Apr 092014
 
Ilustrasi 2

Ilustrasi 2

Ass. Wr. Wb.

Sore Warjagers semua, sudah menggunakan hak pilihnya kah hari ini ? Mudah-mudahan semua memilih dan tidak golput. :D Salam NKRI!

Salam hangat buat Bung Garuda Hitam atas analisanya yang tentunya menambah semangat Nasionalisme kita semua. Tapi disini saya hanya ingin sedikit meluruskan analisa anda, bolehkan? Karena saya mempunyai pendapat berbeda berdasarkan apa yang saya tau dan yakini mengenai semua analisis anda tersebut.

“DIHAPUS ATAS PERMINTAAN PENULIS”

Saya ingin memberikan sedikit pencerahan bahwa Kementerian Pertahanan dan TNI enggak pernah bermain-main dalam pembelian alutsista. Pemerintah sadar pertanggungjawaban yang begitu besar karena uang yang digunakan untuk membeli alutsista berasal dari rakyat. Oleh sebab itu, setiap proses pengadaan alutsista TNI ini diawasi oleh banyak pihak.

Ada banyak institusi yang dilibatkan dalam pengadaan alutsista TNI. Pihak-pihak tersebut terbagi menjadi organisasi induk, tim evaluasi spesifikasi teknis, panitia pengadaan, tim evaluasi pengadaan dan tim perumus kontrak.

Organisasi induk beranggotakan Menteri Pertahanan, Sekjen Kemhan, Panglima TNI dan tiga Kepala Staf Angkatan. Secara umum, organisasi ini memiliki tugas menentukan kebijakan program pengadaan dan rencana kebutuhan alutsista, monitoring dan proses pengadaan alutsista TNI tersebut.

Enggak hanya itu untuk pengawasan dilakukan oleh pihak-pihak Irjen Kemhan, Irjen TNI, Dirjen Strategi Pertahanan dan Dirjen Perencanaan Pertahanan. Adapun pejabat pembuat komitmen dilakukan Kepala Badan Sarana Pertahanan, Mabes TNI dan tiga Kepala Staf Angkatan. Jadi dengan melibatkan banyak pihak, maka sangat kecil kemungkinan terjadinya penyalahgunaan anggaran dalam pengadaan alutsista TNI.

Selain pihak internal Kemhan dan TNI, pihak-pihak lain seperti Kementerian Keuangan, Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS), Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) juga dilibatkan untuk senantiasa berkoordinasi dalam proses pengadaan alutsista.

Begitu pentingnya proses pengadaan alutsista sehingga membuat Kementerian Pertahanan memperhatikan betul penyusunan kontrak. Dalam pembelian impor, proses transaksi melalui surat kredit berdokumen atau letter of credit (L/C). Sistem transaksi ini menjadi penting karena pihak penjual dan pembeli mengadakan negosiasi jual beli barang hingga mencapai kesepakatan. Kedua belah pihak pun harus menyerahkan jaminan pelaksanaan dan jaminan uang muka. Di dalam kontrak pun dapat dilampirkan beberapa dokumen penting seperti surat pelimpahan wewenang, pernyataan tentang batas akhir ekspor, embargo dan penggunaan materi kontrak.

Dengan proses yang demikian penting, maka Kementerian Pertahanan dan TNI harus membuat kontrak kerja sama dengan pihak produsen senjata. Kementerian Pertahanan berpedoman pada Standar Dokumen Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (SDPBJP) dalam menyusun kontrak tersebut. Kementerian akan membuat klausul khusus jika ada pengaturan kontrak yang tidak terdapat dalam standar tersebut. Beberapa klausul khusus mencakup kodifikasi materi sistem nomor sediaan nasional (NSN), klaikan materi, angkutan dan asuransi, pembebasan bea dan masuk pajak saat alutsista itu tiba di Indonesia, sampai alih teknologi alias ToT nya.

Begitu banyaknya klausul khusus sehingga mendapat perhatian serius dari Pemerintah. Hal lain yang menjadi klausul khusus adalah sertifikat kemampuan dan kondisi khusus sesuai kebutuhan kontrak, dan jaminan pemeliharaan.

