Apr 242014
 

“Tanah air adalah tanah air kepulauan, tanah air yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang dipisahkan satu dari yang lain oleh samudera-samudera dan lautan-lautan. Tanah air kita ini adalah ditakdirkan oleh Allah SWT terletak antara dua bernua dan dua samudera. Maka bangsa yang hidup di atas tanah air yang demikian itu hanyalah bisa menjadi satu bangsa yang kuat jikalau ia jaya bukan saja di lapangan komunikasi darat, tetapi juga di lapangan komunikasi laut dan di dalam abad 20 ini, dan seterusnya di lapangan komunikasi udara,”

Berikut adalah bagian dari pidato Presiden pertama kita, Soekarno atau biasa disebut Bung Karno yang berjudul “Meng-Garudalah di Angkasa” pada perayaan hari jadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI – sekarang TNI AU) pada 9 April 1951. Dari pidato beliau, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) RI mengirimkan puluhan pemuda-pemudi bangsa kita ke Eropa untuk mempelajari ilmu teknik penerbangan dan perkapalan.

Pengiriman pelajar ini terbagi menjadi tiga gelombang, yaitu :

  1. Gelombang pertama ke Belanda (1951-1954)
  2. Gelombang kedua ke Jerman Barat (1954-1958)
  3. Gelombang ketiga ke Cekoslowakia dan Uni Soviet (1958-1962)

Pada tahun 1952, seorang remaja berusia 18 tahun bernama Oetarjo Diran mengirimkan surat kepada Depdikbud menyampaikan ketertarikannya belajar ilmu Aerodinamika di Belanda. Beliau pun mengikuti berbagai seleksi, sambil menunggu Diran kuliah di ITB jurusan Teknik Mesin selama kurang lebih enam bulan.

Tak berapa lama, Dikti Depdikbud RI mengumumkan bahwa Diran dinyatakan lulus dan dapat diberangkatkan ke Belanda. Selama 5 tahun belajar di Departemen Teknik Penerbangan, Tchnische Hoogeschule Delft, Belanda, beliau berhasil mendapatkan gelar ingenieur (ir). Tahun 1960, beliau melanjutkan studi S2 di Aerospace Enginering, Purdu University, Amerika Serikat. Setelah mendapatkan gelar Master of Science in Aerospace Engineering (MSAE) beliau kembali kembali ke tanah air untuk mengajar putra-putri bangsa.

Pria yang biasa di panggil Pak Diran ini lahir pada 20 Februari 1934 di Ciamis. Setelah kembali dari Amerika Serikat, beliau mendirikan Teknik Penerbangan pada tahun 1962 bersama Ken L. Laheru. Pada 1968, beliau berangkat ke Jerman Barat dan bekerja sebagai Kepala Theoretical Aerodynamics Group di Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB) hingga tahun 1972. Kemudian beliau belajar lagi pada tahun 1973 di Institute dor Theoretical Physics, Italia.

Dr. Ken L. Laheru

Beliau pernah menjadi Wakil Direktur teknologi di IPTN (sekarang PT. DI) sekitar tahun 1978 dan 1984. Pada 1980, Pak Diran menjadi Chief Engineer untuk program perancangan dan pengembangan pesawat CN-235 di IPTN. Beliau pernah menjadi ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, Departemen Perhungan RI pada 1996. Belaiu pernah terlibat aktif dalam tugas-tugas di TNI AU, LAPAN, Depdikbud RI, Sesko AU, BPPT, ICAS, dan DSKU.

Sebenarnya masih banyak lagi pengelaman beliau, tapi karena takutnya kepanjangan ok kita langsung aja. Pada tahun 1962, Presiden Soekarno secara resmi mengeluarkan Surat Keputusan 9SK) pendirian sub-jurasan Teknik Penerbangan di bawah Teknik Mesin, di samping juga pendirian Teknik Konstruksi dan Teknik Industri. Pak Diran adalah pemimpin pertama Sub-Jurusan Teknik Penerbangan dari 1962-1968.

