Prototipe Jet Tempur KFX/IFX Diproduksi 2019

337

Jakarta – Pengembangan pesawat tempur kerja sama Indonesia dan Korea Selatan, Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) telah mengalami kemajuan. Prototipe pesawat tempur generasi 4,5 itu rencananya mulai diproduksi pada 2019.

“Sesuai rencana, prototipe KFX/IFX akan ‘roll out’ pada tahun 2020, dan akan terbang perdana pada 2021,” kata Kepala Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan Anne Kusmayati, di Jakarta, Jumat, 28/7/2017.

Ia mengatakan, saat ini pengembangan pesawat tempur KFX/IFX sudah memasuki “engineering manufacture development” (EMD), yakni mencapai 14 persen dari keseluruhan perencanaan program hingga 2026.

Ia mengatakan, pengembangan pesawat tempur KFX/IFX ini masih terkendala, salah satunya empat komponen inti teknologi yang ditolak oleh Amerika Serikat, yakni “electronically scanned array” (AESA) radar, “infrared search and track” (IRST), “electronic optics targeting pod” (EOTGP) dan “radio frequency jammer”.

Termasuk, “technical asisstance agreement” (TAA) dari AS.

“Tapi itu tidak masalah, Korsel akan bekerja sama dengan negara-negara Eropa untuk mengembangkan empat teknologi itu. Ada kesepakatan dari Korea, bila mereka sudah bisa memproduksinya, mereka akan memberikan teknologi itu ke kita atau mengizinkan kita untuk menggunakan teknologi tersebut,” ujar Anne.

Anne pun meminta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk ikut membantu berdiplomasi agar masalah itu bisa diatasi dengan baik dan lancar.

Ia berpendapat PT Dirgantara Indonesia sudah siap untuk pengembangan tahap awal, dimana Indonesia kebagian untuk membuat sayap, ekor dan pylon pesawat tempur KFX/IFX.

“Pengembangan KFX/IFX ini akan memperkuat PT DI selaku Industri pertahanan nasional,” katanya, dilansir Antara.

Program pengembangan KFX/IFX ini merupakan program jangka panjang hingga 2026, sehingga memerlukan komitmen dan dukungan politis yang berkesinambungan dari pemerintah dan parlemen terutama dari sisi pembiayaan yang telah disepakati dengan pihak Korea, sebesar Rp 21,6 Triliun.

Bila program ini berjalan dengan baik, maka ada beberapa keuntungan yang diperoleh Indonesia, yakni membangun kemandirian alutsista dalam negeri, menghapus ketergantungan produk luar negeri, memberikan daya getar (detterent effect) secara berkelanjutan terhadap negara lain dan menciptakan nilai tambah untuk penguasaan industri teknologi pesawat tempur serta desain pesawat disesuaikan dengan kebutuhan TNI AU.

53 KOMENTAR

      • hahaha, benerrr bung Colibri…

        Ini semua yaaa, …. IFX lebih cepat dari target semula saja, masihhhhh ada pada bocor ..hahaha….nikmati saja prosesnya.
        Ini prototype kemarin AESA Hanwa lebih cepat dari target juga ada yang ga terima … aneh bener ….

        Nih proyek ajah sudah termasuk cepat dibandingin dulu prosesnya F35 (emang beda sich hehe) … ok lah klo gitu dengan yg seumuran yaitu progress TAI, jelas KFX ini lebih progressive.

        KFX/IFX block 1 masih belum internal weapon, entar klo block 2 dilanjutin maisng-masing negara dengan internal weapon.

        Produksi sayap, ekor dan pylon mirip skema offsheet , jadi produksi di Indonesia kirim ke Korea, mereka gabungin dirakit disana. Demikian sebaliknya , komponen Korea kirim ke PT. DI rakit disini. Gini ajah udah OK banget. Entar juga diperbanyak terus konten lokalnya, jangan kuatir.

        Klo mau lihat kemajuan yg lain jangan mata fokus di proyek ini saja, kaitannya bisa dibaca di berita yg terpisah seperti kemajuan produksi avionic, radar, dome, data link dll dari BUMN.

  1. Lalu setelah batch pertama selesai selanjutnya apa.? Setelah kebagian produksi sayap,ekor dan pylon serta avionik selanjutnya kebagian jatah produksi apa.? Sehingga minimal kita bisa produksi 70% bagian2 pesawat agar dapat dikatakan kemandirian alutsista khususnya pesawat tempur.
    Agar dinasa2.yg akan datang kita bisa membuat prototype sendiri ataupun jika masih tetap bekerjasama dng korsel, minimal sebagian besar yg selama ini diproduksi di korsel bisa kita produksi sendiri.

  2. statement yg memilukan …
    tahap awal cuman kebagian bikin keluarga sayap !!!
    harusnya sesuai porsi saham, jatah unit IFX wajib dibuat di PT DI bersamaan dg produksi di Korsel, walaupun sebagian komponen msh bersifat CKD, artinya musti ada jig & fixture yg sama supaya di PT DI secara bersamaan bisa membuat full body + sayap + pasang seluruh komponen.