PT Dirgantara Indonesia Ekspor 11 Pesawat pada Tahun 2017

28
15

Pesawat CN 235-220 Multi purpose aircraft, satu minggu sebelum terbang kirim ke Senegal. (defence.pk/faries)

PT Dirgantara Indonesia akan mengekspor 11 pesawat produksinya ke beberapa negara pada tahun 2017 ini.

Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia, Budiman Saleh, mengatakan bahwa pesawat CN235 dan NC212 telah dipesan oleh sejumlah negara di Afrika dan ASEAN.

“Kalau lihat dari Senegal 1 unit CN235, Ivory Coast (Pantai Gading) 1 unit CN235. Thailand kita mau jual 2 unit 212 pada Ministry of Agriculture langsung business to goverment dan Filipina ada permintaan 7 unit 212,” ujar Budiman, seperti dilansir liputan6.com pada Sabtu (11/3).

Lebih lanjut, Budiman menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan tingginya minat negara-negara tersebut terhadap pesawat buatan Indonesia.

”Pertama teknologi, competitiveness, dan culture people to people. Jadi untuk menyesuaikan keinginan dari mereka dan pemenuhan teknologi dari produk kita too easy to communicate, open mind. Pada saat sudah dikirim itu ada warranty, services. Dan kita menempatkan technical representative kita di Afrika,” jelas Budiman.

Namun demikian, pesawat produksi Indonesia harus bersaing ketat dengan produk sejenis dari negara lain. “Ada Spanyol, Italia, China. China juga bisa masukkan pesawat bekas,” kata Budiman.

Pesawat jenis CN235 PT Dirgantara Indonesia dibanderol dengan harga sekitar 25—30 juta dolar AS per unit, sementara NC212 dibanderol seharga 12 juta dolar AS per unit.

Sumber: liputan6.com

28 COMMENTS

  1. Aduh Pt Di masih aja ingin mengalihkan berita fakta yang beredar di masyarakat urus dulu de masalah denda keterlambatan pengiriman dan dugaan korupsi yang udah di laporin ke KPK #StopPengalihanISu

      • Maka saya katakan “jangan sampai telat-telat lagi” supaya jangan terulang lagi dan ke depannya harus lebih baik.

        “Baca dulu kenapa hal itu bisa terjadi”
        Tentu saya tidak tahu apa sesungguhnya yang menjadi penyebab.
        Selama ini dikatakan alasannya “karena beberapa komponen masih harus impor, dan pasokannya sering terlambat”,
        Bukankah pabrikan pesawat lain manapun di dunia juga banyak komponen yang impor juga? lalu apakah pesawat mereka juga telat kirim? Jika pun mereka ada yang telat pun masih wajar karena pesanan pesawatnya bukan sedikit sekian ekor, tapi puluhan ekor.

        Tentu saya bangga Indonesia punya PTDI. Tapi kalo ada ketidak beresan maka harus mendorong pemerintah supaya pihak berwenang memeriksanya karena pemerintah sudah beri perhatian dengan menyuntikkan dana ke PTDI. Itu uang negara yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat Indonesia.

  2. Ayo PT.DI buat dong pesawat angkut berat…. secara struktur kan sama dengan CN-235 cuma tinggal riset lanjutan untuk di besarin badan pesawat dan pake mesin yang powerfull serta landing gear yang mumpuni… pakai juga tech avionic yang mutahir design kokpit yang elegan… yang penting botol pulpen… yakin deehhh banyak yang pesan… TNI AU bakalan pesan banyak tuhhh untuk skuadron angkut berat yang butuh banyak pesawat…. ayoooo PT.DI bisaaa….

  3. Kita apresiasi PT.DI Semoga pengalan denda keterlambatan tdk terulang, sehingga PT.DI bisa jaya dan temtunya bisa memakmurkan para Ahli dibidangnya yang temtunya membanggakan semua Rakyat INDONESIA.
    AMIN…

  4. jualan kok bs rugi pdhal sudah ada pembeli. mungkin manajemennya korup layak diganti kalangan profesional jurusan marketing. kalo punya masalah ya diomongin ke media, jngan diam saja yg endingnya merugikan keuangan negara. mafia ditubuh inhan harus segera disemprot dg pestisida, termasuk rekanan gelapnya.

    • @inhan

      Kasian juga kalo ada berita sepotong2 bigini…

      Awal tekornya pt.di diawali ketika RI masuk babak awal krismon, wkt itu ada kebijakan pemerintah semua transaksi dalam negri harus dlm mata uang rupiah shg ketika pt. Di belanja komponen&mesin ke vendor nilai tukar tukar dollarnya melambung tinggi….jelas2 pt.di tekor akibat patuh pd kebijakan pemerintah.

      Selanjutnya imf menekn pemerintah utk menghentikan subsidi pd pt.di ketika saat itu sdg mengembangkan proyek N-250, shg layu sebelum berkembang…tanpa suntikan modal, proyek macet maka investasi yang terlanjur diitanamkan tidak berbuah, malah yang ada adalah utang.

      Efek rentetan peristiwa ini harus ditanggung oleh beberapa generasi direksi pt.di sampai cash flow mereka bener-bener prudent.

      Blundernya, ketika ketika kondisi pt.di belum pulih dan cash flownya belum bagus, pemerintah waktu itu bukannya merefitalisasi pt.di malah memberi tugas baru mengembangkan program IFX/KFX yang membutuhkan investasi awal cukup besar dan menyedot SDM cukup banyak untuk proyek yang belum pasti prospeknya…(kondisi pemerintahan dikorsel saat ini semakin membuat labilitas proyek kfx/ifx)

LEAVE A REPLY