Agu 162018
 

Militer AS menyandang senjata serbu XM-25 © US Army via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Pentagon telah menghentikan program “supergun” XM-25 yang seharusnya membuat “strategi bersembunyi menjadi usang” dengan menembakkan granat yang meledak di udara ke dekat target, seperti dilansir dari Popular Mechanics.

Senapan serbu XM-25 Punisher telah mendapat “hukuman akhir” setelah Departemen Pertahanan AS mengetahui bahwa tidak ada yang ingin menggunakan senjata tersebut ke dalam pertempuran. Program itu tidak membantu karena menyebabkan seorang prajurit terluka saat menggunakan “supergun” pada tahun 2013.

Program XM-25 adalah mimpi buruk klasik bagi anggaran Departemen Pertahanan. Melambungnya biaya, jadwal pengembangan seperti labirin dan memunculkan suatu pertanyaan tentang kegunaan senjata tersebut.

XM-25 “Punisher” adalah evolusi dari kegagalan program Angkatan Darat AS lainnya, yakni XM-29 yang sangat berat dan 20 kali lebih mahal dari sebuah senapan serbu M-16, sehingga para pejabat mempertanyakan apakah sebuah XM-29 benar-benar bernilai setara 20 unit M-16 yang telah teruji tempur.

XM-29 juga seharusnya membuat “posisi berlindung” tidak ada gunanya, akan tetapi senjata itu sendiri mengalami “krisis identitas” karena pengembangnya tidak dapat memutuskan apakah senjata itu adalah jenis senapan atau peluncur granat. Senapan menembakkan peluru 5.56 milimeter dan memiliki peluncur granat 20 milimeter yang yang di kontrol komputer.

Prajurit telah terbukti tidak bisa memilah-milah apakah akan meluncurkan granatnya terlebih dahulu ataukah menembakkan senapan pertama kali, menurut catatan dalam laporan tersebut.

Dari ketidakpastian tersebut maka lahirlah XM-25 “Punisher”, namun tanpa senapan dan hanya ada peluncur granat. Punisher memiliki granat 25 milimeter yang sedikit lebih besar daripada XM-29 (20 milimeter).

Angkatan Darat AS telah memiliki peluncur granat M320 yang menembakkan granat 40 milimeter dan modul granat-tembak bahkan dapat dipasang pada senjata yang ada seperti M4 Carbine.

Menurut Popular Mechanics, pendahulu Punisher tidak berguna dalam pertempuran jarak dekat. Senjata itu sangat membantu untuk keadaan yang sangat spesifik, tetapi bagaimana jika infanteri terlibat dalam situasi pertempuran yang tidak sesuai dengan kelebihan senjata itu? Itu hanya akan menjadi bebek duduk.

“Pada tahun 2013, sebuah unit Ranger di Afghanistan menolak membawa senjata XM-29, dan lebih memilih untuk membawa M4 Carbine sebagai gantinya”, menurut Popular Mechanics.

Program ini pun diakhiri oleh Pentagon sebagai bagian dari upaya untuk memotong pengeluaran yang sia-sis dari anggarannya, sementara itu Stars and Stripes tanggal 10 Agustus melaporkan bahwa Pentagon mencoba memotong anggaran hingga total US $ 2,3 miliar.

Seorang juru bicara Angkatan Darat AS mengatakan kepada Stripes bahwa Pentagon hanya mampu mempertahankan kepemilikan 20 unit XM-25 sebagai bagian dari penyelesaian yang dinegosiasikan dengan Orbital ATK, produsen senjata yang telah diakuisisi oleh Northrop Grumman September lalu seharga US $ 7,8 miliar dalam bentuk tunai.

Bagikan:

  One Response to “Proyek Supergun XM-25 ‘Punisher’ Dihentikan”

  1.  

    Mirip senjata dalam film Starship Trooper ya

 Leave a Reply