PTDI akan Produksi Prototype ke-5 Jet Tempur KFX/IFX

64
29
Desain KFX/IFX
Desain KFX/IFX

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menandatangani Nota Kesepahaman untuk Implementasi Strategic Cooperation Agreement (SCA) dengan Korea Aerospace Industries (KAI), Korea Selatan. PTDI nantinya menjadi perusahaan resmi yang ditunjuk KAI untuk melakukan dukungan pemeliharaan, perbaikan dan overhaul termasuk sustainability, modifikasi dan upgrading untuk pesawat tempur T50i Golden Eagle dan pesawat latih militer KT-1B.

SCA ditandatangani oleh Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI, Budiman Saleh bersama Senior Executive Vice President & General Manager Research & Development Group Division, Jang Sung Sub yang disaksikan langsung Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, CEO KAI, Ha Sung Yong bersama Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Cho Tai Young.

PTDI dan KAI juga akan melakukan pengembangan bersama pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV), dengan konsep pembelajaran dan desain, termasuk akan dilakukan survey untuk melihat kebutuhan pengguna dan analisa resiko. Diharapkan kerja sama ini dapat menghasilkan pesawat tanpa awak generasi selanjutnya yang lebih modern dan dibutuhkan pasar.

PTDI sebelumnya telah berhasil membuat Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung yang dikembangkan bersama dengan BPPT, dan Balitbang Kemhan RI dan telah berhasil mendapatkan sertifikat tipe (Type Certificate) dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA) Kementerian Pertahanan RI. Dengan didapatkannya Type Certificate PTTA Wulung dari IMAA, PTTA Wulung telah memenuhi regulasi dan siap untuk diproduksi secara massal.

Dalam kerja sama di bidang pemasaran, akan dibentuk komite untuk mempelajari dan menganalisa pasar potensial seluruh produk yang dihasilkan PTDI dan KAI dan akan ditetapkan strategi dari masing-masing produk, agar dapat memenangkan persaingan di pasar alutsista dalam negeri dan luar negeri. Kerja sama jangka panjang ini nantinya akan menghasilkan sinergi dan integrasi marketing dan komersial serta berkembang ke kerja sama untuk ekspor pesawat tempur KFX/IFX.

Kedua pihak setuju melakukan kerja sama pemasaran CN-235 dan KUH-1 di Indonesia dan Korea Selatan, serta mengembangkan potensi pasar bersama. Saat ini, Indonesia mengoperasikan lebih dari 200 unit helikopter militer dan sipil, yang diperkirakan akan adanya permintaan besar pergantian unit karena penuaan usia armada yang ada. Selanjutnya, pengenalan masing-masing produk di kedua negara diharapkan menjadi unggulan dalam pengembangan pasar di kawanan Asia Tenggara.

Setelah penandatanganan Implementasi Strategic Cooperation Agreement (SCA) diharapkan seluruh program dan kegiatan terkait dengan pembangunan dan penguasaan teknologi pesawat tempur, dapat diselesaikan dengan lancar dan tepat waktu. Keberlanjutan program pesawat tempur KFX/IFX akan dilaksanakan secara simultan sejalan dengan pelaksanaan fase Engineering and Manufacturing Development (EMD).

Program KFX/IFX fase Engineering and Manufacturing Development (EMD) merupakan program 10 tahun, dimulai dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2026. Saat ini PTDI sudah mengirimkan sebanyak 70 engineer baik yang senior maupun yunior yang dikirimkan ke Korea Selatan, dan jumlah ini akan meningkat setiap tahunnya yang akan mencapai puncaknya di tahun 2022 dimana akan ada hampir 200 engineer yang dikirimkan ke Korea Selatan.

“Kami akan kirim 200 sampai 300 orang ke Korea,” ujar Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero), Budi Santoso, melalui siaran pers.

Ditargetkan tahun 2021 pesawat tempur KFX/IFX bisa diperkenalkan ke masyarakat, lalu membuat prototype ke-5 yang diproduksi di PTDI di tahun 2022. Setelah itu akan dikirimkan ke Korea Selatan untuk disempurnakan dan akan dikirimkan kembali ke Indonesia sebagai flying test bed untuk pengembangan dan wahana pembelajaran generasi muda PTDI. Dan diharapkan pesawat tempur KFX/IFX bisa mendapatkan Type Certificate di tahun 2025.

Sumber : Republika.co.id

64 COMMENTS

  1. bujug dah 10 thun lagi berarti ntar pas umur gua 35 dong baru jadi prototipenya mudah2an di kasih kelancaraan nih proyek dan kalau bisa lebih cepet dari rencana dan mudah2an di kasih umur panjang biar bisa ikutan bangga….

  2. Diharapkan pesawat tempur KFX/IFX bisa mendapatkan Type Certificate di tahun 2025.

    Artinya :

    1. Produksi baru dimulai tahun 2026.

    2. Jika untuk menggantikan F16 yang berjumlah 36 – 39 unit sekarang, dan jika kecepatan produksi IFX hanya 1 unit per bulan, kita tidak bisa mengandalkan IFX sebagai work horse sampai tahun 2029.