Proses penandatanganan kontrak pun dibatasi waktu. Untuk pengadaan barang, perbaikan, pemeliharaan suku cadang dan penambahan bekal, paling lambat tandatangan kontrak di bulan ke enam. Sementara untuk pengembangan kekuatan alutsista TNI paling lambat dilakukan di akhir bulan ke-9 tahun anggaran berjalan.

Dengan melibatkan user atau pengguna dalam hal ini dengan setiap Mabes Angkatan diminta untuk menentukan spesifikasi jenis Alutsista yang akan diadakan sesuai dengan urgensi, kebutuhan dan skala prioritas untuk diadakan dengan melihat potensi ancaman yang “Boleh jadi” akan mengancam kedaulatan Indonesia beberapa tahun kedepan. (A1 List Bung Nar bisa jadi bocoran contohnya). Jadi pembelian senjata dalam program MEF TNI ini tidak ujug – ujug langsung beli suka-suka dan sesuai pesanan pihak tertentu seperti pada jaman “Orba” dulu. Akan tetapi sudah terorganisir sesuai dengan tingkat ancaman yang akan menggangu kita.

Selanjutnya rencana pembelian alutsista-alutsista tiap matra ini masuk kepada kebutuhan operasi di Mabes TNI dan selanjutnya diproses di Kemhan lewat Tim dibawah kendali Tim Evaluasi Pengadaan (TEP) yang dipimpin oleh Sekjen. Kemudian selanjutnya diproses untuk kontrak perjanjian pinjaman oleh Kemku hingga kemudian pencabutan tanda bintang di Komisi I DPR. proses pencabutan tanda bintang itu dibahas oleh High Level Committee (HLC) dan Tim Panja Alutsista DPR, dan itu diproses dalam rangka pencabutan tanda bintang di DPR, karena memakai uang APBN dan uang rakyat.

Keikutsertaan DPR menjadi penting karena proses pembelian senjata berkaitan dengan keberlangsungan pertahanan negara. Di parlemen, setiap proses transaksi membutuhkan tanda bintang. Tanda bintang di DPR menunjukkan berapa besar urgensi pembelian alutsista TNI.

Tetapi harap diingat, untuk alutsista strategis alias “Classifield, Top Secret dan Off the Record” tidak semuanya dijelaskan secara gamblang dan detil baik spesifikasi, jenis, dan jumlahnya kepada DPR karena menyangkut kerahasiaan Negara. Makanya beberapa waktu lalu Komisi I DPR sempat berang karena merasa pembelian “enam” unit sukhoi SU. 30 MK2 lebih mahal dari pada harga pasarannya, padahal dibalik semua itu ada “Bakwan” yang tersembunyi dibalik udang.

“Mungkin juga dokument yang didapatkan “Warjag” adalah ceceran dari dokument saat pembahasan di KKIP. (setau saya itu malah dari “Paparazinya warjag” yang mendapatkannya langsung dari seseorang petinggi dan sumber yang Valid)” hehehe..

Pengadaan Alutsista dalam MEF ini juga tetap berpedoman pada prinsip – prinsip yaitu semaksimal mengutamakan produk dalam negeri. Namun apabila itu belum memungkinkan dan terpaksa diadakan dari luar negeri maka akan diupayakan dilaksanakan pengadaan secara G to G, produksi bersama, disertai alih teknologi (transfer of technology), dilakukan off set, dijamin keleluasan penggunaannya dan dijamin suku cadangnya.

Terkait pengadaan alutsista dengan modus credit state alias pinjaman luar negeri, Kementerian Pertahanan bekerja sama dengan Kementerian Keuangan. Metode yang dilakukan adalah penunjukan langsung. Metode ini menjadi penting karena terkait strategi pertahanan, kerahasiaan dan penanganan darurat. Kementerian Pertahanan akan melaksanakan sidang Tim Evaluasi Pengadaan (TEP). Jika melalui pinjaman luar negeri, maka dananya berasal dari Lembaga Penjamin Kredit Ekspor (LPKE). Hasil penetapan penyedia akan disampaikan ke Kementerian Keuangan untuk kemudian diproses. Meski penunjukan langsung, namun ada proses ketat seperti penilaian kualifikasi dan penyampaian penawaran. Kedua proses ini dilakukan agar pihak yang ditunjuk langsung untuk menyediakan dana pinjaman, benar-benar kompeten dan memiliki syarat yang dibutuhkan.

