to? yang terpenting adalah janganlah kita ingin karya kita dihargai oleh orang lain dengan banyak duit tetapi menafikan rasa cinta tanah air. Bukankah kita tidak rela jika negara ini hancur karena karya kita yang dibeli bangsa lain yang memerangi kita? Dan saya percaya orang seperti Profesor ini jangan pernah diragukan nasionalismenya, sudah ada barangnya disini kok, hehehe… maaf oot… 😀

    •  

      Saya punya cerita nih….

      Jadi ceritanya awal tahun lalu, ada pertemuan membahas masalah pertahanan. Disitu dijelaskba masalah alutsista yg cocok untuk negeri kita, dan disiti dijelaskab bahwa kita belum bisa membuat ini membuat itu. Istirahat makan siang, saya akhirnya punya kesempatan berdiakusi dengan beberapa pejabat. Disitu saya jelaskan kata beliau kita tidak bisa tapi kenyataannya penelitian itu sudah jalan, saya menjelaskan masalah salah satu alutsista yg kita buat. Dan yg saya heran beliau tidak tahu kalau ada penelitian masalah itu. Akhirnya saya sedikit emosi lalu saya bilang,

      “Lah bapak yg berwenang dan memiliki kebijakan dengan masalah ini tidak tahu apa yg sudah kita buat,” lalu saya jelaskan basic konsepnya dan coba meminta pandangan beliau tapi bener2 saya yakin beliau tidak mengetahui dasar teknologi yg saya jelaskan ini.

      Lalu saya jelaskan masalah berbagai penelitian yg kita buat ini, dan akhirnya beberapa pejabat ikut terlibat dalam diakusi ini. Dan yg buat saya sakit hati adalah mereka tidak tahu kalau kita punya penelitian yg begini dan saya yakin pasti mereka tidak membuka berkas2 mereka.

      Lalu saya diskusi masalah uang lauk pauk anggota yg banyak dipotong, saat menjelaskan para pejabat ini pun pergi satu demi satu katanya ada rapat sudah mau mulai lagi. Padahal masih ada waktu 30 menitan sebelum rapat berakhir.

      •  

        wani piro, aku oleh opo adalah hasil didikan era orde baru dan mirisnya saat sekarang banyak menduduki jabatan penting. Makanya tdk usah heran kenapa kelihatannya pemerintah selalu tertinggal dlm hal pemikiran,wawasan dan pertimbangan dlm mengambil keputusan strategis. terasa sekali hasil output kebijakan yang dihasilkan, tidak sinkron dengan kebutuhan strategis saat ini. sekali lagi krn dilandasi oleh motivasi wani piro atau aku oleh opo. cuma bisa ngelus dada miris.com

      •  

        Loh,itu buruk kok dilanjutkan? Wah anda gk suka klo indonesia maju ya bung?!!!!
        Parah nih anda,diam diam punya agenda merusak mental putra putri bangsa

  34.  

    Kalau hanya untuk mencegah ilegal logging or Fishing menurut saya foto citra satelit udah cukup?. tapi yang jadi masalah satelitnya udah dijual budenya mas Jokowpret. Malah tim transisinya udah siap”mau beli puluhan drone tanpa koordinasi dg Usernya. Tiap drone harganya terbilang tidak murah terkesan sudah ada pesanan pihak luar sebelum pilpres. mohon dikoreksi jika salah.

  35.  

    Kenapa ya, media banyak memberitakan ahli2 Indonesia yang ada di luar negri, padahal banyak ahli Indonesia yang mungkin setara atau lebih baik keahliannya, tapi mereka lebih memilih bekerja di Indonesia melalui BPPT, LAPAN, PT. DI, dll. Dengan dana dan gaji alakadarnya, dan mereka tidak memilih jabatan di Universitas atau perusahaan terkenal di luar negri. Salut buat para peneliti Indonesia yang ada di Indonesia, mereka patut dapat bintang. Hehe.

  36.  

    Wani piro aku oleh opo?

  37.  

    mungkin ini yang di sebut mental tempe…
    bukan rakyat RI yg mentalnya seperti tempe tapi pemerintahan dan pejabatnya..
    harus di benahi mental para pejabatnya agar RI semakin berjaya.

  38.  