Roket Kartika -Hasil pengembangan ITB dan ABRI

Dari berbagai ilmu yang didapat di luar negeri dan segudang pengalaman, Pak Diran dengan tulus mengharumkan nama bangsa kita di dunia internasional salah satunya seperti cerita dibawah. Lalu dari ilmu-ilmu yang diberikan Alhamdulillah banyak sejumlah nama anak bangsa yg berprestasi seperti Prof. Dr. Ir. Sulaeman Kamil (salah satu engineer CN-235, dll) , Prof. Ir. Said Djauharsjah Jenie, Sc. D. (Kepala Pusat Uji Terbang untuk Program N-250, dll), Ir. Sulistyo Atmadi, MSME (Peneliti Utama LFX, dll), Dr. Yogi Ahmad Erlangga  (cerita beliau dibawah), dll.

Beliau juga banyak membantu mahasiswanya agar bisa mengenyam kuliah lebih lanjut di luar negeri agar bangsa kita bisa mengejar ketinggalan. Beliau adalah sosok sederhana yang sedikit bicara tapi banyak berkarya. Ada yg menyebut belaiu sebagai “Provocative Educator”, semua dilakukan beliau agar anak didiknya berhasil dan sukses.

Pak Diran wafat pada 18 September 2013 di Rumah Sakit di Jakarta dan beliau dimakamkan di TPU di wilayah Bekasi. Selamat Jalan pak Diran, Semoga Ilmu yang diajarkan akan terus menjadi Amal Jariah yang mengalir terus hingga Akhir jaman. Menurut saya, seharusnya beliau dimakamkan di taman makam pahlawan, karena banyak sekali jasa beliau untuk tanah air kita ini. 🙁

Ini salah satu pengalaman yang ditulis oleh beliau…

The Winner Takes All
Ada beberapa anekdot pembelajaran dalam pengembangan CN-235. Ketika saya akan ikut Construcciones Aeronáuticas SA, kini bernama EADS-CASA), saya membaca dua buku di antara sekian banyak informasi yang saya kumpulkan. Buku pertama adalah tentang Don Quixote (judul aslinya: The Ingenious Gentleman Don Quixote of La Mancha) karangan penulis Spanyol Miquel de Cervantes. Buku kedua adalah tentang seni bernegosiasi, yaitu Tell the Truth but Not the Whole (pengarangnya lupa).

Yang paling saya ingat adalah sifat ’quixotic’ dari Don Quixote. Menschbild (profil) ini yang selalu menyertai saya dalam negosiasi-negosiasi teknis dan non teknis dengan teman-teman dari CASA, seperti Jose Lupis Ruis (Chief Program Engineer CN-235) dan Juan Portez (Chief Design Engineer CN-235). Sifat ’quixotic’ ini juga menyertai saya dalam menghadapi penyalur-penyalur komponen dari Perancis, Inggris dan Amerika Serikat, yang budaya dan falsafahnya lebih saya mengerti pada waktu itu. Orang Perancis yang pakar teknologi dan pandai jualan; manusia Inggris yang kaku tapi adil (stiff-upper-lift but fair); dan orang Amerika yang berani ambil keputusan berdasar perhitungan risiko (calculated risk decisions) namun tetap bersahabat (folksy).

Mengapa saya tulis kalimat-kalimat di atas ini? Saya terpengaruh sikap Field Marshal Bernard Law Montgomery of Alamein (1887-1976), panglima The Desert Rats (British Army), dalam menghadapi Jenderal Rommel dari korps Afrika dalam pertempuran-pertempuran di Afrika Utara. Montgomery menempelkan foto-foto, peta-peta, anekdot, risalah-risalah strategi dan taktik pribadi Rommel, termasuk kehidupan keluarganya. Montgomery berkata, “Saya harus dapat menempatkan saya dalam karakter dan perilaku lawan, agar dapat mengerti kelemahan dan kekuatan-kekuatannya”. Dalam menentukan strategi pertempuran saya berfikir sebagai Rommel (strategi dan taktik pertempuran), sekaligus sebagai Montgomery (perlawanan).