Proses pengadaan alutsista TNI tidak segampang yang dibayangkan. Ada banyak tim yang mengawal proses pengadaan, mulai dari awal hingga akhir. Seperti tim pengawas negosiasi angkutan dan asuransi, tim satuan tugas, tim kelaikan, tim inspeksi pra pengiriman barang, tim uji fungsi atau uji terima, inspeksi komodor, tim pemeriksa (inname dan anname) dan tim penerima.

Tetapi untuk alutsista-alutsista strategis tentunya ada birokrasi “khusus” yang maaf enggak bisa saya jabarkan dimari.

 DIHAPUS ATAS PERMINTAAN PENULIS”

Disini saya tidak setuju, KS Scorpene Malaysia itu dipesan karena mereka mendengar kita saat itu ingin membeli “beberapa” unit KS Kilo, dimana saat itu kita sedang hangat-hangatnya bersengketa soal Ambalat dengan mereka. Selain 2 biji KS Scorpene Malaysia juga mempunyai sekitar 3 s/d 6 Biji KS Midget type SWATS (Shallow Water Attack Submarine) dengan tonnage 200 ton buatan Cos.Mo.S Italia (ini yang disembunyiin keberadaannya), dimana beberapa kali bangkai torpedo “Spearfish” yang panjangnya 7 meter seringkali ditemukan pihak TNI AL di beberapa wilayah perairan Indonesia. (Patut diduga mereka menerobos wilayah dalam laut Indonesia saat latihan). Untuk KS Collins Class itu adalah pembelian Australian Navy sejak tahun 1980an. Jadi saya tidak mau banyak berkomentar.

  DIHAPUS ATAS PERMINTAAN PENULIS”

Disini saya ingin sedikit mencerahkan, Perlu teman-teman warjag ketahui sampai saat ini tim evaluasi dari TNI AL masih berada di Rusia sana untuk meninjau kelaikan dari KS yang akan “Dihibahkan” Rusia kepada kita. Kenapa? Karena membeli KS bekas (second) tidak semudah seperti kita membeli mobil bekas. Ada beberapa spek teknis yang musti diteliti secara detail lewat pengujian khusus tidak hanya melihat secara mata telanjang aja. spek teknis itu diantaranya adalah :

– Pemeriksaan Kelurusan/kedataran badan tekan: deformasi partial, total.
KS yang tidak pernah mengalami kejatuhan kekedalaman diluar batas dalam selam yang diijinkan, dapat ditandai dari hullskin-nya yang relative rata, dari frame pertama sampai ke frame terakhir. KS dengan hullskin yang bergelombang, menggelembung negative (mblesek) diantara frame penunjangnya, menggambarkan situasi yang kurang favourable bagi kemampuannya untuk menyelam sedalam batas dalam selam yang semula dicanangkan untuknya. KS yang mengalami situasi seperti ini, dapat diduga berat, bahwa kapal tersebut pernah jatuh kekedalaman yang diluar batas kemampuan selamnya, dan mengalami perobahan sifat material, menjadi plastis, dan tidak mampu kembali lagi kebentuk semulanya. Jadi ini musti diteliti betul oleh Tim kita.