    Ini nich si pendukung drone kita,,,,,baru muncul bung jok,,,salam

  39.  

    eman-eman yah gak dipake TNI

  40.  

    artikel ini menjadi satu lagi contoh bahwa banyak Warga Indonesia yg Cerdas di Negeri ini tapi sayang oleh pemerintah kita sendiri kurang dihargai hasil karyanya dengan berbagai alasannya utk menolak hasil karya anak negeri ini…bila mereka lebih memilih berkarir di luar negeri dan mereka sukses dinegeri orang, mereka dicap tidak setia kepada Tanah Airnya sendir….sungguh ironis memang

  41.  

    Selamat berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian tentang UAVnya..
    https://www.youtube.com/watch?v=VETFFYo92e4

  42.  

    Pnh kecewa berat karena banyak ketidak adilan dalam pemerintahan hingga seperti menyesal dilahirkan di Indonesia.. Tp setelah lama jadi sr di warjag. Rasa bangga d lahirkan d indonesia n jadi orang indonesia tumbuh pesat kembali. Terimakasih warjagers atas semuanya.. Ws pokoknya demi kejayaan NKRI harga mati.

  43.  

    Kowe arep nggawe opo ?? Alaahh, paling ra mutu. Nek kowe pngen iso nggawe, aku oleh opo ? Wani piro ??

  44.  

    Masalahnya masyarakat kita masih takut dengan segala macam isu radioaktif dan bocornya reaktor nuklir. Dan hal ini juga diperkeruh oleh para pengusaha yang merasa dirugikan oleh adanya pembangkit listrik tenaga nuklir dan mereka akan terus menolak dengan berbagai macam alasan.

    Siapa pengusaha-pengusaha ini? yang pastinya kalau ada Pembangkit tenaga nuklir, otomatis kebutuhan listrik dalam negeri akan mendapat pasokan yang cukup signifikan, sehingga PLN akan semakin sedikit menggunakan bahan bakar fosil.

    Mengertikan maksud saya? eheheh

    * maaf hanya opini pribadi dan tidak bermaksud menyinggung siapapun.

  45.  

    Gillaaaaa Looo DRONE….!!!

  46.  

    ….sak karepmu Pak. Prof. kowe arep gawe opo, mbok dol mbek sopo, duite arep mbok gawe opo…

  47.  

    ajib

  48.  

    saya pernah mengikuti kuliah umum beliau…kagum dan bangga ada orang spintar dia…saya sih ngga heran dengan pemberitaan ini…beliau banyak berseberangan dengan para petinggi2 militer di indonesia…

    •  

      Yup itulah yg saya belajar dari beliau, di Jepang proposal beliau juga ada yg diterima oleh badan pertahanan pasukan bela diri Jepang, baik melalui Jaxa, dll… Hasilnya kita bisa lihat gimana militer Jepang, sampai ada yg digunakan untuk pesawat tempur.

      Itulah kenapa beliau di Indonesia tidak dihargai, sama seperti yg dilakukan Prof. Diran, Prof. Habibie, dan profesor lain2…. Kemarin ada pak Budiman yg saya salute karena bisa merangkul ilmuwan namun sekarang tidak lagi.

      •  

        sebenernya sebelum beliau jadi pns di jepang…beliau ini sempet mengerjakan suatu proyek untuk TNI bikin semacam rancangan radar guna kepentingan militer kita bang jalo….ntah karena apa rancangan tersebut ditolak mentah-mentah dan bahkan setelah itu beliau malah justru dikucilkan pada masa itu…nah dari situlah beliau ini “muntab” akhirnya studi lanjut ke jepang dan sampai sekarang dipekerjakan disana…

        •  

          kalau ngga salah waktu itu beliau menemukan banyak celah yang sangat merugikan dalam sistem radar kita…nah maka dari itu beliau mengajukan proposal tersebut…eehhh malahan ditolak mentah2 (waktu itu)
          saya yakin ada banyak aplikasi hasil studi dan penelitian beliau yang digunakan oleh militer jepang terutama dalam teknologi penginderaan…secara beliau ini ahli bgt soal radar…

          •  

            Iya bener bung Camova, saya pernah berdiakusi dengan beliau. proposalnya sangat menarik apalagi ada tambahan teknologi SAR yg diterapkan di teknologi radar. Makanya beliau gandeng Asri (asosiasi radar Indonesia) yg terkenal independensinya dibanding konsorsium yg dibuat dan diintervensi.