Kembali ke Getafe, Spanyol, di mana negosiasi bertele-tele tentang pembagian tugas dan tanggungjawab kerja dalam satu kolaborasi teknik yang rumit tanpa pengalaman di pihak Indonesia. Dengan berbagai persyaratan, tuntutan kepentingan nasional Indonesia dan Spanyol sering bertentangan. Seperti pertempuran, mungkin. Mundur atau bertahan; strategis atau mundur taktis untuk maju dan menyerang. Cari, temukan dan manfaatkan kelemahan dan kekuatan lawan. Banyak kesalahan dan kekhilafan yang mungkin telah kita lakukan. Kesepakatan dan kontrak-kontrak kerja banyak yang bolong, sehingga dapat dilewati dengan mudah dalam kolaborasi kemitraan antara CASA dan IPTN.

CN-235

Perlu dicatat bahwa dalam diskusi optimalisasi perancangan dan formula yang dipilih hampir tidak ada pertikaian antara Lopez Ruis, Jose Portez dengan saya. Perumusan dan persyaratan spesifikasi teknis/desain optimum selalu sama. Salah satu anekdot yang menarik adalah selama negosiasi antara tim IPTN dengan tim dari sistem propulsi, Garret, General Electric dan Pratt & Whitney. Ketika itu kita meminta lebih dari yang mereka tawarkan: dua set cadangan untuk sistem yang akan dipilih, garansi dua kali dari yang diusulkan, training untuk sekian banyak engineers and mechanics, dan permintaan lainnya.

Dua bulan berselang, ketua tim perunding dari perusahaan yang memenangkan kontrak jual-beli yang konsesi-konsesinya sangat berisiko akhirnya menulis surat kepada saya setelah kontak antara Airtech dan perusahaannya ditandatangani. Dia menulis: Sorry, Diran, I am not with the company anymore. They fired me because of all those concessions I’ve made to satisfy you bull-headed people. But, I don’t hate you. I enjoyed the skirmishes, the fights to get the most for our interests and yours, the great dinners after the tiring sessions during the day, and the evenings in Madrid. You won, I lost…“

Omong-omong, ketika bernegosiasi, kita ditempatkan di satu lantai di Hotel Melia Madrid, dengan masing-masing kompetitor di lantai-lantai yang lain, terpisah. Setelah memilih sistem propulsi yang paling baik untuk pesawat CN-235, masing-masing tim (baik yang kalah maupun yang menang) mengundang makan malam perpisahan di pelbagai restoran Michelin bintang lima.

Ketika saya tanyakan mengapa tim kita diundang makan dan dipestakan (oleh anda yang kalah). Mereka menyatakan, “…This is business, Sir. You will make other designs and you will need us in the future to power your aircraft. And, we are going to do our best to win next time…”. Ini adalah semangat yang di atas permukaan air. Namun, tentunya pertimbangan-pertimbangan di bawah permukaan air inilah yang perlu kita kuasai: ekonomi, to sustain or not sustain, by any means…So, understand what we want, convince the counter team, through our better knowledge of what we want, and their weaknesses and strengths.

Satu catatan kecil: saya tidak yakin bahwa program-program pengembangan design, manufacturing and production of commercial and/or military aircraft akan dirasakan sebagai kompetitor yang akan dapat menjatuhkan perusahaan atau industri nasional. Dus, percayalah bahwa banyak intrik dan perang gerilya yang akan dihadapi setiap proyek, baik KFX, maupun N-250, N-219 dan lainnya, yang direncanakan PTDI dan Indonesia. Contoh, ketika program CN-235 ingin membeli long-lead times items, seperti pelat aluiminium, dan bahan struktural lainnya, industri aluminium di Amerika Serikat dan peralatan elektronik Eropa mengatakan bahwa mereka tidak punya kapasitas karena barang sudah diborong oleh kompetitor lain. Kita akhirnya harus membelinya dari partner sendiri, yaitu CASA.