-Pemeriksaan Getaran/vibrasi pada masing-masing  peralatan, radiated dan hidrodinamic noise total.
Keberhasilan operasi KS di hostile waters amat ditentukan oleh kemampuannya menyembunyikan kehadirannya sendiri. Hal ini amat dipengaruhi oleh noise atau suara yang ditimbulkannya, baik hidrodinamic noise, maupun radiated self noise. Hidrodinamic noise tergantung dari bentuk badan kapal, sehingga tidak bisa dirobah lagi. Radiated self nopise dapat dikurangi, dengan menyempurnakan kembali keseluruhan system peredam getaran, baik yang menyangga peralatan pembangkit tenaga, maupun yang berfungsi sebagai flexible joint pada sambungan pipa. Secara awam, radiated self noise ini dapat diamati, dengan memperhatikan air disekitar lambung kapal saat diesel sedang berjalan untuk pengisian batere dipangkalan. Adanya riak gelombang air yang amat kecil, yang bergetar disekitar lambung didaerah kamar mesin, merupakan gambaran paling kasar, bahwa getaran diesel terpancar, tepatnya, terradiasikan keluar kapal. Untuk mengamatinya secara lebih teliti, biasanya menggunakan vibrasi meter dari Bruel & Kjaer, atau Hewlett Packard, yang memiliki program lengkap guna melaksanakan analisa vibrasi, yang lalu juga dapat dipergunakan untuk “predicttive maintenance”, suatu cara penentuan kerusakan pesawat dengan memonitor perubahan perilaku vibrasi pada tempat tempat tertentu. Ini juga menjadi fokus perhatian Tim kita.

-Pemeriksaan ruang batere, bekas kebocoran asam batere, hull menipis.
Bukannya tidak mungkin, bahwa pada saat dioperasikan dilingkungan Angkatan Laut Rusia, pernah terjadi kebocoran pendingin batere yang lalu akan mengakibatkan asam batere meluap dan tumpah kedasar geladak ruang batere. Keterlambatan mengatasi tumpahan asam keras kegeladak, akan dapat menyebabkan geladak mengalami korosi, dan akan menipis. Penipisan ini jelas akan menurunkan ketahanan KS untuk menyelam dalam. Geladak ruang batere, terutama pada tempat terrendah, pada sumuran penghisapan got ruang batere, perlu mendapat perhatian penuh. Bintik bintik bopeng seperti bekas penyakit cacar air ditempat tersebut, kemungkinan besar akan berasal dari kejadian tumpahan asam yang terlambat dinetralisir. ketebalan pressure hull diderah ini wajib diukur dengan menggunakan alat X ray device. Dan masih banyak spek teknis lain yang kalo untuk satu biji KS buat diteliti aja bisa memerlukan waktu “berminggu-minggu” jadi tidak segampang dibayangkan banyak orang.

 DIHAPUS ATAS PERMINTAAN PENULIS”

Disini saya ingin menyanggah, jujur saja Indonesia itu DARURAT KAPAL SELAM!, KS yang kita miliki baik itu Midget, Type 209/1300 dan Kilo jumlahnya masih belum sebanding dengan luasnya laut NKRI yang harus diawasi dan dijaga. Penambahan dua KS diatas “Kilo” pengadaan tahun 2011 itu juga dalam skedul pengiriman yang Insya Allah kalo tidak ada aral melintang akan dikirim dan masuk dinas aktif tahun ini juga. Makanya saat ini Matra Laut ingin sekali melengkapi KS kita menjadi jumlah yang ideal baik itu lewat “hibah” maupun “Membuat sendiri”.

KS kita saat ini masih sibuk mengawasi “penyusupan” KS –KS usil tetangga macam Malaysia, Singapura, Australia dan Armada VII USA yang seringkali mencoba dan memetakan rute baru didalam laut wilayah ALKI kita. Jadi ngapain musti jalan-jalan ke Vanuatu sana?

Lagipula untuk membongkar AIP dan menggantinya dengan jenis AIP apa lagi? 39 hari juga adalah waktu yang amat singkat untuk membedah sebiji KS dimana biasanya untuk sekali “ngedocking” aja satu biji KS bisa memerlukan waktu berbulan-bulan.

Mohon maaf sebesar-besarnya kepada Bung Garuda Hitam, saya tidak bermaksud “apa-apa” akan tetapi saya tidak sependapat 100% dengan analisa anda. Disini saya hanya mengeluarkan opini berdasarkan apa yang saya tau, apa yang saya yakini, dan apa yang saya kerjakan.