            Teori beliau ini sudah ada banyak negara yg ngejar dan tertarik tapi beliau belum berani melepasnya. Kalau teori tidka digunakan maka kata beliau lebih baik diajarkan ke anak bangsa. Jurnal yg beliau buat itu kereen banget, kalau tidak digunakan yah gak bisa ngomong apa2 lagi…

            Pasti bung mendengar cerita beliau masalah presentasi sewaktu di badan pertahanan kita. Yg saya salute, militer jepang sangat memuji beliau. Sekarang Malaysia sedang melobby beliau untuk membangun pertahanan negara mereka. Dan ada beberapa yg sedang dipertimbangkan, jika tercapai silahkan bedakan dengan punya kita.

            Drone yg beliau tawarkan masih sebagian kecil, tahun 2012 beliau mengutamakan negara kita sebagai pengguna pertama sayangnya yah begitu, 🙂

            Untung beliau orangnya murah senyum, dan insyallah tertular ke saya biar bisa tersenyum dengan kebijakan2 yg sekarang jalan. 🙂

          •  

            Beliau berhasil meretas dan cari kelemahan radar2 buatan barat, dan berhasil menyulapnya menjadi sangar. Makanya beliau banyak tawaran dari produsen radar, tapi beliau lebih memilih menjadi pengajar. 🙂

    •  

      Ok kita ambil kesimpulan, saya sedikit bercerita deh. Dulu kita sudah mau kembangkan badan sejenis Darpa atau lain2 gitu. Sejumlah ahli sudah disiapkan baik dari sipil dan militer. Namun, karena ada yg tidak mau di intervensi makanya lembaga itu hingga tidak bisa terlaksana.

      Padahal di luar untuk segala pengadaan alutsista angkatan bersenjatanya selalu menggunakan darpa sebagai mediator. Namun berbeda dengan negara kita, makanya jangan kaget jika pertahanan negara kita selalu penuh dengan pro-kontra. Contoh kasus adalah masalah panser anoa, reverse engineering rudal SA-75, dll…. Alhamdulillah sudah ada KKIP, tapi kekurangan itu selalu ada mudah2an lembaga ini tidak di intervensi, semoga…

      Maaf nih mau nulis background masalah ini cuman karena pake hp jadi gak panjang2…

      •  

        anyway…salam kenal bung jalo

      •  

        Jika mas Jalo punya jalur ke KKIP tolong dong di kenalin KKIP sama karya2nya Prof.Tetuko..saya yakin orang2 di KKIP itu mendukung Inhan dalam negeri. mumpung sebentar lagi KKIP pasti akan ada pertemuan dgn Presiden dan Wapres baru…

        •  

          hehehe…Prof. yang satu ini ga mungkinlah orang KKIP ga ada yang ngga tau….secara beliau ini kan orang “lama”. Tetap saja ada suatu permasalahan yang benar-benar kronis dalam tubuh penyelenggaraan pemerintahan kita jika banyak karya anak-anak bangsa yang “emejing” ini tidak digunakan dengan maksimal… ya itu tadi lho diatas “wani pio?, aku entuk opo?!” selama jargon ini masih melekat dengan para pengambil keputusan, ya repot bung…yang nikmatin karya-karya mereka malahan orang luar bukan bangsa kita!

        •  

          Thanks sudah dibantu jawab bung Camova….

          Bung tom, diatas sudah saya tulis beliau melakukan presentasi di badan pertahanan kita. Setiap rapat mendengar pendapat ahli itu seluruh yg berkepentingan pasti hadir salah satunya KKIP… 🙂

  49.  

    Pak endri Rachman,dulu selama 20 tahun lebih dihargai di malaysia,ketika pulang disini malah disia-siakan,sama halnya Ricky Elson yg rela pulang dipanggil dahlan iskan..

  50.  

    Produk dalam negeri itu pahit diawal manis dibelakang,contohnya ss1 pahitnya sdh lewat dan sekarang sdh mulai terasa manisnya. Kalau produk luar negeri manis duluan pahitnya belakangan. Contohnya pesawat f 16 ,sekarang enak diberi hibah tapi kalau sdh diembargo baru terasa pahitnya.so….,tinggal pilih

  51.  

    semua bepulang ke pemerintah dalam hal rule, coba buat aturan dulu untuk memaksa instansi dlam negeri paling tidak lebih berusaha untuk membuat dan mengutamakan produk lokal, hal yang bisa kita tiru dari India,jangan malu meniru india walau sdh telat 60 tahun.., rulenya bersifat memaksa,pasti berhasil sebagaimana dulu rule memaksakan gas 3 kg, walau penuh dengan hujatan dan kesulitan serta taruhan nyawa , toh akhirnya rakyat semuanya terbiasa, kayaknya masyarakat kita kalau dak dipaksa gak jalan ya..

 Leave a Reply