Menarik, bukan? Permainan olahraga lah, winner takes all! Karenanya, sebaiknya diskusi KFX tidak dilakukan dalam forum terbuka. Dibatasi hanya untuk mereka yang memerlukan informasi dalam rangka program, atau yang akan diminta bantuan. In (economic) war and politics, everything is allowed… dan bila industri lawan mengetahui kelemahan kelemahan kita, mungkin akan berdampak negatif terhadap keamanan program.

Salah satu Dedikasi beliau untuk bangsa…
Untuk dedikasinya untuk negara tercinta ini jangan ditanya. KNKT mencuat dan harum di mata Internasional adalah dasar kecintaan beliau terhadap negara sangat luar biasa. Pernah pesawat Garuda jatud disekitar pegunungan Medan, Sumatera Utara. Meski usia beliau sudah lanjut usia, beliau naik turun gunung tanpa mengenal rasa lelah.

Saat itu beliau seperti ahli nujum, beliau bisa memperkirakan secara akurat posisi jatuhnya pesawat dengan daya nalarnya yang luar biasa. Alhasil, hasil investigasi kecelakaan pesawat garuda itu diakui dunia sebagai salah satu hasil investigasi kecelakaan pesawat paling lengkap di dunia. Yang perlu diketahui, aksi heroik yg dilakukan Pak Diran itu TIDAK DIGAJI NEGARA. Untuk biayanya, Pak Diran mencari sendiri sumber dananya termasuk dengan “mengamen”….

Sangat ironis kan, tetapi itulah kenyataan yang terjadi.

Dr. Yogi Ahmad Erlangga, anak bangsa yang menggerkan Dunia Minyak

Pak Habibie, salah satu anak bangsa yang menemukan rumus yang mampu mempersingkat prediksi perambatan retak dan berhasil menggegerkan dunia Internasional, yang perlu teman-teman tahu juga ada satu anak bangsa lain. Beliau bernama Yogi Ahmad Erlangga, Sarjana Teknik Aeronautika (penerbangan) ITB, yang kemudian mengambil riset bidang matematika. Dari hasil karyanya itu bisa diaplikasikan ke dunia minyak.

Riset PhD yang dia buat itu adalah memecahkan persoalan matematika gelombang yang digunakan oleh perusahaan minyak Shell untuk mencari cadangan minyak. Alhasil, riset beliau menghebohkan dunia minyak, karena metode beliau berhasil memproses data-data seismik seratus kali lebih cepat dari metode yang sekarang bisa digunakan.

Setelah hasilnya dipublikasikan beliau dikejar negara-negara luar (baca :minus dalam negeri) dan di kontrak Schlumberger, dan Shell juga menggunakan beliau untuk mengembangkan perusahaannya. Media2 Belanda mengejar2 beliau, tapi dia lari dan pulang ke tanah air.

Sekarang belaiu mendapat post-doc di Jerman untuk meneliti bagaimana meredam bising dari mesin jet. Nah lihat gimana dunia Internasional merespon penelitian beliau, yang disesalkan Pak Yogi sampai sekarang adalah, kenapa hingga kini Pertamina justru tidak mengontraknya. Inilah potret bangsa kita, Kita Ini Bangsa Pintar tapi kurang Cerdik..

(Sumber : 50 Tahun (1962-2012) Aeronautika & Astronautika ITB dan JKGR)

Terima kasih saya kepada Ikatan  Alumni Penerbangan (IAP) ITB atas bukunya yang sangat membuat kita semakin cinta dengan tanah air kita. Doa dan salam saya panjatkan kepada para alumni-alumni ITB yg telah mengharumkan nama bangsa kita dan juga untuk calon-calon masa depan bangsa. Semoga selalu diberi kesehatan yang baik dan sukses selalu, amienn…

Dan juga mari kita berdoa untuk para ahli kita Pak Diran, Pak Ken Laheru, Pak Said, dan almarhum alumni lain yang telah banyak mengajarkan ilmu kepada segenap anak bangsa. Semoga Allah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada mereka, amieenn…..

  105 Responses to “Prof. Oetarjo Diran, Tokoh Dirgantara Tanah Air”

  1.  