Sekali lagi jangan patah semangat Bung, terus lah bernalisa dan memaparkannya di Warjag, sesungguhnya Warjag adalah contoh forum “berdemokrasi: dinegara kita. :mrgreen:

Salam hangat Bung Garuda Hitam :D

NKRI harga mati! (By pocong syerem)

  152 Responses to “Proses Pengadaan Alutsista”

  1.  

    bagus juga diskusinya analisanya , sebenarnya saling melengkapi antara analisa bung GH dan bung PS, kalau kita bisa mencerna dgn cerdas… keliatan saling membantah tapi sebenarnya ada clue2 yg saling melengkapi. silahkan berpikir…
    [ini menurut saya yg awam.. lg belajar mohon di koreksi kalau salah.]

  2.  

    Untuk Bung @Pocong Syeerem, saya ingin sebenarnya menjawab sanggahan Anda dengan cara yang “baik” & “benar”. Tapi saya harus menahan “nafsu” saya untuk itu. Saya juga bukan dalam posisi untuk memaksa Anda mempercayai apa yang saya tulis & utarakan disini. Tapi tak apalah saya komentari sedikit garis besar dari sanggahan Anda, semoga bisa dipahami dengan baik:

    1. proses Pengadaan alutsista di Kemenhan & Mabes TNI
    Saya tidak pernah menulis diatas bahwa pengadaan alutsista RI “main-main”, justru saya ingin sedikit mengoreksi sebelumnya artikel2 yg seakan menganggap bahwa proses pengadaan alutsista begitu mudah & semua list alutsista yang ingin dibeli bisa dibuka “gambreng” begitu saja seperti list “menu restoran”. Saya diatas menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana & tidak menyentuh hal yang sifatnya teknis. Karena proses pengadaan alutsista juga tidak harus semua orang yng boleh tahu = Anda kurang memahami tulisan saya.

    2. Pembelian Scorpone & Collin Class?
    Pembelian Scorpone malaysia terjadi karena RI ingin membeli KS Kilo Class?? Ahh, yang benarrr?? Yah tentu saja menurut media massa & menurut si anu & si anu lainnya seperti itu. Padahal pembicaraan masalah kilo Class sudah jauh-jauh hari lebih dari itu, sebelum media massa sendiri mengetahuinya. Saya harap Anda tidak terlalu “lugu” menilai masalah ini. Masalah Collin Class? Ya, memang pada dekade 80-an KS ini mulai diproses, terkait pemicunya & hubungannya dengan Indonesia, jauh-jauh tahun-bulan sebelum rencana itu, saya hanya ingin mengatakan “ada udang dibalik bakwan”.

    3. Proses pembelian alutsista dari Rusia & tim peninjau..
    Diatas saya sudah jelaskan bahwa berkali2 tim dari Kemenhan & TNI, maupun sebaliknya dari Rusia sudah bolak-balik saling mengunjungi untuk membahas masalah tersebut. Dan tidak harus setiap tim teknis/ peninjau RI yg dikirim ke Rusia atau sebaliknya, harus lapor dulu ke media massa atau ke Anda kan? Masalah pembelian KS kilo hibah (seperti yang dilaporkan ke media massa), ahhh, menurut mbah Marijan itu hanya sekadar “obat penenang” untuk tetangga yang usil. Masa iya Rusia kasih KS karatan ke Indonesia??? Keponakan saya tadi pas baca komentar Anda langsung ngoceh, “ihhh lugu banget sieh???

    3. Teknologi AIP & komponen teknologi kapal selam lainnya
    Kalau Anda ingin mengajak saya berbicara teknologi KS secara teori & teknis, ayoo kita berlomba-lomba mengorek2 di “mbah Google” mau bicara teknologi KS apa saja bisa Anda temui, & saya rasa Anda akan puas. TAPI, kalau Anda ingin memancing saya untuk berbicara tentang teknologi KS yang berhubungan dengan “penghuni bawah laut” RI, tadi mbah marijan meminta saya “puasa mutih” untuk itu. Kalau enggak saya bisa kena kutuk Dewa Batara Indra…

