Aug 262017
 

Pesawat N219 usai penerbangan perdana, 16/8/2017 (LAPAN)

Bandung – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyiapkan sejumlah skema dalam memproduksi dan memasarkan pesawat jenis terbaru N219, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Caranya ada dua untuk memulai produksi, antara pemerintah memberikan investasi atau kita menunggu costumer yang mau beli dengan jumlah yang cukup banyak,” ujar Direktur Produksi Arie Wibowo di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, 23/8/2017.

Menurutnya, jika mengandalkan dana dari investor, PTDI harus memikirkan sejumlah keuntungan yang harus diberikan kepada mereka. Sementara bila pemerintah mau mengucurkan dana, PTDI bisa melakukan produksi sambil mencari calon pembeli.

“Kalau melalui investor menginves ke PTDI, nanti dia akan meminta keuntungannya. Jadi hanya pemerintah yang bisa melakukan itu,” kata Arie Wibowo.

Dalam sisi pemasaran, kata Arie, ada tiga langkah yang bisa dilakukan pemerintah agar produk PTDI bisa bersaing dengan produk luar serta memenuhi kebutuhan pangsa pasar lokal.

Pertama dengan menerapkan regulasi pajak yang sama, seperti ketika membeli pesawat dari luar negeri. Karena saat mendatangkan pesawat buatan negara lain ke Indonesia, pemerintah tidak membebankan biaya pajak apapun.

Sementara jika produk yang dibuat dalam negeri kemudian dipasarkan ke perusahaan di negara sendiri, maka dibebankan pajak penjualan.

“Karena dipakai untuk umum maka dibebaskan pajaknya,” kata Arie Wibowo.

Pemerintah juga diharapkan bisa mensubsidi nilai bunga kepada calon pembeli pesawat N219 yang hendak meminjam uang diperbankan. Lantaran, nilai bunga di negara lain relatif lebih kecil dibanding di Indonesia.

“Pemerintah harus memberikan subsidi bunga. Kalau dia (calon pembeli) pinjem uang di Indonesia dalam US dollar, enam sampai tujuh persen rate-nya. Kalau dari luar negeri bisa dua persen, apalagi China bisa lebih kecil,” ujar Arie.

Terakhir, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan subsidi pembelian pesawat bagi perusahaan maupun pemerintah daerah yang berada di wilayah perintis atau wilayah terpencil.

“Maka tolonglah subsidi perintis yang sudah ada ini, diberikan kepada user tadi,” katanya.

Dengan begitu, pesawat ini akan digunakan untuk menghubungkan daerah terpencil, tertinggal dan belum terlayani oleh moda transportasi lain, dan secara komersial belum menguntungkan. Antara, 23/8/2017.

  12 Responses to “PTDI Siapkan Skema Produksi Pesawat N219”

  1. pantas banyak beli dari luar gak pake pajak?

  2. sudah saatnya indonesia mandiri di bidang ke dirgantaraan

  3. PT DI nafsu banget ya.. yg penting proyek pesanan TNI ngk telat.

  4. joss,tinggal bikin pesawat sekelas jet!

  5. Knapa tidak bikin yg berkapasitas 100 pnumpang kmungkinan pasarnya di indonesia luaas untuk kota2 kecil dan besar klas bandara di tanah air memungkin kan punya prospect bagus

  6. Klu sdh bisa memproduksi seharusnya disetiap wilayah kabupaten/kota diindonesia hrs mempunyai Bandara, baik itu bandara kecil, sedang dan besar.
    Semoga menjadi masukan yg berharga.

  7. Semoga berhasil

  8. amfhibi …amfhibi… amfhibi

  9. Susah juga kalo calin pembeli harus ngutang dulu ke PT DI pake mata uang US dollar..

  10. Intinya selama ini Pemerintah masih kurang dukungannya kepada Industri dlm negri terutama Industri2 strategis, masak pesawat import gak kena pajak pesawat dlm negri kena pajak bgt jg bunga bank tinggi, pantesan made in China bs merajalela karena pemerintahannya sangat mendukung!

  11. bung patih pragota mana yah ?

 Leave a Reply