    Bila msh hidup,entah berapa usia mereka
    tapi saya yakin,ketika mereka diminta pulang dan membantu mengembangkan industri strategis disini pasti mereka ga akan menolak.

    •  

      Yang saya temui dulu itu kira2 usianya 76 thn Bung. Kata mertua saya beliau orgnya sangat jenius. Sehingga menjadi tempat bertanya bagi semua teman2 teknisi yg lain (termasuk mertua saya he..he..).

  2.  

    Bung jalo
    saya membayangkan,ketika mereka berangkat ke luar negeri,dalam dada mereka pasti penuh semangat dan harapan kelak apa yg mereka dapatkan bisa mereka darmabaktikan untuk negeri.
    Saya bisa merasakan betapa hancur,kecewa dan sedihnya ketika ada pergantian pemimpin ketika mereka telah menyelesaikan pendidikannya,harapan mereka untuk mendarmabaktikan ilmu melanjutkan perjuangan dalam mengisi kemerdekaan untuk kejayaan negeri tak bisa terwujud.
    Mereka yg pulang kembali ketanah air dikucilkan,dan yg tidak kembali menahan rindu yg menyesakkan
    smoga pemerintah bisa smakin memperhatikan dan menghargai para ilmuwan2 kita

  3.  

    Bung rafale
    dari waktu ke waktu bangsa ini tidak pernah kehabisan putra2 bangsa yg berprestasi dan menjadi ilmuwan yg mumpuni
    harapan atau mimpi saya,disuatu masa yg akan datang para empu/ilmuwan ini akan bersinar terang memayungi negeri
    saat ini ada sebagian kecil yg mendarmabaktikan ilmunya untuk rakyat

    •  

      Mimpi Bung Urakan dan mimpi kita semua bisa terwujud kok. Gak usah jauh2 siapkan saja anak-cucu kita agar mereka mampu menjadi penerus yang punya karakter, mandiri (gak suka nyontek), kuat dan menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. Saya yakin suatu saat bangsa-bangsa lain akan banyak belajar dari Bangsa Kita Tercinta.

  4.  

    Betul bung rafale212 (kaya wiro sableng)
    masa depan adalah milik anak cucu kita dan generasi penerus bangsa ini,sdh menjadi hukum alam yg tua akan digantikan yg muda.
    Dari sejak pertama bangsa ini melahirkan para ilmuwan hingga sekarang kita tidak kehabisan ilmuwan yg handal,malah bila dicermati saat ini ilmuwan kita bisa sejajar dgn ilmuwan negara maju.Keterbatasan pemerintah dalam menyikapi ilmuwan dalam sarana dan prasarana penelitian memaksa ilmuwan untuk berada diluar negeri agar ilmu yg mereka miliki bisa berkembang lbh maju lagi.Butuh sinergi antara pemerintah,ilmuwan,industri dan rakyat agar tercipta harmoni indah dan sang GARUDA bisa terbang tinggi menembus langit negeri.
    Puluhan ribu ilmuwan kita berada diluar negeri,jika mereka kembali dan mendarmabaktikan ilmunya untuk bangsa dan negara rasanya kejayaan negeri ini hanya tinggal menunggu waktu saja bung

  5.  

    Berkaca-kaca aku membaca artikel ini. Sangat inspiratif.

    •  

      Terima Kasih untuk artikel ini, Indonesia dari dulu memang hebat.
      Para teknokrat sudah disiapkan, banyak tenaga ahli, cendikiawan, yang
      dulunya dapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia,

      Prof O. Diran, Dr. Said D. Jenie ada dosen senior kami..yang penuh dedikasi.
      Jadi ingat apa janji kami sebagai mahasiswa untuk membaktikan diri bagi
      bangsa.

      Berkaca-kaca, haru, sedih, ingat mimpi saat jadi mahasiswa, semangat berkobar-kobar
      saat itu.

      Ini seperti hutang yang belum dipenuhi oleh anak-anak bangsa.
      “Meng-Garudalah di Angkasa..”

 Leave a Reply