Prototype Pesawat N-245 Hadir Tahun 2019

52
8
PT Dirgantara Indonesia perkenalkan pesawat N-245. (Defense Studies)
PT Dirgantara Indonesia perkenalkan pesawat N-245. (Defense Studies)

PT Dirgantara Indonesia akan meramaikan persaingan pesawat komersial kelas 40-50 penumpang, dengan mulai merilis detail desain pesawat N-245.

PT DI optimistis N-245 bisa diterima pasar karena sesuai kebutuhan Indonesia serta mampu bersaing dengan pesawat sejenis di kelasnya, seperti : ATR42-600 dan Dash8- Q300. Analis penerbangan menilai N-245 sangat prospektif dan berpotensi membidik pasar domestik dan kawasan ASEAN. Manajer PTDI, Irland Budiman menyatakan pihaknya optimistis karena market pesawat komersial masih membutuhkan pesawat kapasitas 45-50 penumpang.

Selain itu masih cukup banyak bandara di Indonesia dengan panjang landasan yang tidak mencukupi didarati pesawat berbadan lebih besar seperti ATR72 yang saat ini telah cukup banyak dioperasikan di Indonesia. ”N-245 paling cocok untuk penerbangan komersial jarak menengah yang menghubungkan antar-bandara kecil, sehingga dipandang perlu adanya pesawat yang dapat beroperasi di wilayah seperti itu,” ujar Irland .

Analis penerbangan Arista Indonesian Aviation Center, Arista Atmadjati, menilai langkah PT DI mengembangkan pesawat N-245 karena pesawat dengan kapasitas 50 penumpang sangat prospektif serta berpotensi membidik pasar domestik dan kawasan ASEAN. ”Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan, N- 245 memiliki aksesibilitas dengan mesin turbo propeller yang banyak dilirik maskapai untuk penerbangan jarak pendek,” katanya.

Menurut Arista, dengan bandara sebanyak 233 di dalam negeri, secara ekonomis pesawat ini sangat diperlukan untuk konektivitas. Selain mampu memenuhi kebutuhan penerbangan jarak pendek, N-245 mampu berperan sebagai feeder di bandara-bandara tujuan wisata. ”Di Jakarta, Bali serta bandara tujuan wisata lain, pesawat ini sangat berperan sebagai feeder. Selain aksesibilitasnya yang tinggi, kapasitas penumpang juga tidak terlalu banyak sehingga lebih efisien,” ucapnya.

Selain berpotensi di pasar penerbangan domestik, N-245 juga bisa ditawarkan ke negara-negara ASEAN yang memiliki program parawisatan. Apalagi pesawat PT DI telah banyak dimanfaatkan negara-negara di kawasan. Misalnya Filipina yang memanfaatkan pesawat produksi PT DI, CN-235. ”Pesawat ini juga dimanfaatkan Amerika Serikat sebagai pesawat coast guard atau pesawat pengamanan pantai,” ungkapnya. Dia berharap PT DI fokus terhadap produk-produk pesawat yang akan dibuat dan berkelanjutan terhadap produksi pesawat ke depan.

”Yang penting jangan panas-panas tai ayam. Pesawat N-245 pasarnya ada dan besar, kalau fokus saya kira akan sukses. Apalagi PT DI industri milik negara yang merupakan industri strategis sehingga proses pembuatannya juga telah melalui kajian yang matang,” ujarnya. Berdasar data yang dihimpun KORANSINDO,di pasar domestik pesawat di kelas 40-50 penumpang dikuasai pesawat ATR42- 600. Pada 2014 lalu, misalnya, Lion Group resmi memesan pesawat jenis ini 100 buah.

Pesawat ATR42- 600 akan dioperasikan sejumlah anak perusahaan maskapai milik Rusdi Kirana, yakni Wings Air, Malindo Air, Thai Lion Air. Garuda Indonesia juga mengoperasikan pesawat tersebut. Selain menyiapkan N-245, PT DI sedang menyelesaikan pesawat barunya yang juga untuk pesawat komersial, yakni N-219.

Pesawat 19 penumpang ini rencananya akan terbang perdana November 2016 mendatang setelah tes struktur selesai. Saat ini pesawat masih dalam tahap menyiapkan semua keperluan yang harus dipenuhi untuk pembuatan sertifikat terbang pesawat (N-219 certificate) bersama otoritas terkait, yakni Ditjen Perhubungan Udara.

pt-dirgantara-indonesia-perkenalkan-pesawat-n-245-4

Pengembangan CN-235

Desain N-245 yang dikembangkan bersama LAPAN telah diperkenalkan dalam Singapore Airshow awal tahun ini. Pesawat N-245 dirancang memenuhi CASR25 untuk kategori pesawat transportasi yang memiliki sayap yang tinggi dan konfigurasi T-tail, sistem Avionics canggih dan modern. Kecanggihan tersebut diantaranya pada flight deck N-245 yang mengadopsi kaca kokpit yang memberi kenyamanan pada pilot dan kopilot dan menjamin keselamatan penerbangan dan efisiensi.