    4. RI darurat kapal selam
    TENTU saja RI yang maha luas ini sedang dalam kondisi darurat kapal selam hingga saat ini. Tapi tentunya harus diukur dari kondisi yang sebenarnya. Berapa jumlah yang menurut Anda masuk dalam kategori darurat? Tinggalkan dulu asumsi RI hanya memiliki 2 “abang-adik Cakra & Nanggala”, SEANDAINYA RI saat ini memiliki 5 KS, masih masuk kategori darurat, 10 KS, masih darurat, 15 KS, masih darurat. BAHKAN rencana puncak Kemenhan pada program MEF III nanti, untuk memiliki 24 KS, itu saja masih dikategorikan “minimum esensial Force”. Anda paham apa maksud dari kata “minim/minimum?”. Ilustrasinya, kalau seandainya Anda kepala keluarga, yang idealnya harus ngasih makan 3x sehari, karena banyaknya yang harus dikasih makan, sedangkan lauk-pauk terbatas, terpaksa Anda ngumpanin keluarga Anda hanya 2x sehari, bahkan mungkin hanya 1x sehari. Jadi yoo, RI miskin KS dalam kriteria “waras”.

    5. Kenapa harus jalan-jalan ke Vanuatu???
    Ini argumen Anda yang membuat saya sedikit mengurut dada. Karena jika mengetahui bagaimana kondisi sebenarnya tanah Papua saat ini & hubungannya dengan sikap usil para kumpulan negara liliput di Oceania. Pertama yang ingin saya ingatkan lagi, nun jauh di timur sana, ada tanah NKRI yang luasnya berkali2 lipat dibandingkan pulau Jawa, luaskan sedikit cakrawala Anda, buka pikiran, & jangan hanya menunggu berita masalah tanah Papua dari media2 massa nasional yang untuk menginjakkan kakinya saja ditanah Papua tidak cukup punya “nyali”, apalagi melakukan liputan dengan baik & benar. Sering kali saya katakan ada “darurat intelijen” ditanah Papua. Upaya2 spionase, propaganda & agitasi sedang sangat masif dilakukan, yang bertali-temali dengan jaringan2 lainnya ditingkat internasional. Tapi ironisnya sebagian warga negara ini menganggap remeh karena menurut saja dengan info2 yg diberitakan media. Apa peran negara2 liliput tersebut, & siapa yng menjadi dalangnya?? Ahhh…. Terlalu banyak yang harus dibahas. Tapi saran saya, coba Anda pergi ke daerah2 yang masuk kategori “merah” di Papua sana, seperti Puncak Jaya, Deiyai, Paniay, Sentani, Yahukimo, atau ke perbatasan RI-PNG sana, diam saja disana selama 1 minggu, & perhatikan dengan seksama. Kalau ini sudah Anda lakukan, silahkan panggil saya lagi untuk melanjutkan diskusi ini.

    6. 39 hari? – servis KS??
    Ahhhh, ini lagi, Anda benar-benar tidak mencerna/ memahami apa yang saya tulis diatas. Maksudnya kemana, yang dipahami apa? Yah, tentu saja, mana ada untuk “membedah” kapal selam membutuhkan waktu hanya 39 hari?? Masuk bengkel, kalau sakit borok aja tuh KS, paling cepat 1,5 tahun. Kalau parah sakitnya bisa 3 tahun, bahkan 7 tahun… Ehmmm….. Akan lebih baik rasanya setiap ada argumentasi apapun dari orang lain, dipahami dulu dengan baik, agar sanggahan pun bisa baik, & diskusi bisa berjalan sehat.

    Mohon maaf kalau ada salah, yang tak disukai anggap saja itu ocehan dari tukang somay yang miskin pendidikan.

    @admin….., punteeenn….. Bung Now….
    Kalau gak ngerepotin, mohon sudi kiranya untuk menghapus tulisan saya yang dicopy & dimasukkan didalam komentarnya Bung pocong Syeerem diatas. Tulisan saya saja, kalau tulisan Bung pocong mah, jangan diganggu, gak berani saya. Terima kasih…

    Sekali lagi mohon maaf kalau ada salah…

    Salam NKRI……

    •  

      Hemmm….. ini baru diskusi yang hangat dan mendidik…… tdk disertai dengan emosi…. tetep dengan kepala dingin diimbangi dengan argumen yang matang…… salut….