    3. Sampai tahun 2029 artinya harus melewati 3 periode pemerintahan terlebih dahulu (2014-2019, 2019-2024, 2024-2029).

    4. Dibutuhkan pesawat2 tempur dari jenis lain untuk memperkuat RI.

    5. Jika anggaran untuk beli pespur paling apes USD 2 milyar per 5 tahun, maka akan ada anggaran paling sedikit USD 2 milyar x 3 periode = USD 6 milyar hanya untuk beli pespur.

    6. Jika 1 pespur rata-rata harganya USD 50 juta maka akan dapat 6000 / 50 = 120 unit pespur baru sampai 2029. Padahal target di atas kertas sampai 2029 adalah di atas ideal alias di atas kertas akan ada paling tidak 400 unit sampai 2029 sehingga anggaraan untuk beli pespur pasti lebih dari USD 2 milyar per periode pemerintahan. 120 unit itu adalah target paling apes yg bisa dicapai dalam 3 periode s/d 2029.

    7. Anggaran modernisasi / peremajaan / penggantian alutsista tua ke alutsista baru untuk TNI AU untuk periode 2014-2019 ini saja ada sekitar 97 trilyun = USD 7,4 milyar. Jika ditambah anggaran MEF 2 yang kata Pak KSAU USD 3,1 milyar untuk AU. Maka 7,4 + 3,1 = 11,5 milyar. Jika sepertiganya 11,5 / 3 = 3,8 milyar USD untuk pespur saja bisa dapat sekitar 90 pespur (campuran light, medium, heavy).

    8. Dengan penambahan 90 pespur bisa dibayangkan MEF udara pasti tercapai di tahun 2019 (di atas kertas). Ini adalah target paling tinggi yg bisa diharapkan.

  3. Upgrade pesawat T50i golden eagle dan pesawat latih militer KT-1B.

    Upgrade itu adalah menaikkan kemampuan pesawat dengan mengganti beberapa peralatan tanpa mengubah bentuk pesawat.

    Bisa jadi untuk T50i yang diupgrade : radarnya bisa jadi AESA, avionik dalam kokpit, penggantian dengan mesin yg sama volume dan bentuknya tetapi kemampuan lebih josss, senjatanya lebih jauh kemampuannya dsb.

    KT-1B akan diupgrade jadi apa ya ? Akankah KT-1B boleh diupgrade menjadi varian KA-1 dengan kemampuan COIN dan serang darat serta anti gerilya sebagaimana kemampuan pada Super Tucano ? Wah kalo jadi diupgrade jadi KA-1 berarti pesawat COIN kita banyak dong…

    Xixixixi

  4. @tukang ngitung, phd

    Bung Phd, pada artikel diatas disebut ada kesepakatan antara pt.di dan kai untuk memasarkan KUH-Suriyono di Indonesia….bagaimana pendapat bung Phd?

    Bukankah KUH head 2 head dg super puma?

    Kenapa pt.di malah tidak memilih menggarap pasar heli komersial/heli carter (sekelas heli bell/aw-109/aw-139 dll) yang pasarnya sedang berkembang pesat di Indonesia?

    • Wah yang itu saya tidak tahu.

      Coba cek KUH itu tadinya dari turunan helikopter apa ?

      Jika bukan dari Airbus, apakah ada detil yang diincar PTDI dari situ ?

      Jika dari Airbus juga mungkin ada spare part yang diincar untuk dibikin / dipasarkan oleh PTDI.

      Yang turunan super puma dari Airbus kemarin khan suku cadang tidak distok oleh PTDI sehingga TNI AU kesal. Bisa jadi untuk supply spare partnya juga. Karena mirip2 head to head KUH dengan airbus.

    • @tukang ngitung

      Itu kan salahnya AU sendiri…gak mau kontrak service&sucad dg pt.di, tapi maunya kalo dadakan butuh spare part barangnya ada…emang tahu bulet, xixixi

      Operator2 pesawat buatan pt.di yang memiliki kontrak service&ssucad gak ada keluhan kok….

      Selama manajemen perawatan&sucad tidak dirubah (gak mau berinvestasi sucad)….mau beli pesawat atau heli merek apapun juga gak akan merubah kesiapan alutsista

      Makin parah, malah iya…

  5. bukan khayalan om, tetapi mimpi yg sedang kami capai dengan usaha…bukan seperti ” majikan” ente yg mengatakan gripen dg sangat mudah mengalahkan f22 raptor …itu baru namanya khayalan tingkat dewa kwakwakwakwak…

  6. lhoh molor kok banyak kale…dulu baca waktu masih rame2 nya…tahnu 2014 (zaman SBY)….rencana 2018 prototype pertama sudah keluar ke kalayak ramai….lah ini tahun 2021 baru muncul. Ntar ganti presiden (hasil pemilu 2019)…molor lagi tahun 2027 prototype pertama baru muncul. halah …memang penjegalan halus2an. Bisa2 50 tahun dari penanda tanganan pertama baru bisa terbang nih barang.

    sedang tetangga kiri kanan sudah naik fighter generasi 6 atau 7 kita masih berkutat generasi 5.5

LEAVE A REPLY