Desain pesawat N425 merupakan pengembangan dari pesawat CN-235 versi sipil. Desain CN-235 digunakan karena telah terbukti kehandalannya. Langkah ini diambil untuk efisiensi biaya dibanding dengan pembuatan desain baru. ”Waktu development jauh berkurang mengingat hanya melakukan redesain bagian tertentu dari CN-235,” ujar Irland Budiman. Beberapa pengembangan CN-235 dimaksud ialah, pesawat N- 245 akan merubah bagian ekor pesawat CN-235.

Bagian ekor pesawat CN-235 dengan ramp door yang dimilikinya sangat cocok untuk misi militer, baik untuk droping pasukan maupun logistik. Adanya ramp door membuat adanya tambahan drag yang juga membuat pesawat tidak efisien. Sehingga untuk pesawat N-245, bagian ekor akan diubah menjadi bentuk ”Connics ” seperti pesawat-pesawat komersial lainnya. Bagian lain yangdidesain ulang adalah bagian badan (fuselage).

pt-dirgantara-indonesia-perkenalkan-pesawat-n-245-6

Untuk menjaga tingkat kenyamanan dan menambah kapasitas penumpang, N- 245 akan menambah beberapa frame pada desain CN-235 sehingga N-245 memiliki fuselage yang lebih panjang. Selain perubahan struktur pesawat, perubahan juga dilakukan pada desain sistem (landing gear, propulsion) dan interior. Sebelumnya, Sambil menjalani serangkaian proses menuju sertifikasi pesawat N-219, pihaknya tengah memulai pengembangan pesawat berkapasitas 50 penumpang.

Hal ini merupakan bukti semangat membangun kemandirian industri penerbangan tanah air. ”Kami masih mencari bentuk ideal dari N-245 yang berkapasitas 50 penumpang,” ungkapnya. Sejauh ini N-245 belum dibuat prototipe-nya karena masih dalam tahapan wind-tunnel (terowongan angin) untuk mencari bentuk ideal N-245. PTDI optimistis bisa mewujudkannya pada tahun 2019 mendatang karena pengalaman bertahun- tahun dalam mengembangkan CN-235.

Pesawat N-245 penting dikembangkan mengingat Indonesia terdiri atas banyak kota kabupaten yang membutuhkan moda transportasi lebih dari penerbangan perintis. CN-245 akan bisa take off landing kurang dari 1000 meter dan sangat cocok untuk kota kabupaten di Indonesia,

Fauzan / ichsan amin
Koran-Sindo.com

52 COMMENTS

  1. Ane baru tau, ternyata pt.di hanya menyisakan 1 test pilot….pantes saja proses sertifikasi pesawatnya terkatung-katung.

    Hadeuh….kalo sdh telanjur resign gini, mau dapetin penggantinya susah banget & makan proses lama.

    Kesejahteraannya diperhatiin dong….!!!!

    • Saya tal meragukan sedikitpun kepakaran PT DI dalam menancang pesawat sipil apalgi ini hanya sedkit memodiv CN 235 .
      Yang nasalah itu adalah managemen nya masih lemah ,malah terancam pailit .Pesanan hely tni sampai sekarang tiada kabar ,yang membuat TNI mangkel jengkel bukan main .
      AYO DI JADILAH PERUSAHAAN KELAS DUNIA ,TELAT DELIVER KENA PENALTY MJANGAN BERLINDUNG KARENA KALIAN BUMN ,PRPFESIONALAH BIAR BISA BERSAING DI DUNAI INTERNASIONAL.

  2. Dijadikan dulu pak yg N219 nya, sampe bisa terbang mengangkasa. Rakyat menunggu pak, hasil murni karya banga Indonesia. Kalo dulu banyak yg mencibir N250 itu banyak melibatkan pihak asing dlm mendesign. Skrng kita bisa menepis cibiran itu melalui murni karya anak bangsa sendiri walaupun masih dlm skala pesawat berpenumpang kapasitas kecil. Paling tidak, bisa membuktikan Indonesia mampu mendesign dan membuat hingga jadi dng kualitas yg bagus. Jng spt tetangga sebelah yg main stempel “Buatan tempatan” saja mampunya.
    Selamat buat PT.DI

  3. Sudah saatnya PT. DI di restrukturisasi, pengembangan SDM dengan membentuk divisi baru. Divisi Niaga dan Divisi Militer harus terpisah agar fokus pada masing-masing pekerjaan. Rencana pak Jokowi untuk merelokasi PT. DI dari Bandung ke Kawasan Bandara Kertajati di Majalengka sudah tepat.
    Mudah2an pemerintah serius dan bertindak cepat untuk akselerasi perkembangan PT. DI

LEAVE A REPLY