    •  

      Salam hangat Bung Garuda Hitam, mohon maaf apabila analisa saya sebelumnya berbeda pandangan dengan apa yang ada di benak anda. Dan tulisan saya itu juga tidak bermaksud untuk memaksa Anda mempercayai apa yang saya tulis & utarakan. Saya hanya mencoba berpendapat sesuai dengan apa yang saya tau, yakini dan kerjakan.

      Untuk point 1. Saya setuju kalau pengadaan alutsista itu tidak mudah dan tidak semua orang dapat mengetahuinya, hanya saya ingin menjelaskan kepada warjagers tentang bagaimana sih sebetulnya proses pembelian alutsista itu.

      Untuk point 2. Saya tidak akan mengintervensi pola pikir anda, karena menurut pola pikir saya ya seperti itu.

      Untuk point 3. Mereka tidak perlu lapor kok, justru saya yang dapat laporan :mrgreen:

      Untuk point 4. Saya pernah koment diartikel sebelumnya (saya lupa artikelnya), bahwa idealnya negara kita itu minimal harus mempunyai 24 KS, dan saat ini kita sedang berusaha keras menuju ketahap itu.

      Untuk Point 5. Saya juga pernah koment diartikel jauh sebelum ini (saya lupa artikelnya) mengenai kondisi tanah papua, disitu saya sempat menjelaskan teman saya yang seorang anggota Kopassus yang menyamar hampir setahun lebih disana. saya tau Bung kondisi Papua sebenarnya. Tapi maaf hasil laporan intelejen itu bukan buat konsumsi publik. Dan pembuat kebijakan strategis kita sudah membuat langkah-langkah counternya kok. Tapi saya merasa enggak relevan aja, KS kita jalan-jalan kesana. (atau mungkin saya yang enggak tau?)

      Untuk point 6. Yap, saya mungkin salah memahami, (maklum matanya agak kabur, wes tuo), setuju kalo untuk membedah KS memang memerlukan waktu yang lama.

      Sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya untuk Bung Garuda Hitam yang mungkin merasa tidak nyaman atas koment saya ini dan koment saya sebelumnya. Dan ayo kita terus berdiskusi

      Salam Hangat Bung Garuda Hitam.

      NKRI harga mati!

    •  

      bung @GH, maaf baru masuk lagi 🙂

      sudah ada tanggapan dari bung @ps, mungkin biar tetap di komen saja bung kalo2 anda juga mempunyai point atau sanggahan yang ingin ditambahkan dan demikian juga dengan bung @ps, hingga bisa jadi diskusi sehat untuk menambah wawasan kami semua

      salam

  3.  

    Ada yg sudah naek ks tni al gak ya……rasanya kaya apa ya?

  4.  

    nyimak…

  5.  

    Hahaha, bung @Jalo pintar banget dah ah membuka pertanyaan2 di artikel sebelah yang bisa memancing “gairah & hasrat” untuk menjawab. Gak akan ada habis2nya kalau begini. Saya sangat tertarik dengan pertanyaan Anda mengenai kriteria “Of the record” dalam pemberitaan informasi yang berhubungan dengan rahasia negara. Sangat menarik karena pembahasan itu harus kita kaitkan juga dengan RUU rahasia negara untuk kalangan sipil. Tapi maaf saya harus “off” dulu karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Saya harap nanti bisa membuka diskusi yg lebih luas tentang pertanyaan Bung Jalo.

    @bung Pocong Syerem
    Gak apa-apa Bung, gak ada yang salah disini. Saya hanya tukang somay yang naif.. Hehehe…
    Tapi kalau “mereka” melaporkannya ke Anda, berarti kemungkinan secara tidak langsung sekali 2x kita pernah ketemu dong? Kalau begitu pak, “SAYA MELAPOR UNTUK UNDUR DIRI”, balik ke lapangan.

    Salam NKRI dari tukang somay….

    ….

  6.  

    Malem jg mbah satrio…
    Kadang aneh ja kalo habis Ronda ke warung sbelah…( cm militer fensboi)…
    Di Jkgr nasionalisme ngrasa dipupuk, di sebelah ngrasa direndahin ja jd warga Indonesia…aneh,